ANALISIS POTENSI KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NATUNA


1 ANALISIS POTENSI KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NATUNA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-syar...
Author:  Yuliani Susanto

0 downloads 1 Views 3MB Size

Recommend Documents


ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN TABANAN
1 ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN TABANAN NGURAH MADE NOVIANHA PYNATIH Fakultas Ekonomi Universitas Tabanan ABST...

ANALISIS POTENSI EKONOMI KABUPATEN BANYUWANGI
1 ANALISIS POTENSI EKONOMI KABUPATEN BANYUWANGI Oleh: Ahmad Afan Ayubi Bank Mandiri Syariah Balikpapan Kalimantan Timur Abstract The purpose of this...

ANALISIS POTENSI EKONOMI DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN
1 ANALISIS POTENSI EKONOMI DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Persyaratan guna Mencapai Gelar Sarj...

ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SEMARANG TAHUN
1 ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SEMARANG TAHUN SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Noratr...

KELAPA SAWIT, POTENSI UNGGULAN KABUPATEN BANGKA BARAT POTENSI KELAPA SAWIT
1 KELAPA SAWIT, POTENSI UNGGULAN KABUPATEN BANGKA BARAT POTENSI KELAPA SAWIT Industri kelapa sawit memiliki prospek yang baik karena memiliki daya sai...

ANALISIS POTENSI PEMBANGUNAN EKONOMI
1 digilib.uns.ac.id ANALISIS POTENSI PEMBANGUNAN EKONOMI (STUDI KASUS TINGKAT KECAMATAN DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN ) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi ...

Analisis Potensi Ekonomi Peternak Sapi Perah Terhadap Pembangunan Ekonomi Hijau di Kabupaten Pasuruan
1 Analisis Potensi Ekonomi Peternak Sapi Perah Terhadap Pembangunan Ekonomi Hijau di Kabupaten Pasuruan Bambang Sutikno 1), Jati Batoro 2) 1 Mahasiswa...

SKRIPSI ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BONE PERIODE KUSNADI ZAINUDDIN JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
1 i SKRIPSI ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BONE PERIODE KUSNADI ZAINUDDIN JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS...

ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN JAYAPURA. Fahrulman 1 Suwandi 2
1 Jurnal Kajian Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume I No 3, Desember 2014 ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN JAYAPURA Fahrulman 1 Suwa...

Analisis Potensi Ekonomi dan Pengembangan Klaster Ikan di Kabupaten Sragen
1 Analisis Potensi Ekonomi dan Pengembangan Klaster Ikan di Kabupaten Sragen Sidiq Permono Nugroho 1*, Muzakar Isa 2, Anton Agus Setyawan 3 1,2,3 Faku...



ANALISIS POTENSI KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN NATUNA

Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Oleh:

Kurnia Bakti Isbana NIM : 1113084000048

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1439 H/2018 M

DAFTAR RIWAYAT HIDUP I.

Identitas Pribadi 1. Nama Lengkap

: Kurnia Bakti Isbana

2. Tempat/Tanggal Lahir

: Tangerang 6 Juli 1995

3. Alamat

: Sinar Pamulang Permai B 16 No. 9 Pamulang Barat, Tangerang Selatan

II.

III.

4. Telepon

: 082210302711

5. Email

: [email protected]

Pendidikan Formal 1. SD Negeri Bukit Pamulang Indah

Tahun 2001-2007

2. Madrasah Tsanawiyah Pembangunan Jakarta

Tahun 2007-2010

3. Madrasah Aliyah Pembangunan Jakarta

Tahun 2010-2013

4. S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tahun 2013-2018

Pengalaman Kerja 1. Magang Admin Data Entry Budget and Cost Control PT. Alam Sutera Realty Tbk.

i

ABSTRACT This study aims to analyze the superior potential of coconut plantation from each sub-district in Natuna Regency. The study aims to: (1) know which subdistrict in Natuna Regency that produces coconut with the potential of competitiveness and specialization year 2012-2016; (2) to know which subdistrict has coconut comodity as economic base sector in Natuna Regency; (3) to know which sub-districts have coconut commodities as the economic base sector in Natuna Regency in the future; (4) determines the areas that can be developed from coconut production; (5) to know the contribution of the growth of coconut production to the economi 2012-2015. This research uses secondary data and is quantitative with analysis of Shift Share, Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Klassen Typology, and Growth Ratio Model (MRP). The data used is the production of plantations in Natuna Regency from each sub-district of 2012-2016. Shift Share analysis shows sub-districts in Natuna Regency which have stunted but developed coconut production is Bunguran Barat, Pulau Tiga, Bunguran Tengah, Serasan, Subi, and Serasan Timur. Other districts show low coconut production and the role of weak area. The results of the Location Quotient and Dynamic Location Quotient analysis show that sub-districts have coconut potential in the present time and future base sector are Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur and Bunguran Timur Laut. The sub-districts that have coconut potential but not become the base sector in the future is; Subi and Serasan Timur. Sub-districts that will have potential of coconut in the base sector in the future is Midai and Bunguran Selatan. Sub-districts Bunguran Barat, Subi, and Serasan Timur have Klassen Typology which level of coconut production potential in good to be developed. Based on mix of Location Quotient and Growth Ratio Model, the inner coconut has a large contribution in the economy and sectoral growth is high in the sub-districs of Bunguran Barat, Subi, and Serasan Timur. However, in some sub-districts which have inner coconut production as a base sector contribute substantially in economy but low generated sectoral growth such as Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

Keywords: Coconut, base sector, economic contribution, sectoral growth, shift share, location quotient, dynamic location quotient, klassen tipology, growth ratio model.

ii

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi unggulan perkebunan kelapa dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Natuna. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kecamatan di Kabupaten Natuna yang produksi kelapa dalamnya memiliki potensi daya saing kompetitif dan spesialisasi tahun 2012-2016, (2) mengetahui kecamatan mana saja yang memiliki komoditi kelapa dalam sebagai sektor basis ekonomi di Kabupaten Natuna, (3) mengetahui kecamatan mana saja yang memiliki komoditi kelapa dalam sebagai sektor basis ekonomi di Kabupaten Natuna pada masa yang akan datang, (4) menentukan wilayah yang dapat dilakukannya pengembangan dari produksi kelapa, (5) mengetahui kontribusi pertumbuhan produksi kelapa terhadap perekonomian pada tahun 2012 – 2016. Penelitian ini menggunakan data sekunder dan bersifat kuantitatif dengan analisis Shift Share, Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Tipologi Klassen, dan Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Data yang dipakai adalah data produksi perkebunan Kabupaten Natuna dari masing-masing kecamatan tahun 2012-2016. Analisis Shift Share menunjukkan kecamatan di Kabupaten Natuna yang memiliki produksi kelapa yang terhambat namun berkembang yaitu Bunguran Barat, Pulau Tiga, Bunguran Tengah, Serasan, Subi, dan Serasan Timur. Kecamatan lainnya menunjukkan produksi kelapa yang rendah dan peranan terhadap daerah lemah. Hasil analisis Location Quotient dan Dynamic Location Quotient menunjukkan kecamatan yang memiliki potensi kelapa dalam sebagai sektor basis dimasa sekarang dan masa yang akan datang adalah Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bugnuran Timur Laut. Adapun kecamatan yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis tetapi tidak menjadi sektor basis dimasa yang akan datang yaitu; Subi dan Serasan Timur. Kecamatan yang akan memiliki potensi kelapa dalam sebagai sektor basis dimasa yang akan datang adalah Midai dan Bunguran Selatan. Kecamatan Bunguran Barat, Subi, dan Serasan Timur masuk kedalam Tipologi Klassen yang tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang baik sekali untuk dikembangkan. Berdasarkan gabungan dari Location Quotient dan Model Rasio Pertumbuhan, kelapa dalam memiliki kontribusi yang besar dalam perekonomian dan pertumbuhan sektoralnya tinggi di kecamatan Bunguran Barat, Subi, dan Serasan Timur. Namun di beberapa kecamatan yang memiliki produksi kelapa dalam sebagai sektor basis berkontribusi besar dalam perekonomian tetapi pertumbuhan sektoral yang dihasilkan rendah seperti kecamatan Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

Kata Kunci: Kelapa dalam, sektor basis, kontribusi perekonomian, pertumbuhan sektoral, Shift Share, Location Quotient, Dynamic Location Quotient, Tipologi Klassen, Model Rasio Pertumbuhan.

iii

KATA PENGANTAR Assalamu’alikum Wr. Wb Segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala nikmat dan juga keberkahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik yang berjudul “ANALISIS POTENSI KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN

EKONOMI

KABUPATEN

NATUNA” Penulisan skripsi ini salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018. Skripsi ini dapat selesai tentunya dari dukungan, bimbingan, bantuan, dan doa dari orang-orang di sekitar penulis, maka dari itu penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada: 1.

Orang tua penulis, Ibunda Alm. Ekanti Pulosari dan Ayahanda Deni Jumhana tersayang atas curahan kasih sayang, doa yang tiada henti, dukungan dan motivasi yang tidak ternilai harganya bagi penulis. Serta Adik dan Kakak tercinta, Ayub dan Emmilia yang selalu ada ketika penulis membutuhkan bantuan serta membuat keluarga ini semakin lengkap. Semoga kalian selalu dicintai dan selalu berada di dalam lindungan Allah SWT.

2.

Bapak Dr. M. Arief Mufraini, Lc, M.Si selaku dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu yang berharga kepada penulis selama perkuliahan.

3.

Bapak Dr. Lukman, M.Si selaku dosen pembimbing, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, motivasi dan arahan, ilmu yang bermanfaat selama perkuliahan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi hingga skripsi ini selesai. Semoga bapak selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT.

4.

Bapak Arif Fitrijanto, M.Si dan Ibu Najwa Khairina selaku Ketua Jurusan dan Sekertaris Jurusan Ekonomi Pembangunan yang telah memberikan arahan, bimbingan dan ilmu yang bermanfaat dalam penyelesaian perkuliahan. iv

5.

Bapak

Drs.

Jackie

Nurdjaman

Rachman,

M.PS

selaku

dosen

pengembangan potensi ekonomi daerah dan seminar penelitian yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan berharga sehingga penulis mendapatkan ide dan tema dalam penulisan skripsi. 6.

Seluruh jajaran dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan berharga bagi penulis selama perkuliahan serta jajaran karyawan dan staff UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah melayani dan membantu penulis selama perkuliahan.

7.

Syarifah Indah Permatasari Alhasni atas semangat dan kebahagiaan yang diberikan. Semoga dibalas dengan kebahagiaan dan kesuksesan..

8.

Teman – teman Ekonomi Pembangunan yang melengkapi hari – hari penulis selama perkuliahan sehingga terasa sangat indah, selalu menasehati satu sama lain, tolong menolong serta dukungan tiada henti.

9.

Teman – teman KKN The Big One Alboja, Irsyad, Egi, Aldy, Irin, Ida, Iffa, Iroh, Fudtri, dan Galih, yang melengkapi hari – hari penulis selama sebulan penuh mengabdi kepada masyarakat Desa Rancalabuh.

10. Teman – teman diluar perkuliahan yang melengkapi hari penulis dan mendukung saat menulis skripsi. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, saya berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak – pihak yang membutuhkan dan dijadikan referensi bagi penelitian – penelitian selanjutnya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki. Sehingga jika ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini, penulis menerima dengan senang hati. Jakarta, September 2017

Kurnia Bakti Isbana

v

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................

i

ABSTARCT .....................................................................................................

ii

ABSTRAK ......................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR ....................................................................................

iv

DAFTAR ISI ...................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL .........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .....................................................................................

1

B. Rumusan Masalah ................................................................................

6

C. Tujuan Penelitian .................................................................................

7

D. Manfaat Penelitian ...............................................................................

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil ........................ 1.

8

Teori Pertumbuhan Ekonomi Daerah.............................................

8

a. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi...........................................

8

b. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik........................................

8

c. Teori Pertumbuhan Jalur Cepat yang Disinergikan ................. 10 d. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi Daerah ................................... 10 e. Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah ... 11 2.

Teori Pembangunan Ekonomi ........................................................ 12 a. Teori Basis Ekonomi ................................................................ 13 b. Teori Tempat Sentral................................................................ 16 vi

c. Teori Lokasi ............................................................................ 16 3.

Teori Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif ......... 16 a. Keunggulan Komparatif ........................................................... 16 b. Keunggulan Kompetitif ............................................................ 16

4.

Ekonomi Pertanian ......................................................................... 17

5.

Harga Produsen .............................................................................. 18

B. Penelitian Sebelumnya ......................................................................... 18 C. Kerangka Pemikiran ............................................................................. 23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 27 B. Metode Penentuan Populasi ................................................................. 27 C. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 28 D. Metode Analisis Data ........................................................................... 28 1.

Analisis Shift Share ........................................................................ 28

2.

Analisis Location Quotient ............................................................ 31

3.

Analisis Dynamic Location Quotient ............................................. 32

4.

Analisis Tipologi Klassen .............................................................. 33

5.

Analisis Model Rasio Pertumbuhan ............................................... 35

6.

Analisis Overlay ............................................................................ 36

E. Operasional Variabel Penelitian ........................................................... 39 1.

Potensi Ekonomi ............................................................................ 39

2.

Produksi Perkebunan ...................................................................... 40

3.

Kontribusi....................................................................................... 40

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA A. Deskriptif Objektif Penelitian .............................................................. 41 1. Letak dan Kondisi Geografis ......................................................... 41 2. Topografi ........................................................................................ 43 3. Klimatologi ................................................................................... 43 4. Demografi ...................................................................................... 44 5. Kondisi Perekonomian di Kabupaten Natuna ................................ 45 vii

6. Konndisi Pertanian ......................................................................... 46 B. Pembahasan .......................................................................................... 48 1. Analisis Shift Share ........................................................................ 48 2. Analisis Location Quotient (LQ) ................................................... 51 3. Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) ................................. 53 4. Analisis Tipologi Klassen .............................................................. 56 5. Model Rasio Pertumbuhan (MRP) ................................................. 57 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ......................................................................................... 60 B. Saran ..................................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 64 LAMPIRAN .................................................................................................... 81

viii

DAFTAR TABEL No.

Keterangan

Halaman

1.1

Produk Domestik Bruto Kabupaten Natuna Atas Dasar Harga

2

Konstan Tahun 2012 dan 2016 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) 1.2

Luas Areal, Produksi dan Rata-Rata Produksi Kelapa Wilayah

4

Kepulauan Riau Tahun 2014 2.1

Penelitian Sebelumnya

19

3.1

Posisi Relatif Perkebunan Kelapa Dalam per Kecamatan

30

Kabupaten Natuna 3.2

Tipologi Sektor Tingkat Kepotensialan Ekonomi Perkebunan

33

Kelapa Dalam per Kecamatan Kabupten Natuna 3.3

Klasifikasi Analisis Overlay Perkebunan Kelapa Dalam

39

(Masing-masing Kecamatan Kabupaten Natuna) 4.1

Luas Wilayah per-Kecamatan dan Jumlah Desa

42

4.2

Jumlah Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk per

44

Kecamatan Kabupaten Natuna 4.3

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan

45

Tahun 2012 dan 2016 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) 4.4

Harga Produsen Masing-Masing Komoditas Perkebunan

46

Kepulauan Riau 4.5

Produksi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Natuna 2012 –

47

2016 4.6

Luas lahan perkebunan di Kabupaten Natuna 2012 – 2016

47

4.7

Produksi Perkebunan Kelapa Dalam Menurut Kecamatan di

48

Kabupaten Natuna (Ton) 4.8

Hasil Analisis Shift Share per Kecamatan Kabupaten Natuna

50

Tahun 2012 – 2016 4.9

Hasil Analisis Location Quotient per Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2012 – 2015

ix

52

4.10 Hasil Analisis Dynamic Location Quotient

54

4.11 Hasil Analisis LQ dan DLQ

55

4.12 Hasil Tipologi Klasse per Kecamatan Kabupaten Natuna

56

4.13 Hasil Analisis Overlay

58

x

DAFTAR GAMBAR No.

Keterangan

Halaman

2.1

Kerangka Pemikiran

26

4.1

Peta Administrasi Kabupaten Natuna

43

xi

DAFTAR LAMPIRAN No.

Keterangan

Halaman

1

Jumlah Produksi Perkebunan Kelapa Dalam menurut

81

Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2009 – 2016 (Ton) 2

Luas Lahan Perkebunan Kelapa Dalam menurut Kecamatan

82

Kabupaten Natuna Tahun 2009 - 2016 (Ha) 3

Jumlah Total Produksi Perkebunan menurut Kecamatan

83

Kabupaten Natuna Tahun 2009 – 2016 (Ton) 4

Luas

Total

Lahan

Perkebunan

menurut

Kecamatan

84

Perhitungan Pertumbuhan Proporsional dan Pertumbuhan

85

Kabupaten Natuna Tahun 2009 - 2016 (Ha) 5

Pangsa

Wilayah

Produksi

Kelapa

Dalam

menurut

Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2016 6

Perhitungan Location Quotient (LQ) Produksi Kelapa

86

menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 - 2016 7

Perhitungan Laju Pertumbuhan Produksi Kelapa menurut

87

Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2016 8

Perhitungan Dynamic Location Quotient (DLQ) Produksi

88

Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 9

Perhitungan Gabungan Location Quotient dan Dynamic

89

Location Quotient (DLQ) Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 10

Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPs) Produksi

90

Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2013 11

Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPs) Produksi

91

Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2013 – 2014 12

Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPs) Produksi

92

Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2014 – 2015 13

Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPs) Produksi

93

Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2015 – 2016 14

Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPr) Produksi

xii

94

Kelapa Kabupaten Natuna 2012 – 2016 15

Perhitungan Overlay Location Quotient (LQ), RPs, dan RPr Produksi Kelapa Kabupaten Natuna 2012 - 2016

xiii

95

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki berbagai misi salah satunya untuk mewujudkan kualitas hidup masyarakat yang tinggi, maju dan sejahtera. Upaya untuk melakukan misi tersebut tentunya dilakukanlah pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, serta sumber daya manusia dan budaya bangsa. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang (Sadono Sukirno 1985:13). Dalam masa pembangunannya, Indonesia telah melakukan otonomi daerah sejak dikeluarkannya Undang – Undang otonomi daerah tahun 1999 agar masing-masing daerah bisa membangun daerahnya dengan mandiri. Otonomi daerah sendiri menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 5 memberikan definisi bahwa otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembangunan ekonomi daerah tentunya akan mengelola sumber daya alam dan manusia untuk membangun perekonomian daerah tersebut agar bisa mengurus kebutuhan rumah tangganya sendiri. Dalam pengertian pembangunan ekonomi daerah sendiri merupakan kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh suatu wilayah dalam mengembangkan kegiatan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat (Sadono Sukirno, 1985:13). Kegiatan ekonomi yang dimaksud dapat dibagi menjadi dua kegiatan yaitu, kegiatan basis dan non basis. Kegiatan basis adalah semua kegiatan yang menghasilkan produk maupun penyedia jasa yang dapat mendatangkan uang untuk wilayah. Lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis adalah fungsi permintaan yang bersifat exogenous (tidak tergantung pada kekuatan intern/permintaan lokal). Sedangkan kegiatan non basis adalah untuk 1

memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, karena untuk permintaan di sektor ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kenaikan pendapatan masyarakat setempat. Oleh karenanya, sektor ini terikat terhadap kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah. Karena hal tersebut, satu – satunya sektor yang bisa meningkatkan perekonomian wilayah melebihi pertumbuhan alamiah adalah sektor basis. Maka dari itu analisis sektor basis sangat berguna untuk mengkaji dan memproyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah. (MK Sanjaya, 2014:2). Natuna dikenal sebagai nama pulau dan juga sebagai nama salah satu kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Pada tahun 2014 saat terpilihnya pemerintah Indonesia yang ke tujuh, program yang dijalankan untuk membangun Indonesia dimulai dari pinggiran Negara kesatuan. Kabupaten Natuna merupakan daerah kepulauan Indonesia yang letaknya paling utara di selat Karimata berbatasan dengan negara tetangga. Dalam menjalankan pembangunan di Kabupaten Natuna, sektor-sektor potensi ekonomi di Kabupaten Natuna harus dikelola dengan baik. Tabel 1.1 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2012 dan 2016 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) SEKTOR

2012

2016

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

1.124,76

1.487,44

Pertambangan dan Penggalian

9.573,95

10.881,65

87,73

105,04

9,17

10,74

0,76

0,92

731,96

991,75

277,62

397,10

Transportasi dan Pergudangan

58,38

85,72

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

47,24

61,42

Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

2

Informasi dan Komunikasi

70,81

96,77

Jasa Keuangan dan Asuransi

13,56

17,97

Real Estate

66,53

84,70

0,02

0,03

215,73

246,81

Jasa Pendidikan

17,99

21,87

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

33,36

41,56

7,69

9,00

12.437,31

14.540,57

Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

Jasa lainnya PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Sumber :BPS Kabupaten Natuna

Dari tabel PDRB diatas terlihat pada tahun 2012 sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki tingkat PDRB kedua terbesar setelah pertambangan dan penggalian. Pendapatan yang diperoleh oleh sektor pertambangan dan penggalian sangat besar dari sektor lainnya, namun jumlah tersebut tidak secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Berbeda dengan sektor pertanian, perkebunan dan perikanan yang produksinya berdampak secara langsung sepenuhnya oleh masyarakat. Pertanian memiliki bermacam sub sektor seperti tanaman bahan makanan (Tabama), perkebunan, perikanan, dan peternakan. Hasil produksi perkebunan banyak dibutuhkan sebagai bahan baku oleh industri untuk diolah menjadi suatu barang kebutuhan. Daerah kepulauan yang dikelilingi oleh pantai tentunya memiliki kelapa yang melimpah. Hal ini terbukti dalam pencatatan produksi kelapa di Kepulauan Riau pada tahun 2014 memiliki produksi yang cukup tinggi.

3

Tabel 1.2 Luas Areal, Produksi dan Rata-Rata Produksi Kelapa Wilayah Kepulauan Riau Tahun 2014 Wilayah

Kelpulauan Riau

Luas Areal

Produksi

Rata-Rata Produksi

(Ha)

(Kg)

(Kg/Ha)

34.852

12.360.000

579

Karimun

3.091

1.013.000

748

Bintan

4.125

1.663.000

803

Natuna

14.006

6.012.000

678

Lingga

2.696

1.286.000

989

Kepulauan Anambas

9.928

2.041.000

276

Batam

902

3.12.000

954

Tanjungpinang

104

33.000

550

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau, 2016 Berdasarkan tabel diatas, Kabupaten Natuna memiliki luas lahan perkebunan kelapa 14.006 Ha. Dengan luas lahan terbesar di Kepulauan Riau tersebut pada tahun 2014 jumlah hasil kelapa yang ada di daerah Kabupaten Natuna sebanyak 6.012.000 Kg pertahun. Dalam klasifikasi potensi dan peluang investasi daerah menurut pemerintahan Kabupaten Natuna, di sektor pertanian kelapa termasuk ke dalam klasifikasi potensial. Perkebunan kelapa juga menjadi sektor yang dapat menggantikan profesi nelayan di saat kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. RKPD Kabupaten Natuna tahun 2017 menjelaskan bahwa laut Kabupaten Natuna memang memiliki potensi laut yang besar namun, pemanfaatan laut tersebut tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk para nelayan karena pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja untuk melaut. Sebagai ganti untuk menyambung hidup, lahan perkebunan kelapa menjadi pengganti profesi para nelayan. Kabupaten Natuna memiliki sejarah dimana komoditas kelapa menjadi komoditas

andalan

dalam

perdagangan.

Berdasarkan

naskah

pohon

perhimpunan peri perjalanan yang ditulis oleh Raja Ali Kelana pada 1313 Hijrah bertepatan tahun 1896 M, masyarakat setempat pada umumnya berprofesi selain sebagai nelayan adalah berkebun kelapa. Pernyataan tersebut 4

diperkuat oleh Antoine Cabaton (2015) bahwa Kabupaten Natuna memiliki masyarakat yang hidup sebagai nelayan dan juga dari kelapa. Hampir di setiap kawasan terdapat pohon kelapa, hal tersebut dikarenakan tanah di Kabupaten Natuna dikenal subur untuk tumbuhan kelapa. Tetapi potensi buah kelapa yang dihasilkan oleh daerah ini belum bisa terkelola dengan maksimal. Banyak kelapa dalam yang terbuang karena belum banyak pelestarian olahan kelapa di Kabupaten Natuna. Kelapa yang sejak dahulu menjadi andalan komoditi Kabupaten Natuna sebagai sumber ekonomi yang bernilai tinggi, sekarang menjadi tidak bernilai. Jika kelapa dijual mentah harganya terlampau murah dan ongkos yang dikeluarkan petani kelapa pun juga terbilang mahal. Kelapa (cocos nucifera) merupakan tanaman serba guna yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian tanaman mulai dari akar, batang , daun dan buah dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga kelapa disebut sebagai pohon kehidupan (Sutardi, Santoso, dan Anggia 2008:3). Dapat dikatakan bahwa kelapa bisa seluruhnya diolah tanpa menyisakan satu komponen dari tanaman tersebut. Terdapat dua tanaman kelapa yaitu kelapa dalam dan tanaman kelapa genjah. Kelapa dalam merupakan salah satu keturunan dari kelapa liar atau kelapa yang sudah didomestikasi. Kelapa genjah merupakan murni kelapa yang sudah didomestikasi. Pada keadaan lingkungan yang menguntungkan, tanaman kelapa dalam baru bisa berbuah setelah berumur 6 tahun dan dapat berproduksi maksimal hingga 25 hingga 50 tahun. Kelapa genjah dapat berbuah setelah berumur 4 tahun, memiliki ukuran yang lebih pendek daripada kelapa dalam, tetapi hanya mampu bertahan hidup hingga 35 tahun (Foale dan Haries, 2009). Setiap butiran buah kelapa menurut Dewan Kelapa Indonesia (Depkindo) memiliki bobot antara 1,15 – 1,50 Kg yang terdiri dari; Sabut 35%, Tempurung 12%, Daging 30%, dan Air 23%. Untuk membuat industri kelapa terpadu, maka diperlukan suatu kombinasi mesin yang masing-masing akan menghasilkan berbagai produk jadi. Jika kelapa diolah terpisah dari mulai

5

sabut kelapa, air, daging, dan batok kelapa maka akan nilai tambah dari harga jual. Pembangunan Industri pengolahan kelapa di Kabupaten Natuna sangat diperlukan untuk memaksimalkan kegunaan dari produksi kelapa. Jika potensi kelapa tersebut dimaksimalkan dengan baik maka dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Natuna. B. Rumusan Masalah 1. Kecamatan mana saja yang mempunyai potensi daya saing kompetitif dan spesialisasi produksi kelapa dalam di Kabupaten Natuna ? 2. Kecamatan mana saja yang memiliki komoditi perkebunan kelapa dalam sebagai sektor basis ekonomi ? 3. Apakah dalam tahun yang akan datang kelapa masih menjadi potensi ekonomi ? 4. Kecamatan mana yang dapat dikembangkan potensi kelapa dalamnya untuk meningkatkan hasil produksi kelapa dalam di Kabupaten Natuna ? 5. Apakah kelapa dalam di masing-masing kecamatan memiliki kontribusi terhadap ekonomi Kabupaten Natuna ? C. Tujuan Penelitian Adapun dari tujuan penelitian ini, diantaranya: 1.

Untuk mengetahui potensi daya saing kompetitif dan spesialisasi produksi kelapa dalam masing-masing kecamatan di Kabupaten Natuna.

2.

Untuk mengetahui kecamatan mana yang memiliki komoditi kelapa dalam sebagai sektor basis ekonomi.

3.

Untuk mengetahui apakah potensi kelapa pada masa yang akan datang masih menjadi sektor basis ekonomi.

4.

Untuk mengetahui tingkat kepotensialan komoditi kelapa dalam di masing-masing kecamatan Kabupaten Natuna

5.

Untuk mengetahui apakah kelapa dalam memiliki kontirbusi terhadap ekonomi Kabupaten Natuna.

6

D. Manfaat Penelitian 1.

Bagi Pemerintah Daerah a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan untuk dapat memaksimalkan pengelolaan kelapa yang ada di Kabupaten Natuna.

2.

Bagi Akademisi a. Bagi pembaca maupun mahasiswa, semoga penelitian ini dapat menambah

wawasan mengenai besarnya nilai tambah dari

pengolahan

kelapa

terhadap

masyarakat.

7

peningkatan

perekonomian

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil 1.

Teori Pertumbuhan Ekonomi Daerah a. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi Menurut Boediono, (1992:9) pertumbuhan ekonomi merupakan proses dari peningkatan output per kapita dalam jangka waktu yang cukup panjang. Terdapat tiga aspek yang meliputi pertumbuhan ekonomi, yaitu: 1) Pertumbuhan ekonomi adalah proses (aspek ekonomis) suatu perekonomian yang berkembang, dari waktu ke waktu. 2) Pertumbuhan ekonomi memiliki kaitan dengan kenaikan output per kapita, dalam hal ini ada dua aspek penting yaitu output total dan jumlah penduduk. Output per kapita merupakan output total dibagi jumlah penduduk. 3) Pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan perspektif waktu jangka panjang. Dikatakan tumbuh bila dalam jangka panjang waktu yang cukup lama (5 tahun) mengalami kenaikan output. b. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik Ekonom – ekonom di zaman klasik yang paling dikenal seperti Adam Smith dan T. R. Malthus yang menitik beratkan kepada peranan tanah terhadap pertumbuhan yang dinilai sangat penting. Buku yang dibuat Adam Smith dengan judul The Wealth of Nation (1776), di dalam buku ini Smith menulis pegangan mengenai perkembangan ekonomi. Smith memulai dari zaman idilis hipotesis: “keadaan awal segala sesuatu, yang mendahului pengambilan lahan untuk diri sendiri maupun akumulasi persediaan (modal)”. Di sini merupakan suatu masa dimana lahan tersedia secara cuma – cuma untuk semua orang, dan masa dimana akumulasi modal belum memiliki arti. (Samuelson dan Nordhaus, 2004:254). Zaman dahulu dimana lahan masih tersedia secara cuma – cuma sehingga banyak orang memiliki lahan yang sangat luas. Semua ini 8

dikarenakan jumlah penduduk yang masih sangat sedikit begitu pula dengan jumlah dari rumah atau bangunan yang ada. Lama kelamaan jumlah penduduk bertambah tapi tidak diiringi oleh modal yang dapat membuat output bertambah sebanyak dua kali lipat. Hal ini berdampak kepada upah rill buruh yang tetap karena pendapatan upah nasional akan jatuh dikarenakan tidak adanya pengurangan sewa lahan ataupun bunga modal, oleh karenanya output akan berkembang sejalan dengan jumlah penduduk dan hal inilah merupakan zaman emas. Zaman emas berakhir karena jumlah penduduk yang terus tumbuh sehingga seluruh lahan terhuni. Karena hal tersebut batas – batas akan menghilang, tenaga kerja, pertumbuhan lahan dan juga output tidak lagi seimbang. Akibat dari ini semua adalah kelangkaan lahan dan sewa yang terus meningkat disesuaikan dengan jatah berbagai penggunaan. Pertumbuhan ekonomi memiliki dua aspek utama seperti: pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Dalam pertumbuhan output total system produksi suatu Negara yang dibagi menjadi tiga, yaitu: (Arsyad, 1999) 1) Sumber Daya Alam yang Tersedia Jika sumber daya alam belum digunakan secara maksimal maka jumlah penduduk dan stok modal adalah pemegang perananan dalam pertumbuhan output. Begitu pula sebaliknya pertumbuhan output akan berhenti bila penggunaan sumber daya alam sudah maksimal. 2) Sumber Daya Insani Jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan angkatan kerja yang bekerja dari masyarakat. 3) Jumlah Stok Modal. Jumlah tingkat pertumbuhan output tergantung pada laju pertumbuhan stok modal.

9

c. Teori Pertumbuhan Jalur Cepat yang Disinergikan Teori pertumbuhan jalur cepat (Turnpike) diperkenalkan oleh Samuelson (1955) dalam Tarigan (2005:54). Dalam teori ini, setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat. Artinya dengan kebutuhan modal yang sama sektor potensial dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian yang cukup besar. Produk yang dihasilkan harus menembus dan mampu bersaing pada pasar yang lebih luas. Perkembangan struktur tersebut akan mendorong

sektor

lain

untuk

turut

berkembang

sehingga

perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Mensinergikan sektor-sektor adalah memuat sektor lainnya saling terkait dan saling mendukung sehingga perekonomian akan tumbuh cepat. d. Ukuran Pertumbuhan Ekonomi Daerah Ukuran-ukuran

yang

terkait

ekonomi

pada

dasarnya

menggambarkan hubungan antara perekonomian daerah dengan lingkungan sekitarnya. Metode analisis Shift Share merupakan suatu teknik yang berguna dalam menganalisis struktur ekonomi daerah dengan keuntungan kompetitif. Analisis ini memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam 3 bidang yang berhubungan satu sama lain (Jhon P. Blair, 1991 dalam Sjafrizal 2008:91) : 1) Regional Share adalah komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh faktor luar yaitu: peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebujaksanaan nasional yang berlaku pada seluruh daerah.. 2) Proportionality Shift adalah komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti industri.

10

3) Differential Shift adalah komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif. Unsur pertumbuhan inilah yang merupakan keunggulan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan ekspor daerah. e. Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi di suatu negara atau daerah tidak hanya didukung oleh kenaikan stok modal fisik dan juga jumlah tenaga kerja, tetapi juga harus ada peningkatan dalam mutu modal sumber daya manusia yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja serta pemanfaatan kemajuan teknologi. Hal tersebut juga dijelaskan di dalam pandangan ekonom – ekonom klasik. Menurut pandangan ekonom klasik mengemukakan bahwa setidaknya ada empat faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu (1) jumlah penduduk, (2) jumlah stok barang dan modal, (3) luas tanah dan kekayaan alam, (4) tingkat ekonomi yang digunakan. (Kuncoro, 2004). Menurut Sadono (2000), alat untuk mengukur perekonomian suatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi wilayah itu sendiri. Perekonomian wilayah ini akan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun karena adanya penambahan pada faktor produksi. Selain dari faktor produksi, jumlah angkatan kerja yang bekerja juga akan meningkat dari tahun ke tahun sehingga apabila dimanfaatkan dengan maksimal maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 2.

Teori Pembangunan Ekonomi Daerah Secara umum, pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara dalam mengembangkan kegiatan atau aktifitas ekonomi guna meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam jangka panjang (Subandi, 2011:9) dalam Widi Asih (2015:16). Pembangunan

ekonomi

merupakan

usaha



usaha

dalam

meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang dapat diukur dengan tinggi 11

atau rendahnya pendapatan rill per kapita. Maka dari itu tujuan dari pembangunan ekonomi bukan hanya untuk menaikkan pendapatan nasional rill, namun juga untuk meningkatkan produksi. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa tingkat output pada saat tertentu dapat ditentukan oleh tersedianya atau digunakan dengan baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, tingkat teknologi, keadaan pasar dan kerangka kehidupan ekonomi (sistem perekonomian) dan sikap dari output itu sendiri (Irawan dan Suparmoko, 2002 dalam Lusminah, 2008) Pembangunan ekonomi daerah secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu daerah meningkat dalam jangka panjang (Sukirno, 1992:13). Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses yang mencakup pembentukan institusi – institursi baru, pembangunan industri – industri alternatif, perbaikan kapasitas kerja yang ada dalam menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar – pasar baru, alih ilmu pengetahuan dan pengembangan perusahaan – perusahaan baru. Dimana, semua ini memiliki tujuan yang utama yaitu untuk meningkatkan jumlah dan juga jenis peluang kerja untuk masyarakat di suatu daerah (Arsyad, 1999:108-109). Pembangunan ekonomi ini dibedakan pengertiannya dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai: 1) Peningkatan pendapatan per kapita masyarakat, yaitu tingkat pertambahan PDRB/GNP pada suatu tingkat tertentu adalah melebihi tingkat pertumbuhan penduduk. 2) Perkembangan

PDRB/GNP

yang

berlaku

dalam

suatu

daerah/negara diikuti oleh perombakan dan modernisasi struktur ekonominya. (Sukirno, 1978:14). a. Teori Basis Ekonomi Teori basis ekonomi ini pada awalnya dikemukakan oleh Harry W. Ricahrdson, menyatakan bahwa faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah hal yang berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad, 1999:166).

12

Perekonomian regional dapat dibagi menjadi dua sektor yaitu kegiatan – kegiatan basis dan kegiatan-kegiatan bukan basis/non basis. Kegiatan – kegiatan basis merupakan kegiatan yang melakukan ekspor barang maupun jasa ke tempat di luar batas – batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atau yang memasarkan barang maupun jasa mereka kepada orang – orang di luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan – kegiatan bukan basis/ non basis merupakan kegiatan – kegiatan yang menyediakan barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh orang – orang yang bertempat tinggal di dalam batas – batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan – kegiatan ini tidak melakukan ekspor barang – barang, jadi ruang lingkup produksi mereka dan daerah pasar mereka yang utama adalah bersifat lokal. (Glasson, 1977). Menganalisis basis ekonomi suatu wilayah dapat menggunakan metode analisis Location Quotient (LQ). LQ digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor basis ekonomi atau sektor unggulan dengan cara membandingkan peranannya dalam perekonomian daerah tersebut dengan peranan kegiatan atau industri sejenis dalam perekonomian regional (Emilia, 2006 dalam Aditya, 2013). Tarigan (2005:32-35) menguraikan bahwa terdapat 4 cara memilah kegiatan basis dengan nonbasis, yakni: 1) Metode Langsung Metode langsung dapat dilakukan dengan survei langsung kepada pelaku usaha ke mana mereka memasarkan barang yang diproduksi dan dari mana mereka membeli bahan-bahan kebutuhan untuk menghasilkan produk tersebut. Dari jawaban yang mereka berikan, dapat ditentukan berapa persen produk yang dijual ke luar wilayah dan berapa persen yang dipasarkan di dalam wilayah. Untuk kepentingan analisis, perlu diketahui jumlah orang yang bekerja dan berapa nilai tambah yang dihasilkan dari kegiatan usaha tersebut. Namun, menggunakan 13

variabel nilai tambah/pendapatan sangat sulit karena di dalamnya terdapat unsur laba yang biasanya sensitif untuk ditanyakan. 2) Metode Tidak Langsung Salah satu metode tidak langsung adalah dengan menggunakan asumsi atau biasa disebut metode asumsi. Ada kegiatan yang secara tradisional dikategorikan sebagai kegiatan basis, misalnya: a) Asrama militer karena gaji penghuninya dan biaya operasional/perawatan lokasi berasal dari uang pemerintah pusat; b) Kegiatan pertambangan karena umumnya hasilnya dibawa ke luar wilayah; c) Kegiatan pariwisata karena mendatangkan uang dari luar wilayah. Dalam metode asumsi, kegiatan lain yang bukan dikategorikan basis adalah otomatis menjadi kegiatan nonbasis. 3) Metode Campuran Dalam metode campuran diadakan survei pendahuluan, yaitu pengumpulan data sekunder, biasanya dari instansi pemerintah atau lembaga pengumpul data seperti BPS. Dari data sekunder berdasarkan analisis ditentukan kegiatan mana yang dianggap basis dan yang nonbasis. Asumsinya apabila 70% atau lebih produknya diperkirakan dijual ke luar wilayah maka kegiatan itu langsung dianggap basis. Sebaliknya, apabila 70% atau lebih produknya dipasarkan di tingkat lokal maka langsung dianggap nonbasis. 4) Metode Location Quotient Metode LQ membandingkan porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor tertentu di wilayah kita dibandingkan dengan porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama secara nasional. LQ > 1 memberi indikasi bahwa sektor 14

tersebut adalah basis, LQ < 1 berarti sektor itu adalah non basis. Sektor basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai Keuntungan Kompetitif (Competitive Advantage) yang cukup tinggi (Sjafrijal, 2008:89). Semakin besar ekspor suatu wilayah semakin maju pertumbuhan wilayah, dimana perubahan

yang terjadi

pada sektor basis

menimbulkan efek ganda dalam perekonomian regional. Namun di dalam metode LQ sendiri terdapat kelemahan yaitu kriteria dalam LQ memiliki sifat statis karena hanya dapat menggambarkan keunggulan suatu basis sektor pada satu waktu saja, sehingga keunggulan basis sektor di tahun sekarang belum tentu akan unggul di tahun yang akan datang. Oleh karena itu maka diperlukan suatu metode untuk mengatasi kelemahan dari LQ ini dengan cara digunakannya analisis varian dari LQ yang biasa disebut dengan DLQ (Dynamic Location Quotient) yaitu dengan menintroduksikan laju pertumbuhan dengan asumsi bahwa setiap nilai tambah sektoral merupakan rata-rata laju pertumbuhan pertahun sendiri-sendiri selama kurun waktu tahun awal dan tahun berjarak (Ahmad Riyadi, 2015). DLQ sebenarnya masih sama dengan LQ, namun perbandingan ini lebih menekankan pada laju sektor perekonomian di suatu daerah dan perkembangannya dengan sektor yang sama di tingkat wilayah yang lebih besar. Pada masa yang akan datang, jika keadaan masih tetap sebagaimana adanya saat ini, maka dapat diharapkan bahwa sektor perekonomian unggul pada masa mendatang (Saharuddin, 2006). b. Teori Tempat Sentral Teori tempat sentral (central place teory) beranggapan ada hirarki tempat (hirarchy of place). Setiap tempat sentral didukung oleh sejumlah tempat yang lebih kecil yang menyediakan sumber daya. Tempat

sentral

tersebut

merupakan

15

suatu

pemukiman

yang

menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya (Arsyad, 2004: 301). c. Teori Lokasi Dalam model pengembangan industri kuno mengatakan bahwa lokasi yang baik merupakan biaya paling murah antara bahan baku dengan pasar. Hal tersebut berdampak pada perusahaan – perusahaan yang cenderung lebih memilih lokasi untuk meminimumkan biaya namun dapat memaksimalkan peluangnya untuk mendekati pasar. (Arsyad, 2004:301). 3.

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Suatu daerah dalam merencanakan pembangunan ekonominya harus bisa memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk difokuskan pengembangannya. Pengembangan kelanjutan akan terjadi jika suatu daerah memiliki sumber daya yang dapat meningkatkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitifnya. Sjafrijal 2008 menyatakan suatu daerah dapat dikatakan unggul secara komparatif dan kompetitif : a. Keunggulan Komparatif Secara komparatif keunggulan suatu sektor ekonomi ditunjukkan dari jumlah dan mutu sumber daya jika dibandingkan dengan daerah lain. Dengan menghitung keunggulan komparatif maka akan didapatkan tingkat spesialisasi daerah dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dengan menggunakan jumlah produksi, tenaga kerja dan pendapatan suatu daerah. b. Keunggulan Kompetitif Secara kompetititf keungguan suatu sektor ekonomi ditunjukkan oleh perkembangan produksi daerah untuk tujuan ekspor. Keunggulan kompetitif memiliki sifat yang dinamis karena tergantung kepada keunggulan daerah yang selaras dengan perkembangan daerah lainnya. Jika daerah yang bersangkutan dapat mendorong pertumbuhan sektorsektor yang memiliki keuntungan kompetitif sebagai sektor basis untuk ekspor, maka pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat ditingkatkan.

16

4.

Ekonomi Pertanian Sebagian besar wilayah Indonesia memiliki tingkat produksi pertanian yang tinggi karena Indonesia merupakan negara agraris. Menurut Mosher (1966), pertanian adalah suatu bentuk produksi yang khas yang didasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Petani mengelola dan merangsang pertumbuhan tanaman dan hewan dalam suatu usaha tani, dimana kegiatan produksi merupakan bisnis sehingga pengeluaran dan pendapatan sangat penting. Dapat diketahui bahwa kegiatan pertanian tidak terlepas dari kegiatan ekonomi karena terdapat bisnis didalamnya. Menurut Tatiek Koerniawati Andjani (2011), dalam ilmu pertanian istilah ekonomi dapat diartikan sebagai bagian ilmu ekonomi umum yang mempelajari

fenomena-fenomena

serta

persoalan-persoalan

yang

berhubungan dengan pertanian baik mikro maupun makro. Ekonomi pertanian mempunyai fungsi yang tidak kalah pentingnya dari ilmu ekonomi maupun ilmu pertanian itu sendiri. Dalam pelaksanaan di lapangan, pertanian juga membutuhkan ilmu ekonomi pertanian seperti berapa keuntungan yang akan diperoleh. Dalam ilmu ini semua akan diperhitungkan dan dipelajari secara mendalam (Daniel, 2002;6). Peranan sehubungan

sektor dengan

pertanian

dalam

pembangunan

pertimbangan-pertimbangan

diantaranya

sebagai

berikut

(Kamaluddin, 1998): f. Sebagian besar penduduk di negara-negara berkembang memiliki usaha yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. g. Sektor pertanian di negara berkembang merupakan sumber utama untuk pemenuhan kebutuhan pokok terutama pangan. h. Sektor pertanian merupakan sumber atau penyedia input tenaga kerja yang sangat besar untuk menunjang pembangunan sektorsektor lainnya terutama industri. i. Sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi hasil output sektor modern di perkotaan yang ditumbuhkembangkan. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting karena

sebagian

anggota

masyarakat 17

negera-negara

berkembang

menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Jika para perencana dengan

bersungguh-sungguh

memperhatikan

kesejahteraan

masyarakatnya, maka satu-satunya cara adalah dengan meningkatkan kesejahteraan sebagian besar anggota masyarakatnya yang hidup di sektor pertanian itu. Cara itu bisa ditempuh dengan jalan meningkatkan produksi tanaman pangan dan tanaman perdagangan mereka dan atau dengan meningkatkan harga yang mereka terima atas produk-produk yang mereka hasilkan (Arsyad, 1992). 5.

Harga Produsen Petani dalam menjual hasil produksinya memiliki harga yang disepakati pada waktu terjadinya pertukaran/transaksi antara petani (penghasil) dengan pembeli (pedagang pengumpul). Harga produsen merupakan harga yang diterima oleh produsen dari pembeli untuk suatu barang atau jasa yang telah diproduksi, atau bisa dibilang sebagai harga pembelian yang dikurangi pajak nilai tambah untuk setiap komoditas menurut satuan setempat.

B. Penelitian Sebelumnya Pada bagian ini memuat hasil – hasil penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai acuan penulis maupun pengembangan penelitian selanjutnya.

Dengan

mempelajari

penelitian

sebelumnya,

dapat

dikembangkan lebih lanjut tentang permasalahan – permasalahan lainnya dengan mengembangkan pada obyek penelitian yang lainnya. Lusminah (2008) dengan judul penelitian “Analisis Potensi Wilayah Kecamatan Berbasis Komoditi Pertanian Dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Cilacap (pendekatan location quotient dan shift share analysis). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data produksi komoditi pertanian tiap kecamatan di Kabupaten Cilacap tahun 2005 dan 2006, data harga rata-rata komoditi pertanian di tingkat produsen di Kabupaten Cilacat tahun 2005 dan 2006 PDRB Kabupaten Cilacap. Dalam penelitian ini didapatkan hasil komoditi pertanian yang menjadi basis di sebagian besar kecamatan di Kabupaten Cilacap, komponen pertumbuhan komoditi 18

pertanian yang cepat perkecamatan di Kabupaten Cilacap, dan komoditi pertanian yang mempunyai tingkat daya saing yang tinggi. Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya No.

Penelitian

1.

Lusminah 2008

Alat Analisis - Shift share - LQ

Judul dan Hasil Penelitian Judul: Analisis Potensi Wilayah Kecamatan Berbasis Komoditi Pertanian Dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Cilacap. Hasil Penelitian: hasil dari analisis komoditi pertanian basis dari masing – masing kecamatan di Kabupate Cilacap adalah: padi sawah, ketela pohon, ketela rambat, jagung, kacang hijau, padi gogo, kacang tanah, kacang panjang, mannga, rambutan, pepaya, pisang, jambu biji, dan suku (untuk sub sektor tabama), kelapa dalem (untuk sub sektor tanaman perkebunan), jati dan mahoni (untuk sub sektor kehutanan), ayam kampug, sapi potong, domba, kambing (untuk sub sektor peternakan), dan nila, tawes , ikan mas, lele (untuk sub sektor perikanan). Kecamatan dengan hasil komoditi basis terbanyak berasal dari Kecamatan Cilacap Selatan. Sedangkan untuk hasil komoditi pertanian basis paling sedikit berasal dari Kecamatan Jeruklegi dan Binangun. Hasil dari analisis komponen pertumbuhan pangsa wilaya komoditi pertanian basisi di masing – masing kecamatan di Kabupaten Cilacap, komoditi pertanian basis yang mempunyai daya saing pada sub sektor tanaman bahan makan berjumlah 38, sub sektor

19

perkebunan berjumlah 14, sub sektor kehutanan berjumlah 3, sub sektor peternakan berjumlah 10, sub sektor perikanan berjumlah 28 sub sektor. Hasil dari analisis komponen pertumbuhan pangsa wilayah komoditi pertanianbasis yang mempunyai daya saing pada sub sektor tanaman bahan makakan berjumlah 38, sub sektor perkebunan berjumlah 14, sub sektor kehutanan berjumlah 3, sub sektor peternakan berjumlah 14, sub sektor perikanan berjumlah 30 sub sektor. Kecamatan yang paling banyak memiliki komoditi pertanian basis dengan pertumbuhan yang cepat adalah Kecamatan Cipari (43 komoditi) dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Kroya (3 komoditi). Kecamatan yang paling banyak memiliki komoditi pertanian basis dengan daya saing yang baik adalah Kecamatan Dayeuhluhur (31 komoditi), sedangkan yang paling sedikit adalah Kecamatan Binangun (2 komoditi). 2.

Nurul Hasanah (2016)

- LQ - Shift Share - Klasifikasi Pertumbuhan Komoditas - Sistem Informasi Geografis

20

Judul: Analisis Pertumbuhan Komoditas Sub Sektor Perkebunan Dalam Pengembangan Wilayah di Provinsi Kalimantan Barat Dengan Metode Location Quotient (LQ) dan Shift Share. Hasil Penelitian: Seluruh komoditas sub sektor perkebunan yang terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Barat merupakan komoditas basis walaupun hanya menjadi komoditas basis di kabupaten-kabupaten tertentu. Kabupaten di wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang mengalami kondisi perkembangan produksi perkebunannya yang cukup baik dan pertumbuhan produksinya

- LQ - Shift Share - Tipologi Klassen - Model Rasio Pertumbuhan (MRP)

3.

Aditya Nugraha Putra (2013)

4.

- LQ Rakhmad Hidayat (2013) - DLQ - Shift Share

berada diatas kondisi ideal yaitu Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, Sekadau, Kayong Utara, Kubu Raya, dan Singkawang. Klasifikasi pertumbuhan komoditas sub sektor perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas sub sektor perkebunan termasuk dalam kuadran I (LQ > 1, S > 0) yaitu karet, kelapa dalam, kelapa hybrida, kakao, lada, kopi, kemiri, pinang, tebu, sagu, kapuk, jarak, aren, dan kelapa deres. Judul: Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Hasil Penelitian: Kota Yogyakarta termasuk ke dalam Tipologi daerah yang cepat maju dan tumbuh. Kabupaten Sleman masuk ke dalam Tipologi daerah yang berkembang cepat dan ketiga kabupaten lainnya termasuk dalam Tipologi daerah yang tertinggal. Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunung Kidul memiliki prioritas pertama dalam pengembangan wilayah atas semua sektor basis yang dimilikinya. Judul: Analisis Komoditas Unggulan Sub Sektor Perkebunan di Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat. Hasil Penelitian: Analisis LQ menunjukkan bahwa komoditas perkebunan unggulan di Bengkayang adalah lada, kakao, cengkeh dan hazelnut. Analisis DLQ menunjukkan bahwa komoditas perkebunan unggulan di Bengkayang adalah kelapa dan kelapa hibrida. Analisis gabungan LQ dan DLQ menunjukkan bahwa ada dua komoditi yang mengalami reposisi yang ditidak terkemuka komoditas unggulan di masa depan yaitu kelapa hibrida dan kelapa.

21

5.

6.

7.

Sofiyanto (2015)

Ritayani Iyan (2014)

Putuhena dan Abdul Majid (2010)

- Shift share - LQ

Judul: Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Batang (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis). Hasil Penelitian: Dengan menggunakan Location Quotient (LQ) pada perekonomian Kabupaten Batang menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Batang termasuk sektor unggulan. Berdasarkan analisis Shift Share pada perekonomian Kabupaten Batang, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang lambat. Dilihat dari daya saingnya sektor pertanian tidak memiliki daya saing yang baik dengan sektor yang sama di daerah lain di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan profil pertumbuhan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Batang, sektor pertanian berada pada posisi kuadran III, yang artinya sektor pertanian merupakan sektor terbelakang dalam perekonomian Kabupaten Batang. Judul: Analisis Komoditas Unggulan Pertanian di Wilayah Sumatera.

- LQ

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan komoditas unggulan sektor pertanian di wilayah Sumatera pada subsdemon1ektor perkebunan meliputi karet, kelapa, kopi, dan tembakau dengan wilayah unggulan meliputi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung dan Kepulauan Riau. - LQ Judul: Analisis Sub Sektor dan - Shift Share Komoditas Unggulan Pertanian di - Model Rasio Kabupaten Seram Bagian Barat. Pertumbuhan - Overlay Hasil Penelitian: Hasil penelitian - Tipologi menunjukkan komoditi unggulan Klassen sektor pertanian di Kabupaten Seram Bagian Barat adalah komoditi 22

8.

Muhammad Ghufron (2016)

ubi kayu, ubi jalar, chili, terong, kacang panjang, kubis, petsai, bawang daun, lobak, buncis, durian, salak dan buah-buahan lainnya. Sub sektor unggulan sektor pertanian adalah tanaman bahan makanan, perkebunan, dan kehutanan. Sub sektor pertanian yang pertumbuhannya cepat dan maju di Kabupaten Seram Bagian Barat adalah sub sektor tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan. Judul: Analisis Pembangunan Wilayah Berbasis Sektor Unggulan Kabupaten Lamongan Propinsi Jawa Timur.

- LQ - Shift Share - SWOT

Hasil Penelitian: Sektor yang memiliki nila LQ > 1 adalah sektor basis. Artinya sektor tersebut teah mampu untuk memenuh kebutuhannya sendiri juga untuk memenuhi kebutuhan daerah lainnya. Selama kurun waktu 20022006 yang termasuk sektor basis terdapat pada sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor perdanganan, hotel dan restoran. Pada analisis Shift Share laju pertumbuhan tertinggi di Kabupaten Lamongan terdapat pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar 48,74 persen selama tahun 2002-2006.

C. Kerangka Pemikiran Perekonomian daerah dapat ditingkatkan dengan cara mendorong potensi yang dimiliki oleh masing – masing daerah. Oleh karenanya pemerintah harus mengetahui potensi apa saja yang dimiliki oleh daerah tersebut. Potensi daerah ini dapat dilihat dengan mengidentifikasikan sektor perekonomian mana yang produktif, memiliki potensi untuk dikembangkan, dan juga memiliki laju pertumbuhan yang baik. 23

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Natuna memiliki produksi kelapa yang lebih banyak dibandingkan produksi perkebunan lainnya. Dalam mengukur besar kecilnya suatu produksi perkebunan, laju pertumbuhan harus dihitung jumlahnya dari awal tahun penelitian dan akhir tahun. Jika produksi kelapa menjadi potensi daerah, maka diharapkan pengelolaan kelapa mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah agar bisa dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui komponen pertumbuhan komoditi perkebunan kelapa dalam yang ada di Kabupaten Natuna. Komponen

pertumbuhan

ini

meliputi

pertumbuhan

nasional

(PN),

pertumbuhan proposional (PP), dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Namun, pada skripsi ini yang akan dibahas hanya pertumbuhan proposional (PP) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Jika hasil dari PP dan PPW bernilai positif maka dapat dikatakan komoditi kelapa dalam adalah sektor perkebunan dengan pertumbuhan sangat pesat karena memiliki spesialisasi dan keunggulan kompetitif. Jika hasil PP dan PPW negatif maka dapat dikatakan komoditi kelapa dalam adalah sektor perkebunan dengan daya saing lemah dan juga peranan terhadap wilayah rendah karena tidak memiliki spesialisasi dan keunggulan kompetitif. Apabila mengacu pada teori basis ekonomi maka dapat diklasifikasikan menjadi dua sektor yaitu sektor basis dan sektor non basis. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui sektor ekonomi unggulan adalah metode Location Quotient (LQ). Metode LQ ini digunakan untuk mengetahui komoditi pertanian khususnya perkebunan kelapa dalam di Kabupaten Natuna termasuk ke dalam komoditi basis atau non basis di masing – masing kecamatan dengan cara menghitung nilai LQ dari setiap komoditi pertanian yang ada di Kabupaten Natuna. Jika LQ < 1 maka komoditi pertanian tersebut termasuk ke dalam komoditi non basis. Sedangkan, apabila LQ > 1 maka komoditi pertanian tersebut termasuk ke dalam komoditi basis. Metode yang dapat melengkapi analisis LQ digunakan analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) untuk mengetahui sebesar apa perubahan yang terjadi pada masa yang akan datang. Kombinasi nilai LQ dan DLQ dapat 24

dikatakan jika LQ > 1 dan DLQ < 1 maka komoditi kelapa dalam di suatu wilayah yang tadinya menjadi sektor basis pada masa yang akan datang tidak menjadi sektor basis, dan jika LQ < 1 dan DLQ > 1 maka komoditi kelapa dalam di suatu wilayah yang tadinya sektor non basis menjadi sektor basis di masa yang akan datang. Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk menggabungkan hasil dari perhitungan LQ, PPW dan PP. Dari gabungan hasil tersebut akan terlihat daerah mana yang memiliki tingkat kepotensialan perkebunan kelapa dalamnya untuk dikembangkan. Dengan dilakukan pengembangan dari produksi kelapa di wilayah yang memiliki tingkat kepotensialan tinggi maka dapat juga meningkatkan perekonomian daerah tersebut dan memicu daerah lainnya. Alat analisis yang dapat digunakan untuk melihat deksripsi kegiatan ekonomi perkebunan kelapa dalam dapat digunakan analisis Model Rasio Pertumbuhan dengan RPs dan RPr. Jika RPs > 1 menunjukkan pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah studi (Kecamatan) lebih tinggi daripada sektor yang sama di wilayah referensi (Kabupaten), begitu juga sebaliknya Jika RPs < 1 menunjukkan pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah studi lebih rendah daripada sektor yang sama di wilayah referensi. Jika RPr > 1 menunjukkan pertumbuhan produksi kelapa dalam lebih tinggi dari pertumbuhan produksi perkebunan keseluruhan, begitu juga sebaliknya jika RPr < 1 menunjukkan pertumbuhan produksi kelapa dalam lebih rendah dari pertumbuhan produksi perkebunan keseluruhan. Untuk lebih jelasnya, hubungan tersebut dapat ditunjukan pada bagan kerangka pemikiran berikut ini:

25

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran Penggalian Potensi Ekonomi Daerah

Sektor Pertanian

Sub-Sektor Pertanian: 1. 2. 3. 4. 5.

Tabama Perkebunan Kehutanan Peternakan Perikanan

Sektor Non Pertanian

Perkebunan: 1.Karet 2.Kelapa 3.Kelapa Sawit 4.Kopi 5.Cengkeh 6.Pinang

7. Enau 8. Lada 9. Gambir 10. Kakao 11. Kemiri 12. Cassaviera

Pertumbuhan Ekonomi

Sektor Ekonomi Basis

Location Quotient

Shift Share

MRP

Dynamic Location Quotient Tipologi Klassen

Potensi Kelapa Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

26

BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah daerah Kabupaten Natuna. Periode waktu yang digunakan pada penelitian ini tahun 2012 - 2016. Sedangkan jenis data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data (Kuncono, Mudrajad: 2001). Sumber data yang akan diolah didapatkan dari publikasi data Badan Pusat Statistik & Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna, adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah: 

Produksi kelapa dalam perkecamatan Kabupaten Natuna.



Produksi perkebunan perkecamatan Kabupaten Natuna.



Harga produsen masing-masing komoditas perkebunan Provinsi Kepulauan Riau. Data tersebut merupakan nilai produksi kelapa dalam (Harga Produsen

x Produksi Kelapa) yang nantinya akan diproses menjadi suatu model dengan menggunakan metode Shift Share, Location Quotient, Dynamic Location Quotien, Tipologi klassen, dan Model Rasio Pertumbuhan.. B. Metode Penentuan Populasi Populasi merupakan kelompok elemen yang lengkap yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian (Kuncoro, 2003 dalam Aditya 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah hasil produksi perkebunan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Natuna.

27

C. Metode Pengumpulan Data Metode

pengumpulan

data

sangat

penting

untuk

mempertanggungjawabkan bahan-bahan yang relevan dan realistis. Metode yang diambil dalam penulisan ini adalah purposive yaitu pengumpulan data penelitian dengan mempertimbangkan alasan yang diketahui dari daerah penelitian tersebut (Singarimbun, 1995). D. Metode Analisis Data 1. Analisis Shift Share Analisis Shift Share digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi. Metode ini dipakai untuk mengamati struktur perekonomian perkebunan kelapa dalam dan pergeserannya di kecamatan Kabupaten Natuna dengan membandingkan sektor yang sama di Kabupaten Natuna. Teknik

analisis

Shift

Share

selain

dapat

mengamati

penyimpangan-penyimpangan dari berbagai perbandingan kinerja perekonomian antar wilayah, keunggulan kompetitif suatu wilayah juga dapat diketahui melalui teknik analisis Shift Share ini (Thoha dan Soekarni, 2000). Komponen pertumbuhan wilayah dalam analisis Shift Share meliputi komponen pertumbuhan nasional (PN) atau Regional Shift, pertumbuhan proporsional (PP) atau Proporsional Shift, dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) atau Differential Shift. Dalam penelitian

ini

hanya

menggunakan

komponen

pertumbuhan

proporsional dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah. Rumus analisis Shift Share yang digunakan sebagai berikut (Budiharsono, 2001): ∆Kij = PNij + PPij + PPWij Atau secara rinci dapat dinyatakan sebagai berikut:

28

K’ij – Kij = ∆Kij = Kij (Ra – 1) + Kij (Ri – Ra) + Kij (ri – Ri) ri

= K’ij/Kij

Ri

= K’i/Ki

Ra

= K’../K..

PNij

= (Ra - 1) x Kij

PPij

= (Ri - Ra) x Kij

PPWij

= (ri – Ri) x Kij

Keterangan: i

: Nilai produksi kelapa dalam

j ∆Kij

Kecamatan Kabupaten Natuna : Perubahan nilai produksi perkebunan kelapa dalam di kecamatan j

Kij

: Nilai produksi perkebunan kelapa dalam di kecamatan j pada tahun dasar analisis

K’ij

: Nilai produksi perkebunan kelapa dalam di kecamatan j pada tahun akhir analisis

Ki

:

= Nilai produksi perkebunan kelapa dalam Kabupaten Natuna pada tahun dasar analisis

K’i

:

= Nilai produksi perkebunan kelapa dalam Kabupaten Natuna pada tahun akhir analisis

K...

: Nilai produksi perkebunan Kabupaten Natuna pada tahun dasar analisis

K’...

: Nilai produksi perkebunan Kabupaten Natuna pada tahun akhir analisis

Ra – 1

: Persentase perubahan nilai produksi kelapa dalam kecamatan

j

yang

disebabkan

komponen

pertumbuhan nasional Ri – Ra

: persentase perubahan nilai produksi kelapa dalam kecamatan 29

j

yang

disebabkan

komponen

pertumuhan proporsional. ri – Ri

: Persentase perubahan nilai produksi perkebunan kecamatan

j

yang

disebabkan

komponen

pertumbuhan pangsa wilayah. Menurut Budiharsono dalam Ghufron (2008) analisis Shift Share ini menganalisis perubahan berbagai indikator kegiatan ekonomi seperti produksi dan tenaga kerja, pada dua titik waktu disuatu wilayah. Hasil dari PP dan PPW akan di gabungkan dengan nilai PP sebagai sumbu horizontal dan PPW sebagai sumbu vertikal, akan diperoleh empat kategori posisi relatif dari seluruh daerah atau sektor ekonomi tersebut. Keempat kategori tersebut adalah (Freddy, 2001): Tabel 3.1. Posisi Relatif Perkebunan Kelapa Dalam per Kecamatan Kabupaten Natuna Differential Shift (PPW) Positif (+)

Negatif (-)

Proportional Shift (PP) Negatif (-)

Positif (+)

Cenderung Berpotensi Pertumbuhan Pesat (Fast (Highly Potential)

Growing)

Terbelakang

Berkembang

(Depressed)

(Developing)

Sumber :Freddy, 2001 Dengan kategori sebagai berikut: a. Kategori I (PP positif dan PPW positif) adalah wilayah/sektor dengan pertumbuhan sangat pesat. b. Kategori II (PP negatif dan PPW positif) adalah wilayah/sektor dengan kecepatan pertumbuhan terhambat tapi berkembang. c. Kategori III (PP positif dan DS negatif) adalah wilayah/sektor dengan kecepatan terhambat namun cenderung berpotensi). d. Kategori IV (PP negatif dan PPW negatif) adalah wilayah/sektor dengan daya saing lemah dan juga peranan terhadap wilayah rendah. 30

2. Analisis Location Quotient Metode

Location

Quotient

(LQ)

digunakan

untuk

mengidentifikasi komoditi basis pertanian di Kabupaten Natuna. Dengan metode analisis ini dapat diketahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor basis atau unggulan di suatu wilayah. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah nilai produksi kelapa perkecamatan Kabupaten Natuna dan produksi perkebunan Kabupaten Natuna. Rumusan Location Quotient (LQ) menurut Bendavid Val (Tarigan, 2007), yang digunakan dalam menentukan sektor basis dan nonbasis dinyatakan dalam persamaan berikut:

Keterangan : LQ

:

Indeks Location Quotient

Xr

:

Nilai produksi kelapa dalam kecamatan j Kabupaten Natuna

Xn

:

Nilai

total

produksi

perkebunan

kecamatan

j

Kabupaten Natuna RVr

:

Nilai produksi kelapa dalam Kabupaten Natuna

RVn

:

Nilai total produksi perkebunan Kabupaten Natuna

Berdasarkan formulasi dalam persamaan di atas maka ada tiga kemungkingan nilai LQ yang dapat diperoleh, yaitu: a. LQ > 1, mempunyai arti bahwa produksi kelapa dalam merupakan sektor basis. Produksi kelapa dalam yang dihasilkan tidak hanya dapat untuk memenuhi kebutuhan di dalam wilayah saja, tetapi juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan wilayah lain. Sektor tersebut merupakan sektor potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Natuna. b. LQ

= 1, mempunyai arti bahwa produksi kelapa merupakan

sektor non basis, karena produk yang dihasilkan hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam wilayah saja. 31

c. LQ < 1, mempunyai arti bahwa produksi kelapa merupakan sektor non basis, karena produk yang dihasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam wilayah. Sektor tersebut kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Natuna. 3. Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Analisis DLQ digunakan untuk mengetahui sebesar apakah perubahan yang terjadi dalam suatu sektor perekonomian di suatu daerah dan bagaimana perkembangan sektor perekonomian tersebut. Rumus perhitungan sebagai berikut:

Keterangan: gij

:

Laju pertumbuhan sektor i di kecamatan j Kabupaten Natuna

Gij

:

Rata-rata laju pertumbuhan sektor i di kecamatan j Kabupaten Natuna.

Gi

:

Laju pertumbuhan sektor i di Kabupaten Natuna.

Gi

:

Rata-rata laju pertumbuhan sektor i di Kabupaten Natuna.

T

:

Selisih tahun akhir dan tahun awal.

Tafsiran dari hasil perumusan yang ada sebagai berikut (Suyatno, 2000) : a. DLQ ≥ 1 : maka potensi perkembangan sektor i di kecamatan lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di tingkat Kabupaten dan masih dapat diharapkan untuk menjadi sektor basis dimasa yang akan datang. b. DLQ < 1 : maka potensi perkembangan sektor i di kecamatan lebih lambat dibandingkan sektor yang sama di tingkat Kabupaten dan sektor tersebut tidak dapat diharapkan untuk menjadi sektor basis dimasa yang akan datang. 32

Mengkombinasikan nilai LQ dan DLQ dengan kriteria sebagai berikut (Suryatno, 2000 dalam Ariyani 2005) : a. LQ > 1 dan DLQ > 1, maka perkebunan kelapa dalam belum mengalami reposisi dan tetap menjadi sektor basis. b. LQ > 1 dan DLQ < 1, maka perkebunan kelapa dalam megalami reposisi dan tidak bisa diharapkan untuk menjadi basis dimasa yang akan datang. c. LQ < 1 dan DLQ > 1, maka perkebunan kelapa dalam mengalami reposisi dari non basis menjadi basis dimasa yang akan datang. d. LQ < 1 dan DLQ < 1, maka perkebunan kelapa dalam belum mengalami reposisi dan tetap menjadi sektor nonbasis. 4. Analisis Tipologi Klassen Menurut Mujib Saerofi (2005), dalam pengembangan hasil perhitungan indeks LQ, PPW, dan PP untuk menentukan tipologi sektoral.

Pada

penelitian

ini

analisis

Tipologi

Klassen

mengklasifikasikan sektor basis dan non basis dengan cara menggabungkan ketiga hasil komponen tersebut. Tipologi sektor adalah sebagai berikut: Tabel 3.2. Tipologi Sektor Tingkat Kepotensialan Ekonomi Perkebunan Kelapa Dalam per Kecamatan Kabupaten Natuna LQ

PPWj

PPj

Tingkat

Rata-Rata

Rata-Rata

Rata-Rata

Kepotensialan

I

(LQ > 1)

(Dj > 0)

(Pj > 0)

Istimewa

II

(LQ > 1)

(Dj > 0)

(Pj < 0)

Baik Sekali

III

(LQ > 1)

(Dj < 0)

(Pj > 0)

Baik

IV

(LQ > 1)

(Dj < 0)

(Pj < 0)

Lebih dari Cukup

V

(LQ < 1)

(Dj > 0)

(Pj > 0)

Cukup

VI

(LQ < 1)

(Dj > 0)

(Pj < 0)

Hampir dari Cukup

VII

(LQ < 1)

(Dj < 0)

(Pj > 0)

Kurang

Tipologi

33

VIII

(LQ < 1)

(Dj < 0)

(Pj < 0)

Kurang Sekali

Sumber: Mujib Saerofi, 2005 Keterangan : LQ

:

Sektor basis produksi kelapa dalam perkecamatan Kabupaten Natuna

PP

:

Laju

pertumbuhan

produksi

kelapa

dalam

perkecamatan Kabupaten Natuna PPW :

Daya saing pertumbuhan produksi kelapa dalam perkecamatan terhadap Kabupaten Natuna

Berdasarkan Tabel 3.2 dapat dijelaskan bahwa sektor ekonomi dalam Tipologi I merupakan sektor yang tingkat kepotensialannya istimewa untuk dikembangkan karena sektor tersebut merupakan sektor basis (LQ > 1). Selain itu, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan tingkat Kabupaten (DS > 0), meskipun ditingkat Kabupaten juga tumbuh dengan cepat (PS > 0). Sektor ini akan mendatangkan pendapatan yang tinggi dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan PDRB Kabupaten Natuna. Hasil pertimbangan parameter pada Tabel (LQ, DS, dan PS) maka masing-masing tipologi dapat dimaknai bawha sektor ekonomi yang masuk Tipologi II adalah sektor yang tingkat kepotensialannya baik sekali untuk dikembangkan, Tipologi III baik, Tipologi IV lebih dari cukup, Tipologi V cukup, Tipologi VI hampir dari cukup, Tipologi VII kurang, dan Tipologi VIII kurang sekali. 5. Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) Analisis MRP merupakan alat analisis yang digunakan untuk melihat deskripsi kegiatan ekonomi (sektor ekonomi) yang potensial, terutama struktur ekonomi wilayah baik internal maupun eksternal (Yusuf, 1999). Analisis MRP dibagi menjadi dua kriteria, yaitu Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs) dan Rasio Pertumbuhan Wilayah Referensi (RPr). RPs yaitu perbandingan antara pertumbuhan pendapatan dalam hal ini ialah pertumbuhan PDRB sektor i di wilayah studi (Kecamatan) 34

dengan pertumbuhan pendapatan PDRB sektor i di wilayah referensi (Kabupaten). Berbeda dengan RPr yaitu, perbandingan antara laju pertumbuhan sektor i di wilayah referensi dengan laju pertumbuhan total kegiatan (PDRB) wilayah referensi Persamaannya sebagai berikut:

Keterangan : i

:

Produksi kelapa dalam

j

:

Kecamatan Kabupaten Natuna

∆Eij

:

Perubahan PDRB produksi kelapa dalam di kecamatan j Kabupaten Natuna

Eij

:

PDRB produksi kelapa di kecamatan j Kabupaten Natuna pada tahun awal penelitian

∆Ein

:

Perubahan PDRB produksi kelapa dalam di Kabupaten Natuna

Ein

:

PDRB produksi kelapa dalam di Kabupaten Natuna pada tahun awal penelitian

Jika nilai RPs > 1 diberi notasi positif (+) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah studi (Kecamatan) lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sektor yang sama pada wilayah referensi (Kabupaten). Jika nilai RPs < 1 diberi notasi negatif (-) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah studi (Kecamatan) lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan sektor pada wilayah referensi (Kabupaten).

35

Keterangan :

i

:

Nilai produksi kelapa dalam

n

:

Kabupaten Natuna

∆Ein

:

Perubahan nilai produksi sektor perkebunan i di Kabupaten Natuna

Ein

:

Nilai produksi sektor perkebunan i di Kabupaten Natuna pada tahun awal penelitian

∆En

:

Perubahan nilai produksi sektor perkebunan total di Kabupaten Natuna

En

:

Nilai produksi sektor perkebunan total di Kabupaten Natuna pada tahun awal penelitian

Jika RPr > 1 diberi notasi positif (+) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi kelapa dalam wilayah referensi (Kabupaten) lebih tinggi dari pertumbuhan produksi perkebunan total wilayah tersebut (Kabupaten). Jika RPr < 1 diberi notasi negatif (-) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi kelapa dalam wilayah referensi (Kabupaten) lebih rendah dari pertumbuhan produksi perkebunan total wilayah tersebut (Kabupaten). 6. Analisis Overlay Menurut Aditya (2013) analisis overlay digunakan untuk mengidektifikasi sektor unggulan baik dari segi kontribusi maupun pertumbuhannya dengan menggabungkan hasil analisis LQ dan analisis MRP. Sehingga analisis ini terdiri dari tiga komponen yaitu Locaton Quotient (LQ), Rasio Pertumbuhan Wilayah Referensi (RPr), dan Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs). Setiap komponen kemudian disamakan satuannya dengan diberi notasi positif (+) atau notasi negatif (−). Jika koefisien komponen bernilai lebih dari satu diberi notasi positif (+) dan jika koefisien komponen bernilai kurang dari satu diberi notasi negatif (-). Dalam penelitian ini akan diidentifikasi 8 kriteria dalam hasil intepretasi dari analisis overlay. Kriteria tersebut yaitu: 36

a. Hasil overlay (+++) menunjukkan LQ bernotasi positif yang berarti sektor perkebunan kelapa dalam merupakan sektor basis artinya sektor ini memiliki kontribusi yang tinggi dalam perekonomian dan bernotasi positif untuk RPs dan RPr yang berarti kegiatan sektor ini mempunyai

pertumbuhan

sektoral

yang tinggi

di

tingkat

perkebunan kecamatan dan kabupaten, maka sektor ini merupakan sektor dominan. b. Hasil overlay (++-) menunjukkan LQ bernotasi positif, RPs bernotasi positif, dan RPr bernotasi negatif yang berarti kegiatan sektoral di kecamatan lebih unggul dari kegiatan yang sama di Kabupaten

Natuna,

baik

dari

sisi

pertumbuhan

maupun

kontribusinya. Sektor tersebut merupakan sektor potensial kegiatan ekonomi kecamatan di Kabupaten Natuna. c. Hasil overlay (-++) menunjukkan LQ bernotasi negatif, RPs bernotasi positif, dan RPr bernotasi positif yang berarti pertumbuhan sektoral pada tingkat kecamatan lebih tinggi dari pertumbuhan sektor pada wilayah Kabupaten Natuna. Begitu juga sisi pertumbuhan suatu sektor ekonomi di Kabupaten Natuna lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total di Kabupaten Natna. Namun untuk kontribusi sektoral di kecamatan lebih rendah dari Kabupaten Natuna, maka sektor ini merupakan sektor potensial. d. Hasil overlay (+--) menunjukkan LQ bernotasi positif yang berarti sektor perkebunan kelapa dalam merupakan sektor basis yang berarti sektor ini memiliki kontribusi yang tinggi dalam perekonomian namun memiliki komponen RPs dan RPr bernotasi negatif yang berarti sektor ini memiliki pertumbuhan yang rendah di tingkat perkebunan kecamatan maupun tingkat kabupaten, maka sektor ini merupakan sektor jenuh. e. Hasil overlay (+-+) menunjukkan LQ bernotasi positif, RPs negatif, dan RPr bernotasi positif yang berarti sektor perkebunan kelapa dalam merupakan sektor basis yang memiliki kontribusi tinggi dalam perekonomian. Pertumbuhan sektor kelapa dalam 37

wilayah kecamatan dibandingkan sektor yang sama ditingkat Kabupaten Natuna, namun pertumbuhan sektor kelapa dalam di wilayah Kabupaten Natuna lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor perkebunan total di wilayah Kabupaten Natuna. Sektor ini termasuk sektor yang jenuh. f. Hasil overlay (-+-) menunjukkan LQ bernotasi negatif, RPs positif, dan RPr negatif. Artinya pertumuhan sektoral pada tingkat kecamatan lebih tinggi dari pertumbuhan sektor yang sama pada wilayah Kabupaten Natuna. Sedangkan sisi pertumbuhan suatu sektor ekonomi di Kabupaten Natuna lebih rendah dari pertumbuhan sektor perkebunan total di Kabupaten Natuna. Begitu juga kontribusi sektoral di kecamatan lebih rendah dari Kabupaten Natuna. g. Hasil oeverlay (--+) menunjukkan LQ bernotasi negatif, RPs negatif, dan RPr positif. Artinya pertumbuhan sektoral tersebut di kecamatan lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan sektor yang sama pada wilayah Kabupaten Natuna. Namun dari sisi pertumbuhan suatu sektor ekonomi tertentu di Kabupaten Natuna lebih tinggi dari pertumbuhan perkebunan total wilayah Kabupaten Natuna, maka sektor ini merupakan sektor yang jenuh. h. Hasil overlay (---) menunjukkan LQ bernotasi negatif yang berarti sektor perkebunan kelapa dalam merupakan sektor non basis yang berarti sektor ini memiliki kontribusi yang rendah terhadap perekonomian serta memiliki komponen RPs dan RPr bernotasi negatif yang berarti sektor ini memiliki pertumbuhan yang rendah di tingkat perkebunan kecamatan maupun tingkat kabupaten, maka sektor ini merupakan sektor jenuh. Guna memperoleh klasifikasi sub sektor perkebuan Kabupaten Natuna dengan menggunakan analisis kriteria dan pertumbuhan. Kontribusi yang digunakan adalah hasil analisis LQ rata-rata periode 2012 – 2016, sedangkan untuk kriteria pertumbuhan adalah hasil

38

analisis MRP yang menggunakan RPs rata-rata dan RPr rata-rata periode 2012 – 2016. Hasil klasifikasi seperti Table 3.4. dibawah ini; Tabel 3.3. Klasifikasi Analisis Overlay Perkebunan Kelapa Dalam (Masing-masing kecamatan Kabupaten Natuna) Kecamatan

LQ

RPs

RPr

Klasifikasi

1

+

+

+

Dominan

-

+

+

Potensial

+

+

-

Potensial

+

-

-

Jenuh

+

-

+

Jenuh

-

+

-

Marginal

-

-

+

Marginal

-

-

-

Marginal

2

3

4

Sumber: Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) NAD-NIAS 2007 Diolah E. Operasional Variabel Penelitian 1. Potensi Ekonomi Potensi Ekonomi yang ada di penilitian ini merupakan segala sesuatu yang dimiliki oleh suatu daerah yang mungkin ataupun layak untuk dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber peghidupan rakyat setempat dan bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan, Aditya (2013:47) dikutip kembali dari Soeparmoko dalam Nudiatulhuda (2007). Dalam penelitian ini yang akan dianalisis adalah potensi produksi kelapa di Kabupaten Natuna dari masing-masing kecamatan, sehingga dapat ditentukan kecamatan mana yang memiliki produksi kelapa sebagai ekonomi basis pada Kabupaten Natuna

39

2. Produksi Perkebunan Produksi

kebun atau

lazim

disebut

produksi

primer adalah

produksi/hasil yang dipanen dari usaha perkebunannya tanpa melalui proses

pengolahan

lebih

lanjut

(BPS:

2016).

Contoh

produksi

kebun/produksi primer dari : a. Perkebunan karet produksi primernya adalah Latex, Lumb. b. Perkebunan kelapa produksi primernya adalah tandan buah segar c. Perkebunan kakao produksi primernya adalah buah basah Produksi kebun yang digunakan adalah seluruh produksi yang dihasilkan di Kabupaten Natuna merujuk data yang tersedia dari BPS Kabupaten Natuna. Kelapa menjadi faktor utama yang digunakan dalam perhitungan penulisan ini. 3. Kontribusi Dalam penelitian ini, kontribusi digunakan untuk menganalisis pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Natuna.

40

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA A. Deskriptif Objektif Penelitian 1. Letak dan Kondisi Geografis Secara geografis, Kabupaten Natuna terletak pada posisi 1o16’ Lintang Utara sampai dengan 7o19 Lintang Utara dan 105o00’ Bujur Timur 110o00’ Bujur Timur. Kabupaten Natuna memiliki luas sebesar 264.198,37 Km2 dan selebihnya daratan yang berbentuk kepulauan dengan luas 2.001,3 Km2, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: a. Sebelah Utara

: Laut Cina Selatan;

b. Sebelah Selatan : Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan; c. Sebelah Timur

: Laut Cina Selatan;

d. Sebelah Barat

: Semenanjung Malaysia dan Kabupaten Bintan.

Secara administrasi terdiri dari 15 kecamatan, 70 desa dan 6 kelurahan. Penamaan kecamatan baru berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Natuna Nomor 14 tahun 2014 tanggal 10 Desember 2014, dibentuklah tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Batubi, Kecamatan Pulau Tiga Barat dan Kecamatan Suak Midai. Kecamatan lainnya yang ada sebelum ditambahkan yaitu Kecamatan Midai, Kecamatan Bunguran Barat, Kecamatan Bunguran Utara, Kecamatan Pulau Laut, Kecamatan Pulau Tiga, Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kecamatan Bunguran Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan, Kecamatan Serasan, Kecamatan Subi, Kecamatan Serasan Timur. (BPS Kabupaten Natuna, 2017). Sekda bagian Tata Pemerintahan belum melakukan pencatatan administrasi wilayah 3 kecamatan baru sehingga pencatatan masih tergabung dengan kecamatan lamanya.

41

Tabel 4.1 Luas Wilayah per-Kecamatan dan Jumlah Desa Luas Wilayah Nama Kecamatan

Jumlah Kelurahan/Desa

Midai

3

Suak Midai

3

Bunguran Barat

5

Bunguran Batubi

5

Bunguran Utara

Luas (KM2)

Terhadap Total (persen)

26,10

1,31

448,46

22,41

8

404,71

20,22

Pulau Laut

3

37,69

1,88

Pulau Tiga

6

Pulau Tiga Barat

4

67,87

3,40

Bunguran Timur

6

146,83

7,34

Bunguran Timur Laut

7

235,01

11,74

Bunguran Tengah

3

172,71

8,63

Bunguran Selatan

4

233,99

11,69

Serasan

7

43,65

2,18

Subi

8

160,93

8,04

Serasan Timur

4

23,35

1,17

Sumber : BPS Kabupaten Natuna, 2017 Dibawah ini dapat dilihan Gambar 4.1 peta Kabupaten Natuna yang menggambarkan posisi geografis setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Natuna.

42

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Natuna

Sumber : Natuna Dalam Angka 2013 2. Topografi Berdasarkan kondisi fisik, Kabupaten Natunan merupakan tanah yang berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landau banyak ditemukan di pinggir pantai. Ketinggian wilayah antar kecamatan cukup beragam, yaitu sekitar 3 sampai 959 meter dari permukaan laut dengan kemiringan mencapai 2 sampai 5 meter. Pada umumnya struktur tanah terdiri dari podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya merupakan bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus (RKPD Kabupaten Natuna Tahun 2017) 3. Klimatologi Kondisi iklim di Kabupaten Natuna adalah iklim tropis dan sangat dipemharuhi oleh perubahan arah angin, musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Maret sampai bulan Juli. Curah hujan rata – rata

43

berkisar 225,4 milimeter dengan rata – rata kelembapan udara sekitar 86 persen dan temperature berkisar 21,8o hingga34,0o celcius. 4. Demografi Penduduk Kabupaten Natuna tahun 2014 berjumlah 73.470 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki berjumlah 37.891 (51,80%) dan penduduk perempuan berjumlah (48,20%) dengan laju pertumbuhan pertahun 5,69%. Secara keseluruhan kepadatan penduduk Kabupaten Natuna tahun 2014 sebesar 38,42 jiwa per Km2. Ini artinya dalam wilayah seluas 1 Km2 terdapat penduduk sekitar 38 jiwa. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi adalah Kecamatan Midai sebesar 2.417 jiwa. Tabel 4.2 Jumlah Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk per Kecamatan Kabupaten Natuna

Kecamatan

Luas (Km2)

Jumlah

Kepadatan

Penduduk

Penduduk

Midai

26,10

5.065

194,06

Bunguran Barat

448,46

11.073

24,69

Bunguran Utara

404,71

3.936

9,73

Pulau Laut

37,69

2.400

63,68

Pulau Tiga

67,87

4.892

72,08

Bunguran Timur

146,83

25.760

17,54

Bunguran Timur Laut

235,01

4.395

18,70

Bunguran Tengah

172,71

2.953

17,10

Bunguran Selatan

233,99

2.569

10,98

Serasan

43,65

4.886

111,94

Subi

160,93

2.770

17,21

Serasan Timur

23,35

2.771

118,67

2001,30

73.470

36,71

Jumlah

Sumber : Natuna Dalam Angka Tahun 2015

44

5. Kondisi Perekonomian di Kabupaten Natuna Keadaan perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonominya, baik secara global maupun sektoral. Struktur ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari kontribusi masing-masing

sektor

perekonomian

terhadap

PDRB

daerah

bersangkutan. Distribusi persentase PDRB Kabupaten Natuna tahun 2012-2016 atas dasar harga konstan dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini: Tabel 4.3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2012 dan 2016 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan

2012

2013

2014

2015

2016

1.124,76

1.281,92

1.341,96

1.414,11

1.487,44

9.573,95

9.953,94

10.326,86

10.667,28

10.881,65

87,73

92,20

96,79

100,89

105,04

9,17

9.41

9,79

10,04

10,74

0,76

0,79

0,83

0,88

0,92

731,96

799,59

878,23

932,87

991,75

277,62

303,76

326,63

360,74

397,10

58,38

65,98

72,72

78,81

85,72

47,24

49,91

53,11

57,07

61,42

Informasi dan Komunikasi

70,81

76,49

82,65

88,75

96,77

Jasa Keuangan dan Asuransi

13,56

15,19

16,02

16,95

17,97

Real Estate

66,53

70,45

74,68

79,57

84,70

0,02

0,02

0,02

0,02

0,03

215,73

227,76

239,09

238,72

246,81

Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan

45

Sosial Wajib Jasa Pendidikan

17,99

19,01

20,09

20,95

21,87

33,36

35,40

37,57

39,51

41,56

7,69

7,95

8.29

8.64

9,00

12.437,31

13.009,83

13.585,40

14.115,89

14.540,57

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

Sumber :BPS Kabupaten Natuna Pada tahun 2012-2016 sektor pertanian, kehutanan dan perikanan berada diposisi kedua terbesar setelah pertambangan dan penggalian. Mayoritas penduduk Kabupaten Natuna memiliki mata pencaharian di sektor pertanian tabama, perkebunan dan perikanan. Sebagai wilayah yang memiliki luas dan potensi laut yang besar, pemanfaatan potensinya masih minin dikarenakan pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Selebihnya, saat angin utara datang, laut di sekitar Kabupaten Natuna menjadi ganas dan para nelayan memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup (RKPD Kabupaten Natuna Tahun 2017). 6. Kondisi Pertanian Harga hasil produksi perkebunan telah tercatat dalam harga produsen provinsi Kepulauan Riau pada tabel 4.4 berikut: Tabel 4.4 Harga Produsen Masing-Masing Komoditas Perkebunan Kepulauan Riau Jenis

Harga Rata-Rata Menurut Tahun

Perkebunan

2012

2013

2014

Kelapa

153.893

166.404

189.538

196.574

Karet

15.615

13.401

12.557

12.483

Kopi

2015

1.706.496 1.505.317

Cengkeh

48.758

57.983

Lada

Satuan

207.548 100 butir 11.514 1 kg 100 kg

73.588

74.334

65.894 1 kg

75.459

111.972

1 kg

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

46

2016

Penggunaan dan luas lahan pertanian di Kabupaten Natuna merupakan kegiatan pertanian rakyat dengan mengusahakan berbagai komoditi perkebunan, pangan maupun hortikultura. Jenis dan produksi komoditi perkebunan di Kabupaten Natuna dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut: Tabel 4.5 Produksi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Natuna 2012 – 2015 Jenis

Produksi (Ton) / Tahun

Tanaman

2012

2013

2014

2015

2016

1

Karet

4.415,9

4.428,2

4.440,6

4.452,9

4.465,3

2

Kelapa

6.038,2

6.044,2

6.050,2

6.056,2

6.062,1

4

Kopi

2,6

2,6

1

-

-

5

Cengkeh

2.883,8

2.886,5

2.889,3

2.892,0

2.894,8

8

Lada

5,2

5,2

2

-

-

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna, diolah Produksi kelapa dalam merupakan produksi terbesar di Kabupaten Natuna dari tahun 2012 – 2016. Pada tahun 2016 produksi kelapa mencapai 6.062,1 Ton, Karet 4.465,3 Ton, dan Cengkeh 2.894,8 Ton. Untuk perkebunan lada dan kopi tidak berproduksi pada tahun 2015 2016. Lahan yang gunakan oleh petani merupakan salah satu faktor produksi penting dalam usahatani. Luas lahan yang dimiliki Kabupaten Natuna menurut usahatani yang dijalani dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut: Tabel 4.6 Luas Lahan Perkebunan di Kabupaten Natuna 2012 – 2015 Jenis Tanaman

Luas Lahan (Ha) / Tahun 2012

2013

2014

2015

2016

1 Karet

3.982,5

3.982,5

4.169

4.266

4.236

2 Kelapa

14.005,5

14.005,5

14.005,5

14.003

11.394

44,5

44,5

44,5

-

-

12.189

12.189

12.189

12.189

12.042

4 Kopi 5 Cengkeh

47

6 Lada

142,5

142,5

142,5

-

-

Sumber :Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Perkebunan kelapa memiliki lahan yang paling luas dibandingkan lahan perkebunan lainnya, namun pada tahun 2015 lahan perkebunan kelapa mengalami pengurangan luas lahan. Penurunan luas lahan perkebunan kelapa tahun 2015 mempengaruhi hasil produksi kelapa di tahun yang sama, namun produksi kelapa di tahun berikutnya produksi kelapa justru meningkat dari tahun-tahun sebelumnnya. Masing-masing kecamatan di Kabupaten

Natuna memiliki

produksi kelapa yang melimpah. Pohon kelapa dapat ditemui disetiap wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Natuna. Produksi kelapa dalam perkecamatan Kabupaten Natuna dapat dilihat pada Tabel 4.7 sebagai berikut : Tabel 4.7 Produksi Perkebunan Kelapa Dalam Menurut Kecamatan di Kabupaten Natuna (Ton) Produksi Kelapa Dalam

Kecamatan 2012

2013

2014

2015

2016

Midai

970,4

970,7

971,1

971,5

971,9

Bunguran Barat

800,9

801,7

802,6

803,5

804,3

Bunguran Utara

850,4

850,9

851,3

851,7

852,1

Pulau Laut

350,3

350,6

351,0

351,3

351,6

Pulau Tiga

63,2

63,4

63,6

63,8

64,0

Bunguran Timur

600,6

601,1

601,7

602,2

602,8

Bunguran Timur Laut

900,4

900,8

901,2

901,6

901,9

Bunguran Tengah

4,3

4,4

4,5

4,6

4,7

Bunguran Selatan

450,4

450,9

451,3

451,7

452,1

Serasan

301,0

302,1

303,1

304,2

305,2

Subi

445,8

446,5

447,3

448,0

448,8

Serasan Timur

300,5

301,0

301,6

302,1

302,6

Jumlah

6.012,2

6.012,2

6.030,0

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Natuna, diolah 48

6.035,9

6.041,8

B. Pembahasan 1. Analisis Shift Share Komponen pertumbuhan proporsional (PP) merupakan alat ukur dalam analisis Shift Share yang menunjukkan perubahan relatif, pertumbuhan

atau

penurunan

produksi

kelapa

perkecamatan

dibandingkan dengan produksi perkebunan lain di setiap kecamatan Kabupaten Natuna akibat pengaruh unsur-unsur eksternal yang bekerja secara regional (Kabupaten). Kecamatan yang memiliki nilai PP positif berarti produksi kelapa dalam di kecamatan tersebut mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat

dibandingkan

produksi

perkebunan

lainnya,

begitupun

sebaliknya kecamatan yang memiliki nilai PP negatif berarti produksi kelapa di kecamatan tersebut mempunyai pertumbuhan yang relatif lambat dibandingkan produksi perkebunan lainnya. Komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) merupakan salah satu komponen dalam analisis Shift Share yang dapat digunakan untuk mengetahui daya saing produksi kelapa di suatu wilayah dengan membandingkan produksi kelapa di wilayah lainnya yang disebabkan oleh adanya keuntungan lokasional yang dimiliki oleh suatu wilayah. Menurut Tarigan proporsional shift atau pertumbuhan proporsuinal (PP) merupakan komponen pertumbuhan ekonomi perkebunan daerah kecamatan yang disebabkan oleh sktruktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhan perkebunannya cepat. Differential shift atau pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) adalah pertumbuhan ekonomi daerah karena ondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif. Hasil analisis PP dan PPW produksi kelapa Kabupaten Natuna seperti tabel 4.8 berikut:

49

Tabel 4.8 Hasil Analisis Shift Share per Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2012 2016

Kecamatan

Analisis Shift Share PP

PPW

Kategori

1.

Midai

-5.578,106206

2.

Bunguran Barat

-4.603,699412

3.

Bunguran Utara

-4.888,603654

-2.303.512,387932

Terbelakang

4.

Pulau Laut

-2.013,772458

-161.697,245658

Terbelakang

5.

Pulau Tiga

-363,281534

6.

Bunguran Timur

-3.452,274879

-187.240,733336

Terbelakang

7.

Bunguran Timur Laut

-5.175,797282

-2.796.141,722449

Terbelakang

8.

Bunguran Tengah

-24,732183

9.

Bunguran Selatan

-2.589,248000

-3.257.051,764544

Terbelakang

391.170,404698 Berkembang

742.772,892996 Berkembang

543.346,585831 Berkembang -100.186,234079

Terbelakang

10. Serasan

-1.730,552731

4.153.240,542053 Berkembang

11. Subi

-2.562,392759

1.742.087,912935 Berkembang

12. Serasan Timur

-1.727,516894

1.233.211,749484 Berkembang

Berdasarkan hasil analisis Shift Share kecamatan Bunguran Barat, Pulau Tiga, Bunguran Tengah, Serasan, Subi, dan Serasan Timur mendapati kategori berkembang dengan nilai PP negatif dan PPW positif. Hasil ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dari produksi kelapa dalam di ketujuh kecamatan ini terhambat namun berkembang. Kecamatan Midai, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Selatan mendapati kategori terbelakang dengan nilai PP negatif dan PPW negatif. Hasil ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dari produksi kelapa dalam rendah dan peranan terhadap daerah lemah. 50

Hasil dari produksi kelapa dalam di seluruh kecamatan Kabupaten Natuna menurut teori Proportionality Shift tidak memiliki spesialisai pertumbuhan yang cepat di sektor perkebunan, namun dalam teori Differential Shift beberapa kecamatan seperti Bunguran Barat, Pulau Tiga, Bunguran Tengah, Serasan, Subi, dan Serasan Timur memiliki keuntungan kompetitif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui ekspor. Kecamatan Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut pernah mendapatkan pelatihan pengolahan minyak kelapa oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Natuna pada tahun 2011, namun pelatihan pengolahan minyak tidak dilakukan berkala yang membuat pengolahan minyak kelapa tidak berkembang. 2. Analisis Location Quotient Sub sektor perkebunan di Kabupaten Natuna memiliki hasil produksi yang berbeda-beda meliputi karet, kelapa, kopi, cengkeh, dan lada. Setiap kecamatan dengan karakteristiknya memiliki jumlah produksi kelapa yang berbeda. Teori ekonomi basis khususnya metode Location Quotient (LQ) dapat digunakan untuk mengetahui kecamatan mana yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor ekonomi basis. Kecamatan yang menunjukkan nilai LQ > 1 berarti memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis, sedangkan kecamatan yang menunjukkan nilai LQ ≤ 1 berarti daerah tersebut tidak memilki kelapa dalam sebagai sektor basis hanya sebagai penunjang. Dalam penelitian ini perhitungan jumlah nilai produksi masing-masing kecamatan akan dibandingkan dengan seluruh jumlah nilai produksi perkebunan yang ada di kecamatan Kabupaten Natuna. Kecamatan yang memiliki kelapa sebagai sektor basis di Kabupaten Natuna dapat diihat pada hasil penelitian yang disajikan dalam Tabel 4.9 berikut ini:

51

Tabel 4.9 Hasil Analisis Location Quotient per Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2012 – 2015 Location Quotient Kecamatan

Rata-Rata

2012

2013

2014

2015

2016

LQ

1.

Midai

0,764275

0,697600

0,651474

0,648765

1,258213

0,804066

2.

Bunguran Barat

1,770538

1,784191

1,798421

1,802573

1,722679

1,775680

3.

Bunguran Utara

2,908812

2,889016

2,880235

2,876406

3,101053

2,931104

4.

Pulau Laut

6,558393

6,132435

5,854048

5,795572

11,134610

7,095012

5.

Pulau Tiga

0,309282

0,283271

0,265322

0,264337

0,480739

0,320590

6.

Bunguran Timur

1,142290

1,356098

1,598062

1,624073

0,694718

1,283048

7.

Bunguran Timur Laut

1,940783

2,207329

2,485218

2,499581

1,304002

2,087383

8.

Bunguran Tengah

0,005903

0,007605

0,009799

0,010130

0,003430

0,007373

9.

Bunguran Selatan

0,348168

0,320596

0,301126

0,299934

0,534702

0,360905

10.

Serasan

0,658792

0,642112

0,629982

0,632734

0,740971

0,660918

11.

Subi

2,213522

2,036022

1,914777

1,903959

3,610851

2,335826

12.

Serasan Timur

3,147596

2,976833

2,857756

2,842504

4,440860

3,253110

Berdasarkan hasil analisis penelitian, dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Natuna ada tujuh (7) kecamatan yang memiliki produksi kelapa sebagai sektor basis. Kecamatan yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis adalah Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, Subi, dan Serasan Timur. Sektor perkebunan kelapa dalam menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif yang cukup tinggi di Kabupaten Natuna. Produksi kelapa dalam dapat memenuhi permintaan ekspor dimana perubahan yang terjadi pada sektor perkebunan kelapa yang menjadi sektor ekonomi basis dapat menimbulkan efek ganda dalam perekonomian regional. Selain nelayan mata pencarian masyarakat tertumpu dibidang pertanian dan perkebunan, salah satunya kelapa. Musim yang ramah bagi nelayan untuk menjalankan usaha perikanan hanya enam bulan 52

saja,

selebihnya

nelayan

memilih

berkebun

sebagai

lahan

menyambung hidup karena musim yang tidak bisa dimanfaatkan untuk menjalankan usaha perikanan. 3. Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Analisis DLQ digunakan untuk mengetahui apakah di masa yang akan datang produksi kelapa dalam dapat bertahan sebagai sektor basis atau tidak dan sebaliknya apakah produksi kelapa dalam yang sebelumnya bukan unggulan dapat mengalami reposisi/berpotensi menjadi sektor basis di masa yang akan datang di masing-masing kecamatan Kabupaten Natuna. Jika DLQ ≥ 1, berarti laju pertumbuhan produksi kelapa dalam terhadap laju pertumbuhan produksi perkebunan total perkecamatan sebanding dengan laju pertumbuhan produksi kelapa dalam terhadap total nilai produksi perkebunan Kabupaten Natuna. Kondisi demikian menyatakan di masa yang akan datang kelapa dalam akan menjadi sektor basis Jika DLQ <, artinya proporsi laju pertumbuhan produksi kelapa dalam terhadap laku pertumbuhan total nilai produksi perkebunan kecamatan lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan produksi kepala dalam terhadap nilai total produksi perkebunan Kabupaten Natuna. Kondisi demikian menyatakan di masa yang akan datang kelapa dalam tidak menjadi sektor basis. Hasil perthitungan analisis DLQ dapat dilihat pada Tabel 4.10 sebagai berikut:

53

Tabel 4.10 Hasil Analisis Dynamic Location Quotient Kecamatan

1.

Midai

2.

Bunguran Barat

3.

Bunguran Utara

4.

Pulau Laut

5.

Pulau Tiga

6.

Bunguran Timur

7.

Bunguran Timur Laut

8.

Bunguran Tengah

9.

Bunguran Selatan

10. Serasan

11. Subi

12. Serasan Timur

Dynamic Location Quotient

Rata-Rata

2013

2014

2015

2016

0,999999

0,999999

1,000001

1,000005

Non Basis

Non Basis

Basis

Basis

1,000000

1,000000

1,000000

0,999999

Basis

Basis

Basis

Non Basis

0,999999

0,999999

1,000001

1,000004

Non Basis

Non Basis

Basis

Basis

1,000000

1,000000

1,000000

1,000001

Basis

Basis

Basis

Basis

1,000013

1,000008

0,999986

0,999948

0,999989

Basis

Basis

Non Basis

Non Basis

Non Basis

1,000000

1,000000

1,000000

1,000001

1,000000

Basis

Basis

Basis

Basis

0,999999

0,999999

1,000001

1,000005

Non Basis

Non Basis

Basis

Basis

1,000776

1,000471

0,999159

0,996912

0,999329

Basis

Basis

Non Basis

Non Basis

Non Basis

1,000000

1,000000

1,000000

1,000000

1,000000

Basis

Basis

Basis

Basis

1,000016

1,000010

0,999983

0,999933

0,999986

Basis

Basis

Non Basis

Non Basis

Non Basis

1,000003

1,000002

0,999997

0,999989

0,999998

Basis

Basis

Non Basis

Non Basis

Non Basis

1,000003

1,000002

0,999997

0,999988

0,999997

Basis

Basis

Non Basis

Non Basis

Non Basis

1,000001 Basis 1,000000 Basis 1,000001 Basis 1,000000 Basis

Basis 1,000001 Basis

Basis

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata DLQ, kecamatan yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis di tahun yang akan datang adalah Midai, Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Selatan.

54

Tabel 4.11 Hasil Gabungan Analisis LQ dan DLQ

Kecamatan

Rata-Rata

Rata-Rata

LQ

DLQ

Kriteria

1. Midai

0,804074

1,000001

Reposisi Unggulan

2. Bunguran Barat

1,775504

1,000000

Unggulan

3. Bunguran Utara

2,931125

1,000001

Unggulan

4. Pulau Laut

7,095329

1,000000

Unggulan

5. Pulau Tiga

0,320605

0,999989

Non Unggulan

6. Bunguran Timur

1,282894

1,000000

Unggulan

7. Bunguran Timur Laut

2,087359

1,000001

Unggulan

8. Bunguran Tengah

0,007374

0,999329

Non Unggulan

9. Bunguran Selatan

0,360922

1,000000

Reposisi Unggulan

10. Serasan

0,660882

0,999986

Non Unggulan

11. Subi

2,335933

0,999998 Reposisi Non Unggulan

12. Serasan Timur

3,253262

0,999997 Reposisi Non Unggulan

Kecamatan yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang adalah Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, dan Bunguran Timur Laut. Kecamatan yang sebelumnya tidak memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis, dimasa yang akan datang kelapa dalam akan menjadi sektor basis perkebunan Kabupaten Natuna seperti kecamatan Midai dan Bunguran Selatan. Adapun kecamatan yang sebelumnya memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis menjadi non basis seperti Subi dan Serasan Timur. Kecamatan Pulau Tiga dan Serasan tidak memiliki kelapa dalam sebagai sektor unggulan dalam sektor perkebunan.

55

4. Analisis Tipologi Klassen Tipologi Klassen (sektoral) digunakan untuk mengetahui sektor potensial kecamatan yang memiliki kelapa sebagai sektor basis, cara yang digunakan adalah menggabungkan hasil perthitungan Location Quotient,

Differential

Shift,

dan

Proporsional

Shift.

Setelah

menggabungkan ketiga hasil ini akan muncul kecamatan mana saja yang memiliki tingkat kepotensialan kelapa untuk dikembangkan dengan klasifikasi istimewa, baik sekali, baik, lebih dari cukup, cukup, hampir dari cukup, kurang dan kurang sekali. Berikut Tablel 4.12 yang menunjukkan tingkat kepotensialan kelapa dari masing-masing kecamatan Kabupaten Natuna: Tabel 4.12 Hasil Tipologi Klassen per Kecamatan Kabupaten Natuna LQ

PPW

PP

Rata-Rata

Rata-Rata

Rata-Rata

-

-

-

Bunguran Barat

1,775680

391.170,404698

-4.602,485006

Subi

2,335826

1.742.087,912935

-2.561,716828

Serasan Timur

3,253110

1.233.211,749484

-1.727,061194

-

-

-

Bunguran Utara

2,931104

-2.303.512,387932

-4.887,314094

Pulau Laut

7,095329

-161.697,245658

-2.013,241247

Bunguran Timur

1,283048

-187.240,733336

-3.451,364207

Bunguran Timur Laut

2,087383

-2.796.141,722449

-5.174,431963

-

-

-

Pulau Tiga

0,320590

742.772,892996

-363,185704

Bunguran Tengah

0,007373

543.346,585831

-24,725658

Serasan

0,660918

4.153.240,542053

-1.730,096230

-

-

-

Kurang

Midai

0,804066

-3.257.051,764544

-5.576,634763

Kurang

Bunguran Selatan

0,360905

-100.186,234079

-2.588,564984

Sekali

Tipologi I

II

III

IV

V

VI

VII VIII

Kecamatan -

-

-

-

Klasifikasi Istimewa

Baik Sekali

Baik

Lebih dari Cukup Cukup Hampir dari Cukup

Berdasarkan hasil analisis, terdapat empat (4) kriteria tipologi yaitu II dengan jumlah tiga (3) kecamatan, IV dengan

56

jumlah empat

kecamatan, VI dengan jumlah tiga kecamatan, dan VIII dengan jumlah dua (2) kecamatan. Kecamatan Bunguran Barat, Subi, dan Serasan Timur menjadi kecamatan yang baik sekali tingkat kepotensialan kelapa dalamnya di Kabupaten Natuna untuk di kembangkan. Jika pengembangan produksi kelapa dalam di ketiga kecamatan ini dilakukan maka akan mendapatkan pendapatan yang tinggi dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna. Kecamatan Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut mendapati tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang lebih dari cukup untuk dikembangkan. Potensi kelapa yang ada di kecamatan ini jika dikembangkan akan meningkatkan pendapatan dan juga meningkatkan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna. Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Tengah, dan Serasan mendapati kecamatan yang memiliki tingkat kepotensialan hampir dari cukup. Kelapa yang ada di kecamatan ini belum bisa meningkatkan pendapatan dan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna karena jumlah dari produksi belum memiliki potensi basis. Midai dan Bunguran Selatan mendapati kecamatan yang memiliki tingkat kepotensialan kurang sekali. Kelapa yang dimiliki kecamatan ini belum bisa dikembangkan karena tingkat produksi kelapa dalamnya belum memiliki potensi terhadap perekonomian. 5. Model Rasio Pertumbuhan (MRP) Analisis Model Rasio Pertumbuhan digunakan menghitung berapa besar kontribusi ekonomi yang dihasilkan dari potensi kelapa dalam di Kabupaten Natuna. Perhitungan kontribusi ekonomi yang digunakan meliputi perubahan PDRB produksi kelapa dalam dan produksi perkebunan total masing-masing kecamatan dan Kabupaten Natuna. Jika hasil RPs > 1 maka diberi notasi positif (+) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah Kecamatan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sektor yang sama pada 57

wilayah Kabupaten Natuna. Begitu juga sebaliknya, jika RPs < 1 maka diberi notasi negatif (–) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pada tingkat wilayah kecamatan lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan sektor yang sama pada wilayah Kabupaten Natuna. Jika hasil RPr > 1 maka diberi notasi positif (+) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi kelapa dalam wilayah Kabupaten Natuna lebih tinggi dari pertumbuhan produksi perkebunan total wilayah Kabupaten Natuna. Begitu juga sebaliknya, jika hasil RPr < 1 maka diberi notasi negatif (-) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi kelapa dalam wilayah Kabupaten Natuna lebih rendah dari pertumbuhan produksi perkebunan total wilayah Kabupaten Natuna. Analisis Overlay menggabungkan hasil dari analisis LQ dengan analisis MRP yang akan terlihat berapa besar pengaruh potensi kelapa terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna. Hasil yang didapati dari gabungan analisis tersebut tersedia di table 4.13 berikut: Tabel 4.13 Hasil Analisis Overlay Kecamatan

LQ

RPs

RPr

Overlay

Klasifikasi

1.

Midai

0,804066

0,989865

1,861982

––+

Marginal

2.

Bunguran Barat

1,775680

1,001473

1,861982

+++

Dominan

3.

Bunguran Utara

2,931104

0,991823

1,861982

+–+

Jenuh

4.

Pulau Laut

7,095012

0,998608

1,861982

+–+

Jenuh

5.

Pulau Tiga

0,320590

1,035318

1,861982

–++

Potensial

6.

Bunguran Timur

1,283048

0,999060

1,861982

–++

Jenuh

7.

Bunguran Timur Laut

2,087383

0,990624

1,861982

+–+

Jenuh

8.

Bunguran Tengah

0,007373

1,366418

1,861982

–++

Potensial

9.

Bunguran Selatan

0,360905

0,999329

1,861982

––+

Marginal

10. Serasan

0,660918

1,041429

1,861982

–++

Potensial

11. Subi

2,335826

1,011773

1,861982

+++

Dominan

12. Serasan Timur

3,253110

1,012361

1,861982

+++

Dominan

Berdasarkan hasil perhitungan analisis overlay, dapat dilihat produksi kelapa dalam di setiap kecamatan Kabupaten Natuna yang 58

menjadi sektor basis berdasarkan kriteria kontribusi (LQ) dan kriteria pertumbuhan (MRP/RPs dan RPr) terhadap perekonomian pada tahun 2012 – 2016. Bunguran Barat, Subi dan Serasan memiliki hasil dominan dimana produksi kelapa dalam memiliki kontribusi yang tinggi dalam perekonomian serta pertumbuhan sektoral yang tinggi di tingkat perkebunan kecamatan dan kabupaten. Pulau Tiga, Serasan

dan Bunguran Tengah memiliki hasil

potensial dimana produksi kelapa dalam berkontribusi besar terhadap perekonomian. Pertumbuhan sektoral perkebunan kelapa dalam di ketiga kecamatan ini tergolong tinggi, namun pertumbuhannya masih tergolong rendah jika dibandingkan perkebunan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna. Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut memiliki hasil jenuh dimana produksi kelapa dalam berkontribusi besar terhadap perekonomian, namun pertumbuhan sektoral perkebunan kelapa dalam di kecamatan ini rendah dan dibandingkan perkebunan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna pertumbuhannya juga tergolong rendah. Midai dan Bunguran Selatan mendapati hasil marginal dimana produksi kelapa di kecamatan ini berkontribusi kecil terhadap perekonomian, pertumbuhan ekonomi sektoral perkebunan kelapa dalam di kecamatan ini rendah di sektor yang sama dan pertumbuhan perkebunan kelapa dalam tergolong rendah di tingkat Kabupaten Natuna dibandingkan sektor perkebunan total.

59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Hasil analisis Shift Share menunjukkan bahwa terdapat beberapa kecamatan di Kabupaten Natuna dengan nilai produksi kelapa dalam yang memiliki tingkat keunggulan daya saing kompetitif yang tinggi namun memiliki tingkat spesialisasi yang rendah. Kecamatan tersebut antara lain: a. Bunguran Barat, Pulau Tiga, Bunguran Tengah, Serasan, Subi, dan Serasan Timur mendapati hasil pertumbuhan ekonomi dari produksi kelapa dalam yang terhambat namun berkembang. Keuntungan kompetitif yang dimiliki kecamatan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspor daerah. b. Midai, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Selatan mendapati hasil pertumbuhan ekonomi dari produksi kelapa dalam yang rendah dan peranannya terhadap daerah lemah. 2. Hasil analisis Location Quotient menunjukkan bahwa kelapa dalam di beberapa kecamatan di Kabupaten Natuna menjadi sektor ekonomi basis adalah Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, Subi, dan Serasan Timur. Produksi kelapa dalam dapat memenuhi permintaan ekspor yang

dapat

menimbulkan efek ganda dalam perekonomian regional. 3. Hasil analisis Dynamic Location Quotient menunjukkan kecamatan di Kabupaten Natuna yang memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis ekonomi di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah kecamatan Bunguran Barat, Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Selatan. Kecamatan yang sebelumnya tidak memiliki kelapa dalam sebagai sektor basis akan mengalami reposisi dari non basis menjadi basis seperti kecamatan Midai dan Bunguran Selatan. Adapun kecamatan yang kelapa dalamnya merupakan sektor basis menjadi non basis dimasa yang akan 60

datang seperti Subi dan Serasan Timur. Kecamatan Pulau Tiga dan Serasan belum memilii kelapa dalam sebagai sektor basis. 4. Berdasarkan Tipologi Klassen terdapat kecamatan di Kabupaten Natuna yang memiliki tingkat kepotensialan kelapa dalam yang berbeda-beda, yaitu: a. Kecamatan Bunguran Barat, Subi, dan Serasan Timur yang memiliki tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang baik sekali untuk dikembangkan. Jika dilakukan pengembangan produksi kelapa dalam, dapat meningkatkan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna. b. Kecamatan Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut yang memiliki tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang lebih dari cukup untuk dikembangkan. Wilayah ini juga dapat meningkatkan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna jika dilakukan pengembangan produksi kelapa dalam. c. Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Tengah, dan Serasan memiliki tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang hampir dari cukup. Kelapa dalam yang ada di kecamatan ini belum bisa meningkatkan pendapatan dan sumbangsih terhadap PDRB Kabupaten Natuna, namun dapat menjadi penunjang. d. Midai dan Bunguran Selatan memiliki tingkat kepotensialan produksi kelapa dalam yang kurang sekali untuk dikembangkan. 5. Berdasarkan hasil Model Rasio Pertumbuhan yang sudah di Overlay terdapat kecamatan di Kabupaten Natuna yang produksi kelapa dalamnya memiliki kontribusi berbeda-beda, yaitu; a. Kecamatan Bunguran Barat, Subi dan Serasan memiliki hasil dominan dimana produksi kelapa dalam memiliki kontribusi yang tinggi dalam perekonomian serta pertumbuhan sektoral yang tinggi di tingkat perkebunan kecamatan dan kabupaten. b. Kecamatan Pulau Tiga, Serasan dan Bunguran Tengah memiliki hasil potensial dimana produksi kelapa dalam berkontribusi besar 61

terhadap perekonomian. Pertumbuhan sektoral perkebunan kelapa dalam di ketiga kecamatan ini tergolong tinggi, namun pertumbuhannya masih tergolong rendah jika dibandingkan perkebunan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna. c. Kecamatan Bunguran Utara, Pulau Laut, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut memiliki hasil jenuh dimana produksi kelapa dalam

berkontribusi

besar

terhadap

perekonomian

namun

pertumbuhan sektoral perkebunan kelapa dalam di kecamatan ini rendah dan dibandingkan perkebunan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna pertumbuhannya tergolong rendah. d. Kecamatan Midai dan Bunguran Selatan mendapati hasil marginal dimana produksi kelapa dalam berkontribusi kecil terhadap perekonomian,

pertumbuhan

sektoral

rendah,

dan

jika

dibandingkan perkebunan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna pertumbuhannya tergolong rendah. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat dikemikakan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait sebagai berikut : 1. Pemerintah Daerah a. Pemerintah daerah Kabupaten Natuna dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini dalam menentukan arah pembangunan sub sektor perkebunan kelapa dalam di masa yang akan datang. b. Pemerintah daerah hendaknya menyusun kebijakan yang dapat memberikan kemudahan dalam penyelenggaraan aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan pengembangan komoditas kelapa dari hulu sampai ke hilir. c. Kecamatan yang memiliki potensi kelapa hendaknya dipacu pertumbuhannya dengan cara memberikan pelatihan pengolahan kelapa dan pelestarian kelapa

agar potensi

kelapa bisa

dimanfaatkan dengan maksimal dan dapat memicu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna. 62

2. Bagi Masyarakat a. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pemicu pelestarian dan pengolahan kelapa dalam di Kabupaten Natuna. Sehingga pada masa yang akan datang sektor perkebunan kelapa dalam tetap menjadi sektor ekonomi basis di Kabupaten Natuna. 3. Bagi Civitas Akademika a. Dapat menambahkan variabel lain seperti tingkat harga dari masing-masing kecamatan dan tenaga kerja sehingga mampu melihat seberapa besar perkebunan kelapa dalam berkontribusi terhadap perekonomian. b. Dapat menggunakan alat analisis yang lebih mendalam dan belum digunakan pada penelitian ini maka diharapkan dapat menjadikan pertimbangan untuk melanjutkan penelitian ini menjadi lebih sempurna.

63

DAFTAR PUSTAKA Aditya Nugraha. “Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, Skripsi S-1 Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ilsam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013. Ahmad Riyadi dan Kuntoro Boga Andri. 2015. “Analisis Kinerja Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Wilayah di Provinsi Sulawesi Barat”. Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Sulawes Barat, BalitbangtanKemtan, Indonesia. Arsyad. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta: BPFE. Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Edisi Keempat. Yogyakarta: STIE YKPN. Badan Pusat Statistik Kabupaten Natuna. 2009. Natuna Dalam Angka 2009/2010. Katalog BPS: 1403.2103. Badan Pusat Statistik Kabupaten Natuna. 2013. Indikator Ekonomi Kabupaten Natuna Tahun 2013. Katalog BPS: 9201001.2103. Badan Pusat Statistik Kabupaten Natuna. 2015. Natuna Dalam Angka. Katalog BPS: 1102001.2103. Badan Pusat Statistik Kabupaten Natuna. 2016. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Natuna Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012 – 2016. Katalog BPS: 9205.2103 Boediono. 1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi, Edisi Pertama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Budiharsono, Sugeng. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Jakarta: Pradnya Pramita. Daniel, Moehar. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: PT. Buni Aksara. GIS Konsorsium Aceh Nias. 2007. Modul Pelatihan Arc GIS Tingkat Dasar. BRR NAD- NIAS. Banda Aceh. Dediarman. 2017. Kopra Pulau Tujuh Dalam Catatan Perjalanan. Artikel. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 64

Glasson, John. 1977. Pengantar Perencanaan Regional. Terjemahan oleh Paul Sitohang. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Haluankepri. 2013. Kelapa Natuna Bernasib Simalakama [Online]. Haluan Media Group. Tersedia: http://www.haluankepri.com/natuna/55813-kelapa-natunabernasib-simalakama.html diakses 13/05/2018. Hernanto. F. 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Irawan dan Suparmoko, M. 2002. Ekonomika Pembangunan. Ed 6. Jakarta: BPFE UGM. Kamaluddin, Rustian. 1998. Pengantar Ekonomi Pembangunan: Dilengkapi dengan Analisis Beberapa Aspek Kebijakan Pembangunan Nasional. Kuncoro, Mudrajad, 2001. Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: AMP YKPN. Kuncoro, Mudrajat. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah. Jakarta: Erlangga Lukman, 2008. Statistik Ekonomi 1. Jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Lusminah. “Analisis Potensi Wilayah Kecamatan Berbasis Komoditi Pertanian dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Cilacap”. Skripsi S-1 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2008. Mosher.A.T. 1966. Menggerakan dan Membangun Pertanian. C.V. Yasaguna Ghufron, Muhammad. 2008. Analisis Pembangunan Wilayah Berbasis Sektor Unggulan Kabupaten Lamongan Propinsi Jawa Timur. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rangkuti, Freddy. 2001. Analisis SWOT Teknik Membelah Kasus Bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Repulik Indonesia. 2004. Undang-Undang No. 32 Tahun 20014 tentan Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 125. Sekertariat Negara. Jakarta. Riky Rinovsky. 2011. Untuk Bertahan Hidup di Ujung Negeri [Online]. Kompasiana.

Tersedia:

https://www.kompasiana.com/rikyrinovsky/untuk-

65

bertahan-hidup-di-ujung-negeri_55017d10a333119f6f51379b

diakes

22/05/2018. Rukmana, H. Rahmat dan H. Herdi Yudirachman. 2016. Untung Berlipat dari Budi Daya Kelapa. Yogyakarta: Lily Publisher. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Natuna tahun 2015. Robinson, Tarigan. 2007. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara. Mujib Saerofi. 2005. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Pengembangan Sektor Potensial di Kabupaten Semarang (Pendekatan Model Basis Ekonomi dan SWOT). Skripsi S – 1 Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Saharuddin, Syahrul. 2006. Analisis Ekonomi Regionl Sulawesi Selatan, Analisis. Maret. Vol. 3 No. 1: 11-24. Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus, 2004. Ilmu Makroekonomi. Edisi Ketujuhbelas. Jakarta: PT. Media Global Edukasi. Supanji Setyawan dan Endang Purwanti. 2016. Nilai Tambah dan Profitabilitas Komoditas Kelapa di Kabupaten Natuna. Artikel. UNTIDAR dan UGM. Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survei. LP3S, Jakarta. Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Padang – Sumatera Barat: BADOUSE MEDIA. Subandi. 2011. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta. Sukirno, Sadono. 1978. Pengantar Teori Makro ekonomi. Jakarta: FE UI dan Bima Grafika Sukirno Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Kebujaksanaan. LPFE-UI, Jakarta. Sukirno, Sadono. 1992. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Bina Grafika. Jakarta: LPFE-UI. Sukirno, Sadono. 2000. Makroekonomi Modern. Jakarta: PT. Raja Drafindo Persada. Sutardi, Santoso, Angia. 2008. Pengaruh Pemanasan Kelapa Parut dan Teknik Pengunduhan Terhadap Rendemen dan Mutu Virgin Coconut Oil (VCO). Jurnal Keteknikan Pertanian. 66

Suyatno. 2000. Analisa Economic Base Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tingkat II Wonogiri: Menghadapi Implementasi UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999. Dalam Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 1 No. 2. Hal. 144-159. Surakarta: UMS. Tempo.co. 2016. Permintaan Dunia Tinggi, Mendah: Produksi Kelapa Harus Naik [Online]. Tersedia: https://bisnis.tempo.co/read/773429/permintaandunia-tinggi-mendag-produksi-kelapa-harus-naik diakses 20/05/2018 Tarigan, R. 2005. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara. Tatiek Koerniawati Andajani. 2011. Pengantar Ekonomi Pertanian [Online]. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Tersedia: http://tatiek.lecture.ub.ac.id/ilmu-amaliah/pengantar-ilmu-ekonomipertanian/ diakses 22/05/2018 Thoha dan Soekarni, M. 2000. Studi Kelayakan Ekonomi Pembentukan Provinsi Baru: Kasus Banten, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan (JEP), VIII 2000. Yusuf, Maulana. 1999. Model Rasio Pertumbuhan (MRP) Sebagai Salah Satu Alat Analisis Alternatif dalam Perencanaan Wilayah dan Kota. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Vol XLVII No. 2.

67

Lampiran I Jumlah Produksi Perkebunan Kelapa Dalam menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2009 – 2016 (Ton) Produksi Kelapa Dalam (Ton) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 980,0 980,0 950,0 970,4 970,7 971,1 Midai 800,0 800,0 800,0 800,9 801,7 802,6 Bunguran Barat 850,0 850,0 850,0 850,4 850,9 851,3 Bunguran Utara 350,0 350,0 350,0 350,3 350,6 351,0 Pulau Laut 63,0 63,0 63,0 63,2 63,4 63,6 Pulau Tiga 600,0 600,0 600,0 600,6 601,1 601,7 Bunguran Timur 900,0 900,0 900,0 900,4 900,8 901,2 Bunguran Timur Laut 4,2 4,2 4,2 4,3 4,4 4,5 Bunguran Tengah 450,0 450,0 450,0 450,4 450,9 451,3 Bunguran Selatan 300,0 300,0 300,0 301,0 302,1 303,1 Serasan 445,0 445,0 445,0 445,8 446,5 447,3 Subi 300,0 300,0 300,0 300,5 301,0 301,6 Serasan Timur Jumlah 6.042,2 6.042,2 6.012,2 6.038,2 6.044,2 6.050,2 Sumber : Kabupaten Natuna Dalam Angka 2009-2016 (data diolah) Kecamatan

81

2015 971,5 803,5 851,7 351,3 63,8 602,2 901,6 4,6 451,7 304,2 448,0 302,1 6.056,2

2016 971,9 804,3 852,1 351,6 64,0 602,8 901,9 4,7 452,1 305,2 448,8 302,6 6.062,1

Lampiran II Luas Lahan Perkebunan Kelapa Dalam menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2009 - 2016 (Ha) Luas Lahan Perkebunan Kelapa Dalam (Ha) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2.595,0 2.595,0 2.595,0 2.595,0 2.595,0 2.595,0 2.595,0 2.595,0 Midai 925,0 925,0 925,0 925,0 925,0 925,0 925,0 925,0 Bunguran Barat 1.990,0 1.990,0 1.990,0 1.990,0 1.990,0 1.990,0 1.990,0 1.990,0 Bunguran Utara 1.100,0 1.100,0 1.100,0 1.100,0 1.100,0 1.100,0 1.100,0 1.100,0 Pulau Laut 320,0 320,0 320,0 320,0 320,0 320,0 320,0 320,0 Pulau Tiga 286,0 286,0 1.390,0 1.390,0 1.390,0 1.390,0 1.390,0 1.390,0 Bunguran Timur 1.390,0 1.390,0 3.145,0 3.145,0 3.145,0 3.145,0 3.142,0 532,0 Bunguran Timur Laut 41,0 41,0 41,0 40,5 40,5 40,5 41,0 41,0 Bunguran Tengah 1.050,0 1.050,0 1.050,0 1.050,0 1.050,0 1.050,0 1.050,0 1.050,0 Bunguran Selatan 286,0 286,0 286,0 286,0 286,0 286,0 286,0 286,0 Serasan 588,0 588,0 588,0 588,0 588,0 588,0 588,0 588,0 Subi 576,0 576,0 576,0 576,0 576,0 576,0 576,0 576,0 Serasan Timur Jumlah 11.147,00 11.147,00 14.006,00 14.005,50 14.005,50 14.005,50 14.003,00 11.393,00 Sumber : Kabupaten Natuna Dalam Angka 2009-2016 (data diolah) Kecamatan

82

Lampiran III Jumlah Total Produksi Perkebunan menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2009 – 2016 (Ton) Produksi Total Perkebunan (Ton) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Midai 1.911,0 1.911,0 1.881,0 1.902,7 1.904,5 1.906,2 Bunguran Barat 1.351,8 1.351,8 1.351,5 1.355,5 1.359,4 1.363,2 Bunguran Utara 1.175,3 1.175,3 1.175,3 1.177,1 1.178,9 1.180,6 Pulau Laut 385,5 385,5 385,5 386,0 386,4 386,9 Pulau Tiga 218,0 218,0 218,0 219,6 221,2 222,8 Bunguran Timur 1.652,0 1.652,0 1.652,0 1.653,7 1.655,4 1.657,1 Bunguran Timur Laut 1.731,1 1.731,1 1.731,1 1.733,2 1.735,4 1.737,5 Bunguran Tengah 1.674,2 1.674,2 1.674,2 1.675,8 1.677,3 1.678,9 Bunguran Selatan 1.475,3 1.475,3 1.475,0 1.476,5 1.477,8 1.479,0 Serasan 791,4 791,4 791,4 794,9 798,4 801,8 Subi 590,0 590,0 590,0 591,5 593,0 594,5 Serasan Timur 380,0 380,0 380,0 380,8 381,5 382,3 Jumlah 13.335,6 13.335,6 13.305,0 13.347,2 13.369,1 13.390,9 Sumber : Kabupaten Natuna Dalam Angka 2009-2016 (data diolah) Kecamatan

83

2015 1.906,7 1.366,2 1.180,8 387,8 224,4 1.656,4 1.746,2 1.680,5 1.480,1 802,9 596,0 383,0 13.411,1

2016 1.908,3 1.369,9 1.182,9 388,8 226,0 1.658,1 1.806,3 1.682,0 1.481,4 806,1 597,5 383,8 13.491,2

Lampiran IV Luas Total Lahan Perkebunan menurut Kecamatan Kabupaten Natuna Tahun 2009 - 2016 (Ha) Luas Total Lahan Perkebunan (Ha) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Midai 3.607,0 3.607,0 3.607,0 3.607,0 3.607,0 3.607,0 3.607,0 3.607,0 Bunguran Barat 1.903,0 1.903,0 1.953,0 2.603,0 2.603,0 2.603,0 2.603,0 2.603,0 Bunguran Utara 2.862,0 2.862,0 2.938,0 2.862,0 2.862,0 2.862,0 2.862,0 2.862,0 Pulau Laut 1.550,0 1.550,0 1.550,0 1.550,0 1.550,0 1.550,0 1.550,0 1.550,0 Pulau Tiga 1.231,0 1.231,0 1.231,0 1.231,0 1.231,0 1.231,0 1.231,0 1.231,0 Bunguran Timur 2.370,0 2.370,0 3.526,0 3.474,0 3.474,0 3.474,0 3.474,0 3.474,0 Bunguran Timur Laut 3.468,0 3.468,0 5.231,0 5.231,0 5.231,0 5.231,0 5.231,0 5.231,0 Bunguran Tengah 1.173,0 1.173,0 1.203,0 1.172,5 1.172,5 1.172,5 1.172,5 1.172,5 Bunguran Selatan 3.046,0 3.046,0 3.077,0 3.053,0 3.053,0 3.053,0 3.053,0 3.053,0 Serasan 3.229,0 3.229,0 3.229,5 3.229,5 3.229,5 3.229,5 3.229,5 3.229,5 Subi 1.511,0 1.511,0 1.513,0 1.511,0 1.511,0 1.511,0 1.511,0 1.511,0 Serasan Timur 1.540,0 1.540,0 1.440,0 1.540,0 1.540,0 1.540,0 1.540,0 1.540,0 Jumlah 27.490,0 27.490,0 30.498,5 31.064,00 31.064,00 31.064,00 31.064,00 31.064,00 Sumber : Kabupaten Natuna Dalam Angka 2009-2016 (data diolah) Kecamatan

84

Lampiran V Perhitungan Pertumbuhan Proporsional dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah Produksi Kelapa Dalam menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2016 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur

K’ij/Kij 1,350729 1,354477 1,351361 1,353551 1,365457 1,353697 1,350974 1,477094 1,353784 1,367448 1,357810 1,358001

K’i/Ki 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001 1,354001

K’.../K... 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411 7,102411

85

PP

-5.578,106206 -4.603,699412 -4.888,603654 -2.013,772458 -363,281534 -3.452,274879 -5.175,797282 -24,732183 -2.589,248000 -1.730,552731 -2.562,392759 -1.727,516894

PPW

-3.257.051,764544 391.170,404698 -2.303.512,387932 -161.697,245658 742.772,892996 -187.240,733336 -2.796.141,722449 543.346,585831 -100.186,234079 4.153.240,542053 1.742.087,912935 1.233.211,749484

Kategori Terbelakang Berkembang Terbelakang Terbelakang Berkembang Terbelakang Terbelakang Berkembang Terbelakang Berkembang Berkembang Berkembang

Lampiran VI Perhitungan Location Quotient (LQ) Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2016 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur

2012 0,764275 1,770538 2,908812 6,558393 0,309282 1,142290 1,940783 0,005903 0,348168 0,658792 2,213522 3,147596

2013

2014

0,697600 1,784191 2,889016 6,132435 0,283271 1,356098 2,207329 0,007605 0,320596 0,642112 2,036022 2,976833

0,651474 1,798421 2,880235 5,854048 0,265322 1,598062 2,485218 0,009799 0,301126 0,629982 1,914777 2,857756

86

2015 0,648765 1,802573 2,876406 5,795572 0,264337 1,624073 2,499581 0,010130 0,299934 0,632734 1,903959 2,842504

2016 1,258213 1,722679 3,101053 11,134610 0,480739 0,694718 1,304002 0,003430 0,534702 0,740971 3,610851 4,440860

Rata-Rata LQ 0,804066 1,775680 2,931104 7,095012 0,320590 1,283048 2,087383 0,007373 0,360905 0,660918 2,335826 3,253110

Lampiran VII Perhitungan Laju Pertumbuhan Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2013 – 2016 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur Kabupaten Natuna

2013

2014

2015

2016

0,081713 0,082464 0,081840 0,082279 0,084665 0,082308 0,081762 0,107042 0,082326 0,085064 0,083133 0,083171

0,139462 0,140252 0,139595 0,140057 0,142560 0,140087 0,139513 0,165512 0,140106 0,142978 0,140954 0,140994

0,037521 0,038239 0,037642 0,038062 0,040333 0,038090 0,037568 0,060693 0,038107 0,040711 0,038877 0,038913

0,056233 0,056963 0,056356 0,056783 0,059085 0,056811 0,056280 0,079289 0,056828 0,059467 0,057610 0,057647

Jumlah Rata-Rata 0,078732 0,079480 0,078858 0,079295 0,081661 0,079324 0,078781 0,103134 0,079342 0,082055 0,080143 0,080181

0,082369

0,140152

0,038148

0,056870

0,079385

87

Lampiran VIII Perhitungan Dynamic Location Quotient (DLQ) Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2013 – 2016 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur

2013 0,999999 1,000000 0,999999 1,000000 1,000013 1,000000 0,999999 1,000776 1,000000 1,000016 1,000003 1,000003

2014 0,999999 1,000000 0,999999 1,000000 1,000008 1,000000 0,999999 1,000471 1,000000 1,000010 1,000002 1,000002

88

2015 1,000001 1,000000 1,000001 1,000000 0,999986 1,000000 1,000001 0,999159 1,000000 0,999983 0,999997 0,999997

2016 1,000005 0,999999 1,000004 1,000001 0,999948 1,000001 1,000005 0,996912 1,000000 0,999933 0,999989 0,999988

Rata-Rata DLQ 1,000001 1,000000 1,000001 1,000000 0,999989 1,000000 1,000001 0,999329 1,000000 0,999986 0,999998 0,999997

Lampiran IX Perhitungan Gabungan Location Quotient dan Dynamic Location Quotient (DLQ) Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 – 2017 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur

Rata-Rata LQ 1,128807 1,304519 1,597966 2,007890 0,632198 0,804769 1,139780 0,005947 0,675914 0,838535 1,666514 1,747485

89

Rata-Rata DLQ

Kriteria

1,000001 Unggulan 1,000000 Unggulan 1,000001 Unggulan 1,000000 Unggulan 0,999989 Non Unggulan 1,000000 Reposisi Unggulan 1,000001 Unggulan 0,999361 Non Unggulan 1,000000 Reposisi Unggulan 0,999986 Non Unggulan 0,999998 Reposisi Non Unggulan 0,999997 Reposisi Non Unggulan

Lampiran X Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPs) Produksi Kelapa menurut Kecamatan Kabupaten Natuna 2012 - 2013 Eijt

Eij

∆Eij

∆Eij/Eij

Eint

Ein

∆Ein

∆Ein/Ein

RPs

1.076.908.548,1

995.558.230,3

81.350.317,790623

0,081713

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,992039

Bunguran Barat

889.406.893,0

821.649.977,7

67.756.915,315315

0,082464

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,001159

Bunguran Utara

943.903.694,5

872.498.554,6

71.405.139,865997

0,081840

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,993575

Pulau Laut

388.981.956,4

359.410.106,4

29.571.850,000000

0,082279

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,998905

Pulau Tiga

70.326.490,5

64.837.044,6

5.489.445,937500

0,084665

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,027878

Bunguran Timur

666.862.307,8

616.148.302,4

50.714.005,382471

0,082308

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,999261

Bunguran Timur Laut

999.284.133,1

923.755.732,2

75.528.400,887663

0,081762

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,992634

Bunguran Tengah

4.886.595,5

4.414.101,7

472.493,853659

0,107042

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,299541

Bunguran Selatan

500.162.880,0

462.118.694,3

38.044.185,714286

0,082326

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

0,999472

Serasan

335.135.328,7

308.862.174,8

26.273.153,846154

0,085064

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,032722

Subi

495.344.333,3

457.325.677,6

38.018.655,725624

0,083133

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,009270

Serasan Timur

333.963.583,3

308.320.350,7

25.643.232,638889

0,083171

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

1,009733

Kecamatan Midai

90

Lanjutan 2013 - 2014 Eijt

Eij

∆Eij

∆Eij/Eij

Eint

Ein

∆Ein

∆Ein/Ein

RPs

Midai

1.227.096.036,7

1.076.908.548,1

150.187.488,554913

0,139462

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,995078

Bunguran Barat

1.014.147.828,5

889.406.893,0

124.740.935,495495

0,140252

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,000716

Bunguran Utara

1.075.667.835,5

943.903.694,5

131.764.141,038526

0,139595

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,996029

Pulau Laut

443.461.484,2

388.981.956,4

54.479.527,878788

0,140057

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,999324

Pulau Tiga

80.352.265,9

70.326.490,5

10.025.775,375000

0,142560

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,017188

Bunguran Timur

760.281.360,0

666.862.307,8

93.419.052,227140

0,140087

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,999543

Bunguran Timur Laut

1.138.697.567,2

999.284.133,1

139.413.434,109584

0,139513

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,995446

Bunguran Tengah

5.695.385,8

4.886.595,5

808.790,243902

0,165512

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,180951

Bunguran Selatan

570.238.611,4

500.162.880,0

70.075.731,428572

0,140106

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

0,999674

Serasan

383.052.321,7

335.135.328,7

47.916.993,006993

0,142978

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,020168

Subi

565.164.924,1

495.344.333,3

69.820.590,816327

0,140954

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,005723

Serasan Timur

381.050.354,2

333.963.583,3

47.086.770,833333

0,140994

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

1,006009

Kecamatan

91

Lanjutan 2014 - 2015 Eijt

Eij

∆Eij

∆Eij/Eij

Eint

Ein

∆Ein

∆Ein/Ein

RPs

Midai

1.273.137.960,7

1.227.096.036,7

46.041.924,059088

0,037521

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,983558

Bunguran Barat

1.052.928.265,2

1.014.147.828,5

38.780.436,756757

0,038239

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,002389

Bunguran Utara

1.116.158.367,2

1.075.667.835,5

40.490.531,658291

0,037642

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,986734

Pulau Laut

460.340.567,3

443.461.484,2

16.879.083,030303

0,038062

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,997741

Pulau Tiga

83.593.093,5

80.352.265,9

3.240.827,625000

0,040333

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,057262

Bunguran Timur

789.240.541,0

760.281.360,0

28.959.181,017058

0,038090

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,998474

Bunguran Timur Laut

1.181.476.160,3

1.138.697.567,2

42.778.593,130974

0,037568

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,984789

Bunguran Tengah

6.041.054,6

5.695.385,8

345.668,878049

0,060693

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,590971

Bunguran Selatan

591.968.560,0

570.238.611,4

21.729.948,571429

0,038107

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

0,998912

Serasan

398.646.573,4

383.052.321,7

15.594.251,748252

0,040711

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,067165

Subi

587.136.673,0

565.164.924,1

21.971.748,866213

0,038877

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,019094

Serasan Timur

395.878.194,4

381.050.354,2

14.827.840,277778

0,038913

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

1,020048

Kecamatan

92

Lanjutan 2015 - 2016 Eijt

Eij

∆Eij

∆Eij/Eij

Eint

Ein

∆Ein

∆Ein/Ein

RPs

Midai

1.344.729.752,1

1.273.137.960,7

71.591.791,342325

0,056233

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,988787

Bunguran Barat

1.112.906.032,4

1.052.928.265,2

59.977.767,207207

0,056963

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,001628

Bunguran Utara

1.179.060.371,9

1.116.158.367,2

62.902.004,690117

0,056356

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,990955

Pulau Laut

486.479.933,3

460.340.567,3

26.139.366,060606

0,056783

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,998460

Pulau Tiga

88.532.193,8

83.593.093,5

4.939.100,250000

0,059085

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,038945

Bunguran Timur

834.078.154,8

789.240.541,0

44.837.613,802028

0,056811

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,998960

Bunguran Timur Laut

1.247.970.010,4

1.181.476.160,3

66.493.850,089693

0,056280

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,989627

Bunguran Tengah

6.520.044,5

6.041.054,6

478.989,853659

0,079289

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,394211

Bunguran Selatan

625.608.971,4

591.968.560,0

33.640.411,428572

0,056828

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

0,999258

Serasan

422.352.923,1

398.646.573,4

23.706.349,650350

0,059467

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,045663

Subi

620.961.496,4

587.136.673,0

33.824.823,356009

0,057610

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,013005

Serasan Timur

418.699.263,9

395.878.194,4

22.821.069,444445

0,057647

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1,013653

Kecamatan

93

Lampiran XI Perhitungan Model Rasio Pertumbuhan (RPr) Produksi Kelapa Kabupaten Natuna 2012 - 2016 Eint

Ein

∆Ein

∆Ein/Ein

Ent

En

∆En

∆En/En

RPs

2012 – 2013

6.705.166.744,1

6.194.898.947,2

510.267.796,958179

0,082369

233.997.135.353,3

216.258.111.601,3

17.739.023.751,996200

0,082027

1,004169

2013 – 2014

7.644.905.975,2

6.705.166.744,1

939.739.231,008574

0,140152

276.634.796.732,0

233.997.135.353,3

42.637.661.378,688300

0,182214

0,769157

2014 – 2015

7.936.546.010,8

7.644.905.975,2

291.640.035,619191

0,038148

278.499.499.538,8

276.634.796.732,0

1.864.702.806,817200

0,006741

5,659423

2015 – 2016

8.387.899.148,0

7.936.546.010,8

451.353.137,175010

0,056870

1.535.953.932.766,0

278.499.499.538,8

1.257.454.433.227,240000

4,515105

0,012596

Tahun

94

Lampiran XII Perhitungan Overlay Location Quotient (LQ), RPs, dan RPr Produksi Kelapa Kabupaten Natuna 2012 - 2016 Kecamatan Midai Bunguran Barat Bunguran Utara Pulau Laut Pulau Tiga Bunguran Timur Bunguran Timur Laut Bunguran Tengah Bunguran Selatan Serasan Subi Serasan Timur

LQ 0,804066 1,775680 2,931104 7,095012 0,320590 1,283048 2,087383 0,007373 0,360905 0,660918 2,335826 3,253110

Rata-Rata RPs 0,989865 1,001473 0,991823 0,998608 1,035318 0,999060 0,990624 1,366418 0,999329 1,041429 1,011773 1,012361

95

Rata-Rata RPr 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982 1,861982

Notasi

Klasifikasi

––+ +++ +–+ +–+ –++ –++ +–+ –++ ––+ –++ +++ +++

Marginal Dominan Jenuh Jenuh Potensial Jenuh Jenuh Potensial Marginal Potensial Dominan Dominan

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.