48


1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Responden Penelitian Berikut ini peneliti akan menjabarkan gambaran umum responden penelitian berdasar...
Author:  Inge Sugiarto

0 downloads 4 Views 517KB Size

Recommend Documents


48
1 1/48 eduard 1116 LIMITED EDITION Roland C.II ATTENTION UPOZORNÌNÍ ACHTUNG ATTENTION Carefully read instruction sheet before assembling...

48
1 Bijlagen2 483 BIJLAGE 1 494 505 BIJLAGE 1 516 527 BIJLAGE 2 Overzicht genodigden hoorzittingen en expertbijeenkomsten Naam Functie en organisatie 20...

48)
1 L 359/97 VERORDENING (EU) Nr. 1333/2014 VAN DE EUROPESE CENTRALE BANK 26 november 2014 houdende geldmarktstatistieken (ECB/2014/48) DE RAAD VAN BEST...

:48
1 PROMOTIES OKTOBER > DECEMBER COLTENE.Benelux Upgrade Dentistry 2018-Q4-NL-Coltene.indd 1 20/09/ :482 ENDODONTIE CanalPro CanalPro vrijstaand stat...

48
1 UNIVERSITAS DIPONEGORO LAPORAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A) SEKOLAH LUAR BIASA TUNA NETRA DI PEMALANG TUGAS AKHIR PERIODE 1...

48
1 ACCEPTATIE HANDLEIDING (AH2018JANUARI) 1/482 INLEIDING IQWOON Acceptatie Handleiding januari IQWOON Alle rechten voorbehouden. Niets uit deze uitgav...

48
1 Gebruiksaanwijzing Koel-vriescombinatie CN(P)(el) 42/43/482 Inhoud 1 Het apparaat in vogelvlucht Apparaat- en uitrustingsoverzicht Toepassing van he...

48
1 1/ LIMITED EDITION DUAL COMBO Yak- ATTENTION UPOZORNÌNÍ ACHTUNG ATTENTION Carefully read instruction sheet before assembling. When you...

48
1 Pagina 1 van 23 Vlaamse Gemeenschapscmmissie Directie Financiën en Begrting Dienst Aankp Emile Jacqmainlaan Brussel Opdrachtdcument Onderhandel...

48
1 Bouwverordening Gemeente Leeuwarderadeel 2016 BOUWVERORDENING 2016 (vastgesteld bij Raadsbesluit ) Kenmerk nr. 2016/482 Inhoudsopgave Hoofdstuk 1 In...



BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Gambaran Umum Responden Penelitian

Berikut ini peneliti akan menjabarkan gambaran umum responden penelitian berdasarkan data demografis yang terdiri dari jenis kelamin dan usia responden. Responden dalam penelitian berjumlah 77 respoden, namun 8 responden tidak dapat digunakan karena 2 diantaranya tidak sesuai dengan kriteria inklusi penelitian sedangkan 6 responden lainnya tidak menyelesaikan kuesioner yang diminta. Hasilnya terdapat 69 responden yang dapat dilakukan analisa penelitian, 60 responden laki-laki dan 9 responden perempuan. Berdasarkan kategori usia, responden pada kelompok dewasa awal (20-35 tahun) sebanyak 68.1%. Angka tersebut lebih dominan jika dibandingkan

dengan

responden

pada

kelompok

dewasa

madya

(36-40 tahun) sebanyak 17.4% dan responden pada kelompok dewasa akhir (41-51 tahun) sebanyak 14.5%. Sedangkan berdasarkan kategori informasi diagnosa gangguan yang dialami, mayoritas responden dalam penelitian ini merupakan orang dengan gangguan skizofrenia dengan persentase sebesar 85.5%, 15,9% diantaranya merupakan tipe residual, 10.1% tipe paranoid, dan 1.45% tipe unspecified.

Dan

untuk

responden

dengan

diagnosa

skizoafektif

menunjukan persentase sebesar 14.5%; 4.35% diantaranya merupakan skizoafektif subtipe bipolar.

48 http://digilib.mercubuana.ac.id/

49

4.2

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

4.2.1

Hasil Uji Validitas

Validitas merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Menurut Sugiyono (2014), suatu skala dikatakan valid jika pernyataannya mampu mengungkap hal yang hendak diukur oleh skala tersebut. a. Kuesioner QCAE Dari hasil perhitungan SPSS, kuesioner QCAE menunjukkan validitas .280 sampai dengan .700. Terdapat 25 item valid dan 6 item gugur. Tabel 4.1 Revisi Blue Print Kuesioner Empati Nomor Item Aspek

Indikator Perilaku

Jumlah Favo

Unfavo

Melibatkan intuisi

15, 16,

-

10

dengan menempatkan

19, 20,

diri pada posisi orang

21, 22,

lain untuk melihat hal-

24, 25,

hal dari perspektif

26, 27 1*

9

-

4

-

4

Cognitive Emphaty a. Perspective taking

orang tersebut b. Online simulation

Menempatkan diri

3, 4, 5,

pada posisi orang lain

6, 18,

dengan membayangkan

28, 30,

apa yang dirasakan

31

oleh orang tersebut Affective Emphaty a. Emotion contagion

Merefleksi diri secara otomatis terhadap

8, 9, 13, 14

perasaan orang lain b. Proximal

Memberikan respon

http://digilib.mercubuana.ac.id/

7, 10,

50 responsivity

afektif ketika melihat

12*, 23

suasana hati orang lain dalam konteks sosial yang dekat (teman) c. Peripheral responsivity

Memberikan respon

11*

afektif ketika melihat

2*, 17*,

4

29*

suasana hati orang lain dalam konteks terpisah (karakter film) Total

27

4

31

*Item gugur b. Skala TAS-20 Dari hasil perhitungan SPSS, skala TAS-20 menunjukkan validitas .352 sampai dengan .601. Terdapat 9 item valid dan 7 item gugur. Sehingga dalam penelitian ini, alat ukur hanya menggunakan satu dimensi yaitu DIDF (Difficulties in Identifying and Describing Feeling). Tabel 4.2 Revisi Blue Print Skala Alexithymia Nomor Item Aspek

Indikator Perilaku

Jumlah Favo

Unfavo

a. DIF - Sulit untuk

1, 3, 6, 7,

-

7

Identiying and

mengidentifikasi

9, 13, 14

Describing

emosi dan sensasi

Feeling (DIDF)

fisik yang dialami 4*

4

Difficulties in

b. DDF - Sulit

2, 11, 12*

membedakan antara respon fisik yang berasal dari emosi atau sensasi tubuh

http://digilib.mercubuana.ac.id/

51

Externally

Mengabaikan makna

Oriented

atas suatu peristiwa

8*, 15*

5*,

5

10*, 16*

Thinking (EOT) Total

12

4

16

*Item gugur

4.2.2

Hasil Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas pada skala QCAE menghasilkan nilai alpha cronbach sebesar .886. Sementara itu, skala TAS-20 menghasilkan nilai alpha cronbach sebesar .779. 4.3

Analisis Deskriptif Analisis deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi statistik yang telah terkumpul, untuk membuat kesimpulan yang tentunya berlaku untuk generalisasi ataupun umum dari hasil penelitian diperoleh data mengenai data deskriptif dari empati dan alexithymia.

4.3.1

Analisis Deskriptif Empati Tabel 4.3 Deskripsi Skor Empati (Dimensi Kognitif) Empati Perolehan

Harapan

69

72

26

18

Mean

51.10

45

Std. Deviation

10.317

9

Dimensi Kognitif

http://digilib.mercubuana.ac.id/

52 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor perolehan empati pada dimensi kognitif sebesar 51.10, lebih besar dari skor harapan sebesar 45. Dengan skor tertinggi sebesar 69 dan skor terendah sebesar 26.

Tabel 4.4 Deskripsi Skor Empati (Dimensi Afektif) Empati Perolehan

Harapan

28

28

8

7

Mean

19.51

17.5

Std. Deviation

4.733

3.5

Dimensi Afektif

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor perolehan empati pada dimensi afektif sebesar 19.51, lebih besar dari skor harapan sebesar 17.5. Dengan skor tertinggi sebesar 28 dan skor terendah sebesar 8.

4.3.2

Analisis Deskriptif Alexithymia Tabel 4.5 Deskripsi Skor Alexithymia Alexithymia

Perolehan

Harapan

45

45

9

9

Mean

26.90

27

Std. Deviation

6.787

6

http://digilib.mercubuana.ac.id/

53 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor perolehan alexithymia sebesar 26.90 hampir sama dengan skor harapan sebesar 27. Dengan skor tertinggi 45 dan skor terendah sebesar 9.

4.4.

Hasil Uji Kualitas Data

Uji kualitas data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas data untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang digunakan dalam penelitian. Hasil uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji statistik One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Hasil pengujian normalitas data dari hasil perhitungan SPSS adalah nilai K-S untuk variabel QCAE adalah .062 dengan Probabilitas/Sig. sebesar .200 >  = .05, artinya data terdistribusi secara normal. Untuk

variabel

TAS,

nilai

K-S

adalah

.086

dengan

Probabilitas/Sig. sebesar .200 >  = .05, hal ini berarti data terdistribusi secara normal. 4.4

Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode korelasi bivariate, pearson’s correlation coefficient untuk mengetahui besaran korelasi antar variabel. Hasil perhitungan korelasi antara variabel alexithymia dengan empati kognitif sebesar r = -.045; p = .716; p > .05. Artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara alexithymia dengan empati pada dimensi kognitif. Sedangkan hasil perhitungan korelasi antara variabel alexithymia dengan empati afektif sebesar

r = .272; p = .024; p < .05. Artinya terdapat hubungan positif

yang signifikan antara alexithymia dengan empati pada dimensi afektif. Informasi mengenai kemampuan empati secara utuh tidak dapat ditentukan oleh kecenderungan skor alexithymia.

http://digilib.mercubuana.ac.id/

54

4.5

Analisa Tambahan

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji korelasi antara variabel empati dengan usia dan uji beda data demografis, yaitu data usia dan jenis kelamin responden dengan variabel dependen sebagai analisa tambahan. a. Uji Korelasi antara Usia dengan Dimensi Kognitif Hasil perhitungan korelasi antara usia dengan empati kognitif pada penelitian ini sebesar r = .202; p = .096; p> .05. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara empati kognitif dengan usia. b. Uji Korelasi antara Usia dengan Dimensi Afektif Hasil perhitungan korelasi antara usia dengan empati kognitif pada penelitian ini sebesar r = .003; p = .979; p> .05. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara empati afektif dengan usia. c. Uji Beda Jenis Kelamin terhadap Dimensi Kognitif Laki – laki (M = 50.63, SD = 10.138) dan perempuan (M = 54.22, SD = 11.584) tidak ada perbedaan yang signifikan t(69) = .929, p>.05. Kedua rata-rata populasi identik, artinya rata-rata kemampuan empati kognitif yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah sama. d. Uji Beda Jenis Kelamin terhadap Dimensi Afektif Laki – laki (M = 19.17, SD = 4.858) dan perempuan (M = 21.78, SD = 3.114) tidak ada perbedaan yang signifikan t(69) = .137, p>.05. Kedua rata-rata populasi identik, artinya rata-rata kemampuan empati afektif yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah sama. e.

Uji Beda Usia terhadap Dimensi Kognitif Dewasa Awal (M = 49.55, SD = 8.829), Dewasa Madya (M = 54.50, SD = 12.296), dan Dewasa Akhir (M = 54.30, SD = 13.483).

http://digilib.mercubuana.ac.id/

55 Pada tabel Homogenity of Variances, Levene Test hitung adalah 3.033 dengan nilai Probabilitas/Sig. t(69) = .055, p > .05, maka ketiga varians adalah identik. Pada tabel Anova, Probabiliti/Sig. sebesar t(69) = .192, p > .05, tidak terdapat perbedaan kemampuan empati kognitif di antara ketiga kategori usia. Hasil Post Hoc Test, Usia Dewasa Muda dengan Dewasa Madya mempunyai nilai sig .299, p > .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati kognitif antara kedua kategori usia tersebut. Usia Dewasa Muda dengan Dewasa Akhir mempunyai nilai Sig. .381, p > .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati kognitif antara kedua kategori usia tersebut. Usia Dewasa Madya dengan Dewasa Akhir mempunyai nilai sig .999, p > .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati yang nyata antara kedua kategori usia tersebut. Hasil perhitungan Homogeneous Subset menunjukan bahwa semua kategori usia dewasa pada penelitian ini, baik Dewasa Muda, Dewasa Akhir, maupun Dewasa Madya tidak mempunyai perbedaan yang nyata satu dengan yang lainnya (nilai Sig .394> .05). f. Uji Beda Usia terhadap Dimensi Afektif Dewasa Awal (M = 19.34, SD = 4.469), Dewasa Madya (M = 20.75, SD = 5.225), dan Dewasa Akhir (M = 18.80, SD = 5.574). Pada tabel Homogenity of Variances, Levene Test hitung adalah .730 dengan nilai Probabilitas/Sig. t(69) = .486, p > .05, maka ketiga varians adalah identik. Pada tabel Anova, Probabiliti/Sig. sebesar t(69) = .192, p > .05, tidak terdapat perbedaan kemampuan empati afektif di antara ketiga kategori usia. Hasil Post Hoc Test, Usia Dewasa Muda dengan Dewasa Madya mempunyai nilai sig .633, p > .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati afektif antara kedua kategori usia tersebut. Usia Dewasa Muda dengan Dewasa Akhir mempunyai nilai Sig. .943, p >

http://digilib.mercubuana.ac.id/

56 .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati afektif antara kedua kategori usia tersebut. Usia Dewasa Madya dengan Dewasa Akhir mempunyai nilai sig .607, p > .05, artinya tidak terdapat perbedaan kemampuan empati afektif yang nyata antara kedua kategori usia tersebut. Hasil perhitungan Homogeneus Subset, menunjukan bahwa semua kategori usia dewasa pada penelitian ini, baik Dewasa Muda, Dewasa Akhir, dan Dewasa Madya tidak mempunyai perbedaan yang nyata satu dengan yang lainnya (nilai Sig .513> .05). 4.7

Pembahasan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan antara alexithymia dengan empati pada schizophrenia spectrum disorder. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa, penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara alexithymia dengan empati kognitif pada schizophrenia spectrum disorder. Konsisten dengan penelitian ini, peneltian Divilbiss (2011) juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara alexithymia dengan kemampuan empati pada dimensi kognitif yang diukur untuk melihat aspek perspective taking. Namun kontras dengan penelitian eksperimen sebelumnya yang dilakukan oleh Koelkebeck dkk. (2010) yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara alexithymia dan ciri autistik, serta empati pada skizofrenia dan kelompok kontrol melalui kuesioner self-report yang diberikan. Meskipun berdasarkan pengukuran empati melalui performa ToM, penelitian Koelkebeck dkk. (2010) tidak dapat menemukan hubungan ToM dengan alexithymia, dan ciri autistik, serta kemampuan empati pada pasien skizofrenia. Sedangkan pada empati afektif, penelitian ini menemukan adanya hubungan signifikan antara alexithymia dengan empati pada schizophrenia spectrum disorder pada arah positif. Sama halnya dengan hasil penelitian di dimensi kognitif, hasil ini mendukung penelitian Divilbiss (2011) yang

http://digilib.mercubuana.ac.id/

57 menunjukan bahwa terdapat hubungan pada level trend antara alexithymia dengan dimensi afektif empati pada skizofrenia meskipun pada arah yang berbeda dari perkiraan peneliti. Singkatnya, informasi mengenai kemampuan empati secara utuh tidak dapat ditentukan oleh kecenderungan skor alexithymia. Hasil penelitian ini menunjukan adanya kontradiksi dengan teori yang dikemukakan pada Thompson (2009) yang menyebutkan bahwa salah satu karakteristik perilaku seseorang dengan alexithymia adalah adanya defisit empati dalam melakukan hubungan interpersonal. Kemudian peneliti mempertimbangkan karakteristik gejala yang ada pada skizofrenia, hasil uji korelasi yang menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan arah positif antara alexithymia dan empati afektif, mungkin dapat menjadi salah satu variabel lain yang mempengaruhi, yaitu simtom disorganisasi skizofrenia. Orang dengan gangguan skizofrenia ditemukan memiliki fitur utama yang terdapat pada alexithymia, yaitu ketidakmampuan dalam mengenal emosi. Kring, Johnson, Davison, & Neale (2012) menjelaskan bahwa gangguan skizofrenia memiliki simtom disorganisasi yang ditandai dengan adanya afek datar, dimana hampir tidak ada stimulus yang dapat memunculkan respons emosional dan beberapa diantaranya memiliki afek yang tidak sesuai. Sehingga bagi responden yang cenderung memiliki simtom disorganisasi yang tinggi, mungkin dapat memberikan respon jawaban skala TAS yang tidak sesuai. Pada penelitian ini, hasil uji korelasi alexithymia dengan kedua dimensi empati, baik kognitif dan afektif, menunjukan hasil yang konsisten dengan penelitian Divilbiss (2011). Divilbiss menemukan bahwa alexithymia secara signifikan tidak memiliki hubungan dengan empati, walaupun ada tren yang positif antara alexithymia dan empati afektif berdasarkan perhitungan korelasi antarvariabel dari alat ukur TAS dan PONS (The Profile of Nonverbal Sensitivity Test; DePaulo, Rosenthal, Finkelstein, & Eisenstat, 1979) yaitu sebuah video berdurasi 45-menit untuk mengukur persepsi sosial nonverbal dan emotion recognition.

http://digilib.mercubuana.ac.id/

58 Menurut

Divilbiss

(2011)

terdapat

beberapa

alasan

yang

menyebabkan ditemukannya hubungan positif yang tidak terduga dalam penelitiannya tersebut. Pertama, untuk mengukur alexithymia, TAS merupakan sebuah pengukuran self-report yang mengindikasikan derajat insight

responden

terhadap

respon

sewajarnya,

individu

harus

merefleksikan dirinya untuk dapat mengidentifikasi dan membedakan emosi mereka, seperti mengetahui perasaan sedih atau takut, kemudian menentukan dan mendeksripsikan perasaan mereka pada orang lain. Responden dengan insight yang baik akan dengan mudah memberikan respon jawaban yang sesuai, namun bagi responden dengan insight yang terbatas mungkin akan memiliki kesulitan dalam memberikan informasi yang akurat dan berguna sebagai respon jawaban pada proses pengukuran self-report ini, karena mereka tidak memiliki self-knowledge yang diperlukan. Kedua, individu yang menunjukkan skor alexithymia yang lebih tinggi pada TAS sebenarnya mungkin lebih menyadari kesulitan emosi yang mereka alami; dengan menyadari kesulitan tersebut, membuat mereka berusaha lebih baik untuk melakukan tugas performance-based. Selain itu, dalam arti paradoks, seseorang dengan emotion awareness diri yang lebih baik mungkin lebih cenderung memperlihatkan hal itu sebagai sebuah pemberitahuan mengenai keterbatasan dalam kesadaran yang dimaksud, yaitu pengetahuan tentang keterbatasan seseorang mungkin mencerminkan kognisi sosial yang lebih baik daripada ketidaktahuan mereka.

Namun,

ketiadaan

kesadaran

emosi

merupakan

definisi

alexithymia; oleh karena itu, hipotesis ini merupakan hal yang lebih konseptual daripada sebuah hasil eksplorasi penelitian. Ketiga, kemampuan empatik mungkin tidak berkaitan dengan pengetahuan tentang emosi diri. Menurut Teori Simulasi empati oleh Heal (1996), pencerminan fungsi neuron untuk menciptakan perasaan empati dengan memungkinkan subyek untuk mensimulasikan pengalaman orang lain, yang mungkin tidak selalu didasarkan pada pemahaman tentang emosi (Divilbiss, 2011). Individu dengan alexithymia seperti pada populasi

http://digilib.mercubuana.ac.id/

59 skizofrenia mungkin memiliki kesulitan dalam mengungkapkan emosi yang mereka rasakan secara verbal, namun mereka tetap mampu untuk merasakan kondisi emosi, baik yang berasal dari diri sendiri, atau simulasi lainnya, emosi dalam hal ini adalah pengalaman sederhana mengenai keadaan psikologis diri terhadap penggunaan kosakata dan kalimat yang digunakan dan dampak yang mereka dapatkan atas situasi tersebut. Penelitian Simner (1971) menunjukkan bahwa bayi menangis sebagi respon dari tangisan bayi lain, seperti menular. Menurut Sagi & Hoffman (1976) tidak jelas apakah bayi kedua, menangis dalam menanggapi bayi pertama, menyadari keadaan emosional dirinya, atau bahkan bayi tersebut mengalami keadaan emosional yang sama secara keseluruhan. Hoffman (2000) berpendapat bahwa menangis yang menular adalah langkah pertama dalam berempati dengan orang lain. Jika demikian, Teori Simulasi mungkin tidak memerlukan self-knowledge untuk memiliki pengetahuan terhadap yang lain. Dengan kata lain, mungkin kerja cermin neuron berpengaruh terhadap kondisi sadar dan pemahaman verbal tentang emosi diri. Tidak hanya itu, pengukuran empati dengan QCAE pada penelitian ini juga menjadi salah satu pertimbangan terhadap hasil yang diperoleh. Menurut Reniers dkk. (2011), meskipun ciri-ciri kepribadian empati dapat diukur dengan kuesioner seperti QCAE, namun hal itu tidak dapat diketahui apakah skor empati yang diperoleh dapat memprediksi perilaku empati yang sesungguhnya dalam kehidupan. Skala kognitif dan afektif memiliki hubungan moderat satu sama lain tetapi memiliki hubungan yang kuat dengan masing-masing subskala. Hal itu menunjukkan adanya hubungan antara kedua komponen empati, kognitif dan afektif, tetapi pada saat yang sama juga dapat menekankan perbedaan antara keduanya. Jolliffe dan Farrington (2006) mengatakan bahwa tingkat emotion recognition yang tinggi memfasilitasi kedua komponen empati, tetapi kondisi emosional yang tidak stabil hanya dapat mempengaruhi komponen afektif seseorang. Hal ini sesuai dengan kondisi emosi psikopat, sedangkan masalah pada empati kognitif berhubungan

http://digilib.mercubuana.ac.id/

60 dengan

gangguan

dalam

spektrum

autistik

(Blair,

2005,

2008;

Dziobek dkk., 2008; Hansman-Wijnands & Hummelen, 2006; Rogers, Dziobek, Hassenstab, Wolf, & Convit, 2007), dan menyoroti QCAE sebagai alat pengukuran yang memiliki nilai. Empati kognitif dan afektif terdiri dari komponen dan spesifikasi berbeda seperti yang disebutkan berdasarkan hubungan moderat lima subskala dari QCAE. Komponen ini memberikan kontribusi untuk pengalaman dan perilaku empati yang muncul (Reniers dkk., 2011) Dalam QCAE, empati kognitif menunjukkan hubungan negatif secara signifikan dengan disfungsional impulsif daripada empati afektif. Seperti sikap impulsif yang cepat dan tidak direncanakan, perilaku disfungsional impulsif mungkin menghambat pertimbangan tindakan rasional yang tepat, sebagai dasar dari keterampilan empati kognitif. Empati kognitif menunjukkan hubungan negatif yang signifikan dengan perilaku sekunder psikopat daripada empati afektif. Hal ini mengungkapkan bahwa empati kognitif adalah kerusakan yang relatif utuh pada psikopat (Blair, 2005) seperti misalnya, yang ditunjukkan oleh kinerja utuh pada tugas "Reading the Mind of the Eyes”, (Dadds dkk., 2006), tugas yang sering digunakan untuk mengukur empati kognitif (Baron-Cohen, beroda, Hill, Raste, & Plumb, 2001). Ini berarti bahwa individu dengan kepribadian psikopat mungkin mampu menggambarkan apa yang mungkin dirasakan orang lain; namun, mereka mungkin tidak membagikan hal itu atau tidak peduli tentang perasaan tersebut (Dadds dkk., 2009). Gangguan emosional ini memungkinkan individu untuk memposisikan inti gangguan kemampuan individu pada proses pengambilan keputusan (Shirtcliff dkk., 2009) dan afek negatif dapat mempengaruhi kemampuan kognitif seperti memahami perspektif orang lain atau simulasi perasaan untuk membangun usaha yang lebih kompleks terhadap keadaan emosi orang itu. Kesulitan dalam mengidentifikasi diri dengan emosi orang lain mungkin akan hadir. Kesulitan-kesulitan ini dapat meningkat seiring dengan meningkatnya gaya hidup yang impulsif dan buruknya perilaku pengendalian diri dalam individu dengan tingkat

http://digilib.mercubuana.ac.id/

61 psikopati sekunder yang tinggi (Blair dkk, 2005; Viding, 2004). Korelasi dengan kepribadian total dan psikopat utama secara signifikan tidak berbeda untuk kedua empati, baik kognitif dan afektif, hal ini mencerminkan hubungan yang sama kuat antara kedua jenis empati dan perasaan dan perilaku tidak emosional yang berhubungan dengan komponen utama psikopati (Divilbiss, 2011). Empati afektif, di sisi lain, menunjukkan hubungan yang lebih kuat secara signifikan dengan emphatic anger dari empati kognitif. Perhatian dan reaksi emosional terhadap perasaan orang lain, serta reaksi kemarahan atas nama korban dari ketidakadilan, mengandalkan sensitivitas dan kemampuan reaksi terhadap perasaan orang lain (Vitaglione & Barnett, 2003). Seolah-olah mengalami perasaan yang dapat dengan mudah berkembang menjadi perasaan emphatic anger. Empati afektif juga berkorelasi secara signifikan dengan agresi ekspresif daripada empati kognitif. Individu dengan tingkat afektif empati tinggi menunjukkan peningkatan kepekaan terhadap perasaan orang lain, dan dalam situasi tertentu, hal itu dapat menyebabkan kewalahan terhadap perasaan tersebut, yang mungkin berubah untuk menolak pertimbangan tindakan rasional yang tepat dan menempatkan orang-orang beresiko kehilangan kendali dan menjadi agresif (Campbell dkk., 1999). Ketika membayangkan pada agresi diri, individu-individu dengan tingkat afektif empati yang tinggi mungkin melihatnya sebagai penyesalan akibat kehilangan pengendalian diri (Divilbiss, 2011). Kemudian sebagai analisa tambahan, hasil uji korelasi antara usia dengan kemampuan empati pada sampel ini, baik pada dimensi kognitif dan afektif tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan. Artinya usia tidak dapat mempengaruhi kemampuan empati pada schizophrenia spectrum disorder. Hasil uji perbedaan empati terhadap jenis kelamin yang dilihat dari masing-masing komponen menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan tidak memiliki perbedaan, hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Derntl dkk. (2009) dan Montag dkk. (2007).

http://digilib.mercubuana.ac.id/

Namun

62 berbeda dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Reniers dkk. (2011) menunjukkan bahwa perempuan memiliki skor total empati baik kognitif dan afektif yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan laki-laki pada kedua kelompok; psikiatrik dan kelompok populasi sehat. Kemudian analisa berdasarkan usia, hasil penelitian ini tidak menunjukan adanya perbedaan kemampuan empati pada schizophrenia spectrum disorder, hal ini mungkin disebabkan karena meskipun kategori usia yang dimiliki responden berbeda-beda, namun mereka semua tetap berada dalam ketegori utama yang sama yaitu usia dewasa. Hal ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan Koelkebeck dkk. (2010), yang menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signfikan antara pasien skizofrenia dengan kelompok kontrol berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan terhadap kemampuan empati.

http://digilib.mercubuana.ac.id/

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.