ALAI BAHASA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


1 15 ALAI BAHASA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 20132 01'- TATA BAHASA DAYAK...
Author:  Veronika Gunawan

25 downloads 176 Views 9MB Size

Recommend Documents


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6 i2 3 MILIK NEGARA TID...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TIDAK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6 12 3 MILIK NEGARA TID...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TIDAK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TIDAK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Remaja Setingkat SMP2 ii3 MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TIDAK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 1 Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TID...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 62 3 MILIK NEGARA TIDAK...

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6 12 3 MILIK NEGARA TID...


15 ALAI BAHASA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

2013

01'-­

TATA BAHASA

DAYAK NGAJU

\

BALAI BAHASA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Kalimantan lengah, Balai Bahasa lata Bahasa Dayak Ngaju • Palangkaraya: Balai Bahasa Provinsi Kali­ mantan Tengah, 2013

xxii + 214 him. 14 x 21 em ISBN: 978-602-7664-29-6

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

SAMBUTAN

KEPALA BADAN PENGEMBANGAN

DAN PEMBINAAN BAHASA

w'·~

alai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Badan Pengem­ bangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan" dan Kebudayaan, mempunyai tugas pokok, antara lain, melakukan pembinaan dan pengembangan bahasa. Pembinaan bahasa ditujukan pada upaya peningkatan mutu penggunaan bahasa. Upaya pembinaan itu meliputi peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Sementara itu, pengembang­ an bahasa ditujukan pada upaya peningkatan mutu bahasa agar dapat digunakan sebagai sarana ekspresi dan komunikasl dalam berbagai keperluan masyarakat penuturnya. Upaya pe­ ngembangan itu mencakup penelitian, pembakuan, dan peme­ liharaan. HasH penelitian dapat dijadikan sarana pembakuan dalam rangka pemeliharaan bahasa. Tata bahasa merupakan salah satu hasil pengolahan penelitian yang telah dilakukan.

B

Tata Bahasa Dayak Ngaju ini merupakan hasil pengolahan laporan penelitian bahasa Dayak Ngaju yang telah lama dilaku­ kan sehingga diharapkan dapat diwujudkan tata bahasa yang Sambutan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

v

lengkap dan memadai. Tata Bahasa Dayak Ngaju yang leng­ kap dan memadai dapat menjadi sarana dalam upaya pe­ ningkatan mutu pengajaran dan pemasyarakatan bahasa Da­ yak Ngaju agar dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya dalam kehidupan masyarakat penutur bahasa Dayak Ngaju. Tata bahasa ini dapat dimanfaatkan pula oleh mereka yang ingin mempelajari bahasa Dayak Ngaju untuk lebih mengenali kaidah-kaidah struktur bahasa Dayak Ngaju. Saya mengucapkan terima kasih kepada Drs. Sumadi, M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dan seluruh staf serta semua pihak yang telah dengan segenap daya upaya menyusun dan menerbitkan Tata Bahasa Dayak Ngaju ini. Saya berharap tata bahasa ini tidak hanya menjadi dokumentasi berharga atas kehidupan bahasa Dayak Ngaju, tetapi juga menjadi ancangan bagi kegiatan pembakuan, peme­ liharaan, dan pemasyarakatan bahasa tersebut di waktu men­ datang. Secara praktis, semoga Tata Bahasa Dayak Ngaju ini dapat digunakan sebagai pegangan dan panduan untuk dapat bertutur dan berbudaya secara santun demi membentuk gene­ rasi yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat. Jakarta, September 2013 Prof. Dr. H. Mahsun, M.S.

vi

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

SAMBUTAN

KEPALA BALAI BAHASA

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

ejak Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah berdiri, pengkajian dan penelitian tentangaspek-aspekkebahasaan bahasa Dayak Ngaju pada tataran fonologi hingga sintaksis telah dilakukan. Hasil penelitian itu perlu didokumentasikan menjadi sebuah acuan berupa tata bahasa Dayak Ngaju. Pe­ ngompilasian, pematangan draf awal, penyeliaan, konsinyasi, dan konsultasi dengan mitra bestan sudah dilakukan demi tersusunnya naskah akademis tata bahasa Dayak Ngaju, yang pada tahun anggaran 2013 ini dapat diterbitkan.

S

Tata Bahasa Dayak Ngaju ini disusun dalam rangka pem­ bakuan bahasa dengan sedemikian banyak dialek yang ditu­ turkan. Tata bahasa ini diharapkan dapat dijadikan acuan pe­ makaian bahasa Dayak Ngaju dan tataran fonologi hingga sin­ taksis.

Kepada anggota tim penyusun tata bahasa ini, mulai dari pengumpul data, pembantu dewan redaksi, hingga anggota sidang dan dewan redaksi, kami mengucapkan terima kasih Sambutan Kepala B.alai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah

vii

atas jerih payahnya. Para narasumber dan informan serta para penutur bahasa Dayak Ngaju juga layak mendapatkan ung­ kapan rasa terima kasih kami. Kami berharap Tata Bahasa Dayak Ngaju ini dapat di­ manfaatkan semaksimal mungkin demi pengembangan dan pembinaan bahasa Dayak Ngaju baik secara akademis mau­ pun praktis. Masyarakat yang dalam bidang pekerjaannya berkepentingan baik langsung maupun tidak dengan penutur bahasa Dayak Ngaju juga dapat memanfaatkan tata bahasa ini sebagai acuan. Palangkaraya, September 2013 Drs. Sumadi, M.Hum.

viii

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

KATA PENGANTAR

engajaran bahasa-bahasa daerah di sekolah ditujukan untuk meningkatkan mutu penguasaan dan pemakaian bahasa daerah yang dipelihara oleh masyarakat penu­ turnya Pencapaian tujuan itu perIu dilakukan dengan berbagai kegiatan berupa (1) pengembangan kurikulum bahasa daerah, (2) pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuh­ an siswa, dan pengembangan metodologi pengajaran, (3) pe­ ngembangan sarana pendidikan, antara lain, buku-buku pel­ ajaran bahasa yang memadai, dan (4) penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas permulaan pada jenjang pendidikan dasar. Berdasarkan tujuan pembelajaran dan upaya-upaya yang dilakukan itu, diharapkan pengajaran bahasa daerah akan tetap berIangsung sehigga membuahkan hasil pelestarian yang memadai.

P

Di dalam kurikulum muatan loka! sekolah dasar Provinsi Kalimantan Tengah tahun 1995, untukkepentingan pengajaran bahasa, telah ditetapkan bahan kajian utama muatan lokal bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak Ngaju. Penetapan ini dida­ sarkan atas asumsi hahwa bahasa Dayak Ngaju adalah bahasa

Kata Pengantar

ix

yang paling dominan digunakan oleh penduduk Kalimantan Tengah (Kurikulum Muatan Lokal SD, 1995: 18). Adapun ba­ han ajar yang diberikan kepada siswa mencakupi kemajuan memahami kemampuan menggunakan bahasa (berkomu­ nikasi), kemampuan apresiasi sastra, dan penguasaan kaidah­ kaidah bahasa. Untuk memenuhi tuntutan kurikulum itu digu­ nakan bahan ajar bantuan guru dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian bahasa dan sastra daerah Dayak Ngaju serta cerita rakyat yang bersumber dari para pencinta bahasa dan sastra daerah. Hal ini menunjukkan begitu penting dan perlunya ba­ han ajar yang tersusun baik, berupa buku bahan ajar. Berdasarkan kenyataan, guru-guru di SD dan SLTP di da­ erah-daerah mengalami kesulitan mengajarkan mata pelajar­ an muatan lokal bahasa Dayak Ngaju karena tidak tersedia­ nya buku pelajaran dan buku penunjang, yakni tata bahasa, ejaan, dan kamus. Oleh sebab itu, penerbitan buku pelajaran bahasa Dayak Ngaju dan buku-buku penunjang lainnya perlu diupayakan. Terkait dengan upaya penerbitan buku pelajaran bahasa Dayak Ngaju, secara konkret Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 2011-2012 melakukan penelitian bahasa Dayak Ngaju yang berguna untuk penyusunan Tata Bahasa Da­ yak Ngaju. Dengan terlaksananya penelitian itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2013 ini dapat me­ nyajikan Tata Bahasa Dayak Ngaju. Untuk itu, diucapkan teri­ ma kasih kepada para peneliti, Elisten Parulian Sigiro, M.Hum., Yuliadi, S.Pd., Anthony Suryanyahu, S.Pd., Basori, M.Hum., Nur­ cholis Muslim, S.S., dan Ralph Heri Budhiono, M.A. Selanjutnya, ucapan terima kasih disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Drs. Sumadi, M.Hum., para konsultan, Prof. Dr. Petrus Poerwadi, M.S., Dr. Arnusianto, M.Mage., Drs. Yohanes Kalamper; Dr. Maria Luardini, M.A., Dr. Wido H.Toendan, M.S. atas segala bantuan yang telah diberikan kepada para peneliti. x

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Tak ada gading yang tak retak Peribahasa itu juga ber­ laku pada Tata Bahasa Dayak Ngaju yang tersaji ini. Dengan demikian, kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca akan kami jadikan sebagai bahan penyempurnaan Tata Bahasa Dayak Ngaju pada waktu yang akan datang. Palangkaraya, September 2013 Tim Penyusun

Kata Pengantar

xi

DAFTARISI

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENGEMBANGAN DAN

PEMBINAAN BAHASA ..................................................................... SAMBUTAN KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI KALI­ MANTAN TENGAH ............................................................................. KATA PENGANTAR ............................................................................ DAFTAR lSI ............................................................................................ DAFTAR LABEL KELAS KATA, SINGKATAN, DAN LAM­ BANG ........................................................................................................

v

vii

ix

xiii

xix

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................

1

Wilayah Pemakaian Bahasa Dayak Ngaju ..................... Hakikat Bahasa .......................................................................... Fungsi Bahasa ............................................................................... Tata Bahasa ..................................................................................

2

3

4

5

1.1 1.2 1.3 1.4

Daftar Isi

xiii

BAB II FONOLOGI BAHASA DAYAK NGAJU ............................ 2.1 Lafal Fonem Bahasa Dayak Ngaju ..................................... 2.2 Struktur Fonem Bunyi Bahasa DayakNgaju ................ 2.2.1 Konsonan ............................................................................... 2.2.2 Realisasi Konsonan ........................................................... 2.2.3 Vokal ......................................................................................... 2.2.4 Realisasi Vokal ..................................................................... 2.3 Variasi Fonem ............................................................................. 2.3.1 Alofon Vokal.......................................................................... 2.3.2 Alofon Konsonan ................................................................ 2.4 Diftong ............................................................................................ 2.5 Gugus Konsonan atau Klaster ............................................. 2.6 Fonem Suprasegmental ......................................................... 2.7 Pola Suku Kata ............................................................................

7

7

14

14

14

22

22

25

25

26

28

30

30

31

BAB III MORFOLOGI BAHASA DAYAK NGAJU ....................... 3.1 Nomina .......................................................................................... 3.1.1 Batasan dan Ciri Nomina Bahasa Dayak Ngaju ... 3.1.2 Jenis Nomina ........................................................................ 3.1.2.1 Nomina Dasar ............................................................. 3.1.2.2 Nomina Turunan ....................................................... 3.1.3 Kategori Nomina ................................................................ 3.1.3.1 Nomina Bernyawa .................................................... 3.1.3.2 Nomina Tidak Bernyawa ....................................... 3.1.4 Proses Pembentukan Nomina ..................................... 3.1.4.1 Afiksasi ........................................................................... 3.1.4.2 Reduplikasi ................................................................... 3.1.4.3 Pemajemukan ............................................................. 3.2 Ajektiva .......................................................................................... 3.2.1 Batasan dan Ciri Ajektiva ................................................

37

37

38

38

39

39

40

40

41

41

42

46

46

47

47

xiv

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

3.2.2 Jenis Ajektiva ........................................................................ 3.2.2.1 Ajektiva Dasar ............................................................... 3.2.2.2 Ajektiva Turunan ....................................................... 3.2.3 Kategori Ajektiva ................................................................ 3.2.4 Proses Pembentukan Ajektiva ..................................... 3.2.4.1 Afiksasi ........................................................................... 3.2.4.2 Reduplikasi ................................................................... 3.2.4.3 Pemajemukan ............................................................. 3.2.5 Ajektiva dan Pertarafan .................................................. 3.3 Verba ............................................................................................... 3.3.1 Batasan dan Ciri Verba .................................................... 3.3.2 Jenis Verba ............................................................................. 3.3.2.1 Verba Dasar .................................................................. 3.3.2.2 Verba Turunan ............................................................ 3.3.3 Proses Pembentukan Verba .......................................... 3.3.3.1 Afiksasi ........................................................................... 3.3.3.2 Reduplikasi ................................................................... 3.3.3.3 Pemajemukan ............................................................. 3.4 Adverbia ........................................................................................ 3.4.1 Batasan dan Ciri Adverbia ............................................. 3.4.1.1 Perilaku SintaksisAdverbia ................................. 3.4.1.2 Perilaku Semantik Adverbia ................................ 3.4.1.3 Adverbia Konjungtif ................................................. 3.4.2 Jenis Adverbia ...................................................................... 3.4.2.1 Adverbia Tunggal ...................................................... 3.4.2.2 Adverbia Gabungan .................................................. 3.5 Pronomina .................................................................................... 3.5.1 Batasan dan Ciri Pronomina ......................................... 3.5.2 Jenis Pronomina ................................................................. 3.5.2.1 Pro nomina Persona .................................................. Daftar lsi

48

48

48

49

49

49

50

51

52

53

53

53

53

56

58

59

63

63

66

67

67

72

77

80

80

85

86

86

87

87

xv

3.5.2.1.1 Pronomina Persona Pertama ...................... 87

3.5.2.1.2 Pro nomina Persona Kedua ........................... 88

3.5.2.1.3 Pronomina Persona Ketiga ........................... 89

3.5.2.2 Pronomina Penunjuk ............................................... 90

3.5.2.2.1 Pronomina Penunjuk Umum ....................... . 90

3.5.2.2.2 Pro nomina Penunjuk Tempat ..................... 91

3.5.2.2.3 Pronomina Penunjuk Ikhwal ......................... 92

92

3.5.2.3 Pronomina Penanya .................................................. 3.6 Numeralia ..................................................................................... 94

3.6.1 Batasan dan Ciri Numeralia ........................................... 94

3.6.2 Jenis Numeralia ................................................................... 94

3.6.2.1 Numeralia Pokok ....................................................... 94

3.6.2.1.1 Numeralia Pokok Tentu ................................. 94

3.6.2.1.2 Numeralia Pokok Kolektif ............................. 95

3.6.2.1.3 Numeralia Pokok Distributif ........................ 97

98

3.6.2.1.4 Numeralia Pokok Tak Teritu ......................... 98

3.6.2.2 Numeralia Ukuran .................................................... 99

3.6.2.3 Numeralia Tingkat .................................................... 3.6.2.4 Numeralia Pecahan .................................................. 100

3.6.2.5 Numeralia Penggolong ........................................... 101

3.7 Kata Tugas .................................................................................... 102

3.7.1 Batasan dan Ciri Kata Tugas ......................................... 102

3.7.2 Jenis Kata Tugas .................................................................. 104

3.7.2.1 Preposisi ........................................................................ 104

3.7.2.1.1 Preposisi Tunggal.............................................. 105

3.7.2.1.2 Preposisi Gabungan ......................................... 108

3.7.2.2 Konjungtor ................................................................... 110

3.7.2.3 Interjeksi ....................................................................... 116

3.7.2.4 Artikula .......................................................................... 120

3.7.2.5 Partikel Penegas ......................................................... 120

xvi

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

BAB IV SINTAKSIS BAHASA DAYAK NGAJU ........................... 4.1 Frasa ................................................................................................ 4.1.1 Frasa Eksosentris ............................................................... 4.1.1.1 Frasa Eksosentris Direktif ..................................... 4.1.1.2 Frasa Eksosentris Indirektif ................................. 4.1.2 Frasa Endosentris .............................................................. 4.1.2.1 Frasa Endosentris Modifikatif ....................... ~..... 4.1.2.1.1 Frasa Nominal..................................................... 4.1.2.1.2 FrasaAdjketival ................................................. 4.1.2.1.3 Frasa Pronominal.............................................. 4.1.2.1.4 Frasa Numeralia ................................................ 4.1.2.1.5 Frasa Verbal......................................................... 4.2 Klausa ............................................................................................. 4.2.1 Pengertian Klausa .............................................................. 4.2.2 Klausa Bahasa Dayak Ngaju .......................................... 4.2.3 Ciri, Tipe, dan Pola Klausa Berdasarkan Kategori

Frasa Pengisi Predikat ..................................................... 4.2.4 Ciri, Tipe dan Pola Klausa Berdasarkan Ada atau

tidak Unsur Negatifyang Menegatifkan Predikat... 4.2.5 Klausa Bebas dan Klausa Terikat ............................... 4.3 Kalimat ........................................................................................... 4.3.1 Jenis-Jenis Kalimat Berdasarkan Struktumya ..... 4.3.1.1 Kalimat Tunggal ......................................................... 4.3.1.2 Kalimat Majemuk ...................................................... 4.3.1.2.1 Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB) ....... 4.3.1.2.1.1 Anak Kalimat Keterangan Waktu ...... 4.3.1.2.1.2 Anak Kalimat Keterangan Konsesif .. 4.3.1.2.1.3 Anak Kalimat Keterangan Syarat ...... 4.3.1.2.1.4 Anak Kalimat Keterangan Tujuan ..... 4.3.1.2.1.5 Anak Kalimat Keterangan Sebab ....... 4.3.1.2.1.6 Anak Kalimat Keterangan Akibat ...... Daftar lsi

123

123

124

124

134

138

138

138

147

149

153

157

162

162

164

164

173 175 181 181 182 184 188 190 192 193 195 196 197 xvii











4.3.1.2.1.7 Anak Kalimat Keterangan Cara .......... 197

4.3.1.2.1.8 Anak Kalimat Keterangan Watas

atau Atribut ................................................. 198

4.3.1.2.1.9 Anak Kalimat Keterangan Objek ....... 199

4.3.1.2.2 Kalimat Majemuk Campuran (KMC) ....... 199

4.3.2 Jenis Kalimat Berdasarkan Bentuknya .................... 199

4.3.2.1 Kalimat Berita ............................................................. 200

4.3.2.2 Kalimat Tanya ............................................................. 200

4.3.2.2.1 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Narai 201

4.3.2.2.2 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Eweh 202

4.3.2.2.3 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Buhen 202

4.3.2.2.4 KalimatTanya dengan Kata Tanya Ham­ parea ....................................................................... 202

4.3.2.2.5 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Kile­ nampi ...................................................................... 203

4.3.2.2.6 KaUmat Tanya dengan Kata Tanya Hung­ kueh .......................................................................... 203

4.3.2.2.7 KalimatTanya dengan Kata TanyaJe Kueh 203

4.3.2.2.8 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Pire.. 204

4.3.2.2.9 KalimatTanya Berekor ................................... 204

4.3.2.3 Kalimat Perintah ........................................................ 205

4.3.2.3.1 Kalimat Perintah Halus .................................. 205

4.3.2.3.2 Kalimat Perintah Permintaan ..................... 206

4.3.2.3.3 Kalimat Perintah Ajakan ................................ 206

4.3.2.3.4 Kalimat Perintah Larangan .......................... 207

4.3.2.3.5 Kalimat Perintah Pembiaran ....................... 207

4.3.1.3 Kalimat Taklengkap ................................................. 208

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

xviii

209

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

DAFTAR LABEL KELAS KATA,

SINGKATAN, DAN LAMBANG

A

: adjektiva

Adv

: adverbia

Atr

: atributif

BO

: bentuk dasar

BON

: bahasa Oayak Ngaju

BP

: bilangan pecahan

BU BUs

: bentuk ulang : bentuk ulang sebagian

BUp

: bentuk ulang penambahan

Oem

: demonstrativa

FON

: farasa bahasa Oayak Ngaju

FEk

: frasa Eksosentris

FEn

: frasa Endosentris : farasa nominal

FN

Daftar Label Kelas Kata, Singkatan, dan Lambang

xix

FNum : frasa numeralial FPron : frasa pronominal FPrep : frasa preposisional FV

: frasa verbal

K

: keterangan

Ka

: kata

KMB

: kalimat majemuk bertingkat

KMS

: kalimat majemuk setara

Kt

: kategori

Kon

: konfiks

N

: nomina

Num

o

: numeralia : objek

P

: predikat

Pel

: pelengkap

Pr

Pre

: partikel (kata yang tidak dapat diderivasikan atau di­ infleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi). : preftks

Prep

: preposisi

Pron

: pronomina

R

: reduplikasi

S

: subjek

Suf UP V

: sufiks : unsur pusat : verba

~

: menjadi

+

: penggabungan unsur

xx

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

±

: konstituen di belakangnya tidak wajib hadir : bervariasi dengan : lesap

*

: menyatakan bahwa sebuah kalimat atau konstruksi tidak gramatikal

Daftar Label Kelas Kata, Singkatan, dan Lambang

xxi

BAB I PENDAHULUAN

alah satu alat yang penting untuk dapat memperkuat jati diri suatu etnis adalah bahasa daerahnya. Bahasa Ngaju, rumpun bahasa Austronesia, merupakan salah satu dari sekian banyak bahasa daerah yang ada di Kalimantan Te­ ngah. Poerwadi dkk. (1996) menyebutkan bahwa jumlah pe­ nutur asH bahasa Dayak Ngaju sekitar 702.000 jiwa dari seki­ tar 1,6 juta jiwa penduduk Provinsi Kalimantan Tengah. Kata dayak berarti 'sedikit' atau 'kecil', dan ngaju berarti 'udik' atau 'hulu' (Usop, 1976:10). Dengan demikian, dapat diduga bahwa pada mulanya penutur bahasa Dayak Ngaju berdiam di daerah bulu sungai, terutama sungai Kapuas, Katingan, Barito, Seruyan, Mentaya, dan Kahayan. Kata dayak yang berarti 'se­ dikit' menunjukkan bahwa mulanya suku Dayak itu sedikit dan tersebar di seluruh Kalimantan. Mereka berkelompok­ kelompok mendirikan suatu kampung yang banya terdiri atas beberapa rumah. Sementara itu, kata hulu itu mengacu pada hal yang "relatif", mengingat sungai itu sangat panjang dan meliliti hampir seluruh Kalimantan Tengah sehingga batasan "hulu sungai" tidak jelas secara geografis.

S

Bab I Pendahuluan

1

1.1 WILAYAH PEMAKAIAN BAHASA DAYAK NGAJU

Toendan (1989: 1-2) menyebutkan bahwa wilayah pe­ makai bahasa Dayak Ngaju meliputi tepian-tepian sungai Ka­ puas, Kahayan. Rungan, Manuhing, Katingan, dan di beberapa tempat di sepanjang sungai Barito. Bahasa ini mempunyai beberapanamaPendudukasli (suku) Dayakyangsebagianlahir dan berdiam di sepanjang sungai Kapuas (terutama Kapuas bagian hilir dan tengah) menyebutnya bahasa Kapuas, mereka yang tinggal di sepanjang sungai Kahayan menyebutnya bahasa Kahayan dan merekayang berpindah ke Kahayan menyebutnya dengan bahasa Ngaju. Sementara itu, Pusat Bahasa (2008) mengindentiftkasi bahwa bahasa Dayak Ngaju terdiri atas tiga puluh dua dialek Pusat Bahasa (2008) mengindentifikasi bahwa bahasa Dayak Ngaju terdiri atas tiga puluh dua dialek, tersebar di enam kabupaten dan satu kota, yakni di Kabupaten Kotawaringin Timur terdapat dialek Kandan, Rantau Tampang. dan Parebok Di Kabupaten Kapuas terdapat dialek Mandomai. Tumbang Makuntup, Pangkoh Tengah (Pangkoh Sari), Timpah, Lawang Kamah. Di Kabupaten Pulang Pisau terdapat dialek Pulang Pisau, Tumbang Nusa, Pilang, Saka Kajang, Gohong, dan Bukit Rawi. Di Kabupaten Gunung Mas terdapat dialek Batu Puter, Luwuk Langkuas, Tumbang Jutuh, Bereng Rambang, Bawan, Sepang Simin, Kuala Kurun, Tewah, Tumbang Talaken, dan Takaras. Di Kabupaten Katingan terdapat dialek Kasongan, Petak Bahandang. Baun Bango. Di Kabupaten Barito Selatan terdapat dialek Mangkatip (dialek Betung, di Desa Betung [tambahan penulis]), dan di Kota Palangkaraya terdapat dialek Tangkiling, Kalampangan, dan Mangku Baru. Bahasa Ngaju merupakan lingua franca di hampir seluruh bagian selatan pulau Kalimantan, yakni di daerah yang merupakan wilayah pemakaian keluarga bahasa Barito. Dengan kata lain, bahasa Dayak Ngaju merupakan lingua franca bagi para penutur bahasa-bahasa yang termasuk keluarga bahasa Barito. Kenyataan di atas tidak mengherankan sebab apabila su­ ku-suku lain - seperti Baamang, Kotawaringin, Ot Danum, La­ 2

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

wangan, Ngaju, Taboyan, Maanyan, Bayan, dan bahkan Banjar­ mengadakan kontak dengan masyarakat Dayak Ngaju, mereka akan menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Sebaliknya, apabila masyarakat Dayak Ngaju berada di daerah suku-suku tersebut, kecuali suku Banjar, mereka tidak perlu menggunakan bahasa setempat apabila ingin berkomunikasi dengan penduduk di daerah tersebut (Mihing dan Stokhof dalam Toendan, 1989:1). Penggunaan bahasa Dayak Ngaju mencakup berbagai as­ pek kehidupan. Selain digunakan sebagai lingua franca, bahasa Dayak Ngaju juga digunakan oleh para penuturnya di antara keluarga dan di kantor-kantor pemerintah serta swasta dalam situasi yang tidak resmi. Di samping itu, dalam situasi resmi tertentu, misalnya kebaktian di Gereja, penerangan-penerangan yang diberikan oleh aparat pemerintahan di desa-desa, bahasa Dayak Ngaju juga digunakan sebagai alat komunikasi. Upaya menyusun kodifikasi tentang bahasa Dayak Ngaju juga telah dirintis oleh beberapa kalangan yang peduli dengan perkembangan bahasa ini. Tahun 1987 pihak Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) pernah melaksanakan seminar tentang ejaan bahasa Dayak Ngaju bagi kepentingan umum dan khususnya bagi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam penerjemahan Alkitab. Akan tetapi, berbagai masukan para ahli pada saat itu masih menjadi perdebatan (khususnya dalam hal ejaan) yang pada akhirnya tetap menggunakan ejaan K.D. Epple (1922).

1.2 HAKIKAT BAHASA

Manusia adalah makhluk sosial sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, interaksi itu terasa sema­ kin penting. Kegiatan berinteraksi ini membutuhkan alat, sa­ rana, atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa men­ jadi alat, sarana, atau media. Bentuk dasar bahasa adalah ujar­ an. Ujaranlah yang membedakan manusia dengan makhluk Bab I Pendahuluan

3

lainnya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mencakup aspek bunyi dan makna yang mempunyai sifat: sistematik karena bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya; mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar; ujar karena bentuk da­ sar bahasa; dan manusiawi karena dimanfaatkan manusia.

1.3 FUNGSI BAHASA

Sebagai bahasa verbal, bahasa memiliki fungsi informa­ si, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar­ anggota keluarga maupun anggota-anggota masyarakat; fungsi ekspresi dirt yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, ga­ gasan, emosi, atau tekanan-tekanan perasaan pembaca; fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan mem­ baurkan diri dengan anggota masyarakat, melalui bahasa se­ orang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika masya­ rakatnya; fungsi kontrol sosial, yakni bahasa berfungsi untuk memengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Selanjutnya, sebagai alat komunikasi bahasa memiliki fungsi instrumental, yakni bahasa digunakan untuk memper­ oleh sesuatu; fungsi regulatoris, yaitu bahasa digunakan untuk mengendalikan perilaku orang lain; fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain; fungsi personal, yaitu bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain; fungsi heuristik, yakni bahasa dapat digu­ nakan untuk belajar dan menemukan sesuatu; fungsi imaji­ natif, yakni bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan du­ nia imajinasi; fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi.

4

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1.4 TATA BAHASA

Berdasarkan makna, kata "tata" dalam "tata bahasa" ber~ arti aturan, kaidah, atau susunan. Ketiga makna kata itu meng~ implikasikan makna sistem dan sistem mengimplikasikan mak­ na struktur. Dengan demikian, tata bahahasa berarti aturan atau kaidah yang menata perilaku bahasa di dalam pemakai­ annya. Oleh karena itu, di dalam penyusunan tata bahasa ini diasumsikan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang terdiri atas sejumlah satuan lingual yang tertata atau terkaidah; bu­ kannya sejumlah satuan lingual yang tidak beraturan. Sementara itu, kata gramatika yang berasal dari bahasa Latin gramamatica, antara lain, berarti studi tentang kelas kata, infleksi, fungsi, dan relai antarakata di dalam kalimant. Gramatika juga berarti kaidah yang mengatur atau menentukan struktur bahasa. Jadi, tata bahasa berarti seperangkat kaidah yang terdapat di dalam, atau yang mengatur, penggunaan ba~ hasa. Dengan demikian, menyusun tata bahasa berarti meng­ identifikasi dan merumuskan kaidah penggunaan bahasa. Setiap bahasa pada umumnya memiliki bentuk yang ter­ bagi dalam satuan fonologik (fonem dan suku) serta satuan gramatik (kalimat, klausa, frasa, kata, dan morfem). Satuan ka­ limat, klausa, dan frasa merupakan satuan bahasa yang terletak dalam hierarki gramatikal lingkup sintaksis, sedangkan kata dan morfem berada dalam tataran kajian morfologis. Sejalan dengan itu, tata bahasa Dayak Ngaju disusun ber­ dasakan aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis (frasa, klaus a, dan kalimat) dengan harapan tata bahasa ini dapat dijadikan sebagai tata bahasa terapan yang berorientasi pada bahan ajar.

Bab I Pendahuluan

5

BAB II FONOLOGI

BAHASA DAYAK NGA]U

2.1 LAFAL FONEM BAHASA DAYAK NGAJU

Bahasa Dayak Ngaju (selanjutnya disebut BDN) mempu­ nyai dua puluh tiga satuan bunyi terkecil pembeda makna yang disebut dengan istilah fonem, yang tediri dari (a) 5 fonem vokal, yakni la/, leI, Ii/, 10/, dan luI dan (b) 18 fonem konsonan, yakni Ib/, leI, Id/, Igl, Ihl, IiI, Ikl, II/, Iml, Inl, Ipl, Ir/, lsI, It/, Iw I, IyI, InyI, dan Ing/. Pengenalan dan pembentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional (fonem) ditentukan melalui kontras pa­ sangan minimal. Pasangan minimal adalah pasangan bentuk­ bentuk bahasa yang terkeeil dan bermakna pada sebuah baha­ sa atau kata tunggal yang secara ideal sarna, kecuali satu bunyi berbeda.

Bah II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

7

Fonem BDN dianalisis dengan dasar bahwa fonem me­ rupakan satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kon­ tras makna, misalnya /a/ adalah fonem karena membedakan makna kata /asu/ tanjing dan /esu/ 'cucu'; /b/ dan /p/ adalah dua fonem yg berbeda karen a /baung/ 'ikan baung dan /pa­ ung/ 'bibitjbenih' berbeda maknanya.

1. Fonem/a/ Fonemis

Fonetis

Makna

fbarahf fbarehf

[barah] [bareh]

'bara' 'bodoh'

fakanf fakenf

[akan] (aken]

'untuk' 'keponakan'

2. Fonem/b/ Fonemis

Fonetis

Makna

fbaungf fpaungf

[bau!.'] [pau!.']

'ikan baung' 'bibitfbenih'

!barak! fparakf

[bara?] [para 1']

'dari' 'pantat'

3. Fonem/c/

8

Fonemis

Fonetis

Makna

featokf fkatokf

[eatoK] [katoK]

'ketok (menggunakan alat bantu)' 'ketok (dengan jari)'

fleeakf fleakf

[leeak] [Ie Yak]

'angkuh' 'pelotot'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

4. Fonem/d/ Fonemis

Fonetis

Makna

jbahaj jdahaj

[baha?] [daha?]

'pundakjbahu'. 'darah'

jhumahj j dum ahj

[humah] [dumah]

'gendong' 'datang'

Fonemis

Fonetis

Makna

jewehj jjwehj

[eweh] [iweh]

'siapa' 'ludah'

jpenangj jpinangj

[pena!J] [pina!J]

'!engan' 'pinang'

Fonemis

Fonetis

Makna

jgutij jputjj

[guti?] [puti?]

'kutu' 'putih'

jguyangj jtuyangj

[guya!J] [tuya!J]

'ayun' 'buaian bayi'

Fonetis

Makna

S.Fonem/e/

6. Fonem/g/

7. Fonem/h/ Fonemis

jhandakj jpandakj jhaij jpaij

[handak] 'mau' [pandak--"l_ _ _ _'r_e_n_da_h_'_ _ [ha Yj?] 'besar' [pa Yr] 'kaki'

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

9

8. Fonem/il

!\Iii SKll\!J\!

Fone~--'~~'Fonetish""'"~"~~"

/ihat/ /ehat/ /nyilu/ /nyelu/

[ihatJ [sha1

Makna 'sengaja' 'berat'

[nelu?]

'nyeri' 'tahun'

Fonemis

Fonetis

Makna

/jarat/ /harat/

UaratJ [haratJ

'jerat' 'sombong'

/jewu/ /lewu/

Uewu?] [lewu"]

'besok' 'kampung'

Fonemis

Fonetis

Makna

/kana/ /tana/

[kana?] [tana? ]

'kena' 'kebun'

/kotak/ /putak/

[k.1tak] [putak]

'kata' 'buih'

Fonemis

Fonetis

Makna

/lanting/ /manting/

[lantil1] [mantil1]

'rakit' 'hempas/lempar'

[nilu"J

9. Fonemljf

10. Fonem Ikl

11. Fonem III

/lewu/ /sewu/ 10

'kampung' 'turun perlahan'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

12. Fonem /m/ Fonemis

Fonetis

Makna

/mulang/ /pulang/

[mula!J] [pula!J]

'ulang' 'gagang (pisau)'

/nyama/ /nyala/

[nama' [nala,

'mulut' 'hidup/nyala'

Fonemis

Fonetis

Makna

/nawur/ /hawur/

[nawur] [hawur]

'tabur' 'kabur/rabun'

/nupi/ /kupi/

[nup{'] [kupi?]

'mimpi' 'topi'

13. Fonem /n/

14. Fonem /0/ Fonemis

Fonetis

Makna

/bongo/ /bango/

[bongo?] [bango?]

,rakus 'tempurung'

/pchok/ /pchc/

[pch.1k] [pcha"]

'ayam betina (unggas)' 'sakit'

15. Fonem /p/ Fonemis

Fonetis

Makna

/pasah/ /sasah/

[pasah] [sasah]

'pondok' 'kejar'

/papa/ /sapa/

[papa?] [sapa?]

'kotor' 'maki/umpat'

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

11

16. Fonem IrI Fonemis

Fonetis

Makna

/rcken/ /beken/

[reken] [beken]

'hitung' 'lain'

jragaj jhagaj

[raga?] [haga?]

'iris tebal dan besar' 'pelihara'

. 17.Fonem/sl Fonemis

Fonetis

Makna

jsarakj jkarakj

[sarak] [karak]

'sisir' 'kerak'

jsahangj jkahangj

[saha!)] [kaha!)]

'merica' 'pinggang'

Fonemis

Fonetis

Makna

/tawa/ /sawa/

[tawa:] [sawa.j

'tau' 'istri'

jbitikj /birik/

[bitik] [birik]

'semut' 'tepis'

Fonemis

Fonetis

Makna

jnyuhuj jnyahuj

[nuhu?] {nahu?]

'suruh' 'guntur'

jkujukj /kajukj

[kujuk] [kajuk]

'penggalah' 'loncai'

18. Fonem It!

19. Fonem luI

12

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

20. Fonem IwI Fonemis

Fonetis

Makna

Iwayahl Ipayahl

[wayah] [payah]

'musim'

'lihat'

jwadij jjadij

[wadi? ] [jadr]

'ikan olahan' 'sudah'

Fonemis

Fonetis

Makna

juyatj juhatj

[uyat] [uhat]

'leher' 'akar'

Fonemis

Fonetis

Makna

jnyiluj jsHuj

[iiilu?] [silu?]

'nyeri' 'kuku'

jinyupj lihupl

[iiiup] [ihup]

'isap' 'minum'

21. Fonem Iyl

22. Fonem InyI

23. Fonem Ingl Fonemis

Fonetis

Makna

lawongl lawokl

[awo.!J] [a wok]

'cara' 'bayi'

lawangl lawarl

[awa.!J] [a war]

'kosong/hampa' 'hiburan'

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

13

2.2 STRUKTUR FONEM BUNYI BAHASA DAYAK NGAJU 2.2.1 Konsonan Pelafalan konsonan didasarkan atas tiga faktor yang terlibat, yaitu (1) keadaan pita suara, (2) sentuhan atau pendekatan dari berbagai alat ueap, dan (3) eara alat ueap itu bersentuhan atau berdekatan. Konsonan di dalam BON dapat dikategorikan berdasarkan tiga faktor, yaitu: 1) keadaan pita suara, 2) daerah artikulasi, dan 3) eara artikulasinya. Berdasarkan keadaan pita suara, konsonan ada yang bersuara dan tidak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya, konsonan dalam BON bersifat labial, dental, alveolar, palatal, velar, laringal, dan glotal. Berdasarkan eara artikulasinya, konsonan dalam BON dapat berupa hambat, frikatif, nasal, getar, atau lateral seperti terdapat pada Tabel1. Tabell Peta Kontoid Bahasa Oayak Ngaju

~

kulasi Bilabial Dental Alveolar Palatal Jenis Kontoit Hambat t d cj pb Frikatif s Nasal

m

Lateral Getar

-

Semivokoid

w

-

Velar

Glotal

kg

?

h

n

i'I

!l

1

-

-

r

-

y

-

2.2.2 Realisasi Konsonan Bunyi konsonan dalam BON diinventariskan pada Tabel2. 14

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

m III

........0­

Tabel 2 Kontoid Bahasa Oayak Ngaju

2;1 :J

o 0"

'E. m III :s­

III

INo.1 Kontoid 1.

(/I

fb/

o III -< III Z

Posisi Akhir

~~

III

"

Posisi Tengah

PosisiAwal

2.

to

/e/

III

'E'

3.

/d/

[bili?] [biwih] [ba*)

'hadan' 'hibir' 'wajah'

[tantamba] [h aban] [kaba/i?]

'obat' 'sakit' 'suamijistri'

[callka~

[kencell] [kicuh] [lecak]

'panci'

[cacak]

'rajin' 'cepat' 'cecak'

'sombong'

[danum] [daha] [din un]

'air' 'darah' 'dapat'

[hadallan] [hadan] [sadal]

'kerbau' 1arl' 'jemuran'

[gau?] [guall] [gutl]

'carl' 'kejar' 'kutu'

[barigas] [tege] [kagunaan]

'sehat' 'ada' 'kegunaan'

[hapakat] [huran] [handak]

'setuju' 'dulu' 'mau'

[dehes] [dehen] [bahalap]

'arus' 'kuat' 'hagus'

[capa~

[hajawap] [manjawap] [kitap]

'adu mulut' 'membantah' 'kipas'

[peteh] [kesah] [intih]

'pesan' 'cerita' 'pilih'

'kacau'

------­

4.

5. I-'

111

/g/

/h/

--------­

~~~~-~~------~~

.....

CI

----­

6. I

hi

[iukll!1] [iuhu1 [iela]

--­

'perahu' 'kuah sayur' 'Jidah'

[bajenta] [babujuk] [ngaju]

'ramah' 'genit' 'udik'

'gelap'

[pat/keme] [eka] [sahukan]

'perasaan' 'tempat' 'sembunyi

---­

7. I

/kl

[kaput] kalunen] [kambe]

'manusia' 'hantu'

---­

8. I

---­

/k>1

[burek>] [bitik>] [kurik>]

'ingus' 'semut' 'kedl'

[bincu~

'benjol' 'raj in' 'tumbuk'

---­

);!

i!

I

9.

I

/II

til

» ::J: » Ul » 0 »

[lauk] [laku] lalau]

110. I Iml

naja?] '11ihup] [m anda Y]

~

Gl

»

'lemah' 'tlkus' 'lepas'

111.

'bertamu' 'minum' 'naik'

[mama?] [am un] [panumun]

[cangka~ [tata~ ------­

'om' 'kalau' 'penurut'

[tamam>] [belum>] [danum>]

I Im>1

L..o

c

[balemu] [balawa "1 [baliwus] -----­

;;0;:

z

'ikan' 'minta' 'terlalu'

------­

'sombong' 'hidup' 'air'

I

!

OJ

III

C'"

---------

.... ....

cr

;:l

o

12.

/n/

o IC

[nara J'] [n uman] fni.nakl

'apa' 'turut' 'tegur'

'bagaimana' 'dan' 'naik'

[kinampI] [tunta,:!1] fmandall

OJ

III

:T III !II III

13.

/n>/

o

------

III

~

A"

Z

14.

IC

/ff/

III

C· 15.

16.

17.

....'-J

I'M /p/

[haffa] [baffihl] rcffuhl

'delapan' 'tajam' 'kelapa'

'mencakar' 'melarang

[ma,:!1at] [mi,:!1at] [na,:!1kajukJ

'enak' 'ingat' 'lompat'

'tembus' 'bakar' 'pondok'

[kaput] [lcpah] [ipu]

'gelap' 'habis' 'racun'

'tahun'

[ffclu] [ffahukan] rffaluIU11

'sembunyi' 'menyisir'

~iru~

'gigit'

~aramak] ~ahana]

[pctuk] [papuJ'] fpasahl

/p>/ ---------

-~~~

~

~

~~~-~~~

~

[tin tun>] [pa,:!1inan>] fmipcn>l

'arah' 'makanan' 'tergoda'

[bata,:!1] [ija,:!1] [gua,:!1]

'pohon' 'dagu' 'kejar'

[kuntcp>] [tctcp>] [tukep>]

'penuh' 'tetap' 'dekat'

....00 18.

[rancak] [rumbak>] [rima]

'sering' 'lubang' 'arti'

/s/

[sinde?] [sipetj [siyek]

'sekali' 'sumpit' 'tali kalar'

/t/

[tapih] [tempe?] [tame?]

'kain' 'tumbuk'

/r/

'kelebat' 'lari' 'demam'

[ha/ajur] [miyar] [ha Wur] [sa Wur]

'bergerak' 'bambu' 'sesaji'

[Pist] [misik] [base.!J uk]

'panting' 'bangun 'jendela'

[uras] [utus] [kaabas]

'semua' 'keturunan' 'kakuatan'

[kutip] [intu?] [batihi?]

'cubit' 'di' 'hamil'

[birip] [hadan] [badarem]

'selalu'

---

19.

-----

20. ~ ~ OJ

» ::I: » ~ o

» ~

'"z Gl

» ....

c

'masuk'

I

I

-----

21.

[sipet>] [rabFt>] [hapi?t>]

/t>/

-22.

/w/

[wadi' [wada Jj [wayah]

'ikan/ daging awetan' 'kue' 'musim'

[hanjewu?] [awo?] [tare wen]

'pagi" 'bayi' 'kaget'

'sumpit' 'rabek' 'jepit'

OJ

-

QI

0"

."

[hai?} [bull'] [batihj?]

o

:J



(/

o

1.0

OJ

QI

:::T QI

11\

QI

oQI

~

'" 2

1.0 QI

CO

...

\0

24.

/y/

[uyah} [gayau] [kayau}

'garam' 'garuk' 'perampok; penculik yang memenggal, mengambil, kepala'

'besar' 'puJang' 'hamil'

Dengan demikian, berdasarkan pengungkapannya, reali­ sasi fonem konsonan dapat menempati tempat sebagai berikut.

(1) Konsonan Hambat 1. Fonem IpI pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. Akan tetapi, fonem Ipi akan menjadi fonem tertutup Ip>I apabila menempati posisi akhir sebuah kata. 2. Fonem fbi pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. 3. Fonem Idl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. 4. Fonem It I pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. Akan tetapi, fonem It I akan menjadi fonem tertutup It>I apabila menempati posisi akhir sebuah kata. 5. Fonem lei pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. 6. Fonem Ijl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. 7. Fonem /kl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. Akan tetapi, fonem Ikl akan menjadi fonem tertutup Ik>I apabila menempati posisi akhir sebuah kata. 8. Fonem Igl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. 9. Fonem F I pada sebuah kata dapat menempati posisi akhir dan pada umumnya fonem I?I terdapat pada kata yang berakhiran vokal.

(2) Konsonan Frikatif 1. Fonem lsi pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. 2. Fonem Ihl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. 20

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(3) Konsonan Getar-Alveolar 1. Fonem Ir I pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (4) Konsonan lateral-alveolar 1. Fonem III pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (5) Konsonan nasal 1. Fonem Iml pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. Akan tetapi, fonem Iml akan menjadi fonem tertutup 1m>I apabila berada di akhir kata. 2. Fonem Inl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. Akan tetapi, fonem Inl menjadi fonem tertutup In> I jika berada di akhir kata 3. Fonem Inl pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. 4. Fonem IrJI pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (6) Semivokal Semivokal adalah bunyi bahasa di antata konsonan dan vokal. Secara praktis semivokal tergolong ke dalam konsonan karena belum membentuk konsonan murni. Menurut artikulasinya ada dua jenis semivokal, yaitu semivokal bilabial [w] bersuara dilafalkan dengan arti­ kulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, dan semivokal palatal [y] bersuara dan dihasilkan dengan artikulator aktifnya ialah (tengah) lidah dan artikulator pasifnya ialah la­ ngit-langit keras. Fonem Iwl mempunyai satu alofon, yakni [w]. Pada awal suku kata, bunyi [w] berfungsi sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata [w] berfungsi sebagai bagian diftong. Semivokal [w] dapat berdistribusi di awal dan di tengah saja. Fonem IyI Bab II Fonologi Bahasa Oayak Ngaju

21

mempunyai satu alofon, yakni [y]. Pada awal suku kata, /y/ berperilaku sebagai konsonan, tetapi pada akhir suku kata berfungsi sebagai bagian dari diftong.

2.2.3 Vokal Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan melibatkan pita-pita suara tanpa penyempitan dan penutupan apa pun dan di tempat artikulasi manapun. Vokal merupakan bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor; yaitu: tinggi­ rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada pembentukan vokal itu. Menurut kualitas dan kuantitasnya, vokal dalam BDN dapat digolong-golongkan atas vokal tinggi, rendah dan tengah, vokal depan, belakang, dan madya, vokal bundar dan tak bundar; vokal panjang dan pendek, vokal nasal, dan oral, serta vokal tunggal dan diftong seperti terdapat dalam Tabel 3. Tabel 3 Peta Vokoid Bahasa Oayak Ngaju

Atas Tengah Atas

I e

Tengah . Bawah

E

U

0

~

Bawah

:>

a

2.2.4 Realisasi Vokal Bunyi vokal dalam BDN dapat diinventariskan dalam Tabel4. 22

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Ol'

III 0"

Tabel 4 Vokoid Bahasa Oayak Ngaju

...... ......

61

::s

o

No.

0­ 18. Ol'

III

::r

1.

Vokoid

Iii

III

II>

III

o

III

-< III

~

2.

III

Z

\C

III '-.

PosisiAwal [iweh] [ipu?] [ikau]

'ludah' 'racun' 'kamu'

[tapih] [sipet] [rise?]

'kain' 'sumpit' 'jenuh'

[Intu?] [In dum]

'di' 'dijual' 'ibumu'

[IIkut] [kllik] [hinI!}]

'belakang' 'intip' 'dengar'

[edan] [eka?]

'dahan' 'tempat'

[hete?] [base!}uk] [atep]

[Injua~

c::

3.

lei

4.

j~j

5. IV W

lEI

[Jalali Y,;/n] [siY,;/k] lela?] [endau] [empu?]

'jangan' 'tadi' 'mertua'

Posisi Akhir

Posisi Tengah

[kejau] [haiemel] [peteh]

[h adan] [bawl] [kabalJ]

'lari' 'perempuan' ,suamijistri' -

'situ'

'jendela' 'daun pintu' 'sembilan' 'tali kolor' 'jauh' 'sore' 'pesan'

[iyie:]

'dia'

[ije1

'satu'

N

~

----

6.

7.

8.

» :I:

» (J) »

"~

"Z

G')

c: c

9.

10.

---------

lal

'untuk' 'karena'

'hari'

[harun] [taharu]

'enak' 'baru' 'kangen'

101

[o,!1ko?] [ombak] [o,!1kos]

'tua' 'ombak' 'biaya'

[potok] [catok] [sa ok]

'bakal buah' 'pukul' 'tangguk'

[ma,!1a~

[pch.1k] [1.1bp]

/'J/

i! i! t»

-----

[akan] [awi?] landau]

[anta]

'selalu'

'ayam betina'

'emut'

[ciIuh] [dUruh] [dcruh]

'kelapa' 'runtuh' 'sibuk'

[manandu] [luguHigu]

'berkokok' 'duduk' (diam/ bengong)

[kapU~

'gelap' 'makan' 'runtuh'

[lunjif]

'tombak'

lui

[aras] [uyah] [usuk]

'semua' ,garam' 'dada'

lUI

[Upon] [Upau]

'pokok/inti' [kUman] 'sia-sia' [dUrub]

Dengan demikian, berdasarkan pengungkapannya, reali­ sasi fonem vokal dapat menempati tempat sebagai berikut. (1) Fonem Iii pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (2) Fonem IV pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. (3) Fonem lui pada se­ buah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (4) Fonem lUI pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (5) Fonem lei pada sebuah kata dapat me­ nempati posisi awal dan tengah. (6) Fonem III pada sebuah kata dapat menempati posisi tengah dan akhir. (7) Fonem lEI pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir. (8) Fonem 101 pada sebuah kata dapat menempati posisi awal dan tengah. (9) Fonem 101 pada sebuah kata dapat menempati posisi tengah. (10) Fonem lal pada sebuah kata dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir.

2.3 VARIASI FONEM Variasi fonem ditentukan oleh lingkungan dalam distri­ busi yang komplementer disebut variasi alofonis. Variasi fonem yang tidak membedakan bentuk dan arti kata disebut alofon. Variasi fonem dalam BDN dapat dipaparkan sebagai berikut.

2.3.1 Alofon Vokal 1.

Alofon fonem Iii adalah [1] jika terdapat pada suku kata tertutup, termasuk giotai. Contoh: [mislk]

c::;.

/misik/

'bangun'

[lacItj

c::;.

/lacit/

[pasF]

c::;.

/pasi/

'rembes; tembus' 'kasihan'

[PisF]

c::;.

/pisi/

'pancing'

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

25

2. Alofon fonem lei adalah [e] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka. Contoh: [belep] [pehe] [penna] [kapek]

c) c) c) c)

jbelepj jpehej jpennaj jkapekj

'padam' 'sakit' 'bawah' 'tampar'

3. Alofon fonem 101 adalah [:J] jika terdapat pada suku kata tertutup. Contoh: [peh:Jk] [l:J/:Jp]

4.

j pehokj jlolopj

'ayam betina' 'emut'

Alofon fonem lui adalah [V] jika terdapat pada suku kata tertutup. Contoh: [ihUp] [lembUtj

jihupj jlembutj

'minum' 'muncul'

2.3.2 Aloton Konsonan Alofon konsonan dalam BDN dapat dipaparkan sebagai berikut. 1. Alofon fonem IpI adalah [P] bunyi lepas jika diikuti vokal.

Contoh:

[pasah] [pannalJ] [papa?]

j pasahj 'pondok' j pannangj 'kemarau; terik' jpapaj 'kotor'

[P>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata ter­ tutup. 26

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh: [inup>] [ihup>] 2.

/inyup/ /ihup/

'isap' 'minum'

Alofon fonem /t/ adalah [t] bunyi lepas jika diikuti oleh vokal.

Contoh:

[tumbah] /tumbah/ 'sahut' [lumbah] /lumbah/ 'lebar' [f'] bunyi tidak lepas jika terdapat pada suku kata ter­ tutup. Contoh: [kulaf'] 'jamur' /kulat/ [kala f'] /kalat/ 'sepat'

3.

Alofon fonem /k/ adalah [k] bunyi lepas jika terdapat pada awal suku kata. Contoh: [kuman] /kuman/ 'makan' [kareh] 'nanti' /kareh/ [P] bunyi tak lepas jika tedapat pada tengah kata dan diikuti konsonan lain. Contoh: [k.Jtak>] [putak>]

/kotak/ /putak/

'kotak' 'buih'

r] bunyi hambat glotal umumnya akan muncul apabila

sebuah kata berakhiran vokal:

Contoh:

[tana?] [sale?] [bongo?]

/tana/ / sa le/ /bongo/

Bab II Fono)ogi Bahasa Dayak Ngaju

'ladang' 'jelaga' 'rakus' 27

4. Alofon fonem IwI adalah [w] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vokal pada akhir suku kata. Contoh: [wayah] q Iwayahl 'musim' [tasumbaW] q I tasumbaul 'terjerembab' [buhaW] q I buhaul 'kabur' 5.

Alofon fonem IyI adalah [y] merupakan konsonan jika terdapat di tengah suku kata dan semi vokal pada akhir suku kata. Contoh: [uyat] I uya tl 'leher' [payah] Ipayahl 'lihat' [mela Y] 'tinggal' Imc/ail

2.4 OIFTONG Bunyi rangkap vokal disebut diftong sedangkan bunyi tunggal vokal disebut monoftong. Dengan demikian, diftong adalah dua buah vokal yang berdiri bersama dan pada saat di­ ucapkan berubah kualitasnya. Perbedaan vokal dengan diftong adalah terletak pada cara hembusan nafasnya. Diftong berciri keadaan posisi lidah pada waktu mengucapkan bunyi vokal yang satu dengan yang lain saling berbeda. Diftong dalam BDN adalah sebagai berikut.

1. Diftong lau/, pengucapannya [a '1 Contoh: I tasumba u] Ibuhaul Ikcjaul

q q

q

[tasumba W ] [buhaW] [kcjaW]

'terjerembab' 'lari/kabur' 'jauh'

2. Diftong lai/, pengucapannya [8 Y]

28

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh:

jaingkuj jmangipaij jmelaij

c:> c:> c:>

[aYwku] [ma!Jipa Y] [mela Y]

'milikku' 'melamai' 'tinggal'

3. Diftong /oi/, pengucapannya [0 Y] Contoh:

jtoloij jdohoij

[toloY] [dohoY]

r:::> r:::>

'perut' 'udik'

4. Diftong /ui/, pengucapannya [u Y ] Contoh:

j kaluij j sa/uij jtambuij

r:::> r:::> r:::>

[kalu Y] [saluY] [tambu Y]

'nama jenis ikan' 'sarung' 'kuah'

Pada Tabel 5 disajikan diftong dalam BDN serta realisa­ sinya. Tabel 5 Diftong Bahasa Dayak Ngaju

Posisi Tengah

Posisi Akhir 'undangan' 'menyusuri' 'jenis tanaman paku'

W 3. jauj~ [a1 a aWuh a wl1l11

'katanya' 'bunyi' 'katamu'

4. joij~ LoY] 5. juif~ [a Y]

Bab II Fonologi Bahasa Oayak Ngaju

ma!Jil1a Y 'melambaikan mela 'Y tangan' hinda Y 'tinggal' 'belum' 'kabur' buha w keja W 'jauh' ·W aJa ~rebung' tolaY 'perut' doho Y 'udik' salaY 'sarung' tambu Y 'kuah' ta!JguY 'topi' 29

2.5 GUGUS KONSONAN ATAU KlASTER Bunyi rangkap konsonan disebut gugus konsonan atau klaster dengan ciri cara diartikulasikan atau tempat artikulasi kedua konsonan itu saling berbeda. Oalam penelitian ini, tidak ditemukan gugus konsonan dalam BON. Walaupun ada, gugus konsonan itu ditemukan pada kata akibat dari proses abreviasi (pemendekan bentuk sebagai pengganti bentuk yang lengkap) dan kata pinjaman dari bahasa di luar BON. Contoh: 1. Proses abreviasi /braku/ /krotot/ /brangus/ /mbuhen/ /mbuat/ /krenga/ /krahak/ /krahau/ /plara/ /klotokf

7 7 7 7 7 7 7 7 7 7



7 7 7 7 7 7 7 7 7 7

/bra-ku/ /kro-tot/ /brang-us/ /mbu-hen/ /mbu-at/ /kreng-a/ /kra-hak/ /kra-hau/ /pla-ra/ /klo-tok/

'kodok beracun' 'riang-riang' 'sembarangan' 'mengapa' 'memasukan' 'nyaris' 'sisa-sisa' 'kijang ked!' 'jenis tumbuhan' 'perahu kedl'

2. Kata pinjaman /drum/ fkranda/ /prei/ /krana/

7 7 7 7



7 7 7 7

/drum/ /kran-da/ /prei/ /kra-na/

'drum' 'peti mati' 'libur' 'karena'

2.6 FONEM SUPRASEGMENTAL Arus ujaran manusia menunjukkan adanya ciri bunyi yang menyertai bunyi segmental, yaitu suprasemental yang menun­ jukkan ciri prosodi. Peranan ciri prosodi, yaitu tekanan. nada, panjang, dan jeda tidak boleh diIupakan. Oalam hal ini, fonem 30

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

suprasegmental dalam BON ditandai dengan ciri prosodi bunyi panjang [:] dan tekanan [?]. Ciri prosodi itu berfungsi sebagai pembeda makna. Fonem suprasegmental yang menjadi temuan dalam penelitian ini, yakni:

1.

2.

Ciri prosodi bunyi panjang Contoh: [karusi:] 'kursinya' [karusl] 'kursi' [nupi:] 'mimpinya' [nupr] 'mimpi' [pahari: Y ] 'saudaranya'

[pahari?] [gawi:] [gawi?] [pai:] [pai']

'saudara' 'kerjaannya' 'kerja' 'kakinya' 'kaki'

Ciri prosodi tekanan Contoh: [papa?] 'kotor' [papak] 'ketok' 'sepuasnya' [meda1 [medak] 'melempar [peda1 'bosan/jenuh'

[pedak] [heka?] [hekak] [kepa?] [kepak]

'lempar' 'capek/lelah' 'cekik' 'amis' 'copot'

2.7POLA SUKU KATA Suku kata dalam BON selalu memiliki vokal yang menjadi puncak suku kata. Puncak itu dapat didahului dan dUkuti oleh satu konsonan atau lebih meskipun dapat terjadi bahwa suku kata hanya terdiri atas satu vokal atau satu vokal dengan satu konsonan. Kata di dalam BON dibentuk dari gabungan ber­ macam-macam suku kata. Pemenggalan kata berhubungan de­ ngan kata sebagai satuan tulisan sedangkan penyukuan kata bertalian dengan kata sebagai satuan bunyi bahasa. Pemeng­ galan tidak selalu berpedoman pada lafal kata. Faktor lain yang penting adalah kesatuan pernapasan pada kata tersebut. Kita harus pula menghindari pemenggalan pada akbir kata yang ha­ nya terdiri atas satu huruf saja. Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

31

Pola-pola suku kata BDN terdiri atas pola satu suku kata, pola dua suku kata, pola tiga suku kata, dan pola empat suku kata. 1. Pola satu suku kata Pola satu suku kata dapat dilihat pada contoh berikut.

lenl I ihl I a ul I auhl I awnl 2.

Pola dua suku kata Pola dua suku kata dapat dilihat pada contoh berikut. / an-taj / bi- tij /ea-tok/ /da-rem/ j en-dau/ jga-uj jha-panj ji-je/ /ii-hi/ jka-putj /mi-hup/ jni-hauj jtun-tang/ /ben-teng/

3.

'selalu' 'badan' 'ketuk: 'sakit'

'tadi'

'cari'

'menggunakan'

'satujyang'

'tongkat'

'gelap'

'minum'

'hHang/mati'

'dan'

'tengah'

Pola tiga suku kata Pola dua suku kata dapat dilihat pada contoh berikut. j ba-bi-Iem/ /da-hu-yan/

32

'apa' 'saja/juga' 'katanya/ternyata begitu' 'perkataan/ucapan' 'katamu'

~hitam'

'durian' rATA BAHASA DAYAK NGAJU

Ija-ha-wenl 'enam' Ima-hing-kepl 'tiarap/tengkurap'

4.

Pola empat suku kata Pola empat suku kata dapat dilihat pada contoh ber­ ikut I si-lam-pi-pil Inang-ka-i-yakl Ika-la-pe-anl I ka-la-gu-etl I tam-pa-ru- aul Ikang-ka-li-ngenl I ham-ba-ru-anl

'duduk bersila sebelah kaki'

'teriak'

'lupa'

'ubun-ubun'

'terlalu/berlebihan'

'bayangan'

'roh/jiwa'

Walaupun telah dikemukakan pola suku kata tersebut dapat juga dicari sistem pola umum suku kata BDN. Setiap suku kata ditandai oleh sebuah vokal. Vokal ini dapat didahului atau diikuti oleh konsonan. Di dalam BDN suku kata dapat terdiri atas (1) satu vokal (V), (2) satu vokal dan satu konsonan (VK), (3) satu konsonan dan satu vokal (KV), (4) satu konsonan, satu vokal, dan satu konsonan (KVK), (5) dua konsonan dan satu vokal (KVV), (6) dua konsonan, satu vokal, dan satu konsonan (KVVK), (7) satu konsonan, satu vokal, dua konsonan (KVKV), dan (8) tiga konsonan dan satu vokal (KVKK). Sistem pola umum suku kata itu dapat dicontohkan pada kata berikut.

1. Vokal (V) Contoh: la-sui I a-ngatl lu-tusl

~ ~ ~

[a-su?] [a.!1a t) [u-tus]

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

'anjing' 'rasa' 'keturunan'

33

2. Vokal Konsonan (VK) Contoh: lenl lihl

7 7

[en] [ih]

'bagaimana; apa' 'saja'

[te?] [he?] Ue?]

'itu'

'nah'

'yang'

3. Konsonan (KV) Contoh: I tel Ihel liel

7 7 7

4. Konsonan, Vokal, Konsonan (KVK) Contoh: Ihaul Ihungl

7 7

[ha W] [hulJ]

'itu' 'di'

5. Konsonan, Vokal, Vokal (KVV) Contoh: Igaul Ibaul I dial

7 7 7

[gau?] [baa:] [dia?]

'cari'

'wajah'

'tidak'

6. Konsonan, Vokal, Vokal, Konsonan (KVVK) Contoh: /teah/ /sium/

/saok/

7 7 7

[teYah] [si Yum] [sa Wok]

'kering' 'dum'

'tangguk'

7. Konsonan, Vokal, Konsonan, Vokal (KVKV) Contoh: I bitil Itanal Isapal

34

7 7 7

[bitF] [tana?] [sapa?]

'badan'

'ladang'

'maki; umpat; sumpah'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

8. Konsonan, Vokal, Konsonan, Konsonan (KVKK) Contoh: jtrmtangj jsampahf jbentengj

~

[trmta!l] [sampah]

~

[bente!l]

~

Bab II Fonologi Bahasa Dayak Ngaju

'dan' 'sangkut' 'tengah'

35

BAB ill MORFOLOGI

BAHASA DAYAK NGAjU

3.1 NOMINA Menurut Kridalaksana (2007:68) nomina adalah kategori yang secara sintaksis (1) tidak mempunyai potensi untuk ber­ gabung dengan partikel tfdak, seperti tfdak baw, tfdak kertas, tfdak radio dan (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dart. Chaer (2008: 69) menyebutkan ciri utama nomina adalah (1) tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tfdak, (2) tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (lebih, sanBat, dan pentfnB), (3) tidak dapat didahului oleh edverbia keharusan wajib, dan (4) dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti saw, sebuah, sebatanB, dan sebagainya. Misalnya, dalam frasa: lebih bulan, sanBat matahari, pentfnB air, wajib udara, saw buku, sebuah pensil sebatanB rokok

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

37

3.1.1 Batasan dan Ciri Nomina Bahasa Oayak Ngaju Secara sintaksis nomina bahasa Oayak Ngaju (selanjutnya disebut BON) dapat ditandai dengan ciri-ciri: (a) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan par­ tikelbeken'bukan: (b) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel bara 'dari', (c) tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (labih 'lebih' dan tutu 'sangat'), dan (d) dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti kapucuk 'sepucuk', dan kabatang 'buah'. Sejalan dengan ciri-ciri di atas, sintaksis nomina BONda­ pat dirumuskan seperti terdapat pada Tabel 6. Tabel 6 Struktur Sintaksis Nomina BDN

Adverbia

Contoh beken 'bukan' bara

+ beken batu 'bukan batu'

+

'dari'

derajat;. agak

labih 'lebih' dan

+

tutu'sangat'

keharusan:musti'mesti' jumlah i kapucuk 'sepucuk' .kabatang 'sebatang

+ +

beken huma 'bukan rumah' meja jete bara kayu .'meja itu (terbuat) dari kayu' labih bakena 'Iebih cantik' mangat tutu 'sangat enak' musti haguet'mesti berjalan' kapucuk lunju 'sepucuk tomb

3.1.2 Jenis Nomina Berdasarkan bentuknya, nomina BON dapat dibedakan atas nomina dasar dan nomina turunan.

38

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

3.1.2.1 Nomina Dasar Nomina dasar merupakan satuan yang hanya terdiri atas satu morfem dan merupakan satuan gramatik yang belum mengalami proses penambahan komponen satuan lain seperti bentuk kata berafiks, kata ulang, dan kata majemuk Dalam BDN dapat ditemukan bentuk nomina dasar seperti: jukung bauntunggang 1 sapau balau kasilu upak jagau

'perahu' 'pintu' 'atap' 'rambut' 'kuku' 'kulit' 'Jagau (nama orang),

hunjun

Sanayan huang januari Min a ngawa

'atas 'Senin' 'dalam' 'bulan Januari' 'Bibi' 'hilir'

3.1.2.2 Nomina Turunan Bentuk nomina turunan dalam BDN merupakan hasil bentukan dan dua proses morfologis, yaitu (1) nomina turunan yang dibentuk dari proses pemindahan kelas kata, seperti proses deverbalisasi, deajektivalisasi, serta deadverbialisasi dan (2) bentuk nomina turunan berupa bentukan dari proses afiksasi. reduplikasi, dan pemajemukan, seperti contoh berikut 1. Contoh nomina turunan yang terbentuk dari proses pe­ mindahan kelas kata lembut 'muncul' ~ pampa + lembut 7 pampalembut 'pemunculan' V

busu

Pre

'bungsu'

~

A

lalau

tam + busu 7 Pre

'terlalu' Adv

~

V A

tapa + lalau 7 Pre

Adv

N

tambusu

'anak bungsu'

N

tapa/a/au

'keterlaluan'

N

1) Bauntunggang adalah bentuk lengkap. Namun, dalam tuturan sehari-hari penutur BDN sering menggunakan bentuk batunggang yang merupakan proses abreviasi dari bauntunggang.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

39

2. Contoh nomina turunan yang terbentuk dari afiksasi, re­ duplikasi, dan pemajemukan (a) Afiksasi

miar 'jalan'

~

N

pa + miar Pre

~

pamiar 'perjalanan'

N

N

hl1kl1l 'baik; cantik' -7 ka + halap -7 kahalap 'kebaikan; kecantikan' A

Pre

N

N

(b) Reduplikasi jJJkJmg. 'sampan' -7 jukung+ jukung-7jukung- jukung'sampan-sampan' N(BO) BO BO N

llluruz'jaIan' -7 huma + huma -7 huma-huma 'rumah-rumah' N(BO) BO BO N

(c) Pemajemukan mata + andau N N

-7

mataandau'matahari' N

humUTll/ t paleng 7 (kathumungJt(katpalengJ 7 kahumung-kapaleng'kebodobarr N N PreN PreN N

ramak + rampuk -7 ramak-rampuk 'keserakahan' N

N

N

N

3.1.3 Kategori Nomina Dari sisi semantis, kategori nomina BDN dibedakan ke dalam nomina bernyawa dan tidak bernyawa.

3.1.3.1 Nomina Bernyawa Nomina bernyawa dapat disubstitusi dengan pronomina ie 'ia' dan ewen 'mereka~ sedangkan yang tidak bernyawa ti­ dak dapat Adapun nomina bernyawa, yakni nomina persona (insan), dapat disubstitusikan dengan ie dan ewen. Yang ter­ 40

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

golong dalam nomina persona adalah (a) nama diri, seperti Edo, Eka, dan Tini, (b) nomina kekerabatan, seperti tambi 'nekek', bue 'kakek', indang 'ibu', apang 'bapak', and; 'adik', (c) nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang, misalnya tempun 'pemilik', jaragan 'pemilik' (utuk kapal), dan (d) nama kelompok manusia: uluh Dayak 'suku Dayak', uluh jawa 'suku }awa', uluh Bali 'suku Bali',

3.1.3.2 Nomina Tidak Bernyawa Nomina tidak bernyawa terdiri dari: (a) nama lembaga, misalnya: CU Betang Asi (b) konsep geografis (termasuk tempat), rilisalnya: Kali­ mantan, Katingan, Kapuas, Pembelum 'Timur', pembelep 'Barat', ngawa 'hlir', ngaju 'huIu', ngambu 'atas (daratan), ngiwa 'bawah (air)', (c) waktu, misalnya: Senin, Selasa, januari, Oktober, 1974, jam 8, metuhtuh 'ketika/manakala/saatj', bihin 'dulu', jewu 'besok', wayahtuh 'sekarang', (d) nama bahasa, misalnya: basa Dayak 'bahasa Dayak', basa Ngaju 'bahasa Ngaju', basa Maanyan 'bahasa Maanyan', (e) ukuran dan takaran, misainya: kapucuk 'sepucuk', ka­ batang 'sebatang', kalawas 'seruas', kapantis 'setetes', dan (f) tiruan bunyi, misalnya: ngeau, katotok, tantengung, gir-gar.

3.1.4 Proses Pembentukan Nomina Pembentukan nomina BDN dapat dibagi dalam empat proses secara umum, yaitu (a) afiksasi, (b) reduplikasi, dan (c) pemajemukan. Proses pembentukan nomina tersebut akan diuraikan secara berurut sebagai berikut.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

41

golong dalam nomina persona adalah (a) nama diri, seperti Edo, Eka, dan Tini, (b) nomina kekerabatan, seperti tamb; 'nekek', bue 'kakek', indang 'ibu', apang 'bapak', andi 'adik', (c) nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang, misalnya tempun 'pemilik',jaragan 'pemilik' (utuk kapal), dan (d) nama kelompok manusia: uluh Dayak 'suku Dayak', uluh Jawa 'suku Jawa', uluh Bali'suku Bali'.

3.1.3.2 Nomina Tidak Bernyawa Nomina tidak bernyawa terdiri dari: (a) nama lembaga, misalnya: CU Betang Asi (b) konsep geografis (termasuk tempat), misalnya: Kali­ mantan, Katingan, Kapuas, Pembelum 'Timur', pembelep 'Barat', ngawa 'hlir', ngaju 'huIu', ngambu 'atas (daratan), ngiwa 'bawah (air)" (c) waktu, misalnya: Senin, Selasa, Januari, Oktober, 1974,jam 8, metuhtuh 'ketika/manakala/saat/" bihin 'dulu', jewu 'besok', wayahtuh 'sekarang', (d) nama bahasa, misalnya: basa Dayak 'bahasa Dayak', basa Ngaju 'bahasa Ngaju', basa Maanyan 'bahasa Maanyan', (e) ukuran dan takaran, misalnya: kapucuk 'sepucuk', ka­ batang 'sebatang', kalawas'seruas', kapantis 'setetes', dan (f) tiruan bunyi, misalnya: ngeau, katotok, tantengung, gir-gar.

3.1.4 Proses Pembentukan Nomina Pembentukan nomina BDN dapat dibagi dalam empat proses secara umum, yaitu (a) afiksasi, (b) redupUkasi, dan (c) pemajemukan. Proses pembentukan nomina tersebut akan diuraikan secara berurut sebagai berikut.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

41

3.1.4.1 Afiksasi Proses pembentukan kata nomina melalui afiksasi dalam BON terbilang cukup produktif dan berdasarkan pada kemung­ kinan kombinasi afiks. Ada tiga proses afiksasi, yaitu proses pembubuhan prefiks, konfiks, dan sufiks. (1) Prefiks Pembentuk Nomina BON 1. Prefiks paPrefiks pa- berfungsi untuk membentuk nomina. Misalnya: prefiks pa- yang berfungsi membentuk no­ mina abstrak pa- + laku 'minta' 7 palaku 'permintaan' Pre

V

pa-

+

hining 'dengar' 7

Pre

pa-

+

+

pa-

rima 'pahani 7 parima 'pengertian; pemahaman' N

palalus 'pelaksanaan'

lalus 1aksana' 7 V

+

Pre Pre

N

N

Pre

pa-

pahining 'pendengaran'

V

Pre

pa-

N

miar 'jalan' 7 pamiar 'perjalanan' V

+

N

N

rawei 'undang' 7 parawei 'undangan' V

N

Prefiks pa- yang menunjukkan nomina pelaku pa- + lauk. 'ikan' 7 palauk 'neJayan' Pre

paPre

paPre

paPre 42

N + malan '!adang' 7

N

pamalan 'petani; peladang'

N

+ rise 'ganggu' 7 A + mikeh 'takut' 7 A

N

parise 'pengganggu' N

pamikeh 'penakut' N TATA BAHASA DAYAK NGAJU

paPre

+ takau 'curi' -7 V

pa-

+

tasal 'hesi' -7 V

Pre

panakau2 'pencuri' N

panasal

'pandai besi'

N

2. Prefiks paNPrefiks paN- dalam BDN memiliki kesamaan fungsi dengan konfiks ke--an, pep-an, per-wan, dan peng--an da­ lam bahasa Indonesia. Sebagaimana penjelasan sebe­ lumnya, jika dilekatkan dengan kata dasar yang ber­ fonem awal It/. prefiks paN- akan berubah menjadi fo­ nem Inl sehingga prefiks paN- berfungsi sebagai pem­ bentuk nomina. Misalnya: paN+ tame 'masuk' -7 paname 'pemasukan' Pre

paN-

V + tenga 'beri' -7

V

Pre

paN-

N

panenga 'pemberian' N

Pre

+ tatau 'kaya' -7 panatau A N

paN-

+ dumah 'pulang' -7 pandumah 'kepulangan'

V

Pre

paN­

+

paN-

Pre

paNPre

pandinu 'pendapatan' N

jawet 'anyam' -7 panjawet 'penganyam' V N

+

dohop 'tolong' -7 pandohop 'penolong/pertolongan' V N

+

sundau 'temu' -7 panyundau 'temuan'

Pre

paN-

N

+

Pre

paN-

dinu 'dapat' -7 A

Pre

'kekayaan'

V

N

+ sangkum 'aiam' -7 panyangkum 'pengaIaman'

V

N

2) ·Panakau dan *paN mengalami proses morfofonemik, yaitu perubahan fonem menjadi fonem Inl

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

ItI 43

paN­ paN-

panyurat 'penulis' N

+

surat 'tulis' V

+

suduk 'tusuk' -:) panyuduk 'penusuk'

Pre Pre

-:)

V

paN-

N

kasene 'kenal' -:) pangasene 'pengenalan'

+

Pre

V

paN-

N

kfnan 'makan' -:) panginan 'makanan'

+

Pre

V

paN-

N

kabehu 'cemburu' -:) pangabehu 'pecemburu'

+

A

Pre paN-

N

patei 'mati' -:) pampatei 'kematian'

+

Pre

V

paN-

N

belum 'hidup' -:) pambelum 'kehidupan'

+

V

Pre +

paN-

N

buli 'pulang' -:) pambuli 'kepulangan'

Pre

V

N

3. Prefiks kaPrefiks ka- dalam BDN memiliki kesamaan fungsi dengan konfiks ke-an pe-an, peng-an, atau sufiks -nya untuk membentuk nomina. Proses pembentukannya melekat pada bentuk dasarjleksem ajektiva. Misalnya: Pre

+ hawen 'malu' -:) + A

ka ka

+

Pre

+

ka

+

Pre

+

N

kahai 'kebesaran; besarnya' N

pakat 'sepakat' -:) kapakat 'pemufakatan'

A

N

Pre

+ halap 'cantil< -:) kahalap 'kebaikan; kecantikan' + A N

ka

+ tamam 'angkuh' -:) katamam 'keangkuhan'

ka

Pre +

44

hal 'besar' -:) A

kahawen 'kemaluan; malunya'

A

N

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

ka Pre

+ hanjak 'senang' -7 kahanjak 'kesenangan' A N

+

(2) Sufiks Pembentuk Nomina BDN Sufiks pembentuk nomina di dalam BDN berlaku ba­ gi sufiks -an saja. Sufiks -an agak mirip dengan sufiks -an di dalam bahasa Indonesia. Biasanya terjadi proses morfofonemik penambahan konsonan untuk menguatkan fonem vokal akhir atau bunyi yang berakhir diftong. Contoh: pandui 'mandi' + -an 7 panduian 'pemandian'

Suf

V

tali N

tapi

'tambat' + -an 7 Suf 'tepi'

N

+ -an 7

dipah 'seberang' + -an 7

tapian 'tepian; pinggir sungai' N

dipahan 'tempat menyeberang; titian'

Suf

V

'sesaji'

N

+ -an 7

tajahan 'tempat menaruh sesajian' N

Suf

V

balum

talian 'tambatan'

Suf

N

tajah

N

'piara'

+ -an 7

V

Suf

garut(d)

+ -an 7

V

Suf

baluman 'piaraan (binatang), N

garudan 'parutan'

N

(3) Konfiks Pembentuk Nomina BDN

Selain konfiks yang terbentuk oleh prefiks dan sufiks seperti dikemukakan sebelumnya, konfiks serapan dari bahasa Indonesia terdapat di dalam BDN. Konfiks tersebut meliputi pa-an, ka-an, dan sa-e yang berfungsi memben­

tuknomina.

Contoh:

pan-an + dulang 'dulang' 7 Kon

pandulangan 'pendulangan'

NfV

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

N 45

ka-an + Kon sa-e

Kon

lasut 'panas' 7 A

kalasutan

'kepanasan/terlalu panas'

N

+ pandinu 'dapat' 7 Adv

sapandinue 'sedapatnya'

Adv

3.1.4.2 Reduplikasi Pembentukan nomina melalui proses redupUkasi dalam BON terjadi hanya melalui proses reduplikasi utuh. Contoh: dawen

'daun'

BO

jukung

7

BU 'sampan'

7

BO bua

'buah'

7

bua-bua

'buah-buah'

BU 'dayung'

7

besei-besei

7

duhi-duhi

BO duhi

jukung-jukung 'sampan-sampan'

BU

BO besei

dawen-dawen 'daun-daun'

'duri'

BO

'dayung-dayung'

BU 'duri-duri'

BU

Bentuk dawen 'daun', jukunB 'sampan', bua 'buah', besei 'dayung'. duhi 'duri'. yang pertama merupakan bentuk dasar (BD). sedangkan satuan dawen 'daun'. jukung 'sampan'. bua 'buah'. besei 'dayung', duhi 'duri' yang kedua merupakan kon­ stituen ulangnya atau bentuk ulang (BU). Baik satuan dasar maupun satuan ulang, kedua-duanya merupakan kelas nomina.

3.1.4.3 Pemajemukan Kata majemuk kategori nomina memiliki ciri secara se­ mantis menunjuk pada manusia, binatang, benda, lokasi. wak­ tu, konsep, dan pengertian. 46

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh: kahumun9 'kebodohan' + kapale1l9 'kebodohan' ~ kahumu1l9 kapale1l9 'kebodohan' baun baun metu kejau huma

'depan/ muka' 'depan/ muka' 'binatang' 'jauh' 'rumah'

+ andau

'hali'

~

baun andau

+ sen90k

'jenguk'

~

baunsen90k

+ satwa 'binatang' ~ 'dekat' ~ + tukep + seruk 'tepi/sudut' ~

metusatwa kejautukep humaseruk

'awan' 'daun jendela' 'binatang' 'jauh dekat' 'hunian'

3.2 AJEKTIVA

Ajektiva adalah kata yang menerangkan nomina (kata benda) dan secara umum dapat bergabung dengan kata lebih dansangat

3.2.1 Batasan dan Ciri Ajektiva

Ajektiva BDN dapat ditandai dengan ciri. yaitu (1) ada kemungkinan untuk bergabung dengan partikel beken 'bukan' dan dia 'tidak' (2) dapat mendampingi nomina, atau (3) dapat didampingi kata labih 'lebih', pangka 'paling', tutu 'sangat', dan labien 'sangat'. Contoh: dia

'tidak' + bahandang 'merah'

dia

'tidak' + basing;

'marah' -7

labih 'Iebih' + paringko1l9 'kurus' pa1l9ka 'paling' + hal 'besar' harati 'pintar' +

tutu

~

'sangat'

~ ~ ~

labien 'sangat' + bakena 'cantik/ ~ tampan'

Bah III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

dia bahanda1l9 'tidak merah' dia basi1l9i

'tidak marah'

labih pari1l9ko1l9 'Iebih kurus' pangka hal 'paling besar' harati tutu

'sangat pintar'

labien bakena 'sangat cantik/ tampan'

47

3.2.2 Jenis Ajektiva Berdasarkan variasi bentuk, ajektiva BDN dapat dibeda­ kan jenisnya atas ajektiva dasar dan ajektiva turunan.

3.2.2.1 Ajektiva Dasar Ajektiva dasar adalah ajektiva yang hanya terdiri atas satu morfem. Contoh: bahalap hanjak taheta maram bakas tabela parlngkong baseput pehe tamam hal mameh kaput taheta balau kurik benyem lumbah gantung mangat

'cantik' 'gembira' 'baru' 'busuk' 'tua' 'muda' 'kurus' 'gemuk' 'sakit' 'sombong' 'besar' 'bodoh' 'gelap' 'baru' 'lapar' 'ked!' 'diam' 'luas' 'tinggi' 'enak'

3.2.2.2 Ajektiva Turunan Ajektiva turunan BDN mempunyai bentuk turunan yang terbentuk melalui proses pindah kelas kata dan proses mor­ fologis} yaitu afiksasi, redupJikasi, dan pemajemukan. 48

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1. Ajektiva turunan yang terbentuk dari proses pemindahan kelaskata a~ui 'api' ~ baap'j{-apui 'berapi-api' ~

putak 'busa'

N

baputa-putak 'berbusa-busa'

A

2. Ajektiva turunan yang terbentuk dari proses afiksasi darem

'demam'

~

badarem

'meriang'

busau

'mabuk'

-7

babusau

'mabuk'

pehe

'sakit'

-7

kap,ehe

'kesakitan'

A A A

A A A

3.2.3 Kategori Ajektiva Oalam BON hanya ada satu kategori ajektiva, yaitu ajektiva predikatif. Ajektiva predikatif adalah Ajektiva yang dapat me­ nempati posisi predikat dalam klaus a, contoh: (1) lasu-lasut 'hangat' -7 danum te lasu-lasut 'air itu hangat' (2) bahali 'sulit' -7 gawl te bahali 'pekerjaan itu sulit' (3) larang 'mahal' -7 lauk tuh larang 'ikan ini mahal'

3.2.4 Proses Pembentukan Ajektiva Ajektiva BON dibentuk melalui beberapa proses afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.

3.2.4.1 Afiksasi Proses pembentukan ajektiva dalam BON melalui afiksasi dapat dicontohkan sebagai berikut. 1.

Prefiks ba­ ba- + darem Pre

A

~

badarem 'meriang' A

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

49

ba-

+

singi

Pre

baPre

basingt

-:)

N

'marah'

A

+ daham

badaham

-:)

A

'rakus'

A

2. Prefiks ka­ kaPre

kaPre

+ labien

'lebih'

kalabien

-:)

A

'berlebihan'

A

+ kuntep 'penuh'

kakuntep

-:)

A

'sepenuh'

A

3. Prefiks paN­ paN- + kabehu 'cemburu' Pre

A

paN- + kamue Pre

pangabehu 'mudah cemburu'

-:)

N

'manja'

pangamue 'kemanja-manjaan'

-:)

N

A

4. Prefiks saka­ saka- + tutu 'sungguh' Pre

sakatutu 'sesungguh; sebenar' A

saka- + lepah Pre

-:)

Adv

'habis'

-:)

sakalepah

Adv

'sehabis'

A

3.2.4.2 Reduplikasi

Proses pembentukan ajektiva melalui mekanisme redup­ likasi atau pengulangan dalam BDN dapat digolongkan dalam bentuk-bentuk pengulangan berikut. (1) Pengulangan Seluruh

Contoh: stngi 'marah'

-:)

BD (V) -:)

BD (A) BD (A)

50

'sangat marah'

BU (A)

handang 'merah' henda

singi-singt

handa-handang 'kemerah-merahan'

BU (A)

'kuning' -:)

henda-henda 'kekuning-kuningan' BU (A)

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Bentuk dasar singi yang terletak pada jajar pertama merupakan bentuk dasar, sedangkan singi yang terletak pada jajar kedua merupakan bentuk ulangnya, dengan pengulangan bentuk tersebut maka terbentuklah kata ulang singi-singi. (2) Pengulangan Sebagian Contoh: ba + kena 'cantik' ~ Pre

ba + dengen 'tuli' Pre

~

A

ma + hamen 'malu' Pre

bakena-kena 'cantik-cantik' BU (A)

A

badenge-dengen

'tuli-tuli'

BU(A)

~

A

mahame-hamen 'malu-malu' BU(A)

ba + darem 'dingin' ~ badare-darem 'dingin-dingin'

Pre

ba + tekang 'keras' Pre

BU (A)

A ~

A

bateka-tekang 'keras-keras'

BU(A)

Proses reduplikasi pembentuk ajektiva BDN terdapat dalam dua bentuk pengulangan saja, yakni pengulangan seluruh dan pengulangan sebagian.

3.2.4.3 Pemajemukan Proses pemajemukan dalam pembentukan ajektiva BDN dapat dibedakan dalam dua jenis, yakni (1) ajektiva koordinatif (komponen-komponennya berstatus sederajat) dan (2) ajek­ tiva subordinatif (kopmponen-komponenya berstatus berla­ inan). 1. Ajektiva koordinatif Contoh: saJa 'salah' + buah 'benar' kurik 'keciY + hai 'besar'

~

sala buah 'baik buruk' kurik hai 'besar kedl' bakena 'cantik' + bahalap 'jelita' ~ bakena bahalap 'cantikjelita' mamut 'gagah' + menteng 'perkasa' ~ memuat mameteng 'gagah perkasa' ~

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

51

lemu 'lemah' + lembai 'gemulai'-7 bakas 'tua' + tabela 'muda'-7

lemulembai bakas tabela

1emahgemulai' 'tuamuda'

2. Ajektiva subordinatif Contoh: hai 'besar' + takuluk 'kepala' -7 haitakuluk 'besar kepala' batekang 'keras' + ate; 'hati' -7 batekang atei 'keras hati' 'hati' -7 kahian atei 'rela; ikhlas' kahian 'iklas' + atei 'sampah; tak berguna' 'perasa' banipis 'tipis' + pinding 'telinga' -7 banipis pinding mait 'lidah' -7 mait jela 'manjur; bijak' 'ampuh' + jela bajenta 'ramah' +bajurah 'tamah' -7 bajenta bajurah 'ramah tamah'

rutik

'ramah' + ampah 'sampah'-7 rutikampah

3.2.5 Ajektiva dan Pertarafan Ajektiva dalam fungsinya sebagai atribut nomina dapat menunjuk tingkat kualitas dan tingkat bandingan. Ajektiva da­ pat menunjuk tiga tingkat, yaitu (a) tingkat positif, yakni menerangkan bahwa nomina dalam keadaan biasa, contoh: (4) Humanjagau hai. 'Rumah si Jagau besar.' (4a) Humanjagau sarna kahai dengan humangku.

'Rumah Jagau sarna besamya dengan rumahku.' (b) tingkat komparatif, yakni menerangkan bahwa suatu no­ mina melebihi keadaan nomina lain, misalnya: (5) Humanjagau labih hai bara humangku. 'Rumah si Jagau lebih besar dan rumahku: (c) tingkat superlatif, yakni menerangkan bahwa keadaan no­ mina melebihi keadaan beberapa atau semua nomina lain yang dibandingkannya, misalnya: 52

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(6) Nya; mur;dje pangka harati hung sakula. 'Nyai murid yang paling pintar di sekolah: (6a) Nya; mur;dje harati tutu hung sakula. 'Nyai murid yang pintar sekali di sekolah:

3.3 VERBA Verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbu­ atan, atau keadaan. Verba disebut juga dengan kata kerja.

3.3.1 Batasan dan Ciri Verba Proses penurunan verba dalam BDN sederhana, yaitu langsung membubuhi afiks ke kata dasar tanpa adanya urutan atau prioritas afiks mana yang lebih dahulu karena verba BDN tidak memiliki sufiks atau bahkan konfiks untuk membentuk verbanya.

3.3.2 Jenis Verba Dalam BDN ada dua macam bentuk verba, yaitu (1) verba dasar dan (2) verba turunan. Verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis dan verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks dalam konteks sintaksis.

3.3.2.1 Verba Casar Seperti telah dinyatakan sebelumnya, verba dasar adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Hal itu berarti bahwa verba jenis ini dapat dipakai, baik dalam tataran klaus a maupun kalimat, baik dalam bahasa formal maupun informaP 3) Keformalan pemakaian bahasa Dayak Ngaju hanya ditentukan penggunaan baha­ sa tersebut, yakni apakah dalam suasana resmi seperti acara keagamaan atau ke­ budayaan. Sementara itu, dalam konteks bahasa informal adalah bila bahasa tersebut dipakai dalam suasana percakapan santai dan pergaulan. Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

53

Penggunaan verba dasar yang paling umum dalam BON biasa­ nya terdapat pada konteks kalimat imperatif.4 Perhatikan con­ toh berikut (7) Dumah kareh lah! Datang n~mti, ya!' (8) Uap akangku batunggang teo

'Bukakan jendela itu buat saya'

(9) Ela tende bagawi te aluh sampai hamalem. 'Jangan berhenti bekerja walau sampai malam:

Selain dalam kalimat imperatif, verba dasar tanpa afiks juga bisa muncul pada tataran sintaksis BON seperti contoh berikut. (10) BirikpaJingetje tingkep intu lengem.

'Tepiskan penyengat yang hinggap di tanganmu: (11) Ikau musti liwus bara kuasae.

'Engkau harus bebas dari pengaruhnya: (12) Ewen musti kuman panginanje iluput indu parapah.

'Mereka harus makan makanan yang dihidangkan untuk persembahan: Oi dalam BON banyak terdapat verba dasar, di antaranya terdapat pada Tabel 7. Tabel 7 Senarai Verba Dasar

Verba Dasar duan'ambil' dumah'datang'

Klausa duan lunju teo 'ambil tombak itu' dumah ih akan human ikei 'datang saja ke

rumahkami' en et'tindih timpa' baduruh en et ka u 'runtuh tertindih ohon' 4) Kalimat imperatif dalam bahasa Dayak Ngaju adalah kalimat yang berisi perintah, su­ ruhan permohonan, ajakan, dan larangan.

54

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

ewui 'campur'

ewui henda dengan buring akan tatamba himang

'campur kunyit dengan arang untuk obat luka' dari'lari' dari ikau bara hetuh 'Iari engakau dari sini' haga 'rawat!piara' haga Tiung tuh 'rawat Beo ini' hapan 'guna' ela hapan jukung tuh 'jangan gunakan sampanini' kalapean 'Iupa' ie kalapean maimbit Ion tong 'dia Iupa membawa baku!' kuman'makan' ela liwat kuman 'jangan terlambat makan' liwus 'lepasfbebas' manuk liwus bara karungae 'ayam Iepas dari kandangnya' maja 'kunjung' maja aku halemei kareh 'datang ke rumahku sore nantl' miar 'gerak' miar akan ngaju 'bergerak ke hulu' ela umbagawije dia bahalap 'jangan ikut umba'ikut' pekerjaan yang tidak baik' dang seluruh ketua

sahukan Mandau te 'sembunyikan Manda itu' satiar 'us aha'

ngahus satiar ikei katahin tuh 'sia-sia usaha

sinta 'cinta'

sinta sampai hentang tulang 'cinta sampai

kami selama ini' mati' sundau 'temu'

sundau ije kakawan Punei 'bertemu satu kawanan Punai'

tame'masuk'

tame akan balai basarah 'mas uk ke rumah ibadah (Kaharingan)

tarima 'terima' tenga 'beri'

tarima ih panengangku tuh 'terima saja pemeberianku ini' tenga uras je kana huange 'beri semua kein inann "

Bab III Morfo!ogi Bahasa Dayak Ngaju

55

3.3.2.2 Verba Turunan Verba turunan dalam BDN dapat dibentuk melalui trans­ posisi, pengafiksan, reduplikasi, dan pemajemukan. Transpo­ sisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperIihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaksis yang satu ke kate­ gori sintaksis yang lain tanpa mengubah bentuknya (Alwi, dkk., 2000:101). Misalnya, dari nomina jaJan diturunkan menjadi verba jaJan. Transposisi

t

Hungkuehjalan G. Obos? 'Di mana jalan G. Obos?'



Jadi jalan hindai gawin itah? 'Sudah berjalankah pekerjaan kita?'

Contoh berikut juga merupakan transposisi dari nomina keverba. Dasar Nomina Besei ikei inakau uluh. 'Kayuh kami dicuri orang: lnjam akangkuh sandurung mina! 'Pinjamkan saya kerudung bibil' Gau akangkuh cangkul helu! 'Carikan can I buat sa: a dulu!'

Ditransposisi ke Verba lkau besei akan itah lah. 'Kamu yang mengayuh untuk kita: 'Sandurung helu kuluk tel' 'Pasangi kerudung dulu kepala itu!' Cangkul akangkuh petak je tuh! 'Can kulkan tanah ini buat sa aI'

Bentuk turunan selanjutnya adalah pengafiksan. Peng­

afiksan adalah penambahan afiks pada kata dasar.

Contoh:

Dasar putak 'busa' japang 'jangkau' asang 'serang' lacok'tunas' silim'sembunyi' surat 'tulis'

56

-7 -7 -7 -7 -7

-7 -7

Verba Turunan haputak manjapang iasang malacok basilim tarasurat hasa a

Makna 'berbusa' 'menjangkau dengan tangan' 'diserang' 'bertunas' 'tersembunyi' 'tertulis' 'bersum ah' TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Selain transposisi dan pengafiksan, verba turunan BDN juga bisa dalam bentuk reduplikasi, yaitu bentuk verba yang mengulang bentuk dasarnya. Bentuk reduplikasi verba BDN . agak sedikit berbeda dengan reduplikasi verba dalam bahasa Indonesia. ApabUa kata dasar berakhiran dengan satu atau dua konsonan, pengulangan kata pertamanya tidak mengikutkan konsonan dan hanya muncul pada pengulangan kedua. Contoh: Verba Turunan dari'lari' pedak'lempar' tanjung 'jalan' gau 'cari' guet 'gerak' putar 'putar' menter'rebah'

7 7 7 7 7 7 7

dari-dari

peda-pedak tanju-tanjung gau-gau gue-guet puta-putar mente-menter

Makna 'lari-Iari' 'lempar-Iempar' 'jalan-jalan' 'cari-cari' 'gerak-gerak' 'putar-putar' 'rebah-rebahan'

Selain bentuk reduplikasi verba turunan pada contoh di atas, BDN juga memiliki reduplikasi verba turunan dengan pengafiksan untuk menyatakan bahwa suatu pekerjaan dila­ kukan berulang-ulang. Contoh: tingak'ingat' rasih 'bersih' tanjung 'jalan' basa 'baca'

7 7 7 7

Verba Turunan maninga-ningak marasl-rasih mananju-nanjung mambasa-basa

Makna 'memperingatkan berkali-kali' 'membersihkan berkali-kali' 'berjalan-jalan' 'membaca-baca'

Bentuk terakhir verba turunan yang ada dalam BDN ada­ lah bentuk pemajemukan. Pemajemukan menurut AIwi, dkk. (2000:102) adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna.

Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

57

Contoh: Verba

Dasar

T

tanjung'moD ar' + tunja' ngaju 'bulu' + ngawa 'bilir' murik'bulu' + masuh 'hilir' + galang 'busa'

~

balik'maru~

~

~ ~ ~

'mondar tanjung tunja ngajungawa 'bilirmudik(di darat)' murikmasuh 'hilir mudik (di sungai)' barantaigalang 'berantai gelang' tumbang tabalik 'karutmaru~

Berdasarkan contoh di atas, ada dua bentukpemajemukan verba yang terdapat dalam BDN, yakni pemajemukan verba tanpa pengafiksan (tanjung tunja, ngaju ngawa, murik masuh) dan pemajemukan verba dengan pengafiksan (barantaigaiang, dan tumbang tabalik). 3.3.3 Proses Pembentukan Verba Berdasarkan fungsi yang dibawakan oleh prefiks verbal, pembentukan verba BDN dapat diturunkan dari kelas kata no­ mina, ajektiva, dan verba itu sendiri. Berikut adalah contoh ver­ ba yang diturunkan dad kata dasar nomina. Nomina Verba Turunan pete pesan musuh'musuh' auh'suara' tanduk'tanduk' sanar 'usaha'

ma + pete mamete memesan -7 ha + musuh ~ hamusuh 'bermusuhan' -7 ha + mauh -7 hamauh 'bersuara' -7 ha + tanduk -7 hatanduk 'bertandukan' -7 ba +sanar -7 basanar 'berusaha'

ver a verbaaktlf verbaaktlf verba resiprok verbaaktif

Sementara itu, verba turunan BDN juga dapat berasal dari kelas kata ajektiva seperti contoh berikut. Verba Turunan Fu rutek 'usaha' tekang 'usaha' i salamat 'usaha' halit'usaha'

-7 impa + rutek -7 imparutek'dihancurkan' -7 i+ tekang -7 inekang 'dikuatkan' -7 i + salamat -7 inyalamat 'diselamatkan' -7 mampa + halit-7 mampahalit

verba pasif

verba pasif

verba pasif

verba aktif

'menutup kembali, ttg luka'

pusit 'usaha'

58

-7 ma + pusit -7 mamusit'memecahkan'

verba aktif

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Proses penurunan verba BDN juga bisa dilakukan dengan menambahkan prefiks ke bentuk verba dasar seperti contoh berikut. Verba

Verba Turunan

hining 'dengar' -7 rna + hining -7 rnahining 'mendengar' ise 'hitung' -7 tara + ise -7 taraise'terhitung' rawei 'undang' -7 i + rawei -7 irawei'diundang' sewut'sebut' -7 haka + sewut -7 hakasewut 'saling menyebut' tiruh 'tidur' -7 tapa + tiruh -7 tapatiruh 'tertidur' salanja 10mba' -7 ha + salanja -7 hasalanja 'berlomba'

Fungsi verbaaktif verba pasif verba pasif verba resiprok verba pasif verba resiprok

3.3.3.1 Afiksasi Bahasa Dayak Ngaju hanya memiliki satu macam afiks yang dipakai untuk menurunkan verba, yakni prefiks atau awalan. Tidak seperti dalam bahasa Indonesia, menurut Alwi, (2000:102) proses penurunan verba ditandai dengan prefiks, sufiks, konfiks, dan infiks (meskipun yang disebut terakhir ini sudah tidak terlalu produktif lagi). Dalam kaitan dengan BDN, ada 21 prefiks dan satu konfiks yang digunakan untuk menurunkan verba, yaitu morfem maN­ yang bermorfofonemis menjadi prefiks ma-, man-, mam- mang-, dan many; morfem iN- yang bermorfofonemis menjadi prefiks i-, in-, im-, ing-, dan iny-; morfem N- yang bermorfofonemis menjadi prefiks n-, ng-, dan ny-. Selain itu, masih ada prefiks lain yang membentuk verba dengan mengimbuhi langsung ka­ ta dasar, seperti prefiks ba-, ha-, m-, mampa-, impa-, ta-, tapa-, dan tara-. Selanjutnya, konfiks penurun verba adalah haka (ha + ka). Proses penurunan verba BDN, yaitu langsung membubuhi prefiks-prefiks ke kata dasar tanpa adanya urutan atau prioritas afiks mana yang lebih dahulu karena verba BDN tidak memiliki sufiks atau bahkan konfiks untuk membentuk verbanya.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

59

1. Prefiks maN oses Pembentukan

maN- + puas 'oles' maN- + tahan 'tahan' maN- + suhu 'suruh' maN- + kalindung 'Undung' ma- + lawan 'Iawan' ma- + Uhf 'tinggal' ma- + liwus '!epas' ma- + luntuh 'rebus' ma- + ander 'cerita' ma- + isek 'tanya' ma- + ise 'hitung' ma- + ukei 'buka' ma- + entai 'tunggu'

Verba Turunan

Makna

'mengolesi' mamuas 'menahan' manahan 'menyuruh' manyuhu mangalindung 'melindungi' 'menentang' -7 malawan -7 malihf 'meninggalkan' 'melepaskan' -7 maliwus -7 maluntuh 'merebus' 'menceritakan' -7 maander -7 maisek 'menanyakan' 'menghitung' -7 maise 'membuka' -7 maukei 'menunggu' -7 maentai -7 -7 -7 -7

2. Prefiks mampa­ mampa- + dumah 'datang' mampa- + hali 'sulit' mampa- + hapus 'akhir' mam a- + lembut 'muncul'

-7 mampadumah -7 mampahali -7 mampahapus -7 mam alembut

'mendatangkan' 'mempersulit' 'mengakhiri' 'memunculkan'

3. Prefiks ba­ Proses Pembentukan

ba- + sahukan 'sembunyi' ba + reken 'hitung ba- + ukei 'singkap' ba- + uap 'buka' ba + kepak 'lepas'

60

Verba Turunan -7 basahukan -7 bareken

-7 baukei -7 bauap -7 bakepak

Makna 'bersembunyi' 'berhitung' 'tersingkap' 'terbuka' 'terlepas'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

4. Prefiks ha­ ntukan

ha- + sapa ha- + guang ha- + ubah ha- + am

Verba Turunan

-7 -7 -7 -7

hasapa haguang haubah ham un

Makna

'saling menyumpahi' 'saling mendatangi' 'berubah'

5. Prefiks iNVerba Turunan

iN- + tawur'tabur' iN- + kahana 'Iarang' iN- + pandui 'mandi' iN- + sampat 'sampai' iN- + iIi 'beIi'

-7 -7 -7 -7 -7

inawur ingahana impandui inyampai fmili

'ditabur' 'dilarang' ' dimandikan' 'disampaikan' 'dibeli'

6. Prefiks iVerba Turunan

f- + laku 'minta' i- + intih 'pilih' i- + lalus 'selenggara' i- + enyau 'cuci'

-7 -7 -7 -7 -7

ilaku iintih ilalus ienyau iha an

Makna

'diminta' 'dipilih' 'diselenggarakan' 'dicuci' 'disim an'

7. Prefiks impaVerba Turunan

impa- + hai 'besar' impa- + keleh 'sembuh' impa- + rasih 'bersih' impa- + tarang 'terang' h 'cair'

-7 -7 -7 -7 -7

impahai impakeleh imparasih impatarang

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

'diperbesar' ' disembuhkan' ' dibersihkan' ,diterangkan' 'dicairkan' 61

8. Prefiks ta~ Verba Turunan

Pembentukan ta- + jarat 'ikat' . ta- + jakah 'lempar' ta- + kanan 'buang' ta- + tindar 'pindah' ta- + tamput 'bawa' !

-7 -7 -7 -7 -7

tajarat tajakah takanan tatindar tatamput

Makna 'terikat' 'terlempar' 'terbuang' 'terpindahkan' 'terbawa'

9. Prefiks tapa-S s Pembentukan tapa- + tiruh 'tidur' tapa- + guang 'kej'!r' tapa- + kirut 'gi'git' tapa- + jijit 'tarik' tapa- + lihi 'tinggal'

Verba Turunan -7 -7 -7 -7 -7

tapatiruh tapaguang tap akiru t tapajijit tapalihi

Mak 'tertidur' 'terkejar' 'tergigit' 'tertarik' 'tertinggal'

10. Prefiks tara~6 Proses Pembentukan tara- + sarenan 'tahan' tara- + sundau 'temu' tara- + surat 'tulis' tara- + gitan 'Uhat' tara- + hining 'dengar'

Verba Turunan -7 -7 -7 -7 -7

tarasarenan tarasundau tarasurat taragitan tarahining

Makna 'tertahankan' 'tertemukan' 'tertuliskan' 'terlihat' 'terdengar'

5} Dalam bahasa Oayak Ngaju verba turunan yang dibentuk dengan prefiks tapa- bia­ sanya didahului negasi dia 'tidak'. Contoh: dia tapakirut 'tidak tergigit', dia tapajijit 'tidak tertarik'. 6) Verba turunan yang dibentuk dengan prefiks tara biasanya didahuli oleh negasi jatun atau dia yang bermakna 'tidak atau tak'. Contoh: dia tarasenan 'tak tertahankan', jatun tarasundau 'tak ditemukan', jatun taragitan 'tak terlihat'.

62

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

11. Konfiks haka-

Proses Pembentukan ha + (lm- + duan 'arnabil1 ~ kaduan ha + (ka- + sala 'salah') ~ kasala ha + (ka- + singi'marah1 ~ kasingi ha + (ka- + lawan 'lawan) ~ kalawan ha + (ka- + buah 'baik'l ~ kabuah

Verba

Makna

Turunan ~ ~ ~ ~ ~

hakaduan hakasala hakasingi hakalawan hakabuah

'saling arnbil' 'saling menyalahkan' 'salingmemarahi' 'saling berlawanan' 'saling berbaikan'

3.3.3.2 Reduplikasi Pembentukan verba dalam BDN dapat melaui reduplikasi (pengulangan) sebagian dan penambahan fonem. 1. Pengulangan sebagian ma + mukul 'pukul' ma + nara 'pamer' ma + nawur 'tabur' ma + nanjung 'jalan'

~

~ ~ ~

mamukul-mukul'memukul-mukul'

manara-nara'memamer-marnerkan'

manawur-nawur'menabur-nabur'

mananjung-nanjung 'berjalan-jalan'

2. Pengulangan dengan penambahan fonem haya 'sarna' + k jua 'rengek' + n rangkr11ambat + h gue 'gerak' + t

~ ~

haya-hayak'bersama-sarna'

jua-juan 'merengek-rengek'

rangka-rangkah 1ambat-Iambat

~

gue-guet'bergerak-gerak'

~

Makna umum perulangan di atas adalah bahwa perbuatan yang dinyatakan oleh verba dilakukan lebih dari satu kali dan tanpa suatu tujuan yang khusus.

3.3.3.3 Pemajemukan Bahasa Dayak Ngaju juga memiliki verba majemuk, mi­ salnya kata han tis 'tetes' dan kata ebes 'keringat' dapat digaBab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

63

bungkan menjadi hantis ebes. Makna perpaduan itu masih bi­ sa ditelusuri dari makna kata hantis dan kata ebes, yakni 'me­ netesnya keringat dari tubuh seseorang'. Perpaduan seperti ini dinamakan pemajemukan dan verba yang dihasilkannya adalah verba majemuk7. Berdasarkan bentuknya, verba majemuk da­ lam BDN dapat dikategorikan menjadi (1) verba majemuk da­ sar, (2) verba majemuk berafiks, dan (3) verba majemuk ber­ ulang. Ketiga bentuk ini dideskripsikan secara terpisah pada perian berikut.

1. Verba majemuk dasar Verba majemuk dasar adalah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang serta dapat berdiri sendiri dalam frasa, klausa, atau kalimat. Berikut adalah contoh kaIimatyang mengandung verba majemuk dasar. (13) Tundan tekap lapas dengan gawie. 'Tundan menangkap dan melepas pekerjaannya: (14) Indue sala hining kabarje nenga anake teo

'Ibunya salah dengar kabar yang diberikan anaknya: Kata yang bercetak tebal pada contoh kalimat di atas ada­ lah contoh verba majemuk dasar. Berikut ada beberapa contoh verba majemuk dasar dalam BDN. (a) tekap lapas

jijit ulur tame balua muhun mandai murikmasuh

,tangkap lepas' 'tarik ulur' 'keluar masuk' 'turun naik' 'pulang pergi ke hulu dan hilir sungai'

7) Perlu diperhatikan bahwa harus ada batasan yang jelas antara "verba majemuk" de­ ngan "idiom". Untuk istilah yang kedua ini juga merupakan perpaduan dua kata atau lebih, tetapi makna dari perpaduan ini tidak dapat secara langsung ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung. Kata naik, misalnya, dapat dipadukan dengan kata darah sehingga menjadi naik darah. Akan tetapi, perpaduan ini telah menumbuhkan makna tersendiri yang terlepas dari makna naik maupun darah. Makna naik darah tidak ada kaitannya dengan darah yang naik IAlwi, dkk., 2000:151).

64

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(b) sala hining

lepah pikir (c) dinun tuah buli lewu

'salah dengar' 'habis pikir' 'mendapat rejeki besar' 'pulang kampung'

Sebagaimana dapat dilihat pada contoh di atas, ada tiga pola verba majemuk dasar yang paling umum dalam BDN, ya­ itu (a) kedua komponen berupa verba dasar, seperti tekap la­ pas, jijit ulur, tame balua, muhun mandai, dan murik masoh; (b) komponen pertama berupa ajektiva dan komponen kedua berupa verba, seperti sala hining dan lepah pikir; dan (c) kom­ ponen pertama berupa verba dasar dan komponen kedua be­ rupa nomina dasar, seperti dinun tuah dan bull lewu.

2. Verba majemuk berafiks Verba majemuk berafiks ialah verba majemuk yang me­ ngandung afiks tertentu, seperti yang terdapat dalam kalimat berikut ini.

(15) Tambun wayah tuh belum mambuyu limbah matei sa­ wae. 'Tambun sekarang hidup menduda setelah meninggal istrinya: (16) Jalanan anake baya supa pampatei hung lewun uluh. 'Kepergian anaknya di kampung orang hanya mene­ mui kematiannya: (17) Parangan sawae te puna mangapehe atei. 'Kelakuan istrinya itu sangat menyakitkan hati: Kata yang bercetak tebal pada contoh kalimat di atas ada­ lah contoh verba majemuk berafiks. Jika dasar afiksasi pada contoh di atas diperhatikan, dapat diketahui bahwa ada dua macam verba majemuk berafiks, yaitu (a) verba majemuk ber­ afiks di pangkal, dan (b) verba majemuk berafiks di akhir.. Ber­ ikut beberapa contoh verba majemuk berafiks' Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

65

(1) Verba majemuk berafiks di pangkal

mangapehe atei mampuli puko manyahelu kahandak balakudoa

'menyakitkan hati' 'mengembalikan modal' 'mendahului kehendak' 'meminta doa'

(2) Verba majemuk berafiks di akhir belurn mambuyu 'hidup menduda' 'hidup menjanda' belurn mambalu supa pampatei 'mendapat kematian' 'hHang rasa' nihau pangkeme

3. Verba majemuk berulang Verba majemuk dalam BDN dapat direduplikasi jika ke­ majemukannya bertingkat dan jika inti kemajemukannya ada­ lah bentuk verba yang dapat direduplikasikan pula. Contoh:

lepah pildr 'habis akal' -7 lepah-Iepah pildr 'habis-habis akal' tame balua 'keluar masuk' -7 tame-tame balua 'keluar-keluar masuk' sala hining 'salah dengar' -7 sala-sala hining 'salah-salah dengar' Pada contoh di atas tampaklah bahwa dalam BDN bentuk pengulangan verba majemuk hanya terjadi pada komponen verba atau kata pertamanya.

3.4 ADVERBIA Adverbia merupakan kata yang memberikan keterangan pada verba, ajektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Adverbia perlu dibedakan berdasarkan tatarannya (frasa dan klausa). Pada tataran frasa, adverbia adalah kata yang menjelaskan ver­ ba, ajektiva, atau adverbia lain. Pada tataran klausa, adverbia mewatasi dan menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Jika ditinjau 66

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

dari segi bentuk dan ciri, adverbia BON dapat diuraikan seperti berikut.

3.4.1 Batasan dan Ciri Adverbia Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ciri adverbia perlu dibedakan berdasarkan pada tataran frasa dan klausa. Ciri adverbia BON dapat dibedakan berdasarkan perilaku sintaksis dan semantiknya.

3.4.1.1 Perilaku Sintaksis Adverbia Perilaku sintaksis adverbia BON dapat dilihat berdasar­ kan letak atau posisinya terhadap kata atau kalimat yang di­ jelaskannya. (1) Prilaku Sintaksis Adverbia pada Tataran Frasa

Pada tataran frasa, adverbia BON adalah kata yang men­ jelaskan verba, ajektiva, atau adverbia lain. Berdasarkan letak­ nya, adverbia dapat diletakkan di depan atau di belakang kata yang diterangkan. 1. Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan

Oalam BON terdapat beberapa adverbia yang men­ dahului kata yang diterangkannya. Perhatikan contoh di bawah ini. (18) Ie labih segah tuntang labih bakena bara ka­ kae. 'Ia lebih tegap dan lebih tampan daripada ka­ kaknya:

(19) Puna bahalap lewu human uluh kanih. 'Memang bagus kampung halaman orang (di sana): Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

67

Pada contoh (18) di atas, kata labih 'lebih' mene­ rangkan kata segah 'tegap' dan bakena 'tampan', Kata labih 'lebih' berada di depan kedua kata segah 'tegap' dan bakena 'tampan', Hal yang sarna berlaku pula pada kata puna 'memang' yang berfungsi menerangkan kata bahalap 'bagus', 2, Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan ju­ ga terdapat dalam BDN. Beberapa kata yang tergolong adverbia terlihat pada contoh berikut.

(20) Bakena tutu bawi lewu je bajenta teo 'Cantik nian gadis desa yang ramah itu: (21) Ikei benye-benyem bewei maentai pandumahe, 'Kami tenang-tenang saja menunggu kehadir­ annya: Pada contoh (20) adverbia tutu 'nian' mengikuti kata yang diterangkannya, yaitu bekena 'cantik', Pada contoh (21), adverbia benye-benyem 'tenang-tenang' berkombinasi dengan bewei 'saja' mengikuti kata ikei 'kami' (sebagai kata yang diterangkan). 3. Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang di­ terangkan Dari segi struktur, kata yang diterangkan atau dije­ laskan oleh adverbia dapat berada di depan atau di be­ lakang. Beberapa adverbia dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

(22) Ewen halajur bull bara sa kula mahalau baun humangku, 'Mereka selalu pulang dari sekolah melalui depan rumahku: (23) Ie tiruh halajur limbah kuman, 'Dia selalu tidur setelah makan.' 68

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(24) Salenga dumah andie maaBah kabar bara lewu. 'Tiba-tiba datang adiknya mengantar kabar dari kampung: (25) Mamae nihau salenga andau male. 'Pamannya meninggal mendadak kemarin: Pada contoh di atas tampak bahwa adverbia dapat mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan. Pada contoh (22), kata halajur 'selalu' mendahului kata buli 'pulang', sedangkan kata halajur 'selalu' pada contoh (23) mengikuti kata tiruh 'tidur' yang diterangkannya. Hal yang sarna juga terdapat pada adverbia salenBa 'ti­ ba-tiba' mendahului kata dumah 'datang' pada contoh (24) dan mengikuti kata nihau 'meninggal' pada contoh (25). 4. Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang di­ terangkan

Dalam BD N juga ditemukan beberapa adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkannya dalam tataran frasa. Beberapa adverbia terlihat pada contoh di bawah ini.

(26) Dia ie beweije umba manduan ramu teo 'Bukan dia saja yang ikut mangambil barang itu: (27) Baya ije kea je manampa kasala taluh Bawi teo 'Hanya satu saja yang membuat kesalahan pe­ kerjaan itu: (28) Haranan kaharatie kea ie dinun Bawl. 'Karena kepintarannya juga dia dapat peker­ jaan:

Pada contoh di atas, adverbia dapat mendahului dan mengikuti kata yang diterangkannya. Contoh (26) Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

69

menunjukkan bahwa adverbia dia 'bukan/tidak' men­ dahului kata ie 'ia/dia' dan adverbia bawei 'saja' meng­ ikuti kata ie 'ia/dia'. Contoh (27) menujukkan bahwa adverbia baya 'hanya/cuma' mendahului kata ije 'satu' dan adverbia kea 'juga'. Pada contoh (28), adverbia haranan 'karena' mendahului kata yang diterangkannya, yaitu 'kaharatie 'kepintarannya') dan adverbia kea 'juga' mengikutinya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, beberapa ke­ las kata yang dapat diterangkan oleh adverbia dapat be­ rupa verba, ajektiva, nomina, dan numeralia. Contoh:

(29) Ie sinta tutu dengan anak-sawae. 'Ia dnta benar dengan anak-isterinya: (30) Ewen bagawi karas mangat are dinun duit

'Mereka bekerja keras supaya banyak dapat uang; (31) Mama huang palus buH akan lewu amun tege

libur. 'Paman ingin langsung pulang ke kampung jika ada libur:

(32) Alpin halajur basingi dengan andie, amun an­

di liwat buli. ~lpn selalu marah kepada adiknya, jika adik­ nya terlambat pulang: (33)

Baya aku je dumah helu bara ewen. 'Hanya saya yang datang lebih dulu dari me­ reka:

Pada contoh di atas, bentuk adverbia tutu 'benar' menjelaskan ajektiva slnta 'einta' contoh (29), adverbia karas 'keras' menjelaskan verba bagawi 'bekerja' contoh (30), adverbia huang 'ingin' menjelaskan adverbia paJus 'masuk' contoh (31) yang secara bersama pula men­ 70

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

jelaskan verba buH 'pulang', serta pada contoh (32) adverbia halajur 'selalu' menjelaskan ajektiva basingi 'marah'. Contoh (33) menunjukkan bahwa adverbia ba­ ya 'hanya' menerangkan nomina aku 'saya'. (2) Prilaku Sintaksis Adverbia pada Tataran Klausa

Pada tataran klausa, di dalam BDN, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Pada umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Perhatikan beberapa contoh di bawah ini. (34) Ie bagawi karas mangat baduit

'Ia bekerja keras supaya berduit:

(35) Udil salenga hadari bara huma. 'Udil mendadak lari dari rumah:

Pada contoh di atas adverbia karas 'keras' mendampingi kata bagawi 'bekerja' berfungsi sebagai predikat. Demikian pula halnya dengan kata salenga 'mendadak' yang mendampingi ha­ dari 'lari' berfungsi sebagai predikat. Walaupun secara umum kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia berfung­ si sebagai pewatas predikat, bukanlah satu-satunya ciri yang dimilikinya. Adverbia juga dapat menerangkan kata atau bagian kalimat lain. Perhatikan pemakaian adverbia dalam kalimat berikut.

(36) Ewen kea haguetakan tana. 'Mereka juga pergi ke sawah: (37) Ie kuman handak telu piring haranan balau tutu. 'Ia makan hampir tiga piring karena lapar sekali: (38) Mina bahanyi basingi amun intu bentuk uluh are. 'Bibi berani marah jika di depan orang banyak: (39) Aku handak hasundau dengan tamb; bewei. 'Saya mau bertemu dengan nenek saja'

Bab III Morfologi Bahasa D,ayak Ngaju

71

Pada contoh di atas terlihat bahwa ciri adverbia tidak hanya mewatasi predikat. Contoh (36) menunjukkan bahwa kata kea 'juga' mewatasi nomina ewen 'mereka' yang berfungsi sebagai subjek Adverbia handak 'hampir' pada contoh (37) menjelaskan telu piring 'tiga piring' berfungsi sebagai objek; kata intu bentuk uluh are 'di depan orang banyak' pada contoh (38) berfungsi sebagai keterangan yang diwatasi oleh adverbia amun; kata dengan tambi berfungsi sebagai pelengkap yang dijelaskan oleh adverbia bewei 'saja'. Di sisi lain tampaknya adverbia juga dapat menerangkan seluruh kalimat Karena peran inilah, adverbia sering disebut juga dengan keterangan kalimat Perhatikan beberapa contoh di bawah ini.

(40) Ikau mustie dia liwat dumah huang panggawije ba­ rega tuh. 'Kamu harusnya tidak datang terlambat pada pe­ kerjaan yang berharga ini: (41) Ie ampie dia marima panarang gurue. 'Ia tampaknya tidak memperhatikan penjelasan gurunya: Pada contoh (40) terlihat bahwa kata must; 'harusnya' menerangkan secara keseluruhan kalimat Ikau dia liwat dumah huang panggawi je barega tuh. 'Kamu tidak datang terlambat pada pekerjaan yang berharga ini: Demikian juga halnya adverbia pada contoh (41), kata ampie 'tampaknya' menerangkan Ie dia marima panarang guru. 'Ia tidak memperhatikan penjelasan gurunya:

3.4.1.2 Perilaku Semantik Adverbia Perilaku semantik adverbia berhubungan dengan makna yang melekat pada frasa atau kalusa secara keseluruhan. Ber­ dasarkan hasil analisis klausa, terdapat beberapa jenis adverbia dalam BDN berdasarkan perilaku semantiknya. 72

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(1) Adverbia Kualitatif Adverbia kualitatif merupakan adverbia yang menggam-· barkan makna yang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Berikut ini beberapa contoh adverbia kualitatif. (42) Aku paling dia rajin dengan uluhje pananjaru. 'Saya paling tidak suka dengan orang yang pem­ bohong: (43) lalan mangguang kanih labih pahe bara auh uluhje helu. 'Jalan menuju ke sana lebih sakit dari kata orang yangdulu: (44) Tapih te irurang bahalap.

'Sarung itu kurang bagus:

Berdasarkan contoh 42-44 di atas, kata-kata paling 'pa­ ling', labih 'lebih', dan kurang 'kurang' termasuk adverbia pe­ nanda kualitatif. Adverbia paling 'paling' menjelaskan diarajin 'tidak suka', labih 'lebih' menjelaskan pehe 'sakit', dan kurang 'kurang' menjelaskan kualitas bahaJap 'bagus'. (2) Adverbia Kuantitatif Adverbia kuantitatif menggambarkan makna yang berhu­ bungan dengan jumlah. Beberapa adverbia jenis ini dalam BDN terlihat pada beberapa kalimat di bawah ini.

(45) Ewen are mampalua ongkos. 'Mereka banyak mengeluarkan biaya' (46) Baue pucat isut 'Wajahnya sedikit pucat:

(47) Amun ewen sakirae manarima, ikef tau dumah ma­ nyengok 'Jika mereka kira-kira menerima, kami akan Klau­ sang mengunjungi:

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

73

(48) Baju pakaiae sukup sasual dengan bltie je baseput.' 'Pakaiannya cukup serasi dengan tubuhnya yang gemuk'

Berdasarkan contoh di atas terlihat bahwa adverbia da­ lam BDN yang termasuk penanda kuantitatif adalah are 'ba­ nyak', isut 'sedikit', sakira 'kira-kira: dan sukup 'cukup'. (3) Adverbia Limitatif Adverbia limitatif berhubungan dengan makna pemba­ tasan. Adverbia jenis ini dapat dilihat berdasarkan contoh di bawahini. (49) Tatamba te baya manende kapehe hanjulu.

'Obat itu hanya menghentikan sakit sebentar:' (50) Ewen mananture bewei katahin Bawl teo

'Mereka melihat saja selama pekerjaan itu: (51) Ie baya malsek eka ikei melai. 'Ia sekadar menanyakan alamat kami:

Pada contoh 49-51, adverbia penanda limitatif adalah ba­ ya 'hanya/sekadar, katahln 'selama'. (4) Adverbia Frekuentif Adverbia frekuentif dalam BDN menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan oleh eadverbia. Adverbia jenis ini di antaranya adalah santar 'selalu', rancak 'sering: halajur 'selalu: kinjap 'sering,jahal 'jarang: dan kanatek 'ada kalanya/kadang­ kadang. Pemakaian beberapa adverbia dapat dilihat dalam kalimat 52-57 di bawah ini. (52) Ike; halajur hayak kuman. 'Kami selalu makan bersama: 74

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(53) Ie rancak bangang hila lapangan teo 'Ia sering bermain di sekitar lapangan itu.' (54) Lewun ikeijahai lelep awi petakgantung. 'Kampung kami jarang banjir karena tanah tinggi.' (55) Kanatek lembut kanahuange akan buli Jewu. 'Kadang-kadang muncul keinginannya untuk pu­ lang kampung.' (56) Peres tuh santar manggapi ie. 'Penyakit ini selalu menghinggapi dia: (57) Kinjap ie dumah maja amun tege kataharue. 'Sering dia datang berkunjung jika ada kerindu­ annya: (5) Adverbia Kewaktuan Adverbia kewaktuan menggambarkan makna yang ber­ hubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia. Adverbia jenis ini adalah haru 'baru', tahi 'lama', palus 'langsung', ancap 'cepat/segera'danjeJeng 'cepat/segera'. Pemakaian adverbia itu dapat dilihat dalam kalimat berikut ini.

(58) Ewen ham ih sampai bam PaJangka Raya. 'Mereka barn saja tiba dari Palangka Raya: (59) Tah; Ie maentai pandumah indue bam tana. 'Lama dia menanti kedatangan ibunya dari sawah: (60) Ikei kareh bam tana kare palus mamisi. 'Kami nanti dari sawah langsung memancing: (61) Ancap Ie bUli, awi andau handak ujan. 'Segera dia pulang karena hari mau hujan: (62) Jeleng buH am un jadi Jepah gawi ketun. 'Cepat pulang jika sudah selesai pekerjaan kalian:

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

75

(6) Adverbia Kecaraan Adverbia kecaraan berhubungan dengan makna proses atau bagaimana peristiwa yang diterangkan adverbia itu berlangsung atau terjadi. Adverbia kecaraan dalam BDN adalah benye-benyem/suni-suni 'diam-diam, rangka-rangkah 'pelan­ pelarr, haancape 'secepatnya'. Pemakaian adverbia dapat dilihat pada kalimat di bawah ini. (63) Ie manuntut ewen benye-benyem bara likut. 'Ia membuntuti mereka diam-diam dari belakang:

(64) Suni-suni ewen maetun ramu bara huma te bele ka­ tawan uluh. 'Diam-diam mereka mengangkut barang dari ru­ mah itu supaya tidak ketahuan orang: (65) Haancape ketun mampalepah gawl te.' 'Secepatnya kalian menyelesaikan pekerjaan itu:

(7) Adverbia Kontrastif Adverbia kontrastif adalah adverbia yang menggambar­ kan pertentangan makna kata atau hal yang dinyatakan sebe­ lumnya. Di dalam BDN ditemukan dua bentuk adverbia kon­ trastif, yakni manih 'apalagijlebih: mani-manih 'lebih-lebiW, alahan 'melebihi'. Pemakaiannya dalam kalimat terdapat pada 66-68 berikut. (66) Aku bewei dia inenga manih ketun. 'Aku saja tidak diberi apalagi kaHan. (67) Ikau jatun baduit mani-manih aku. 'Kamu tidak beruang leblh-Ieblh aku: (68) Kaharate alahan bara Kakae. 'Kepintarannya melebihi Kakaknya:

(8) Adverbia Keniscayaan Adverbia keniscayaan berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan atau terjadinya hal atau peristiwa 76

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

yang dijelaskan adverbia. Beberapa adverbia itu, antara lain, tanggar 'pasti', batantu 'jelas', dan tantu 'pasti'. Contoh pema­ kaian adverbia adalah seperti berikut.

(69) Dia tantu iye dumah andau tuh. 'Tidak pasti dia datang hari ini: (70) Bulan harlan ewen mananggar janji. 'Bulan depan mereka memastikan/menggenapi janji: (71) Batantu ih amun punajete ramungku. 'Jelas saja jika memang itu barangku:

3.4.1.3 Adverbia Konjungtif Dalam BDN, di samping adverbia berdasarkan perilaku sintaksis dan semantik terdapat pula adverbia konjungtif yang dapat dijadikan ciri kelas kata adverbia karena kemampuannya menjelaskan dan menghubungkan antarklausa atau antarkali­ mat. Beberapa adverbia konjungtif itu adalah sebagai berikut. (a) aluh kilau te (b) limbah te (c) indahang tinai

(d) kabalikae (e) sakatutue (f) mani-manih (g) baya (h) suali (i) bara hete

'walaupun demikian' 'kemudian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya' 'tambahan pula, lagi pu­ la, selain itu' 'sebaliknya' 'sesungguhnya' 'malahan, bahkan' 'akan tetapi, namun' 'kecuali' 'dengan demikian/dari itu' 'oleh karena itu' 'oleh sebab itu'

OJ awite (k) awi buku te sahelu bara tel 'sebelum itu' 0) helubara te Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

77

Adverbia konjungtif (a) menyatakan pertentangan de­ ngan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya; adverbia kon­ jungtif (b) menyatakan kelanjutan peristiwa atau keadaan yang dinyatakan sebelumnya; adverbia konjungtif (c) menyatakan hal, persitiwa, atau keadaan di samping hal, peristiwa, atau keadaan yang telah disebutkan sebelumnya; adverbia kon­ jungtif (d) mengacu pada kebalikan dari pernyataan sebelum­ nya; adverbia konjungtif (e) menyatakan bahwa pernyataan sebelumnya adalah benar; adverbia konjungtif (f) menyatakan penguatan terhadap peristiwa, hal, atau keadaan yang diung­ kapkan sebelumnya; adverbia konjungtif (g) menyatakan per­ tentangan dengan peristiwa, hal, atau keadaan yang dinyatakan sebelumnya; adverbia konjungtif (h) menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan; adverbia konjungtif (i) menyatakan konse­ kuensi; adverbia konjungtif OJ menyatakan akibat, dan adverbia (k) menyatakan kejadian yang mendahului peristiwa, hal, atau keadaan yang dinyatakan sebelumnya. Contoh pemakaian ad­ verbia konjungtif adalah sebagai berikut.

(72) Bara huran anake je tambakas dia maku sakula. Aluh Idlau te, Ie dia maku kea anake te kejau bara ie. 'Sejak dulu anaknya yang sulung tidak mau sekolah. Walaupun demikian., ia tidak mau anaknya itu jauh darinya: (73) Ewen manyapau human mamae. Limbah te, haron ewen mamasang laseh. 'Mereka mangatapi rumah pamannya. Setelah iru. baru mereka memasang lantai: (74) Jadi banyelu-nyelu kabun bue dia inyenguk lnda­ hang tina;, jatun uluh je maku akan kanih haranan kakejaue. 'Sudah bertahun-tahun kebun kakektidak dijenguk Lagi pula, tiada orang yang mau ke sana karena jauhnya: 78

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(75) Kejau bara ie mandohop uluh bakase. Kabalikae, ie je mamparuhut. 'Jauh dari dia menolong orang tuanya. Sebaliknya, ia yang menggerogoti: (76) Amun indue dumah maja, musti maimbit manuk amun buli bara hetuh. Sakatutue, taluh te jadi ingakirae bara helu. 'Jika ibunya datang berkunjung, harus membawa ayam jika pulang dari sini. Sesungguhnya, hal itu sudah diperkirakannya sebelumnya:

(77) Dia je terai bara taluh gawie je dia bahalap. Man;­ man;h, are ram un uluhje nihau inakaue. 'Bukanya berhenti dari pekerjaannya yang tidak baik. Bahkan, banyak barang orang yang hilang di­ curinya: (78) latun uluh je mangahana kanahuangm. Baya, ewen mamparendeng ikau. 'Tiada orang yang melarang kemauanmu. Namun, mereka mengingatkan engkau:

(79) Sasangi-sangite uluh bakas dengan itah, jatun sam­ pal mampatei. Sual; amun uluh bakas te puna bojon atawagila. 'Semarah-marahnya orang tua kepada kita, tidak sampai membunuh. Keenali jika orang tua itu me­ mang tidak waras atau gila: (80) Uras paramun uluh bakas musti ihaga bua-buah.

Bara hete, gitan kasintan itah marega pandinun ewen. 'Segala barang orang tua harus dijaga baik-baik Dengan demikian" terlihat kedntaan kita meng­ hargai pendapatan orang tua:

(81) Sasar kejau tamuei, sasar are tampayah. Awi te, ma­ ngat itah dia sasat musti thaga bua-buah bagare kutak pander itah.

Bab III Morfo!ogi Bahasa Dayak Ngaju

79

'Semakin jauh pengembaraan, semakin banyak penglihatan!pengalaman. Oleh karena itu, agar kita tidak sesat harus menjaga segala tutut kata kita: (82) Andau jewu itah manampara gawi hai. Sahelu bara te, andau tuh itah hapumpung manahiu narai bewei je musti inggawi tuntang paramu je ihapan bele dia sala-salaen. 'Eesok hari kita memulai pekerjaan besar. Sebelum ito, hari ini kita berkumpul membicarakan apa saja yang mesti dikerjakan dan alat yang digunakan su­ paya tidak salah:

3.4.2 Jenis Adverbia Jenis advebia dalam BDN ada dua, yaitu adverbia tunggal dan adverbia gabungan. 3.4.2.1 Adverbia Tunggal Adverbia tunggal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu adverbia berupa kata dasar dan adverbia berafiks. (1) Adverbia 8erupa Kata Dasar Adverbia berupa kata dasar dalam BDN merupakan ben­ tuk dasar (belum mendapat afiks). Beberap contoh adverbia yang berupa kata dasar adalah sebagai berikut. ham

baya labih tutu halajur bewei karenga

80

'baru' 'hanya' 'terlebih' 'sangat' 'selalu' 'saja' 'hampir'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

keleh lalau salenga lajur

'sebaiknya' 'terlalu' 'tiba-tiba' 'selalu'

Pada contoh di atas, kata haru, baya, labih, tutu, halajur, bewei, karenga, keleh, lalau, saienga, dan lajur merupakan bentuk adverbia dasar. Walaupun demikian, terdapat beberapa kata yang memiliki kategori ganda. Artinya, di samping sebagai adverbia, kata tersebut juga menjadi kelas kata yang lain, seperti pada kata keleh. Di sam ping sebagai adverbia keleh 'sebaiknya' dapat juga berkategori verba keleh 'sembuh'. (2) Adverbia Berupa Kata Berafiks Di dalam BDN terdapat bentuk adverbia berupa kata ba­ rafiks dengan menambahkan perfiks, sufiks, dan konfiks. Ben­ tuk adverbia berafiks adalah sebagai berikut.

1. Penambahan Prefiks sa- pada Kata Dasar sa + hindai 'belum' 7 sahindai 'sebeluni sa +kim 'Idraan' 7 sakira 'seIdraan' 2. Penambahan Prefiks saka- pada Kata Dasar saka + handak 'mau' 7 sakahandak 'sekehendakjsemaunya' saka + /epah 'habis' 7 sakalepah 'habis-habisanjsemampu' 3. Penambahan Prefiks tapa- pada Kata Dasar tapa +lalau 'terlalu' 7 tapa/a/au 1reterJaluan' tapa + halau 1ewat' 7 tapaha/au 'terlewat' 4. Penambahan Prefiks haka- pada Kata Dasar haka + lampah 'berhamburan' 7 hakalampah 'berhamburan' haka + Jindung 7 'saling melindungi'

haka + buah 7 'saling memperbaiId'

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

81

5. Penambahan Prefiks ba- pada Kata Dasar ba + lepah 'habis' -7 balepah 'habis semua' ba + tantu 'jelas' -7 batantu'jelas kelihatanya' 6. Penambahan Sufiks -e pada Kata Dasar ampl 'rupa' + e -7 ample 'rupanyajsepertinyajagaknya' tampa 'bentuk' + e -7 tampae 'bentuknya' angat 'rasa' + e -7 angate 'rasanya' 7. Penambahan Konfiks saka--e pada Kata Dasar saka + lepah 'habis' + e -7 sakalepahe 'sehabis-habisnya' saka + tutu 'benar + e -7 sakatutue 'sebenarnya' saka + handak 'mau' + e -7 sakahandake 'semaunya' 8. Penambahan Konfiks sa--e pada Kata Dasar sa +puna 'sungguh' + e -7 sapunae 'sesungguhnya' sa + bujur 'benar' + e -7 sabujure 'sebenarya' sa + labih 'lebih'+ e -7 salablhe 'selebihnya' Afiks seperti sa-, saka-, tapa-, haka·, ba-, -e, saka--e, dan sa--e merupakan afiks pembentuk adverbia. Afiks­ afiks tersebut melekat pada bentuk dasar berkategori nomina, ajektiva, verba, maupun adverbia. Fonem awaI kata dasaryang dilekatinya tidak mengalami peluluhanj pelesapan.

(3) Adverbia Berupa Kata Ulang Adverbia berupa kata ulang daIam BDN terdiri dari be­ berapa jenis, seperti contoh berikut ini. 1. Adverbia berupa pengulangan kata dasar (83) Ie suni-suni tame huma bara likut 'Ia diam-diam masuk rumah dari belakang: (84) Sana-sana sampai baun tunggang, ie malait anake. 82

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

'Ketika sampai di depan pintu, ia memarahi anaknya:

Kata ulang suni-suni 'diam-diam' dan sana-sana 'ke­ tika' merupakan bentuk pengulangan kata dasar. Peng­ ulangan ini tidak mengubah bentuk dasar, yaitu sun; 'diam' dan sana 'ketika'. 2. Adverbia berupa pengulangan kata dasar dengan meng­ hilangkan fonem akhir pada kata dasar pertama (85) Benye-benyem ie hadari bara huma, mikeh

indue katawae. 'Dia~-dia~ialaridarirumah,takutketahuan

ibunya:

(86) Ikei mahalau baun uluh bakas te rangka-rang­ kah. 'Kami melewati de pan orang tua itu pelan­ pelan: (87) Aluh keja-kejau ikau manamuei, tege wayah ikau taharu kawan paharim. 'Walau jaub-jauh engkau mengembara, ada kalanya engkau rindu semua keluargamu: (88) Mate-mate; ie bagawi hapa maungkus anak jariae. 'Mati-~atian ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya:

Dalam pengulangan betuk dasar benyem 'diam' menjadi benye-benyem 'diam-diam: rangkah 'pelan' menjadi rangka-rangkah 'pelan-pelan', kejau 'jauh' menjadi keja-kejau 'jauh-jauh', mate; 'mati' menjadi ma­ te-matei 'mati-matian' terdapat penghilangan/pelesap­ an fonem akhir kata ulang pertama, yaitu: sa + puna 'sungguh' + e ~ sapunae 'sesungguhnya' benyem 'diam' 7 benye (penghilanganjpelesapan fonem jm/) Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

83

rangknh 'pelan' 7 rangkn (penghilangan fanem fhlJ kejau 'jauh' 7 keja (penghilangan fanem lulJ matei 'mati' 7 mate (penghilangan fonem lilJ 3. Adverbiaberupa pengulangan kata dengan penambahan afikssa--e Adverbia berupa pengulangan kata dengan penam­ bahan afiks sa--e dapat dilihat pada beberapa contoh di bawah ini.

(89) Ewen marukat batang jawau te saganca-gan­ cange.

'Mereka mencabut pohon singkong itu selmat­ Imatnya'

(90) Sasangi-sangite uluh bakas, tetep are kasinta dengan kawan anake. 'Semarah-marahnya orang tua, tetap banyak cinta kasih dengan anak-anaknya:

Berdasarkan contoh di atas, bentukganca-gancang 'sekuat-kuat' dan sangl-sanglt 'semarah-marah' jika dilekati afiks sa--e menjadi saganca-gancange 'sekuat­ katnya' dan sasangi-sanglte 'semarah-marahnya'. Afiks sa--e jika dipadankan ke dalam bahasa Indonesia sama dengan se--nya. 4. Adverbia berupa pengulangan tidak tentu Bentuk adverbia berupa pengulangan tidak tentu dapat dilihat pada contoh berikut.

(91) Birlb-barap anak te hadari haranan ingguang tamble. 'Lintang-pukang anak itu berlari karena dike­ jar neneknya: (92) Pitip-patap lauk je huang jukung te haranan jatun lnenga danum. 84

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

'Berloncatan ikan yang di dalam perahu itu karena tidak diberi air: (93) Lungkang-lihang;e metun kayu apui te akan humae. 'Jatuh-bangun ia mengangkut kayu itu ke ru­ mahnya: Bentuk adverbia berupa pengulangan tidak tentu dalam BDN pada contoh di atas adalah birip-barap 'lin­ tang-pukang', pitip-patap 'berloncatan', dan lungkang­ lihang 'jatuh-bangun'.

3.4.2.2 Adverbia Gabungan Adverbia gabungan dalam BDN terdiri atas dua adver­ bia bentuk dasar yang dapat berdampingan atau tidak ber­ dampingan, seperti beberapa contoh di bawah ini. 1. Adverbia yang berdampingan

Adverbia yang berdampingan berupa dua atau lebih adverbia yang berderetfberdampingan dalam sebuah kali­ mat. Contoh adverbia ini dapat dilihat di bawah ini.

(94) Dahang tinai pandumah ewen manyalenga. 'Lagi pula kedatangan mereka mendadak: (95) Ewen due karenga halajur haya-hayak amun buH akan lewu. 'Mereka berdua hampir selalu bersama-sama jika pulang ke kampung: Pada contoh di atas, bentuk dahang tinai 'lagi pula' merupakan dua bentuk adverbia yang berdampingan. Hal yang sarna juga terdapat pada kata kerenga halajur 'hampir selalu'.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

85

2. Adverbia yang tidak berdampingan Adverbia yang tidak berdampingan berupa adverbia yang terdapat dalam sebuah kalimat dengan posisi yang berjauhan/tidak berdampingan. Contoh adverbia ini adalah sebagai berikut.

(96) Ikau baya dumah manyenguk tambim bewei. 'Kamu hanya datang menjenguk nenekmu saja' (97) Petak danum wayah tuh paham barega tutu. 'Tanah air saat ini sangat berharga sekali' (98) Baya ketun beweije handak belum pehe. 'Hanya kalian saja yang hendak hidup susah:

3.S PRONOMINA Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain. Dengan kata lain, pro nomina lazim juga disebut sebagai kata ganti karena tugasnya memang meng­ gantikan nomina yang ada.

3.5.1 Batasan dan Ciri Pronomina Mangacu pada fungsinya, pronomina dalam BDN dapat menduduuki posisi yang umunya ditempati nomina (subjek dan objek). Di samping itu, pronomina memiliki ciri lain, ya­ itu acuannya tidak tetap (dapat berpindah-pindah) bergan­ tung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicara­ kan. Contoh:

(99) Aku haru dumah bara sakula. '5aya baru datang dari sekolah: (100) Ewen maja akan human mama.

'Mereka berkunjung ke rumah paman:

86

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(101) Umai rnalait ie. 'Ibu menegur dia: Oari pemakaian pronomina pada contoh (99)-(101) ter­ lihat bahwa pada umunya pronomina cenderung menduduki fungsi subjek dan di satu sisi juga dapat menduduki fungsi predikat. Pronomina pada contoh di atas adalah aku 'aku', ewen 'mereka', dan ie'dia'.

3.5.2 Jenis Pronomina Pronomina BON terdiri atas tiga bentuk, yaitu (1) pro­ nomina persona, (2) pronomina penunjuk, dan (3) pronomina penanya. Beberapa bentuk pronomina berturut-turut akan dipaparkan berikut ini.

3.5.2.1 Pronomina Persona Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai un­ tuk mengacu pada orang. Acuan pronomina dapat berupa diri sendiri (pro nomina persona pertama), orang yang diajak bicara/lawan bicara (pro nomina persona kedua), atau orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Beberapa jenis pronomina BON adalah sebagai berikut.

3.5.2.1.1 Pronomina Persona Pertama 1. Pronomina Persona Pertama Tunggal Oalam pronomina persona pertama BON terdapat kata yang sarna untuk mewakili saya, aku, dan daku, yaitu kata aku. Di samping itu, terdapat dua bentuk yang lain, yaitu -ku dan -ngku yang bermakna ku- dan -ku. Perbedaan itu disebabkan oleh fonem akhir yang dilekatinya. Pronomina aku menjadi -ku jika fonem akhir kata dasar yang dile­ katinya berupa konsonan dan diftong. Pro nomina aku

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

87

menjadi -ngku jika fonem akhir kata dasar yang dilekatinya berupa vokal. Perhatikan penggunaan pronomina itu pada beberapa kalimat berikut.

(102) Aku tulak mamisi dengan umai. 'Aku berangkat memancing bersama ibu.' (103) Kalambingku endau inyadai intu hete. 'Pakaianku tadi dijemur di situ.' (104) Andiku endau inenga duit awi tambi. Adikku tadi diberi uang oleh nenek: 2. Pronomina Persona Pertama Jarnak Pronomina persona pertama jamak hanya diwakili kata ikei 'kami' dan itah 'kita' seperti pada contoh berikut.

(105) Ike; manampa huma bara kayu Tabalien. 'Kami membuat rumah dari kayu Ulin: (106) Ewen mantehau ;tah. 'Mereka memanggil kita'

3.5.2.1.2 Pronomina Persona Kedua 1. Pro nomina Persona Kedua Tunggal Semua kata yang mewakili kata kamu, engkau, dikau, dan anda yang dalam BDN adalah ikau dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat. Di samping itu. terdapat kata pahari 'saudara' dan -m '-mu/-kau' seperti pada contoh di bawahini.

(107) Ikau manyurat auh minam teo 'Kamu menulis perkataan bibimu itu.' (108) Narai kabar tuh pahari1 ~pa kabar saudara l'

88

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(109) Jadi duam duitje imaitku male? 'Sudah kauambil uang yang kukirim kemarin?' 2. Proromina Persona Kedua Jarnak Pronomina persona kedua jamak dalam BON, antara lain, ketun 'kaHan' dan ketun uras 'kalian semua'. Contoh pemakaiannya dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.

(110) Ela ketun mangaraen ramun uluh bakas ikei. 'Jangan kalian mengganggu barang orang tua kami: (111) Dia baya ije biti, ketun uras musti hadari bara hete. 'Bukan hanya satu orang, kalian semua harus pergi dari situ: 3.5.2.1.3 Pronomina Persona Ketiga

1. Pronomina Persona Ketiga Tunggal Oalam BON pronomina persona ketiga tunggal berupa ie 'ia/dia/beliau' dan -e yang menyatakan -nya. Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah seperti berikut.

(112) Ie jadi kuman. 'Ia sudah makan: (113) Humae haru imangun awi banae. 'Rumahnya baru dibangun oleh suaminya' 2. Pronomina Persona Ketiga Jarnak Pronomina persona ketiga jamak dalam BON berupa kata ewen 'mereka'. Pemakaian pronomina itu dalam kalimat adalah sebagai berikut.

(114) Ewen mangambuah sapau humanje rusak 'Mereka memperbalki atap rumahnya yang rusak: Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

89

(115) Ewen maentai pandumah uluh bakase bam le­ wuhai. 'Mereka menunggu kedatangan orang tuanya dari kota.'

3.5.2.2 Pronomina Penunjuk Pronomina penunjuk dalam BDN terdiri atas tiga bentuk, yaitu pronomina penunjuk umum, penunjuk tempat, dan penunjuk ikhwal.

3.5.2.2.1 Pronomina Penunjuk Umum Pronomina penunjuk umum dalam BDN berupa kata ji­ tuh/jetuh/tuh 'ini',jite/jete/te 'itu: dan anu 'anu'. Pro nomina penunjuk umum yang berfungsi untuk me­ nunjuk posisi/letak/jarak yang dekat dengan si pembieara dalam BDN adalah jituh/jetuh 'ini', yang sering disingkat de­ ngan kata tuh 'ini' seperti pada eontoh berikut.

(116) Ie tulak andau tuh. 'Ia berangkat hari ini.' (117) Bukujituh ayun eweh? 'BUku ini milik siapa?' (118) Uluhjetuh manggau eka tambie. 'Orang ini meneari alamat neneknya: Pronomina penunjuk yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh berupa kata jite/jete 'itu', yang sering di­ singkat te 'itu' seperti pada eontoh berikut.

(119) Ie mahapan jukung te tulak akan tana. 'Ia menggunakan perahu itu pergi ke ladang.' (120) jukung jete ayun bue. 'Perahu itu milik kakek.' 90

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(121) Jete kea panatau bue je batisa. 'Itu juga harta kakek yang tersisa: Kata anu 'anu' digunakan sebagai penunjuk umum tak"

tentu. Hal ini mungkin disebabkan karena pembicara lupa atau tidak jelas mengetahui sebuah konsep seperti pada contoh berikut. (122) Eweh aran bue anuje maja andau male? 'Siapa nama kakek anu yang bertamu kemarin?' (123) Akan anuje imbitku tuh. 'Untuk anu yang kubawa ini:

3.5.2.2.2 Pronomina Penunjuk Tempat Pronomina penunjuk tempat dalam BDN berupa frasa se­ bagai berikut bara hetuh bara hete bara kanih akan kanih akan hetuh akan hete

'dari sini' 'dari situ' 'dari sana' 'ke sana' 'ke sini 'ke situ'

Berikut ini beberapa contoh pemakaian pronomina pe­ nunjuk tempat. (124) Ie harun buH bara hetuh. 'Ia baru pergi dari sini: (125) Bara hete Ie manampara taluhnawle. 'Dari situ ia memulai segala pekerjaannya:

(126) Ramu te ietun ewen bara kanih. 'Barang itu diangkut mereka dari sana: (127) Ela hUIJuetakan kanih. 'J angan berangkat ke sana: Bab III Morfologl Bahasa Dayak Ngaju

91

(128) Amun jatun gawim andau jewu ikau maja akan J

hetuh. 'Jika tiada pekerjaanmu besok, kamu berkunjung ke sini: (129) Bara hetuh sampai akan hete uras petak mama. 'Oari sini sampai ke situ semua tanah paman.'

3.5.2.2.3 Pronomina Penunjuk Ikhwal Pronomina penunjuk ikwal dalam BON terdiri dari kata kilau tuhjkutuh 'begini/seperti ini' dan kifau te/kute 'begituj seperti itu'. Berikut ini pemakaiannya dalam kalimat.

(130) Efa manampa gaw; Idlau te tinai. 'Jangan membuat pekerjaan seperti itu lagi: (131) Kefeh kilau tuhgawije bahalap. 'Lebih baik seperti ini pekerjaan yang bagus:

3.5.2.3 Pronomina Penanya Pronomina penanya adalah kata yang digunakan untuk menanyakan benda, orang, atau suatu keadaan. Secara umum pronomina penanya dalam BON terdiri atas kata berikut. eweh nara; en kueh pea pire

'siapa'

'apa'

tapa'

'mana'

'kapan'

'berapa'

Pronomina penanya dalam BON biasanya digunakan untuk menanyakan orang (eweh 'siapa'), menanyakan nama jenis, sifat (nara; 'apa'), menanyakan tempat (kueh 'mana'), menanyakan waktu (pea 'kaparr), dan menanyakan jumlah (pire 'berapa'). Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah sebagai berikut. 92

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(132) Ewehje manduan ramu tel 'Siapa yang mengambil barang itu?' (133) Naraigawim katahin tuh? ~pa pekerjaanmu selama iniT (134) En ketun handak buli? 'Apa kalian ingin pulang?'

(135) Intu kueh eka mama melai? 'Di mana tempat paman tinggal?' (136) Pea ketun dumah bam lewu? 'Kapan kalian datang dari kampung?' (137) Pire regan gita wayah tuh? 'Berapa harga getah sekarang ini?' Di samping pronomina penanya di atas terdapat beberapa pronomina penanya yang dimungkinkan berasal dari unsur dasar dan unsur tambahan yang memiliki hubungan semantis atau sekadar konvensi. Pronomina dimaksud adalah sebagai berikut. buhen kilen kandue, kande, kane parea, hamparea, hamprea

'mengapa' 'bagaimana' 'untukapa' 'kapan, bila'

Pronomina buhen 'mengapa' dicurigai sebagai bentuk pemendekkan dari buah + en 'mengapa'. Demikian pula halnya dengan kilen 'bagaimana' merupakan pemendekkan dari kilau + en 'seperti apa' dan kandue 'untuk apa' merupakan bentuk pemendekkan dari akan kandu + en 'untuk apa'. Pemakaiannya dalam kalimat adalah sebagai berikut. (138) Buhen ketun basingi? 'Mengapa kalian marah?'

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

93

(139) Kilen ampin tampae uluhje inahiu ketun? 'Seperti apa rupanya orang yang kalian bicarakan7' (140) Kandue ikau mangali petak tuh? 'Untuk apa kamu menggali tanah ini?'

3.6 NUMERALIA Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang digunakan untuk menghitung banyaknya maujud orang, binatang, atau barang dan konsep. Dengan kata lain, numeraIia merupakan kata (atau frasa) yang menunjukkan bilangan atau kuantitas.

3.6.1 Batasan dan Ciri Numeralia Ciri numeraIia dalam BDN adalah (1) dapat mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, dan (3) tidak dapat ber­ gabung dengan tidak atau san9at. NumeraIia dipakai untuk menghitung banyaknya orang. binatang, atau barang.

3.6.2 Jenis Numeralia Jenis numeralia dalam BDN terdiri atas (1) numeralia po­ kok, dan (2) numeralia dasar.

3.6.2.1 Numeralia Pokok Numeralia pokok merupakan biIangan dasar yang men­ jadi sumber dari bilangan lain. Pembagian kelompok numeralia pokok ini seperti penjabaran berikut ini.

3.6.2.1.1 Numeralia Pokok Tentu Numeralia pokok tentu mengacu pada bilangan pokok. Numeralia pokok tersebut terlihat pada contoh berikut 94

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

nol ije due telu lime jalatien

'nol'

'satu'

'dua'

'tiga'

'lima'

'sembilan'

Di samping numeralia pokok:, dalam BDN terdapat nu­ meraUa yang merupakan gugus. Untuk bilangan di antara sa­ puluh 'sepuluh' dan due puluh 'dua puluh' digunakan gugus yang berkomponen walas 'belas'.

Contoh: sawalas due walas telu walas jalatien walas

'sebelas' 'dua belas' 'tiga belas' 'sembilan belas'

Bentuk sa- digunakan untuk memulai suatu gugus yang bermakna satu. Contoh: sapuluh saratus sakuyan ijejuta

'sepuluh' 'seratus' 'seribu' 'sejuta'

3.6.2.1.2 Numeralia Pokok Kolektif Numeralia pokok kolektif digunakan di depan nomina dan dibentuk dengan prefiks ka- yang melekat pada numeralia. Contoh: ka + telu 7 ka + lime 7

katelu (anak tel 'ketiga (anak itu)' kalime (ewen tel 'kelima (mereka itu)'

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

95

Prefiks ka- + numeralia pokok juga sering diikuti peng­ golong nomina seperti bin 'orang', kunBan 'ekor'. Seperti pada contoh berikut.

(141) Kasapuluh bin ewenje mendenB intu hete. 'Kesepuluh orang mereka yang bediri di situ: (142) Katelu kungan lauk Lais teo

'Ketiga ekor ikan Lais itu:

Pemakaian prefiks ka- dalam numeralia pokok kolektif dilekatkan di depan penggolong nomina tertentu. Contoh: lime kabawak (hampa/am)

'lima buah (mangga)'

due kadereh (kayu)

'dua batang (pohon)'

Numeralia pokok kolektifjuga dapat dibentuk dengan ca­ ra berikut 1. Penambahan prefiks ha- setelah numeralia Contoh:

telu hapahari due hapahari epat hakawal

'tiga bersaudara'

'dua bersaudara'

,empat sekawan'

2. Penambahan prefiks ba- pada numeralia pokok setelah pro­ nomina ikei 'kami: ketun 'kalian~ ewen 'mereka' Contoh:

96

ikef balime

'kami berlima'

ketun batelu

'kalian bertiga'

ewen bajahawen

'mereka berenam'

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Selain penarnbahan prefiks ba-, nurneralia pokok (ikei ba­ lime 'karni berlirna', ketun batelu 'kalian bertiga', ewen bajaha­ wen 'rnereka berenarn') digunakan pula bentuk ike; lime 'karni berlirna', ketun telu 'kalian bertiga', ewen jahawen 'rnereka berenarn' yang tidak rnenggunakan prefiks ba-. Khusus pada kata ikei badue 'karni berdua', digunakan juga bentuk ikendue yang berrnakna sarna dengan ikei badue. 3. Penarnbahan konfiks ka-e pada bentuk ulang nurneralia pokok.

Contoh:

ka + telu + e

~

katelu-telue atau katatelue 'ketiga-tiganya'

ka + epat + e

~

kaepat-epate

'keempat-empatnya'

4. Penarnbahan prefiks ba- pada bentuk ulang nurneralia po­ kok.

Contoh:

ba + puluh

~

bapulu-puluh 'berpuluh-puluh'

ba + ratus ba + kuyan

~

baratu-ratus

~

bakuya-kuyan 'beribu-ribu'

ba + juta

~

bajuta-juta

'beratus-ratus' 'berjuta-juta'

3.6.2.1.3 Numeralia Pokok Distributif Nurneralia pokok dalarn BDN dapat dibentuk dengan re­ dupJikasi (pengulangan) kata bilangan yang dapat berrnakna (1) ...derni ... dan (2) rnasing-rnasing, seperti pada contoh ber­ ikut. (143) Jje-ije ewen balua bam hete.

'Satu-satu rnereka keluar dari situ:

(144) Lime-limegenep biti dinu buku. 'Lima-lima setiap orang rnendapat buku: Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

97

3.6.2.1.4 Numeralia Pokok Tak Tentu Numeralia pokok tak tentu mengacu pada jumlah yang tidak pasti. Numeralia pokok tak tentu di antaranya adalah se­ bagai berikut. are papire/pire-pire uras/samandiai sahapus isut

'banyak' 'beberapa' 'semua' 'seluruh' 'sedikit'

Contoh pemakaian numeralia pokok tak tentu adalah seperti berikut.

(145) Are bara ewenje dia dinu eka munduk 'Banyak dari mereka yang tidak dapat tempat duduk.' (146) Pire-pire bitt jadi buli haranan tahi maentai. 'Beberapa orang sudah pulang karena lama menunggu: (147) Akan ketun samandiai. 'Untuk kalian semua: (148) Sahapus uluh intu lewu tuh uras kasene dengae. 'Seluruh orang di kampung ini semua kenaI dengannya: (149) Are pander isut gawie. 'Banyak bicara sedikit kerjanya:

3.6.2.2 Numeralia Ukuran Numeralia ukuran dalam BDN berkaitan dengan panjang­ pendek, isi. dan jumlah.

98

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh: limedepe lime gantang duegawang due lusin lime gram due balasai telu meter jahawen kilo sapuluh liter

'lima depa'

'lima gantang'

'dua jengkal'

'dua lusin'

'lima gram'

'dua karung'

'Uga meter'

'enam kilo'

'sepuluh liter'

3.6.2.3 Numeralia Tingkat Numeralia tingkat dalam BON berupa gabungan antara prefiks ka 'ke' dan numeralia pokok tertentu. Contoh: ka + ijeJsulak ka+due ka+ lime ka +sapuluh

-7 -7 -7 -7

kaijeJsulak kadue kalime kasapuluh

'kesatu/pertama' 'kedua' 'kelima' 'kesepuluh'

Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah seperti ber­ ikut.

(150) Ie anak kalime huang labengae. 'Oia anak kelima dalam keluarganya: (151) Aku baya ulih manumbah pamp;sekjekatelu. ·Saya hanya dapat menjawab pertanyaan yang ketiga: Numeralia tingkat dalam BON juga dapat berupa gabungan prefiks hangka- dengan numeralia pokok. Makna yang ditimbulkan akibat penambahan prefiks itu adalah 'yang ke ...kali' seperti pada contoh berikut.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

99

(152) Hangkaepatjadi ewen tulakakan kanih. 'Yang keempat kali sudah mereka pergi ke sana.' (153) Hangkalime jadi aku maetun batu teo 'Yang kelima kali sudah aku mengangkut batu itu:

3.6.2.4 Numeralia Pecahan Numeralia pecahan dalam BDN berupa gabungan prefiks sa- 'seper' dengan numeralia pokok tertentu. Contoh: sa + tennah sa + sapuluh

~ ~

satennah sapasapuluh

'seperdua' 'sepersepuluh'

Bentuk numeralia pecahan dalam BDN juga dapat berupa numeralia pokok tertentu + par + numeralia pokok tertentu. Contoh: telu 'tiga' + par + lime 'lima' lime 'lima'+ par + hanya 'delapan'

~

~

telu parlime 'tiga perlima' lime parhanya 'lima perdelapan'

Penyebutan numeralia pecahan yang terdiri dari tiga angka adalah dengan menyebutkan dua angka numeralia pokok tertentu pertama + par- 'per' + numeralia pokok tertentu. Contoh: jalatien telu parepat 'sembilan tiga perempat' Berikut adalah contoh numeralia pecahan dalam kalimat (154) Separsapuluh bam regan petak te inenga akan uluh je mahaga katahin tuh. 'Sepersepuluh dari harga tanah itu diberi untuk orang yang merawat selama ini: (155) Tapas saparapat kilo ampie ehat behas tuh mangat lime kilo. 'Kurang seperempat kilo ternyata beras ini agar lima kilo.' 100

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(156) Inggau pandinue bara jalatien telu parepat ingali lime. 'Dicari hasil dari sembilan tiga perempat dikali lima: (157) Telu saparapat ampi ehat manuk tuh. 'Tiga seperempat sepertinya berat ayam ini:

3.6.2.5 Numeralia Penggolong Dalam BDN terdapat numeralia penggolong yang dapat membentuk frasa numeralia penggolong. Di antaranya tampak pada contoh berikut. biti'orang' -7 kungan 'ekor' -7 kapating 'tangkai' -7 kahijir'batang -7 kabawak'biji' -7 kabatang 'batang -7 kahiris 'kerat' -7

telu biti (kalunen) due kungan (manuk) telu kapating (kambang) epat kahijir (Iidi) sapuluh kabawak (tanteluh) lime kabatang lime kahiris (roti)

'tiga orang (manusia), 'dua ekor (ayam)' 'tiga tangkai (bunga)' 'empat batang Oidi)' 'sepuluh biji (telur)' 'lima batang/pohon' 'lima kerat (roti)'

Berikut ini adalah contoh pemakaian numeralia penggo­ long dalam kalimat. (158) Ie manyambalih ije kungan manuk 'Dia menyembelih satu ekor ayam: (159) Aku maneweng ije kabatang enyuh. 'Saya menebang sebatang pohon kelapa: (160) Ie manyurat intu ije kalambar karatas. 'Dia menulis di selembar kertas.' (161) Uluhje maja ie telu biti kakaree. 'Tamunya tiga orang banyaknya: (162) Umai mairribit due kabawak bua enyuh. 'Ibu membawa dua buah kelapa.' Bab III Morfo[ogi Bahasa Dayak Ngaju

101

(163) Ie manjual ije kalambar petak ayue. 'Dia menjual sebidang tanah miliknya: (164) Ike maetun due katisiRg kayu apui. 'Kami membawa dua belah kayu bakar.' (165) Bapa maimbit telu kasila puring. 'Bapak membawa tiga bilah bambu: (166) Aku manenga akae due lambar kalambi. 'Saya memberinya dua potong pakaian: (167) Sawae maandak telu kapatiRg kambang intu mejae. 'Istrinya menaruh tiga tangkai bunga di mejanya: (168) Tege sapuluh kabawak bua enyuh je imbit bue. ~da sepuluh buah kelapa yang dibawa kakek:

3.7 KATA TUGAS

Kata tugas adalah kategori yang merujuk pada kelompok kata yang berada di luar empat golongan besar, yaitu nomina, verba, ajektiva, dan adverbia. 3.7.1 Batasan dan Ciri Kata Tugas

Kata tugas tidak mempunyai makna leksikal dan hanya memiliki makna gramatikal. Artinya, sebuah kata tugas di­ katakan produktif dan bermakna setelah digunakan dalam sebuah struktur. Makna kata tugas tidak bisa ditentukan oIeh kata itu sendiri secara lepas, tetapi harus dikaitkan dengan kata atau konstituen lain dalam sebuah struktur. Apabila sebuah kata dapat diartikan secara isolasi atau lepas dari sebuah struktur, kelas kata tersebut bukanlah kata tugas. Misalnya, kata tulak 'pergi~ peda 1enu~ dan tuh/wayah 102

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

tuh 'sekarang', Ketiga kata tadi dapat diartikan baik secara lepas maupun gramatikal. Dengan demikian, ketiganya bukan merupakan kata tugas. Sebaliknya, kata helang 'antara', dengan 'dengan', suaJi 'kecuali', dan sejenisnya disebut kata tugas ka­ rena tidak dapat berdiri sendiri.

Dalam BDN salah satu jenis kata tugas, terutama kata depan, dapat berfungsi sebagai pengisi fungsi predikat tanpa mengubah makna secara keseluruhan. Misalnya, frasa ka pasar 'ke pasar', into huang 'di dalam', ka kanih 'ke sana'. Perhatikan kalimat dan penyederhanaannya di bawah ini. (169) Ie tulak ka pasar.

'Dia pergi ke pasar:

~ ~

(170) Umai tege into huang. 'Ibu berada di dalam:

Ie ka pasar. 'Dia ke pasar: ~ ~

Umai into huang. 'Ibu di dalam:

(171) Ie menintu ka kanih. ~ Ie kan kanih. 'Dia menuju ke arah sana: ~ 'Dia ke sana:

Kalimat (169) adalah sebuah konstruksi sederhana yang terdiri atas satu subjek "ie", predikat tulak, dan satu keterangan berupa frasa berkata depan ka pasaryangmembentukpola SPK Kalimat sederhana itu dapat dihemat tanpa mengubah makna secara keseluruhan.Ie ka pasar 'Dia ke pasar' hanya terdiri atas subjek ie 'ia' dan pengisi fungsi predikat berupa frasa ka pasar 'ke pasar' yang membentuk pola SP. Makna kalimat (169) dan versi penyederhanaannya dapat dikatakan setara. Demikian pula halnya dengan kalimat (170) dan (171). Berdasarkan ilustrasi di atas fungsi utama kata tugas (dalam hal ini kata depan) adalah menghubungkan konstituen sebelum dan setelahnya. Dalam kalimat 169, kata depan ka 'ke' berfungsi untuk menghubungkan subjek ie 'dia' dan nomina tempat (pasar). Demikian pula fungsi kata depan intu 'di' dalam kalimat 1706 dan kata depan ka 'ke' dalam kalimat (171) berfungsi menghubungkan subjek umai 'ibu' dan ie 'ia' dengan huang 'dalam' dan kanih 'sana'. Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

103

Kata tugas juga kurang produktif ditinjau dari potensinya untuk menjadi kata dasar sebuah bentukan. Hampir semua kata tugas berupa kata dasar, misalnya ke, di, sejak, tentang. Namun, ada pula kata tugas yang berupa kata bentukan, misalnya kata manumun 'menurut', sapanjang 'sepanjang'. Kelas kata tugas adalah kelas yang tertutup. Hal ini berbeda dengan kelas kata lain, seperti nomina, verba, dan ajektiva yang merupakan kelas terbuka. Artinya, kata tugas sulit sekali ditentukan padanannya. Jika kelas kata lain seperti wi/ayah bersinonim dengan kawasan dan melirik berpadanan dengan mengerling, kata tugas hampir tidak dapat dipadankan.

3.7.2 Jenis Kata Tugas Kata tugas dalam BON terdiri atas lima jenis, yaitu (1) pre­ posisi (kata depan), (2) konjungtor (kata hubung), (3) interjeksi (kata seru), (4) artikula, dan (5) partikel penegas. 3.7.2.1 Preposisi Preposisi (kata depan) adalah kata yang biasa terletak di depan nomina dan menghubungkannya dengan kata lain dalam ikatan eksosetris. Ditinjau dari perilaku semantisnya, preposisi dalam BON berfungsi sebagai penanda hubungan makna antara konstituen sebelum dan sesudahnya. Misalnya, preposisi ka/kanjakan Ike' dalam contoh (169) di atas. Oitinjau dari segi sintaktisnya, preposisi berada di depan nomina, ajektiva, dan adverbia sehingga membentuk frasa preposisi. Misalnya, ka pasar 'ke pasar'dalam Umai tulak ka pasar. 'Ibu pergi ke pasar:, nyamah kuntep 'sampai penuh' dalam Ie manyuang nyamee nyamah kuntep. 'Dia mengisi mulutnya sampai penuh: dan bara male 'sejak kemarin' dalam Bapa tulak bam male. ~yahnya pergi sejak kemarin:

104

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Berdasarkan bentuknya, preposisi dalam BDN dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (1) preposisi tunggal dan (2) preposisi majemuk.

3.7.2.1.1 Preposisi Tungal Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Bentuk preposisi ini dapat berupa (1) preposisi berupa kata dasar dan (2) preposisi gabungan, yang secara berurutan akan dipaparkan di bawah ini.

(1) Preposisi Bempa Kata Dasar Preposisi dalam kategori preposisi yang berupa kata dasar hanya terdiri atas satu morfem. Contoh preposisi berupa kata dasar adalah sebagai berikut 'akanfdengan' 'antara' 'untukfbagifbuatf demi' 'dengan' 'di' 'hinggafsampaj' 'ke' 'kecuali' 'oleh' 'pad a' 'per' 'sampaifhingga' 'sejak' bara 'seperti' kilau sangkum/kahum 'serta' 'tanpa' jatun dengan helang akan dengan intu sampai ka/akan/kan suali awifharanan intu ije palus/sampai

Preposisi berupa kata dasar, yakni akan memiliki be­ berapa makna dalam bahasa Indonesia yaitu untuk, ke, buat, demi, dan bagi. Penggunaan preposisi akan dalam kalimat seperti contoh berikut ini. Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

105

(172) Ie kalapean dengan paharie metuh belum tatau. 'Ia lupa akan saudaranya ketika hidup kaya: (173) Ie munduk intu helang bapa tun tang indue. 'Ia duduk di antara ayah dan ibunya: (174) Pandohop tuh inenga akan kawan pamalan. 'Bantuan itu diperuntukkan bagi para petani: (175) Kalambi tuh akan kakae. 'Baju itu buat kakaknya: (176) Sampai andau tuh ie hindai keleh. lIingga hari ini, dia belum sembuh: (177) Suali ie, uras uluh manangis. 'Keeuali dirinya, semua orang menangis:

(2) Preposisi Berupa Kata Berafiks Preposisi dalam kelompok ini didapatkan dengan me­ nambahkan afiks, baik prefiks, infiks, maupun sufiks, pada kata dasar. Bentuk preposisi berupa kata berafiks adalah sebagai berikut. 1. Penambahan prefiks ma­ ma+ tukep 'dekat' -7 manukep 'mendekat'

ma + tintu 'tuju' -7 manintu 'menuju' ma+ tumun 'turut' -7 manumun 'menurut'

Pemakaian bentuk prefiks di atas dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut. (178) Mama tulak manukep hamalem. 'Paman pergi menjelang malam: (179) Umai tulak manintu Kapuas. 'Ibu pergi menuju Kapuas: (180) Manumun rancana, ie dumah bentuk andau tuh. 'Menurut rencana, dia akan datang siang inC 106

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

2. Penambahan prefiks sa­ sa + hapus 'antero' -7 sahapus'seantero'

sa + karakup 'genggam' -7 sakarakup'segenggam' sa + hindai 'belum' -7 sahindai'sebelum'

Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah seba­ gai berikut.

(181) Sahapus pantai danum kalunen tuh, jatun ulun je kilau ie.

'Seluruh dunia ini, tiada manusia yang seperti

dia'

(182) Ie manduan sakarup behas hapa pakanan ma­ nuk 'Ia mengambil segenggam beras untukmakanan ayam: (183) Ie maasa am bang sahindai mandirik 'Dia mengasah parang sebelum menbas.'

3. Penambahan prefiks ka­ ka + tahi 'lama'

-7 katahi'selama'

ka + kuntep 'penuh'

-7 kakuntep'sepenuh'

ka + gantung 'tinggai' -7 kagantung 'setinggi'

Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah seba­ gai berikut.

(184) Katahijalanan te ie tatiruh. tSelama perjalanan itu dia tertidur: (185) Ikau manyuang bua akan rumbak Ion tong tuh sakuntep kana huangmu. 'Kamu mengisi buah ke dalam keranjang itu sepenuh·keinginanmu: (186) Kagantung kututjadi kandalem danum tuh. 'Setinggi lutut sudah kedalaman air ini. Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

107

3.7.2.1.2 Preposisi Gabungan Preposisi gabungan terdiri atas (1) dua preposisi yang berdampingan dan (2) dua preposisi yang berkorelasi.

(1) Preposisi Berdampingan Preposisi yang berdampingan dalam BDN terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan. Contoh:

awl haranan awi haranan sampat akan beken bara

'oIeh karena'

'oleh sebab'

'sampai ke'

'selain dari'

Pemakaian preposisi di atas dalam kalimat terlihat pa­ da contoh di bawah ini. (lB7) Ie dia tame awi hamnan perese. 'Dia tidak masuk oleh karena penyakitnya: (lBB) Kambang te ba/ayu awi haranan keang. 'Tanaman itu mati oleh sebab kekeringan: (lB9) Ike; mananjung sampai kan tumbang. 'Kami berjalan sampai ke muara:

(190) Beken bam kakae, Ie kea umba gawl teo 'Selain dari kakaknya, dia juga ikut pekerjaan itu:

(2) Preposisi Berkorelasi Preposisi yang berkorelasi adalah preposisi yangterdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Contoh:

helang ... dengan ... bara ... palus ... 108

'antara ... dan ..:

,dari ... hingga ..:

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

bam ... akan .._ bara 'n sampai ... bam '" palus tuh ... bam ... sampat ka ...

'dari ... ke ..: 'sejak ... sampai ..: 'sejak ... hingga ..: 'dari ... sampai ke ..:

Pemakaian preposisi yang berkorelasi dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.

(191) Helang ie dengan andie tege kabeken kanahu­

ang. 'Antara dia dan adiknya ada perbedaan kema­ uan: (192) [kei bagawi bara hanjewu palus halemei.

'Kami bekerja dari pagi hingga petang: (193) Ikef pindah bam lewu kurik akan lewu hai.

'Kami pindah dari desa ke kota: (194) Bara kawin sampat tege anak, ikei melai lewu.

'Sejak menikah sampai dengan punya anak, ka­ mi tinggal di desa: (195) Bara male palus tuh, ikei dia puji hasupa.

'Sejak kemarin hingga kini, kami belum pernah bertemu: (196) Kakejau bam human ikef sampat kan lewu te

baya 10 kilometer.

'Jarak dari rumah kami sampai ke desa itu

sekitar 10 kilo meter.'

Dalam BDN sebuah preposisi juga dapat bergabung de­ ngan dua nomina asalkan nomina yang pertama mempu­ nyai ciri lokatif. Contoh: intu hunjun meja intu penda kayu lakau kampus intu huang huma

'di atas meja' 'di bawah pohon' 'di sekitar kampus, 'di dalam rumah'

Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

109

Preposisi gabungan intu huang 'di daIarn' hanya dapat beralternasi dengan huang 'dalarn'. Contoh: (a) intu huang lamari 'di dalam lernari' beral­ ternasi dengan intu lamari 'di lernari' (b) intu huang tas 'di dalam tas' beralternasi dengan intu tas 'di tas'. Di sisi lain, dalarn kasus tertentu, pernakaian bentuk aIternatif dapat rnenirnbulkan perbedaan rnakna. Misalnya intu huang huma 'dari dalam rurnah' tidak sarna dengan intu huma 'di rurnah' dan bam hunjun huma 'dari dalam rurnah' tidak sarna dengan bam huma 'di rurnah'. Peran sernantis preposisi yang lazirn dalarn BDN adaIah sebagai penanda hubungan (1) ternpat, rnisaInya intu 'di: akan/kanfka 'ke', bara 'dari', paius/sampai 'hingga', sampai 'sarnpai'; (2) peruntukan, rnisainya akan 'bagi, untuk, buat, guna'; (3) sebab, rnisalnya awl 'karena', buku 'sebab', haranan 'Iantaran'; (4) kesertaan atau cara, rnisalnya de­ ngan 'dengan', hayak 'sarnbil, beserta, bersarna'; (5) pelaku, rnisalnya awl 'oIeh'; (6) waktu, rnisalnya: hung 'pada', palus/sampai 'hingga/sarnpai', bara 'sejak', sernenjak, manukep 'rnenjelang'; (7) ihwaI, rnisaInya bagare 'tentang, rnengenai'; (8) rnilik, rnisalnya bara 'dari'.

3.7.2.2 Konjungtor Konjungtor atau kata sarnbung adalah kata tugas yang rnenghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat, kata de­ ngan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Con­ toh:

(197) Toni tuntang Ali rahat balajar intu kamar. 'Toni dan Ali sedang belajar di karnar: 110

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(198) Aku hakun tulakamun taluhgawingkujadi. 'Saya mau pergi kalau pekerjaan saya selesai: (199) Ikau hakun umba atawa melai intu huma? 'Kamu mau ikut atau tinggal di rumah?' Perlu diketahui bahwa kata-kata seperti haranan 'karena', bam 'sejak', dan limbah 'setelah' mengemban fungsi yang berbeda, bergantung pada tataran atau konteks pembicaraan. Perhatikan contoh berikut ini. (200a) Ie dia sakula hamnan masalah duit 'Dia tidak kuliah karena masalah keuangan: (200b) Ie dia sakula haranan duite lepah.

'Dia tidak kuliah karena uangnya habis:

(201a) Ie melai hetuh bam male.

'Dia tinggal di sini sejak kemarin:

(201b) Ie mela; hetuh bam Ie baumurdue nyelu. 'Dia tinggal di sini sejak dia berusia dua tahun: (202a) Ikau tau manyundau ie limbah jam hanya. 'Kamu boleh bertemu dia setelah pukul 08.00: (202b) Ikau tau manyundau ie limbah Ie kuman. 'Kamu boleh bertemu dia setelah dia makan:

Kata-kata seperti hamnan 'karena: bam 'sejaK dan lim­ bah 'setelah' dalam contoh (200a-202b) merupakan prepo­ sisi karena berada dalam tataran frasa, sedangkan dalam contoh (200b-202b) berfungsi sebagai konjungtor yang meng­ hubungkan dua klausa. Jika ditinjau dari perilaku sintaksisnya, konjungtor dalam BDN terdiri atas (1) konjungtor koordinatif, (2) konjungtor korelatif, (3) konjungtor subordinatif, dan (4) konjungtor antarkalimat.

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

111

(1) Konjungtor Koordinatif Konjungtor koordinatif adalah konjungtor yang rneng­ hubungkan dua unsur atau lebih yang sarna pentingnya atau merniliki status yang sarna. Perhatikan contoh berikut. (203) Ie manangis tuntang sawae kea lungu-lungui. 'Dia rnenangis dan istrinya pun tersedu: (204) Ie manggau aku tuntang andiku. 'Dia mencari saya dan adik saya: (205) Aku atawa ikauje manduan Ie? 'Saya atau kamu yang rnenjemputnya?' (206) Ie halajur hakutak baya sawae benyem bewel. 'Dia terus saja berbicara, tetapi istrinya diam saja: Konjungtor atawa 'atau', di sarnping mempunyai makna 'pemilihan', juga mempunyai rnakna penambahan. Kalimat Eweh bewei je baku las bagawi atawa dia manumun ren­ tah, impatende bara taluh gawie. 'Siapa saja yang rnalas bekerja atau tidak mangikuti perintah diberhentikan dari pekerjaannya: menunjukkan bahwa kata atawa 'atau' juga memiliki makna penambahan.

(2) Konjungtor Korelatif Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghu­ bungkan dua kata, frasa, atau klausa yang rnemiliki status sintaksis yang sarna. Contoh:

aluh ... atawa ... ela ... kea ...

'walau ... maupun ...'

'jangankan ... pun ..:

Pemakaian konjungtor dalam kalimat dapat dilihat pa­ da contoh berikut. (207) Aluh ie atawa andie dia rajin manyimpa. Walau dia maupun adiknya tidak suka mengi­ nang' 112

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(208) Ela uluh beken, uluh bakase kea dia Ie marakee. 1angankan orang lain, istrinya pun tidak dihi­ raukannya:

(3) Konjungtor Subordinatif Konjungtor subordinatifadalah konjungtor yang rneng­ hubungkan dua klausa atau lebih yang tidak rnernpunyai status sintaksis yang sarna. Konjungtor jenis ini terdiri atas tiga belas kelornpok.

1. Konjungtor subordinatifwaktu bara metuhjrahat katika sambil limbah palus sahelu

'sejak, sedari' 'saat, tatkala, selagi' 'ketika' 'seraya, sambil' 'setelah, sehabis, selesai' 'hingga, sampai' 'sebelum'

2. Konjungtor subordinatif syarat jaka amun

'jika' 'kalau, jikalau'

3. Konjungtor subordinatif pengandaian amun 'andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya' 4. Konjungtor subordinatif tujuan 'agar, supaya, biar' mannat, uka 5. Konjungtor subordinatif konsesif aluh 'biarpun, meskipun, walaupun, sekalipun, sungguhpun, kendatipun' 6. Konjungtor subordinatifpernbandingan kilau 'seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat' bara 'daripada' Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

113

7. Konjungtor subordinatif sebab

buku haranan awl haranan awl buku

'sebab'

'karena'

'oleh karena'

'oleh sebab'

8. Konjungtor subordinatif hasil

sampal

'sehingga, sarnpai'

9. Konjungtor subordinatif alat dengan jatun

'dengan'

'tanpa'

10. Konjungtor subordinatif cara hapa dia

'dengan'

'tanpa'

11. Konjungtor subordinatif kornplernentasi

bahwa 'bahwa'8

12. Konjungtor subordinatif atributif

je 'yang'

13. Konjungtor subordinatif perbandingan

'sarna ... dengan'9

sarna ... dengan kaleh ... bara 1ebih ... daripada'

(4) Konjungtor Antarkalimat

Konjungtorantarkalirnat berfungsi untukrnenghubung­ kan satu kalirnat dengan kalirnat yang lain. Dalarn BDN 8) Dicurigai sebagai unsur serapan dari bahasa Indonesia 9) Ibid.

114

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

makna dan contoh konjungtor antarkalimat adalah seperti berikut. 1. Menyatakan 'pertentangan' 'biarpun demikian, sekalipun demikian, meskipun demikian'

aluh kalute

2. Menyatakan 'kelanjutan dari peristiwa sebelumnya' 'kemudian, sesudah itu, selanjutnya'

limbah te

3. Menyatakan 'hal atau keadaan lain di luar dari yang dinyatakan sebelumnya'

indaha1llJ tinai beken bara te

'tambahan pula, lagi pula'

fselain itu'

4. Menyatakan fkebalikan'

fsebaliknya'

kabalikae/sabalike

5. Menyatakan 'keadaan yang sebenarnya' fsesungguhnya, bahwasannya'

sapunae/sakatutue

6. Menyatakan 'penguatan pernyataan sebelumnya' indahang tinai

'malahan, bahkan'

7. Menyatakan 'pertentangan dengan keadaan sebelumnya' baya

'akan tetapi'

8. Menyatakan 'keinklusifan dan keeksklusifan'

sualijete

'kecuali itu'

9. Menyatakan 'konsekuensi'

bara te

'dengan demikian'

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

115

10. Menyatakan 'akibat' awl haranan te

'oleh karena itu'

11. Menyatakan 'kejadian yang mendahului hal yang dinya­ takan sebelumnya' helu bata te

'sebelum itu'

3.7.2.3 Interjeksi Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang meng­ ungkapkan kata hati pembicara. Secara struktural interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimatyang lain. Berbagai bentuk interjeksi dalam BDN dapat dikelompokkan menurut perasaan yang diungkapkan. Jenis dan contohnya adalah sebagai berikut. 1. Interjeksi kejijikan Interjeksi kejijikan terdiri atas bah 'wah', cis 'hah', ceh 'huh'.

Contoh:

(209) Bah, narai tinai kana huangmu! Wah, apa lagi keinginanmu! (210) Cis, bajilek aku mahining auhmu tel nah, jijik aku mendengar suaramu itu! (211) Ceh, anta manahiu uluh!

'Huh, selalu membicarakan orang!' 2. Interjeksi kekesalan Interjeksi kekesalan terdiri atas kirang 'tai', asu 'anjing', metu 'binatang', mamtei munu 'mampus'. Contoh: (212) Kirang mu tel 'Taimu lah!' 116

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(213) Asugawei kilau tel 'Anjing pekerjaan seperti itul' (214) Puna metu ulu tel 'Dasar binatang orang itu!' (215) Mate; munu anak tel 'Mampus anak itul' 3. Inteneksikekaguman Interjeksi kekaguman terdiri atas akai 'aduhai', akui 'luar biasa'.

Contoh:

(216) Akat kakena bawi tel ~duhai, cantik nian gadis itul'

(217) Aku;, kahain lauk dinun ewenl 'Luar biasa besarnya ikan yang mereka peroleh!' 4. Inteneksikesyukuran Interjeksi kesyukuran terdiri atas sukur 'syukur'. Contoh: (218) Sukur ketun uras bangas! 'Syukur kaHan semua sehat!' 5. Interjeksi harapan Interjeksi harapan terdiri atas mudahan 'semoga. Contoh: (219) Mudahan itah handiai huang karigas tuntang kaabas. 'Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan bahagia: 6. Interjeksi keheranan Inteneksi keheranan terdiri atas hau 'wah', hei 'hei', 0 'oh', ah 'ah', eh 'eh', akai 'wah'. Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

117

Contoh:

(220) Hau, buhen ikau tiruh? Wah, mengapa engkau tidur?' (221) Hei, leha mules tinai? 'Hei, mengapa kembali lagi?' (222) 0, kilen kilau tel

Oh, mengapa seperti itu?'

(223) Ah, hengan aku payahe. ~, heran aku melihatnya: (224) Eh, leha tau kilau tel 'Eh, mengapa bisa seperti itu?' (225) Akai, mias kaseputanak teo 'Wah, luar biasa gemuknya anak itu:

7. InteDeksikekagetan InteDeksi kekagetan terdiri atas hakarang indang 'hah', boh 'wah '.

Contoh:

(226) Hakarang indang, kapurum maawi ie. 'Bah, teganya dirimu memukulnya!' (227) Boh, dia kilau te kuangku endau! Wah, tidak begitu kataku tadil' 8. InteDeksi ajakan Interjeksi ajakan terdiri atas has 'ayo " hayu 'mari '. Contoh:

(228) Has ita tulak! 'Ayo kita pergi!' (229) Hayu umba aku! 'Mari ikut aku!' 118

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

9. Interjeksi panggilan Interjeksi panggilan terdiri atas of 'oi', le'teman', wal 'kawan', pahari 'saudara'.

Contoh: .

(230) Oi, eweh tel

'Oi, siapa itu?

(231) Le, kan hetuh hanjulu? 'Ternan, kemari sebentar! (232) Wat maja akujewu? 'Kawan, datang ke rumahku besok? (233) Eweh aram pahari? 'Siapa namamu Saudara? 10. Interjeksi simpulan

Interjeksi simpulan terdiri atas nah 'nah '.

Contoh:

(234) Nah, amun jadi uras pakat itah manampara manggawie. 'Nab, jika semua sudah sepakat kita memulai mengerjakannya: 11. Interjeksi pengusiran Interjeksi pengusiran terdiri atas cis 'cis " pis 'pis " hus 'hus', hus~hus 'hus-hus', his 'hus '.

Contoh:

(235) Cis/pis! (mengusir kucing)

(236) Hus/hus-hus! (mengusir ayam) (237) His! (mengusir anjing) 12. Interjeksi tiruan bunyi Interjeksi tiruan bunyi terdiri atas tir 'tir', tar 'tar', gir 'gir', gar 'gar', dum 'dum', dumdam 'dumdam', bik

Bab III Morfologi Bahasa Oayak Ngaju

119

'bik', bak 'bak', ring 'ring', rang 'rang', dus' dus', dap ,dap~ hinghang. Contoh: (238) tir/tar (tiruan bunyi petir) (241) gir/gar(tiruan bunyi empasan pintujdindingj

lantai dari kayu) (242) dum/dumdam (tiruan bunyi pohon roboh)

(243) bikjbak (tiruan bunyi pukulan) (244) ring/rang (tiruan bunyi pecahan benda'

(245) dus/dap (tiruan bunyi benda jatuh [buahD (246) hing hang (tiruan bunyi gaduh [orangjhewanD

3.7.2.4 Artikula Artikula adalah kata yang membatasi makna nomina. Oalam BON hanya ditemukan dua bentuk yaitu (1) artikula yang mengacu ke makna kelompok, misalnya kawan 'para' dan (2) artikula yang menominalkan, misalnya je 'yang'. Sebagai artikula, je 'yang' berfungsi membentuk frasa nominal dari verba, ajektiva, atau kelas kata lain yang bersifat takrif atau definit, misalnya jetuh 'yang ini~ je kasapuluh 'yang kesepuluh'.

3.7.2.5 Partikel Penegas Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak ter­ takluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menam­ pilkan unsur yang diiringinya. Oalam BON hanya ditemukan dua bentuk partikel, yaitu -lah dan -kah. Partikel -lah dipakai dalam kalimat imperatif atau deklaratif meskipun kurang pro­ duktif. Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah seperti berikut. 120

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(247) Kalutuhlahje kanahuangku bara ketun. 'Beginilah kemauanku dari kalian: (248) ltah tuhlah je eka kaharap uluh bakas. 'Kita inilah yang menjadi harapan orang tua: Partikel -lah dan -kah, juga dipakai sebagai penegas ka­ limat interogatif seperti contoh berikut. (249) Jekahje handakdumah? 'Diakah yang akan Klausang?' (250) Andau tuhkah ewen tulak? 'Hari inikah ujiannya?'

BAHASA PEf1D1DlKAN '"bt."'l'''''~'''

Bab III Morfologi Bahasa Dayak Ngaju

121

BAB IV SINTAKSIS

BAHASA DAYAK NGAjU

stilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun+tattein) yang berarti mengatur bersama-sama. Manaf (2009: 3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Jadi frasa adalah objek kajian sintaksis terkecil dan kalimat adalah objek kajian sintaksis terbesar.

I

4.1 FRASA Pembahasan frasa BDN dibagi atas dua bagian. Pertama, deskripsi frasa eksosentris BDN, meliputi pembagian jenis dan komponen-komponen pembentuknya. Kedua, uraian frasa endosentris BDN mencakup pemerian jenis dan unsur-unsur kategori pembentuknya.

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

123

4.1.1 Frasa Eksosentris Frasa eksosentris terdiri dari komponen pembentuk berupa preposisi atau partikel yang disebut perangkai dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata yang disebut sum bu. Oalam kajian frasa BON, frasa eksosentris dibagi dalam dua bentuk, yaitu frasa yang memiliki perangkai preposisi disebut frasa eksosentris direktif atau frasa preposisional dan yang lainnya disebut frasa eksosentris nondirektif.

4.1.1.1 Frasa Eksosentris Direktif Frasa eksosentris direktif dalam BON berupa frasa pre­ posisional. Frasa preposisional dibentuk dari gabungan pre­ posisi dan kata atau kelompok kata (yang selanjutnya disingkat Ka). Susunan formulanya berpola: (a) Prepdasar + Ka, (b) Prepdasar + N10k + (N, FN, Pr; Fpr; dan Oem), (c) Prepdeverbal + Ka, (d) Prepdenominal + Ka, dan (e) Prep + N + Prep + N. (1) Frasa Preposisional Berpola Prepdasar10 + Ka Bentuk frasa preposisional yang komponennya terdiri dari unsur perangkai berupa preposisi dasar dan unsur kata atau kelompok kata yang disebut sumbu dibagi men­ jadi dua pola sebagai berikut. 1. Frasa preposisional berpola Prepdasar + N Contoh frasa preposisional yang berpola Prepdasar + N adalah sebagai berikut. hung sakula

'di sekolah'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdasar + N adalah sebagai berikut lO)Preposisi tunggal yang monomorfemis bukan polimorfemis dari afiks atau gabungan kata. Periksa Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (1998: 288).

124

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Konstruksi {

Pr (hung) }

Prepdasar + N

N (saku/a)

Contoh peggunaanya dalam kalimat adalah sebagai berikut.

(1) lkei balajar hung sakula nampara bara 07.00 han­ jewu nampara bara 13.00 handau. 'Kami belajar di sekolah mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul13.00 siang: 2. Frasa preposisional berpola Prepdasar + A

Contoh frasa preposisional yang berpola Prepdasar + A adalah sebagai berikut. dengan balias

'dengan gesit'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdasar + A adalah sebagai berikut. Konstruksi {

Pr (dengan)}

Prepdasar + A

A (ba/ias)

Contoh peggunaanya dalam kalimat adalah sebagai . berikut. (2) jagau busik sepak bola dengan balisa. 'Jagau bermain sepak bola dengan tangkas: Unsur hung 'di' dan dengan 'dengan' merupakan . komponen perangkai yang berkategori preposisi dasar, sedangkan sakula 'sekolah' dan balias 'tangkas' meru­ pakan komponen sumbu yang berkategori nomina dan ajektiva.

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

125

(2) Frasa Pereposisional Berpola Prepdasar + N10k1 + (N, FN, Pr, Fpr, Dem)

Pola frasa preposisionaI dalam BDN memiliki kompo­ nen yang terdiri dari tiga unsur pembentuk, yaitu pre­ posisi dasar, nomina lokasi, dan salah satu unsur kata atau kelompok kata seperti kelas nomina, frasa nomina, preposisi, frasa preposisi, dan demonstrativa yang terbagi atas pola dan konstruksi di bawah ini. 1. Frasa preposisional berpola Prepdasar + Nlok + N Contoh frasa preposisional yang berpola Prepdasar + Nlok + N adalah sebagai berikut. akan hunjun huma akan bentuk tana hung penda ranjang akan huang huma hung luar huma hung baun kelas hung saran sungei hung kaliling huma

'ke atas rumah' 'ke tengah ladang' 'di bawah ranjang' 'ke dalam rumah' 'di luar rumah' 'di depan kelas' 'di pinggir sungai' 'di sekeliling rumah'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdasar + Nlok + N adalah sebagai berikut. LPr(akan) Konstruksi \

Nlok (hUnjUn)} Prepdasar+ N!ok+ N N (huma)

Contoh peggunaanya dalam kalimat adalah sebagai berikut. 1) Nomina yang merujuk kepada arti letak atau tempat mencakup bagian atau ling­ kungan benda, seperti atas, bawah, rusuk, tengah, dan sebagainya. Lihat pula Krida­ laksana (1988:106), Beberapa Prinsip Paduan Leksem dalam Bahasa Indonesia.

126

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(3) Bapa mandai akan hunjun huma. i\yah naik ke atas rumah: (4) Ikef mananjung akan bentuk tana. 'Kami berjalan ke tengah ladang: (5) Ela bangang hung penda mnjang.

'Jangan bermain di bawab ranjang:

(6)· Bapa mampatame motor akan huang huma. i\yah memasukkan motor ke dalam rumah: (7) Andi bangang hung luar buma.

i\ndi bermain di luar rumah:

(8) Andi mendeng bung baun kelas.

i\ndi berdiri di depan kelas:

(9) Bapa mamisi bung saran sungei. i\yah memancing di pinggir sungai:

(10) Bapa manawur uyah hung kaliling huma. i\yah menabur garam di sekeliling rumah: Unsur akan 'ke' dan hung' di' adalah unsur perangkai yang berkategori preposisi dasar, sedangkan hunjun 'atas', bentuk 'tengah', penda 'bawah', huang' dalam', luar 'luar', baun 'depan', dan kaliling 'keliling' merupakan komponen sumbu berkategori nomina lokasi. Adapun huma 'rumah', tana 'ladang', ranjang 'ranjang', huma 'rumah', dan kelas 'kelas' merupakan komponen nomina kedua yang merupakan unsur perluasannya. 2. Frasa preposisional yang berpola Prepdasar + Nlok + FN Contoh frasa preposisional yang berpola Prepdasar + Nlok + FN adalah sebagai berikut. huang huma itah

akan saran sungaijetuh

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

127

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdasar + N10k + FN adalah sebagai berikut.

Konstruksi

~

Pr (huang)

NIOk (huma)

N (huma)

Prepdasar + N10k + FN

Pron Utah)

Contoh peggunaanya dalam kalimat adalah sebagai berikut. (11) Are uluh huang hurna itah.

'Banyak orang dalam rumah kita: Kata huang merupakan bentuk yang memiliki dua kategori, unsur huang sebagai bagian dari preposisi yang berarti 'di' dan sebagai nomina lokasi yang me­ nunjuk arti 'dalam'. Konstruksi lain pembentuk pola frasa preposisional Prep + N10k + FN adalah sebagai berikut. akan saran sungei jetuh 'ke pinggir sungai ini'

Konstruksi

~

Pr (akan)

NIOk (saran)

-.. Prepdasar + N'ok + FN

N (sungel)

Dem Uetuh)

FN

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut. (12) Aku endau manjatu akan saran sungei jetuh.

'Saya tadi jatuh ke pinggir sungai ini:

128

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Kelompok kata akan saran sungai jetuh 'ke pinggir sungai ini' (FN) sebagai satu kesatuan menjadi rang­ kaian frasa preposisi berpola (Prepdasar + N10k + FN) yang terdiri dari empat unsur kategori, yaitu preposisi akan 'ke', nomina lokasi saran 'pinggir', nomina sungei 'sungai' , dan demonstrativajetuh 'ini'. Komponen huang 'di' dan akan 'ke' sema-sama se­ bagai unsur perangkai yang berkategori preposisi dasar; sedangkan huang 'dalam' dan saran 'pinggir' merupakan komponen sumbu yang pertama berkategori nomina lokasi. Selanjutnya, huma itah 'rumah kita' dan sungei jetuh 'sungai ini' merupakan komponen sumbu kedua yang berkategori frasa nomina. 3. Frasa preposisional berpola Prepdasar + Nlok + Pr Frasa preposisional yang berpola Prepdasar + Nlok + Pr terbentuk dari gabungan unsur preposisi dasar; nomina lokasi, dan unsur pronomina jamak untuk orang kedua seperti contoh berikut. hung silam hung balaumu

'di sebelahmu' 'di rambutmu'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdasar + N]ok + Pr adalah sebagai berikut.

LPr(hung ) Konstruksi "\ N]ok (sUa) } Prepdasar + N10k + Pr Pron (m) Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut. (13) Aku mendeng hung silam.

~ku berdiri di sebelahmu:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

129

(14) Tege kakupu hung balaumu ~da

kupu-kupu di rambutmu:

Komponen hung 'di' adalah unsur perangkai yang berkategori preposisi dasar sedangkan sila 'sebelah' merupakan komponen sumbu pertama berkategori nomina lokasi dan m/muh 'mu' merupakan komponen sumbu kedua yang berkategori pronomina, termasuk dalam jajaran klitika (enklitik).

(3) Frasa Preposisonal Berpola PrepdeverbaI + Ka Frasa preposisi yang memiliki pola Prepdeverbal + Ka dapat dibentuk oleh unsur preposisi deverbalisasF dan gabungan kategori kata atau kelompok kata lainnya. 1. Frasa preposisional berpola Prepdeverba' + N Contoh frasa preposisional berpola Prepdeverbal + N adalah sebagai berikut. akan 4 pahari tahiu bangang

'untuk keluarga' 'tentang permainan'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdeverbal + N adalah sebagai berikut. Konstruksi {

Pr (akan) }

Prepdeverba' + N

N (pahan)

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut. (15) Kirim tabe ikef akan pahari hung kanih.

'Kirimkan salam kami untuk keluarga di sana: 2) Kata yang berasal atau dibentuk dari verba. 3} Secara leksikal berarti bagi (berasal dari verba membagi; memberikan sesuatu un­ tuk orang lain) atau untuk (berasal dari verba menguntukkan; kata depan untuk me­ nyatakan bagi).

130

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(16) Ewen rami bakesah tahiu bangang sepak bola.

'Mereka ramai bercerita tentang permainan se­ pakbola: 2. Frasa preposisional berpola Prepdeverbal + A Contoh frasa preposisional berpola Prepdeverbal + A adalah sebagai berikut. sampai basingi sampai kapehe ate;

'sampai marah' 'sampai sakit hati'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prepdeverbal + A adalah sebagai berikut. Konstruksi

<

Pr (sampaI) }

Prepdeverbal + A

A (basingl)

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut. (17) Bapa sampat basing; awl ewen hakalahi.

'Ayah sampai marah karena mereka berkelahi.' (18) Ela sampai kapehe ate; adingmu haranan ga­ wim. 'Jangan sampai sakit hati adikmu karena ulah­ mu.'

(4) Frasa Preposisional 8erpola PreposisidenomlDal + Ka Frasa preposisi yang memiliki pola Prepdenominal + Ka dapat dibentuk oleh unsur preposisi denominal dan ga­ bungan kategori kata atau kelompok kata lainnya. 1. Frasa preposisional berpola PreposisidenOminal + A Contoh frasa preposisional berpola Preposisidenominal + A adalah sebagai berikut Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

131

haranan mahamen

haranan haban

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Pre­ posisidenominal + A adalah sebagai berikut. Konstruksi

<

Pr (haranan) }

Prep + A

A (mahamen)

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut.

(19) Ie dia bahanyi balua huma haranan mahamen. 'Dia tidak berani ke luar rumah karena malu: (20) Ie d;a haguet akan tana haranan haban. 'Ia tidak pergi ke ladang karena sakit: 2. Frasa preposisional berpola Preposisidenominal + Pr Contoh frasa preposisional berpola Preposisidenomlnal + Pr adalah sebagai berikut. tagal aku jaka ewen amun ie

'karena' 'jika mereka' 'jika dia'

Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Preposisidenominal + Pr adalah sebagai berikut.

<

Pr (karen a) }

Konstruksi

Prep + Pron

Pron (aku)

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai berikut. (21) Tagal aim masih tabela, maka aku rajin manabung. 'Karena saya masih muda, maka saya rajin mena­ bung: 132

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(22) Jaka ewen dumah aku haguet. 'Jika mereka datang, aku pergi: (23) Amun ie benyem akan inenga duit. 'Jia dia diam akan diberi uang:

(5) Frasa Preposisional Berpola Prep4 + NS + Prep 6 + N7. Contoh frasa preposisi yang berpola Prep + N + Prep + N adalah sebagai berikut.

bara huma akan huma bara hanjewu sampat halemei Konstuksi frasa preposisional pembentuk pola Prep + N + Prep + N adalah sebagai berikut

pr(bara) N (huma)

Konstruksi

-'jIIoo-

{

Prep + N + Prep + N

Pr (akan) N (huma)

Contoh panggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ikut. (24) Ewen bakaliling bara huma ka huma manjual ba­

rang 'Mereka berkeliling dari rumah ke rumah menjual barang: (25) Bapa bagawi hung kantor bara hanjewu sampai halemei. ~yah bekerja di kantor dari pagi sampai sore: 4) Komponen preposisi pertama. S) Komponen nomina pertama. 6) Komponen preposisi kedua. 7)

Komponen nomina kedua.

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

133

4.1.1.2 Frasa Eksosentris Indirektif Frasa eksosentris indirektifBDN terdapat pola-pola pem­ bentukan dengan susunan komponen partikel je 'yang' yang bergabung dengan komponen kata atau kelompok kata. Tiap­ tiap komponen frasa eksosentris indirektif ada yang berfungsi sebagai perangkai dan sumbu. Pola frasa eksosentris indirektif dalam BDN adalahjeB + (A, FA, V. FY, Dem, Klausa). 1.

Frasa eksosentris indirektifberpolaje 'yang' + A Contoh frasa eksosentris indirektif berpola je 'yang' + A adalah sebagai berikut. jehai

je bahalap

Konstuksi frasa frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + A adalah sebagai berikut. Konstruksi {

Pr Ue) }

je 'yang' + A

A (hal)

Contoh penggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ikut. (26) Huma je hai te bakambe.

'Rumahyang besar itu berhantu:

(27) Bawije bahalap te adingku.

'Gadis yang cantik itu adikku!

2.

Frasa eksosentris indirektifberpolaje 'yang' + FA Contoh frasa eksosentris indirektif berpola je 'yang' + FA adalah sebagai berikut.

8) (Pron) Kata yang dipakai sebagai kata pembeda, dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata yang. Mis. yang besar, yang kaya, yang besar, yang datang dan sebagai­ nya. Lihat pula Chaer, 2007: 226. Komponen yang disebut "artikulus".

134

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

je sadang kahai je metuh basingi Konstuksi frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + FA adalah sebagai berikut.

L

Pr (je)

Konstruksi ' \ Adv (sadang) } je 'yang' + FA

A (basingl)

Contoh dalam kalimat adalah sebagai berikut. (28) Huma Lida je sadang kahai te in jual. 'Rumah Lida yang cukup besar itu di jual'. (29) Hatue je metuh basingi te Pamanku. 'Pria yang sedang marah itu Pamanku'.

3.

Frasa eksosentris indirektifberpolaje 'yang' + V Contoh frasa eksosentris indirektif yang berpola je 'yang' + V adalah sebagai berikut' jedumah jemanasai Konstuksi frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + FA adalah sebagai berikut. Konstruksi

<

Pr (je)

}

je 'yang' + FA

V (dumah)

Contoh penggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ikut. (30) Ie manambang indue je dumah. 'Ia menyambut ibunya yang datang:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

135

(31) Bawije manasai tuh Tambikku. 'Perempuan yang menari itu Nenekku: Frasa eksosentris indirektifberpolaje 'yang' + FV Contoh frasa eksosentris indirektif berpola je 'yang' + FV adalah sebagai berikut.

4.

jenanturem jetabasam Konstuksi frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + FV adalah sebagai berikut.

Iprue) Konstruksi ' \ V (nanture)} je 'yang' + FV Pron (m) Contoh penggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ilrut. (32) Ander akan ikei narai je nanturem. 'Beritahukan pada kami apa yang terlihatmu: (33) Nurat nari je imbasam. 'Tuliskan apa yang terbacamu:

5.

Frasa eksosentris indirektif berpola je 'yang' + Dem Contoh frasa eksosentris indirektif yang berpola je 'yang' + Dem adalah sebagai berikut

jejituh je ate Konstuksi frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + FV adalah sebagai berikut.

136

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Konstruksi

<

Pr (je)

}

je 'yang' + Dem

Dem (jituh)

Contoh penggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ilrut.

(34) Ie mintih bajujejituh. 'Ia memilih baju yang ini: (35) Ie mamili salawar je jite.

'Ia membeli celana yang ini: 6.

Frasa eksosentris indirektifberpolaje 'yang' + Klausa Contoh frasa eksosentris indirektif berpola je 'yang' + Klausa adalah sebagai berikut.

je humae kejau

je mampukan pakayan

Konstuksi frasa eksosentris indirektif pembentuk pola je 'yang' + Klausa adalah sebagai berikut. Konstruksi

<

Pr (je)

.}

je 'yang' + Kalusa

Klausa (humae kejau)

Contoh penggunaan dalam kalimat adalah sebagai ber­ ikut.

(36) Ikei maja ka huma kawal ikeije humae kejau. 'Kami berkunjung ke rumah ternan kami yang rumahnya jauh: (37) Induku je mampukan pakayan hung sunge; teo 'Ibuku yang mencuci pakaian di sungai itu: Berdasarkan contoh (26)-(37) komponenje 'yang' me­ rupakan perangkai sedangkan komponen hal 'besar', baBab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

137

singi'marah' (ajektiva), sadang kahai 'cukup besar' (frase ajektiva), dumah 'datang', manasaf 'menari' (verba), nan­ turem te 'terlihatmu itu',je imbasam 'terbacamu' (frasa ver­ ba),je jituh 'yang ini', ),jejite 'yang itu' (demonstrativa), dan je huma kejau 'yang rumahnya jauh', je mampukan paka­ yan 'yang mencuci pakaian' (klausa) adalah unsur sumbu dalam pembentukan frasa eksosentrikyang indirektif.

4.1.2 Frasa Endosentris Frasa yang memiliki perilaku sintaksis yang sarna antara bagian yang satu dengan yang lainnya disebut frasa endosentris. Dalam BDN frasa endosentris dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (1) frasa endosentris berinduk satu dan frasa modi­ fikatif atau (2) frasa endosentris berinduk banyak.

4.1.2.1 Frasa Endosentris Modifikatif Frasa endosentris modifikatif merupakan frasa yang ter­ diri dari dua unsur pembentuk. Unsur pertama berupa induk yang menjadi penanda kelasnya dan unsur kedua disebut mo­ difikator (atau disebut juga pemeri). Dalam kajian frasa BDN, frasa endosentris modifikatif dibagi menjadi lima jenis, yaitu (1) frasa nominal, (2) frasa ajektival, (3) frasa pronominal, (4) frasa numeralia, dan (5) frasa verbal.

4.1.2.1.1 Frasa Nominal Frasa nominal merupakan frasa yang memiliki distribusi yang sarna dengan kata nomina. Dalam kajian ini bentuk frasa nominal BDN diuraikan berdasarkan distribusi unsur pusat (UP) dan atributifnya (Atr.) sehingga membentuk frasa nomina. Secara ketegorial dan distribusi, frasa nominal BDN adalah sebagai berikut. 138

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1. N diikuti N, maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP diikuti oleh kata atau frasa nominal sebagai UP atau Atr. Jadi, semua unsurnya berupa kata atau frasa nominaL Contoh: karatak lID1m

N

'pekarangan rumah'

N

b.aJ;m. umai N N

'aya ibu'

bJm.a...m.wa N N

'suami istri'

bJJmJJ..s.a.kJlJ..a. 'gedung sekolah'

N N

2. N diikuti V. maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau fra­ sa nominal sebagai UP diikuti oleh kata atau frasa verbal sebagai Atr. Contoh:

:u.hLb. batanggui N V

'orang bertopi'

:u1u.h. manasai N V

'orang menari'

3. N diikuti Num, maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP diikuti kata atau frasa Num se­ bagai Atr. Contoh:

:u1u.h.lHl.d:u.e. 'orang berdua N FNum pamalan due bitt oloh FNum N

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

'peJadang dua orang'

139

'telur tiga biji'

tanteluh telu kabawak FNum N

'ladang lima petak'

taI1a lime kalambar

N

Num

t.apih sapuluh kalambar

N

' sarung sepuluh lembar'

FNum

4. N diikuti K. maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai Up, diikuti kata atau frasa keterangan sebagai Atr. Contoh:

k.IJ.rmJ. hanjewu male N

'koran pagi kemaren'

K

'kerjaan besok'

S. N diikuti Fprep, maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP diikuti frasa preposisi sebagai Atr.

Contoh: b.ehJJ.s. bara Pangkuh N Fprep

-7 'beras dari Pangkuh

pakayan akan umai N Fprep

-7 'pakaian untuk ibu'

kalotok akan Kurun N Fprep

-7 'kapal ke Kurun'

6. N didahului Num, maksudnya, frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frasa numeralia sebagai Atr. Contoh frasa tersebut bisa dilihat dalam diagram (pro­ ses pembentukan) berikut.

140

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1)

~kamacamyawi

'duamacamkerja'

FN

Num

due kamacam yawi (FN)

~

---------------------

due (Num)

kamacam gawi (FN)

kamacam (N)

2) due kabawak motor Num FN

gawi (N)

'dua buah motor'

due kabawak motor (FN)

due kabawak (F Num) due (Num)

motor (N)

kabawak (Num)

3) li.mc. kapeteng bammy bintik Eil FN

'lima ikat benang bintik'

--------------- -------lime kapeteng banang bintik (FN)

lime kapeteng (F Num)

lime (Num) kapeteng (Num) 4) jahawen Il.SfHlIl Eil N

banang bintik (N)

banang (N)

bintik (N)

'enam perampok'

jahawen asang (FN)

---------

jahawen (Num)

5) SJlP1,lhJ.h kungan manuk Num

asang (N)

'sepuluh ekor ayam'

N

sapuluh kuagan manuk (FN)

~

-------

sapuluh kungan (FNum) sapuluh (Num)

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

manuk (N)

kungan (Num)

141

Selanjutnya, pembentukan frasa nominal BDN dibagi atas enampola,yakni (1) Nl + Nz, (2) N + Ka, (3) Nl + ije-Nz, (4) N + je + Ka, (5) Num + N - N + Num, dan (6) Advl + N + Advz. Formula frasa nominal ini dijabarkan sebagai berikut. 1.

Frasa nominal berpola Nl + Nz Contoh. 'tukang rumah' 'topi mendong' 'sudut kamar'

tukang huma tanggui purun seruk kamar

;f N (tukang) }

Konstruksi ~

N (huma)

----. Nl + N z

Contoh dalam kalimat adalah sebagai berikut.

(38) Mamaku tukang huma intu lewu tuh 'Pamanku tukang rumah di desa ini: (39) Mamaku mahapan tanggui purun. 'Pamanku topi mendong: (40) Lukisan te imasang intu seruk kamar. 'Lukisan itu dipasang di sudut kamar: 2.

Frasa Nominal berpola N + Ka (a) Pola pertama, N + V Contoh:

hak mamintih 'hak milik'

<

N (hak)

Konstruksi

V (mamintih)

}-- -.

N + Ka

Contoh dalam kalimat:

(41) Setiap warga negara atun hak mamintih wa­ kile intu DPR 'Setiap warga negara punya hak memilih wa­ kilnya di DPR: 142

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(b) Pol a kedua, N + Pron

Contoh: petak ikef tuh 'tanah kami ini'

iN (petak)

Konstruksi ' \ Pran (ikei)} - . N + Pran P (tuh)

Contoh dalam kalimat: (42) Petak ikei tuh lumbah 'Tanah kami iniluas: (c) Pola ketiga, N + A Contoh: bawf bakena bahalap 'gadis cantik jelita' IN(baWi) Konstruksi ' \ A (bakena) } - . N + A A (bahalap)

Contoh dalam kalimat: (43) Aku hasupa dengan bawi bakena bahalap.

'Saya bertemu dengan gadis cantik jelita: 3. Frasa nominal berpola N1 + ije 'satu' -Nz Contoh: kawal ije partai 'kawan satu partai'.

LN (kawal)

Konstruksi ' \ Num (ije) } - . Nl + ije + Nz N (partal)

Contoh dalam kalimat: (44) lkef toh kawal ije panai. 'Kami ini kawan satu partai:

Bab IV Sintaksis Bahasa Oayak Ngaju

143

4.

Frasa nominal berpola N + je 'yang' + Ka Frasa nominal berpola N + je 'yang' + Ka terbentuk dari tiga konsturksi. Adapun konstruksi tersebut adalah seba­ gai berikut. (1) Konstruksi bujang je mahasiswa 'pemuda yang maha­ siswa'. Konstruksi pembentuk pola ini adalah sebagai berikut. (bujang)

iN

} - - . N + je 'yang' + K

Konstruksi ' \ Pr (je) N (mahasiswa)

Contoh dalam kalimat: (45) Bujang je mahasiswa umba kegiatan KKN hung lewu toh. 'Pemuda yang mahasiswa mengikuti kegiatan KKN di desa ini.' (2) Konstruksi panginan je mangat tutu te 'masakan yang sangat sedap itu'. Konstruksi tersebut adalah sebagai berikut. N (panginan) Konstruksi

~

pr(je)

Adv (mangat) A (tutu) Pron

~

N + je'yang' + Ka

Contoh dalam kalimat: (46) Panginanje mangattutu te /epah sama sinde. 'Masakan yang sangat sedap itu habis sa­ rna sekali.'

Pada contoh kalimat (46) unsur tutu 'sangat' ber­ sifat opsional (boleh ada boleh tidak).

144

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(3) Konstruksi panginan metu je mihup 'hewan yang mi­ num'. Konstruksi tersebut adalah sebagai berikut. Contoh dalam kalimat.

L

N (metu) } Konstruksi ' \ Pr Ue) ---. N + je 'yang' + Ka

V (m ih up)

(47) Are metu je mihup hung saran sungai teo 'Banyak hewan yang minum di tepi sungai itu:

5. Frasa nominal berpola Num + N - N + Num Pol a frasa nominal berpola Num + N - N + Num memiliki konstruksi seperti di bawah ini. g Num} {pen } { Num} {peng} { FNum ± Ntakaran + N - N + FNum ± Ntakaran

(a) Frasa nominal are uluh ~ uluh are 'banyak orang ­ orang banyak' berkonstruksi: Konstruksi I {

Num (are)}

---+- Num + N

N (uluh)

Konstruksi II {

N (uluh)

}

---+- N + Num

Num (are) Contoh kalimat pada Konstruksi I: (48) Are uluh maja akan huma. 'Banyak orang berkunjung ke rumah:

Contoh kalimat pada konstruksi II: (49) Uluh are maja ka huma. 'Orang banyak berkunjung ke rumah: Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

145

(b) Frasa nominal lime lruyan pulau lruyan 'lima ribu pulau' berkonstuksi: Konstruksi

~

lime

lruyan

} --.. FNUm} - . FNum+N

pulau } --.. N

Contoh dalam kalimat: (50) Atun sakitar lime kuyan pulau lrurlk intu ke­ pulauan teo 'Ada sekitar lima ribu pulau keeil di kepulauan itu: (e) Frasa nominal telu liter danum 'tiga liter air' - danum telu liter 'air tiga liter' berkonstruksi:

Konstruksi I

Konstruksi II

telU} -.FNum . }

~

liter

~

N (danum) } telu } . -.N + FNum -.FNum liter

-. FNum + N

N (danum)

Contoh kalimat dalam konstruksi I: (51) Atun telu literdanum intu eskan toh. 'Ada tiga liter air di teko ini: Contoh kalimat dalam konstruksi II: (52) Atun danum telu liter intu eskan toh. 'Ada air tiga liter di teko ini: 6. Frasa nominal berpola Advl + N + Adv2 Frasa nominal berpola Advl + N + Adv2• misalnya dia mahasiswa bewei 'bukan hanya mahasiswa' terbentuk dari konstruksi: 146

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1 Advl (dia) Konstruksi \ . N (mahasiswa)

} ~ Advl + N + Adv2

Advz (bewel) Contoh dalam kalimat: (53) Ie dia mahasiswa bewei tapi asisten dosen kea. 'Dia bukan hanya mahasiswa tapi juga asisten dosen:

4.1.2.1.2 Frasa Adjketival Frasa ajektival dalam BDN terbagi menjadi empat bentuk Adapun pola-pola konstruksinya adalah sebagai berikut. 1.

Frasa Adjketival berpola Adv + A Frasa ajektival berpola Adv + A, misalnya hindai paso 'belum pasti' berkonstruksi sebagai berikut. Konstruksi

<

Adv (hindaI)}

A (paso)

~ Adv + A

Contoh dalam kalimat: (54) Kabar tahiu perang intu lewu pte hindai paso. 'Kabar mengenai perang di kampung itu belum pasti:

Frasa ajektival berpola Adv + A, misalnya tapas manis 'kurang manis' berkonstruksi sebagai berikut. Konstruksi

<

Adv (tapas) } A (manis)

~ Adv + A

Contoh dalam kalimat: (55) Tehjituh tapas manis.

'Teh ini kurang manis:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

147

2.

Frasa Adjketival berpola A + Adv Frasa ajektival berpola Adv + A, misalnya mangat kea 'nikmat juga' berkonstruksi sebagai berikut Konstruksi {

A (mangat)}

..... A + Adv

Adv(kea) Contoh dalam kalimat:

(56) Pancok bua hampalam tuh mangat kea. 'Rujak buah hampalam ini nikmat juga.' 3. Frasa Adjketival berpola Advl + Adv2 + A Frasa ajektival berpola Advl + Adv2 + A, misalnya puna larang sinde 'amat sangat mahal' berkonstruksi sebagai berikut

1 Advl (puna)

Konstruksi ' \ Adv2 (larang)

} ..... Adv1 + Adv2 + A

A (sinde)

Contoh dalam kalimat:

(57) Regan amas wayah toh puna larang sinde. 'Harga emas sekarang ini amat sangat mahal: Konstruksi lain pembentuk pola frasa ajektival, misal­ nya masih hindai pasti 'masih belum pasti' adalah sebagai berikut. Advl (masih) } Konstruksi ' \ Adv2 (hindaz) ..... Advl + Adv2 + A

1

A (pastl)

Contoh dalam kalimat: (58) Rencana pertunangan ewen due masih hindai pasti 'Rencana pertunangan mereka berdua masih be­ lumpasti.' 148

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

4.

Frasa Adjketival berpola Adv + A.Jenominal Frasa ajektival berpola Adv + A.Jenominab misalnya paling hunjun 'paling atas' dibentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

Adv (pangka) } ........ Adv + Adenominal A.Jenominal (hunJun)

Contoh dalam kalimat: (59) Tas ayue inae intu rakje pangka hunjun. 'Tas miliknya diletakkannya di rak yang paling atas:

4.1.2.1.3 Frasa Pronominal Frasa pronominal dalam BDN terbagi menjadi sembilan bentuk. Adapun pola-pola konstruksinya sebagai berikut. 1. Frasa Pronominal berpola Prontakrlf9 + Prontaktakrlf Frasa pronominal berpola ProntakriflO + Prontak takrif mi­ salnya ikei bewei 'kami sendiri' terbentuk dari konstuksi berikut. Pron (ikel) } Konstruksi { ....... Prontakrif + Prontaktakrif Pron (bewelJ I

Contoh dalam kalimat:

(60) Ikei beweije bamasak akan acara ulang tahune. 'Kami sendirian yang memasak untuk acara ulang tahunnya: 2. Frasa Pronominal berpola Pron(takrlfatautaktakrlf) + Adv Frasa pronominal berpola PrOnCtakrifatautaktakrif) + Adv, mi­ salnya ikau bewei 'engkau saja' terbentuk dari konstruksi berikut. 9) Pronomina persona yang menyatakan makna pemberitahuan dan pernyataan 10) Pronomina persona yang menyatakan makna pemberitahuan dan pernyataan Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

149

Pron (ikau) } Konstruksi {

--- Pron(l:akrlfatautaktakrlf) + Adv

Adv(beweE)

Contoh dalam kalimat: (61) lkau beweije iintihe. 'Engkau saja yang dipilihnya: Frasa pronominal berpola Pron(takrlf atau tak talcrif) + Adv yang lain, misalnya kabuat bewei 'sendiri saja' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

Proll (kabuat)}

___ PrOnCtakrifatautaktakrlf) + Adv

Adv(beweE) . Contoh dalam kalimat: (62) Aku bagawi kabuat bewei. ~

bekerja sendiri saja:

3. Frasa Pronominal berpola PrOntakrif + {bNUmtaktakrif} a-Num Frasa Pronominal berpola Prontakrif + {NUmtaktakrif} ba-Num misalnya itah uras 'kita semua' terbentuk dari konstuksi berikut. ;tf Prontakrif Utah)

Konstruksi ~

Numtaktakrif (uras)

}

--- PrOntalcrif +

{ Nurn· . } b Ntaktakrlf a- urn

Contoh dalam kalimat: (63) ltah urns supa hadiah. 'Kita semua mendapatkan hadiah:

(64) Ewen balime tulak ka tana. 'Mereka berlima pergi ke ladang:

150

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

4. Frasa Pronominal berpola Prtakrtfatautaktakrtf+ Dem Frasa pronominal berpola Prtakrifatautaktakrif + Dem, misal­ nya ikei tuh 'kami ini' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

PrOntakrlf (ikeI)}

-.. Pron(takrifatautaktakrifj + Dem

Dem (tuh) Contoh dalam kalimat: (65) likei tuh uras hampahari 'Kami ini semuanya bersaudara:

5. Frasa Pronominal berpola PrOntakrif + Adv Frasa pronominal berpola PrOntakrif + Adv, misalnya aku hindai 'saya lagi' dan ie kea 'ia pula' terbentuk dari kons­ truksi berikut. Konstruksi {

J} -.. Prontakrif + Adv

Prontakrif (aku Adv (hindaI)

Contoh dalam kalimat:

. (66) Aku hindaije kana suhu rentah.

'Saya lagi yang disuruh-suruh:

(67) Ie kea je manang intu lomba te 'Ia pula yang menang dalam lomba itu:

6. Frasa Pronominal berpola Adv + Prtakrtf + Adv Frasa pronominal berpola dia + Prtakrif + Adv, misalnya dia ie bewei 'bukan hanya dia' terbentuk dari konstruksi berikut.

L

Adv (dia) } Konstruksi \ . Prontakrif (ieJ

-.. Adv + PrOntakrif + Adv

Adv(bewez) Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

151

Contoh dalam kalimat: (68) Dia ie beweije kana fait.

'8ukan hanya dia saja yang dimarahi: 7. Frasa Pronominal berpola Adv .,. Prontakrlf + (afiks)~Num

Frasa pronominal berpola Adv + POrntakrif + (afiks)­ Nurn" misalnya dia ewen (ba)-jahawen bewei 'tidak hanya mereka berenam' terbentuk dari konstruksi berikut Adv(dia)

Konstruksi

Prontakrif (ewen)

prefiks (ba)

-.. dia + Prontakrif + (prefiks)-Num Num Uahawen) Adv(bewez)

Contoh dalam kalimat: (69) Dia ewen bajahawen beweije kana hukumgurue.

'Tidak hanya mereka berenam yang kena hukum gurunya: 8. Frasa Pronominal berpola dia + Pron + Adv Frasa pronominal berpola dia + Pron + Adv, misalnya dia ikau bewei 'bukan hanya kamu sendiri' terbentuk dari konstruksi berikut.

1

Adv(dia) } Konstruksi ' \ Pron (ikau) -.. Adv+ Pr + Adv

Adv (bewez) Contoh dalam kalimat: (70) .Dia ikau beweije kana faite '8ukan hanya kamu sendiri yang dimarahinya:

152

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

9. Frasa Pronominal berpola Prontakrlf + P + FN atau Prontakrlf Frasa pronominal berpola PrOntakrif + dengan + FN atau Prontakrif terbentuk dari konstruksi berikut. Prontakrif (aku) p (dengan)

(a)

L

:~i Num (lime)}

....Prontakrif+ P + FN atau Prontakrif

N (ratus)

N(murid)

N

Contoh dalam kalimat:

(71) Aim dengan lime ratus murid te rami-rami umbasenam. 'Aku dengan lima ratus murid itu ramai-ra­ mai mengikuti senam:

(b)

Kons­ truksi

~

Prontakrif (aku)}

P (dengan)

.... Prontakrif + P + Prontakrif

PrOntakrif (Ie)

Contoh dalam kalimat:

(72) Aim dengan ie mananjung badue. 'Saya dengan dia berjalan berdua:

(73) Aim dengan ie bakawal. 'Saya dengan dia berteman:

4.1.2.1.4 Frasa Numeralia Frasa numeralia dalam BDN terbagi menjadi lima bentuk. Pola-pola konstruksinya sebagai berikut. 1. Frasa numeralia berpola Numtakrifl + Numtakril2 ± Numtakrif_(n} Frasa numeralia berpola Num takrif1 + Numtakril2 ± NUmtakrif-(n) terbentuk dari konstruksi berikut. Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

153

Num (telu)

}

(a) Konstruksi {

..... Numtakrifl + NUmtakrif2

Num (walas) Contoh dalam kalimat:

(74) Atun telu walas kungan manuk ayue. ~da tiga belas ekor ayam miliknya:

Kons­ (b) truksi

t

NUm(dUe) }

N (puluh)

..... Numtakrifl + Numtakrif2 ± NUmtakrif-(n)

Num (lime)

Contoh dalam kalimat:

(75) Nomor huma ikei iyete dua puluh lime. 'Nomor rumah kami yaitu dua puluh lima: umUahawen) N (ratus) ( e)

Kons­

truksi

Num (uju) N (puluh)

Num (epat)

.....NUmtakrifl + Numtakrif2 ± Numtakrif_(n)

Contoh dalam kalimat:

(76) Upah je inarimae iyete jahawen ratus uju puluh epat ribu. 'Upah yang diterimanya yaitu enam ratus tujuh puluh empat ribu:

Num (ije) N Uuta) (d) Kons­

truksi

Num (lime) N (ratus)

..... Numtakrifl + Numtakrif2 ± Numtakrif_(n)

Num (epat) N (puluh) 154

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh dalam kalimat:

(77) Gaj; ayue wete ije juta lime ratus ribu epat puluh rupiah. 'Gaji miliknya yaitu satu juta lima ratus ribu empat puluh rupiah: 2. Frasa numeralia berpola NUmtakrif + Bilangan pecahan Frasa numeralia berpola NUmtakrif + bilangan pecahan, yakni ije satengah 'satu setengah' terbentuk dari konstruksi berikut. Num (ije) } Konstruksi { ... NUmtakrif + Bp Bp (satengah) Contoh dalam kalimat:

(78) Galasje pusit te ije satengah lusin karee. 'Gelas yang pecah itu satu setengah lusin ba­ nyaknya: 3. Frasa numeralia berpola Numtakrif+ (Pr) + NUmtakrif Frasa numeralia berpola NUmtakrif + (P [tutang 'dan', atawQ 'atau', baya 'tetapi']) + NUmtakrif terbentuk dari konstruksi berikut.

L Num(due)

}

(a) Konstruksi \ . Pr (tun tang)

... NUmtakrif + Pr + NUmtakrtf

Num (telu)

Contoh dalam kalimat: (79) Ruko ayun ike; te ;ntu jalan Pattimura nomor

due tuntang telu. 'Ruko milik kami itu di jalan Pattimura no­ mor dua dan tiga:

L

Num(ije)

(b) Konstruksi\. Pr (atawa)

}

... NUmtakrtf+ Pr+ Numtakrtf

Num (due) Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

155

Contoh dalam kalimat:

(80) Ije atawa due kungan kah manuk je inyam­ balih itah tuh? 'Satu atau dua ekor ayam kah yang kita sembelih ini?'

L

Num (ye) } (c) KonstrUksi,\ Pr (baya) . . NUmtakrif + Pr + Numtakrif Num (due) Contoh dalam kalimat: (81) (Dia) ije baya due asukuje nihau lnakau uluh. '(Bukan) satu, tetapi dua anjingku yang hi­ lang dicuri orang:

4. Frasa numeralia berpola Adv + (NUmtakrlf' FNum) Frasa numeralia berpola Adv + (NUmtakrif' FNum) ter­ bentuk dari konstruksi berikut. (a) Konstruksi

<

Adv (tikas) } Num (due)

..

Adv + (NUmtakrif , FNurn)

Contoh dalam kalimat: (82) Tikas due anak manuk teo 'Hanya dna anak ayam itu:

LAdY (hampir)} (b) Konstruksi,\Num (lime) . .Adv+ (Numtakrif, FNum) N (puluh)

Contoh dalam kalimat:

(83) Nungkep lime puluh kungan manuke matei awl katipei. 'Hampir lima puluh ekor ayamnya mati karena sakit mata: 156

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

. ee) Konstruksl

~

AdV (Iabth)} Pr (bara)

.

Num (dua) .....Adv + (NumtakrifJ FNum) N (puluh)

Contoh dalam kalimat: (84) Labih bara dua puluh provinsi umba fes­ tival budaya 'Lebih dari dua puluh provinsi mengikuti festival budaya:

5. Frasa numeralia berpola Num + N Frasa numeralia berpola Num + N, misalnya papire murid 'beberapa murid' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

Num (papire)}

..... Num + N

N (walas)

Contoh dalam kalimat:

(85) Papire murid dia muhun akan sa kula awi kana te­ saupani. 'Beberapa murid tidak masuk ke sekolah karena terkena wabah muntaber:

4.1.2.1.5 Frasa Verbal Frasa verbal dalam BDN terbagi atas sembilan bentuk. Pola-pola konstruksinya adalah sebagai berikut.

1. Frasa verbal berpola Vaktif + N Frasa verbal berpola Vaktif + N, misalnya mitur baju 'menjahit baju' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

V (mitur)}

..... Vaktif + N

N (baju) Bab IV Sintaksis Bahasa Oayak Ngaju

157

Contoh dalam kalimat: (86) Mina mitur baju mama je barabit. 'Bibi menjahit baju paman yang robek' 2. Frasa verbal berpola Vakttf + VIaln Frasa verbal berpola Vaktif + V1aim misalnya mimbit tulak 'mengajak pergi' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

V (mimbit)}

... V aktif + V1ain

V (tulak)

Contoh dalam kalimat: (87) Bapa mimbit tulak ikei uras akan Kapuas. 'Ayah mengajak pergi kami semua ke Kapuas: 3. Frasa verbal berpola Vaktlf + Nt + Nz ..., Vakttf + Nz (akan) + Nt Frasa verbal berpola Vaktif + N1 + N2 - Vaktif + N z (akan) + N1 terbentuk dari konstruksi berikut.

(al

KonstrUksi~~:~:~)}'" v N1 N2 aktlf

+

+

N (baju)

Contoh dalam kalimat: (88) Mina mitur mama baju. 'Bibi menjahitkan Paman baju:

(b) Konstruksi

158

~

v (manjahit)} N (baju) Pr (akan) ... Vaktif + N2 + (Pr) +Nl N (mama)

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh dalam kalimat: (89) Mina mamitur baju akan mama.

'Bibi menjahit baju untuk paman:

LV (manoirim)} (c) Konstruksi\N (andO

-+-vaktif + Nl + Nz

N (panginan)

Contoh dalam kalimat: (90) Induku mangirim andi panginan. 'Ibuku mengirim adik makanan:

(d) Konstruksi

{

V (mangirim)}

N (panginan)

Pr (akan)

-+- Vaktif + Nz + (Pr) +N1

N (andO

Contoh dalam kalimat: (91) Mamah mangirim panginan akan andi.

'Ibu mengirim makanan untuk adik.' 4. Frasa verbal berpola Vpaslf ± Pr + N - Pr + N + Vpaslf

Frasa verbal berpola Vpas1f ± Pr + N - Pr + N + terbentuk dari konstruksi berikut.

Vpasif

LV

(tabaca) } (a) Konstruksi\pr (awl) -+- Vpasif ± Pr + N N (bue)

Contoh dalam kalimat: (92) Surat te tabasa awi Hue. 'Surat itu terbaca oleh Kakek.'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

159

l

pr (aWl)

(b) Konstruksi ' \N (bue)

}-.pr

+ N + V"',

V (tabaca)

Contoh dalam kalimat: (93) Awi bue tabasa surat teo 'Oleh kakek terbaca surat itu.' 5. Frasa verbal berpola Vpasif + Vlain Frasa verbal berpola Vpasif + Vlain , misalnya kana suhu 'disuruh pergi' terbentuk dari konstruksi berikut.

Konstruksi

<

V (kana)}

V (suhu)

...

Vpasif+

V1ain

Contoh dalam kalimat: (94) Ikef kana suhu tulak ka tana.

'Kami disuruh pergi ke ladang:

6. Frasa verbal berpola Vdasar + Vdasar Frasa verbal berpola Vdasar + Vdasar terbentuk dari konstruksi berikut.

<

V (kana)

Konstruksi

V (sangit)

}

...

Vdasar + Vwar

Contoh dalam kalimat: (95) Jagau kana sangit Bapae.

'Jagau kena marah Ayahnya:

(96) Andiku kana pukul kawale je badungil. 1\dikku kena pukul temannya yang nakal:

160

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

7. Frasa verbal berpola VantipaSir + N Frasa verbal berpola Vantipasi2 + N, misalnya bakabun jawun 'bertanam singkong terbentuk dari konstruksi ber­ ikut. Konstruksi {

V (bakabUn)}

..... V + N

N (jawau)

Contoh dalam kalimat: (97) lkei bakabunjawau intu tana ikei. 'Kami bertanam singkong di ladang kami.'

8. Frasa verbal berpola VIntransilif + V1aIn Frasa verbal berpola Vintransitif + V 1ain, misalnya tulak ma­ miligula 'pergi membeli' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

V (tulak)

}

..... Vintransltlf + V 1ain

N (mamilI)

Contoh dalam kalimat: (98) Kumpa tulak mamili gula akan warung.

'Kumpa pergi membeli gula ke warung:

9. Frasa verbal berpola V1 + V;z Frasa verbal berpola Vi + V z , misalnya kuman mihup 'makan minum' terbentuk dari konstruksi berikut. Konstruksi {

V (kuman)}

..... Vi + Vz

V (mihup)

Contoh dalam kalimat: (99) lkei tende akan kuman mihup intu warung teo 'Kami berhenti untuk makan minum di warung itu: 11) Verba aktif yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif. 12) Verba aktif yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

161

Sembilan pola frasa verbal di atas menunjukkan bahwa frasa verbal dalam BDN sangat variatif dan memiliki potensi untuk berkembang.

4.2 KLAUSA 4.2.1 Pengertian Klausa Klausa ialah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana dkk., 1980: 208). Sementara itu, Chaer (2007: 233) menyatakan bahwa klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata­ kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frasa, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan. Selain fungsi predikat yang harus ada dalam konstruksi klausa ini, fungsi subjek boleh dikatakan bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat tidak wajib. Selanjutnya, Ramlan (1981: 62) mengatakan bahwa unsur inti klausa adalah S dan P. Akan tetapi, S juga sering tidak dimunculkan, misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa dan kalimat jawaban. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klaus a adalah satuan gramatik yang terdiri atas predikat, baik diikuti oleh subjek, objek, pelengkap, keterangan atau tidak dan merupakan bagian dari kalimat. Penanda klausa adalah predikat, tetapi yang menjadi klausa bukan hanya predikat. Jika mempunyai subjek, klausa terdiri atas subjek dan predikat. Jika tidak mempunyai subjek, klaus a terdiri atas predikat dan objek. Jika tidak memiliki objek, klausa terdiri atas predikat dan keterangan. Dengan demikian, penanda klausa adalah predikat, tetapi yang dianggap sebagai unsur inti klausa adalah subjek dan predikat. Jenis klausa dapat diperbedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikatnya. 162

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klaus a yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat; berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Ber­ beda dengan klausa bebas yang berstruktur lengkap, klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur yang ada dalam klausa ini mungkin hanya subjek saja, mungkin hanya objeknya saja, atau juga hanya berupa keterangan saja. Oleh karena itu, klausa terikat ini tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Umpamanya, konstruksi tadi pagi yang menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya: Kapan nenek membaca komik? Selanjutnya, Chaer juga mengatakan bahwa klausa terikat biasanya dapat dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya Klausa terikat yang diawali dengan konjungsi subordinatif biasanya dikenal dengan nama klausa subordina tifatau klaus a bahwahan, sedangkan klausa lain yang hadir bersama dengan klausa bawahan itu di dalam sebuah kalimat majemuk disebut kJausa atasan atau klausa utama (Chaer, 2007: 235-236). Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi pre­ dikatnya, klausa dapat dibedakan atas klausa verbal (klausa yang predikatnya berkategori verba), klausa nominal (klausa yang predikatnya berupa nomina atau frasa nominal); klausa ajektival (klausa yang predikatnya berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frasa ajektiva); klausa adverbial (klausa yang predikatnya berupa frasa yang berkategori adverbia); klausa numeral, klausa yang predikatnya berupa kata atau frasa numeralia. Sesuai dengan adanya tipe verba, dikenal ada­ nya (a) klausa transitif (klausa yang predikatnya berupa verba transitif), (b) klausa intransitif (klausa yang predikatnya berupa verba intransitif), (c) klausa refleksif (klaus a yang predikatnya berupa verba refleksif), dan Cd) klausa resiprokal (klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal, (Chaer, 2007). Dalam buku ini digunakan tiga dasar untuk mengklasifi­ kasikan klausa bahasa Dayak Ngaju. Ketiga dasar itu ialah se­ bagai berikut. Bab IV Sintaksis Bahasa Oayak Ngaju

163

(a] Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya; meng­ acu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu subjek (S) dan predikat (P). Oengan demikian, unsur klausa yang bisa tidak hadir adalah S sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir. (b) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan predikat; unsur negasi yang dimaksud adalah adak, bukan, be/urn, danjangan. (e) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang mendu­ duki fungsi predikat; klausa ini dapat diklasifikasikan men­ jadi: (1) klausa nominal, (2) klausa verbal, (3) klausa ajek­ tival, (4) klausa adverbial, (5) klausa numeralial, (6) klausa preposisional, dan (7) klausa pronominal.

4.2.2 Klausa Bahasa Dayak Ngaju Klausa merupakan satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana, 1984). Ramlan (1981) menambahkan bahwa unsur klausa yang selalu ada adalah predikat (P) sehingga klaus a disebut juga konstruksi yang predikatif. Oalam kaitannya dengan klausa BON, ketentuan-ketentuan di atas akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan (1) ciri, tipe dan pola klausa berdasarkan kategori frasa pengisi predikatnya, (2) klausa negatif dan klausa positif, dan (3) klausa bebas dan klausa terikat.

4.2.3 Ciri, Tipe, dan Pola Klausa Berdasarkan Kategori Frasa Pengisi Predikat Berdasarkan ketegori frasa pengisi predikatnya, penama­ an klaus a BON dibedakan atas: (a) klausa nominal, (b) klausa verbal, (e) klausa ajektival, (d) klausa adverbial, (e) klaus a preposisional, dan (e) klausa numeralia.

164

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(1) Klausa Nominal Klausa nominal merupakan klaus a yang predikatnya diisi oleh frasa nominal. Contoh: (99) a. Mamae palaok intu lewu te 'Pamanya pencari ikan di kampung itu' b. ie pambakal intu Petuk Liti 'Ia kepala desa di Petuk Liti' c. sapau humae sirap

'atap rumahnya sirap'

Klausa (99) jika dianalisis secara fungsional, frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa nominal. a. ~ [JJl/J;I.Dk intu lew« te S P/FN

K

b. fupambakal intu Petuk LiN

S P/FN K

c. sapau humae simJ2

S

P/FN

(2) Klausa Verbal Klausa verbal adalah klausa berpredikat berupa frasa verbal. Secara umum klausa BDN dapat berupa verba transitif, intransitif, bitransitif, verba berpelengkap, verba aktif, dan verba pasif. 1. Klausa verbal transitif (100) a. Sangumang mampakasak harte 'Sangumang menanak nasinya' b. iye manjijit uei 'dia menarik rotan'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

165

c. indue manyandurung anake hapan kakaput . 'ibunya mengerudungi anaknya dengan kain panjang' Klausa (100) menunjukan babwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah verba transitif. Ciri verba transitifditandai kehadiran objek (klaus a yang berobjek). a. Sangumang mampakasak bJ:uie. S P/FV7rans 0 b. ~ manjijitygl

S P/FVTrans 0

c. iI1dJJ£. manyanduMlng!l.D.flke. hapan kakaput S P/FV7rans 0 K 2. Klausa verbal intransitif (101) a. Andl nangkariak ~dik berteriak' b. ;e manangis 'dia menangis'

c. ketun musti barendeng tuntang batawat 'kalian harus berhati-hati dan waspada' d. uluh mandui hung batang danum 'orang mandi di sungai' Klausa (101) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah verba intransitif. Ciri verba intransitif ditandai ketidakhadiran objek atau verba pengisi klausa tidak menunut kehadiran objek (klausa yang tidak berobjek). a Andi. nangkariak

S PIV/ntrans

b. Ie. manangis

S P/VIntrans

166

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

c. l«mm mum barendeng tuntang butawat

S

P

d u1J1h. mandui hung batang danum S PjVlntrans K

3. Klausa verbal bitransitif (102) a. umai mampakirim andi duit 'ibu mengirimi adik uang' b. bue mampahata ikei patua 'kakek membekali kami petuah' c. mina manyarungan ikei panginan

'bibi menyuguhi kami makanan' d. ie manenga ikei bua 'dia memberi kami buah'

e. bapa manampa andi buwu 'bapak membuatkan adik bubu' Klausa (102) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa verba bitran­ sitif. Ciri verba bitransitf ditandai kehadiran objek dan pelengkap. Kaluasa dengan ciri verba bitran­ sitif lazim juga disebut dengan klausa tindakan ber­ sasaran berpelengkap. a mnai. mampaldrim !lJJ.Jii dJJ.it S P/FVBitrans 0 Pel b. k.ui1. mampahata i.kei patug. S P/FVBitrans 0 Pel c. l11.ina mlllO'arungan i.kei panginan S P/Bitrans 0 Pel d. if:. manenga i.kei lrua. S P/Bitrans 0 Pel e. /mpIJ. manampa an.di ilIll1llL

S P/Bitrans 0 Pel

Bab IV Sintaksis Bahasa Oayak Ngaju

167

4. Klausa verbal dwitransitif (104) a. umai manjaja sayur 'ibu berjualan sayur' b. mama bakirim surat 'paman berkirim surat' c. aku handak balajar basa Ngaju 'aku akan belajar bahasa Ngaju'

Klausa (104) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa verba dwitran­ sitif. Ciri verba dwitransitif ditandai dengan kehadir­ an pelengkap (klausa berpelengkap). a

ImlfJ.i manJaJa sqyur

S

P/V

Pel

b. llUlllUl baldrim sumt.

S P Pel

c. I1kY. haudakbqjar basa Ngaju S

P

Pel

S. Klausa verbal aktif (105) a. Hdo mamisi [auk 'Edo memancing ikan' b. apang mancangkul petak 'ayah mencangkul tanah'

c. ewen manggau aku 'mereka mencari saya' d. ikei manyauk saluang 'kami menangguk saluang e. umai mampakanan manuk 'ibu memberi makan ayam f. bitie balumur kinyak

'badanya berlumur lumpur' 168

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Klausa (105) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klaus a itu adalah verba aktif. Ciri verba aktif pada klausa adalah subjek suatu klausa merupakan pelaku perbuatan yang dinyatakan pada predikat. a. Ed,Q marais; I.aJJk

S PjV 0

b. flPJ1J1IJ manct1UlJkul [J.f3JJ.k

S

P

c. ~manggaugku S PjV 0

0



d. ikei manvauk saiuang

S PjV 0

e. 1Jl11.!li mampakanan J11!ll11Jk.

S PjV 0

f. b.iJi.g balumur ki.DJtgk

S PjV Pel

6. Klausa verbal pasif (106) a. manuk inangkarap asu 'ayam diterkam anjing' b. edan dahuyan inggergaji awi Aba 'dahan durian digergaji 'oleh) Ayah' c. Ie inutuk handipe endau

,dia dipatuk ular tadi' d. meja te musti iandak intu baun huma 'meja itu harus ditaruh di depan rumah' e. paingku tatusuk duhi 'kakiku tertusuk duri'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

169

Klausa (106) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klaus a itu adalah frasa verba pasif. Ciri verba pasifpada klausa adalah subjek suatu kla­ usa tidak berperan sebagai pelaku, tetapi sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat. a man uk inangkamp flS1l

S

PjV

0

b. dahan dahuyan Inggergaji (aw.i).Aba. S PjV 0

c. if:. irJQmk handipe endmJ.

S PjV

0

K

d. meja te mum iandakintu baUD patin Janji S PjV K e. paingkn tatusuk duhi

S PjV 0

(3) Klausa Ajektival Dalam BDN, predikat klausa ajektival diisi oleh frasa ajektival yang dapat disertai adverbia sebagai pewatasnya, tetapi subjek lazim diisi oleh frasa nominal dengan predikat komplemen yang diisi oleh frasa ajektival. (107) a. likute pehe tutu

'punggungnya sangat saldt'

b. mahamen iye balua humae 'malu dia ke luar rumahnya' c. mama dta basingi andau tuh 'paman tidak marah hari ini'

d. auhe Mama haban paham 'kabamya Paman sakit keras' e. paingku bagatel

'kakiku gatal'

170

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Klausa (107) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa ajektival adalah frasa ajektival. a. 1i.JsJJ,tg pehe tutu

S P/FA

b. mabamen ij?e. balua humae

P/FA S K

c. mmruz diR basingi andau tub S

d

P/FA

K

~ MiItJw. haban paham



S P/FA

e. patngku bagatel

S P/FA

K

(4) KlausaAdverbial Klausa adverbial merupakan klausa yang fungsi predip katnya diisi oleh frasa adverbial. (108) a. kadungile puna pahalau

'kenakalannya memang terlalu'

Klausa (108) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa adverbial adalah frasa adverbial. Klausa adverbial BDN sangat terbatas. a. kadungUe puna palalau

S

P/FAdv

(5) Klausa Preposisional

Klausa ini merupakan klausa yang fungsi predikatnya diisi oleh frasa preposisional. Dalam BDN, frasa semacam ini terletak di sebelah kanan frasa nominal yang mengisi fungsi subjek klausa. (109) a. piring intu hunjun meja

'piring di atas meja'

b. lunta intu jukung

1ala di sampan'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

171

c. ikei huang himba malem endau 'kami di dalam hulan tadi malam' d. ewen bara huma

'mereka dari rumah'

Klausa (109) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa preposisional. a. piring. intu hunjun /IJfdJl.

S PjFPrep Pel

b. hmm intujukung

S PjFprep

c. ikei huang bimba rnalern endau S PjFPrep K d~bamhuma

S PjFprep

(6) Klausa Numeralial Klausa numeralial adalah klausa yang predikatnya diisi oleh frasa numeralial. (110) a. manuke lime kungan

'ayamnya lima ekor'

b. anak Mama due biti 'anak Paman dua orang'

c. hadannanku due kungan 'kerbauku dua ekor' d. handue tuh ewen kan huma 'kedua kali ini mereka ke rumah' e. ewen telu hapaharl 'mereka tiga bersaudara

Klausa (110) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa numeralia. Frasa numeralia yang 172

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

mengisi fungsi predikat berada di sebelah kanan frasa nominal yang mengisi fungsi subjeknya. a. manuke lime kunsum

S PjFNum

b. anak Mama due biti

S PjFNum

c. hadanganku due lcunslan

S PjFNum

d. hand«e tub ~ kan huma PjFNum S K e. &1aill tel« hapahari

S PjFnum

4.2.4 Ciri, Tipe dan Pola Klausa Berdasarkan Ada atau tidak Unsur Negatif yang Menegatifi
'pamanku kepala desa di kampung itu' b. Sangurnang manampa tangkalak 'Sangumang membuat tangkalak (jenis bubu)'

c. iye mahamen balua hurna fdia malu ke luar rumah' d. ewen bara huma

'mereka dari rumah'

Bab IV Sintaksis Bahasa Oayak Ngaju

173

e. ewen telu hapahari 'mereka tiga bersaudara' Klausa (111) menunjukan bahwa predikat dalam klausa ini dapat diisi oleh frasa nominal, frasa verbal, frasa ajektival, prasa preposisional, dan frasa numeralia. a. mamaku pambakal hung lewu te S P/FN K h. Sangumang manampa tangkalak S P/F1f 0

c. ~ mahamen ba/ua huma

P/FA

S

0

d ~barahuma S P/FPrep

e.

~ tela hapahari

S



P/FPrep

(2) Klausa Negatif Klausa ini merupakan klausa yang memiliki unsur ne­ gatif atau ingkar, yaitu kata negatif atau ingkar) yang dapat menegatifkan atau mengingkarkan fungsi predikat. (112) a. lye beken tambiku

'dia bukan nenekku'

b. aku dia kuman

'aku tidak makan'

c. bawi te dia bakena 'perempuan itu tidak cantik' Oalam BON, kata negatif atau kata ingkar yang dapat me­ negatifkan atau mengingkarkan predikat adalah dia 'tidak', beken 'bukan', hindai 'belum', dan ela 'jangan'. Klausa (112) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat pada klausa itu adalah frasa nomina, frasa verba, 'dan frasa adverbial. 174

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

a. ~ OOken tambilru

S P/FN

h. aku. diu kuman

S P/FV

c. bJnfiJ;c, diu bakena

S

P/FA

4.2.5 Klausa Bebas dan Klausa Terikat Berdasarkan strukturnya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mem­ punyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Berbeda dengan klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap, klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Unsur yang ada dalam klausa terikat mungkin subjek, predikat, objek, atau hanya berupa keterangan saja. Oleh karena itu, klausa terikat ini tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Selanjutnya, Chaer juga mengatakan bahwa klausa terikat yang diawali dengan konjungsi subordinatif biasanya dikenal dengan nama klausa subordinatiJ, atau klausa bahwahan, sedangkan klausa lain yang hadir bersama dengan klausa bahwan itu di dalam sebuah kalimat majemuk disebut klausa atasan atau klausa utama (Chaer; 2007:235-236).

(1) Klausa bebas Klausa bebas sekurang-kurangnya mempunyai subjek, predikat, dan berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa bebas dalam BDN predikat dapat diisi oleh frasa no­ minal, frasa verbal, frasa ajektival, frasa preposisional, dan frasa numeralia. (113) a. sungeijete eka ikei mandui

'sungai itu tempat kami mandi'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

175

b. ikau mampatei kala 'engkau membunuh kalajengking' c. mamae basingi andau

'pamannya marah tadi' d. ie huang himba malem endau 'dia di dalam hutan tadi malam' e. manukku lime kungan 'ayamku lima ekor' Klausa (113) menunjukan bahwa frasa pengisi predikat­ nya adalah frasa nominal, frasa verbal, frasa ajektival, frasa preposisional, dan frasa numeralia. a. sungeijete eka ikei mandui S P/FN

b. ikau mampatej kala

S P/FV 0

c. ~ basingiendml.

S

P/FA

K

d. i£ huang hjmba malem endau S P/Fprep K

e. manukku ljme kungan

S P/FNum

(2) Klausa Terikat Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap. Un­ sur yang ada dalam klausa terikat mungkin subjek, predikat, objek, atau keterangan saja, sehingga tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Di samping itu, klausa terikat yang diawali dengan konjungsi subordinatif biasanya dikenal dengan nama klausa subordinatifatau klausa bahwahan. Klausa terikat yang terdapat dalam BDN berupa klausa nominal, klausa verbal, klausa relatif atau klausa ajektival, klaus a adverbial, klausa preposisional, klausa numeral, dan klausa komplemen. 176

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1. Kalusa terikat dengan struktur yang tidak lengkap

Klausa (114) berikut menunjukan bahwa konstruksi frasa pengisi predikat pada klaus a itu berupa klausa nominal, klausa verbal, klausa relatif atau klausa ajektival, klausa adverbial, klausa preposisional, dan klausa numeral. Konstruksi frasa pengisi predikat pada (114a)-(114f) ada­ lah kalimat jawaban untuk kalimat tanya. Berturut-turut konstruksi itu dapat direkonstuksi melalui kalimat berikut. (114) a. Eweh kawalmu?:

(kawalku) Erika tuntang Rosana

o

FN

'Siapa temanmu?' :

'(temanku) Erika dan Rosana' .

o

FN

b. En andimjadi bull bara sakula?:

(adingku) hindai buli

FV

o

~pakah Adikmu

sudah pulang dari sekolah?' : '(adikku) belum pulang' FV

o

c. Kilen ampi indum wayah tuh?:

(induku) haban paham

o

FA

'Bagaimana keadaan ibumu sekarang?' : '(:i.b:ulru) sakit keras' FA

o

d. Kadungil anak te pahalau, dial :

(kadungil anak tel puna pahalau

FAdv

o

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

177

'Kenakalan anak itu terlalu, bukan?' : '(kenakalan anak itu) memang terlalu' FAdv

o

e. lndum akan kueh?:

(indungku) akan pasar

FPrep

o

'Ibumu ke mana?' :

'(ibuku) ke pasar'

o FPrep f. Pire kungan ikau pelum manuk? :

(maunukku) lime kom~an

FNum

o

'Berapa ekor engkau pelihara ayam?' : '(ayamku) lima ekor' FNum

o

Berdasarkan klausa (114) di atas klausa terikat yang terdapat dalam BDN berupa klausa nominal, klausa verbal, klausa relatif atau klausa ajektival, klausa adverbial, klausa preposisional, dan klausa numeral. Masing-masing klausa itu seperti berikut ini. (115) a. (kawalkuJ Erika tun tang Rosana FN '(temanku) Erika dan Rosana'

o

b. (adingku) hinda; bull

o

FV

'(adikku) belum pulang'

c. (induku) baban pabam o FA

'(ilrnkY) sakit keras'

178

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

d. (kadungil anak te) puna pahalau

o

FAdv '(kenakalan anak itu) memang terlalu' e. (indungku) akan pasar FPrep

'(ibuku) ke pasar'

o

f. (maunukku) lime kongan

o

FNum

'(ayamkuJ lima ekor'

2. Klausa subordinatif Klausa terikat yang diawali dengan konjungsi subor­ dinatifyang dikenal dengan klausa subordinati/dalam BDN datap ditemukan pada klausa berikut ini. a. Konjungsi subordinatifwaktu: bara'sejak' (116) pate batimpang bara kurlk 'kakinya pincang sejak ked!' b. Konjungsi subordinatif syarat: amun 'jika' (117) ikei palus tulak amun ie dumah 'kami pergi jika dia datang' c. Konjungsi subordinatif pengandaian; jaka 'andaikan' (118) huma te dia bakarakjaka ihaga tutu-tutu 'rumah itu tidak akan rusak andaikan diurus dengan baik' d. Konjungsi subordinatif tujuan; mangat' agar' (119) Ie bakasai mangat tampa bakena 'dia bersolek agar terIihat cantik'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

179

e. Konjungsi subordinatif konsesif; aluh 'biarpun'

(120) ikei dumah aluh dia irawei 'kami datang biarpun tidak diundang' f. Konjungsi subordinatif pembandingan; tanding 'ibarat' (121) ewen puna haka beken tandinglangit tuntang

petakdanum 'mereka sangat berbeda ibarat langit dan bumi' g. Konjungsi subordinatif sebab; haranan 'karena' (122) batang kayu te balihang haranan inampuh

riwut 'pohon itu tumbang karena diterpa angin' h. Konjungsi subordinatifhasi1; manampa 'sehingga' (123) alem te ujan labat tutu manampa lewun ikei

lelep 'malam itu hujan sangat lebat sehingga kam­ pung kami banjir' i. Konjungsi subordinatif alat; mahapan 'dengan' . (124) ie maneweng batang kayu te mahapan baliung 'dia menebang pahon itu dengan beliung' j. Konjungsi subordinatif cara;jatun 'tanpa'

(125) pesta te tatap ilalus aluh jatun pandumah

uluhbakase 'pesta itu tetap dilaksanakan walau tanpa ke­ hadiran orang tuanya' k Konjungsi subordinatifkomplementasi; amun 'bahwa'

(126) fye bakesah amun bihin ewen mandirik hung hete 'ia bercerita bahwa dahulu mereka menebas di situ'

180

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

1. Konjungsi subordinatif atributif; je 'yang' (127) Andingkuje basalawar babilern ~dikku yang bercelana hitam' m. Konjungsi subordinatifperbandingan; sama dengan 'sa­ madengan' (128) bajue sarna dengan ayungku 'bajunya sarna dengan milikku' Berdasarkan data klausa subordinatif di atas, dalam BDN terdapat klausa subordinatif yang menyatakan (a) waktu, yaitu bara kurik 'sejak ked!" (b) syarat, yaitu amun Ie dumah 'jika dia datang', (c) pengandaian, yaitu jaka ihaga tutu-tutu 'andaikan diurus dengan baik', (d) tujuan, yaitu mangat tampa bakena 'agar terlihat eantik: (e) kon­ sesif, yaitu aluh dia irawei 'biarpun tidak diundang', (f) pembandingan, yaitu tanding langit tun tang petak danum 'ibarat langit dan bumi', (g) sebab, yaitu haranan inampuh riwut 'karena diterpa angin', (h) hasil, yaitu manampa lewun ikef lelep 'sehingga kampung kami banjir', (i) alat, yaitu mahapan baliung 'dengan beliung', CD eara, yaitu jatun pandumah uluh bakase 'tanpa kehadiran orang tuanya', (k) komplementasi, yaitu amun bfhfn ewen mandirik hung hete 'bahwa dahulu mereka menebas di situ', 0) atributif, yaitu je basalawar babilem 'yang bereelana hitam', dan (m) konjungsi perbandingan, yaitu sarna dengan ayungku 'sarna dengan milikku'.

4.3 KALIMAT 4.3.1 Jenis-Jenis Kalimat Berdasarkan Strukturnya Berdasarkan struktumya, kalimat dibagi menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

181

4.3.1.1 Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa (AIwi dkk, 2003). Klausa, seperti tercantum dalam Ramlan (2001), merupakan satuan gramatika yang terdiri atas subjek dan predikat. Klausa tersebut dapat pula disertai objek, pelengkap, atau keterangan. Dengan demikian, struktur klausa dalam kalimat tunggal adalah SP (0, Pel, K). Contoh: AIliIJg. manangis.

S

Kflkg bapukan bgjy.

S

P

P

'Kakak mencuci baju:

0

lJ:. manJadi pambakal. S

Adik menangis:

P

'Ia menjadi kepala desa;

Pel

Kalimat (129)-(131) di atas merupakan kalimat tunggal karena hanya terdiri atas satu klausa. Kalimat (129) terdiri atas subjek ading 'adik', dan predikat manangis 'menangis'. Kalimat (130) bersubjek kaka 'kakak', berpredikat mampukan 'mencuei', dan berobjek baju 'baju'. Kalimat (131) Kalimat terdiri atas subjek ie 'ia', predikat manjadi 'menjadi', dan pelengkap pambaka/ 'kepala desa'. (129)-(131) memenuhi syarat sebagai kalimat tunggal. Dengan demikian, kalimat tunggal dapat berpola SP, SPO, dan SPPel. Di samping berpola SP, SPO, dan SPPel, kalimat tunggal juga dapat memiliki pola seperti berikut.

1. Kalimat tunggal berpola SPK Verba atau pengisi fungsi predikat dalam kalimat tunggal berpola SPK menuntut adanya keterangan. Hal itu terlihat dalam contoh berikut. (132) Tisin tuh [nampa bara amas. S P K 'Cinein itu terbuat dari emas: 182

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(133) Ie. dumah bam lewu.

S

P

K

'Ia berasal dari desa: Subjek kalimat di atas adalah tisin tuh 'cincin itu' (132) dan Ie 'ia' (133). Predikat kalimat di atas, inampa 'terbuat' (132) dan dumah 'berasal' (133), mutlak memerlukan keterangan agar menjadi kalimat lengkap. Dalam hal ini, keterangan yang dipakai adalah bam amas 'dari emas' (132) dan bam lewu (dari desa' (133). Jika keterangan dihilangkan atau dilesapkan, didapatkan kalimat yang tidak berterima, seperti kalimat berikut.

(132a)*Tisin tuh inampa. '*Cincin itu terbuat: (133a) *Ie dumah.

'*Ia berasal:

Karena merupakan keterangan, posisi frasa kata depan (frasa preposisional) bam amas 'dari emas' dan bam lewu 'dari desa' dapat dipindahkan ke depan seperti berikut. (132b) Barn amas tisin te inampa. 'Dari emas cincin itu terbuat: (133b) Bara lewu ie dumah.

'Dari desa dia berasal:

2. Kalimat tunggal berpola SPOK Kalimat tunggal berpola SPOK ditandai dengan adanya preposisi yang menandai keterangan. Hal itu dapat dilihat pada contoh kalimat berikut. (134) Ie maimbittambang akangku. S

P

0

K

'Dia membawa oleh-oleh untukku: Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

183

(135) l.lmill. manampa kHpi akan Bapa. S

P

0

K

'Ibu membuat kopi untuk Bapak: Keterangan pada kalimat mobiIitasnya tinggi atau de­ ngan kata lain, letaknya dapat berpindah-pindah. Contoh:

(134a) Akangku i.e. mimbit tam bang.

K

S

P

0

'Untukku dia membawa oleh-oleh: (134b) I.e. mimbit akangku tambang. S

P

K

0

'Dia membawa untuk saya oleh-oleh: (13Sa) ilkml BIlJ;H;L.llm.J:Ji manampa kupi. K

S

P

0

'Untuk Bapak, Ibu membuat kopi: (135b) llm.J:Ji manampa akan Bapa kupi. S

P

K

0

'Ibu membuat untuk Bapak kopi:

4.3.1.2 Kalimat Majemuk Kalimat majemuk minimal terdiri atas dua kalimat atau klausa tunggal. Penggabungan dua kalimat tunggal bisa memerlukan kata penghubung atau bisa tidak. Pelesapan kata penghubung biasanya dikompensasikan dengan tanda baca titik koma (;). Contoh:

(136) Aku manyurat tutang i.e. manggambar. S

P

S

P

'Saya menulis dan ia menggambar: (136a) Aku manum: ie manggambar. S

P

S

P

'Saya menulis; ia menggambar.' 184

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Kalimat (136) terdiri atas dua klausa, yaitu alai. mayurat 'saya menulis' dan ie manggambar 'ia menggambar'. Kedua kalimat tersebut digabungkan dengan menggunakan kata penghubung tutang 'dan' sehingga menjadi kalimat majemuk. Namun, kata penghubung tutang dapat dihilangkan dan diganti dengan tanda kama titik kama (;), seperti pada cantah (136a). Dalam BDN terdapat tiga macam kalimat majemuk, yaitu . kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. (1) KalimatMajemukSetara (KMS) KMS terdiri atas unsur-unsur yang setara dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kalimat yang utuh. Kalimat utuh itu digabungkan dengankata penghubung (kanjungsi) atau tanda baca tertentu. Kata penghubung yang digunakan adalah tutang 'dan', atawa 'atau', dan angate 'tetapi', sementara tanda baca yang digunakan adalah tanda baca titik kama (;). Bagan berikut menggambarkan penggunaan kanjungsi pada kalimat mejemuk setara. Aku dumah; ie haguet. Kalimat Dasar 1

I

Konjungsi/ Pungtuasi

Akudumah 'Saya datang'

~

Subjek

Predikat

aku 'saya'

dumah 'datang'

'Saya datang; dia pergi: Kalirnat Dasar 2

I

Jehaguet 'Diapergi'

(j) palus 'lalu' atawa 'atau' tutang 'dan' angate 'tetapi'

Bab IV 5intaksis Bahasa Dayak Ngaju

--------

Subjek

Predikat

ie 'dia'

haguet 'pergi'

185

Berdasarkan hubungan makna antarkalimat pemben­ tuknya, KMS dapat dibedakan atas (1) KMS penjumlahan, KMS pemilihan, KMS perlawanan, dan KMS urutan. 1. KMS penjumlahan KMS penjumlahaIi atau gabungan terdiri atas dua atau lebih kalimat setara dan dapat berdiri sendiri yang digabung dengan bantuan kata penghubung tutang 'dan' atau tanda baca koma (;). Contoh: (137a) Bapa maja akan huma mina. 'Bapak bertamu ke rumah nenek: (137b) Umai maja akan huma mina. 'Ibu bertamu ke rumah nenek: (138a) Tambi haguet bapili akan pasar. 'Nenek pergi berbelanja ke pasar: (138b) Bue mamapas baun huma. 'Kakek menyapu halaman rumah:

Keempat kalimat di atas merupakan kalimattunggal yang dapat berdiri sendiri sebagai konstruksi yang mandiri. Jika digabungkan, kalimat-kalimat tunggal itu akan menjadi KMS dengan penghubung kata tun tang 'dan' atau tanda baca titik koma (;) seperti berikut. (137c) Bapa tuntang umai maja akan huma mina. 'Bapak dan ibu bertamu ke ruman nenek. (138c) Tambi haguet bapili akan pasar; bue ma­ mapas baun huma. 'Nenek pergi berbelanja ke pasar, kakek menyapu halaman rumah:

186

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Predikat dan keterangan kalimat (13 7 a) dan (13 7b) sarna sehingga dapat dirampatkan. Hal itu berbeda de­ ngan kalimat (138a) dan (138b) yang semua unsurnya berbeda sehingga tidak dapat dirampatkan. KMS di atas disebut dengan KMS penjumlahan. 2. KMS pemilihan KMS pemilihan adalah KMS yang antarunsurnya menyatakan hubungan pemilihan. Kata penghubung tutang 'dan', kata sambung atawa 'atau' dapat digunakan untuk menghubungkan antarunsurnya. Contoh:

(139) Ikau handak kuman bari basanga atawa mil 'Kamu mau makan nasi goreng atau mie?' (140) Kaka pusang mamili tas je hai atawa je kurik. 'Kakak bingung membeli tas yang besar atau yangkecil' (141) Ketun melai hetuh atawa umba? 'Kalian tinggal di sini atau ikut?' 3. KMS perlawanan KMS perlawanan adalah KMSyang hubungan unsur­ unsurnya menyatakan hubungan perlawanan. Kata penghubung yang biasa digunakan untuk penghubung antarunsur KMS perlawanan adalah 'angate 'tetapi'. Contoh:

(142) Bapajadi malihi, angate magun tege ih ie ben­ tuk itah. 'Bapak sudah meninggal, tetapi rasanya masih ada di tengah kita:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

187

4. KMS urutan KMS urutan adalah KMS yang antarunsumya me­ nyatakan hubungan urutan peristiwa. Konjungsi yang digunakan dalam KMS urutan adalah tutang 'dan', palus 'kemudian, lantas, terus'. Urutan klausa pada contoh­ contoh berikut sudah menunjukkan urutan kejadian yang dinyatakan dalam dua klausa. Berikut adalah con­ toh-contohnya. (143) Jeleng ikau mandui tutang manatap arepmu. 'Cepat kamu mandi dan mempersiapkan diri.' (144) Knka bull hanjulu palus tulak hindai. 'Kakak pulang sebentar kemudian pergi lagi' (145) Mama mamili uei palus manjual hindai. 'Paman membeli rotan lalu menjualnya kem­ bali' .

4.3.1.2.1 Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB) KMB adalah kaIimatyang unsur-unsumya tidak sederajat. Berbeda dengan KMS, salah satu unsur KMB tidak dapat berdiri sendiri sebagai konstruksi yang mandiri, tetapi bergantung pada konstruksi Jainnya. Dengan kata lain, dalam KMB terdapat ketergantungan antarunsumya. Kata penghubung yang biasa­ nya dipakai dalam KMB adalah metuh 'ketika', haranan 'kareml.', aluh 'walaupun/meskipun', uka 'agar', amun 'jika'. KMB terdiri atas anak dan induk kalimat. Ciri utama yang membedakan induk dan anak kalimat adalah kemandirian dan kata penghubung (konjungsi). Kalimat yang Iebih dapat berdiri sendiri atau mandiri disebut induk kalimat. Sebaliknya, kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri disebut anak kalimat. Bagan berikut akan menggambarkan penggunaan konjungsi pada kalimat majemuk bertingkat. 188

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Aku tame am un ewen beyem; ie haguet. 'Saya masuk jika mereka diam: Subjek

Predikat

Keterangan (Anak KaliInat)

--------

Konjungsi

Kalimat Dasar 2

I

metuh

'ketika'

haranan 'karena'

uka 'agar'

aku

tame

amun

ewen

benyem

'saya'

"masuk'

'jika'

'mereka'

'diam'

Berkaitan dengan pemakaian kata penghubung, kalimat yang dilekati atau mempunyai unsur kata penghubung disebut anak kalimat. Sebaliknya, kalimat yang tldak disertai kata penghubung disebut induk kalimat. Dengan kata lain, anak kalimat selalu disertai kata penghubung. Contoh: (146) Ike; baJang tulak akan tana haranan ujan. 'Kami tldak jadi ke ladang karena hujan: (147) Amun ikau dia dumah, ikei buH, 'Jika kamu tldak datang, kami pUlang: (148) Umai barapi metuh and; tiruh.

'Ibu memasak ketika adik tldur:

Kalimat (146) merupakan KMB dengan kata penghubung haranan 'karena', Kalimat yang disertai kata penghubung haranan 'karena' merupakan anak kalimat, sedangkan kalimat di depannya merupakan induk kalimat. Pada kalimat (147), induk kalimatnya adalah ikei buli 'kami pulang', sedangkan anak kalimatnya adalah amun ikau dia dumah 'jika kamu tlBab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

189

dak datang'. Pada kalimat (148), uma; barap; 'ibu memasak' merupakan induk kalimat, sedangkan metuh ad; tiruh 'ketika adik tidur' merupakan anak kalimat. Anak kalimat dalam ketiga KMB di atas tidak dapat berkonstruksi yang mandiri tanpa kehadiran induk kalimat. SebaUknya, induk kalimatmerupakan kalimat mandiri sehingga dapat berdiri sendiri. Bandingkan bentuk-bentuk berikut. (146a) Ikei balang tulah akan tana.

'Kami tidak jadi ke ladang:

(146b) *Haranan ujan.

'Karen a hujan.

(147a) *Amun ikau dia dumah.

'Jika engkau tidak datang:

(147b) Ikei buH.

'Kami pulang:

(148a) Umai barapi.

'Ibu memasak:

(148b) *Metuh and; t;ruh.

'Ketika adik tidur:

Berdasarkan hubungan dengan induknya, anak kalimat dapat dibedakan menjadi anak kalimat keterangan dan anak kalimat objek

4.3.1.2.1.1 Anak Kalimat Keterangan Waktu Anak kalimat keterangan waktu menyatakan terjadinya peristiwa yang diutarakan dalam induk kalimatnya. Kata penghubung yang digunakan adalah kata penghubung yang menyatakan waktu, seperti metuh 'ketika', limbah 'setelah: bara 'sejak'.

190

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh: (149) Itah tulak metuh andau halemei. 'Kita berangkat ketika han sudah senja:

(150) Puna hanjak angat atei itah metuh manampayah anak ja ria n belum sanang. 'Senang rasanya hati kita ketika melihat anak-anak hidup senang: (151) Ewen due dumah limbah uluh bakaskuhjadi tulak akanpasar. 'Mereka berdua datang setelah orang tuaku sudah berangkat ke pasar! (152) Limbah lulus sakula, ie bagawi intu kantor tuh. 'Setelah lulus kuliah, ia bekerja di kantor ini:

(153) Andi dia tame sakula bara male. 'Adik tidak masuk sekolah sejak kemarin: Kalimat yang disertai kata penghubung dalam contoh di atas merupakan anak kalimat yang fungsinya menerangkan waktu terjadinya penstiwa pada indukkalimat. Meskipun posisi atau letak induk dan anak kalimat dalam sebuah konstruksi dapat bertukar tempat, anak kalimat tetap tidak dapat berdin sendin sebagai konstruksi yang mandin seperti benkut. Contoh: (149a) Metuh andau halemei, itah tulak

'Ketika han sudah senja, kita berangkat'

(149b) *Metuh andau halemei.

'*Ketika han sudah senja:

(150a) Metuh manampayah anak jarian belum sanang, pu­ na hanjak angat atei itah. 'Ketika melihat anak-anak hidup senang. senang rasanya hati kita: Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

191

(150b) *Metuh manampayah anakjarian belum sanang. 'Ketika melihat anak-anak hidup senang: (151a) Limbah uluh bakaskuhjadi tulakakan pasar, ewen duedumah. 'Setelah orang tuaku sudah berangkat ke pasar, mereka berdua datang: (151b) *Limbah uluh bakaskuhjadi tulak akan pasar. '*Setelah orang tuaku sudah berangkat ke pasar: (152a) Ie bagawi intu kantortuh limbah lulus sakula. 'Ja bekerja di kantor ini, setelah lulus kuliah: (152b) *Limbah lulus sakula.

'*Setelah lulus kuliah:

(153a) Bara male, andi dia tame sakula. 'Sejak kemarin, adik tidak masuk sekolah: (153b) *Bara male.

'*Sejak kemarin:

4.3.1.2.1.2 Anak Kalimat Keterangan Konsesif Anak kalimat keterangan konsesif mengandung pernya­ taan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam induk kalimat. Kata penghubung yang digunakan di antaranya, aluh 'meskipun, walaupun, sekalipun, biarpun'. Contoh:

(154) Aluh jadi malihi, Bapa angate magun ih ie bentuk itah. 'Meskipun sudah meninggal, Bapak rasanya masih di tengah-tengah kita: (155) Aku magun sakula aluhjadi injual sapeda ayungku. ~ masih sekolah walaupun sepedaku sudah di­ jual: 192

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Seperti halnya KMB dengan anak kalimat keterangan waktu, konstruksi contoh di atas dapat dibalik sehingga anak kalimat mendahului induknya dan anak kalimat tidak dapat berkonstruksi yang mandiri. Contoh: (154a) Bapa angate magun tege ih ie bentuk itah aluh jadi malihi. 'Bapak rasanya masih di tengah-tengah kita, meskipun sudah meninggal: (154b) *Aluhjadi malihi.

'*Meskipun sudah meninggaI:

(155a) Aluhjadi injual sapeda ayungku, aku magun sakula. 'Walaupun sepedaku sudah dijual, aku masih se­ kolah: (155b) *Aluh jadi injual sapeda ayungku.

'*Walaupun sepedaku sudah dijual:

4.3.1.2.1.3 Anak Kalimat Keterangan Syarat Anak kalimat keterangan syarat menyatakan syarat ter­ jadinya peristiwa yang diungkapkan dalam induk kalimat. Kata penghubung yang biasanya digunakan adalah am un 'ji­ ka, apabila, asalkan', jaka 'jika, apabila, asalkan', umpama 'se­ andainya', dan sebagainya. Contoh: (156) Amun dia aku je manyupa, dompet te usang nihau duan uluh. 'Jika bukan aku yang menemukan, dompet itu pasti sudah hHang: (157) Umpama umba, ike; pasti dia sasat male. 'Seandainya ikut, kami pasti tidak akan tersesat kemarin: Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

193

(158) Tau ih aku maja ka humamjaka dia ujan. 'Bisa saja aIm berImnjung ke rumahmu jika tidak hujan: (159) Sanang atei uluh bakas manampayah jaka ikau

harati intu sakula. 'Senang rasanya hati orang tua jika kamu pintar di sekolah:

(160) Tau ih bapam mamili sapeda akam umpama ikau lulus sakula. 'Bisa saja ayahmu membeli sepeda untukmu se" andainya engkau lulus sekolah: Konstruksi KMB di atas dapat dibalik urutannya seperti halnya dua jenis KMB sebelumnya, seperti contoh beriImt. (156a) Dompet te usang nihau duan uluh jaka dia aku je

manyupae. 'Dompet itu pasti sudah hilang, jika bukan aIm yang menemukan.' (156b) *Jaka dia aku je manyupa.

'*Jika bukan aIm yang menemukan:

(157a) Ikef pusti dia sasat male umpama umba. 'Kami pasti tidak akan tersesat kemarin seandai" nya iImt: (157b) *Ympama umba.

'*Seandainya iImt:

(158a)Jaka dia ujan, tau ih aku maja akan humam. 'Jika tidak hujan, bisa saja aIm berImnjung ke ru­ mahmu: (158b) *Jaka dia ujan.

'*Jika tidak hujan:

(159a)Amun ikau harati intu sakula, sanang atei uluh bakas manampayah. 'Jika kamu pintar di sekolah, senang rasanya hati orangtua: 194

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(159b) *Amun ikau harati intu sa kula.

'*Jika kamu pintar di sekolah:

(160a) Umpama lkau lulus sakula, tau ih bapam mamili sapeda akam. 'Seandainya engkau lulus sekolah, bisa saja ayahmu membeli sepeda untukmu: (160b) *Umpama ikau lulus sakula.

'*Seandainya engkau lulus sekolah:

4.3.1.2.1.4 Anak Kalimat Keterangan Tujuan Anak kalimat keterangan tujuan menyatakan suatu tujuan yang disebutkan dalam induk kalimat Kata penghubung yang digunakan adalah uka 'agar, supaya, untuk'. KMB dengan anak keterangan tujuan juga dapat dibalik konstruksinya. Contoh: (161) Aku rajin balajar uka lulus ujian.

'Saya akan rajin belajar agar lulus ujian: (161a) Uka lulus ujian, aku rajin balajar. 'Agar lulus ujian, saya akan rajin belajar: (161b)*Uka lulus ujian.

'*Agar lulus ujian: (162) Uka subur; tiap nyeJu pamalan mamupuk petak

'Agar subur, tiap tahun petani memupuk ladang: (162a) Tiap nyelu pamaian mamupuk petak uka subur. 'Tiap tahun petani memupuk ladang agar subur: (162b)*Uka subur. '*Agar subur.'

(163) Ie manguan gawl te uka manyanang uluh je nya­

yange. 'Ia melakukan itu untuk menyenangkan kekasih­ nya:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

195

(163a) Uka manyanang uluh je nyayange, Ie manguan gawite. 'Untuk menyenangkan kekasihnya ia melakukan itu:

(163b)*Uka manyanang uluhje nyayange.

4.3.1.2.1.5 Anak Kalimat Keterangan Sebab Anak kalimat keterangan sebab menyatakan alasan terja­ dinya peristiwa yang disebutkan dalam induk kalimat. Kata penghubung yang dipakai adalah harana 'karena' dan awi 'sebab'. KMB jenis ini masih dapat dibalik konstruksinya. Contoh:

(164) Haranan dia balajar, Ie dia lulus. 'Karena tidak belajar, ia tidak lulus: (164a) Ie dia lulus haranan dia balajar.

'ia tidak lulus karena tidak belajar:

(164b)*Haranan dia balajar. '*Karena tidak belajar: (165) Are uluh sasar susah awi bakulas bagawi. 'Banyak orang tambah miskin .sebab malas be­ kerja: (165a)Awi bakulas bagawi, are uluh sasar susah. 'Sebab malas bekerja, banyak orang tambah mis­ kin: (165b)*Awi baku las bagawi. '*Sebab malas bekerja.' (166) Ie manangis awi manjatu bara tangga. 'Ia menangis sebab terjatuh dari tangga: 196

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(166a)Awi manjatu bara tangga, ie manangis. 'Sebab terjatuh dari tangga, ia menangis: (166b)*Aw; manjatu bara tangga.

'*Sebab terjatuh dari tangga:

4.3.1.2.1.6 Anak Kalimat Keterangan Akibat Anak kalimat keterangan akibat menyatakan akibat dari pernyataan yang disebutkan dalam indukkalimat. Kata penghu­ bung yang digunakan adalah sampat 'sampai'. Berbeda dengan beberapa jenis KMB yang sudah diuraikan di atas, konstruksi KMB jenis ini tidak dapat dibalik. Dengan kata lain, klausa di sebelah kanan konjungsi merupakan akibat dari pernyataan di sebelah kirinya. Contoh:

(167) Auhe hat tutu aw; kapehe pindingku. 'Bunyinya keras sekali sampai sakit telingaku: (197a) *Aw; kapehe pindingku auhe hat tutu. '*Sampai sakit telingaku, bunyinya keras sekali:

4.3.1.2.1.7 Anak Kalimat Keterangan Cara Anak kalimat keterangan cara menyatakan cara pelak­ sanaan dari pernyataan yang disebutkan dalam induk kalimat. Kata penghubungyang digunakan adalah amun 'jika' dan hapan 'dengan'. KMB jenis ini konstruksinya masih memungkinkan untuk dipertukarkan. Contoh:

(168) Amun bapander, ikau hapan kutakje buah-buah. 'Jika berbicara, kamu sebaiknya berhati-hati:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

197

(168a) Ikau hapan kutakje buahwbuah amun bapander. 'Kamu sebaiknya berhatiwhati jika berbicara~

(168b)*Amun bapander '*jika berbicara: (169) Itah pasti bahasil hapan isut usaha. 'Kita pasti berhasil dengan sedikit usaha.' (169a) Hapan isut usaha, itah pasti bahasil. 'Dengan sedikit usaha, kita pasti berhasil:

(169b)*Dengan isut usaha. '*Dengan sedikit usaha: (170) Ie mangantau indue hapan pire-pire cara. 'la merayu ibunya dengan berbagai cara: (170a)Hapan pire-pire cara, Ie mangantau indue. 'Dengan berbagai cara, ia merayu ibunya.' (170b)*Hapan pire-pire cara. '*Dengan berbagai cara:

4.3.1.2.1.8

Anak Kalimat Keterangan Watas atau Atribut

Anak kalimat keterangan watas menjelaskan kata benda yang mendahuluinya. Kata penghubung yang digunakan adalah je 'yang'. Contoh:

(171) Iamuridjeharati. 1a murid yang pintar' (172) Uluhje babaju babilem te kawalku ije kantor. 'Orang yang berbaju hitam itu kawanku satu kantor'

198

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

4.3.1.2.1.9 Anak Kalimat Keterangan Objek Anak kalimat keterangan objek menyatakan sasaran per­ buatan yang dinyatakan dalam induk kalimat sehingga selalu terletak di sebelah kanan predikat verba transitif. Contoh: (173) Pamarentah manyewut keadaan negara aman. 'Pemerintah mengatakan (bahwa) keadaan negara aman: (174) Umai manjanji ie handak mamili sapeda akangku. 'Ibu menjanjikan ia akan membelikanku sepeda:

4.3.1.2.2 Kalimat Majemuk Campuran (KMC) KMC merupakan gabungan antara KMS dan KMB (Alwi, 2001). Dalam KMC, terdapat hubungan setara dan bertingkat. Oleh sebab itu, KMC minimal terdiri atas tiga klaus a yang memiliki hubungan setara dan hubungan bertingkat Contoh: (175) Bapa abas bagawi tutang dia kasene kaheka aluh hasil dia sap ire. ~yah bekerja keras dan takkenallelah meskipun hasilnya tidak seberapa: (176) Aluh jadi satiar; gawl te dla bahasil hamnan jatun dUkungan uluh bakas. 'Meskipun sudah berusaha, usahanya tidak ber­ hasil karena tidak didukung orang tuanya:

4.3.2 Jenis Kalimat Berdasarkan Bentuknya Berdasarkan bentuknya, kalimat dapat dibagi menjadi kalimat berita, kalimat perintah, dan kalimat tanya.

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

199

4.3.2.1 Kalimat Berita Kalimat berita atau kalimat deklaratifpada umumnya di­ gunakan pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pem­ baca. Contoh:

(177) Aku harun lh limbah kuman. ~ baru saja selesai makan: (178) Ading manyasah manuk 'Adik mengejar ayam: (179) Baju te impukan awl kaka. 'Baju itu dicuci kakak' (180) Kaka pusang handak mamili tas je hal atawa je kurik 'Kakak bingung mau membeli tas yang besar atau yangkecil: (181) Bentuk andau kareh andim dumah bara lewu. 'Siang nanti adikmu datang dari kampung: (182) Ie manangis awl manjatu bara tangga. 'Ia menangis karena terjatuh dari tangga: Jika dilihat dari strukturnya, contoh-contoh kalimat di atas terdiri atas bermacam-macam jenis. Ada yang kalimat tunggal, KMS, dan KMB. Namun, jika dilihat dari bentuknya, semua kalimat di atas merupakan kalimat berita karena berisi informasi yang ingin disampaikan penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar.

4.3.2.2 Kalimat Tanya Kalimat tanya atau kalimat interogatif, sesuai dengan namanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya, seperti narai 'apa: en 'apakah', eweh 'siapa', buhen 'mengapa;

200

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

hamparea 'kapan: kelenampi 'bagaimana', hUrlf}kueh 'di mana', je kueh 'yang mana', pire 'berapa'. Kalimat tanya biasanya juga diikuti oleh tanda tanya (?) dengan into nasi menaik di akhir kalimat.

4.3.2.2.1 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Narai Dalam kalimat tanya, kata tanya narai 'apa' menuntut ja­ waban. Contoh: (183) Narai inguam nah? 'Apa yang sedang kamu buat?' (184) Naraije imbit mu tel 'Apa yang kamu bawa?' (185) Narai kaharap uluh balms bara anak tabela? 'Apa yang diinginkan orang tua dari anak muda?' (186) En ie jadi dumah? 'Apa ia sudah datang?' Struktur kalimat tanya di atas dapat diubah urutannya se­ hingga kata tanya narai 'apa' berada di tengah atau di belakang. Sebagai konsekuensinya, bentuk kalimat berubah menjadi ka­ limat aktif. Contoh: (187) lkau manampa narai? 'Kamu sedang membuat apa?' (188) lkau maimbit narai? 'Kamu sedang membawa apa?' (189) illuh balms baharap narai bara anak tabela? 'Orang tua menginginkan apa dari anak muda?

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

201

4.3.2.2.2 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Eweh Kata tanya eweh 'siapa' dalam sebuah kalimat tanya me­ nuntut seseorang atau pelaku sebuah perbuatan sebagai ja­ waban. Contoh: (190) Eweh je handak umba kan Banjar? 'Siapa yang hendak ikut ke Banjar?' (191) Ewehje munduk hung karusi hetuh nah? 'Siapa yang duduk di kursi di sini?' (192) Ewehje nyahukan sapatu ayungku? 'Siapa yang menyembunyikan sepatuku?'

4.3.2.2.3 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Buhen Kata tanya buhen 'mengapa' dalam sebuah kalimat tanya menuntut alasan atau penyebab suatu peristiwa terjadi sebagai jawaban. Contoh: (193) Buhen anak kurik te manangis? 'Mengapa anak keeil itu menangis?' (194) Buhen ikau sampai atei malihi andim kabuat? 'Mengapa kamu sampai hati meninggalkan adikmu sendiri?' .

4.3.2.2.4 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Hamparea Kata tanya hamaparea 'kapan' dalam sebuah kalimat ta­ nya menuntut waktu atau periode suatu peristiwa terjadi se­ bagai jawaban. Contoh: (195) Hamparea itah tulak kan huma tambi? 'Kapan kita berangkat ke rumah nenek' 202

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(196) Hamparea tambim dumah?

'Kapan nenekmu datang?'

4.3.2.2.5 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Kilenampi Kata tanya kilenampi 'bagaimana' menuntut bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Jawaban terhadap kalimat tanya bi­ asanya berbentukcara, perian, atau penjelasan yang berdimensi waktu atau kronologi. Contoh: (197) Kilenampi cara manguan wadai te nah?

'Bagaimana cara membuat kue itu?' (198) Kilenampi ewen tau tame humakuh? 'Bagaimana mereka bisa masuk rumahku?'

4.3.2.2.6 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Hungkueh Kata tanya hung 'di mana' menuntutjawaban berupa pe­ rian berdimensi lokatif sebagai jawaban. Contoh: (199) Hungkueh itah tende kuman?

'Di mana kita berhenti untuk makan?'

(200) Hungkueh ekam melai? 'Di mana kamu tinggal?' (201) Huangkueh ketun mamisi7

'Di mana kamu memancing?'

4.3.2.2.7 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Je Kueh Kata tanya je kueh 'yang mana' memerikan pertanyaan berupa pemilihan terhadap sesuatu. Jawaban pertanyaan me­ rupakan pilihan dari pembaca atau pendengar. Contoh:

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

203

(202) Ie kuehje duam muh? 'Yang mana yang kamu ambil?' (203) Bajuje kuehje milih muh? 'Baju yang mana yang kamu pilih?' (204) Ie kueh sapeda ayun mamam? 'Yang mana sepeda milik pamanmu?' (205) Ie kueh tas ayum, bahandang atawa bahenda? 'Yang mana tas milikmu, merah atau kuning?'

4.3.2.2.8 Kalimat Tanya dengan Kata Tanya Pire Kata tanya pire 'berapa' menuntut jawaban berupa perian mengenai jumlah atau kuantitas sesuatu. Contoh:

(206) Ikau handak mamili baju je rega pire? 'Kamu hendak membeli baju yang harganya be­ rapa?' (207) Pire andau ikau hung kanih?

'Berapa hari kamu tinggal di sana?'

(208) Pire regae bua tantimun tuh, Tambi? 'Berapa harga mentimun ini, Nek?' (209) Pire depe hapanjang arut Mama tel 'Berapa depa panjang perahu itu Paman?'

4.3.2.2.9 Kalimat Tanya Berekor Kalimat tanya berekor atau question tag merupakan salah satu jenis kalimat tanya ya-tidak (yes-no question). Fungsi kali­ mat tanya ini adalah menegaskan sesuatu. Contoh:

(210) Ikau umba, dia? 'Kamu ikut, bukan?'

204

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

(211) Umaijadi tulak bagawi,lah? 'Ibu sudah berangkat bekerja, ya?' (212) Mina, duittuh akangku, lah? 'Tante, uang ini untukku, bukan?'

4.3.2.3 Kalimat Perintah Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung pe­ rintah atau permintaan kepada lawan bicara agar melaksanakan apa yang pembicara kehendaki. Kalimat perintah dicirikan dengan tanda seru (!) dan into nasi menurun di akhir kalimat serta pemakaian partikel penegas, penghalus, pemohon, atau kata ajakan dan larangan.

4.3.2.3.1 Kalimat Perintah Halus Kalimat perintah jenis ini digunakan untuk memerintah lawan bicara secara hal us. Kalimat ini ditandai dengan kata seperti wei, takan 'silakan', dohop 'tolong', buhau 'pergi', dan imbit 'ajak'. Contoh: (213) Palus wei!

'Silakan masuk!'

(214) Mundukwei! 'Silakan duduk!' (215) Takan duan ih kambang te akan indum! 'Silakan ambil saja bunga itu untuk ibumu!' (216) Takan munduk intu sHan tambim! 'Silakan duduk di sebelah nenekmu!' (217) Dohop imbing bukuku! 'Tolong pegangkan bukuku!' (218) Buhau bara hetuh! 'Pergilah dari sini!' Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

205

(218) Dohop imbit ie tame!

'Tolong ajak ia masuk!'

(219) Imbit kawal"kawalmuh tame! 'Ajak teman-temanmu masuk!' KaIimat perintah juga dapat berbentuk kalimat tanya, tetapi berisi permintaan hal us. Contoh: (220) Kilenampi amun ikau je manyundau te? 'Bagaimana jika kamu yang menemuinya?' (221) Ulih ikau mandohop Ie? 'Dapatkah kamu menolongnya?'

4.3.2.3.2 Kalimat Perintah Permintaan Kalimat perintah jenis ini digunakan untuk mengungkap" kan permohonan atau permintaan sehingga kata yang sering digunakan adalah dohop 'mohon' atau balaku 'minta', Contoh: (222) Kawan pahari balaku dohop sunil 'Saudara"Saudara dimohon tenang!' (223) Balaku dohop uras mendeng!

'Harap semua berdiri!'

(224) Aku balaku maaj; Pak!

l\ku Minta maaf, Pak!'

4.3.2.3.3 Kalimat Perintah Ajakan Kalimat perintah jenis ini digunakan untuk mengungkap­ kan ajakan dan biasanya ditandai dengan kata ayu tayo' dan has 'mari',

206

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Contoh: (225) Ayu ltah kuman hayak! 'Ayo kita rnakan sarna-sarna!' (226) Yu itah manyundau Ie! 'Ayo kita rnenernuinya!'

(227) Has itah tame! 'Marl kita rnasuk!'

(228) Has manonton,yu!

'Marl nonton, yukI'

4.3.2.3.4 Kalimat Perintah Larangan Kalirnat perintah jenis ini biasanya ditandai dengan kata ela 'jangan' dan berfungsi untuk rnelarang atau rnencegah lawan bicara rnelakukan sesuatu. Contoh: (229) Ela anta bangang!

'Jangan main terus!'

(230) Ela ketun mandui intu sungei! 'Jangan kalian rnandi di sungail' (231) Ela gantung alem ketun buli!

'Jangan larut rnalarn kalian pulang!'

4.3.2.3.5 Kalimat Perintah Pembiaran Kalirnat perintah jenis ini digunakan untuk rnengungkap­ kan bernbicaraan dan biasanya ditandai oleh pernakaian kata nauh 'biar jbiarlah'. Contoh: (232) Nauh ie je batanggung jawab!

'Biar ia yang bertanggung jawab!'

Bab IV Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju

207

(233) Nauh aku je manyundau ie!

'Biar aku yang menemuinya!'

4.3.1.3 Kalimat Taklengkap Kalimat taldengkap yang biasanya disebut juga kalimat minor adalah kalimat yang tidak mengandung subjek atau pre­ dikat. Dengan kata lain, subjek dan predikat kalimat dilesapkan karena telah diketahui sebelumnya. Contoh:

(234) Salamat hamalem. 'Selamat mal am.' (235) Salamat hanjewu. 'Selamat pagi.' (236) Salamat bentuk andau. 'Selamat siang' (237) Narai kabar? I\pa kabar?' (238) Salamat hasundau tinaL 'Sampai jumpa lagi.'

208

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan et al. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Aminoedin, A et al. 1984. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa. Andiato. M. Rus. Dkk. 1983/1984. Sastra Lisan Dayak Ngaju. Palangkaraya. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Kalteng. Depdikbud. Baier, Martin. Dkk. 1987. Verhandelingen (Bahasa Sangiang­ Ngaju-Dayakisch-Bahasa Indonesia-Deutsch). Holland. Foris Publications. _ _.1987. Worterbuch der Priestersprache der Ngaju-Dayak Dordrecht-Holland/Providence-USA: Foris Publication. Bingan, Albert dan Offeny Ibrahim. 2005. Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia. Palangka Raya: Primal Indah. _ _.2001. Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Pokok Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju). Palangka Raya: Primal Indah.

Oaftar Pustaka

209

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. London: George Allen & Unwin Ltd. Chaer .. Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia [pendekatan Proses). Jakarta. Rineka Cipta

_ _.2007. Kajian Bahasa: Struktur internal, Pemakaian dan Pemelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. _ _.2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Elbaar, Lambertus.1995.Revitalisasi dan Pemeliharaan Vitalitas Bahasa Ngaju dalam Era Globalisasi dan Modernisasi. Pidato pengukuhan Guru Besar pada Universitas Palangka Raya. Epple, K.D. 1922. Soerat Logat Basa Ngadjoe. Bandjermasin: Typ Rob. Hennemann & Co.

_ _.1933. Kurze Einfiihrung In die Ngadjoe-Dajaksprache. Bandjermasin: Zendingsdruckkerij (Z.O. Borneo). Hardeland, August. 1859. Worterbuch Dajacksch-Deutsches. Amsterdam: Von C.A Spin and Sohn. .

_ _.1858. Dajacksch--Deutsches Worterbuch. Amsterdam: Frederik Muller. Ibrahim, Offeny A. dan AlbertA. Bingan. 2005. Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia. Palangka Raya: Primal Indah Iper, Dunis., dkk. 1997. Morfologi Bahasa Dayak Ngaju. Palangkaraya: Bagian Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Kalimantan Tengah. Kridalaksana, Harimurti. 2007. Kelas Kata dalam Bahasa . Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Uta rna

_ _.2001. Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama _ _. 1996. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 210

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah. Klokke, H.A. 1998. Tradisional Medicine Among The Ngaju Da­ yak in Central Kalimantan. U.S.A. Borneo Research Coun­ cil. Inc. Lapoliwa, Hans. 1980. Analisis Fonologi. Jakarta: Pusat Pembi­ naan dan Pengembangan Bahasa. Lyons, E.A. 1977. Introduction to Theoretical Linguistics. Cam­ bridge: Cambridge Univ. Press. Mahin, Marko. 2005. Tamanggung Nikodemus Ambo Djajane­ gara; Menyusuri Sejarah Suny; Seorang Temenggung Da­ yak. Banjarmasin: Lembaga Studi Dayak 21. Muller, Frederik. 1859. Dajacksch-Deutsches. Druck Von C. A Spin&Sohn Mulyani, Dewi, Albertus Purwaka, dan Delnawati Samat. 2002. Sintaksis Bahasa Dayak Ngaju. Palangkaraya: Bagian Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Kalimantan Tengah Parera, Jos Daniel. 1979. Pengantar Umum Bidang Fonetik dan Fonemik. Ende-Flores: Nusa Indah. Purwadi, Petrus., dkk. 1996. Situ as; Kebahasaan di Kalimantan Tengah dan Pola Pemakaiannya. Palangkaraya: FKIP Unpar. Pusat Bahasa. 2008. Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Ja­ karta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi [Bentuk Derivasi­ onal dan Infleksional). Bandung: PT Refika Aditama. Ramlan, M. 2001. Morfologi: Suatu Tinjauan DeskriptiJ. Yogya­ karta: C.Y. "Karyono". _ _.1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakrta: C.V Karyono.

Daftar Pustaka

211

Riwut, Tjilik. 2004. Maneser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur. Disunting oleh Nila Riwut. Palangka Raya: Pusaka Lima. _ _. 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Disunting oleh Nila Riwut dan Agus F. Husein. Yogyakarta: Tiara Wacana. _ _.1970. Peladjaran Basa Dajak Ngadju (Bahasa Indonesia­ Bahasa Dajak Ngadju). Bandjarmasin.

Samsuri. 1991. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Samarin, William J. 1967. Field Linguistics: A Guide to Linguistics Field Work. New York: Holt, Rinehart, and Winston. Santosa, dkk 1991. Struktur Bahasa Dayak Ngaju. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Scharer, Hans. 1963. Ngaju Religion: The Conception of God among A South Borneo People. The Hague: Martinus Nijhoff. Sudaryanto. 1986. Metode Linguistik: Ke Arah Memahami Met­ ode Linguistik. YOgyakarta: UGM Press. Sukri, Muhammad. 2008. Morfologi: Kajian Antara Bentuk dan Makna. Mataram: Lembaga Cerdas Press. Toendan, Wido H. 1989. "Fonologi Generatif Bahasa Dayak Ngaju". Tesis. Ullmann, Stephen. 2007. Pengantar Semantik. Diadaptasi dari Semantics, An Introduction to the Science ofMeaning oleh Sumarsono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Usop, KM.A.M. 1996. Pakat Dayak Palangka Raya: Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Batang Garing (YPK-BG). _ _.1975/1976. Pemerian Morfologi dalam Bahasa Dayak Ngaju. Palangkaraya. Pusat Pembinaan dan Pengem­ bangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. 212

TATA BAHASA DAYAK NGAJU

_ _.1976. "Pemerian Fonologi dalam Bahasa Dayak Ngaju". HasH Penelitian. Verhaar, J.W.M. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. _ _.1987. Pengantar Linguistik, Jilid I. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Daftar Pustaka

213

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2018 TIXPDF.COM - All rights reserved.