Anomali Pemikiran Islam Modern: Kritik Arkoun Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan


1 Anomali Pemikiran Islam Modern 1 Anomali Pemikiran Islam Modern: Kritik Arkoun Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan Samsul Huda Fakultas Adab dan ...
Author:  Handoko Pranoto

4 downloads 62 Views 764KB Size

Recommend Documents


PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM MODERN
1 PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM MODERN BUKU PEDOMAN PERKULIAHAN Program S-1 Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya Penulis: D...

Mohammed Arkoun dan Kajian Ulang Pemikiran Islam
1 Mohammed Arkoun dan Kajian Ulang Pemikiran Islam Sulhani Hermawan, M.Ag.* Abstract: This paper discusses about Mohammed Arkoun and his ideas about r...

SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM
1 SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM2 SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM Tim Penyusun Tugas SKI-B Desain Cover : Gerry Nugroho Prasetyo Editor Tat...

KRITIK ISLAM TERHADAP MARXISME: TELAAH PEMIKIRAN ALI SYARI ATI
1 KRITIK ISLAM TERHADAP MARXISME: TELAAH PEMIKIRAN ALI SYARI ATI SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Neg...

PEMIKIRAN ISLAM DALAM SASTRA ARAB MODERN
1 PERADABAN ISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM SASTRA ARAB MODERN Oleh Nurcholish Madjid Salah satu gejala di kalangan ...

Rekontruksi Tradisi Islam (Studi Pemikiran Muhammed Arkoun tentang Sunnah)
1 Rekontruksi Tradisi Islam (Studi Pemikiran Muhammed Arkoun tentang Sunnah) Pendahuluan Mohammed Arkoun mengakui bahwa sunnah merupakan salah satu su...

Pendidikan Spiritual (Analisis Pemikiran Mohammed Arkoun)
1 111 Dinamika : Vol. II, No. 2, Juli - Desember 2017 Pendidikan Spiritual (Analisis Pemikiran Mohammed Arkoun) Ashif Az Zafi STAINU Purworejo Abstrak...

BAB III: PEMIKIRAN PEMBAHARUAN ISLAM HMI. Bab ini akan membuat huraian mengenai beberapa pemikiran keagamaan HMI
1 BAB III: PEMIKIRAN PEMBAHARUAN ISLAM HMI 3.1. Pengenalan Bab ini akan membuat huraian mengenai beberapa pemikiran keagamaan HMI mengenai Islam, teru...

PPMDI. Perkembangan Pemikiran Modern Di Dunia Islam. bektibeza.com
1 PPMDI Perkembangan Pemikiran Modern Di Dunia Islam bektibeza.com2 SILABUS 1. Pembaharuan Islam di Mesir 2. Pembaharuan Islam di Turki 3. Pembaharuan...

PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUL MANNAN TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI ISLAM ERA MODERN
1 vi PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUL MANNAN TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI ISLAM ERA MODERN Oleh NUKRA NIM PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH JURUSAN SYARIAH ...



Anomali Pemikiran Islam Modern 1

Anomali Pemikiran Islam Modern: Kritik Arkoun Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan Samsul Huda Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ide-ide Arkoun menyajikan metode memahami Islam. Seperti diketahui, masalah yang menantang bagi paradigma kontemporer adalah bagaimana memahami "realitas" Masyarakat Islam. Meskipun sejak muncul kasus kejahatan transnasional, seperti terorisme, sehingga memberi stigma kaum muslim global sebagai aktor dan membawa stigma buruk terhadap Islam, beberapa Muslim mencoba untuk merespon dan membela Islam. Arkoun mengatakan bahwa kita harus mempelajari Islam dan posisinya dalam sejarah secara komprehensif, baik vertikal maupun horizontal. Dengan cara demikian, berkembanglah metode untuk memahami kedua realitas; Islam dan dunia global dengan lebih baik. Kata-Kata Kunci: Ortodoksi Pemikiran, Teori Kritik dan Dekonstruksi

A. Pendahuluan Paradigma pemikiran dunia kontemporer secara global berkembang berdasarkan rancang bangun epistemologi Barat yang cenderung empirik-postivisitik. Paradigma ini disamping melahirkan perkembangan sains dan teknologi, tapi telah memicu aliran pemikiran-pemikiran baru yang dinamis dan beragam seperti relativisme, nihilisme dan berbagai varian aliran lainnya yang timbul sebagai implikasi dari epistemologi empirikpositivistik yang menegasikan aspek metafisik-spiritualistiktransdental. Di sisi berseberangan muncul beberapa aliran Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

2

SAMSUL HUDA

pemikiran alternatif sebagai respon yang cenderung flash back, misalnya perennialisme, sebagai antitesis alternatif terhadap pemikiran modern yang cenderung kering dari pemikiran yang bersifat “spiritualistik” dan transendental paling tidak merupakan varian “penting” dalam paradigma pemikiran modern, terutama jika digunakan dalam memahami wacana intelektual yang menyentuh aspek-aspek religiusitas. Dalam tulisan ini ditampilkan salah satu model pemikiran seorang intelektual muslim yang mempunyai latar belakang dua peradaban: Islam dan Barat, kendatipun ia sendiri menolak dikotomi antara keduanya.seorang Muhammad Arkoun, kelahiran Kabilia, Aljazair, 1 Februari 1928, keturunan suku Barber yang secara kultural tidak mengenal tradisi tulis, lebih mengenal tradisi kesufian sebagai warisan gerakan “Islamisasi jihad” Dinasti alMurabithun (abad ke-5 H) dan al-Muwahhidun (abad ke-6 H).Untuk diketahui, bahwa Arkoun muda tumbuh dalam suasana sosiopolitik kolonialisme Prancis, yang menguasai sebahagian besar daratan Afrika (termasuk Aljazair) sejak 1830. Arkoun muda terdidik di sekolah dan akademi Perancis yang secara langsung menginternalisasikan budaya-kultural dan system pendidikan terhadapnya. Konstruk berpikirnya mempunyai kesamaan dengan tokoh post modernis Jaquest Derrida yang identik dengan teori dekonstruksi. Teori dekonstruksi Derida ini mempunyai metode inside critic, yaitu upaya mengungkapkan aneka ragam aturan yang sebelumnya tidak diverbalkan dalam bahasa teks, misalnya tentang ”sesuatu yang tak terpikirkan” dan “tidak dipikirkan”.1 Dua objek terakhir, sering menjadi objek analisis Arkoun dalam proses dekonstruksi. Berusaha menemukan kembali makna yang hilang atau terlupakan karena pelbagai proses pembekuan yang terjadi dalam dunia Islam dan menimpa Islam. Termasuk refleksi Arkoun terhadap makna-makna yang tak terpikirkan dalam pola hubungan barat dan timur dalam Era modern, seperti penolakan Arkoun terhadap opini yang dikembangkan sebagian orientalis dan Islam militan terhadap Barat dan Timur sebagai dikotomi Islam dan barat, baik secara budaya-tradisi, maupun dikotomi cara berpikir. Dalam mempresentasikan Arkoun sebagai salah satu tokoh pemikir Muslim dalam wacana global kontemporer, penulis menggunakan pendekatan kritik rational dengan beberapa metode Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 3

filosofis seperti heuristika dan analisis hermeneutik.Beberapa pisau analisis ini secara random digunakan dalam kerangka menemukan bagian penting dari holistika (keseluruhan) rancang bangun pemikiran Arkoun. B. Islam dan Barat Dalam Pandangan Arkoun Terma Barat dan Timur dalam tulisan ini adalah untuk menggambarkan pemikran masyarakat Barat dan Masyarakat Islam, yang merefleksikan dua kekuatan peradaban yang pernah mencapai puncak kejayaan. Padahal didalam dunia Islam sendiri juga dikenal istilah Barat dan Timur yang menggambarkan Islam di kawasan Maghrib dan Islam dikawasan Masyriq, yang menurut Abid al-Jabiry adalah merefleksikan kekayaan khazanah Islam-Arab yang memberikan semangat pada zaman berikutnya untuk mencapat kejayaan.2 Sementara itu Arkoun sangat kritis mencermati kondisi hubungan Islam dan Barat yang telah mengalami pasang surut.Ia mengidentifikasi beberapa sumber yang menyebabkan munculnya dikotomi persepsional tentang Islam dan Barat, termasuk budaya-kultur dan dikotomi pemikiran sendiri. Di antaranya, Arkoun mengevaluasi pandangan orientalis dan mengkritisi sebagian fenomena Islam kontemporer yang cenderung militan dan radikal. Kebangkitan Dunia Barat ditandai dengan meningkatnya kepercayaan pada ide sekuler, rasional dan ide universal sejak masa pencerahan.Meskipun banyak kritik antara lain dari Romantisme, Nihilisme dan postmodernisme, Barat masih tetap menuju satu titik; ekonomi yang rasional dengan system pasar (Kapitalisme Liberal), satu sistem politik dengan demokrasi liberal dengan satu metode riset yang empiris-postivistik. Kekuatan teknologi yang dibangun diatas cara pandang sekuler rasional ini jauh meninngalkan dan menguasai Negara-negara Islam mulai abad ke-19an. Hegemonitas ini sampai pada level ideologis-kultural dimana para Elite di Negara-negara Islam sampai memandang Barat sebagai pusat peradaban dan sebaliknya memandang rendah peradaban sendiri. Secara aksiologis dan epistemologis, Orientalisme Barat berperan besar merekayasa kondisi ini dengan menciptakan persepsi “pengidealan” Islam atau puncak kemajuan Islam dengan Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

4

SAMSUL HUDA

zaman pertengahan untuk menunjukkan bahwa Islam seterusnya tidak mungkin kemabali mencapai titik puncak kemajuan lagi atau mencapai protype realitas Islam ideal. Sehingga masyarakat Islam cenderung memandang kepercayaan dan masyarakatnya sendiri lebih rendah dari struktur masyarakat Barat, bahkan tidak sesuai dengan modernitas. Kendati berperan besar dalam mempromosi dunia Islam terhadap Barat, para orientalis sekaligus juga membantu menjinakkan Islam dan ajaran-ajaran Islam yang “menyimpang”.3. Celakanya, timbul stigma terhadap pola hubungan Islam dan Barat. Buku Oriental (1978) yang ditulis oleh Edward W. Said secara akurat menelanjangi kepentingan politis budaya Barat yang lebih besar di balik kepentingan akademis dalam studi orientalisme.4 Said melihat sebagian besar orientalis – ia menunjukkan Lois Masignon (Perancis), Sir Hamilton Gibb dan Orinetalis Amerika kontemporer telah “mendistorsi” ide universalisme secara sadar maupun tidak, dengan memberikan gambaran dunia oriental (Islam khususnya) untuk kepentingan budaya Barat, bahkan untuk kepentingan bisnis. Stigma dikotomis ini diperbesar oleh “prediksi” ilmiah Samuel P. Huntington sebagai Clash of Civilization .Huntington, professor pengembangan sains di Harvard University oleh sebagian Islamolog dan orientalis lainnya dipercaya sebagai terpengaruh oleh pola piker “dualism dichotomic”, seorang yang merekayasa image buruk terhadap Islam.Ia menggunakan teori perkembangan konflik dalam menganalisis perkembangan masyarakat dunia ke masa depan yang global tapi “mengecil”. Dunia dalam asumsi perkembangannya akan menjadi “global village”. Anehnya dalam konteks “desa kecil” tersebut, Islam yang hanya dipahami secara “fisik” dianggap punya potensi konflik paling besar terhadap Barat Yudio-Kristen.5 Kendati demikian apa yang diramalkan Huntington jauh-jauh hari sebagian menjadi kenyataan dengan munculnya terorisme dan gerakan separitisme seperti al-Qaida dan ISIS (Islamic State in Iraq and Suriah). Pendapat Huntington ini memancing reaksi-balik dari beberapa orang orientalis lain seperti J. Falk sebagai tidak akurat memandang perkembangan global dan ingin menutupi hegemoni terselubung Barat melalui ide “universalisme” yang keliru. Reaksi serupa timbul dari banyak kalangan umat islam, termasuk Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 5

kelompok pemikir reformasi rekonstrukstif. Salah satu tokohnya Ziauddin Sardar bahkan sampai mengumandangkan jihad Intelektual melawan imperialisme barat pada abad modern, yang ia sebut sebagai “kolonialisme Epistemologis” menghegemoni cara pemikiran penyelidikan kelimuan (mode of thought and inquiry.6 Dalam konteks ini pula Arkoun memiliki kontribusi. Pemikirannya bersama tokoh lain seperti ‘Abid Al-Jabiry, Hasan Hanafi, Na’im, Sahrur, jauh melampaui pembaharu-pembaharu Islam lainnya dalam memandang barat. Arkoun melihat, pembaharu-pembaharu seperti Abduh dan yang lainnya, meskipun berani dan mencerahkan, masih beradadalam level pemikiran yang bersifat apalogistik: karena, mereka mencoba membuktikan bahwa Islam telah mengatisipasi ilmu pengetahuan modern, kapitalisme, sosialisme dan demokrasi liberal. Bagi Arkoun, pemikir-pemikir apologis semacam ini keliru membaca sejarah dengan membaca secara terbalik : mencoba menghadapi Barat sentris dengan Islam sentris; mencoba mempertahankan ide bahwa hanya ada satu Islam yang superior dan eksklusif yang mampu memperoleh kebenaran. Padahal konstruk pemikiran menurut Arkoun merupakan pinjaman Yunani dan tidak lebih toleran dari teori modernisasi barat terhadap keragaman budaya dan ideologi. Secara epistemologis, Arkoun membahasakan realitas tersebut dengan tirani pemikiran, baik di Barat maupun Islam sendiri.Seketika Arkoun mengkritisi banyak hal mengenai barat maupun Timur yang mempercayai superioritas akal, karena kepercayaannya itu sendiri tidak dapat dibuktikan oleh akal.Arkoun mengejek demokrasi liberal karena menafikan hutangnya pada peradaban Kristen. Menyerang umat islam dengan superioritas ilmu pengetahuan, mengklaim dapat membedakan “kebenaran” Islam dari kesesatan, “kebenaran seorang muslim” dari seorang yang menyebut diri sebagai muslim. C. Anomali Pemikiran Islam Modern Menurut Arkoun, ada fenomena “aneh” dalam perkembangan rancang bangun pemikiran keislaman kontemporer yang mengalami set back pemikiran. Mislanya, klaim beberapa gerakan Islam kontemporer adalah bahwa akal harus ditundukkan oleh wahyu, sehingga pada tataran praktis politik pejuang Islam Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

6

SAMSUL HUDA

kontemporer baik yang di west bank, Iran atau Aljazair, Afghanistan, Suriah, Lebanon bahkan di Asia Tenggara tidak mengikuti premis kaum pembaharu akan kesesuaian Islam dengan pikiran Barat atau tidak ada dikotomi. Sebaliknya, mereka malah menolak akal karena menganggap bertentangan dengan wakyu.Mereka hanya menggunakan akal sebagai sarana untuk konfirmasi, kejelasan dan penataan keyakinan.Apa yang diidentifikasi oleh Arkoun sebagai ‘premis tersembunyi” dalam kebanyakan pemikiran Islam sebagai obsesi pemikiran Islam, menjadi jelas dalam program gerakan-gerakan Islam ini. Daya tarik mereka terdapat pada upayanya yang tergesa-gesa menolak barat sentris dan menggantikannya dengan versi Islam sentris yang baru, lebih “berani”, keras dan kurang toleran. Mereka menetapkan siapa yang “Muslim sejati” atau bukan muslim sejati (anwar sadat, Kemal Attaturk, Syah Iran Reza pahlevi tidak termasuk dalam kategori mereka).Mengklaim dan memonopoli kebenaran atas nama agama dan cara mereka sendiri. Menurut sebagian kelompok ini, mereka yang tidak melawan muslim“palsu” tidak dapat disebut “muslim sejati”. Bagi Arkoun, tirani kepercayaan semacam ini, seperti halnya tirani pikiran, tidak dapat diterima. Di dunia kontemporer beberapa gerakan dan kelompok radikal dan aliran keras Islam yang semakin terkenal identic dengan teroris (klaim barat dan sebagian Negara berpenduduk muslim) seperti kelompok al-Qaida dan Jama’ah Islamiyah (JI) bahkan yang terakhir kemunculan kelompok Boko Haram di Afrika dan ISIS di Timur Tengah, mungkin ini yang disebut oleh Arkoun masuk dalam kategori mereka yang suka memonopoli dan memaksakan kebenaran perspektrif sendiri dengan jalan kekerasan. Arkoun sebenarnya telah mengarahkan pikiran-pikirannya melalui arus berbahaya, antara universalisme barat yang cenderung memarginalkan semua tradisi islam dan kebangkitan islam yang menempatkan diri pada posisi yang aneh baik dipandang oleh tradisi barat maupun tradisi Islam sebagai dipahami oleh kebanyakan umat islam pada empat belas abad yang lalu yakni fundamentalisme untuk tidak menyebut anarkisme. Landasan utama pikiran Arkoun adalah sejarah, antropologi, semiotisme, sosiologi dan filsafat postmodern. Arkoun mencoba Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 7

memperlihatkan bahwa islam berarti banyak hal bagi banyak orang pada epos yang berbeda. Tidak ada logika yang dapat menolak pendapat-pendapat ini termasuk seorang figure supernatural dari pelosok Aljazair, teori filsafat Ibnu Sina, atau kelompok mistik, bakhan Osamah bin laden sebagai tidak islami. Bagi Arkoun, sejarah masyarakat Islam sangat berkaitan dengan dunia Barat. Tidak ada dikotomi antara pemikiran Barat dan pemikiran Islam.Keduanya saling menyatu.Keduanya harus dihargai sekaligus dievaluasi. Keduanya harus dipandang dalam konteks satu sejarah mengenai “kelompok ahl Kitab”, menurut istilah Arkoun, cara pandang demikian dapat mereformasi universalitas tanpa merusak partikularitas. Pengungkapan mata rantai dan persinggungan sejarah yang baik dan objektif tentang hubungan masyarakat diberbagai belahan dunia dengan berbagai kultur–budaya dan agamanya menjadi kuncimembangun poemahaman tentang dunia bebas tanpa batas dikotomik.Namun untuk diketahui ada pendapat berbeda, bahwa sejarah merupakan hal yang sangat merusak, sebagaimana pengamatan Nietzsche.Historisme dalam arti luas mengajarkan bahwa tiada ide maupun tindakan manusia tahan (immune) terhadap erosi waktu. Arkoun mempunyai perspektif berbeda dari apa yang telah dikemukakan filosof terdahulu. Menurutnya metodologi sejarah yang secara konvensional digunakan oleh banyak peneliti sejarah termasuk oleh sebahagian besar orientalis dan Islamolog adalah “metode tradisional.”Metode tradisional selalu mengulas pemikiran-pemikiran teologis, sejak akar-akarnya yang pertama hingga perkembangannya saat ini. Jika diterapkan untuk meneliti fikih, maka yang dikaji seorang ahli fikih atau ilmu fikih secara keseluruhan, maka yang dilakukannya adalah sebatas mengkaji semua itu secara “linear”, “kronologis” dan “lurus”, sejak masa kuno hingga masa modern. Ada banyak buku akademik mengenai teologi, filsafat dan fikih yang mengikuti cara ini. Jika seorang membacanya, ia akan merasa seolah-olah menemukan seluruh isi teologi dan filsafat. Mersakan adanya kontinuitas waktu yang bergerak secara linear dari dahulu hingga sekarang.Ini barangkali, disebut Arkoun sebagai metode vertical (alManhaj al-‘amudiyyah). Sedangkan Arkoun membaca sejarah dengan metode horizontal dan vertical secara bersamaan. Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

8

SAMSUL HUDA

Metode vertikal yang tradisonal sebenarnya sudah dimulai sejak aristoteles dan berakhir pada filosof seperti Bergson, Saltre dan lainnya. Waktu dalam metode ini dipahami sebagai satuan bergerak lurus ke depan dari awal sampai seterus akhirnya. Bagi Arkoun, metode vertical harus digabung dengan metode horizontal dalam melihat sejarah. Metode ini misalnya mengkaji kronologi sejarah dengan melihat unsur hubungan antara kegiatan intelektualitas seorang di satu pihak dengan keseluruhan perkembangan pengetahuan dan system pemikiran yang dominan padamasanya di phak lain. Karena harus dipertimbangkan, bahwa seorang penulis terkadang tidak mengetahui seluruh perkembangan pemikiran pada masanya.7 Tantangan terhadap perspektif Arkoun adalah bahwa daya tarik utama suatu agama seperti Islam terletak pada klaimnya mengenai akhirat.Kebenaran yang justrudi luar sejarah yang bersumber pada dan dari Tuhan.Contohnya, sebagian besar umat Islam percaya bahwa al-qur’an bukanlah makhluk, karena kalau demikian, seseorang dapat berkata tentang masa ketika Tuhan menciptakannya.Umat Islam lebih suka mengatakan bahwa alQur’an menyatu dengan Tuhan sehingga berada diluar jangkauan perusakan sejarah. Jika umat Islam mencoba mengerti Islam sebagai bagian sejarah manusia, sebagaimana yang dikehendaki Arkoun, mengklaim kebenaran Islam tidak akan dapat dihanyutkan oleh aliran kejadian-kejadian sejarah. Anehnya Arkoun tetap berpikir sebagai diulas di atas. Berdasarkan analisisnya yang tajam terhadap filasafat Islam zaman pertengahan atau gerakan Islam militant pada zaman modern, ia memiliki komitmen moral yang dalam untuk sebuah dunia yang lebih berdasarkan pengertian yang juga lebih mendalam mengenai Islam dan hubungan sejarahnya dengan agama Yahudi dan Nasrani. Ia percaya akan kemampuan sains dan ilmu kemanusiaan dalam memperlakukan simbol, pandangan dan teks sebagai bagian dari kebenaran agama; ia berharap agar umat Islam dan non Muslim bekerja sama mengevaluasi kembali “masyarakat Ahli Kitab-ahli Kitab, masyarakat dengan tradisi Yahudi, Kristen dan islam. Walaupun Arkoun membantah adanya seseorang yang menyebutkan “kebenaran Islam”, ia menganjurkan orang tersebut untuk sabar menegakkan apa yang telah dipikirkan mengenai Islam Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 9

dan apa yang tetap tidak mungkin atau tidak dapatdipikirkan. Dan dalam keutuhan pemahaman ini, terdapat suatu kebenaran yang utama mengenai Islam yang dipakai sebagai bahan perbaikan dan identitas umat islam yang sekaligus sebagai jembatan kedalam masyarakat ahli Kitab. Ilmu kemanusiaan menurut Arkoun, dapat merekatkan tradisi Islam yang pecah dan menggesernya ke dalam dunia yang selalu menjadi bagian dari Islam. Seperti inilah proyek ambisius Arkoun. Cita-cita Arkoun ini tentu saja tergantung dari diskusi terbuka mengenai isu yang sensitif baik di Barat maupun di Timur yang dewasa ini justru mengalami ketegangan dan tekanan, dan pada periode tertentu mengalama pasang surut. Di Barat, berkaitan dengan upaya mengevaluasi kembali tradisi orientalisme dalam studi Islam, yang cenderung melihat umat Islam sebagai bagian terpisah dari tradisi Barat dengan memandang Islam dari teks dan praktek yang disimpulkan dari dinamika sejarah; dengan implikasi, pemahaman murni terhadap Islam melamp[aui kapasitas orang yang tidak mengerti bahasa Arab dan tidak terlibat secara mendalam dalam budaya Islam. Pembela-pembela tradisi islam juga ambil posisi yang sama. Jadi bagian dari masalah ini, baik di Barat maupun di Timur, adalah masalah metodologi dan epistemologi. Hambatan lain mengenai pemikiran Islam kembali adalah politik. Arkoun sering menyatakan bahwa tidak ada kerja kreatif mengenai tradisi Islam yang dapat dikerjakan secara independen di dunia Arab (dalam hal ini ia berbeda dengan ‘Abid al-Jabiry yang sangat optimistis) sekarang ini.Hubungan yang erat antara nasionalisme dan pemerintahan otoriter dalam menyalahgunakan Islam untuk kepentingannya sendiri atau mengontrol gerakan Islam militant untuk alasan yang cukup jelas menyebabkan tidak mungkin tercipta karya ilmiah yang orisinal.Kapasitas ilmu sosial dalam memperoleh kebenaran Islam berngantung pada atmosfir politik yang kondusif bagi kebebasan akademik dan penemuan ilmu pengetahuan.Pemikiran kembali Islam tergantung pada kebebasan berpikir. D. Respon Kritis Pemikiran Islam Islam sebagai ekspresi politik saat ini diberbagai negeri berbasis Muslim menarik perhatian semua pengamat. Mereka melihat Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

10 SAMSUL HUDA

paradox: agama yang begitu banyak menekankan transendensi dan keesaan Tuhan, yang mengistimewakan hubungan antara manusia dengan yang Mutlak, terus setuju dalam penyimpangan wacana politik, khususnya sejak tahun 1970-an. Militansi kontemporer dapat dilacak dari kemunculan Ikhwan al-Muslimin di mesir era 1930-an sampai era kekacauan politik di Mesir dewasa ini, tetapi karena mereka tidak pernah memegang kekuasaan, maka wacana mereka masih mengusung isu-isu religious. Betapa luasnya hubungan pemikiran Islam dan politik dalam Islam kontemporer. Seorang perlu melihat secara holistic hubungan antara keduanya dan memahami pikiran-pikiran modern yang diperdebatkan sebagai wacana sosio-politik hingga pada gerakan-gerakan yang sangat radikal seperti al-Qaida dan Jama’ah Islamiyya, dan yang terakhir Islamic State in Iraq and Suriah (ISIS) yang berubah menjadi Islamic State (IS). Analisis kritis yang dianjurkan Jurgen Habbermas tentang “Wacana filosofis modernitas”8 menurut Arkoun bias digunakan untuk melihat realitas pemikiran kontemporer.9 Analisis kritis habbermas tidak membiarkan pemikiran itu membeku menjadi “delusi” atau kesadaran semu yang menghambat praksis sosial merealisasikan kebaikan, kebenaran dan kebebasannya telah berubah menjadi “ideology”.Teori kritik dalam hal ini berkepentingan membebaskan sekaligus menyembuhkan masyarakat yang dikungkung ideology-pemikiran melalui kritik ideology.10 Terlebih-lebih yang berkembang adalah itu adalah ideologi kekerasan yang menggunakan agama untuk tujuan politik. Kritik pemikiran baik yang bersifat dekonstruktif maupun rekonstruktif, perlu didorong untuk terus “going to process” dalam pemikiran Islam kontemporer.11 Contohnya, kritik terhadap kelemahan pemikiran Islam klasik, yang akan segera tampak kepermukaan jika alur pemikiran tersebut dihadapkan pada kenyataan atau realitas sosial-empirik kehidupan manusia yang senantiasa berkembang dan berubah, sejalan dengan perkembangan ilmu dan peradaban manusia. Untuk itulah seorang pemikir abad ke-20 seperti Fazlur Rahman menggaris-bawahi perlunya systematic reconstruction dalam bidang teologi, filsafat dan ilmu-ilmu sosial dalam wilayah pemikiran Islam.12 Berbagai persoalan empririk yang melekat dalam realitas kehidupan Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 11

masyarakat modern seperti kemiskinan, hak asasi manusia, demokrasi, lingkungan hidup, kebodohan, keterbelakangan, penindasan dan terorisme, dirasakan oleh para pengamat dan kritikus keagamaan kurang mendapat tempat dan porsi kepedulian yang proporsional dari pemikiran teologis para ulama, dan tidak menutup kemungkinan juga dari pemikiran intelektual produk pendidikan modern yang mempunyai latar belakang alur pemikiran yang sama. Literature pemikiran teologi misalnya, masih belum beranjak dari rumusan persoalan teologi abad tengah seperti persoalan qadariyyah (free will) dan jabariyyah (predestination), sifat dua puluh Tuhan, apakah al_qur’an diciptakan dalam kurun waktu tertentu atau kekal abadi. Tema-tema seperti itu masih terus diulang dalam literature teologi klasik dan modern baik di lingkungan Pesantren dan forum keagamaan lain. Dengan lain ungkapan, teologi Islam masih diwarnai dan didominasi oleh corak pemikiran yang bersifat transdental-spekulatif dan kurang menaruh minat pada persoalan-persoalan realitas empiris kehidupan masyarakat.13 Ironinya, dalam dunia Islam sekarang ini, berkaitan dengan pembangunan masyarakat dan pemikiran Islam.Situasi dalam komunitas Islam dibanyak Negara berbasis pemeluk Islam mayoritas mengalami suasana politik kurang kondusif.Toleransi dan pluralitas yang dipandang sebagai dua di antara nilai-nilai yang sangat dibutuhkan untuk menunjang interaksi manusia global, mulai pudar. Sarjana seperti Bernard Lewis dengan resah membuat ilustrasi kasus Yahudi:Banyak bab dalam sejarah panjang umat Yahudi. Yunani Alexandria adalah tempat kelahiran philo, Babylonia adalah tempat turunnya taurat, Spanyol (Islam) Abad pertengahan adalah tempat bersemainya kesusteraan Ibrani yang amat kaya; dan orang-orang Yahudi Jerman dan Polandia menulis bab-bab utama sejarah umat Yahudi di masa modern. Semuanya telah lenyap, yang tersisa adalah monument dan kenangan mereka. Simbiosis Yahudi-Islam adalah periode lain kehidupan dan kreativitas Yahudi –sebuah bab yang panjang, kaya dan penting dalam sejarah umat yahudi. Kini semuanya telah lenyap.14 Sejalan dengan ilustrasi sejarah yang diungkapkan oleh Lewis di atas, Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

12 SAMSUL HUDA

toleransi dan pluralism adalah hal baru bagi semua agama.Keduanya adalah nilai-nilai modern, dan keduanya juga bagian dari tantangan modenitas. Karena itu, tampak salah satu pertanyaan penting yang harus dijawabadalah: apakah Islam memberi peluang bagi berlangsungnya perubahan dalam beberapa orientasi keagamaan dan kulutralnya, seperti tuntutan waktu dan ruang dan adaptasinya terhadap lingkungan temporal dan spasial yang berbeda-beda dan berubah-ubah?.15 Disinilah letak porsi urgensitas tesis filsafat ferennial dalam wacana pemikiran modern. Ketika kehidupan modern yang materialistic, hedonis dan sekuler telah menjadikan manusia “budak” mesin-mesin mekanis, beku dan membawa kejenuhan intelektualitas, filsafat ferennial menawarkan dua fungsi: Pertama, pemahaman dan penghayatan spiritualitas yang menjadi penyeimbang kehidupan material manusia. Kedua, dalam tataran pemahaman terhadap spiritualitas akan dapat dijalin hubungan harmonis antar berbagai agama. Komaruddin Hidayat membahasakan tesisnya tentang urgensitas filsafat perennial dengan mengatakan : “Kebenaran sejati hanya satu, bersumber dan bermuara pada yang Maha besar.Hanya saja manifestasi dari kebenaran itu selalu tampil dalam wujud yang plural.Di balik pluralitas itu ada kebenaran yang tunggal, namun tidak mungkin diketahui secara tuntas oleh manusia.Sebab realitas metafisis ontologis selalu berada di luar daya jangkau manusia. Oleh karena itu, semua agama selaluhadir menyapa manusia dengan bantuan medium sejarah dan kultur, dengan demikian pluralitas pemahaman agama merupakan keniscayaan teologis, psikologis dan historis”.16

Kebenaran perennial di atas sejalan dengan pemikiran Arkoun yang mencoba memahami lapisan-lapisan pemikiran dan penafsiran dalam agama sebagai pluralitas.Namun dengan “akal islam” harus dipahami dengan kritis bahwa keseluruhan penafisran keagamaan tunduk ke dalam “akal Islam” yang berserah kepada satu yang “Ultimate.” Partikularitas penafsiran harus dipahami sebagai kesatuan plural yang berproses berdasarkan satu sumber pembentuk dalam Islam : al_Qur’an/wahyu, sehingga tidak aka nada pembakuan terhadap berbagai penafsiran dan pemikiran. Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 13

E. Kritik Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan dalam Islam

Sementara di Eropa muncul pemahaman dan penafsiran agama secara ilmiah dalam konteks yang telah dibumikan mulai abad 16 dengan ide-ide pembaharuan pemikiran yang disebarluaskan oleh Luther dan zaman renaissance (lewat pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, antropologi dsb, bahkan kini dengan sains-teknologi), sedangkan dalam masyarakat Islam muncul sikap dan pemahamn ortodoksi yang bersifat skolastik, pengulangan kata-kata melebihi dari cukup dan tidak elastis memaksa munculnya pemahaman pandangan yang semakin bertambah sempit terhadap Islam sendiri. Yang penulis maksudkan adalah bahwa pemahaman Islam yang bersifat bebas dan penuh dimensi dengan berbagai aliran pemikiran yang saling berlomba mempertajam konsep seperti telah pernah terjadi pada dunia Islam masa keemasan sebelumnya telah dilupakan dan malah sengaja dihapuskan dalam setiap Negara muslim melalui penekanan pada satu aliran hukum resmi (official) yang bersifat cenderung represif. Sekarang ketika seorang muslim menuntut untuk menghidupkan ajaran Islam yang “otentik”; “asli”, atau salafi, semua tuntutan itu sebenarnya hanyalah pada pemahaman Islam yang bersifat monolitik, miskin nuansa dan semakin bertambah sempit, terpotong dari akar debat intelektual yang sangat kaya nuansa di antara para pemikir selama periode klasik.17 Sebelum para pemeluk agama mampu secara tegas memisahkan pengertian agama sebagai objek studi dan agama sebagai bagian keyakinan hidup yang ultimate, selamanya akan sulit muncul apresiasi yang cukup memadai terhadap bentuk studi agama, secara historis-empiris. Menurut telaah filsafat ilmu, selamanya antara “pure sciences” (yakni agama sebagai objek penelitian para ilmuan agama) dan “applied sciences” (agama sebagai pedoman hidup dan amalan-amalan praktis para pemeluknya) selalu akanada jarak. Barangkali hanya dalam wilayah “pure sciences” lah studi orientalisme dapat kita letakkan secara proporsional. Dalam wilayah pure sciences, ilmu agama dan sosial dituntut untuk bersikap seobjek mungkin sehingga memperoleh gambaran apa yang dianmaakan fundamental structures dari pada pengalaman keagamaan manusia. Bentuk studi kritis juga terletak Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

14 SAMSUL HUDA

pada wilayah pure sciences yang digeluti oleh para orientalis.Namun hal ini tidak menajdi monopoli para orientalis saja.18 Seorang Fazlur rahman, Seyyed Hosein Nashr, M Arkoun, alJabiry misalnya dapat menempatkan diri sebagai ilmuan yang kritis. Kritik sering dialamatkan kepada para orientalis, bahwa keahlian dan kecakapan merekahanya terbatas pada aspek eksternalitas dari agama.Mereka tidak dapat memahami aspek internal dari agama yang mereka teliti.Acuan sandaran terhadap aspek eksternalitas dan internalitas agaknya juga kurang tepat sasaran dalam studi agama yang sudah mempunyai paradigma sendiri.Mencampur adukkan antara keduanya, tanpa penjelasan lebih lanjut, agaknya kurang proporsional. Karel Steenbrink pernah mengemukakan hal tersebut pada artikelnya dengan menyebut kecenderungan orang Islam, juga penganut agama lain untuk mencampur adukkan antara keduanya, yang semestinya perlu dibedakan secara jernih. Padahal telah sejak awal telah muncul postulat filosofis mengenai “keberagaman” dari Imannuel Kant, bahwa ada the world an sich yang disebut dunia noumena dan ada human consciousness yang disebut dunia fenomena.19 Dengan metode empathy dan einfuhlung, di sinilah kemungkinan dipahami letak perbedaan apa yang disebut filsafat agama sebagai bahasa spektator dan bahasa aktor. Peneliti spektator cenderung melihat sisi eksternal sebuah agama melalui praktek dan teks agama. Sebaliknya peneliti aktor akan menghadapi kendala psikologis dengan cenderung melihat internalitasnya, karena bagaimanapun juga ia akan berhadapan dengan pengalaman dirinya secara personal dalam agama tertentu. Kembali mengenai proses konstruk pemikiran dalam dunia Islam, Arkoun dalam beberapa tulisannya berulangkali mensinyalir bahwa telah terjadi pelapisan pemikiran Islam sehingga meminggirkan aspek historisitas kemanusiaan yang selalu “going to process”. Kondisi yang hingga sekarang ia deskripsikan: “..Para ahli fikih yang sekaligus teolog tidak mengetahui hal itu.Mereka mempraktikkan jenis interpretasi terbatas dan membuat metodologi tertetntu, yakni fikih dan perundangundangannya. Dua hal ini mengubah diskursus al-Qur’an yang Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 15

mempunyai mitis-majazi, yang terbuka bagi berbagai makna dan pengertian, menjadi diskursus baku yang rigit dan—telah menyebabkan diabaikannya historisitasnorma-norma etikakeagamaan dan hukum-hukum fikih. Jadilah norma-norma dan hukum fikih itu seakan-akan berada di luar kemestian sosial; menjadi sacred (suci): tidak boleh disentuh dan didiskusikan”.20

Menurut pengamatan Arkoun, bahkan sekarang, banyak terjadi proses apa yang disebut dengan “taqdis al-afkar al-diny,”21 sebuah wacana yang berkembang menuju proses “pensakralan” pemikiran-pemikiran keagamaan seorang muslim seolah-olah menjadi taken for granted dan ghair qabil li al-niqash dan immune untuk dikaji secara kritis-historis-ilmiah.22 Proses ini pula yang dinamakan oleh Fazlurrahman sebagai “ortodoksi” baik di kalangan Syi’ah maupun Sunni,23 tanpa disadari terjadi proses pencampuran dan ketertumpang-tindihan antara dimensi “historisitas kekhalifahan, yang aturannya, bersifat historis-empiris dan berubah-ubah dengan “normativitas” Islam yang shalihun likulli zaman wa makan. Sebenarnya antara kedua sisi tersebut dapat dibedakan, meskipun tidak dapat dipisahkan.Keduanya berhubungan secara dialektis, terkait secara timbal balik, tanpa harus berhenti pada satu sisi saja.24 Jika tidak demikian bentuk mekanisme kerja antara keduanya, maka akan terjadi dominasi yang satu atas yang alainnya. Dominasi normativitas keagamaan atas historisitas pemikiran kesilaman yang tidak terdokumentasikan secara rapi dalam bentuk konsep para fukaha, Muatakilimun, Falasifah, Mufassirun danSufi. Atau sebalikya, dominasi historisitas kekhalifahan akan mengabaikan begitu saja aspek normativitas keagamaan yang bersifat fundamentaluniversal-transhistoris, yang dinikmati dan dihayati secara fungsional dan dipegang teguh oleh para pemeluk agama-agama, termasuk agama Islam.25 Mengenai ortodoksi pemikiran-pemikiran sering disebut sebagai high tradition, Arkoun menyatakan: “para ahli fikih telah mengubah fenomena-fenomena sosio historis yang temporal dan bersifat kekinian menjadi semacam ukuran-ukuran ideal dan hukum-hukum transcendental yang suci atau sacred yang tak bleh diubah atau diganti. Disinilah awal sesungguhnya letak pokok Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

16 SAMSUL HUDA

permasalahannya.Semua bentuk kemapanan dan praktik yang lahir dari hukum-hukum dan ukuran-ukuran ini kemudian mendapat ardee pengkudusan dan transendensi ketuhanan yang mencabutnya dari fondasi atau dari persyaratan-persyaratan biologis, ekonomis dan ideologis’.Historisitas telah diabaikan dan dipinggirkan oleh ortodoksi yang mapan.Keadaaan ini masih berlangsung secara kontinual, bahkan ppembuangan historisitas itu semakin bertambah sesuai dengan perjalanan waktu.26 Secara umum pemikiran Arkoun mencoba membebaskan wacana kritis mengenai Islam dan masyarakat Islam. Melihat apa yang dilakukan Arkoun, dalam beberapa hal, dapatdibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibn Khaldun dengan kitab masterpiecenya Muqaddimah, yang secara epistemologis membangun bentuk logika yang lebih realistic menggeser logika yang idealistik. Logika realistic ini sebagai antithesis dari logika idealistic yang banyak digunakan oleh ilmuan dan sejarawan Muslim sebelumnya, yang meilhat realitas historis sebagai dikotomi normative dan relgius-metafisis. Arkoun dan Khaldun sama-sama berlatar-belakang Afrika Utara dengan komunitas budaya pinggrian Khaldun pada zamannya adalah fenomena tersendiri dengan penentangannya terhadap mainstream pemikiran Islam.Berusaha menempatkan sejarah dalam kerangka logika yang temporal-relativistik-materialistik sebagai ganti sudut pandang logika eternalistik-absolutistikspiritualistik Aristoteles yang dikotomis dalam melihat sesuatu dari sudut benar atau salah semata. Khaldun mengesampingkan kebenaran dalam artian metafisis-relegius dengan menempatkan realitas sejarah dan menyimpulkannya sebagai masing-masing benar dalam bidangnya.27 Begitupula Arkoun yang secara berani menentang arus pemikiran kontemporer yang cenderung membuat dikotomi antara berbagai pemikiran, kultur-budaya. Pada sisi lain, pola pemikiran Arkoun juga cenderung sama dengan apa yang dilakukan Jurgen habbermas, yang mengkritisi bentuk-bentuk pola pikir yang cenderung menjadi mainstream yang kaku dan rigid. Habbermas mengkritisi realitas pikiran Marx yang cenderung menjadi ideology dan baku, mengkritisi Kantianisme dan Hegelianisme sebagai pembakuan pemikiran yang terlalu patuh pada kesimpulan transdental rasio. Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 17

F. Kesimpulan Sebenarnya, ada solusi yang paling rasional dari Arkoun dengan dekonstruksi pemikirannya yakni analisis kritis; vertical dan horizontal historis. Untuk melihat rancang-bangun pemikiran yang selalu going to process, maka ia melahirkan metode “kritik akal Islam”. Metode ini tidak sama persis dengan metode kritik transcendental Immanuel Kant yang menajdi salah tonggak kemajuan system berpikir Eropa, karena situasi, unsur ruangwaktu dan tantanganna pun berbeda. Arkoun memberikan ide, bahwa kerak atau lapisan geologi pemikiran yang ada di dalam dunia pemikiran Islam terdiri banyak tafsiran dan pemikiran Islam terdiri banyak tafsiran dan pemikiran yang dibakukan dan melapisi sumber pembentuk Islam: al-Qur’an, harus dilihat sebagai kesatuan ketertundukan terhadap Allah. Bukan dipahami sebagai suatu yang beku dan kaku, sehingga menghilangkan data al_qur’an sendiri sebagai muylti-makna yang mula’im likulli zaman wa makan (relevan dengan konteks era dan ruang). Maka logikanya pemahaman terhadap agama harus selalu berposes sesuai dengan “kritik akal islam” itu sendiri. Sayangnya, pemikiran Arkoun tidak begitu banyak membawa pengaruh dalamcara masyarakata Islam diberbagai belahan dunia dalam berpikit dan bertindak. Ada beberapa argument mengapa Arkoun kurang dikenal sebagaimana mestinya.Pertama, sebagai orang yang bekerja di pinggiran akademik Barat dan pinggiran mainstream mayoritas masyarakat Islam, sebagian besar karya awalnya muncul di jurnal dengan oplah terbatas, kendati pada akhirnya telah mendunia. Kedua, metodologi yang dibangunnya sendiri banyak menggunakan terminology sosial saintifik. Risetnya mengenai tradisi Islam yang dilakukan dengan sangat hati-hati memerlukan detail diluar jangkauan pembaca umum. Seorang perlu mengetahui literature kontemporer dalam sains kemanusiaan dan perlu mengenal sejarah Islam untuk memahami dan mengapresiasikan sebagian besar karya intelektual Arkoun, Ketiga, ia terlalu mengandalkan revolusi pikiran sebagai aksi pendahuluan terhadap kemungkinan transformasi politik, hal yang membedakannya dengan Sayyid Quthb pemuka Islam militan di mesir, Ayatullah Khomeini Aktor dan teoritikus revolusi Iran bahkan Mahathir Muhamad di Malaysia.Keempat alasan yang paling Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

18 SAMSUL HUDA

dekat adalah pikiran Arkoun terbentur dengan realitas sumber daya manusia di dunia Islam secara intelektual masih tertinggal dan termarginal, realitas yang tidak dibantah oelh Arkoun sendiri. Catatan: Meuleman.“Nalar Islami” dalam Jurnal ULUMUL QURAN. Jakarta. LSAF. 1993. No 4 vol IV, h. 101. 2 Hanafi, Hasan, dan Jabiri, Abid al-. Membunuh Setan Dunia: Melebur Timur dan Barat dalam Cakrawala Kritik dan Dialog. Terj.Umar Buikhari. Yogyakarta: Ircisod. 2003, h. 53. 3 Arkoun, Rethinking Islam. Terj.Yudhian W. Asmin dan M Lathiful Khuluq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996, h. 46-47. 4 Whaling, Frank. “Studi Agama dalam Konteks Global;” dalam Ahmad Nourma Permata (Ed) Metodologi Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000, h. 487. 5 Huntington, Samuel P. The Clash of Civilization. Ttp. Tnp. 2003, h. 5-7 dan h. 10-12. 6 Sardar, Ziauddin. Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam.terj. AE Priyono. Surabaya: Risalah Gusti. 1998, h. 35-36. 7 Arkoun, Metode kritik Akal Islam, 1994, h. 162. 8 Budi Hardiman, 1993 : 35-52, 102-105) 9 Arkoun, 1996:196). 10 Hardiman, Fransisco Budi. Kritik Ideologi. Cet. II. Yogyakarta: Kanisius. 1993, h.3552 dan 102-105. 11 Norma Permata, Ahmad Metodologi Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, h. 24. 12 Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Tansformation of an Intellectual Tradition. Chicago: Chicago Perss. 1984, h. 151-161. 13 Amin Abdullah, Falsafah kalam, 1995, h. 47. 14 Woodward, 1999, h. 105. 15 Woodward, 1999, h. 200. 16 K Hidayat, 1994, h. 126. 17 Amin Abdullah. Studi Agama, 1996, h. 253. 18 M. Arkoun. An Anthology, 1992, h. 32. 19 Kessler, Gary E. Philosophy of Religion: toward a Global Perspective. Toronto: Wadsworth Publishing. 1999, h. 551. 20 Arkoun, Al-Islam, 1990, h. 116-117, 172-173. 21 M. Arkoun, An Anthology, 1992, h. 32. 22 Arkoun, Al-Islam, 1990, h. 116-117. 23 Fazlur Rahman, Islam, 1984, h. 1050. 24 Arkoun, An Anthology, 1990, h. 47. 25 R.C. Martin, 1987, h. 120, 189-190. 26 Arkoun, Al-Islam, 1992 h. 172-173. 27 Ibnu Khaldun, tt, h. 116. 1

Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Anomali Pemikiran Islam Modern 19

Daftar Pustaka Abdullah, M. Amin. Falsafah Kalam di Era Post Modernism.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1995 ---------Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996 Arkoun, Muhammad, Al-Islam: Al-Akhlaq wa al-Siaysah, terj. Hasyem Saleh. Beirut: Markaz ‘Ijma al-Qoum. 1990 ---------“Metode Kritik Akal Islam” dalam Jurnal ULUMUL QURAN. Jakarta: LSAF. 1994. No 5 dan 6 vol V ---------An Anthology of Islamic Studies. Montreal: Institute of Islamic Studies McGill University. 1992 ---------Rethinking Islam. Terj.Yudhian W. Asmin dan M Lathiful Khuluq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996 ---------The Contemporary Expression of Islam. Paris: Paper. Tidak diterbitkan Ghazali, Muhammad al-.Studi Kritis atas Hadis Nabi SAW: Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Terj. Muhammad al Baqir. Cet IV. 1994 Habbermas, Jurgen. Knowledge and Human Interest.Boston: Beacon Press. 1971 Hanafi, Hasan, dan Jabiri, Abid al-. Membunuh Setan Dunia: Melebur Timur dan Barat dalam Cakrawala Kritik dan Dialog. Terj.Umar Buikhari. Yogyakarta: Ircisod. 2003 Hardiman, Fransisco Budi. Kritik Ideologi. Cet. II. Yogyakarta: Kanisius. 1993 Hidayat, Komaruddin dan Nafis, M. Wahyuni, Agama Masa Depan Menurut Filsafat Perennial.Jakarta:Paramadina. 1994 Huntington, Samuel P. The Clash of Civilization. Ttp. Tnp. 2003 Kessler, Gary E. Philosophy of Religion: toward a Global Perspective. Toronto: Wadsworth publishing Company.1999. Khaldun, Ibnu. Muqaddimah. Kairo: Darul Fikr. Tt Meuleman.“Nalar Islami” dalam Jurnal ULUMUL QURAN. Jakarta. LSAF. 1993. No. 4, Vol. IV.

Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

20 SAMSUL HUDA

Rahman, Fazlur. Islam.Terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka. 1984 -----------Islam and Modernity: Tansformation of an Intellectual Tradition. Chicago: Chicago Perss. 1984 ---------“Approaches to Islam in Religious Studies: Review Essay” dalam Ricard C Martin (ed.) Approaches to Islamic Religious Studies. Tuscon: The University of Arizona Press. 1980 Sardar, Ziauddin. Jihad Intelektual: Merumuskan Parameterparameter Sains Islam.terj. AE Priyono. Surabaya: Risalah Gusti. 1998 Syaukanie, Luthfie Asy-. “Tipologo Wacana Pamikiran Arab Kontemporer” dalam Jurnal Paramadina. 1998. Vol.1 no.1 Whaling, Frank. “ Studi Agama dalam Konteks Global;” dalam Ahmad Nourma Permata (Ed) Metodologi Studi Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000 Woodward, Mark R (ed.). Jalan Baru Islam.Cet. Ll. Terj. Ihsan Ali Fauzi. Bandung: Mizan. 1999.

Media Akademika, Vol. 29. No.1, Januari 2014

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.