Analisis Strategi Adaptasi Bencana Banjir Masyarakat dan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas oleh Go River di Kota Medan


1 Repositori Institusi USU Sekolah Pascasarjana Tesis Magister (Perencanaan Wilayah dan Perdesaan) 2018 Analisis Strategi Adaptasi Bencana Banjir Ma...
Author:  Johan Atmadjaja

0 downloads 3 Views 2MB Size

Recommend Documents


No documents


Universitas Sumatera Utara Repositori Institusi USU

http://repositori.usu.ac.id

Sekolah Pascasarjana

Tesis Magister (Perencanaan Wilayah dan Perdesaan)

2018

Analisis Strategi Adaptasi Bencana Banjir Masyarakat dan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas oleh Go River di Kota Medan Pribadi, Muhammad Akbar Universitas Sumatera Utara http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/6059 Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara

ANALISIS STRATEGI ADAPTASI BENCANA BANJIR MASYARAKAT DAN MANAJEMEN BENCANA BERBASIS KOMUNITAS OLEH GO RIVER DI KOTA MEDAN

TESIS

Oleh: MUHAMMAD AKBAR PRIBADI 157003018

PROGRAM PASCASARJANA PERENCANAAN PEMBANGUNAN WILAYAH DAN PEDESAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS STRATEGI ADAPTASI BENCANA BANJIR MASYARAKAT DAN MANAJEMEN BENCANA BERBASIS KOMUNITAS OLEH GO RIVER DI KOTA MEDAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh: MUHAMMAD AKBAR PRIBADI 157003018

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: Analisis Strategi Adaptasi Bencana Banjir Masyarakat Dan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas Oleh Go River Di Kota Medan

Nama Mahasiswa

: Muhammad Akbar Pribadi

NIM Program Studi

: 157003018 : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Badaruddin, M,A Ketua

Dr. Linda T. Maas, MPH Anggota

Ketua Program Studi,

Direktur,

Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirojuzilam, SE

Prof. Dr. Robert Sibarani, MS

Tanggal Lulus

: 09 Februari 2018

Universitas Sumatera Utara

Telah Diuji pada tanggal 09 Februari 2018

PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Badaruddin, M.Si Anggota : 1. Dr. Linda T. Maas, MPH 2. Prof. Dr. Erika Revida, MS 3. Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si 4. Irsad Lubis, SE, M.Soc, Sc, Ph. D

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri. Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah. Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Medan,

Februari 2018

Yang membuat pernyataan

Muhammad Akbar Pribadi NIM. 157003018

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Strategi Adaptasi Bencana Banjir Masyarakat Dan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas Oleh Go River Di Kota Medan”. Kegiatan Go River dalam manajemen bencana banjir berbasis komunitas di Kota Medan dilakukan pada waktu sebelum, saat terjadi, dan setelah bencana. Adapun Tujuan dari penelitiaan ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan oleh Go River dan untuk mengetahui strategi adaptasi bencana masyarakat setelah Go River melaksanakan program manajemen bencana berbasis komunitas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan memusatkan perhatian pada penemuan fakta-fakta sebagaimana keadaan sebenarnya. Melalui penelitian deskriptif ini, penulis ingin menggambarkan bagaimana peran manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan oleh organisasi Go River terhadap strategi adaptasi banjir masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan Go River di laksnakan dalam tiga periode bencana : 1. Pra Bencana ( Menanam Untuk Kotaku, Sekolah Sungai, Bersih-Bersih Sungai, dan Sungai Deli Membaca); 2. Saat Terjadi Bencana (Emergency Response Plan dan Posko Tanggap Darurat); 3. Pasca Bencana (Riset Sungai Deli dan Menjaring Kelompok Peduli. Selain itu Go River mendorong adaptasi masyarakat di sekitar sungai Deli untuk meminimalisir kerugian saat terjadi bencana, melalui : 1. Adaptasi yang bersifat Non Teknis (Menjaga Sungai Dari Sampah; Barang Berharga di Tempat Yang Tinggi dan Menjauhi Genangan yang Kotor); 2. Adaptasi yang berdifat Teknis (Membuat Dinding Penahan di Bibir Sungai yang dekat dengan Pemukiman Penduduk, Membuat Tanggul dari Karung yang berisi pasir, dan Meninggikan bangunan/rumah yang terletak di bibir sungai)

Kata kunci: Strategi adaptasi bencana, manajemen bencana komuinitas

i Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The tittle of this research is “Analisys Of The Community Flood Adaption Strategy and Community-Based Disaster Management by Go River in Medan City”. Activities of Go River in the management of the flood disaster based on community groups in Medan city done between the time before flood disaster , when the next , and after the disaster. The purposes of the research is to described the implementation of Community-Based Disaster Management conducted by Go River and to know disaster adaptation strategy of the community after go river began a program to Community-Based Disaster Management. In this research researchers used the qualitative method by staying tightly focused in the discovery of fakta-fakta as the actual state of things .Through research descriptive of this , writer would like describes how the disaster management the role of based on community groups that have been undertaken by by an organization in club level for Go Riverr against the priorities raised in the community flood adaptation in Deli River (River Flow Areas). The research results show that the program disaster management community-based done go river in laksnakan in three periods disaster: 1.Pre of disaster programm are “Menanam Untuk Kotaku” (plant to my city), River School , River Cleaning Programm, and Deli Reading ; 2.The event of disaster ( emergency response plan and built the emergency posts ); 3.After of disaster ( Deli River Research and Capture the Caring Group). In addition Go River also encourage adaptation the community to reduce disadvantages when of disasters, through: 1.Non technical adaption ( keep a river from rubbish; valuables in a high place and away from puddle which dirty ); 2. technical adaption ( making retaining walls in the river close to the residential area, make levees of sacks are contains sand, and exalt building / a house located at the river )

Keywords : Disaster-Adaption Strategy, Disaster management, Deli River.

ii Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1.

Bapak Imam Nahrowi sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang telah memberikan Beasiswa kepada penulis.

2.

Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, MS, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3.

Bapak Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirojuzilam, SE., selaku Ketua Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

4.

Bapak Prof. Dr. Badaruddin, MA dan Ibu Dr. Linda T. Maas selaku Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis ini.

5.

Ibu Prof. Dr. Erika Revida, MS., Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si., dan Bapak Irsad Lubis, SE, M.Soc, Sc, Ph. D selaku Komisi Pembanding yang telah menyampaikan berbagai masukan untu k perbaikan tesis ini.

6.

Seluruh Pengurus Go River Medan yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian serta mengambil data yang berkaitan dengan judul penulis dan telah memberikan masukan kepada penulis untuk melakukan penelitian di Kawasan Sungai Deli.

7.

Secara khusus penulis ucapkan terima kasih kepada Ayahanda Sabaruddin Tanjung dan Ibunda tercinta Alm. Romaniar yang telah melahirkan, membesarkan dan membimbing penulis sampai saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dan semoga Allah SWT agar menjaga dan melindungi mereka.

8.

Seluruh keluarga besar penulis, yakni kakak Alm. Nia Rosdalena, Alm. Esty Rahayu, dan Yulia Sabrina, S.Pd dan adik Bripda Muhammad Akmal Pribadi,

iii Universitas Sumatera Utara

Riska Amelia, A.md dan Rauya Fitri serta seluruh keluarga besar lainnya, yang senantiasa selalu memberikan bantuan doa, moril dan materil, dukungan dan do’a kepada penulis ketika dalam perkuliahan sampai sampai penyelesain tesis ini. 9.

Seluru teman, sahabat dan senioren di seluruh organisasi kemahasiswaan dan kepemudaaan yang telah banyak membantu baik moril, materil serta motivasi kepada penulis.

10. Seluruh rekan-rekan mahasiswa PWD Kelas Kemenpora Angkatan III atas persahabatannya sampai hari ini. 11. Seluruh Dosen dan staf Administratif Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya serta banyak membantu penulis dari awal hingga akhir perkuliahan. Penulis menyadari tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya atas kebaikan dan kemurahan hati bapak/ibu, saudara/I sekalian. Amin.

Medan,

Februari 2018

Penulis,

Muhammad Akbar Pribadi NIM 157003018

iv Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP Muhammad Akbar Pribadi lahir di Dusun Capa Utara Gampong Bireuen M.N.S. Capa Kec. Kota Juang, Kabupaten Bireuen Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada hari sabtu tanggal 11 November 1989, anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Sabaruddin Tanjung dan Alm. Romaniar. Pendidikan penulis dimulai dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 21/Bertingkat Medan yang lulus pada tahun 2001, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1 Bireuen yang lulus pada tahun 2004, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bireuen yang lulus pada tahun 2007. Penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara (USU) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada Departemen Ilmu Administrasi Negara yang lulus pada tahun 2013. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) kelas Beasiswa Kemenpora-RI yang lulus pada tahun 2018. Penulis saat ini bekerja sebagai Manager Program di City Research Center (CRC) Medan yang bergerak pada pemberdayaan masyarakat di wilayah perkotaan. Penulis juga aktif di organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara dan Anggota Dewan Pakar Pemuda Pancasila (PP) Binjai.

v Universitas Sumatera Utara

Daftar Isi Hal Abstrak ……………………………………………………………………… Abstract ........................................................................................................... Kata Pengantar………………………………………………………………. Daftar Riwayat Hidup ...................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................................. Daftar Tabel ........................................................................................................ Daftar Gambar .................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1.2 Batasan Masalah ...................................................................................... 1.3 Rumusan Masalah .................................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 1.5 Manfaat Penelitian ................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 2.2 Bencana Banjir ......................................................................................... 2.3 Manajemen Bencana ................................................................................ 2.4 Strategi Adaptasi Banjir ........................................................................... 2.5 Kerangka Pemikiran ................................................................................. 2.6 Definisi Konsep ...................................................................................... 2.7 Penelitian Terdahulu ................................................................................ BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 3.1 Bentuk Penelitian ..................................................................................... 3.2 Lokasi Penelitian ...................................................................................... 3.3 Informan Penelitian .................................................................................. 3.4 Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 3.5 Teknik Analisa Data ................................................................................ BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................. 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ..................................................................... 4.2 Kondisi Terkini Daerah Aliran Sungai Deli ............................................ 4.3 Program Manajemen Bencana Berbasis Kelompok Oleh Go River …... 4.4 Strategi Adaptasi Bencana Masyarakat Setelah Pelaksanaan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas oleh Go River ................. 4.2 Analisis …………………………………....…........................................ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 5.2 Saran ........................................................................................................ Daftar Pustaka ....................................................................................................

i ii iii v vi vii viii 1 1 11 11 12 12 13 15 22 27 32 33 34 34 34 35 35 38 39 41 41 46 57 86 94 100 100 100 102

vi Universitas Sumatera Utara

Daftar Tabel Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4

Hal Matriks Penelitian Terdahulu ........................................................ 34 Luas dan Kemiringan DAS Deli .................................................... 63 Penggunaan Lahan DAS Deli ........................................................ 64 Geomorfologi DAS Deli ................................................................ 65

vii Universitas Sumatera Utara

Daftar Gambar Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Gambar 13

Kerangka Pemikiran ............................................................... M. Husni, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Medan Melakukan Penanaman Pohon Di Kawasan Sungai Deli ...................................................................................... Penyampaian Materi Sekolah Sungai Go River ....... Kegiatan Sumpah melestarikan Sungai Go River Bersama DPD KNPI Sumatera Utara .............................................. Suasana Taman Bacaan Yang dipenuhi anak-anak di sekitar sungai Deli ……………...................................................... Pelaksanaan Emergency Response Plan (ERP) Di Kawasan Sungai Deli ............................................................................. Armada Go River yang Disiapkan Untuk Membantu Masyarakat yang Mengalami Bencana Banjir ........................ Tumpukan sampah dan pipa pembuangan rumah Tangga …. Salah satu armada perahu yang dimiliki Go River Dokumentasi Kegiatan bersama Go River, KOPASUDE, dan PUSPA ………………………………………………… Salah satu rumah masyarakat di sekitar sungai Deli ……….. Dinding tanggul penyangga air sungai …………………....... Beradaptasi terhadap banjir dengan meninggikan bangunan rumah ……………………………….. ………………….......

Hal 32

61 62 66 68 72 75 80 81 85 88 92 93

viii Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hampir seluruh negara di dunia mengalami masalah banjir, tidak terkecuali di negara-negara yang telah maju sekalipun.

Masalah banjir telah ada sejak

manusia mulai bermukim dan melakukan berbagai kegiatan di kawasan yang berupa dataran banjir (flood plain) suatu sungai. Kondisi lahan di kawasan ini pada umumnya subur serta menyimpan berbagai potensi dan kemudahan sehingga mempunyai daya tarik yang tinggi untuk ditinggali dan dimanfaatkan oleh manusia. Oleh karena itu, kota-kota besar serta pusat-pusat perdagangan dan kegiatankegiatan penting lainnya seperti kawasan industri, pariwisata, prasarana perhubungan dan sebagainya sebagian besar tumbuh dan berkembang di kawasan ini. Sebagai contoh, di Jepang sebanyak 49% jumlah penduduk dan 75% properti terletak di dataran banjir yang luasnya 10% luas daratan; sedangkan sisanya 51% jumlah penduduk dan hanya 25% properti yang berada di luar dataran banjir yang luasnya 90% luas daratan (Siswoko, 2007). Indonesia merupakan negara yang setiap tahunnya mengalami banjir, bahkan banjir kerap terjadi di kota besar. Fenomena tersebut merupakan permasalahan yang harus segera diselesaikan, sebab telah menjadi rutinitas kota – kota besar yang ada di Indonesia dan banjir yang terjadi telah banyak menimbulkan kerugian. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2016 Selama 2016 terjadi 766 bencana banjir, 612 longsor, 669 puting beliung, 74 kombinasi banjir dan longsor, 178 kebakaran hutan dan lahan, 13

1 Universitas Sumatera Utara

gempa, tujuh gunung meletus, dan 23 gelombang pasang dan abrasi. Dampak yang ditimbulkan bencana telah menyebabkan 522 orang meninggal dunia dan hilang, 3,05 juta jiwa mengungsi dan menderita, 69.287 unit rumah rusak dimana 9.171 rusak berat, 13.077 rusak sedang, 47.039 rusak ringan, dan 2.311 unit fasilitas umum rusak (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2017). Bencana Banjir adalah disebabkan oleh faktor hidrometeorologi dan frekuensinya selalu setiap tahunnya. Banjir yang terjadi terkadang tidak menimbulkan banyak korban jiwa, tetapi bencana ini tetap saja merusak infrastruktur dan mengganggu stabilitas perekonomian masyarakat secara signifikan. Oleh karena itu, masyarakat harus siap untuk mengantisipasi setiap jenis bencana banjir yang datang (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2017). Banjir yang terjadi hampir setiap tahun harus diantisipasi untuk meminimalkan kerugian yang ditimbulkannya. Mistra (2007) menjelaskan bahwa dampak banjir dapat terjadi pada beberapa aspek, yaitu: (1) Aspek Penduduk, berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi. (2) Aspek Pemerintahan, berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip, peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan. (3) Aspek Ekonomi, berupa hilangnya mata pencaharian, tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan, hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat. (4) Aspek Sarana/Prasarana, berupa kerusakan rumah penduduk, jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum, instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi. Dan (5) Aspek Lingkungan,

2 Universitas Sumatera Utara

berupa kerusakan ekosistem, obyek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi. Bencana banjir salah satunya diakibatkan karena wilayah bantaran sungai di Indonesia merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dampak tersebut meliputi perubahan pola cuaca dan iklim setempat yang menyebabkan pola dan debit air sungai tidak dapat di perhitungkan dan dapat dengan tiba-tiba meningkat dan mengakibatkan banjir. Hal ini semakin diperparah dengan kenyataan adanya kerusakan lingkungan di sekitar bantaran sungai. Seperti yang diketahui bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki

kondisi

geografis, geologis,

hidrologis

dan demografis

yang

memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam, maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, dan dampak psikologis, yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional (Tarigan, 2015). Terkhusus untuk masalah banjir di Kota Medan agaknya tidak terlepas dari kondisi geografis kota ini yang memang dilalui sejumlah sungai besar dan sungai kecil beserta beberapa anak sungai lainnya. Sungai besar yang membelah Kota Medan, adalah Sungai Belawan, Sungai Deli, Sungai Percut dan Sungai Kera serta Sungai Babura. Sebagaimana kita ketahui, Kota Medan adalah sebuah kota yang kecepatan laju perekonomian dan aspek sosialnya lainnya tergolong sangat pesat. Dimulai dari didirikannya sebuah kampung kecil oleh seorang petinggi bangsawan Karo, hingga kota ini berubah menjadi sebuah kota praja, pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan dan lain sebagainya. Dengan adanya perkembangan

3 Universitas Sumatera Utara

tersebut, menyebabkan minat sangat besar dari penduduk sekitar Kota Medan untuk hijrah dan melakukan urbanisasi yang sangat besar jumlahnya sehingga menjadi perhatian utama pemerintah Kota Medan (Piolina, 2009). Persoalan banjir di Kota Medan ternyata kini sudah menjadi penyakit kronis dan jadi tradisi tahunan. Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan, dan tidak terhitung berapa dana yang telah tercurahkan di berbagai proyek penanganan banjir kota ini. Selama sepuluh tahun terakhir saja upaya penanangan banjir sudah menghabiskan sedikitnya Rp. 300 miliar (Tarigan, 2015). Dari data kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan selama 2016, jenis bencana yang sering terjadi adalah kebakaran dengan jumlah 142 kejadian. Meliputi kebakaran pemukiman, lahan dan kendaraan. Kebakaran menempati posisi pertama yaitu 59 persen dari data bencana yang terjadi di Kota Medan. Selanjutnya angin kencang atau puting beliung sebanyak 33 kejadian. Mengakibatkan rumah rusak akibat angin kencang dan pohon-pohon jalan yang tumbang dengan persentase 24 persen. Bencana banjir sebanyak 11 persen dengan jumlah 17 kejadian banjir rob di kawasan pantai. Bencana lainnya sekitar 6 persen, terdiri dari jembatan amblas dan tanah longsor yang mengakibatkan rumah warga ambruk (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Medan, 2016). Untuk mengatasi masalah banjir, pemerintah Kota Medan dituntut untuk memiliki system mitigasi dan manjemen bencana yang sistematis dan berkelanjutan. Di Indonesia, manajemen resiko terhadap bencana alam maupun manusia masih cenderung rendah. Walaupun perkembangan manajemen bencana di Indonesia meningkat pesat sejak bencana tsunami tahun 2004, berbagai bencana

4 Universitas Sumatera Utara

alam yang terjadi selanjutnya menunjukkan diperlukannya perbaikan yang lebih signifikan. Daerah-daerah yang rentan bencana alam masih lemah dalam aplikasi sistem peringatan dini, kewaspadaan resiko bencana dan kecakapan manajemen bencana. Berbagai program telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengurangi risiko bencana baik preventif, tanggap darurat dan mitigasi bencana hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana. Frekuensi bencana banjir di Medan selalu meningkat setiap tahunnya. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah setiap tahun frekuensi banjir meningkat 10-15 % setiap tahun (Laporan Kebencanaan BPBD Kota Medan, 2016). Bencana banjir kerap merusak infrastruktur dan menganggu stabilitas perekonomian masyarakat secara signifikan. Oleh karena itu, masyarakat harus siap untuk mengantisipasi setiap jenis bencana banjir yang datang. Masalah banjir di Kota Medan cukup kompleks dan membutuhkan penanganan yang serius baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat.Setiap Stakeholder dituntut untuk berperan dalam menanggulangi bencana banjir tidak terkecuali komunitas pemuda. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dimana tanggung jawab penyelenggaraan penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah saja tetapi melibatkan seluruh unsur didalam masyarakat. Secara konkrit upaya yang dilakukan terkait dengan peningkatan kapasitas dan peran serta dari masyarakat yang berpijak pada kemitraan publik dalam pengurangan resiko bencana tentu saja tidak mengesampingkan muatan lokal dan kearifan lokal di

5 Universitas Sumatera Utara

masing-masing daerah. Salah satu metode pengakomodasian muatan lokal dan kearifan lokal dalam penanggulangan bencana adalah manajemen bencana berbasis komunitas (community-based disaster management). Masyarakat lokal dengan ancaman bencana bukanlah pihak yang tidak berdaya, apabila agenda pengurangan risiko bencana bukan lahir dari kesadaran atas kapasitas komunitas lokal serta prioritas yang dimiliki oleh komunitas maka upaya tersebut tidak mungkin berkelanjutan (Pedoman Umum Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, 2012). Seringkali pemerintah cenderung menerapkan pendekatan top-down atau dari atas ke bawah dalam perencanaan manajemen bencana di mana kelompok sasaran diberi solusi yang dirancang untuk mereka oleh para perencana dan bukannya dipilih oleh masyarakat sendiri. Pendekatan seperti itu cenderung mendekatkan tindakan-tindakan manajemen bencana dibandingkan perubahan-perubahan sosial untuk membangun sumber daya dari kelompok yang rentan. Salah satu pendekatan alternatif adalah mengembangkan kebijakan manajemen bencana lewat konsultasi dengan kelompok-kelompok setempat dan menggunakan tehnik serta tindakan di mana masyarakat dapat mengorganisisasi diri secara mandiri dengan bantuan teknis terbatas dari luar. Program manajemen bencana berbasis masyarakat tersebut dianggap lebih memungkinkan untuk melahirkan tindakan yang responsive terhadap kebutuhan komunitas, dan untuk mengambil bagian dalam pembangunan komunitas. Handayani (2011) menjelaskan bahwa praktek manajemen bencana yang berhasil harus melibatkan kerjasama antara komunitas dengan instansi yang terkait.

6 Universitas Sumatera Utara

Komunitas lokal harus sadar akan risiko dan peduli untuk melakukan tindakan untuk menghadapi risikonya. Masyarakat mungkin memerlukan bantuan tehnis, bantuan materi dan bantuan dalam membangun kapabilitas-kapabilitas mereka sendiri. Praktek manajemen bencana yang berhasil harus melibatkan kerjasama antara komunitas denganinstansi yang terkait. Komunitas lokal harus sadar akan risiko dan peduli untuk melakukan tindakan untuk menghadapi risikonya. Masyarakat mungkin memerlukan bantuan teknis, bantuan materi dan bantuan dalam membangun kapabilitas-kapabilitas mereka sendiri. Keberadaan pemuda yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan salah satu solusi dari upaya pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Pemuda dengan segala potensinya diharapkan mampu mengangkat derajat masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan yang dilakukan. Salah satu bentuk gerakan yang dilakukan pemuda dalam menanggulangi bencana banjir di Kota Medan adalah seperti yang dilakukan organisasi Go River. Organisasi Go River bersama puluhan relawannya memfokuskan kegiatan pada perbaikan ekosistem dan sosiokultural masyarakat di bantaran Sungai Deli. Go River dalam berbagai kegiatannya sangat aktif dalam proses manajemen bencana dan mitigasi bencana banjir di Kota Medan khususnya di Bantaran Sungai Deli. Go River aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga ekosistem di sekitar sungai untuk mencegah dampak buruk dari bencana banjir. Selain itu Go River kerap mengajak komunitas-komunitas pemuda dan instansi pemerintah dalam berbagai kegiatan mereka. Bahkan, saat banjir terjadi Go River yang memiliki sistem peringatan dini bencana banjir selalu

7 Universitas Sumatera Utara

memberi peringatan dini dan turut serta dalam proses evakuasi korban banjir di sekitar Sungai Deli. Kegiatan Go River dalam manajemen bencana banjir berbasis komunitas di Kota Medan dilakukan pada waktu sebelum, saat terjadi, dan setelah bencana. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan “Sekolah Sungai” terhadap berbagai kelompok masyarakat yang berda di Kota Medan. Dalam Sekolah Sungai tersebut, Go River mengajak siswa untuk terlibat aktif mengkampanyekan dan memperkenalkan ekosistem wisata Sungai Deli kepada masyarakat luas dengan cara memberikan pelatihan penulisan feature. Setelah itu, siswa diajak untuk meninjau kondisi Sungai Deli menggunakan boat milik Go River. Sambil menyusuri Sungai Deli para siswa akan disajikan Organisasi Go River juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar Sungai Deli. Salah satunya dengan membentuk “masyarakat binaan” di Kelurahan Aur dan beberapa komunitas masyarakat peduli Sungai Deli seperti Laskar Bocah Sungai Deli (LABOSUDE) dan Komando Pemuda Sungai Deli (KOPASUDE). Kegiatan-kegiatan penyuluhan ekosistem juga dilakukan secara rutin dengan targetan masyarakat umum dan masyarakat di sekitar Sungai Deli. Kegiatan manajemen bencana yang dilkukan oleh Go River memberi pengaruh terhadap adaptasi masyarakat terhadap banjir. Hasil penelitian membuktikan bahwa mayoritas masyarakat memilikistrategi adaptasi dengan kategori tinggi.Masyarakat yang cenderung memilihuntuk tidak berpindah banyak melakukan strategi adaptasi secara teknis, sepertimembuat tanggul, menyimpan

8 Universitas Sumatera Utara

barang-barang di tempat tinggi, meninggikanrumah.Strategi adaptasi yang dilakukan tentu beragam sesuai dengan bagaimanakarakteristik sosial, ekonomi dan struktur fisik rumah (Jurnal Bumi Indonesia, 2013 Zelina Triuri, Djaka Marwasta Volume 1). Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut yang menunjukkan adanya keterlibatan pemuda dalam organisaai Go River dalam manajemen bencana banjir Sungai Deli berbasis komunitas. Saat ini organisasi Go River melakukan manajemen bencana melalui program-program yang bersifat teknis dan non teknis. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Analisis Pelaksanaan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas Oleh Go River Medan. 1.2. Batasan Masalah Penelitian Manajemen bencana yang dimaksud dalam penelitian ini adalahupaya sistematis dan komprehensif yang dilakukan oleh organisasi Go River untuk menanggulangi semua kejadian bencana banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan korban jiwa dan kerugian yang ditimbulkan. Tahapan manajemen bencana yang dimaksud adalah Pra Bencana, Saat Bencana (Tanggap Darurat), dan Pasca Bencana. Strategi adaptasi banjir adalah perilaku responsif manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Perilaku responsif tersebut memungkinkan mereka dapat menata sistem-sistem tertentu bagi tindakanatau tingkah lakunya, agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisiyang ada. Dalam penelitian ini strategi adaptasi dibatasi pada respon yang dilakukan oleh

9 Universitas Sumatera Utara

masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli dalam menghadapi banjir baik yang berupa pembangunan teknis dan non teknis. 1.3. Rumusan Masalah Sebagaimana telah diungkapkan dari latar belakang permasalahan yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pelaksanaan manajemen bencana bencana berbasis komunitas yang dilakukan oleh Go River ? 2. Bagaimana strategi adaptasi bencana masyarakat setelah pelaksanaan manajemen bencana berbasis komunitas oleh Go River? 1.4. Tujuan Penelitaian Tujuan dari penelitiaan ini adalah untuk mengetahui: 1. Mendeskripsikan pelaksanaan manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan oleh Go River; 2. Mengetahui strategi adaptasi bencana masyarakat setelah Go River melaksanakan program manajemen bencana berbasis komunitas.

1.5. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau memberikan sumbangan pemikiran serta informasi yang berguna dalam menambah khasanah ilmu dan pengetahuan tentang Manajemen Bencana khususnya keterlibatan pemuda

10 Universitas Sumatera Utara

dalam manajemen bencana banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli di Kota Medan

2.

Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran dan masukan

bagi pihak terkait dalam hal ini Pemerintahan Kota Medan dalam Manajemen Bencana banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli di Kota Medan untuk mengurangi resiko yang ditimbulkan dalam bencana banjir yang terjadi.

11 Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Banjir 2.1.1. Pengertian Bencana Banjir Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam maupun faktor non-alam sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 mengklasifakasikan bencana ke dalam tiga jenis, yaitu: a. Bencana Alam : Merupakan bencana yang besumber dari fenomena alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, pemanasan global, topan dan tsunami. b. Bencana Non-Alam : Merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam antara lain; gagal teknologi, epidemik, dan wabah penyakit. c. Bencana Sosial : Merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia seperti; konflik sosial, dan aksi teror. Banjir adalah jumlah debit air yang melebihi kapasitas pengaliran air tertentu, ataupun meluapnya aliran air pada palung sungai atau saluran sehingga air melimpah dari kiri kanan tanggul sungai atau saluran. Dalam kepentingan yang lebih teknis, banjir dapat di sebut sebagai genangan air yang terjadi di suatu lokasi

12 Universitas Sumatera Utara

yang diakibatkan oleh : (1) Perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS); (2) Pembuangan sampah; (3) Erosi dan sedimentasi; (4) Kawasan kumuh sepanjang jalur drainase; (5) Perencanaan sistem pengendalian banjir yang tidak tepat; (6) Curah hujan yang tinggi; (7) Pengaruh fisiografi/geofisik sungai; (8) Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai; (9) Pengaruh air pasang; (10) Penurunan tanah dan rob (genangan akibat pasang surut air laut); (11) Drainase lahan; (12) Bendung dan bangunan air; dan (13) Kerusakan bangunan pengendali banjir. (Kodoatie, 2002). Menurut Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2011, banjir adalah peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai. Banjir adalah keadaan dimana suatu daerah tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh tersumbatnya sungai maupun karena penggundulan hutan di sepanjang aliran sungai (Ramli, 2010). 2.1.2. Faktor-faktor Penyebab Banjir Berikut beberapa faktor penyebab banjir menurut Ramli (2010): a. Curah hujan tinggi. b. Permukaan tanah lebih rendah dari permukaan air laut. c. Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keluar sempit atau terbatas. d. Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran (bantaran) sepanjang sungai.

13 Universitas Sumatera Utara

e. Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan dipinggir sungai. f. Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai. Kodoatie (2002) menjelaskan faktor-faktor penyebab banjir karena tindakan manusia sebagai berikut: a. Perubahan kondisi Daerah Pengaliran Sungai (DPS). b. Kawasan kumuh. c. Sampah. d. Drainase lahan. e. Kerusakan bangunan pengendali banjir. f. Perencanaan sistem pengendalian banjir yang tidak tepat. 2.1.3

Penanggulangan Banjir Banjir yang terjadi hampir setiap tahunharus diantisipasi untuk

meminimalkan kerugianyang ditimbulkannya. Mistra (2007) danBNPB (2007) menjelaskan bahwa dampak banjirdapat terjadi pada beberapa aspek, yaitu: (1) Aspek Penduduk, berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi. (2) Aspek Pemerintahan, berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip,peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan. (3) Aspek Ekonomi, berupa hilangnya mata pencaharian,tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan,hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat.

(4)

Aspek

Sarana/

Prasarana,

berupa

kerusakan

rumah

penduduk,jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan

14 Universitas Sumatera Utara

fasilitas umum, instalasilistrik, air minum dan jaringan komunikasi. Dan(5) Aspek Lingkungan, berupa kerusakan ekosistem,obyek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi. Harjadi, dkk (2007), dan BNPB (2010) menjelaskan bencana merupakan fenomena yang terjadi karena (1) adanya bahaya/ancaman(hazard), (2) adanya kerentanan (vulnerability),dan (3) kondisi kapasitas yang lemah. Bahaya adalah kondisi yang berpeluang memberikan resiko bencana yang berasal dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan atau membahayakan. Di sisi lain, kondisi kondisi ekonomi, lingkungan/fisik, sosial masyarakatakan menentukan kondisi dari kerentanan (vulnerability). Hubungan ini secara sederhana dapat dipahami bahwa resiko bencana akanmeningkat bila tingkat bahaya (hazard) tinggi,resiko bencana juga akan meningkat bila tingkat kerentanan (vulnerability) tinggi. Resiko bencana bisa diturunkan bila kapasitas mitigasi (ketahanan,kesiap-siagaan) bencana dari masyarakat meningkat. Resiko bencana secara umum diformulasikan dalam persamaan R= (H*V)/C, dimana : R = risk/resiko bencana; H = hazard/ancaman; V = vulnerability/kerentanan; C= capacity/kapasitas mitigasi. Secara teoritis R akan berbandinglurus dengan C dan H, dan berbanding terbalik dengan C.

15 Universitas Sumatera Utara

Caroline Moser (2010) menjelaskan 3 faktor penyebab kerentanan masyarakat terhadapbahaya banjir, yaitu (1) kerentanan fisik, yaitukurang tersedianya infrastruktur fisik seperti drainase, selokan, dan tempat pengumpulan sampah menyebabkan masyarakat rentan terhadap banjir. (2) Kerentanan politikhukum,yaitu kerentanan terhadap tingkat kepemilikan rumah dan lahan, seperti lokasi perumahan didataran rendah, kantong-kantong kemiskinan,dan sepanjang tepi sungai. (3) Kerentanan sosialekonomi. Kelompok umur (anak-anak danlansia), kelompok (perempuan), orang catat, danimigran memiliki tingkat kerentanan terhadap bahaya bencana. Maryono (2005) menjelaskan langkah-langkah pokok dalam menyusun pedoman atau kerangka acuan untuk pembuatan masterplan atau program penanganan banjir. Langkah-langkah tersebut yaitu: a. Pemetaan dan analisis perubahan tata guna lahan di DAS. Hasil dari langkah ini adalah berupa peta tata guna lahan di DAS perubahannya, serta kaitannya dengan kejadian-kejadian banjir. b. Pemetaan dan analisis wilayah sungai, sempadan sungai, dan alur sungai, baik sungai besar di hilir maupun sungai kecil di bagian hulu. Dari pemetaan di sepanjang sungai ini selanjutnya dapat di analisis dengan cermat karakter sungai bersangkutan serta kaitannya dengan potensi banjir, baik banjir biasa maupun banjir banding. c. Pemetaan komponen ekologi retensi alamiah sempadan sungai dan kondisi fisik hidraulik di sepanjang sempadan sungai. Hasil dari pemetaan ini dapat

16 Universitas Sumatera Utara

digunakan untuk menganalisis kemungkinan peningkatan retensi sepanjang alur sungai. d. Pemetaan dan analisis saluran drainase yang masuk ke sungai. Dari hasil pemetaan ini dapat ditetapkan alur-alur drainase yang perlu diperbaiki. e. Pemetaan dan pendataan kondisi daerah pedesaan dan daerah semi urban bagian hulu dan tengah. Langkah ini labih baik dilaksanakan besama masyarakat, sehingga tujuan penanganan banjir dapat tercapai, dan masyarakat mendapatkan pembelajaran dai itu. f. Pemetaan sistem makro dan mikro wilayah keairan (sungai, danau, pantai, dan lain-lain) yang dilanda banjir. Hasil kegiatan ini adalah dapat ditemukan secara pasti penyebab banjir pada skala mikro dan makro wilayah tersebut. Hasil pemetaan ini juga dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan kebijakan mengenai penanggulangan banajir. g. Pemetaan budaya masyarakat dan kaitannya dengan penanggulangan banjir. Selain langkah-langkah di atas, terdapat langkah-langkah penanggulangan banjir lainnya yang terkait langsung dengan sungai, yaitu: 1) Reboisasi dan konservasi hutan di sepanjang DAS dari hulu ke hilir. 2) Penataan tata guna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS. 3) Tidak melakukan pelurusan sungai. 4) Mempertahankan bentuk sungai yang berliku-liku, karena akan mengurangi erosi, dan meningkatkan konservasi.

17 Universitas Sumatera Utara

5) Memanfaatkan daerah genangan air di sepanjang sempadan sungai dari hulu ke hilir. 6) Mengubah sistem drainase konvensional yang mengalirkan air buangan secepat-cepatnya ke hilir menjadi sistem yang alamiah (lambat), sehingga waktu konservasi air cukup memadai dan tidak menimbulkan banjir di hilir. 7) Melakukan relokasi pemukiman yang berada di DAS atau bantaran sungai. 8) Melakukan pendekatan sosio-hidraulik, yaitu dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus menerus untuk terlibat dalam penanggulangan banjir. Beberapa tindakan penanggulangan banjir menurut Ramli (2010): a. Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai dengan fungsi lahan. b. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir. c. Tidak membangun rumah atau pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir. d. Mengadakan program pengerukan sampah di sungai. e. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan air laut.

2.2. Manajemen Bencana 2.2.1 Pengertian Manajemen Bencana

18 Universitas Sumatera Utara

Manajemen bencana adalah upaya sistematis dan komprehensif untuk menanggulangi semua kejadian bencana secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan korban jiwa dan kerugian yang ditimbulkannya (Ramli, 2010: 10). Manajemen bencana pada dasarnya merupakan konsep penanggulangan bencana. Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang beresiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Menurut Ramli (2010) ada empat tujuan manajemen bencana, yaitu: 1) Mempersiapkan diri menghadapi semua bencana atau kejadian yang tidak diinginkan. 2) Menekan kerugian dan angka korban yang dapat timbul akibat dampak suatu bencana. 3) Meningkatkan kesadaran semua pihak dalam masyarakat atau organisasi terhadap bencana sehingga terlibat dalam proses penanggulangan bencana. 4) Melindungi anggota masyarakat dari ancaman, bahaya atau dampak bencana. Manajemen bencana dapat dibagi atas tiga tingkatan, yaitu pada tingkat lokasi, tingkat unit atau daerah, dan tingkat nasional atau korporat. Untuk tingkat lokasi disebut manajemen insiden (incident management), pada tingkat daerah atau unit disebut manajemen darurat (emergency management), dan pada tingkat nasional disebut manajemen krisis (crisis management).

19 Universitas Sumatera Utara

1) Manajemen insiden (incident management) : Yaitu penanggulangan bencana di lokasi atau langsung di tempat kejadian. Penanggulangan bencana pada tingkat ini bersifat teknis. 2) Manajemen darurat (emergency management) : Yaitu penanggulangan bencana di daerah yang mengkordinir lokasi kejadian. Tingkatan ini meliputi strategi dan taktis. 3) Manajemen krisis (crisis management) : Manajemen krisis berada pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat nasional. Tingkatan ini lebih bersifat strategis dan penentuan kebijakan. Tahapan bencana merupakan suatu proses terencana yang dilakukan untuk mengelola bencana dengan baik dan aman. Tahapan tersebut pada dasarnya adalah satu kesatuan sistem dalam upaya penanggulangan bencana. Berikut tahapan manajemen bencana tersebut : 1) Pra bencana. a) Kesiagaan : Kesiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkahlangkah yang tepat guna dan berdaya guna. Kesiagaan merupakan tahapan yang paling strategis, karena sangat menentukan ketahanan anggota masyarakat dalam manghadapi datangnya suatu bencana. b) Peringatan dini : Langkah ini diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat akan bencana yang akan terjadi. Peringatan yang diberikan didasarkan pada berbagai informasi teknis dan ilmiah yang dimiliki, diolah,

20 Universitas Sumatera Utara

atau diterima dari pihak berwenang mengenai kemungkingan akan terjadinya suatu bencana. c) Mitigasi : Mitigasi adalah upaya untuk mencegah atau mengurangi dampak yang ditimbulkan suatu bencana (Ramli, 2010). Pendekatan-pendekatan dalam mitigasi bencana. a. Pendekatan teknis. 1) Membuat rancangan bangunan yang kokoh. 2) Membuat material yang tahan terhadap bencana. Contoh: material tahan api. 3) Membuat rancangan teknis pengaman. Contoh: tanggul. b. Pendekatan manusia. Pendekatan ini ditujukan untuk membentuk karakter manusia yang paham dan sadar mengenai bahaya bencana. oleh karenanya hidup manusia harus dapat diperbaiki dengan kondisi lingkungan dan potensi bencana yang dihadpainya. c. Pendekatan administratif. 1) Penyusunan tata ruang dan tata lahan yang memperhitungkan aspek resiko bencana. 2) Sistem prizinan dengan memasukkan aspek analisa resiko bencana. 3) Penerapan kajian bencana untuk setiap kegiatan dan industri bersiko tinggi. 4) Menyiapkan prosedur tanggap darurat dan organisasi pelaksananya baik pemerintah maupun industri bersiko tinggi. d. Pendekatan kultural.

21 Universitas Sumatera Utara

Pendekatan ini pada dasarnya bertujuan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat mengenai bencana dan bahaya yang ditimbulkannya. Penyadaran disesuaikan dengan kearifan lokal dan tradisi masyarakat yang telah membudaya sejak lama (Ibid). 2) Saat terjadi bencana (tanggap darurat). Tangggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi proses pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, serta pemulihan sarana dan prasarana. Dalam UU No. 24 Tahun 2007 disebutkan proses penyelengaraan bencana pada saat tanggap darurat sebagai berikut: a) Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap loksi, kerusakan, dan sumber daya. b) Penentuan status keadaan darurat bencana. c) Penyelamatan dan evakuasi. d) Pemenuhan kebutuhan dasar. e) Perlindungan terhadap kelompok rentan. f) Pemulihan dengan segera sarana dan prasarana vital.

3) Pasca bencana. a)

Rehabilitasi

22 Universitas Sumatera Utara

Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat. b) Rekontruksi Rekontruksi adalah pembangunan kembali semua sarana dan prasarana serta kelembagaan di wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perkonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat (Ramli, 2010). 2.3. Strategi Adaptasi Bencana 2.3.1 Strategi Strategi berperang”.Suatu

berasal strategi

dari

bahasa

mempunyai

Yunani

kuno

dasar-dasar

yang berarti atau

skema

“seni untuk

mencapaisasaran yang dituju.Jadi, pada dasarnya strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, Strategi adalah ilmu siasat peranguntuk mencapai maksud tertentu. (Poerwardarminta, 2007 : 1146), sementara Strategi menurut Chandler (dalam Kuncoro, 2006 : 1) adalah penentuan tujuan dan sasaran jangka panjang perusahaan, diterapkan aksi dan alokasi sumber dayayang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi sangat penting untuk menentukan suatu kesuksesan dari suatu usaha dan meningkatkan

23 Universitas Sumatera Utara

kemampuan dalam mencegah masalah. Strategi dapat diartikan sebagai upaya atau usaha yang dilakukan untuk mencegah dan menangani masalah yang dihadapi. Menurut Stephanie K. Marrus (Umar, 2008:31) strategi didefenisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokuspada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyususnan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. 2.3.2. Adaptasi Dalam

ilmu

Psikologi,

Ada

beberapa

pengertian

tentang

Adaptasimekanisme penyesuaian diri.W.A. Gerungan (1996) menyebutkan bahwa Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri). Mengubah diri sesuai dengankeadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis). Adapun tujuan Adaptasi adalah: a. Menghadapi tuntutan keadaan secara sadar. b. Menghadapi tuntutan keadaan secara realistik. c. Menghadapi tuntutan keadaan secara objektif. d. Menghadapi tuntutan keadaan secara rasional. Hardesty (1977) mengemukakan tentang adaptasi bahwa: “adaptation isthe process

through which benefi

cial

relationships

are

established and

maintainedbetween an organism and its environment”, maksudnya adalah proses terjalinnyadan terpeliharanya hubungan yang saling menguntungkan antara organisme dan lingkungannya. Sementara itu para ahli ekologi budaya (cultural ecologists) (Alland, 1975; Harris, 1968; Moran, 1982) mendefenisikan, bahwa

24 Universitas Sumatera Utara

adaptasia dalah suatu strategi penyesuaian diri yang digunakan manusia selama hidupanya untuk merespon terhadap perubahan-perubahan lingkungan dan sosial (dalamHardoyo, dkk., 2011). Dalam kajian adaptabilitas manusia terhadap lingkungan, ekosistem merupakan keseluruhan situasi, di mana adaptabilitas berlangsung atauterjadi. Karena populasi manusia tersebar di berbagai belahan bumi, konteks adaptabilitas sangat berbeda-beda.Suatu populasi di suatu ekosistem tertentu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan dengan cara-cara yang spesifik. Ketika suatu populasi atau masyarakat mulai menyesuaikan diri terhadap suatu lingkungan yang baru, suatu proses perubahan akan dimulai dan dapat saja membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menyesuaikan diri (Moran 1982). Sahlins (1968) menekankan bahwa proses adaptasi sangatlah dinamis, karena lingkungan dan populasi manusia terus dan selalu berubah (Hardoyo dkk, 2011:7).Menurut Soerjono Soekanto (Soekanto, 2000) memberikanbeberapa batasan pengertian dari adaptasi sosial, yakni: 1) Proses mengatasi halanganhalangan

dari

lingkungan;

2)

Penyesuaian

terhadap

norma-norma

untukmenyalurkan ketegangan; 3) Proses perubahan untuk menyesuaikan dengansituasi yang berubah; 4) Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan; 5) Memanfaatkan sumber- sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem; 6) Penyesuaian budaya dan aspek lainnya sebagai hasil seleksi alamiah. Beberapa istilah adaptasi yang relevan, yaitu :

25 Universitas Sumatera Utara

1. Adaptasi yang direncanakan, yaitu : hasil dari keputusan kebijakan yang bertujuan untuk mengembalikan ke, menjaga, atau mencapai kondisi yang diinginkan. 2. Adaptasi Publik: diinisiasi dan diimplementasikan oleh pemerintah pada berbagai tingkat (biasanya lahir karena kebutuhan bersama). 3. Adaptasi Reaktif: Adaptasi yang dilakukan setelah dampak perubahan iklim sudah terobservasi. 4. Adaptasi Swasta: diinisiasi dan diimplementasikan oleh individu, rumah tangga atau perusahaan swasta (biasanya dilakukan atas dasar kepentingan pribadi sipelaksana. 2.3.3. Strategi Adaptasi Sunil (dalam Hardoyo, dkk, 2011) mendefenisikan adaptasi dalam ketidakpastian lingkungan dan bencana sebagai penanganan terhadap dampakyang tidak dapat dihindari dalam perubahan lingkungan. Adaptasi menyertakan penyesuaian diri dalam bersikap terhadap kondisi yang tidak menentu.Adaptasi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi dan ekologi tertentu. Di dalam perubahan lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir, konsep adaptasi mengacu pada strategi: (1) perlindungan terhadap wilayah daratan dari lautan, sehingga penggunaan

lahan

dapat

terus

berlanjut;

(2)

akomodasi

yaitu

melakukanpenyesuaian diri terhadap lingkungannya; dan (3) strategi menghindar atau migrasi yaitu meninggalkan wilayah pesisir ke daerah lain yang lebih aman. Adaptasi meminimalisir kerugian sosio-ekonomi yang disebabkan oleh perubahan iklim. Adaptasi dapat dilakukan melalui perbaikan system pada sumber-

26 Universitas Sumatera Utara

sumber yang terkena dampak atau melalui resiko yang mungkin terjadi. Penggunaan teknologi baru merupakan suatu bentuk kegiatan dalam strategi adaptasi. Adaptasi dan perubahan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan bagi makhluk hidup. Adaptasi berlaku bagi setiap makhluk hidup dalam menjalani hidup dalam kondisi lingkungan yang senantiasa berubah. Bennet dan Pandey (dalam Satria dan Helmi, 2012) memandang adaptasi sebagai suatu perilaku responsif manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Perilaku responsif tersebut memungkinkan mereka dapat menata sistem-sistem tertentu bagi tindakan atau tingkah lakunya, agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisiyang ada. Perilaku tersebut di atas berkaitan dengan kebutuhan hidup, setelah sebelumnya melewati keadaan-keadaan tertentu dan kemudian membangun suatu strategi serta keputusan tertentu untuk menghadapi keadaan-keadaan selanjutnya. Dengan demikian, adaptasi merupakan suatu strategi yang digunakan oleh manusia dalam masa hidupnya guna mengantisipasi perubahan lingkungan baikfisik maupun sosial (Alland 1975; Barlett 1980). Sebagai suatu proses perubahan,adaptasi dapat berakhir dengan sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan. Oleh karenanya, adaptasi merupakan suatu sistem interaksi yang berlangsung terus antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan ekosistemnya. Dengan demikian, tingkah laku manusia dapat mengubah suatu lingkungan atau sebaliknya, lingkungan yang berubah memerlukan suatu adaptasi

27 Universitas Sumatera Utara

yang selaludapat diperbaharuhi agar manusia dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya (Bennett 1976 dalam Satria dan Helmi, 2012) 2.4. Kerangka Pemikiran Gambar1: Kerangka Pemikiran

Pemerintah Kota Medan

Organisasi Go River

Pra Bencana Banjir

Manajemen Bencana

Masyarakat Umum / Swasta

Saat Bencana Banjir

Pasca Bencana Banjir

Strategi Adaptasi

Teknis (Melakukan Perubahan Fisik)

Non Teknis (Tidak Melakukan Perubahan Fisik)

Seperti diketahui bahwa Go River merupakan salah satu gerakan yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat dan pemerintah Kota Medan ssebagai upaya dalam penanggulangan bencana banjir di Kota Medan yang berbasis pada rekonstruksi fungsi Sungai Deli. Dalam pelaksanaan manajemen bencana banjir, Go River sendiri mengacu pada tiga klasifikasi waktu menajemen bencana diataranya; pra bencana banjir, saat bencana banjir, dan pasca bencana bancir. Dalam aspek manajemen bencana banjir sendiri, Go River memiliki dua strategi yaitu teknis dan non teknis. 28 Universitas Sumatera Utara

2.5. Defenisi Konsep Untuk memudahkan serta dapat memberikan arah yang lebih jelas dalam pencapaian tujuan penelitian, maka perlu dilakukan pendefenisian secara konseptual terhadap variable-variabel dalam penelitian ini. Adapun defenisi konseptual tersebut adalah: 1. Manajemen bencana berbasis komunitas dalam penelitian ini adalah upaya sistematis dan komprehensif yang dilakukan oleh organisasi Go River untuk menanggulangi semua kejadian bencana banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan korban jiwa dan kerugian yang ditimbulkan. Tahapan manajemen bencana yang dimaksud adalah Pra Bencana, Saat Bencana (Tanggap Darurat), dan Pasca Bencana. 2. Strategi adaptasi banjir adalah perilaku responsif manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Perilaku responsif tersebut memungkinkan mereka dapat menata sistem-sistem tertentu bagi tindakanatau tingkah lakunya, agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisiyang ada. Dalam penelitian ini strategi adaptasi yang dimaksud adalah respon yang dilakukan oleh masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli dalam menghadapi banjir baik yang berupa pembangunan teknis dan non teknis. 3. Komunitas adalah kelompok masyarakat yang berkumpul menjadi satu dalam satu wadah dengan satu tujuan dan kepentingan yang sama. 2.6 Penelitian Terdahulu

29 Universitas Sumatera Utara

Berikut penulis sajikan beberapa penelitian terdahulu yang penulis anggap relvan dengan penelitian yang penulis lakukan : Tabel 1: Matriks Penelitian Terdahulu No Peneliti Judul Metode 1 Zulfahmi Analisis Adaptasi Kualitatif Tarigan(2015) dan Mitigasi Bencana Banjir Pada Masyarakat Kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun

Hasil Dari hasil penelitian diperoleh Adapun strategi yang dilakukan masyarakat Kelurahan Aur dalam menghadapi banjir adalah dengan Meninggikan bangunan rumah yang terletak di bibir sungai; Membuat dinding penahan di bibir sungai: Dengarkan pengumuman kejadian banjir dan radio; Matikan aliran listrik; Pindahkan barang berharga dan obat-obatan ketempat yang tinggi; Jangan melintasi genangan banjir bila masih dapat dihindari. Selanjutnya untuk mitigasi Pra Bencana pemerintah dan masyarakat Melaksanakan proyek Pembanguan Medan Flood Control Project dan Hibauan Larangan Membuang Sampah di Sungai. Pada saat terjadi bencana merka mendirikan Posko darurat dan Dapur umum untuk keperluan masyarakat koban banjir. Untuk mitigasi Pasca bencana perintah telah mengupayakan relokasi masyarakat di sekitar bibir sungai ke rusunawa dan memberikan sosialisasi akan bahaya tinggal di wilayah bibir sungai.

30 Universitas Sumatera Utara

2

Elvana

Strategi Adaptasi Kualitatif Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir (Studi Kasus: Kelurahan Pekan Tanjung Pura Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat)

Masyarakat yang berada ditempat penelitian lebih memilih untuk tinggal, dan menganggap bahwa banjir merupakan suatu kondisi yang harus mereka lalui, dan mereka akan tetap bertahan. Strategi adaptasi masyarakat yang menjadi korban banjir yaitu dengan pembangunan fisik atau struktur. Bantuan yang diberikan pemerintah tidak merata kepada masyarakat. Bantuan yang diberikan berupa, sembako, obat-obatan, selimut.

3

Mega Natalia Banjir di Perkotaan Kualitatif (Studi Kasus (2014) kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun Kota Medan)

4

Nike Pengetahuan Awaliyah, Masyarakat Esti Sarjanti), dalamMitigasi

penduduk dan berada di pusat Kota Medan. Terlebih lagi Kampung Aur berada di bantaran Sungai Deli. Kawasan bantaran Sungai Deli merupakan kawasan yang dikenal sebagai daerah banjir jika hujan deras mengguyur Kota Medan. Permasalahan yang dibahas adalah perilaku masyarakat Kampung Aur di bantaran Sungai Deli, baik sebagai faktor penyebab banjir dan memanfaatkan sungai dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, masyarakat sadar bahwa salah faktor penyebab banjir adalah karena ulah mereka sendiri. Namun perilaku seperti membuang sampah ke sungai sangat sulit untuk dimusnahkan karena sudah menjadi suatu kebiasaan membuang sampah ke sungai Deli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat

Febrianti (2015)

Kuantitatif

31 Universitas Sumatera Utara

Suwarno (2014)

5

bencana Banjir Di desa Penolih Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga

Piolina (2009) Banjir Di Kota Kualitatif Medan : Suatu Tinjauan Historis 1971-1990-an

dalam mitigasi bencana banjir di Desa Penolih Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga termasuk dalam kategori sedang dinilai dari aspek pengetahuan mitigasi bencana banjir, aspek pengendalian banjir, aspek sistem sarana dan prasarana, dan aspek sikap partisipasi. Pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana sebelum banjir termasuk dalam kategori sedang, sedangkan pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana saat banjir termasuk dalam kategori sedang dan pengetahuan masyarakat dalam mitigasi setelah banjir termasuk dalam kategori tinggi. Sebelum tahun 1970 kota Medan memang mengalami bencana banjir namun apabila ditelusuri lebih dalam, tahuntahun berikutnya hingga tahun 1990 intensitas dan fluktuasi banjir yang banyak merugikan semua pihak telah mengalami peningkatan yang drastis, hal ini disebabkan oleh banyak hal seperti pemekaran wilayah yang membawa tingkat urbanisasi yang tinggi ke Kota Medan sehingga secara tidak langsung menyebabkan masyarakat yang banyak itu semakin membutuhkan tempat tinggal yang mana lahan-lahan yang mereka tinggali itu adalah lahan cagar alam untuk menahan banjir di bagian hulu. Kemudian manajemen tata air

32 Universitas Sumatera Utara

yang kurang optimal menyebabkan ketidakteraturan drainase dan kurangnya komunikasi di antara berbagai instansi terkait juga menambah permasalahan bencana banjir yang sering melanda Kota Medan. Bahkan diduga peran serta pemerintah untuk menangani masalah ini kurang mengena dan terkesan sia-sia belaka

33 Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN 3.1

Bentuk Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Usman (2009:4) penelitian dengan menggunakan metode deskriptif bermaksud membuat penyandaraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu. Berdasarkan pengertian di atas, maka penelitian ini adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi serta menganalisa kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.

Menurut Keirl dan Miller dalam (Moleong, 2006) yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah “tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya”.

Penelitian deskrptif kualitatif juga bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi dan fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi obyek penelitian dan mmenarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda atau gambaran tentang kondisi , situasi,ataupun fenomena tertentu (Bungin, 2007:68).

34 Universitas Sumatera Utara

Metode deskriptif dalam penelitian ini memusatkan perhatian pada penemuan fakta-fakta sebagaimana keadaan sebenarnya. Melalui penelitian deskriptif ini, penulis ingin menggambarkan bagaimana peran manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan oleh organisasi Go River terhadap strategi adaptasi banjir masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli. 3.2. Lokasi Penelitian dan Unit Analisis Lokasi Penelitian ini adalah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli yang berada di wilayah Kelurahan Aur Kota Medan Sumatera Utara. Kota Medan dipilih karena frekuensi banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli yang berada di wilayah Kelurahan Aur Medan berlangsung hampir sepanjang tahun. Sementara unit analisis pada penelitian ini Organisasi Go River yang beralamat di Jl. Avros No.60B, Kp. Baru, Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara. Unit analisis ini dipilih karena selama ini organisasi Go River merupakan organisasi non pemerintah (ornop) yang sangat peduli pada kelestarin lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli. Selain itu relawan Go River berasal dari kalangan pemuda yang memiliki semangat dalam melakukan aksi-aksi yang berkaitan dengan pemeliharaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli. 3.3 Informan Penelitian Penelitian deskriptif kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian ini menjadi informan

35 Universitas Sumatera Utara

yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama

proses

penelitian, informan penelitian ini meliputi beberapa macam seperti: (1) informan kunci, yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian; (2) informan utama, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti; (3) informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti (Suyanto, 2005). Menurut Usman (2009) dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi, tetapi sampling yang merupakan pilihan peneliti sendiri dan yang ditentukan peneliti sendiri secara pusposif yang disesuaikan dengan tujuan penelitiannya, sampling tersebut dijadikan responden yang relevan untuk mendapatkan data. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan penelitian ini meliputi: a. Informan Mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah ketua Go River. Informan kunci dalam penelitian ini atara lain: 1. Bapak Ahadi, S.Pd, 36 tahun (Ketua harian Go River) Bapak Ahadi dipercaya menajdi ketua harian Go River sejak tahun 2014 s.d sekarang. Beliau telah aktif dalam gerakan lingkungan sejak tahun 2006 sebelum kemudian ikut mendirikan Go River bersama rekan-rekan aktivis lingkungan lainnya.

36 Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Muhammad Azmi, 37 tahun (Pendiri dan Pembina Organisasi Go River) Bapak Muhammad Azmi adalah orang pertama yang mencetuskan ide tentang pembentukan Go River. Pada masa awal pendirian Go River biaya operasional berasal dari beliau. Latar belakang beliau sebagai aktivis sosial yang fokus pada isu lingkungan hidup dan keamsyarakatan menjadikan keinginan beliau untuk berusaha melestarikan sunga Deli sangat tinggi. 3. Relawan Iwan dan M. Wahyu (Relawan Go River ) Iwan (27 Tahun) dan M. Wahyu (26 Tahun) merupakan relawan yang dari awal Go River berdiri telah mengikuti kegiatan Go River yaitu saat keduanya masih menajdi mashasiwa. Keduanya adalah lulusan Intitute Teknologi Medan (ITM) 4. Sugiat Santoso, SE, MSP (Ketua KNPI Sumut) Sejak Tahun 2016 Sugiat telah berkerja sama dengan Go River dalam program pelestarian sungai Deli. KNPI secara organisasi selalu ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan Go River diantaranya Sumpah untuk Melestarikan Sungai dan Upacara 17 Agustus di Sungai Deli. 5. Masyarakat Sungai Deli a. Bapak Supardi Pria 30 tahun yang bekerja di salah satu tempat perbelanjaan di Kota Medan menjadi penduduk Kelurahan Aur Sejak 7 tahun silam. Beliau tinggal di bantaran sungai tepatnya di kampung Aur.

b. Ibu Indah Siregar

37 Universitas Sumatera Utara

Wanita 59 tahun yang tinggal di bantaran sungai sejak 20 tahun lalu ini merupakan pensiunan sebuah perkebunan swasta. Sekarang beliau tinggal bersama menantu, anak dan cucunya. c. Ibu Herlina Wanita 29 tahun yang telah tinggal selama 5 tahun di bantaran Sungai Deli ini mengaku telah membiasakan diri dengan banjir. Ibu rumah tangga dengan 1 orang anak ini banyak menghabiskan waktunya di bantaran sungai. Seperti kebanyakan masyarakat bantaran sungai lainnya, beliau melakukan aktivitas mencuci, MCK, dan membuang sampah di bantaran sungai juga. d. Bapak Sayuti Lubis Pria 45 tahun ini telah tinggal di Kampung aur sejak lahir. Sehari-hari berjualan di warung di daerah kampung Aur di dekat bantaran sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup.

3.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam Pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa tehnik penelitian sebagai upaya untuk mendapatkan dan memperoleh infomasi yang diperlukan. Pada tahap ini peneliti akan melakukan observasi wawancara, serta mencatat dokumendokumen yang mendukung proses penelitian. Adapun tehnik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut: a. Teknik Pengumpulan Data Primer Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Banyaknya periode observasi yang perlu dilakukan dan panjangnya waktu pada setiap periode observasi tergantung kepada jenis data yang dikumpulkan. Apabila observasi itu akan dilakukan pada sejumlah orang, dan hasil observasi itu akan 38 Universitas Sumatera Utara

digunakan untuk mengadakan perbandingan antar orang-orang tersebut, maka hendaknya observasi terhadap masing-masing orang dilakukan dalam situasi yang relatif sama. Saat melakukan penelitian ini peneliti melakukan observasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli yang berada di kelurahan Aur dan kelurahan Hamdan di kecamatan Medan Maimun kota Medan. Peneliti juga melakukan observasi saat relawan Go River melakukan program sekolah sungai dan pemeriksaan rutin di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli. b. Teknik Pengumpulan Data Sekunder Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial yang dapat berupa dokumen-dokumen, majalah, jurnal. Saat melakukan penelitian ini peneliti melakukan pengumpulan data sekunder dengan meneliti dokumen-dokumen laporan program pemberdayaan yang dilakukan oleh relawan Go River dan buku-buku serta jurnal yang berkaitan. Selain itu penulis juga melihat pemberitaan terkait banjir dan manajemen bencana relawan Go River di media massa dan media online. 3.5. Teknik Analisis Data Analisis data kualitatif dilakukan apabila data empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berupa kumpulan berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam kategori-kategori/struktur klasifikasi. Data bisa saja dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen,

39 Universitas Sumatera Utara

pita rekaman) dan biasanya diproses terlebih dahulu sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih-tulis), tetapi analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas, dan tidak menggunakan perhitungan matematis atau statistika sebagai alat bantu analisis. Menurut Miles dan Huberman (dalam Silalahi, 2009: 339) kegiatan analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verivikasi. Terjadi secara bersamaan berarti reduksi data , penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verivikasi sebagai sesuatu yang saling jalin menjalin merupakan proses siklus dan interaksi pada saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk sejajar yang membangun wawasan umum yang disebut “analisis”. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif men cakup transkip hasil wawancara, reduksi data, analisis, interpretasi data dan triangulasi. Dari hasil analisis data yang kemudian dapat ditarik kesimpulan. Berikut ini adalah teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti: 1. Reduksi Data Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisis. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Kegiatan reduksi data berlangsung terus-menerus, terutama selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung atau selama pengumpulan data. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadi tahapan reduksi, yaitu

40 Universitas Sumatera Utara

membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan menulis memo. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverivikasi. Reduksi data atau proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun. Jadi dalam penelitian kualitatif dapat disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam cara: 1. Peneliti melakukan seleksi ketat terhadap data yang diperoleh dari hasil wawncara, observasi dan studi pustaka. Data yang peneliti dapatkan dari wawancara di urqai secara verbatim dan hasil transkipnya di pilih seduai isu dan masalah yang akan di analisis. 2. Data tersebut kemudian oleh penulis diringkas dan difokuskan kepada point yang akan dianalisis. 3. Penulis menggolongkan data yang diperoleh kedalam suatu pola yang lebih luas yang diajdikan rujukan untuk analisis hasil penelitian. 2. Penyajian Data Menurut Silalahi (2009) penyajian data merupakan kegiatan terpenting yang kedua dalam penelitian kualitatif. Penyajian data yaitu sebagai sekumpulan informasi yang tersusun member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data yang sering digunakan untuk data kualitatif pada masa yang lalu adalah dalam bentuk teks naratif dalam puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan halaman. Akan tetapi, teks naratif dalam jumlah yang besar melebihi

41 Universitas Sumatera Utara

beban kemampuan manusia dalam memproses informasi. Manusia tidak cukup mampu memproses informasi yang besar jumlahnya; kecenderungan kognitifnya adalah menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan selektif atau konfigurasi yang mudah dipahami. Penyajian data dalam kualitatif sekarang ini juga dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu padan dan mudah diraih. Jadi, penyajian data merupakan bagian dari analisis. Dalam penyajian data penulis menyajikan data dalam bentuk naratif deskriptif dengan menggunakan pisau analysis dari kajian teoritis dan penelitian terdahulu yang disesuaikan dengan masalah penelitian yang diteliti. Dalam hal inimasalah penelitian adalah Manajemen bencana yaitu upaya sistematis dan komprehensif yang dilakukan oleh organisasi Go River untuk menanggulangi semua kejadian bencana banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan korban jiwa dan kerugian yang ditimbulkan. Tahapan manajemen bencana yang dimaksud adalah Pra Bencana, Saat Bencana (Tanggap Darurat), dan Pasca Bencana. Masalah penlitian berikuitnya adalah Strategi adaptasi banjir masyarakat yaitu perilaku responsif manusia terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi. Perilaku responsif tersebut memungkinkan mereka dapat menata sistemsistem tertentu bagi tindakanatau tingkah lakunya, agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisiyang ada. 3. Menarik Kesimpulan

42 Universitas Sumatera Utara

Kegiatan analisis ketiga adalah menarik kesimpulan dan verivikasi. Ketika kegiatan pengumpulan data dilakukan, seorang peneliti mulai mencari arti bendabenda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Kesimpulan yang mula-mulanya belum jelas akan meningkat menjadi lebih terperinci. Kesimpulan-kesimpulan “final” akan muncul bergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti. Hasil penyimpulan data ini kemudian dijadikan bahan analisis dalam menyusun penelitian ini. Hasil kesimpulan juga menjadi rujukan untuk menentukan saran perbaikan terhadap masalah yang ditemukan.

43 Universitas Sumatera Utara

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Terkini Daerah Aliran Sungai Deli Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli terletak di Kabupaten Karo, Deli Serdang dan Kota Madya Medan, Propinsi Sumatera Utara. DAS Deli di sebelah timur berbatasan dengan DAS Percut, sedangkan di sebelah barat dengan DAS Belawan. DAS tersebut terdiri dari tujuh Sub DAS yakni Sub DAS Petani, Sub DAS Simaimai, Sub DAS Deli, Sub DAS Babura, Sub DAS Bekala, Sub DAS Sei Kambing dan Sub DAS Paluh Besar. Luas dan Kemiringan DAS Deli Luas dan kemiringan DAS Deli diklasifikasikan menjadi 5 kelas. Luas dan kemiringan lereng DAS Deli tersebut dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini : Tabel 2: Luas dan Kemiringan DAS Deli Kelas

Lereng

Luas (ha)

Luas (%)

I

<5%

32.581

67,65

II

5-15 %

7.445

15,46

III

15-35%

6.273

13,03

IV

35-50%

1.521

3.16

V

>50%

342

0.71

48.162

100

Jumlah

Sumber : BPDAS Wampu- Sei Ular (2016)

44 Universitas Sumatera Utara

Penutupan Lahan atau Penggunaan Lahan Penutupan lahan atau penggunaan lahan adalah aktivitas manusia atas lahan, yang ditunjukkan dengan adanya bentuk pemanfaatan oleh manusia seperti permukiman dan sebagainya. Masing-masing jenis penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3: Penggunaan Lahan DAS Deli Kelas

Luas (ha)

Luas (%)

Hutan

3.655

7,59

Belukar

2.068

4,29

Kebun rakyat

285

0,59

Perkebunan

2.284

4,74

Sawah

8.143

16,91

Tegalan

1.836

3,81

Tembakau

479

0,99

Alang-alang

69

0,14

Rawa

5.347

11,16

Permikiman

2.187

4,54

Tanaman campuran

16.154

33,54

Jumlah

48.162

100

Sumber : BPDAS Wampu-Sei Ular (2016) Geomorfologi Kondisi geomorfologi DAS Deli dideskripsikan dengan menunjukkan sebaran ketinggian tempat. Berdasarkan bentuk topografi, geomorfologi wilayah DAS Deli terdiri atas bentuk yang bervariasi. Berikut akan disajikan bentuk geomorfologi DAS Deli seperti disajikan pada tabel 9 berikut ini :

45 Universitas Sumatera Utara

Tabel 4: Geomorfologi DAS Deli Ketinggian Tempat

Luas (ha)

Persentase

< 10 m (berombak)

8.782

18,23

10 – 50 m (berbukit sedang)

19.478

40,44

50 -300 m (berbukit)

10.536

21,88

> 300 m (bergunung)

9.366

19,45

Jumlah

48.162

100

Sumber : BPDAS Wampu-Sei Ular (2016)

4.2. Profil Organisasi Go River Sungai Deli tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang yang telah dilalui daerah yang bermuara di Selat Malaka. Saat itu, Sungai Deli dilewati oleh berbagai kapal dagang berukuran besar maupun kecil yang berasal dari berbagai negara di dunia. Saat ini, kelestarian ekosistem Sungai Deli sudah pada taraf yang mengkhawatirkan. Luas hutan di hulu Sungai Deli hanya tinggal 3.655 hektar atau tinggal 7,59% dari 48.162 ha DAS Deli. Padahal, dengan luas 48.162 hektar, panjang 71,91 km, dan lebar 5,58 km, daerah aliran sungai (DAS) Deli seharusnya memiliki hutan alam yang berfungsi sebagai kawasan resapan air, sedikitnya seluas 14.449 hektar, atau 30% dari luas DAS. Perkembangan pemukiman di bantaran Sungai Deli mempercepat kerusakan ekosistemnya saat ini. Tidak hanya pemukiman, bantaran Sungai Deli sekarang telah di tutup oleh bangunan hotel, tempat perbelanjaan dan perkantoran.

46 Universitas Sumatera Utara

Padatnya pemukiman bantaran sungai ini berdampak langsung terhadap volume sampah yang ada di Sungai Deli. Tebaran sampah yang menumpuk, dari bagian pinggir sampai ke aliran sungai yang bisa diketahui dari pedangkalan yang terjadi di beberapa titik. Jumlah penduduk kota Medan yang begitu besar menghasilkan limbah domestik padat atau sampah sebesar 1.235 ton per hari. Setidaknya, pencemaran Sungai Deli sudah mencapai 70% diantaranya diakibatkan oleh limbah padat dan cair. Kondisi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Deli bisa dikatakan memprihatinkan, karena sejumlah warga melakukan aktivitas seperti mencuci pakaian, buang hajat dan mandi di sungai, padahal air sungai sudah tercemar. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai memiliki pola hidup yang kurang bersih dan sehat, dimana susunan dari pemukiman mereka sangat rapat dan lahan di sekitarnya yang semakin sempit menjadikan mereka kekurangan sarana untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga mereka lebih memilih untuk membuangnya ke sungai. Aktivitas masyarakat ini berdampak langsung terhadap keberadaan ekosistem sungai’. Harus diakui bahwa Sungai Deli memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Tidak hanya Kota Medan, kabupaten Karo dan kabupaten Deli Serdang merupakan daerah yang menggantungkan hidup dari keberadaan sungai Deli. Berbagai kondisi di atas membuat beberapa komunitas maupun orgnisasi tertarik untuk gencar melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan ekosistem Sungai Deli, salah satunya adalah Go River. Komunitas Go 47 Universitas Sumatera Utara

River adalah sebuah lembaga non pemerintah yang didirikan pada 25 Oktober 2014. Komunitas Go River didirikan oleh M.Ahadi, Spd bersama rekan-rekannya yaitu Muhammad Azmi dan Darwis Nasution. Fokus Go River yakni konsertasi pada perbaikan ekosistem dan sosio-kultur masyarakat daerah aliran sungai-sungai khususnya Sungai Deli Kota Medan. Go River terbentuk memiliki cita-cita untuk mengembalikan ekosistem sungai Deliseperti semula. 4.2.1. Visi dan Misi Go River Visi

: Terwujudnya Sumber daya air, sungai dan kawasan yang berkualitas untuk

kesejahteraan masyarakat. Misi

:

1) Membangun peran serta masyarakat, stake holder, dan pemerintah untuk pelestarian ekosistem sumber daya air, sungai dan kawasan yang lebih baik. 2) Meningkatkan daya dukung sumber daya air, sungai, dan kawasan sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan parawisata bagi kesejahteraan masyarakat.

Melalui visi dan misi tersebut, Go River kemudian menjabarkannya dalam empat strategi diantaranya: 1) Membangun komitmen dan peran serta masyaraka, stake holder, dan pemerintah. 2) Menciptakan kekuatan ekonomi kreatif dan parawisata berbasis kearifan lokal.

48 Universitas Sumatera Utara

3) Mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya air, sungai dan kawasan. 4) Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam tata kelola sumber daya air. 4.2.2. Sturktur Kepengurusan Go River Ketua

: M. Ahadi, S.Pd

Sekretaris

: Siti Saharani Ritonga, S.Pd.I

Bendahara

: Ira Bulan Indah Lubis, SS

Pembina 1) Dr. Phil. Zainul Fuad, MA 2) Muhammad Azmi, SE 3) Muhammad Darwis Nasution, MAP 4) Bambang F. Wibowo, St Pengawas 1) Drs. Masrul Badri, M.Si 2) Prof. Dr. Sri Minda Murni, M.Si Level Executive 1) Direktur Eksekutif : Ahmad Hakiki, S.Pd.I 2) Manager Admin & Finance : Ahari Ardiansyah, S.Pd.I Divisi Pemberdayaan Masyarakat 1) Koordinator : Issurya Nancy 2) Anggota: Linda, Badriyah, Dedi, Siti Hazar Divisi Lingkungan dan Kebencanaan

49 Universitas Sumatera Utara

1) Koordinator : Dedy Syahputra 2) Anggota : M. Hafiz, Randy Prananda Divisi Ekowisata & Kreatif 1) Koordinator : Leli Sagita Siregar 2) Anggota : Amri Bidin, M. Hisyam Wibowo, Diana Bhakti Divisi Media, Informasi, Komunikasi & Jurnalistik 1) Koordinator : Louayy Darussalam 2) Anggota : Mafa Yuli Ramadhani, Kartika Ayu Br. Ginting, Ika Ramadhani Lubis Divisi Advokasi 1) Koordinator : Wicaksono Lugas Dwicahyo 2) Anggota : Ivan Suaidi, Rizki Syahputra, SH.I, Zulfikar S.P Divisi Penelitian dan Pengembangan 1) Koordinator : Muhammad Jailani 2) Anggota : Nurjannah Nasution, Indra Syahputra, Isnaini Divisi Pengembangan Kapasitas Relawan 1) Koordinator : Wahyu Anshor 2) Anggota : Rizky Afriananda Saragih, Andry Rahmadani, Purnama Arfah, Nursakinah Nasution 4.2.3. Arah Kebijakan dan Strategi Go River dalam menjalankan misinya menjabarkan dalam tujuh strategi yang diimplementasikan dalam program-program tahunan. Ke tujuh strategi tersebut antara lain:

50 Universitas Sumatera Utara

A). Strategi Program Pemberdayaan Masyarakat. Program : Penguatan kapasitas masyarakat berbasis pendidikan luar sekolah Sasaran : 

Menigkatnya kualitas pengetahuan masyarakat tentang sungai.



Optimalisasi kegiatan dalamm bentuk kampanye untuk pelestarian sungai.



Optimalisasi pendidikan luar sekolah untuk siswa.



Meningkatnya role mode KAP (Kognitif, Afektif, Psikomotorik) masyarakat yang peduli terhadap alam dan lingkungan sungai.

Arah Kebijakan : 

Mendorong peningkatan keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian sungai.



Keterlibatan stake holder untuk pengelolaan ekosistem DAS.

Strategi : 

Penigkatan efektivitas pengelolaan konservasi sungai berbasis sekolah sungai.



Pemebentukan pusat kajian dan pendidikan sungai



Meningkatkan kapasitas stake holder yang peduli terhadap kelestarian ekosistem sungai.



Meningkatkan sistem jaringan kerja (networking) dan koordinasi yang saling menguntungkan antara masyarakat, lembaga adat, pemerintah dan swasta.

B). Penguatan kapasitas kelompok masyarakat berbasis ekonomi kreatif. Programnya :

51 Universitas Sumatera Utara

1. Peningkatkan Konservasi dan tata kelola Daerah Aliran Sungai. Sasaran : 

Meningkatnya pemahaman masyarakat akan potensi sungai.



Meningkatnya ekonomi masyarakat melalui potensi sungai sebagai tempat wisata.



Optimalisasi pemberdayaan masyarakat mandiri melalui potensi sungai.

Arah Kebijakan: 

Mendorong peningkatan keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat dampingan untuk menjadikan sungai sebagai potensi ekonomi kerakyatan.

Strategi : 

Mewujudkan Kampung Aur sebagai kampung kreatif.



Melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung program “Kampung Kreatif”.

Strategi: 

Peningkatan efektivitas pengelolaan konservasi sungai berbasiskan masyarakat.



Pembentukan pusat kajian dan pendidikan sungai.



Meningkatkan kapasitas stake holder yang peduli terhadap kelesterian ekosistem sungai.



Meningkatkan sistem jaringan kerja (nertworking) dan koordinasi yang saling menguntungkan antara masyarakat, lembaga adat, pemerintah dan swasta.

2. Peningkatan Pemahaman Kebencanaan sungai dan mitigasi bencana.

52 Universitas Sumatera Utara

Sasaran : 

Menigkatnya pemahaman masyarakat tentang PRB.



Meningkatnya pemahaman masyarakat melalui sungai bersih.

C). Strategi Program Bidang Ekowisata, Kreatif, Seni, Budaya. Program : 1. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam kegiatan ekonomi kreatif, seni, dan budaya dalam kawasan sungai. Sasaran : 

Peningkatan kualitas masyarakat dalam kegiatan ekonomi kreatif, seni, dan budaya.

Arah Kebijakan : 

Mengembangkan potensi seni dan budaya masyarakat untuk kearifan lokal kawasan sungai.



Mendorong peningkatan keterlibatan dan partisispasi aktif masyarakat dalam melestarikan budaya kawasan sungai.

Strategi : 

Pembentukan kelompok seni budaya masyarakat kawasan sungai.



Mengembangkan kegiatan ekonomi, kreatif, seni, budaya dalam kawasan sungai.



Meningkatkan kapasitas stake holder yang peduli terhadap kelestarian budaya kawasan sungai.



Meningkatkan sistem jaringan kerja (networking) dan koordinasi yang saling menguntungkan antara masyarakat, lembaga adat, pemerintah dan swasta.

53 Universitas Sumatera Utara

2. Pengembangan potensi sungai sebagai eksplorasi seni dan budaya Sasaran : 

Meningkatnya aktivitas kebudayaan di kawasan sungai.



Meningkatnya aktivitas ekowisata kreatif di kawasan sungai.

Arah Kebijakan : 

Mengembangkan potensi seni dan budaya masyarakat sebagai nilai wisata sungai.



Mengembnagkan aktivitas ekokreatif sebagai nilai wisata sungai.

Strategi :  Peningkatan aktivitas seni budaya di kawasan sungai.  Peningkatan aktivitas ekokreatif di kawasan sungai. D). Strategi Advokasi. Program : 1. Advokasi sebagai alat pendukung program utama Go River Sasaran : 

Peningkatan pemahaman masyarakat akan berlangsungnya program yang dijalankan.



Menguatnya eksistensi kelompok masyarakat khususnya kawasan sungai untuk bersama membangun pelestarian sungai.



Peningkatan komitmen stake holder melalui arah kebijakan yang mendukung pelestarian sungai.

Arah Kebijakan :

54 Universitas Sumatera Utara



Mendorong stakeholder untuk berkomitmen menjalankan peraturan yang ada.



Mendorong

peningkatan

keterlibatan

dan

partisipasi

aktif

untuk

berkomitmen atas pelestarian sungai. Strategi : 

Bersama stakeholder menjalankan peraturan Negara untuk segera direalisasikan oleh stakeholder terkait.



Secara terus menerus melakukan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pelestarian sungai.



Secara terus menerus turut mensukseskan program Go River melalui kegiatan advokasi.

E). Strategi Media, Komunikasi, Informasi, dan Jurnalistik. Program : 1. Go River sebagai wadah media informasi sumber daya air, sungai, dan kawasan Sasaran : 

Peningkatan kualitas data dan informasi sungai.



Peningkatan

pengetahuan

masyarakat

melalui

pemberitaan

media

khususnya media jurnalistik seputar sungai. 

Meningkatnya kesadaran masyarakat melalui karya jurnalistik atau media warga tentang sungai dan kawasan.

Arah Kebijakan : 

Pemberitaan tentang sungai sebagai pengetahuan yang diberitakan

55 Universitas Sumatera Utara

perusahaan pers mainstream. Adanya pusat kajian berbasis media sebagai wadah informasi seputar sungai. Strategi : 

Pengadaan majalah sungai untuk pengetahuan masyarakat tentang sungai.



Pemberitaan secara pasif baik melalui media tentang sungai.



Pembuatan kajian data melalui sungai pedia untuk informasi terkait sungai.

f. Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Program : 1. Litbang Go River sebagai pusat kajian data sungai. g. Pengembangan Kapasitas Relawan Program : 1. Relawan sebagai personil pendukung pelastarian sungai. Sasaran : 

Meningkatnya pemahaman relawan terhadap permasalahan dan juga potensi sungai.



Relawan sebagai pendukung terlaksananya program.

4.3. Program Manajemen Bencana Berbasis Komunitas Oleh Go River Komunitas merupakan kumpulan-kumpulan individu yang mempunyai kesukaan, hobi atau suatu kecintaan terhadap hal yang sama tanpa adanya tugas terhadap pembagian tugas terhadap individu-individu tersebut. Dalam bidang Antropologi, komunitas sering disebut dengan kata organisasi sosial yang berarti

56 Universitas Sumatera Utara

adanya suatu ikatan-ikatan solidaritas antara individu, yang biasanya ditentukan oleh kesamaan-kesamaan yang mencakup kesamaan terhadap hal perasaan, adatistiadat, bahasa, norma-norma sosial, dan cara hidup bersama yang umumnya dinamakan comunity sentiment (perasaan komunitas). Hingga tahun 2017, Go River telah melaksanakan berbagai program baik teknis maupun non teknis dalam rangka mewujudkan kelestarian Sungai Deli. Program tersebut meliputi: 1) Pra bencana Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam (Purwadarminta, 2006). Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian

peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan

penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian. Manajemen pra bencana durasi waktunya mulai saat sebelum terjadi bencana sampai tahap serangan atau impact. Tahap ini dipandang oleh para ahli sebagai tahap yang sangat strategis karena pada tahap pra bencana ini masyarakat perlu dilatih tanggap terhadap 57 Universitas Sumatera Utara

bencana yang akan dijumpainya kelak. Latihan yang diberikan kepada petugas dan masyarakat akan sangat berdampak kepada jumlah besarnya korban saat bencana menyerang (impact), peringatan dini dikenalkan kepada masyarakat pada tahap pra bencana. 1. Program “Menanam Untuk Kotaku” Rangkaian kegiatan untuk

memperingati Hari Kebangkitan Nasional,

Komunitas Pencinta Sungai Deli, Go River bekerja sama dengan Budaya Hijau Indonesia, Biologi Pencinta Alam dan Studi Lingkungan (BIOPALAS) USU, Remaja AL-Huda Helvetia dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan dalam membersihkan Sungai Deli dan menanam pohon di sekitan Sungai Deli. Kegiatan ini dilakukan bersama warga Kelurahan Sukaraja. Kegiatan ini dilakukan pas di bawah jembatan Delta Juanda, Medan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 21 Mei 2017. Masyarakat sekitar daerah tengah dan hilir sungai Deli seperti Kecamatan Medan Tuntungan, Medan Sunggal, Medan Marelan, Medan Labuhan dll kebanyakan hanya memanfaatkan aliran sungai Deli untuk kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK) dimana daerah tersebut merupakan kawasan industri yang banyak menghasilkan limbah industri. Beberapa di antaranya adalah limbah logam berat Pb yang tentu saja berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat tersebut. Pencemaran air Sungai Deli dan Belawan diakibatkan oleh kegiatan industri, lingkungan pemukiman, pasar, rumah sakit dan berbagai kegiatan lain di sepanjang sungai tersebut. Tujuh puluh persen pencemaran di sepanjang Sungai Deli diantaranya diakibatkan limbah padat dan cair dari kegiatan domestik. Limbah

58 Universitas Sumatera Utara

domestik padat atau sampah yang dihasilkan di Kota Medan 1.235 ton/hari. Limbah cair yang menyumbang pencemaran ke Sungai Deli berasal dari 24 jenis industri skala menengah dan 40 skala industri kecil, 4 hotel dan 1 rumah sakit.

Berdasarkan data Bapedalda Provinsi Sumatera Utara (2007) dalam (Panjaitan, 2009) terkait Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2003, terdapat 57 industri yang berlokasi di sepanjang sungai Deli dan 22 di sepanjang sungai Belawan. Jenis–jenis industri tersebut antara lain pengolahan minyak goreng, pengolahan metal, pabrik plastik, pengeleman kayu lapis, tekstil, cat, baterai kering, pupuk dolomit, pelapis logam dan lain-lain. Data Bapeldaldasu (2007), menunjukkan bahwa kandungan logam berat Cu di aliran Sungai Deli berkisar antara 0,006-0,01 mg/l dan Pb 0,01 mg/liter.

Fenomena inilah

yang mendorong

Go River

untuk

membantu

menyeimbangkan ekosistem Sungai Deli dengan melakukan penanaman pohon di sekitaran sungai. Tidak hanya itu, tujuan dari program ini mengampanyekan kepada masyarakat bahwa banyak orang yang masih perduli dengan keberadaan Sungai Deli. Oleh sebab itu selayaknya masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitaran sungai juga harus menjaganya. Hal ini ditegaskan oleh Wawan yang merupakan relawan Go River: “...lihat saja jika kita melihat sudut-sudut rumah penduduk pasti ada sampah di bahwahnya. Entah itu sampah mereka atau sampah yang hanyut dari daerah lain namun keberadaan sampah tersebut merupakan bukti bahwa habbit masyarakat kita sekarang tidak lagi menempatkan sungai sebagai aspek kehidupan yang harus dihormati. Dengan menanam pohon dilingkungan mereka (penduduk) paling

59 Universitas Sumatera Utara

tidak kita sudah menunjukkan kepada masyarakat bahwa masih ada orang yang bersedia untuk ikut menjaga Sungai Deli dan seyogyanya masyarakat juga mengikutinya...” Hal senada juga disampaikan oleh M. Wahyu selaku Relawan Go River sebagai berikut : “...harus diakui, tidak banyak wadah seperti ini (Go River) yang dapat dijumpai di Kota Medan. Wadah bagi orang yang rela berkotor-kotor untuk berkontribusi mengembalikan wajah Sungai Deli seperti sedia kala. Banyak lokasi saya lihat tadi sudah terkikis akibat erosi. Makanya dengan kegiatan penanaman pohon ini, penahan air alami ini kedepan akan bekerja dengan maksimal dan tentu saja semoga menyadarkan masyarakat akan pentingnya sungai. Jangan hanya mengeluh masyarakatnya jika banjir tapi menanam pohon gak mau, buang sampah masih ke sungai. Alam dan manusia harus saling menghargai. Kegiatan ini lah bentuknya...” Kegiatan menanam untuk kotaku ini sepanjang Oktober hingga November 2017 telah berhasil menanam 300 pohon mahoni dan 1000 pohon bakau disepanjang Sungai Deli. Bibit-bibit pohon tersebut merupakan donasi beberapa kelompok masyarakat dan pemerintah Kota Medan sendiri.

Secara gotong royong pemerintah dan Go River bersama komunitaskomunitas di dalamnya menanam bibit-bibit tersebut secara bertahap. Penanaman dimulai dari dermaga Avros dan dilanjutkan mengarah ke kawasan Kecamatan Medan Johor. Tepat tanggal 19 November 2017 kegiatan ini telah berhasil menanam seluruh bibit hasil donasi tersebut.

60 Universitas Sumatera Utara

Gambar 2: M. Husni, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Medan Melakukan Penanaman Pohon Di Kawasan Sungai Deli Saat kegiatan ini dilakukan ternyata juga mendapat perhatian masyarakat sepanjang aliran Sungai Deli. Tampak beberapa masyarakat datang dengan membawa sabit dan cangkul untuk sekedar membantu membersikan pekarangan belakang trumahnya dengan alat yang mereka miliki tersebut. Tidak jarang masyarakat juga ikut melakukan kegiatan penanaman pohon tersebut. Hingga bulan November 1300 bibit pohon tersebut telah berhasil di sepanjang bantaran Sungai Deli sepanjang 28 Km. Kegiatan ini akan tetap digalakkan sampai seluruh bantaran sungai dapat ditanami. Karena Sungai Deli berada pada 3 daerah administrasi yang berbeda, Go River juga akan berupaya untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat agar program “menanam untuk kotaku” dapat berjalan secara berkesinambungan. Go River melalui kegiatan ini berharap dalam kurun waktu sepuluh sampai lima belas tahun kedepan Sungai Deli akan kembali asri oleh pepohonan. 2. Sekolah Sungai Go River Institue

61 Universitas Sumatera Utara

Program sekolah sungai merupakan sebuah hasil dari inisiasi pendidikan luar sekolah yang telah digalakkan oleh beberapa institusi pendidikan di Indonesia. Dalam konteks ini Go River bekerja sama dengan berbagai sekolah yang ada di kota Medan untuk ikut serta dalam rangkaian kegiatan di Sungai Deli. Kegaiatan dilaksanakan di Taman Edukasi Avors yang merupakan base camp Go River saat ini. Di base camp peserta akan diberikan edukasi tentang sejarah, fungsi dan potensi sungai Deli bagi peradapan kota Medan. dalam kegiatan ini, peserta akan dibagi dalam beberapa kelompok (sesuai dengan jumlah peserta keseluruhan) dimana setiap kelompok akan diisi oleh 15-20 orang.

Gambar 3: Penyampaian Materi Sekolah Sungai Go River Institute Materi yang akan diberikan biasanya seperti pengenal sungai dan bagiannya, pentingnya sungai bagi kehidupan manusia dan cara menjaga kelestarian lingkungan. Dalam sekolah sungai, Go River mengajak peserta untuk terlibat aktif mengkampayekan dan memperkenalkan ekosistem wisata Sungai Deli kepada masyarakat luas dengan cara memberikan pelatihan penulisan feature. Dalam penulisan feature ini peserta akan menuliskan hasil observasi dan pandangan

62 Universitas Sumatera Utara

mereka mengenai Sungai Deli selama peserta tersebut melihat Sungai Deli pada saat itu dan harapan-harapan peserta terhadap Sungai Deli. Harapan-harapan yang disampaikan oleh peserta tersebut menjadi acuan tersendiri bagi komunitas Go River untuk lebih bergiat dan bekerja keras untuk mengembalikan Sungai Deli seperti sedia kala. Kegiatan sekolah sungai tidak hanya pemberian materi oleh relawan saja tetapi peserta diajak langsung untuk meninjau kondisi Sungai Deli menggunakan perahu jenis LSR milik Go River. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua harian Go River Bapak Ahadi, S.Pd: “...hal paling mudah untuk menyampaikan informasi terkait aksi-aksi sosial seperti ini adalah kaum muda. Sekolah sungai harus saya akui sangat efektif jika digunakan untuk mengkampanyekan sungai Deli kepada masyarakat. Harus diakui bahwa kaum muda ini adalah pemegang trend dikalangan masyrakat, hal ini karena mereka (anak muda) merupakan generasi yang melek teknologi. Maka saya dan kawan-kawan juga gencar untuk bekerjasama dengan berbagai sekolah atau dengan pengurus kegiatan pramuka di sekolah. Sayang saja kalau kegiatan seperti itu (Pramuka) hanya diisi dengan permainan dan materi tali-temali saja, padahal ada hal yang besar yang bisa kita lakukan dengan kelompok tersebut seperti menggalakkan kesadaran mereka tentang ekosiste sungai Deli ini. Mengenai biaya kami juga tidak mematok harga, peserta hanya diwajibkan membayar makan siang saja. Cuma itu, yang lain secara swadaya kami yang meanggungnya. Karena harapan kami kampanye ini dapat terlaksana dengan efektif, itu saja...”

Kegiatan sekolah sungai Go River dilaksanakan di dermaga Avros. Di dermaga, pengelola telah menyediakan lokasi dengan model anak tangga sebagai tempat duduk yang langsung mengarah ke sungai Deli. Dalam kegiatan ini Go River sebagai penyelenggara akan menyediakan rangkaian materi bagi peserta

63 Universitas Sumatera Utara

sekolah sungai yang meliputi materi sejarah, fungsi, dan potensi sungai Deli jika dikelola dengan baik di masa yang akan datang. Kegiatan sekolah sungai tidak hanya materi semata, setelah materi-materi telah diberikan, dengan menggunakan armada yang dimiliki, Go River akan mengajak peserta sekolah sungai menyusuri setiap sudut sungai Deli. Ada tiga kelompok masyarakat yang secara rutin mengikuti kegiatan ini diataranya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Medan, SMA Dharmawangsa Medan, Remaja Masjid Nurul Huda.

3. Bersumpah Untuk Melestarikan Sungai Seperti yang telah disampaikan Bapak Ahadi sebelumnya, menyasar kelompok pemuda merupakan target utama Go River. Kelompok-kelompok ini diharapkan dapat menjadi patron dalam kehidupan keseharian di masyarakat dan kemudian pelaksanaan kampanye yang di galakkan oleh Go River. Kegiatan sekolah sungai ini ternyata juga mendapat perhatian serius oleh kelompokkelompok yang terlibat. Salah satunya adalah Sugiat Santoso yang merupakan ketua KNPI Sumatera Utara. Berikut hasil wawancara dengan beliau: “...saya tidak menyangka Taman Edukasi Avros memiliki sebuah gerakan yang sebegini besar untuk keberlangsungan sungai Deli. Mereka (Go River) sangat konsisten dalam melaksanakan program ini. Sungai Deli merupakan sungai besar karena menguasai hampir seluruh hajat hidup penduduk Medan dan dua daerah lainnya (Kabupaten Karo dan Kota Binjai), maka dari itusangat wajar jika sungai Deli mendapatkan perhatian serius saat ini. Sebagai kelompok pemuda kita juga berkewajiban dalam ikut serta dalam kampanye ini. Makanya secara resmi saya juga akan

64 Universitas Sumatera Utara

membuat nota kesepakatan bahwa KNPI Sumatera Utara akan ikut bergabung dengan Go River dalam mengkampanyekan Sungai Deli...” Kegiatan bersama DPD KNPI Sumatera Utara ini diberi nama “Bersumpah Bersihkan Sungai”. Kegiatan ini merupakan kerja sama atara Go River dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Kegiatan ini membersihkan Sungai Deli pada 28 Oktober 2016 lalu. Kegiatan ini dilakasanakan di Taman Edukasi Avros. Kegiatan bersumpah bersihkan sungai ini antara komunitas Go River dan KNPI melakukan hubungan kerjasama atau bersinergi dalam membersihkan Sungai Deli dan bersumpah memelihara sungai. Kegiatan ini pertama sekali dengan melakukan apel peringatan Sumpah Pemuda di Taman Edukasi Avros. Apel peringatan Sumpah Pemuda ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti musikal monolog sumpah pemuda, pembagian kantong sampah plastik, dan meyusuri Sungai Deli dengan perahu karet. Dalam apel bersama, seluruh elemen pemuda dari masyarakat bersumpah akan selalu peduli untuk membersihkan dan memelihara Sungai Deli yang kondisinya saat ini kian memperhatinkan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution.

65 Universitas Sumatera Utara

Gambar 4: Kegiatan Sumpah Melestarikan Sungai Go River Bersama DPD KNPI Sumatera Utara Selain belerja sama dengan DPD KNPI Sumatera Utara, Go River juga bekerja sama dengan remaja masjid Nurul Huda Sungai Deli, Go River bersama remaja masjid Nurul Huda mengadakan kegiatan Sekolah Sungai, di Dermaga Avros, jalan Avros, Medan. Kegiatan ini dilaksana pada tanggal 26 februari 2017 lalu. Kegiatan sekolah sungai kali ini dilakukan oleh remaja masjid Nurul Huda Helvetia Medan. Dalam kegiatan ini pesertanya remaja masjid Al Huda sebanyak 25 orang. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang menjaga Sungai Deli serta melatih kekompakan dalam berorganisasi. Pemaparan yang diberikan oleh remaja Masjid Al Huda lebih mendalam dibandingkan materi yang diberi kepada anak-anak sekolah dikarenakan remaja masjid ini rata-rata sudah kuliah dan bekerja. Materi

diawali

dengan

memperkenalkan

ekosistem

sungai,

memperkenalkan ekosistem sebuah sungai, seperti aliran sungai yang baik, cahaya, suhu, flora, ikan, invetebrata, dan lain-lain. Pemberi materi yang dilakukan oleh relawan Go River sendiri mengatakan untuk menjaga sungai terutama Sungai Deli

66 Universitas Sumatera Utara

dari hulu hingga hilir dengan tidak mebuang sampah ke aliran sungai. Pada kegiatan ini juga disampaikan untuk mengembalikan Sungai Deli tidak bisa hanya satu kelompok saja tetapi harus lebih dari satu orang bahkan lebih yang tujuannya samasama untuk bekerjasama melestarikan Sungai Deli. Keterlibatan sekolah-sekalah dan kelompok pemuda menjadi semangat tersendiri bagi para pengurus Go River. Kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh Go River ternyata mendapatkan simpati yang luar biasa dari masyarakat luas. Strategi kampenye yang bernuansa learning by doing ternyata mampu menjangkau kalangan anak muda dengan maksima. Namun Go River menyadari keterbatasan sumber daya juga masih menjadi kendala pelaksanaan kampanye saat ini. Hal ini ditegaskan oleh Bapak Azmi: “...antusiasme masyarakat kadang juga tidak dapat kita layani semua karena keterbatasan kita saat ini. Dalam hal edukasi, kita hanya memiliki satu lokasi yaitu dermaga yang hanya dapat menampung lima puluh orang. Lebih dari itu pelaksanaan edukasi tidak akan maksimal. Belum lagi perahu untuk susur sungai. Hanya mampu pelayani 35 orang saja. Makanya untuk saat ini program rutin yang telah berlangsung dengan beberapa instansi (KNPI, SMA Dharmawangsa, SMP N 16 Medan, dan remaja Masjid Al Huda) saja yang dioptimalkan. Walaupun kami juga tidak menutup pintu untuk semua kalangan masyarakat lainnya untuk ikut berpartisipasi delam rangkaian kegiatan kami dalam menjaga dan menata Sungai Deli...” Saat ini keterbatasan fasilitas pendukung memang masih menjadi kendala Go River dalam menciptakan kampanye yang edukatif. Kegiatan yang dilakukan di kawasan Taman Edukasi Avros hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas, mengingat keterbatasan sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki Go River saat ini.

67 Universitas Sumatera Utara

4. Sungai Deli Membaca (Taman Bacaan Anak)

Gambar 5 : Suasana taman bacaan yang dipenuhi anak-anak di sekitar Sungai Deli

Anak sebagai generasi penerus bangsa, perlu mendapat kepastian tumbuh kembang yang optimal. Begitu juga anak-anak yang hidup di bantaran Sungai Deli. Sungai Deli membaca merupakan program utama Go River sejak 14 November 2015. Sungai Deli membaca dilakukan setiap hari sabtu sore. Kegiatan Sungai Deli membaca ini di lakukan di Kampung Aur bersama anak-anak di Kampung Aur tentunya. Relawan-reawan Go River akan membawa buku-buku yang mereka miliki dan biasanya mereka dapatkan dari orang-orang yang menyumbangkan buku kepada mereka atau bukunya mereka beli sendiri. Mereka membawa buku-buku tersebut dengan perahu LSR milik Go River. Kegiatan Sungai Deli membaca yang dilakukan di Kampung Aur ini membuat anak-anak yang berada di Kampung Aur menjadi senang dan merasa antusias. Ketika mereka masih melihat dari jauh kedatangan perahu LSR milik Go 68 Universitas Sumatera Utara

River mereka langsung merasa kesenangan dan buru-buru memanggil temanteman mereka untuk meyaksikan kedatangan tim Go River. Melihat kesenangan tersebut membuat kesenangan tersendiri bagi Go River karena kegiatan ini memiliki manfaat sendiri dan kepuasaan sendiri bagi anak-anak disana. Biasanya mereka diletakan di suatu tempat dan akan dijejerkan buku-buku mulai dari buku pelajaran sampai buku-buku cerita dan anak-anak disana akan bebas memilih buku yang mereka senangi. Biasanya relawan-relawan Go River akan mengarahi mereka dan mengajari mereka cara membaca jika ada anak yang belum bias membaca atau menceritakan mereka cerita-cerita. Kegiatan ini dilakukan hanya belangsung selama 2 jam saja dan dilakukan dalam sekali seminggu setiap sabtu sore jika air sungai memungkinkan karena untuk membawa buku-buku mengunkan perahu. Jika keadaan air sungai lagi naik dan arus kencang tidak memungkinkan untuk tim melakukan kegiatan tersebut. Lokasi sungai deli membaca ini rencana akan dilakukan di Sukaraja pas di bawah jembatan Delta Juanda. Kegiatan Sungai Deli membaca tidak hanya terfokus di satu lokasi pinggiran sungai tetapi komunitas ini akan bergantian melakukan kegiatan ini. Kemungkinan kegiatan ini akan dilakukan di Sukaraja pas di bawah jembatan di Delta, Juanda tetapi komunitas ini lagi membuat tempat yang lebih nyaman bagi anak-anak tersebut saat melakukan proses membaca dikarenakan tempatnya tersebut lahan kosong yang sangat sayang sekali kalau

tidak

dimanfaatkan. Sebagian dari lahan tersebut sudah dibersihkan dan ditanami bibit pohon dan sebagian arealnya dibuat untuk-untuk anak-anak disana. Keberadaan anak-anak

69 Universitas Sumatera Utara

di sana cukup banyak, mereka sering melakukan aktivitas di sana seperti berenang, memancing setiap sorenya dengan adanya kegiatan membaca ini bisa menambah aktivitas mereka dan mendapat pengetahuan sendiri bagi mereka. Kegiatan ini pasti membuat mereka merasa senang dan pasti mereka sangat aktif terbukti dengan beberapa kali saat melakukan aktivitas bersih-bersih anakanak di sana ikut terlibat dan mereka sangat senang dengan kebradaan dari perahu tersebut juga. Program ini bertujuan untuk meningkatkan budaya literasi anak khusunya literasi sungai. Hasil yang diharapkan adalah anak-anak mampu menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai. Program ini juga membantu mereka untuk mengenal ekosistem sungai. Program ini sangat berdampak positif bagi anak-anak yang berada di pinggiran sungai dalam mengisi waktu luang mereka setiap sorenya. 2) Saat terjadi bencana (tanggap darurat) Tangggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi proses pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, serta pemulihan sarana dan prasarana. Menurut data Go River lokasi terparah jika Sungai Deli meluap adalah Kelurahan Sei Mati. Di kelurahan tersebut banjir kerap merenggut korban jiwa hari Minggu, 3 Maret 2012 dimana dua orang anak menjadi korban saat kejadian tersebut. Saat itu instasi terkait yaitu Badan Penaggulangan Bencana Daerah

70 Universitas Sumatera Utara

(BPBD) baru dapat turun ke lokasi kejadian untuk membantu mengefakuasi penduduk. Hal ini yang membuat Go River mendirikan posko di kawasan Taman Edukasi Avros sebagai bagian kesiapsiagaan membantu masyarakat jika bencana banjir menerjang penduduk. Program Go River ketika terjadi banjir sampai masa tanggap darurat adalah sebagai berikut : 1. Emergency Response Plan (ERP) Kegiatan pelatihan berkaitan dengan upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan masyarakatdalam pengelolaan sampah perkotaan. Emergency Response Plan (ERP) atau lebih dikenal dengan Tanggap Darurat Bencana dikenalkan oleh Go River Camp di Taman Edukasi Avros kepada kelompokkelompok masyarakat di DAS Sungai Deli secara bergantian. Dengan alat seadanya, Go River mencoba memberikan pemahaman lewat metode ERP saat bencana banjir menerjang Sungai Deli. Para peserta akan dihadapkan pada kondisi yang disimulasikan di kawasan Sungai Deli. Salah satu alat yang digunakan peserta dalam ERP adalah life jaket atau jaket pelampung yang berfungsi ketika kita sedang berada di dalam air. Tujuan dari pelatihan ini adalah memahami dengan benar berbagai hal yang terkait dengan ERP sebagai suatu sistem yang selalu dibutuhkan dan diaplikasikan dalam kondisi darurat sehingga pengendalian dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

71 Universitas Sumatera Utara

Gambar 6 : Pelaksanaan Emergency Response Plan (ERP) Di Kawasan Sungai Deli

Go River dalam melaksanakan Emergency Response Plan (ERP) tidak hanya melibatkan masayarakat yang tinggal di DAS Sungai Deli namun juga berbagai komunitas yang ada di kota Medan. Hal ini ditegaskan oleh bapak Ahadi, S.Pd : “...harus kita akui bahwa bencana banjir akibat meluapnya Sungai Deli tidak hanya bencana bagi warga yang tinggal di DAS saja, tapi seluruh warga yang tinggal di kota ini (Kota Medan). Makanya untuk kegiatan Emergency Response Plan kita harus memberikan mateinya kepada siapapun yang menginginkan. Termasuk kelompok masyarakat lainnya yang perduli bencana...”

Hal ini juga ditegaskan oleh Ninik yang merupakan peserta Emergency Response Plan (ERP) yang diadakan oleh Go River; “...awalnya saya takut untuk terjun langsung ke sungai. Tapi setelah masuk saya diajarkan untuk tenang dan mengendalikan diri dalam menghadapi bencana. Kegiatan ini sangat berguna bagi kami sebagai peserta. Biarpun bencana tidak setiap hari ada tetapi paling gak saya dan teman-teman bisa paham cara mengatasinya. Dan mungkin kami semua bisa memberikan bantuan saat bencana datang nanti...”

72 Universitas Sumatera Utara

Konsep partisipasi menurut Mikkelsen (2011) dapat diartikan sebagai alat untuk mengembangkan diri sekaligus tujuan akhir. Keduanya merupakan satu kesatuan dan dalam kenyataan sering hadir pada saat yang sama meskipun status, strategi serta pendekatan metodologinya berbeda. Partisipasi akan menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat banyak. Partisipasi juga menghasilkan pemberdayaan, dimana setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya. Dengan adanya edukasi yang diebrikan oleh Go River ini membuat masyarakat memiliki pengetahuan mengenai tanda-tanda banjir tersebut. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang baik, dengan pengetahuan yang dimiliki tersebut masyarakat bisa dengan cepat mengambil tindakan dalam persiapan diri dan mengurangi resiko banjir. Penulis melihat bahwa ketidak sadaran dari masyarakat khususnya yang berada disepanjang sungai tentang penghijaun lingkungan dan pelestarian air sungai dengan membuang sampah kesungai, MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dilakukan disungai merupakan kebiasaan buruk yang merusak kualitas air sungai dan juga memperparah banjir, karena sampah-sampah yang dibuang akan menumpuk didasar sungai yang menyebabkan sungai menjadi dangkal. Rencana darurat adalah suatu rencana formal tertulis, yang berdasarkan pada potensi kecelakaan yang dapat terjadi di instalasi dan konsekuensikonsekuensinya yang dapat dirasakan di dalam dan di luar tempat kerja serta bagaimana suatu keadaan darurat itu harus segera ditangani. Suatu rencana respon

73 Universitas Sumatera Utara

gawat darurat dikonsentrasikan pada tindakan yang akan diambil dalam beberapa jam pertama pada kondisi krisis (Kuhre, 1996) 2. Mendirikan Posko Tanggap Bencana Saat ini Go River telah memiliki 5 perahu dayung dan 1 perahu motor. Keenam armada tersebut dapat digunakan oleh petugas BPBD maupun relawan Go River yang terlatih untuk berpartisipasi dalam membantu evakuasi warga. Penanggulangan bencana di masa tanggap darurat ketika terjadi banjir di daerah aliran sungai (DAS) Deli oleh Go River masih belum memadai karena masih terbatas dari segi sarana dna prasarana.

Gambar 7 : Armada Go River yang Disiapkan Untuk Membantu Masyarakat yang Mengalami Bencana Banjir

Go River menyadari bahwa saat ini pemerintah terkait dalam hal ini BPBD memiliki sumber daya yang terbatas. Apalagi banjir yang terjadi di Sungai Deli terkadang datang begitu tiba-tiba. Go River sebagai salah satu kelompok masyarakat yang hadir di tengah-tengah masyarakat selalu aktif dalam memberikan bantuan baik tenaga maupun prasarana yang selalu siap memberikan bantuan 74 Universitas Sumatera Utara

kepada korban banjir. Selain menyiagakan armada evakuasi, Go River juga akan mendirikan dapur umum guna membantu masyarakat memnuhi kebutuhan akan makanan selama bencana banjir berlangsung. Hal ini seperti yang disampaikan M. Wahyu selaku relawan Go River : “...banjir di Medan ini sangat sulit di prediksi, kadang datang dengan tiba-tiba, maknya kita harus tetap siaga. Kalau udah banjir pasti kita dari Go River biasanya yang pertama kali terjun id tengah-tengah masyarakat korban banjir. Kita mendistribusikan makanan dan bahakan kadang kita buat dapur umum di kantor...” Selama banjir, Go River akan berada dibawah koordinasi BPBD dalam memberikan bantuan. Hal ini dilakukan agar kegiatan pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, serta pemulihan sarana dan prasarana dapat dilakukan dengan sistematis. Saat terjadi nya banjir Go River juga mengeduaksi masyarakat untuk menyelamatkan diri dan harta benda yang bernilai dan penting yaitu dengan menaiikan barang-barang elektronik ketempat yang lebih tinggi, menyelamatkan barang-barang berharga. Stategi adaptasi yang dilakukan dalam masyarakat pasca bencana alam dapat dilakukan dengan penanggulangan bencana alam yang tepat, agar masyarakat bisa aktif kembali pasca bencana alam. Besarnya potensi ancaman bencana alam yang setiap saat dapat mengancam dan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia serta guna meminimalkan risiko pada kejadian mendatang, perlu disikapi dengan meningkatkan kapasitas dalam penanganan dan pengurangan risiko bencana baik di tingkat Pemerintah maupun masyarakat. 3) Pasca bencana.

75 Universitas Sumatera Utara

Menurut Hamdan dalam (Afriani, 2007:67-98) ada beberapa aspek yang harus dilakukan dalam kegiatan pasca bencana yaitu kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Rekontruksi adalah pembangunan kembali semua sarana dan prasarana serta kelembagaan di wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perkonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat (Ramli, 2010). Dampak dari bencana banjir yang diakibatan oleh meluapnya Sungai Deli tidak jarang berdampak terhadap hancur dan rusaknya fasilitas yang dimiliki masyarakat. Dampak psikologis dan materil tidak akan selesai saat banjir surut. Dalam rentang waktu 2012 hingga 2015 BPBD Sumatera Utara mencatat bencana banjir yang diakibatkan oleh meluapnya Sungai Deli telah merusak setidaknya 3458 rumah warga dan lebih dari 127 fasilitas umum. Namun dengan berulangnya kejadian banjir di Sungai Deli tidak membuat masyarakat berniat untuk tinggal di kawasan lain. oleh sebab itu, masyarakat akan mulai membangun kehidupannya setelah rumah mereka rusak. Biasanya pemerintah kota yang dibantu aparat TNI, POLRI maupun BPBD sendiri akan bahu membahu membantu masyarakat untuk merehabilitasi dan merekonstruksi berbagai aspek yang rusak akibat bencana bajir.

76 Universitas Sumatera Utara

Manajemen pemulihan (pasca bencana) adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh setelah terjadinya bencana dengan fase-fasenyanya yaitu : a)

Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.

b)

Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana. Beberapa Program juga dirancang oleh

1. Riset Sungai Deli

Go River dalam melaksanakan riset bekerjasama dengan beberapa organisasi. Salah satunya riset yang diinisiasi oleh Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Kegiatan ini dilakukan oleh Mahasiswa Antropologi FISIP USU dalam matakuliah Antropologi

77 Universitas Sumatera Utara

Visual. Pada kegiatan ini mahasiswa antropologi memilih kawasan Sungai Deli sebagai tempat untuk melakukan riset. Pada kegiatan ini Go River dipercaya sebagai rekan dalam pelaksanaan riset. Riset ini mengusung konsep Live In Riset. Go River memberikan materi kepada mahasiwa antropologi mengenai keberadaan dari Sungai Deli dan mereka juga menyusuri Sungai Deli dan setelah itu mereka membuat sebuah deskripsi mengenai Sungai Deli. Pada kegiatan ini juga mahasiswa antropologi langsung berinteraksi dengan masyarakat-masyarakat yang berada di Pinggiran Sungai Deli yang berada di Sukaraja, Pantai Burung, Kampung Aur, dan Kampung Badur.

Hasil riset yang telah dilakukan tersebut akan dicetak dan diserahkan kepada stake holder termasuk pemerintah di dalamnya sebagai salah satu referensi pemerintah dalam pembentukan berbagai peraturan terkait DAS Sungai Deli maupun masyarakat yang tinggal di sekitaran DAS Sungai Deli.

Dengan berbagai keterbatasan, program yang dijalankan Go River harus dilakukan bertahap. Pada beberapa tahun terakhir, program yang dijalankan Go River di fokuskan pada wilayah kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun. Wilayah Kampung Aur dikenal masyarakat kota Medan sebagai wilayah bantaran sungai yang padat penduduk. Selama melaksanakan program di wilayah Kampung Aur, ada beberapa kendala yang dialami oleh Go River. Pertama yang menjadi kendala Go River dalam melaksanakan programnya dalah faktor sosial. banyak keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Deli merupakan warga yang telah tinggal di situ selama lebih dari dua generasi. Banjir menjadi salah satu yang tidak bisa

78 Universitas Sumatera Utara

dipisahkan oleh kehidupan mereka. Pergantian kepala daerah tidak serta merta memberikan perubahan terhadap kondisi sungai Deli. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh bapak Sopyan: “...saya rasa mereka sudah biasa di sini. Bayangkan saja, tiap tahun pasti ada kejadian rumah terendam banjir, kenyataannya tidak ada yang mengeluh kemudian pindah. Parahnya orang di sini memang tidak perduli dengan lingkungannya. Mandi, nyuci, buang hajat, dan buang sampah dijadikan satu di sini (sambil menunjuk sudut sungai Deli). Terus gimana mau gak banjir. Tanyalah sama orang sini, berapa banyak yang punya saptitank, hampir semua membuang hajatnya langsung ke sungai. Hampir 72 tahun Indonesia merdeka, sungai Deli sama sekali tidak tersentuh. Padahal sungai ini adalah sumber air masyarakat kota Medan. Belum lagi keberadaannya yang sangat potensial digunakan sebagai jalur transportasi...”

Kebiasaan masyarakat bantaran sungai Deli membuang sampah di sungai mengakibatkan bantaran sungai dipenuhi oleh tumpukan sampah. Menurut data Go River ada 50 titik tumpukan sampah yang dapat ditemukan di wilayah Kota Medan. sampah sampah tersebut sebagian besar merupakan sampah rumah tangga yang dibuang oleh penduduk sekitar. Selain itu kebiasaan penduduk membuang hajat di sungai memperparah keadaan sungai Deli. Sebagian besar masyarakat sungai Deli membuang hajat mereka langsung di sungai. Adapun warga yang memiliki toilet pribadi mengarahkan pembuangan hajat mereka ke sungai.

79 Universitas Sumatera Utara

Gambar 8 : Tumpukan Sampah dan Pipa Pembuangan Rumah Tangga Saat

debit air naik sampah-sampah tersebut akan terbawa arus dan

terkadang akan menyangkut pada beberapa tempat seperti jembatan yang memiliki tiang maupun pipa-pipa yang ada di bantaran sungai. Hal ini kemudian membuat aliran air menjadi tidak lancar. Saat hujan terjadi, suangai Deli akan cepat mengalami peningkatan volume di beberapa titik akibat laju air yang tertahan oleh tumpukan sampah disepanjang aliran sungai. Banyaknya sampah juga menjadi penghalang dari Komunitas ini saat melakukan susur sungai yaitu membersihkan sungai dikarenakan Komunitas Go River beraktivitas dengan menggunakan perahu LSR.

Gambar 9: Salah Satu Armada Perahu yang Dimiliki Go River

80 Universitas Sumatera Utara

Perahu LSR merupakan indektik dari Komunitas ini. Beberapa Komunitas Peduli Sungai Deli, Komunitas Go River yang memiliki alat-alat yang lengkap mulai dari transportasi dan alat-alat kebersihan. Saat ini, Komunitas Go River memiliki 2 alat transportasi yaitu Perahu mesin jenis LSR dan Perahu Karet yang masih menggunakan dayung. Perahu yang sering digunakan komunitas ini untuk susur sungai dan membersihkan sungai yaitu Perahu mesin jenis LSR. Perahu yang dimiliki oleh Komunitas Go River ini tidak diberi atau disumbangkan dari pihakpihak tertentu tetapi dari seorang relawan dan pembina di Komunitas Go River ini yaitu Pak Azmi. Beliau membeli perahu-perahu tersebut untuk mempermudah komunitas ini atau komunitas lain yang ingin bergabung dengan mereka untuk membersihkan sungai.

2. Kerjasama Antar Komunitas Peduli Sungai Deli.

Di sepanjang Sungai Deli tidak hanya Go River yag manjadi satu-satunja kelompok aksi masyarakat yang perduli dengan kondisi Sungai Deli saat ini. Terdapat banyak kelompok yang masing masing memiliki fokus sendiri-sendiri diantaranya Komunitas Peduli Anak Dan Sungai Deli (KOPASUDE), Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA).

Hal ini senada dengan penggalan wawancara Bapak Ahadi, ketua harian Go River : “...kita bisa lihat sendirilah sekarang bagaimana keadan bantaran Sungai Deli. Tadi barusan saya lihat kelompok masyarakat ngelem (menghirup lem merek kambing) di

81 Universitas Sumatera Utara

pinggir sungai. Apa yang bisa kita lakukan. Percuma saat kita melestarikan lingkungan tanpa membangun manusianya. Mereka yang paling dekat dengan sungai ini. Mereka juga yang menjadi garda terdepan dalam menjaga sungai ini. Makanya kami mengajak kemunitas lain, ayok kita benahi sama-sama. Yang bisa ngajar ya ngajar, yang bisa pertanian ya ayok menanam...” Kerjasama antara KOPASUDE, PUSPA, dan Go River akhirnya berhasil menembus basis-basis masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Deli. Melalui kegiatan ini PUSPA membangun homestay sebagai wadah anak-anak pinggiran Sungai Deli dapat belajar dan terhindar dari kekerasan. PUSPA memberikan les tambahan bagi anak-anak usia sekolah SD dan SMP secara rutin. KOPASUDE sendiri dalam program kerjasama ini membentuk sebuah sanggar belajar yang diperuntukkan untuk anak yang berkeinginan mengikuti pelatihan daur ulang sampah non-organik yang biasa ditemui di sepanjang Sungai Deli. Selain itu KOPASUDE juga membentuk sanggar baca yang diperuntukkan bagi anak-anak pinggiran Sungai Deli.

Go River sendiri sebagai salah satu mitra bertugas membantu menyiapkan berbagai kebutuhan dan selalu bersedia jika dilibatkan dalam berbagai program. Salah satu program yang baru-baru ini dilakukan bersama STIPAP-LPP. STIPAPLPP merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi dalam bidang pertanian. Pada kesempatan kali ini Kopasude dengan beberapa mahasiswa dari STIPAP-LPP medan melakukan penghijauan di sekitar pinggiran sungai dengan menanam pohon yang bibit pohonnya dari mereka sendiri. Mahasisa STIPAP-LPP Medan langsung meninjau lokasi dari pinggiran Sungai Deli. Mereka sudah tinggal selama 3 hari 2 malam untuk mengikuti kegiatan ini.

82 Universitas Sumatera Utara

Tema pada kegiatan ini yaitu “Langkah Hijau Kembalikan Nafas Kota”. Tujuan ini sendiri dilakukan untuk memperindah kawasan kota terutama pada bagian pinggiran sungai. Pada kegiatan ini Mahasiswa STIPAP-LPP Medan langsung menanam bibit pohon yang sudah mereka persiapkan dan dibantu oleh beberapa relawan Go River. Mahasiswa STIPAP-LPP Medan tidak hanya melakukan penanaman pohon untuk langkah penghinjau tetapi mereka juga berinteraksi dengan masyarakat sekitar pinggiran Sungai Deli. Keadaan seperti ini sangat membantu dari Program KOPASUDE sendiri dalam melestarikan kawasan Sungai dengan melakukan penghijauan disekitar pinggiran Sungai. KOPASUDE berharap dengan adanya kerjasama yang dilakukan oleh Mahasiswa STIPAP-LPP Medan dapat berlangsung kembali untuk merawat kawasan pinggiran Sungai. Hal ini seperti disampaikan oleh salah satu relawan Go River yaitu Fati, beliau mengatakan bahwa : “...kita harus pahami bahwa masalah Sungai Deli sekarang begitu komplek bang. Kita tidak hanya bisa melestarikan alamnya saja tipi disisi lain habbit masyarakatnya masih diposisi tidak menghargai sungai. Ibaratnya gini, kita membersihkan sungai, masyarakat masih membuang sampah ke sungai. Gak akan ketemu kelestarian itu bang. Makanya bersama KOPASUDE dan PUSPA, kita berusaha masuk sampai ke dalam nadi masyarakatnya melalui anakanak....” Hal ini ditegaskan oleh Intan, relawan PUSPA untuk Sungai Deli: “...saya lihat sangat komplek, dari narkoba sampai alasan remeh-temeh buang sampah sembarangan. Setiap rumah pasti membuang sampah di belakang rumahnya, setiap anak pasti familiar dengan narkoba. Makanya KOPASUDE, Go River, dan PUSPA berkolaborasi untuk saling menguatkan dengan program andalan masing-masing...”

83 Universitas Sumatera Utara

Beberapa kegiatan yang melibatkan Go River, KOPASUDE, dan PUSPA adalah Dalam rangka memperingati hari jadi Kopasude yang ke-2, Kopasude mengadakan diskusi umum dengan mengusung tema “Pengelolaan Sungai Deli Menuju Ekowisata Kota Medan”. Diskusi yang digelar di Taman Ahmad Yani, jalan Imam Bonjol, Medan turut menghadiri Syaiful Anwar, S.Pd, MA, Ilhamsyah (Badan Lingkungan Hidup Kota Medan), serta H.T Bahrumsyah, SH selaku ketua komisi B DPRD kota Medan sebagai pembicara.

Go River pada rangkaian acara tersebut memberikan sebuah paparan mengenai Sungai Deli. Paparan yang diberikan komunitas Go River sama halnya dengan hasil paparan yang dibderikan oleh Syiful anwar, ilhamsyahm dan Bahrumsyah yang mengatakan bahwa secara historis Sungai Deli sejak dari dulu sudah menjadi ekowisata kota Medan. Sungai Deli sudah saatnya dijadikan sebagai halaman depan rumah masyarakat di kota Medan dengan menjadikan halaman depan rumah pasti masyarakat berusah untuk menjaga kelestariannya.

Gambar 10 : Dokumentasi Kegiatan Bersama Go River, KOPASUDE, dan PUSPA Pada kegiatan ini pula komunitas Go River dan Kopasude melangsungkan berbagi kegiatan mulai dari penaburan 800 benih ikan, penananam pohon, lomba

84 Universitas Sumatera Utara

mewarnai tinkat SD-SMP, Lomba Handy Craft tingkat umum. Kegiatan ini dilakukan mulai dari hari sabtu dan minggu tepatnya pada 1-2 April 2017 lalu.

Pada kesempatan ini Go River melakukan kerjasama dengan KOPASUDE dengan menanam pohon disekitaran Sungai Deli dan membersihkan Sungai Deli dengan menggunakan perahu karet yang dimiliki oleh Go River. Penanam pohon yang dilakukan dengan melengketkan tulisan-tulisan untuk harapan kepada Sungai Deli. Kegiatan ini sendiri dilakukan secara bersama supaya terjalinnya hubungan baik antar komunitas dan adanya rasa toleransi antar komunitas dan supaya terwujudnya mimpi-mimpi untuk Sungai Deli yang lebih lestari kedepan.

4.4 Strategi Adaptasi Bencana Masyarakat Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli Go River sebagai organisasi yang peduli terhadap kelestarian Sungai Deli juga ikut melakukan pemeberdayaan terhadap masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Deli terutama di Kelurahan Aur. Program Go River diakui belum berjalan secara maskimal karena masih banyak masyarakat yang acuh tak acuh terhadap kelestarian sungai Deli. Berdasarkan fakta di lapangan, Pemerintah Kota Medan pada tahun 2010 yang lalu telah mewacanakan akan mendirikan Rusunawa di Kampung Aur, itu artikan seluruh rumah penduduk yang termasuk di dalam kawasan Kampung Aur akan di robohkan dan diganti dengan Rusunawa. Tujuannya adalah untuk menghapuskan permukiman kumuh yang ada di Kampung Aur dan menolong masyarakat agar tidak menjadi korban banjir akibat luapan dari Sungai Deli lagi.

85 Universitas Sumatera Utara

Menurut hasil penelitian Elvana Febrianti (2015) menngungkapkan bahwa masyarakat yang berada ditempat penelitian (DAS Sungai Deli) lebih memilih untuk tinggal, dan menganggap bahwa banjir merupakan suatu kondisi yang harus mereka lalui, dan mereka akan tetap bertahan. Strategi adaptasi masyarakat yang menjadi korban banjir yaitu dengan pembangunan fisik atau struktur. Bantuan yang diberikan pemerintah tidak merata kepada masyarakat. Bantuan yang diberikan berupa, sembako, obat-obatan, selimut. Gaya adaptasi tersebut terhadap bencana tersebut pada prakteknya tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perbaikan kelestarian DAS Sungai Deli. Masyarakat pada kenyataannya hanya memikirkan bangaimana menghadapi banjir yang menerpa tanpa memikirkan bagaimana cara mencegahnya. Konsep mitigasi bencana Go river sangat jauh dari konsep adaptasi yang dimiliki masyarakat. Walaupun demikian Go River tetap mengupayakan adaptasi masyarakat di sekitar sungai Deli dengan baik untuk meminimalisir kerugian saat terjadi bencana. 1. Adaptasi Yang Bersifat Non Teknis (Tidak Merubah Fisik) a. Menjaga Sungai dari Sampah Berbagai bentuk cara dan tindakan yang dilakukan oleh Go River dan masyarakat di Kampung Aur, khususnya bagi warga yang tinggal persis di bantaran sungai. Salah satu bentuk aktifitas yang masuk ke dalam agenda kegiatan rutin masyarakat adalah merubah kebiasaan membuang sampah ke sungai. Ada cara yang dilakukan secara tidak langsung yang dilakukan adalah dengan memasang spanduk dan tanda peringatan untuk tidak membuang sampah di sungai .

86 Universitas Sumatera Utara

Spanduk tersebut dipasang di sisi sungai yang mudah di lihat oleh masyarakat ketika berdiri di pinggir sungai, tujuannya adalah ketika masyarakat hendak membuang sampah ke sungai dan melihat spanduk tersebut, ada perasaan segan dan mengurung niat untuk membuang sampah ke sungai. Hal ini seperti disampaikan oleh Bapak Ahadi sebagai berikut : “...di tempat yang biasanya dijasikan tempat pembuangan smapah ke sungai kita dan masyarakat sering emasang spanduk dan plang peringatan untuk tidak buang samoah ke sungai. Tapi sangai sulit karena kadanag orang buang sampah dari jembatan dan biasanaya bukan warga di sekitar sini...” Selama ini Go River hanya bisa melakukan penyuluhan dan memberikan sugesti mengenai dampak yang akan ditimbulkan apabila perilaku membuang sampah tidak segera dihentikan. Salah satu yang menjadi faktor masyarakat membuang sampah ke DAS Deli karena tidak tersedianya bak-bak tempat pembuangan sampah dan tidak bersedia truk pengangkut sampah untuk mengambil sampah-sampah yang ada di lingkungan tersebut. Perilaku masyarakat sehari-hari masih memanfaatkan sungai pembuangan sampah harus disikapi dengan dengan serius oleh peerintah. b. Barang Berharga Di Tempatkan Di Tempat Yang Tinggi

87 Universitas Sumatera Utara

Gambar 11. Salah satu rumah masyarakat di sekitar sungai Deli

Bencana banjir memang dikenal sebagai bencana yang dapat menciptakan kerugian materil terhadap masyarakat. Secara teknis, butuh strategi jitu untuk mencegah kerugian besar yang ditimbulkan ‘tamu’ tahunan ini. Minimal, supaya jumlahnya tak separah tahun-tahun sebelumnya. Banjir umumnya melanda daerah dataran rendah. Karena itu, warga yang tinggal di pemukiman tersebut harus memiliki persiapan sebelum banjir datang. Masayarakat Kampung Aur barang ke tempat yang aman ketika musim penghujan sudah memasuki intensitas yang tinggi. Seperti yang disampaikan oleh seorang warga, yaitu ibu Indah Siregar : “....Kami biasasudah mindahkan barang, terutama yang berharga itu ke loteng atau ke lantai dua rumah atau kalo tidak ya di bawa apa yang bisa dibawa ke mesjid depan atau ketempat aman. kadang banjirnya disini datang dengan tiba-tiba dan gak disangkasangka. Jadi begitu dengar peringatan tentang akan adanya banjir ya barang barang langsung diangkat dan sudah ditipkan juga di tempat saudara-saudara yang ada....”

88 Universitas Sumatera Utara

Hal itu juga dibenarkan oleh bapak Sayuti Lubis sebagai berikut : “....Kalau udah dengar peringatan banjir ya pasti cepat cepat kita selamatkan baraang berharga, kita gak tau banjir yang datang akan semana tingginya tapi kita ya bersiap siaga saja supaya lebih aman, dan itu dilakukan hampir oleh semau wrga di sekitar sungai ini....” Masyarakat yang tidak memiliki rumah bertingkat, beradaptasi dengan menitipkan barang-barang yang masih bisa dibawa di rumah tetangga atau kerabat yang tidak terendam banjir. Tidak lupa masyarakat kelurahan Aur menitipkan barang berharga seperti perhiasan, uang dan surat penting kepada kerabat mengingat ketika banjir ada kemungkinan masyarakat harus mengungsi dan meninggalkan rumah, kesempatan tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki niat jahat untuk mencuri. c. Menjauhi Genangan Banjir Yang Kotor Bermukim di bantaran Sungai Deli dimanfaatkan oleh masyarakat bantaran Sungai Deli Kampung Aur sebagai tempat mandi, cuci, kakus pada umumnya. Walaupun semua rumah yang ada di lingkungan ini memiliki kamar mandi layak pakai dan ketersediaan air PAM tercukupi, namun kegiatan seperti itu sudah menjadi suatu kebiasaan dan sudah turun temurun. Tapi mereka hanya melakukan pada aliran sungai dan sedikit menjauhi genangan air yang dibawa banjir. Seperti pernyataan oleh salah satu informan bapak Supardi yang peneliti temui di Kampung Aur: “...Kalau kami sih udah biasa mandi di sungai, nyuci baju, nyuci piring, ada juga yang buang air besar. Gak tau kenapa, kami tidak merasa jijik atau jorok, udah dari semenjak kecil dulu kami sering mandi dan buang air besar di sungai. Udah kayak terbiasa gitu. Kalau di sungai kan rame-rame, bisa sambil ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu

89 Universitas Sumatera Utara

yang lain. anak-anak juga rame, banyak yang berenang. Beda kalau mandi di kamar mandi sendiri...”

Masyarakat akan menajuhi genangan air banjir dikarenakan ketakutan terhadap penyakit kulit. Jamur dan infeksi bakteri adalah penyebab penyakit kulit yang paling banyak, terlebih saat banjir. Salah satu efek paling sering terjadi adalah infeksi bakteri seperti koreng. Penyakit ini banyak diderita anak-anak yang biasanya suka main-main air. Hal ini seperti disampaikan oleh ibu Herlina : ”......Banyak kami yang gatal-gatal kalo banjir datang, karena air kan banyak sampah yang ngikut juga, apalagi kalo baru datang, bau sampai itu memang benar-benar tercium, tapi kalau dengan aliran sungai ya sudah biasa dipakai untuk mandi, cuci baju dan aktifitas lainnya......” . Penanganan terhadap penyakit kulit menjadi penting saat banjir terjadi. Penyakit kulit menjadi salah satu penyakit yang tidak bisa dihindari saat banjir datang. Keadaan pemukinam yang terendam banjir dengan kondisi cuaca yang lembab serta sulitnya penyediaan air bersih menciptakan kondisi masyarakat yang dihinggapi penyakit kulit tidak bisa dihindari. 2. Melakukan perubahan Fisik Lingkungan Untuk Kehidupan Manusia a. Membuat Dinding Penahan

di Bibir Sungai yang dekat dengan

Pemukiman Penduduk Banjir yang terjadi di Kampung Aur bukanlah banjir yang terjadi hanya sekali dua kali saja. Tetapi sudah langganan setiap tahunnya. Bahkan pernah terjadi selama seminggu penuh. Dengan keadaan yang demikian membuat masyarakat mempunyai cara dan tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan

90 Universitas Sumatera Utara

oleh banjir, menjadi suatu adaptasi yang sesuai dengan budaya lokal yang dimiliki oleh masyarakat di Kampung Aur. Pada bantaran DAS Deli Kampung Aur telah di bangun dan diresmikan dinding penahan tanah sepanjang 36 m tahun 2012 silam, dalam kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPMMP) yang di motori Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM Aur Bersatu) Tim 10 Koordinasi kota 1 Medan. Kegiatan tersebut menjadi pilot project di Kecamatan Medan Maimun yang berpotensi wisata air Kota Medan karena masyarakat bersama fasilitator PNPM Tim 10 telah menggalang swadaya dan menjalin channeling keberbagai pihak.

Gambar 12 : Dinding Tanggul Penyangga Air Sungai b. Membuat Tanggul dari Karung yang berisi pasir Masyarakat kelurahan Aur yang rumahnya di bibir sungai sudah terbiasa menghadapi banjir yang terjadi secara mendadak. Keputusan mereka untuk meninggikan bangunan tempat tinggal dimaksudkan unruk melindungi harta dan

91 Universitas Sumatera Utara

barang barang berharga dari kerusakan akibat banjir yang terjadi. Dengan ditinggikannya rumah tersebut kerugian harta benda masyarakat akibat banjir di kelurahan Aur dapat diminimalisir. Akan tetapi tidak semua masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang memadai untuk meninggikan rumah mereka. Masih ada juga masyarakat yang rumahnya hanya satu lantai dan berpapasan kangsung dengan bibir sungai yang membuat mereka pasrah saja apanila banjir terjadi di kelurahan Aur. Masyarakat kelurahan Aur yang telah terbiasa menghadapi banjir khususnya yang berada di bantaran sungai selalu melakukan pemadaman listrik sebelum meninggalkan pemukiman mereka saat banjir datang. Kesadaran akan pentingnya melakukan pemadaman listrik saat datangnya bencana banjir. Masyarakat bantaran sungai sadar bahwa arus listrik saat banjir datang tidak hanya membahayakan keluarganya tetapi seluruh masyarakat di sekelilingnya. c. Meninggikan bangunan rumah yang terletak di bibir sungai

92 Universitas Sumatera Utara

Gambar 13 : Beradaptasi terhadap banjir dengan meninggikan bangunan rumahnya Pada umumnya rumah-rumah yang terletak di pinggiran sungai adalah yang paling sering dan parah menerima dampak dari banjir di kelurahan Aur. Masyarakat bantaran sungai yang sebagaian besar membangun rumahnya dengan dua tingkat dan beberapa masyarakat yang rumahnya terletak tepat dipinggir sungai juga telah berusaha meninggikan bangunan supaya mereka bisa mengurangi akibat dari banjir yang terjadi. Rata-rata rumah yang terletak di pinggiran sungai telah memiliki lantai dua sebagai tempat berlindung ketika banjir melanda. Salah seorang warga ibu Indah Siregar menyatakan : “...Kita sengaja tinggikan rumah kita dari tanah dan bahkan kita buat bertingkat, supaya klau air naik sedikit gak langsung mausk kerumah. Selain itu kalau datang banjir kita bisa langsung naikkan barang berharga ke lantai atas. Adek bayangkan kalau tiba-tiba banjir datang di tenngah malam, kalua kita tidak siap bisa habis harta dan barang yang kami miliki. Intinya kalau ada uang kita lenih memilih untuk meninggikan rumah daripada pindah dari sini...” Selain itu, adaptasi yang dilakukan masyarakat untuk menghindari korban jiwa ketika banjir datang yaitu dengan mendirikan rumah menjadi dua tingkat. Bagi mereka lebih mudah naik ke lantai dua daripada harus naik ke jalan. Selain untuk menghindari barang-barang mereka hilang diambil oleh orang bukan warga Kampung Aur yang mencari kesempatan dalam keadaan terjepit. 4.5 Analisis Banjir yang terjadi hampir setiap tahunharus diantisipasi untuk meminimalkan kerugianyang ditimbulkannya. Mistra (2007) danBNPB (2007) menjelaskan bahwa dampak banjirdapat terjadi pada beberapa aspek, yaitu: (1) Aspek Penduduk, berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka,

93 Universitas Sumatera Utara

korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi. (2) Aspek Pemerintahan, berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip,peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan. (3) Aspek Ekonomi, berupa hilangnya mata pencaharian, tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan, hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat.

(4)

Aspek

Sarana/

Prasarana,

berupa

kerusakan

rumah

penduduk,jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum, instalasilistrik, air minum dan jaringan komunikasi. Dan(5) Aspek Lingkungan, berupa kerusakan ekosistem,obyek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi. Manajemen bencana berbasis komunitas (community-based disaster management) menurut Paripurno (2006) adalah sebuah pendekatan yang mendorong komunitas akar rumput dalam mengelola resiko bencana di tingkat lokal. Upaya tersebut memerlukan serangkaian upaya yang meliputi melakukan inteprestasi sendiri atas ancaman dan resiko bencana yang dihadapinya, mengurangi serta memantau dan mengevaluasi kinerjanya sendiri dalam upaya pengurangan bencana (Pedoman Umum Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, 2012). Sebagai Komunitas yang fokus terhadap manajemen bencana banjir yang diakibatkan Sungai Deli, maka Go River kemudian di isi oleh individu-individu yang memiliki fokus terhadap kedua hal tersebut. Seperti diketahui sebelumnya, Go River sendiri merupakan sebuah kelompok yang mendirikan organisasi non profit dimana artinya Go River sendiri murni diisi oleh kegiatan-kegiatan sosial yang

94 Universitas Sumatera Utara

berhubungan dengan keestarian Sungai Deli dan masyarakatnya dengan pendanaan yang diperoleh dari kegiatan wisata melalui Taman Edukasi Avros dan sumbangan perorangan maupun institusi pemerintah. Go River melihat bahwa merubah habit masyarakat di pinggiran Sungai Deli merupakan hal sangat sulit dilakukan. Ketidakperdulian masyarakat makin memperburuk kondisi ekosistem Sungai Deli. Hal ini selaras dengan penelitian Zulfahmi Tarigan (2014) tentang banjir diperkotaan.

GO River menyadari bahwa masalah Sungai Deli bukan semata masalah lingkungan hayati semata. Lingkungan sosial juga menjadi salah satu permasalahan lain yang mesti dituntaskan. Narkoba, kekerasan anak, seks bebas merupakan sebagian kecildari berbagai masalah yang dimiliki masyarakat yang tinggal dibantaran Sungai Deli.

Go River juga melakukan program pemberdayaan untuk membantu menyelesaikan permasalahan Sungai Deli secara tuntas. Pada kegiatan kali ini Kopasude dan Puspa melakukan sebuah sinergi dengan melakukan kunjungan ke Homestay dari KOPASUDE di Jalan Palang Merah, Medan. Pada kegiatan ini organisasi PUSPA melakukan peninjauan langsung dengan anak-anak pinggiran Sungai. Pada kegiatan ini antara KOPASUDE dan organisasi PUSPA melakukan sinergi untuk melahirkan anak-anak bantara sungai yang jauh dari kekerasan dan membentuk kegiatan-kegiatan positif agar anak terhindar dari bahaya narkoba seperti pengolahan sampah plastik menjadi berbagai kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi.

95 Universitas Sumatera Utara

Dari hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyebab banjir sangat tinggi. Masyarakat sadar bahwa banjir yang melanda mereka setiap tahun diakibatkan oleh kebiasaan mereka membuang sampah langsung ke Sungai Deli. Perilaku manusia yang sering kali tidak peduli terhadap lingkungan juga berperan menyebabkan banjir, yakni jika mereka membuang sampah seenaknya sehingga sampah-sampah tadi menyumbat aliran air. Pada dua dasawarsa terakhir, banjir di kota Medan makin meningkat, baik besaar maupun frekuensinya. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya debit banjir dari daerah tangkapan air, berkurangnya kapasitas saluran akibat sedimentasi, hilangnya tampungan banjir alamiah berupa rawa-rawa, dan akibat amblasan muka tanah. Namun adaptasi masyarakat malah menunjukkan hal yang sebaliknya. Masyarakat lebih memilih untuk beradaptasi untuk meninggikan rumah mereka untuk mengatasi masalah banjir. Disamping itu dalam kesehariannya masyarakat masih menggunakan Sungai Deli layaknya tempat pembuangan sampah. Oleh karena itu untuk melakukan penyadaran masyarakat dan melestarikan ekosistem Sungai Deli secara bersamaan adalah hal yang sulit dilakukan. Adaptasi masyarakat terhadap bencana banjir di Sungai Deli sudah sangat jauh dari cita-cita melestarikan ekosistem Sungai Deli. Manusia dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan cepat terhadap tekanan alam yang mereka hadapi.Ilmu pengetahuan modern membantu manusiamengurangi bencana dan meresponsnya dengan tepat.Pandangan bahwa ‘gempabumi tidak akan membunuh manusia, tetapi reruntuhan bangunanlah yangmembunuh mereka’ merupakan contoh yang jelas bahwa manusia sekarang

96 Universitas Sumatera Utara

telahmempersiapkan diri mereka untuk menghadapi bencana (Houh & Jones dalam Kusumasari, 2014). Selain itu, globalisasi dan peningkatan kerja samainternasional telah membantu penduduk dunia lebih efektif mengurangi bencanadan membatasi dampak buruk bencana terhadap manusia. Upaya manajemen bencana yang dilkukan Go River tidak dipungkiri jauh dari sempurna. Upaya yang dilakukan dirasa sudah cukup baik namun belum cukup memuaskan , mengingat setiap tahunnya banjir terjadi denga rasio yang tinggi. Go River sebagai komunitas yang peduli terhadap kelestarian Sungai Deli belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di DAS Sungai Deli. Dari segi sosial dan ekonominya, penduduk yang bermukim di sekitar Daerah

Aliran

Sungai

(DAS)

Sungai

Deli

ini

tergolong

masyarakat

yang berpenghasilan rendah. Sebagian besar masyarakat sekitar memiliki pekerjaan tetap dan ada sebagian juga warga yang bekerja serabutan dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, dimana warung-warung kecil yang merupakan

bagian kegiatan ekonomi

masyarakat bermunculan di kawasan ini. Masalah banjir berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu upaya untuk mengatasinya harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan pembangunan yang menyeluruh dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Metode yang dianggap ampuh untuk penangan banjir di kota Medan adalah penyelesaian integral yang harus segera diprogramkan, jika tidak maka hanya gali lubang tutup lubang, artinya penanganan banjir malahan dapat menimbulkan banjir di kawasan kawasan yang baru. Perlu perencanaan berjangka untuk mengatasi banjir di kota Medan. Antara lain menahan air di bagian hulu dan menarik air di bagian hilir, kemudian membagi air yang berlebihan tersebut (banjir) di sepanjang alur sungai dari hulu sampai ke hilir menjadi banjir kecil-kecil daripada terkumpul menjadi banjir besar di suatu tempat tertentu yang jarang penduduknya.

97 Universitas Sumatera Utara

Go River menyatakan dibutuhkan komitmen yang utuh dari pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan banjir di Kota Medan. Ada beberapa persoalan teknis dan non teknis yang dapat dijadikan acuan untuk mengurai banjir Kota Medan. Upaya penanggulangan banjir yang telah dilakukan maupun yang diprogramkan harus menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya, jangan hanya berkutat pada peningkatan kapasitas sungai atau saluran yang tidak mungkin dapat mengejar peningkatan debit banjir yang terjadi. Master Plan Pengendalian Banjir/Drainase harus diajadikan acuan dalam setiap kegiatan penanggulangan banjir, sehingga masih terjadi ketidaksinkronan system drainase yang terbangun yang ditangani oleh beragai instansi, lembaga, swasta maupun masyarakatnya sendiri. Go River berharap dengam kersama antar organisasi ini dapat mempermudah upaya perbaikan ekosistem Sungai Deli dapat dilakukan lebih efetif. Hal ini karena upaya perbaikan ekosistem dalam prakteknya dapat menyentuh sampai lapisan masyarakat di bantaran sungai.

98 Universitas Sumatera Utara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1.1.Kesimpulan 1. Program Manajemen bencana berbasis komunitas yang dilakukan Go River di laksnakan dalam tiga periode bencana : 1. Pra Bencana ( Menanam Untuk Kotaku, Sekolah Sungai, Bersih-Bersih Sungai, dan Sungai Deli Membaca); 2. Saat Terjadi Bencana (Emergency Response Plan dan Posko Tanggap Darurat); 3. Pasca Bencana (Riset Sungai Deli dan Menjaring Kelompok Peduli. 2. Go River mendorong adaptasi masyarakat di sekitar sungai Deli untuk meminimalisir kerugian saat terjadi bencana, melalui : 1. Adaptasi yang bersifat Non Teknis (Menjaga Sungai Dari Sampah; Barang Berharga di Tempat Yang Tinggi dan Menjauhi Genangan yang Kotor); 2. Adaptasi yang berdifat Teknis (Membuat Dinding Penahan di Bibir Sungai yang dekat dengan Pemukiman Penduduk, Membuat Tanggul dari Karung yang berisi pasir, dan Meninggikan bangunan/rumah yang terletak di bibir sungai) 1.2. Saran 1. Go River sebagai komunitas yang perduli terhadap keestarian Sungai Deli harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di DAS Sungai Deli. Hal ini untuk mendorong partisipasi masyarakat secara luas untuk ikut serta dalam melestarikan Sungai Deli. Partisipasi masyarakat selama ini program manajemen bencana dari Go River masih sanagt minim.

99 Universitas Sumatera Utara

2. Bagi masyarakat yang tinggal di DAS Sungai Deli harus selalu menjaga kelestarian DAS Sungai Deli dengan melakukan pola hidup yang sehat dan sadar lingkungan. Kebiasaan buruk masyarakat untuk membuang sampah dan kotoran ke sungai harus di hentikan. Masyarakat harus pro aktif baik bersama Go River maupun pemerintah setempat dalam menjaga kelestarian sungai Deli.

100 Universitas Sumatera Utara

Daftar Pustaka Buku dan Jurnal Penelitian Arief, Furchan. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya : Usaha. Nasional. Ashley, D.B. 1996. Modelling Project Performance For. Decision Making. Journal of Construction Engineering and Management. Biddle, B.J dan Thomas, E.J. 1966. Role Theory : Concept and Research. NewYork: Wiley. Dibyosaputro, Suprapto. 1998. Geomorfologi Dasar. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta. Elvana Febrianti. 2015. Strategi Adaptasi Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir (Studi Kasus: Kelurahan Pekan Tanjung Pura Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat) Gerungan, W.A. 1996. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco. Hadari Nawawi & Mimi Martini, 1994, Penelitian Terapan, Yogyakarta:Gajahmada University. Handayani, R, 2011. Analisis Partisipasi Masyarakat Dan Peran Pemerintah Daerah Dalam Pelaksanaan Manajemen Bencana Di Kabupaten Serang Provinsi Banten. Proceeding Simposium Nasional Otonomi Daerah. Hardoyo, Su Rito, dkk., 2011. Strategi Adaptasi Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Banjir. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Harjadi,dkk, 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya Di. Indonesia Edisi Ke II, Jakarta: BAKORNAS PB. Hardesty, D.L. 1977. Ecological Anthropology. McGraw-Hill, New York Mega Natalia. 2014. Banjir di Perkotaan (Studi Kasus kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun Kota Medan) Mistra. 2007. Antisipasi Rumah di Daerah Rawan Banjir. Depok: Penebar. Moser, Caroline O.N. 1998. The Asset Vulnerability Framework: Reassessing Urban Poverty Reduction. World Development. Nike Awaliyah, Esti Sarjant, Suwarno. 2014. Pengetahuan masyarakat dalamMitigasi bencana banjir Di desa penolih kecamatan kaligondang Kabupaten Purbalingga Ohmae, Kenichi. 1999. The Borderless World, rev ed: Power and Strategy in the. Interlinked Economy. Piolina. 2009. Banjir di kota Medan : Suatu Tinjauan Historis 1971-1990-an. Paripurno, Eko Teguh, 2008, Manajemen Risiko Bencana Berbasis Komunitas Alternatif Dari Bawah. Jurnal Politik Bumin dan Manajemen Bencana. Edisi I/Juni/Tahun II/2008 Ramli, Soehatman. 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana (Disaster Management). Jakarta. Dian Rakyat. Sahlins, MD. 1968. Culture and Environment:The Study of Cultural Ecology”, dalamRobert Manners dan David Kaplan(eds.) Theory in Anthropology ASourcebook). Chicago, Aldine.

101 Universitas Sumatera Utara

Satria, Arif & Alfian Helmi. 2012. Strategi Adaptasi Nelayan Terhadap Perubahan Ekologis. Jurnal Makara Sosial Humaniora 16: (1) 68 - 78. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia IPB. Singarimbun, Masri & Effendi Sofian. 2009. Metode Penelitian Survai. Jakarta :LP3ES Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan,. Bandung: PT Rosda Karya. Tarigan, Zulfahmi. Tesis. 2015. Strategi Adaptasi dan Mitigasi Bencana Banjir Pada Masyarakat Kelurahan aur kecamatan Medan Maimun. Medan. Universitas Sumatera Utara Zelina Triuri, Djaka Marwasta. 2013. Bumi Indonesia, Volume 1, Nomor 3. Dokumen Pemerintah dan Undang-Undang : Pedoman Umum PerlindunganSosial Korban Bencana Alam, 2012 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Laporan Pusat Kajian Strategis Departemen Pekerjaan Umum, 2009 Laporan Kebencanaan BPBD Kota Medan, 2016 Arsip Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2013

102 Universitas Sumatera Utara

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.