BAB I PENDAHULUAN. Afghanistan adalah negara paling berbahaya bagi perempuan karena


1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Afghanistan adalah negara paling berbahaya bagi perempuan karena diskriminasi dan kemiskinan yang berkepanjanga...
Author:  Liana Tedja

0 downloads 0 Views 497KB Size

Recommend Documents


BAB I PENDAHULUAN. maju. Penyakit Jantung Koroner ini amat berbahaya karena yang terkena adalah organ
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah salah satu penyakit pada sistem kardiovaskuler yang sering terjadi dan me...

BAB I PENDAHULUAN UKDW. bagi perempuan, serta menjadi salah satu hal yang paling diminati untuk
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kosmetik sekarang ini dapat dikategorikan sebagai suatu kebutuhan pokok bagi perempuan, serta menjad...

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum 1. Negara hukum adalah negara. yang berlandaskan hukum dan keadilan bagi warganya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia adalah negara hukum 1. Negara hukum adalah negara yang berlandaskan hukum dan keadilan bagi war...

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. D...

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa
1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya seb...

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Anggaran adalah Sesuatu yang paling vital bagi Negara untuk menjalankan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anggaran adalah Sesuatu yang paling vital bagi Negara untuk menjalankan pemerintahan. Pengertian anggar...

BAB I PENDAHULUAN. Peran paling penting dari kulit bagi manusia adalah sebagai sebuah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peran paling penting dari kulit bagi manusia adalah sebagai sebuah pembatas antara lingkungan di dalam dan di lu...

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan dunia di luar d...

BAB 1 PENDAHULUAN. suatu hal yang berbahaya bagi perusahaan, karena apabila karyawan tidak mendapat
1 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan bisnis maskapai penerbangan di indonesia berkembang dengan pesat. Sebagai bisnis maskapai penerbanga...

BAB I PENDAHULUAN. Bank memiliki peranan penting bagi perekonomian suatu negara, karena
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank memiliki peranan penting bagi perekonomian suatu negara, karena pembangunan suatu negara sangat di...



BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Afghanistan adalah negara paling berbahaya bagi perempuan karena diskriminasi dan kemiskinan yang berkepanjangan.1 Perempuan di Afghanistan mengalami penderitaan akibat diskriminasi yang membuat negara tersebut mengalami krisis kemanusiaan yang mana perempuan menempati porsi terbesar sebagai korban.2 Akses perempuan Afghanistan terhadap kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan sebagian besar bersifat terbatas.3 Selain kerbatasan untuk akses kehidupan publik, perempuan Afghanistan juga mengalami kekerasan seperti pembunuhan,

penyiksaan,

pemerkosaan

dan

perdagangan

perempuan.4

Keterbatasan akses dan kekerasan ini membuat perempuan di Afghanistan terdiskriminasi dan tidak dapat memperbaiki hidup. Pada aspek kesehatan, Afghanistan menjadi negara dengan tingkat tertinggi kedua didunia kematian ibu dengan lebih dari 15.000 perempuan Afghanistan meninggal saat melahirkan setiap tahun.5 Pada aspek pendidikan, tahun 2002 United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) melaporkan bahwa hanya 17% dari perempuan Afghanistan yang

Ahmad Khan, Women and Gender in Afghanistan (Virginia: The Civil-Military Fusion Centre, 2012) 2. 2 Zachary Laub, The Taliban in Afghanistan (New York: Council on Foreign Relations, 2014) 8. 3 Crisis Group Report, Afghanistan: Women and Reconstruction, dalam International Crisis Group, Women in Conflict in Afghanistan, Asia Report No.252 (Brussels: International Crisis Group, 2013) 10. 4 Amnesty Internasional UK, Women Right’s in Afghanistan: The Back Story https://www.amnesty.org.uk/womens-rights-afghanistan-history (diakses pada 27 April 2018). 5 Steven A. Zyck, Women & Gender in Afghanistan (Washington: Civil-Military Fusion Centre, 2012) 15. 1

1

melek huruf.6 Pada aspek pekerjaan, World Bank menyatakan bahwa pada tahun 2001 terdapat 1,7% perempuan Afghanistan adalah pengangguran lalu kemudian naik menjadi 12,9% di tahun 2014.7 Disamping itu, kekerasan seksual juga telah menjadi bagian dari pengalaman perempuan Afghanistan. Sejak tahun 2005 kekerasan dan ancaman terhadap perempuan meningkat pada skala yang mengkhawatirkan dimana terdapat 2.746 perempuan menjadi korban kekerasan.8 Pembentukan Convention on the Elimination All Form of Discrimination Against Women (CEDAW) yang diadopsi pada tahun 1979 oleh Majelis Umum PBB menguraikan secara jelas mengenai hak asasi perempuan yang juga disebut sebagai

rancangan

undang-undang

internasional

hak-hak

perempuan.9

Afghanistan telah meratifikasi CEDAW pada tahun 2003, namun pemerintah Afghanistan tetap mengalami kegagalan dalam banyak hal untuk memenuhi komitmen kontrak CEDAW dalam implementasinya. Dalam tahun 2013, komite CEDAW melaporkan bahwa selama 10 tahun setelah CEDAW diratifikasi, masih terdapat

banyak

undang-undang

mendiskriminasikan perempuan

Afghanistan

dalam

yang

secara

eksplisit

pelaksanaannya,

seperti

mayoritas

perempuan yang tidak bersekolah dan kurangnya pertanggung jawaban pada kekerasan terhadap perempuan.10 Dari beberapa kesepakatan yang dibentuk demi United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization, “Enchancement of Literacy in Afghanistan (ELA) Program” http://www.unesco.org/new/en/kabul/education/enhancement-of-literacy-in-afghanistan-elaprogram/ (diakses pada 28 Februari 2018). 7 Word Bank, Afghanistan: Female Unployment https://www.theglobaleconomy.com/Afghanistan/Female_unemployment/ (diakses pada 23 Maret 2018). 8 Zarin Hamid, UNSCR 135 Implementation in Afghanistan (Kabul: The Afghan Women’s Network, 2011) 33. 9 United Nation, Status of submission and consideration of reports submitted by States parties under article 18 of the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (Geneva: United Nation, 2006) 4. 10 Human Rights Watch, “Failing Commitments to Protect Women's Rights” 6

2

perlindungan

perempuan,

bisa

dipahami

jika

perempuan-perempuan

di

Afghanistan belum mendapatkan hak-hak mereka seperti apa yang dicantumkan dalam kesepakatan internasional tersebut. Women for Women International (WFWI) hadir sebagai International Non-Governmental Organization (INGO) yang berpusat di Washington DC Amerika Serikat yang bertanggung jawab membantu mengatasi persoalan diskriminasi perempuan di banyak negara salah satunya di Afghanistan. WFWI bekerja

untuk

melakukan

pemberdayaan

perempuan

melalui

pemberian

pendidikan dan pelatihan sumber daya untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kapasitas perempuan yang terdiskriminasi.11 WFWI pertama kali melaksanakan program pemberdayaan mereka di Afghanistan pada tahun 2002 hingga saat ini. WFWI telah memberdayakan 347.682 perempuan dengan bermitra bersama NonGovernmenal Organization (NGO) lokal di Afghanistan. Kehadiran WFWI di Afghanistan menjadi bantuan penting bagi pemberdayaan perempuan di Afghanistan. Muhammad Hasimzai dari Kementrian Keadilan pemerintah Afghanistan menyatakan bahwa “Afghanistan faces so many challenges, but with the continued help of the international community, we will succeed.”12 Pernyataan ini menyiratkan bahwa dari banyak persoalan yang dihadapi Afghanistan, mereka membutuhkan bantuan INGO untuk membantu mengatasi kegagalan pemerintah Afghanistan salah satunya dalam melindungi https://www.hrw.org/news/2013/07/11/afghanistan-failing-commitments-protect-womens-rights (diakses pada 23 Februari 2018). Women for Women International, Women for Women International Reserch Project (Washington DC: Women for Women International, 2015) 1. 12 Human Rights Watch, “Failing Commitments to Protect Women's Rights” 11

https://www.hrw.org/news/2013/07/11/afghanistan-failing-commitments-protect-womens-rights (diakses pada 23 Februari 2018).

3

hak-hak perempuan. Peter Bowden, seorang peneliti dari Institutional Ethics and Public Interest Diclosures di Australia menyebutkan bahwa peran INGO akan memberikan pengaruh penting seperti menjadikan masyarakat (perempuan) sebagai pusat tujuan pembangunan, kemandirian dan pembangunan yang partisipatif.13 WFWI merupakan satu satunya INGO yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan juga merupakan grassroot INGO yang maksudnya adalah organisasi kemanusiaan dan pembangunan akar rumput untuk menyelamatkan perempuan dari diskriminasi.14 INGO akar rumput merupakan elemen inti dalam gerakan sosial.15 Mereka merupakan pintu masuk untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan.16 Caroline Moser, seorang urban social anthropologist and social policy specialist menegaskan bahwa kemampuan menghadapi ketidakadilan gender hanya bisa dipenuhi melalui perjuangan organisasi perempuan akar rumput.17 Maka dari itu WFWI bekerja membangun jaringan dan pemberdayaan dengan langsung terjun dalam kehidupan perempuan miskin terpinggirkan pada level bawah. Sebagai INGO akar rumput, WFWI memiliki gerakan pemberayaan yang lebih masif dan memberikan dampak yang

Thakur Sakya, “Role of NGOs in the Development of Non Formal Education in Nepal” http://home.hiroshima-u.ac.jp/cice/wp-content/uploads/2014/03/3-1-3.pdf (diakses pada 02 Maret 2018). 14 Susan Price, “From Humanitarian To Journalist: Zainab Salbi's New Series Explores The Truth Of Women's Lives” 13

https://www.forbes.com/sites/susanprice/2016/11/15/from-humanitarian-to-journalist-zainabsalbis-new-series-explores-the-truth-of-womens-lives/ (diakses pada 06 Maret 2018). Mary Joyce, Watering the Grassroot: A Strategy for Social Movement Support (Mumbai: Think Piece, 2015) 1. 16 BirdLife International, Empowering the Grassroots–BirdLife, Participation, and Local Communities (Cambridge, UK: BirdLife International,2011) 4. 17 Julia Mosse, Half the World, Half a Change: An Introduction to Gender and Development (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007) 283. 15

4

lebih signifikan terhadap perempuan dibanding dengan INGO lainnya yang juga bekerja di Afghanitan. 1.2 Rumusan Masalah Afghanistan merupakan negara yang berbahaya bagi perempuan. Mereka mengalami tekanan seperti susahnya akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan serta mengalami kekerasan. Pemerintah Afghanistan telah berupaya dengan meratifikasi CEDAW pada tahun 2003, namun hingga tahun 2013 komite CEDAW melaporkan bahwa pemerintah Afghanistan gagal dalam menaati komitmen implementasi CEDAW dalam hal perlindungan hak perempuan di negara mereka. Maka dari itu, muncul WFWI sebagai INGO yang bertanggung jawab dalam membantu memberdayakan perempuan yang terdiskriminasi dengan langsung terjun pada perempuan level bawah di Afghanistan. WFWI melakukan pemberdayaan perempuan dengan memberikan berbagai macam pendidikan dan pelatihan terhadap perempuan. Melalui pemberdayaan yang mereka lakukan, diharapkan perempuan Afghanistan bisa memiliki kehidupan yang baik.

1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka pertanyaan penelitian ini adalah: Bagaimana strategi WFWI dalam pemberdayaan perempuan di Afghanistan?

1.4 Tujuan Penelitian Berdasarkan petanyaan penelitian, makan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan strategi WFWI dalam pemberdayaan `perempuan di Afghanistan.

5

1.5 Manfaat Penelitian a. Memperkaya studi tentang gender dalam studi hubungan internasional yang selama ini belum menjadi studi yang menarik bagi banyak penstudi b. Membantu peneliti lain dalam menetapkan indikator pada gerakan organisasi pemberdayaan perempuan c. Bisa dimanfaatkan oleh unsur-unsur dalam organisasi pemberdayaan perempuan guna menyempurnakan usahanya dan meningkatkan hasil dari perjuangannya.

1.6 Studi Pustaka Studi pustaka pertama adalah sebuah buku dengan judul “Women, War and Peace: The Independent Expert’s Assessment on the Impact of Armed Conflict on Women and Women’s Role in Peace-Building”18 karya Elisabeth Rehn. Buku ini berisi tentang penderitaan perempuan di negara-negara yang mengalami konflik dan perang salah satunya di Afghanistan. Penderitaan mereka seperti kekerasan, pelarian diri, pengusiran, kesehatan yang buruk seperti infeksi, malnutrisi, HIV/AIDS dan stress. Buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana upaya United Nation Development Fund for Women (UNIFEM) dalam menyelamatkan perempuan-perempuan dari penderitaan mereka. UNIFEM menyediakan bantuan keuangan dan bantuan secara teknis untuk program dan strategi inovatif dalam mempromosikan hak asasi perempuan, partisipasi politik dan keamanan ekonomi. UNIFEM bekerja dibawah naungan PBB, bekerjasama Elisabeth Rehn, Women, War and Peace: The Independent Expert’s Assessment on the Impact of Armed Conflict on Women and Women’s Role in Peace-Building (New York: United Nation Development Fund for Women, 2002). 18

6

dengan pemerintah negara konflik dan organisasi non-pemerintah (LSM) didalamnya untuk mempromosikan kesetaraan jender. Buku ini memberikan kontribusi dalam penelitian penulis, dimana penulis mendapatkan pemahaman menganai berbagai bentuk diskriminasi yang diterima perempuan pada konflik dan perang di negara mereka, termasuk di Afghanistan. Dismping itu, buku ini juga memberikan penjelasan bagaimana cara mengatasi penderitaan perempuan tersebut seperti membawa perspektif gender dalam pembentukan perdamaian, mengelola perdamaian, pencegahan terhadap kekerasan, pelibatan media, pelatihan dan pendidikan. Studi pustaka kedua adalah sebuah jurnal karya Kara Frazier yang berjudul Putting Down (Grass) Roots in the Desert: An Examination of Women for Women International’s Development Strategy in Iraq.19 Jurnal ini berisi tentang pengujian terhadap pendekatan yang dilakukan oleh Women for Women International yang berbasis di Amerika Serikat dan menganalisis apakah pendekatannya telah memperbaiki

kehidupan

perempuan

Irak

secara

efektif,

serta

prospek

keberlanjutan WFWI di negara tersebut di masa depan. Studi ini membahas model program WFWI yang mana program pelatihan satu tahun yang diikuti peserta dan data hasil program yang dilaksanakan di Irak yang disediakan oleh tim monitoring serta evaluasi WFWI. Hasil studi ini menemukan bahwa WFWI membantu perempuan Irak dengan menangani keseluruhan spektrum kebutuhan, baik jangka pendek seperti distribusi bantuan, dan jangka panjang seperti mendukung dan membantu rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan dengan mempromosikan kegiatan yang menghasilkan pendapatan. WFWI terlibat secara berkelanjutan Kara Frazier, Putting Down (Grass) Roots in the Desert: An Examination of Women for Women International’s Development Strategy in Irag (Washington D.C: School of International Service, Spring 2012). 19

7

sebagai organisasi internasional dalam situasi dan paska konflik seperti yang terjadi di Irak. Jurnal ini memberikan kontribusi dalam penelitian penulis dalam memberikan rujukan indikator dan batasan mengenai seberapa efektif, seberapa signifikan dan seberapa sukses program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh WFWI di Afghanistan. Studi pustaka ketiga adalah sebuah laporan dari The Asia Foundation yang berjudul Women Empowerment in Afghanistan.20 Laporan ini berisi tentang pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh The Asia Foundation di Afghanistan. The Asia Foundation telah menjadi advokat terkemuka untuk pemberdayaan perempuan di Afghanistan dan terus berlanjut meningkatkan peluang sosial, ekonomi, dan politik bagi perempuan Afghanistan akan memperbaiki kondisi masyarakat Afghanistan secara keseluruahan. The Asia Foundation telah mempelopori program untuk mempromosikan peluang bagi wanita Afghanistan dengan membangun hubungan strategis dengan lembaga pemerintah, NGO lokal, dan aktor non-negara berpengaruh, khususnya tokoh masyarakat tradisional dan pemuka agama. Dengan memperkuat sektor peradilan formal dan informal, mendorong reformasi kelembagaan, dan meningkatkan kesadaran akan hak-hak perempuan dalam kerangka Islam, program ini berkontribusi terhadap pengurangan kekerasan yang terus berlanjut terhadap perempuan. Studi ini memberikan kontribusi dalam penelitian penulis dalam memberikan pemahaman tentang pemberdayaan perempuan Afghnaistan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Program pemberdayaan perempuan yang dilakukan The Asia Foundation di Afghanistan memiliki cakupan yang lebih luas dimana The Asia Foundation, Women Empowerment in Afghnaistan (Kabul: The Asia Foundation, 2016). 20

8

mereka bekerjasama dengan lembaga pemerintah dan banyak aktor lain sedangkan WFWI hanya bekerjasama dengan NGO lokal Afghanistan saja. Pemberdayaan perempuan yang dilakukan The Asia Foundation memiliki kesamaan dengan yang dilakukan WFWI dimana The Asia Foundation dan WFWI sama-sama melibatkan pihak laki-laki dan program pemberdayaan perempuan yang mereka lakukan. Studi pustaka keempat adalah catatan yang terdapat dalam jurnal perempuan yakni Violance Against Women yang ditulis oleh Elora Halim Chowdury dengan judul Negotiating State and NGO Politics in Bangladesh: Women Mobilize Against Acid Violance.21 Catatan ini memperlihatkan bagaimana sebuah institusi negara dianggap gagal dalam melakukan perannya untuk memastikan perawatan yang tepat terhadap korban kekerasan yang terjadi terhadap perempuan, sehingga melahirkan NGO dan kelompok perempuan yang peduli meskipun sangat dibatasi oleh ketersediaan tenaga ahli, infrasruktur dan dana. Beberapa pemikiran tentang perilaku NGO perempuan telah menciptakan strategi dan visi alternatif untuk usaha-usaha perempuan guna memulihkan kaumnya dari korban kekerasan hingga menjadi perempuan yang mampu menolong dirinya sendiri. Catatan ini memberikan bantuan pada penelitian penulis dalam hal pemahaman tentang strategi dan visi alternatif untuk pemulihan pemberdayaan perempuan akibat konflik dan perang di Afghanistan. Catatan ini memiliki kemiripan dengan penelitian penulis dimana persoalannya sama-sama berangkat

dari

kegagalan

pemerintahan

terhadap

perlindungan

hak-hak

perempuan.

Elora Halom Chowdury, “Negotiating State and NGO Politics in Bangladesh: Women Mobilize Against Acid Violance,” Journal of Violance Against Women Vol 13:8 (Sage: 2007) 857-873. 21

9

Studi pustaka kelima adalah sebuah Jurnal karya Cici Anisa Firmaliza22 dengan judul Strategi Organisasi Perempuan Anti Trafficking Apne Aap dalam Menanggulangi Isu Perdagangan Manusia di India. Jurnal ini membahas tentang bagaimana startegi Apne App dalam menanggulangi isu perdagangan perempuan dan anak-anak di India yang menjadi ancaman karna mengalmi peningkatan jumlah korban setiap tahunnya. India telah menjadi negara asal, transit dan tujuan bagi perdagangan perempuan dan anak-anak dimana sekitar 90% dari kasus perdagangan perempuan dan anak-anak di India merupakan kasus perdagangan domestik. Perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan ini akan diperkerjakan sebagai pekerja seks komersial. Lalu kemuadian Apne App muncul sebagai organisasi pemberdayaan perempuan yang didirikan oleh seorang jurnalis wanita bernama Ruchira Gupta bersama rekan-rekannya. Apne Aap memiliki visi untuk meperjuangkan hak-hak perempuan dan anak anak di India agar mereka tidak diperdagangkan dan memiliki kehidupan yang layak. Jurnal ini berkontribusi terhadap penelitian penulis dalam memahami gambaran strategi pemberdayaan perempuan dari kasus yang berbeda dimana Apne Aap bekerja untuk meberdayakan perempuan korban perdagangan manusia, sedangkan WFWI bekerja untuk meberdayakan perempuan yang terdiskriminasi akibat konflik dan perang. Disisi lain, Apne Aap merupakan sebuah NGO lokal yang terbentuk di India dan bekerja langsung di India dalam melakukan pemberdayaan perempuan, sedangkan WFWI adalah INGO yang berbasis di Washington DC Amerika Serikat dimana dalam melakukan pemberdayaan perempuan, mereka harus memasuki negara dimana perang dan konflik terjadi. Cici Annisa Firmaliza, Strategi Organisasi Perempuan Anti Trafficking Apne Aap dalam Menanggulangi Isu Perdagangan Manusia di India (Padang: Andalas Journal of International Studies Vol. 3 No. 2, 2014). 22

10

1.7 Kerangka Teori dan Konseptual 1.7.1 Feminisme Liberal Feminisme merupakan kajian mengenai gerakan dari dan untuk perempuan dalam posisi sebagai subjek dari ilmu pengetahuan. Jill Steans dan Lloyd Pettiford menjelaskan bahwa kaum feminis memusatkan perhatian pada perempuan, karena mereka percaya bahwa perempuan telah mengalami penderitaan dan menerima perlakuan yang tidak setara.23 Melihat dunia melalui kacamata feminis liberal, memberikan kita kesempatan untuk melihat bahwa dunia hubungan internasional adalah dunianya laki-laki. Dominasi laki-laki umumnya dijelaskan oleh lingkungan dan kejadian sejarah. Kaum feminisme liberal mengakui bahwa dalam sejarahnya, negara belum sepenuhnya adil dan tidak memihak dalam perlakuannya terhadap perempuan.24 Feminisme liberal mendokumentasikan berbagai aspek dari subordinasi perempuan, berusaha untuk menganalisis masalah khusus dari pengungsi perempuan, ketidaksetaraan pendapatan antara laki-laki dan perempuan, serta pelanggaran hak asasi manusia secara tidak proporsional yang terjadi terhadap perempuan seperti perdagangan dan pemerkosaan dalam perang. Seharusnya isu keamanan dilihat secara lebih luas, lebih menyeluruh, sehingga, bentuk-bentuk dari kekerasan dapat dikurangi, seperti kemiskinan, pemerkosaan, kekerasan

Jill Steans dan Lloyd Pettiford. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 321 24 Laura J. Shepherd, Gender Matters in Global Politics: A Feminist Introduction to Internasional Relations (London: Routledge, Taylor and Francis Group, 2015) 32. 23

11

domestik, subordinasi gender, ekonomi, hingga pada kehancuran ekologi (lingkungan hidup).25 Dalam perspektif feminis liberal, kesempatan untuk berpartisipasi dalam ruang publik merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan status perempuan. Para penganut paham liberal berpendapat bahwa perempuan, seperti halnya laki-laki, mampu untuk mengembangkan kapasitas intelektual dan kemajuan moral. Hal ini berati bahwa perempuan seperti halnya laki-laki adalah makhluk yang rasional sehingga mempunyai hak untuk ikut serta dalam kehidupan publik, memberikan sumbangan pada perdebatan tentang isu-isu politik, sosial dan moral dari pada sebagai makhluk yang terkurung dalam ruang privat di rumah tangga dan keluarga yang diwakili olah laki-laki sebagai kepala rumah tangga.26 Bentuk dari ruang privat seperti di dalam rumah, dalam keluarga, lingkungan pertemanan, sedangkan bentuk dari ruang publik seperti pemilu, pengadilan, sekolah, televisi swasta, bank, pabrik garmen dan basis militer.27 Feminisme liberal yang merupakan salah satu aliran pemikiran dalam feminisme meyakini bahwa kesetaraan dan keadilan gender akan bisa dicapai dengan menghapuskan hambatan yang mengabaikan hak-hak dan kesempatan perempuan yang sama dengan laki-laki.28 Salah satu upaya yang dilakukan oleh kaum feminis liberal untuk mencapai kesetaraan dan kebebasan bagi perempuan

Tickner, J. Ann and Laura Sjoberg. Feminism. Chap. 10 in Dunne, T., Kurki, M. and Smith, S. (eds.) International Relations Theory: Discipline and Diversity. 1st ed. (New York: Oxford University Press. 2007) 193 26 Jill Steans and Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional: Perspectif dan Tema (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2009) 327. 27 Martin Griffiths, Terry O'Callaghan, Steven C. Roach. International Relations: The Key Concepts (New York: Routledge, 2008), 110 28 Ani Soetjipto dan Pande Trimayuni (ed.) Gender dan Hubungan Internasional (Yogyakarta: Jalasutra, 2013) 12. 25

12

adalah dengan melalui gerakan perempuan.29 Kebebasan perempuan akan melibatkan suatu stategi multi-bidang untuk meraih dukungan, lalu meraih kesempatan yang sama dalam pendidikan, dalam institusi-institusi sosial, dan di tempat kerja.30 Pernyataan kebijakan Overseas Development Administration (ODA) Inggris tahun 1989 menegaskan bahwa mencapai perlakuan yang lebih baik terhadap perempuan merupakan langkah utama dalam penghapusan kemiskinan dunia, memperluas kesempatan sosial dan memberi rangsangan bagi pembangunan ekonomi yang lebih baik. Ketika perempuan dilibatkan, hasil yang didapatkan oleh masyarakat dunia akan lebih baik dikarenakan sebagian besar dari penduduk miskin di dunia adalah perempuan. Jika sebagian besar dari mereka diberdayakan, diberikan pendidikan dan kesehatan yang layak mereka akan memberikan sumbangan pembangunan yang lebih produktif dan dinamis terhadap pembangunan dunia.31

1.7.2 Strategi Pembagunan Non-Governmental Organization (NGO) Strategi Pembangunan NGO merupakan kerangka yang dihasilkan dari penilaian David C. Korten terhadap perilaku dan pengalaman kritis NGO dalam proses pembangunan. Pembangunan didefinisikan sebagai pertumbuhan plus perubahan, yang merupakan kombinasi berbagai proses ekonomi, sosial dan politik, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.32 Korten melihat adanya pola

Omer Caha. Women and Civil Society in Turkey: Women’s Movements in a Muslim Society (New York: Routledge, 2016), 75 30 Jill Steans and Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional: Perspectif dan Tema (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2009) 352. 31 Tam O’Neil, Women and Power: Overcoming Barriers to Leadership and Influence (London: Overseas Development Administration, 2016) 10. 32 United Nations. 1972. Planning as A Tool of Development (dalam Corespondence Course in Social Planning). Lecture 2. 29

13

evolusi tertentu dalam masyarakat yang menyebabkan NGO bergerak lebih jauh dari kegiatan bantuan tradisional menuju keterlibatan masyarakat yang lebih besar. Pergerakan mereka akan mengurangi gejala merebaknya permasalahan dan bergerak kearah penyelesaian penyebab yang lebih mendasar dari setiap permasalahan pembangunan dalam masyarakat. Pergerakan tersebut bekerja untuk mendukung perempuan, perdamaian, hak asasi manusia, consumer affairs atau gerakan lingkungan.33 Strategi pembangunan NGO Korten yang berpusat pada masyarakat memiliki tujuan akhir untuk memperbaiki kualitas hidup dengan aspirasi serta harapan individu dan kolektif, dalam konsep tradisi budaya dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang sedang berlaku. Strategi ini memberantas kemiskinan absolut, realisasi keadilan distributif, dan peningkatan partisipasi masyarakat secara nyata.34 Salah satu strategi pembagunan NGO Korten tersebut bernama Small Scale, Self-Reliant Local Development. Strategi ini berfokus pada daya dari NGO dalam pembangunan dan pengembangan kapasitas masyarakat untuk lebih memenuhi kebutuhan mereka sendiri melalui tindakan lokal mandiri.35 Strategi ini sangat memperhatikan keberlanjutan, maka strategi ini memilik konsep yang bersifat pembangunan yang seringkali disebut sebagai strategi pembanguna masyarakat.36 Orientasi kegiatannya

adalah pada proyek atau program

pembangunan masyarakat. Proyek atau program pembangunan masyarakat yang dilakukan di berbagai bidang seperti kesehatan preventif, praktik pertanian yang David C.Korten, Getting to 21st Century: Voluntary Action and The Global Agenda (West Hartford: Kumarian Press, 1990) 115. 34 Harry Hikmat, Analisis Dampak Lingkungan Sosial: Strategi Menuju Pembangunan Berpusat pada Rakyat (Andalsos: Kementrian Sosial, 2014) 3. 35 Iain Attack, Four Criteria of Development NGO Legitimacy, Word Development Journal, Vol. 27, No. 5 (1999), 856 36 Gerard Clarke, The Politics of NGOs In South – East Asia (London; Routledge, 1998) 13. 33

14

meningkat, infrastruktur lokal, dan kegiatan pengembangan masyarakat lainnya.37 Upaya ini akan memberikan manfaat yang bisa dipertahankan oleh masyarakat di luar periode pembangunan yang telah dilaksanakan. Seringkali proyek atau program pembangunan yang dilakukan oleh NGO sejajar dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah, tetapi layanan pemerintah tidak memadai di lokasi tempat strategi pembangunan masyarakat ini dioperasikan.38 Upaya yang dilakukan dalam pembangunan dalam konsep ini dilukiskan sebagai upaya untuk memberi kuasa atau empower kepada masyarakat yang mana fokusnya disini adalah perempuan. Secara universal, strategi ini memusatkan perhatian pada pendidikan, maka tradisi pengembangan sumber daya manusia mengasumsikan

bahwa

masalahnya

terutama

terletak

pada

kurangnya

keterampilan dan kekuatan fisik dari individu yang diperlukan. Strategi ini mencakup pembangunan yang implisit, yang berasumsi bahwa yang menjadi pokok persoalan adalah kelambanan lokal yang disebabkan oleh tradisi, isolasi dan kekurangan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai. Kelambanan ini bisa dihentikan melalui campur tangan badan yang mengadakan perubahan dari luar, yang membantu menyadarkan masyarakat mengenai potensi yang dimilikinya melalui pendidikan, organisasi, peningkatan kesadaran, pinjam kecil dan perkenalan dengan teknologi-teknologi baru yang sederhana.39 Program pinjaman kecil misalnya, program ini akan mengembangkan nilai sumberdaya ekonomi, maka sistem ekonomi akan menyediakan kesempatan yang diperlukan untuk pengadaan lapangan kerja yang menguntungkan. Stephen R. Covey dalam Indra Bastian, Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik (Jakarta: Erlangga, 2007) 33. David C. Korten, Third Generation NGO Strategies: A Key to people Centered Development (Great britain: Porgemon Journal, 1987) 4. 39 David C. Korten, Menuju Abad ke -21; Tidakan Sukarela dan Agenda Global (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002) 194. 37 38

15

bukunya The Principle Centered Leadership mengatakan bahwa “Give a man a fish, and you feed him for a day; teach a man to fish and you feed him for a lifetime.” Maksudnya, strategi pembangunan masyarakat akan mematahkan ketergantungan yang dihasilkan dari bantuan-bantuan amal atau kemanusiaan melalui kegiatan pemberdayaan.40 Konsep feminisme liberal akan menjelaskan tentang diskriminasi perempuan di Afghanistan. Sedangkan konsep Strategi Pembangunan NGO akan menjelaskan bagaimana upaya yang dilakukan oleh WFWI dalam rangka melakukan pemberdayaan perempuan di Afghanistan untuk menyelamatkan mereka dari diskriminasi. Konsep feminisme liberal dan konsep strategi pembangunan NGO saling berhubungan satu sama lain. Secara umum, eksistensi INGO yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan mendapat pengakuan dalam feminisme liberal yang menyatakan bahwa adanya INGO tersebut merupakan bukti kesadaran global dan adanya solidaritas dari komunitas internasional. Feminisme liberal menjunjung tinggi kebebasan perempuan dengan mengapuskan hambatan bagi mereka melalui gerakan perempuan. Gerakan perempuan ini mendapatkan wadah dalam startegi pembangunan NGO Korten dimana pengembangan kapasitas masyarakat yang dalam hal ini adalah perempuan, dilakukan melalui tindakan lokal mandiri, jadi melalui tindakan lokal mandiri ini lah gerakan perempuan untuk pemberdayaan perempuan terwujud. Gerakan

tersebut

diaktualisasikan

dalam

bentuk

proyek

atau

program

pemberdayaan perempuan salah satu contohnya seperti pembangunan usaha Sunarno, Kepemimpinan dalam Organisasi (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2008) 14. 40

16

swadaya bagi perempuan miskin, pelatihan dan pendidikan mengenai kesehatan dan lain-lain. Program inilah yang secara nyata dilakukan oleh WFWI untuk memberdayakan perempuan Afghanistan.

1.8 Metodologi Penelitian Metode adalah suatu prosedur untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sedangkan metodologi merupakan analisis tentang bagaimana seharusnya penelitian akan dilakukan yang bersis standar prinsip-prinsip dasar yang digunakan sebagai pedoman penelitian.41 Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.

Metode

kualitatif

adalah

metode

penelitian

yang

berusaha

mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya. Penelitian kualitatif biasanya sangat

memperhatikan

proses,

peristiwa

dan

otentisitas,

mengutamakan

penggunaan logika induktif dimana kategorisasi dilahirkan dari perjumpaan peneliti dengan data-data yang ditemukan.42

1.8.1 Batasan Penelitian Batasan penelitian mengacu pada rentang waktu disaat permasalahan terjadi. Tahun 2003 Afghanistan meratifikasi CEDAW namun hingga tahun 2013, Afghanistan masih gagal dalam menaati komitmen CEDAW dalam pelaksanaan implementasinya. Dalam rangka membantu Afghanistan untuk melindungi hakhak perempuan, WFWI hadir untuk melakukan pemerdayakan perempuan Eli Nur Hayati, Pentingnya Metodologi Feminis di Indonesia, No. 48 (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2006) 8. 42 Gumilar Rusliwa Somantri, Memahami Metode Kualitatif, Vol. 9, No. 2 (Depok: Universitas Indonesia, 2005) 2. 41

17

Afghanistan sejak tahun 2002 hingga saat ini. Maka dari itu, batasan waktu penelitian ini adalah dari tahun 2013 pada saat kegagalan pemerintah Afghanistan hingga tahun 2017.

1.8.2 Unit dan Tingkat Analisa Pada penelitian ini, Women for Women Internasional (WFWI) sebagai non-state actor menjadi unit analisa yang perilakunya akan dideskripsikan, diramalkan dan dijelaskan oleh penulis. Perilaku WFWI disini diantaranya adalah serangkaian program mereka dalam melakukan pemberdayaan perempuan di Afghanistan terhadap perempuan yang terdiskriminasi. Sedangkan yang menjadi unit ekplanasinya adalah diskriminasi perempuan di Afghanistan dimana unit eksplanasi ini akan mempengaruhi perilaku dari unit analisa. Tingkat analisa merupakan area dimana unit-unit yang akan dijelaskan berada.43 Tingkat analisa dari penelitian ini adalah tingkat negara.

1.8.3 Teknik Pengumpulan Data Dalam Pengumpulan data penelitian ini, penulis melakukannya melalui studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti, selain itu studi kepustakaan sangat penting dalam melakukan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian tidak akan lepas dari literatur-literatur Ilmiah. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dari dokumen pustaka, artikel, jurnal, situs-situs Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional, Disiplin dan Metodologi (Pusat Antar Universitas – Studi Sosial Universitas Gajah Mada, LP3E: Yogyakarta, 1990) 108. 43

18

internet ataupun laporan yang berkaitan langsung dengan objek penelitian. Dari dokumen pustaka, data dan informasi diperoleh melalui buku seperti buku karya Jill Steans dan Lloyd Pettiford yang berjudul Hubungan Internasional: Perspektif dan tema yang memberikan data dan informasi mengenai konfep feminisme liberal, kemudian buku karya David C. Korten yang berjudul Menuju Abad ke-21: Tindakan Sukarela dan Agenda Global yang memberikan data dan informasi mengenai konsep strategi pembangunan NGO. Dari situs internet, data dan informasi mengenai profil, visi misi dan program pemberdayaan perempuan oleh WFWI dikumpulkan dari situs resmi WFWI itu sendiri. Situs resmi Human Right Watch, Un Women dan World Bank juga membantu memberikan data dan informasi mengenai diskriminasi dan kondisi perempuan di Afghanistan. Kemudian dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 data dan informasi yang dikumpulkan seperti detail kegiatan pemberdayaan perempuan oleh WFWI beserta hasil dan dampaknya.

1.8.4 Teknik Analisa Data Dalam menganalisa data, penulis menggunakan teknik deskriptif analisis, dimana analisis dilakukan dengan mangkaji fenomena yang diangkat menjadi lebih rinci dengan mendeskripsikan ucapan, tulisan atau perilaku dari suatu individu, kelompok, organisasi maupun negara. Analisa data dimulai dengan melihat bagaimana konteks diskriminasi perempuan di Afghanistan seperti bentuk-bentuk perlakuan yang mendisriminasi mereka serta dampak yang ditimbulkan. Diskriminasi terjadi pada perempuan Afghanistan dalam berbagai aspek diantaranya adalah kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan kekerasan. Data 19

yang dikumpulkan seperti data tingkat kematian ibu, data angka buta huruf, angka pengangguran perempuan, tingkat kemiskinan dan jumlah perempuan korban kekerasan di Afghanistan. Kemudian dilanjutkan dengan strategi pembangunan melalui program pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI untuk menyelamatkan perempuan di Afghanistan dari diskriminasi. Strategi tersebut terwujud dalam pemberdaayaan perempuan yang dilakukan oleh WFWi melaui program-program mereka. Setelah itu, hasil dari pemberdayaan perempuan yang telah dilakukan, berhasil atau tidaknya akan dianalisis berdasarkan pencapaian dan perubahan kualitas hidup perempuan Afghanistan.

1.9 Sistematika Penulisan BAB I. Pendahuluan BAB ini menggambarkan secara keseluruhan latar belakang masalah dengan signifikansi penelitian yang membentuk alasan kenapa penelitian ini penting untuk dilakukan, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, studi pustaka, kerangka konseptual, metodologi penelitian dan sistematika penulisan penelitian.

BAB II. Diskriminasi Perempuan di Afghanistan BAB ini memberikan gambaran mengenai diskriminasi yang dialami perempuan Afghanistan dibawah rezim Taliban, lalu kemudian dilanjutkan dengan dampak yang diterima oleh perempuan Afganistan yang mengalami diskriminasi. BAB ini juga menjelaskan tentang upaya yang

20

dilakukan oleh pemerintah Afghanistan dalam melindungi hak-hak perempuan disana.

BAB III. Women for Women International (WFWI) BAB ini menjelaskan tentang profil WFWI dalam kontribusinya untuk memberikan bantuan terhadap perempuan-perempuan yang terdiskriminasi akibat konflik salah satunya di Afghanistan, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan program-program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan WFWI di Afghanistan.

BAB IV. Strategi Women for Women Internasional (WFWI) dalam Pemberdayaan Perempuan di Afghanistan BAB ini berisikan analisa penulis melalui proses pemahaman mengenai strategi WFWI dalam memberdayakan perempuan yang terdiskriminasi di Afghanistan dengan menggunakan teori dan konsep yang telah dijelaskan pada bab pendahuluan.

BAB V. Kesimpulan BAB ini berisikan ide-ide dan pengetahuan terpenting yang penulis ciptakan dari penelitian, dan cakupan kontribusi yang bisa diberikan untuk lingkungan akademis, NGO serta penelitian femninisme.

21

BAB II DISKRIMINASI PEREMPUAN DI AFGHANISTAN

Bab ini akan menjelaskan mengenai diskriminasi perempuan di Afghanistan yang membuat mereka menderita dan tidak dapat memiliki kehidupan yang baik. Bab ini dibagi menjadi dua sub pokok bahasan. Sub pokok bahasan pertama adalah tentang diskriminasi perempuan di Afghanistan dalam berbagai aspek seperti aspek kesehatan, aspek pendidikan, aspek pekerjaan dan kekerasan. Kemudian sub pokok bahasan kedua adalah upaya serta kegagalan pemerintah Afghanistan dalam perlindungan hak-hak perempuan. Upaya tersebut seperti ratifikasi Convention on the Elimination All Form of Discrimination Against Women (CEDAW) dan kerjasama UN Women. Di Afghanistan, perempuan mengalami penindasan dan diskriminasi yang membuat mereka kehilangan hakhak mereka sebagai perempuan. Hal ini sudah terjadi sejak lama di Afghanistan.44 Banyak perempuan Afghanistan yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan, pendidikan dan pekerjaan serta mengalami kekerasan.45

2.1 Bentuk-Bentuk Diskriminasi Perempuan di Afghanistan 2.1.1 Aspek Kesehatan Sebanyak 25 juta masyarakat Afghanistan memiliki kesehatan yang paling buruk didunia, terutama perempuan. Pada tahun 2002 terdapat sekitar 50% dari perempuan usia subur di Afghanistan meninggal karena komplikasi kehamilan Zachary Laub, The Taliban in Afghanistan (New York: Council on Foreign Relations, 2014) 8. Elisabeth Rehn dan Ellen Johnson Sirleaf, Women, War and Peace: The Independent Experts Assessment on the Impact of Armed Conflict on Women and Women’s Role in Peace-building (New York: Agence-France Presse, 2002) 21. 44 45

22

dan persalinan. Perempuan Afghanistan di desa-desa terpencil, hampir tidak pernah bertemu dokter, perawat atau paramedis, mereka juga tidak ada mendapatkan vaksinasi terhadap penyakit apa pun, mereka melahirkan bayi di rumah dengan fasilitas seadanya.46 Afghanistan merupakan salah satu negara dengan angka kelahiran bayi dan kematian ibu yang tinggi dimana pada tahun 2002 disetiap 100.000 kelahiran, terdapat 1.600 ibu meninggal saat melahirkan.47 Afghanistan kemudian menjadi negara dengan tingkat tertinggi kedua kematian ibu dengan lebih dari 15.000 perempuan Afghanistan meninggal saat melahirkan setiap tahun.48 Dalam inventaris fasilitas kesehatan Afghanistan, Management Sciences of The Boston Non-Provit Group melaporkan bahwa hanya ada sekitar 1.038 fasilitas perawatan kesehatan untuk 25 juta penduduk Afghanistan, atau hanya satu untuk setiap 24.000 warga Afghanistan. Hanya 50% dari fasilitas perawatan kesehatan yang memiliki air minum yang aman, 73% tidak memiliki listrik dan 37% tidak memiliki toilet untuk staf atau pasien.49 Yang lebih memprihatinkan, 40% tidak memiliki pekerja kesehatan perempuan, yang berarti fasilitas tersebut benar-benar terlarang bagi perempuan yang memegang nilai-nilai tradisional, yang tidak

Courtney Pendray, Women Health in Afghanistan (Kabul: Secretary of Health in Afghanistan, 2012) 3. 47 United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women, UN Women in Afghanistan http://asiapacific.unwomen.org/en/countries/afghanistan (diakses pada 30 Mei 2018). 48 Steven A. Zyck, Women & Gender in Afghanistan (Washington: Civil-Military Fusion Centre, 2012) 15. 49 Mohamad Iqbal Aman, Maternal Health Care Trends in Afghanistan (Maryland: ICF Internasional, 2013) 25. 46

23

diizinkan untuk berbaur dengan laki-laki, karena keterbatasan perempuan untuk muncul di kehidupan publik.50 Sebuah survey yang dilakukan oleh organisasi Physician Human Rights (PHR) pada tahun 2005 terhadap 160 orang perempuan di provinsi Kabul Afghanistan membuktikan bahwa perempuan Afghanistan memiliki masalah tentang kesehatan fisik mereka seperti penurunan kondisi kesehatan, buruknya akses terhadap fasilitas kesehatan, tidak adanya kontrol pada waktu dan jarak kelahiran bayi, sakit kronis moskulosketal (gangguan otot), gejala gastrointestinal (infeksi lambung dan usus), gejala ginekologi (gangguan organ reproduksi), dan sakit kepala kronis. Pada tahun 2012, Kementerian Kesehatan Afghanistan melaporkan bahwa terdapat 1.327 kasus HIV/AIDS yang mana 25% nya adalah perempuan.51 Selain persoalan kesehatan fisik, perempuan Afghanistan juga mengalami persoalan terntang kesehatan mental dan gangguan kejiwaan seperti depresi berat serta gejala kecemasan umum akibar kejadian tragis atau yang dikenal dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).52

2.1.2 Aspek Pendidikan Ketika keamanan bagi perempuan di Afghanistan semakin memburuk, kesempatan untuk perempuan pergi ke sekolah juga semakin memburuk. Human Right Watch (HRW) melaporkan bahwa kebanyakan anak perempuan usia 11 hingga 18 tahun tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka. Terdapat 3,5 juta Judith Miller dan Carlota Gall, Women Suffer Most in Afghan Health Crisis, Expert Say https://www.nytimes.com/2002/10/27/world/women-suffer-most-in-afghan-health-crisis-expertssay.html (diakses pada 02 Mei 2018). 51 Abbas Daiyar, HIV/AIDS Epidemic in Afghanistan http://outlookafghanistan.net/topics.php?post_id=6058 (diakses pada 25 Mei 2018). 52 Physician fot Human Rights, The Taliban War’s om Women; A health and Human Rights Crisis in Afghanistan (Boston: Physician fot Human Rights, 2005) 49. 50

24

anak-anak Afghanistan tidak bersekolah, dan 85% dari mereka adalah anak-anak perempuan. Sekitar 41% sekolah di Afghanistan tidak memiliki bangunan, kekurangan dinding pembatas, air, dan toilet yang secara tidak proporsional mempengaruhi pendidikan anak perempuan.53 Kurang dari 20% guru perempuan yang mengajar disekolah menjadi penghalang utama bagi banyak anak perempuan yang keluarganya tidak akan menerima mereka diajarkan oleh seorang guru lakilaki, terutama ketika mereka remaja. Sepertiga anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan setelah bertunangan atau menikah, banyak anak perempuan dipaksa putus sekolah.54 Infrastruktur termasuk sistem pendidikan di Afghanistan dihancurkan serta perempuan dilarang untuk mendapatkan pendidikan. Begitupun dengan orang tua di Afghanistan yang sering memegang standar ganda terhadap pendidikan dimana anak laki-laki lebih di prioritaskan untuk mendapatkan pendidikan dari pada anak perempuan. Pada tingkat pendidikan umum, jumlah anak perempuan yang bersekolah masih jauh dibawah anak laki-laki dimana persentase siswa perempuan di bidang pendidikan umum adalah 28% di tahun 2002, 34% di tahun 2003, 33% di tahun 2004, 35% di tahun 2005, 35% di tahun 2006 dan 2007, 36% di tahun 2008, 37% di tahun 2009, 38% di tahun 2010 dan 39% di tahun 2011.55 Kurangnya akses pendidikan untuk anak perempuan di Afghanistan membuat mereka menderita buta huruf. Pada tahun 2002, United Nation Educational

Humaira Haqmal, The State of Women’s Education in Afghanistan (New York: Columbia University Press, 2008) 36. 54 Human Right Watch, “I Won’t Be A Doctor, and One Day You’ll Be Sick” Girl’s Access to Education in Afghanistan (Washington DC: Human Right Watch, 2017) 47. 55 Zafar Shayan, Gender Inequality in Education in Afghanistan: Access and Barriers (Turkey: Scientific Research Publishing, 2015) 280. 53

25

Scientific and Cultural Organization (UNESCO) melaporkan bahwa hanya 17% dari perempuan Afghanistan yang melek huruf.56

2.1.3 Aspek Pekerjaan Kurangnya pendidikan bagi perempuan Afghanistan membuat

mereka

ditolak untuk mendapatkan pekerjaan.57 Sebuah studi yang dilakukan oleh The Asia Foundation pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kurangnya kesempatan kerja bagi perempuan naik dari 1% menjadi 28% di tahun 2009. Meskipun Pasal 48 dari konstitusi di Afghanistan menetapkan bahwa setiap orang di Afghanistan memiliki hak untuk bekerja, namun pemerintah tidak membuka banyak jalan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi di pemerintahan dimana hanya seperempat posisi pemerintahan yang diduduki oleh perempuan Afghanistan.58 Kurangnya akses pekerjaan bagi perempuan membuat angka pengangguran perempuan di Afghanistan mengalami peningkatan. World Bank menyatakan bahwa pada tahun 2001 terdapat 1,7% perempuan Afghanistan adalah pengangguran lalu kemudian naik menjadi 12,9% di tahun 2014.59 Peningkatan jumlah penganguran di Afghanistan berdampak pada peningkatan status kemiskinan. Menurut World Bank, pendapatan perkapita United Nation Educational Scientific and Cultural Organization, “Enchancement of Literacy in Afghanistan (ELA) Program” http://www.unesco.org/new/en/kabul/education/enhancement-of-literacy-in-afghanistan-elaprogram/ (diakses pada 28 Februari 2018). 57 International Crisis Group, Women in Conflict in Afghanistan, Asia Report No.252 (Brussels: International Crisis Group, 2013) 12. 58 Najla Ayubi, “Women’s Biggest Problems in Afghanistan” 56

http://asiafoundation.org/2010/01/27/womens-biggest-problems-in-afghanistan-2/ (diakses pada 22 Mei 2017). 59 Word Bank, Afghanistan: Female Unployment https://www.theglobaleconomy.com/Afghanistan/Female_unemployment/ (Diakses pada 23 Maret 2018).

26

Afghanistan adalah yang terendah di Asia Selatan. Mayoritas kemiskinan ini terkonsentrasi di daerah pedesaan di mana perempuan menghadapi tingkat pengecualian sosial dan ekonomi yang sangat tinggi dibawah rezim Taliban.60 Partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja menjadi sangat rendah di Afghanistan. Selama dekade terakhir, negara ini adalah salah satu negara dengan tingkat terendah di dunia yaitu 19%.61 Dari tahun 2002 hingga tahun 2009, 36% dari populasi masyarakat Afghanistan atau sekitar 9 juta masyarakat mereka hidup dalam kemiskinan absolut dan 37% lainnya hidup tepat di atas garis kemiskinan. Yang lebih menyedihkan, 75,6% dari masyarakat miskin di Afghnaistan adalah buta huruf.62

2.1.4 Kekerasan Disamping keterbatasan akses terhadap kesehatan, pendidikan dan pekerjaan, kekerasan juga telah menjadi bagian dari pengalaman bagi perempuan Afghanistan. Menurut penelitian Global Rights tahun 2008 terhadap 4.700 perempuan di Afghnaistan, 87% dari mereka mengalami kekerasan fisik, seksual atau psikologis selama masa hidup mereka.63 Dalam penandatanganan Rome Statue on the International Criminal Court, pemerkosaan dan kekerasan seksual selama konflik kekerasan di Afghanistan harus dilihat sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan harus diadili. Menurut undang-undang Afghnaistan, pelaku World Bank Group, Poverty Status in Afghanistan, Based on National Risk and Vulnerability Assessment (New York: Ministry of Economy and The World Bank Group, 2010) 21. 61 Izabela Leao, For Rural Afghan Women, Agriculture HoldsThe Potentials for Better Job http://blogs.worldbank.org/endpovertyinsouthasia/rural-afghan-women-agriculture-holdspotential-better-jobs (diakses pada 03 Mei 2018). 62 Aryana Aid, Poverty in Afghanistan. https://www.aryanaaid.org.uk/about/afghanistan-poverty (diakses pasa 03 Mei 2017). 63 UN Women, Asia and The Pasific; Un Women in Afghanistan http://asiapacific.unwomen.org/en/countries/afghanistan (diakses pada 03 Mei 2018). 60

27

pemerkosaan akan dihukum berat jika terbukti bersalah, namun pada kenyataannya kejahatan itu jarang dilaporkan terutama karena korban kejahatan seksual menghadapi risiko jauh lebih besar lagi, jika mereka berani melapor.64 Sejak tahun 2005 kekerasan berbasis gender dan ancaman terhadap perempuan meningkat pada skala yang mengkhawatirkan. Beberapa bentuk kekerasan dan jumlah korban yang terjadi terhadap perempuan di Afghanistan diantaranya seperti kekerasan fisik dan seksual 1.263 orang, kawin paksa 769 orang, pembunuhan 375 orang, penyiksaan 231 orang, penculikan 102 orang dan perdagangan perempuan 6 orang.65 Sensitivitas budaya memaksa wanita dan anak perempuan untuk dilihat sebagai penghasut untuk pemerkosaan mereka, dan wanita korban pemerkosaan pertama kali dipandang sebagai benda tercemar kehormatan keluarga, bukan sebagai korban kejahatan terhadap martabat mereka sebagai manusia.66

2.3 Upaya Pemerintah Afghanistan Mengatasi Diskriminasi Perempuan 2.2.1 Meratifikasi CEDAW Salah satu bentuk upaya pemerintah Afghanistan untuk menyelamatkan perempuan dinegara mereka dari kekerasan dan diskriminasi adalah dengan meratifikasi Convention on the Elimination of All Form of Discrimination Against Women (CEDAW). Pemerintah Afghanistan menandatangani CEDAW pada tanggal 14 Agustus 1980, tetapi karena kondisi negara Afghanistan yang semakin

Mias, 10 Negara dimana Kekerasan Seksual Menjadi Hal Lazim http://www.dw.com/id/10negara-di-mana-kekerasan-seksual-jadi-hal-lazim/g-19038423 (diakses pada 23 Maret 2018). 65 Australian Government, Elimination of Violence Againt Women in Afghanistan (Australia: Departmen of Foreign Affairs and Trade, 2015) 7. 66 Zarin Hamid, UNSCR 135 Implementation in Afghanistan (Kabul: The Afghan Women’s Network, 2011) 33. 64

28

memburuk, CEDAW baru bisa diratifikasi pada tahun 2003.67 Afghanistan sejak saat itu telah merevisi undang-undang dasarnya sehingga kesetaraan gender lebih jelas ditentukan oleh hukum. Laki-laki dan perempuan di Afghanisatan diharapkan dapat sama-sama menikmati hak-hak hukum mereka yang tidak didasarkan pada perbedaan gender. Begitupun pemerintah Afghanistan yang mengakui kewajibannya untuk melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminsi.68 CEDAW memiliki ketentuan yang mewajibkan negara-negara anggotanya untuk melakukan perubahan legislatif tertentu, seperti menetapkan kesetaraan gender dalam hukum, menghapuskan undang-undang yang diskriminatif dan menciptakan institusi seperti pengadilan dan badan publik yang lebih baik untuk melindungi perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan.69 Pemerintah Afghanistan menghadapi tantangan penting sehubungan dengan implementasi dari semua komitmen dan peraturan CEDAW.70 Laporan yang dirilis oleh United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) pada tahun 2010, mengatakan bahwa penuntutan dan hukuman di bawah undangundang Afghanistan dari tahun 2003 hingga 2009 masih sangat lemah dimana akses kebutuhan dan layanan dasar (kesehatan, pendidikan dan pekerjaan), pernikahan paksa anak perempuan, pemaksaan, pemerkosaan, dan kekerasan lainnya masih belum teratasi dengan baik. Laporan tersebut diambil dari Cheshmak Faehoumand, CEDAW and Afghanistan (Massachusets: Bridgewater State University, 2009) 18. 68 United Nations, Report of The Commitee on The Elemination of Descrimination Against Women in Afghanistan (Geneva: United Nations, 2005) 13. 69 Marie Betrand, CEDAW Leads Way to Gender Equality in Afghanistan https://www.humanium.org/en/cedaw-leads-way-to-gender-equality-in-afghanistan/ (diakses pada 13 April 2018). 70 Women UN Report Network, Afghanistan Goverment Report on CEDAW http://wunrn.com/2015/10/afghanistan-government-first-report-to-cedaw-committee/ (diakses pada 25 Maret 2018). 67

29

wawancara ekstensif yang dilakukan dengan laki-laki, perempuan, pejabat pemerintah dan pemimpin agama pada 34 provinsi di Afghanistan.71 Navi Pillay, The UN High Commissioner for Human Rights juga mengatakan bahwa penerapan hukum di Afghnaistan bersifat lambat dan tidak merata. Beliau mengatakan bahwa pihak berwenang Afghanistan perlu melakukan lebih banyak hal untuk membangun kemajuan yang dibuat sejauh ini dalam melindungi perempuan dan anak perempuan. Laporan UNAMA tersebut menyatakan bahwa hanya 7% dari sekitar 1.670 insiden kekerasan terhadap perempuan yang terdaftar yang melalui proses peradilan dengan menggunakan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.72 Hingga tahun 2013, insiden yang dilaporkan seperti kekerasan dalam bentuk perkosaan meningkat sebesar 28% di 16 provinsi Afghanitan dari tahun-tahun sebelumnya.73

2.2.2 Bekerjasama dengan UN Women Satu upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah Afghanistan adalah dengan menjalin kerjasama dengan United Nation Entity for Gender Equality and The Empowerment of Women (UN Women). UN Women hadir di Afghanistan sejak tahun 2002 hingga saat ini untuk memberikan bantuan kepada perempuan di Afghanistan yang terdiskriminasi melalui kerjasama dengan pemerintah Afghanistan. Kerjasama ini dilakukan UN Women dengan meberikan bantuan kepada pemerintah Afghanistan berupa pendanaan pengembangan National United Nations Assistance Mission in Afghanistan, Afghanistan: Protection of Civilians in Armed Conflict (Kabul: United Nations Assistance Mission in Afghanistan, 2017) 44. 72 Radio Free Europe Free Liberty, UN Says Landmark Afghan Law Failing to Protect Women https://www.rferl.org/a/25193797.html (diakses pada 24 April 2018). 73 UN News, UN Report ‘Slow, Uneven’ Use of Afghan Law Pretecting Women https://news.un.org/en/story/2013/12/457292-un-reports-slow-uneven-use-afghan-law-protectingwomen (diakses pada 04 Mei 2018). 71

30

Action Plan for the Women of Afghanistan (NAPWA), penerapan kuota perempuan dalam konstitusi nasional; hukum dan kebijakan untuk memberantas kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di tingkat nasional dan lokal; dan mengarusutamakan gender dalam Afghanistan National Development Strategy (ANDS).74 Pemberdayaan perempuan dalam bantuan UN Women ini bersifat top-down empowerment yang maksudnya adalah pemberdayaan dilakukan dengan membangun hubungan kerjasama antara lembaga internasional dan pemerintah dalam satu negara.75 Namun sayangnya, seiring dengan pernyataan kegagalan pemerintah Afghanistan pada tahun 2013 dalam hal perlindungan hakhak permepuan disana, dapat diartikan juga bahwa bantuan UN Women selama 10 tahun di Afghanistan tidak begitu signifikan. Pemerintah Afghanistan sebagian besar telah gagal melindungi hak asasi dan menyediakan perlindungan bagi perempuan. Untuk mengatasi itu, perempuan harus

dimasukkan

sebagai

pemangku

kepentingan

utama.76

Perempuan

Afghanistan harus terus memberikan kontribusi yang berharga untuk upaya memperbaiki kehidupan mereka. Namun bersama dengan itu, mereka juga terus menghadapi banyak tantangan yang membutuhkan dukungan pihak lain di dalam dan di luar batas negara. Komunitas internasional, dapat memainkan peran utama

United Nation Entity for Gender Equality anf The Empowerment of Women, UN Women Engagement in Afghanistan http://asiapacific.unwomen.org/en/countries/afghanistan/1/un-women-engagement-in-afghanistan (diakses pada 30 Mei 2018). 75 Manila Basu, Angels of Approaching Gender Equality: Top-Down Vs. Bottom-Up (New York: Cuny Academic Works, 2015) 6. 76 Danielle moyland, The South Asia Channel: Afghanistan is Failing to Help Abused Women http://foreignpolicy.com/2015/05/01/afghanistan-is-failing-to-help-abused-women/ (diakses pada 01 Mei 2018). 74

31

dalam memberdayakan perempuan Afghnaistan dan menghilangkan hambatanhambatan yang terus menghambat kemajuan hidup mereka.77 Dari penjelasan bab ini, dapat dipahami bahwa diskriminasi yang diderita perempuan Afghanistan ternyata merupakan persoalan yang sangat signifikan dan berkaitan satu sama lain. Jika pererempuan Afghanistan tidak dapat berkontribusi diruang publik, maka mereka tidak dapat mengakses layanan kesehatan, mereka tidak bisa bersekolah, tidak bisa bekerja dan menganggur yang ujungnya berdampak pada peningkatan kemiskinan di Afghanistan. Kegagalan pemerintah Afghanistan dalam melindungi hak-hak perempuan dinegara mereka membuat peran dan bantuan INGO menjadi signifikan. INGO dengan strategi pembangunan melalui program pemberdayaan perempuan akan sangat membantu perempuan di Afghanistan untuk memperbaiki kehidupan mereka dari diskriminasi.

77

Arsla Jawaid and Delphine Mechoulan, Afghan Women Need Support in Building Peace

https://theglobalobservatory.org/2016/08/afghanistan-isis-taliban-women-peace-security/ (diakses pada 29 April 2018).

32

BAB III WOMEN FOR WOMEN INTERNASIONAL (WFWI)

Bab ini akan menjelaskan tentang profil dan program pemberdayaan permepuan oleh Women for Women Internatonal (WFWI) di Afghanistan. Profil WFWI mencakup asal terbentuknya, visi misi, pencapaian, sponsor, dan negaranegara tempat mereka melaksanakan pemberdayaan perempuan. Sedangkan program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh WFWI di Afghanistan mencakup lima jenis program pemberdayaan dalam berbagai aspek seperti Earn and Saving Money, Health and Well-Being, Influencing and Decision Making, Connecting to Network dan Men Engaging. Setiap program dijelaskan dengan tujuan dan harapan dilaksanakannya program tersebut. Perosoalan

dunia

seperti

diskriminasi

perempuan,

membutuhkan

penanganan cepat dalam menemukan solusi untuk mengakhirinya yang menempatkan Non-Governmental Organization (NGO) menjadi aktor penting. Dalam aksinya memperjuangkan perdamaian, NGO berperan banyak dalam menciptakan perubahan seperti membantu dan mengawal pemerintah dalam kegiatannya dan memberikan pendidikan serta pelatihan skill dalam rangka pemberdayaan terhadap masyarakat lemah dan miskin.78 Salah satu jenis NGO yang didefenisikan oleh David C. Korten adalah NGO yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan advokasi. Jenis NGO ini bergerak untuk mengubah keadaan masyarakat yang tidak seimbang seperti terdapatnya ketimpangan sosial, Takhur Man Sakya, Role of NGOs in the Development of Non Formal Education in Nepal (Nepal: Nepali Women Asosiation, 2010) 2. 78

33

adanya kebijakan yang tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan hal sejenis lainnya.79 Sebagai sebuah INGO, WFWI hadir dalam membentu perempuanperempuan lemah dan miskin dibeberapa negara untuk mengubah keadaan meeka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

3.1 Profil Women for Women Internasional (WFWI) WFWI adalah sebuah INGO yang berbasis di Amerika Serikat yang bertanggung jawab dalam membantu perempuan untuk terlepas dari tekanan dan diskriminasi. Visi WFWI adalah menciptakan dunia dimana semua perempuan bisa memnetukan jalan hidup dan meraih potensi terbesar mereka. Sedangkan misi WFWI adalah mendukung perempuan-perempuan terpinggirkan melalui program pemberdayaan perempuan. Dengan menggunakan skill, pengetahuan dan sumber daya, perempuan bisa menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Hasilnya, perempuan kuat, keluarga kuat, dan masyarakat yang lebih kuat.80 WFWI bekerja di Afghanistan, Bosnia dan Herzegovina, Colombia, Republik Demokratik Kongo, Irak, Kosovo, Nigeria, Rwanda, serta Sudan dan membangun hubungan dengan lebih dari 23.000 sponsor di 50 negara bagian di AS dan 55 negara-negara lain.81 WFWI memberikan permberdayaan melalui program berjenjang sepanjang tahun yang dimulai dengan dukungan emosional.82 Program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan WFWI merupakan proses pemberdayaan yang bersifat bottom-up yang artinya pemberdayaan yang David. C Korten, Getting to 21st Century: Voluntary Action and the Global Agenda (West Hartford: Kumarian Press, 1990) 115. 80 Women for Women International, “We Believe Strong Women Build Strong Nations” http://www.womenforwomen.org/about-us (diakses pada 24 Januari 2017). 81 Dining for Women, Program Fact Sheet: Women fo Women International (Greenville: Dining for Women, 2008) 1. 82 Nasdax Omx, Women for Women International to Ring The NASDAQ Stock Market Closing Bell (New York: Nasdax Omx, 2012) 2. 79

34

dilakukan dengan membangun hubungan kerjasama antara lembaga internasional dan masyarakat level bawah pada satu negara.83 Pemberdayaan dengan sifat ini akan langsung menyentuh persoalan yang dialami oleh perempuan dan menemukan

solusi

dari

persoalan

tersebut.

Pemberdayaan

perempuan

dilaksanakan WFWI selama 12 bulan dengan membentuk kelas-kelas pelatihan dan pendidikan sebanyak 25 orang perempuan disetiap kelas yang nantinya skill dan pengetahuan mereka akan dibentuk dan ditingkatkan. Program pemberdayaan yang dilaksanakan diharapkan menghasilkan pencapaian seperti: pertumbuhan bisnis wirausaha untuk mempertahankan pendapatan, pengetahuan tentang kesehatan secara fisik dan psikologis yang baik, peningkatan kepercayaan diri, memberikan pengaruh dalam pembuatan keputusan, serta memperbaiki akses terhadap jaringan sosial pendukung masyarakat.84 WFWI pertama kali melaksanakan program pemberdayaan mereka di Afghanistan pada tahun 2002 hingga saat ini. WFWI masuk ke Afghanistan dan telah memberdayakan 347.682 perempuan dengan bermitra bersama NonGovernmenal Organization (NGO) lokal di Afghanistan. Dalam usahanya masuk ke Afghanistan, WFWI mengalami kendala seperti susahnya izin dari pihak lakilaki bagi perempuan yang akan diberdayakan karena mereka tidak memiliki kebebasan untuk terlibat dan berpartisipasi di ruang publik. Untuk mengatasi kendala tersebut, WFWI bekerjasama dengan NGO lokal yang ada di Afghanistan yang bernama Zardozi dan Afghan Women’s Network. Dua NGO ini merupakan himpunan dari perempuan-perempuan well-educated di Afghanistan dimana Manila Basu, Angels of Approaching Gender Equality: Top-Down Vs. Bottom-Up (New York: Cuny Academic Works, 2015) 6. 84 Innovation for Poverty Actions, Women for Women International: Monitoring and Evaluation in Conflict and Post-Conflict Settings (Connecticut: Innovation for Poverty Actions, 2015) 5. 83

35

mereka sebagai civil society yang memiliki kesadaran akan persoalan diskriminasi yang terjadi di negara mereka dan berkeinginan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Bantuan dua NGO ini terlihat seperti bantuan perizinan, keamanan, teknikal, bahasa dan komunikasi serta akses jaringan di Afghanistan. Melalui strateginya, WFWI juga berperan dalam mengatasi kendala tersebut yaitu dengan melibatkan laki-laki dalam program pemberdayaan yang nantinya akan mengubah perspektif malestream mereka mengenai hak-hak perempuan. Melalui strategi tersebut nantinya akan terbentuk kesadaran dan dukungan dari laki-laki terhadap perempuan di Afghanistan untuk bisa berkontribusi dalam kehidupan publik. Melalui kerjasama ini, WFWI berharap bisa mempromosikan hak-hak perempuan dan mendukung pembangunan masyarakat Afghanistan melalui program pemberdayaan perempuan.85

3.2 Program Pemberdayaan Perempuan oleh WFWI Program pertama adalah Earning and Saving Money. Dalam program ini, perempuan menerima pelatihan keterampilan bisnis dasar dan aktivitas incomegenerating di salah satu dari lima kunci sektor yaitu pertanian, kerajinan tangan dan manufaktur, perdagangan dan layanan, ternak, serta pengolahan makanan. Program ini juga menyediakan $10 gaji bulanan kepada perempuan dan mendorong mereka untuk menabung guna investasi mereka dimasa depan. Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memberikan dampak pada peningkatan

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2011 Country Profile; Afghanistan, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2011) 2. 85

36

pendapatan dan tabungan perempuan. Begitupun dengan peningkatan jumlah perempuan Afghanistan yang menabung dari pendapatan harian mereka.86 Program kedua adalah Health and Well-Being. Program ini memberikan pelatihan kesehatan tentang topik-topik seperti keluarga berencana, kandungan, persalinan, nutrisi, dan pengelolaan stres. Program ini mengupayakan perempuan untuk bisa tekoneksi dengan layanan kesehatan sehingga mereka mendapakan layanan kesehatan dengan baik yang selama ini menjadi salah satu kendala terbesar mereka. Pelatihan ini dapat memberikan kesadaran bagi perempuan Afghanistan akan pentingnya bagi mereka untuk hidup sehat. Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memberikan dampak pada peningkatan praktek keluarga berencana, peningkatan praktek perencanaan gizi, dan peningkatan informasi dan pengetahuan perempuan mengenai kesehatan.87 Program ketiga adalah Infuencing and Decision Making. Program ini berupaya membantu perempuan dalam membangun kepercayaan diri untuk dapat hidup jauh dari rasa takut dan tekanan yang mebuat mereka terdiskriminasi. Program ini juga membantu perempuan dengan memahami hak - hak mereka dan pentingnya partisipasi serta negosiasi. Program ini mendorong perempuan untuk memberikan pengaruh terhadap sesama sehingga suara perempuan di dapat didengar sehingga perempuan bisa berdiri untuk hak mereka. Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memberikan dampak pada peningkatan partisipasi perempuan Afghanistan dalam pembuatan keputusan dan kepemimpinan.88

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2013 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2013) 8. 87 Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2014 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2014) 7. 88 Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2015 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2015) 11. 86

37

Program keempat adalah Connecting to Network. Dalam program ini, WFWI berupaya untuk membangun kembali jaringan perempuan yang mungkin pernah hilang atau belum pernah terbangun. Bersama-sama, perempuan berbagi ide, pengalaman dan sumber daya. Mereka berinvestasi dalam bisnis dan pekerjaan untuk menemukan solusi perosalan dan tantangan serta kesematan untuk melakukan perubahan. Program ini melatih para wanita tentang bagaimana caranya mereka dapat mengatur diri mereka sendiri dalam kelompok-kelompok, dukungan sosial, dan kegiatan ekonomi kooperatif. Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memperkuat posisi dan status sosial perempuan. Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan partisipasi perempuan dalam komunitas, peningkatan tabungan kelompok dan peningkatan jumlah perempuan Afghanistan yang pergi sekolah.89 Program kelima adalah Men Engaging. Program ini melibatkan pihak lakilaki dalam pemberdayaan perempuan itu sendiri. Pelibatan laki-laki dalam program pemberdayaan perempuan menjadi satu hal penting karena dari program tersebut bisa terbentuk mutually supportive relations yang bahkan tidak hanya sekedar dukungan tetapi juga penerimaan, pemenuhan dan penghargaan terhadap prerempuan.90 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan tindakan laki-laki di Afghanistan dalam mengurangi kekerasan terhadap perempuan, peningkatan dukungan mereka terhadap partisipasi perempuan Afghanistan dalam komunitas, peningkatan sikap positif terhadap perempuan

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2016 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2016) 7. 90 Women for Women International, Women for Women International Overview (Washington DC: Women for Women International, 2015) 1. 89

38

serta peningkatan informasi dan pengetahuan tentang hak-hak perempuan di Afghanistan.91 Dari penjelasan bab ini, dapat disimpulkan bahwa WFWI dengan program pemberdayaan perempuan yang mereka miliki akan membantu perempuan Afghanistan terlepas dari penderitaan akan diskriminasi yang mereka alami, karena dalam pelaksanaannya, WFWI terjun langsung ke kehidupan perempuan di Afghanistan pada level bawah. Pemberdayaan perempuan akar rumput yang dimulai dari level bawah menjadi relevan dengan situasi yang dialami perempuan di Afghanistan, dimana pemerintah mereka tidak mampu atau gagal dalam melindungi hak-hak perempuan. Dalam hal inilah peran WFWI sebagai INGO menempati posisi penting dalam pembangunan masyarakat Afghanistan melalui pemberdayaan perempuan.

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2017 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2017) 9. 91

39

BAB IV ANALISIS STRATEGI WOMEN FOR WOMEN INTERNASIONAL (WFWI) DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI AFGHANISTAN

Bab ini menjelaskan tentang persoalan diskriminasi perempuan dan pemberdayaan perempuan Afghanistan dengan menggunakan konsep feminisme liberal dan konsep strategi pembangunan NGO. Konsep feminisme liberal digunakan untuk menjelaskan kondisi perempuan di Afghanistan, segala bentuk diskiriminasi perempuan disana dan pemberdayaan perempuan Afghanistan. Sedangkan konsep stategi pembangunan NGO akan menjelaskan bentuk-bentuk strategi dan upaya WFWI yang bekerja di Afghanistan dalam melakukan pemberdayaan perempuan. Dua konsep ini akan menjelaskan setiap persoalan melalui sudut pandang masing-masing dan juga saling berkaitan satu sama lain.

4.1 Diskriminasi Perempuan dan Pemberdayaan Perempuan di Afghanistan dalam Perspektif Feminisme Liberal Hubungan internasional adalah dunianya laki-laki. Dominasi laki-laki umumnya dijelaskan oleh lingkungan dan kejadian sejarah. Kaum feminisme liberal mengakui bahwa dalam sejarahnya, negara belum sepenuhnya adil dan tidak memihak dalam perlakuannya terhadap perempuan.92 Dominasi laki-laki di Afghanistan yang membuat perempuan disana terdiskriminasi merupakan wujud dari dunia laki-laki di Afghanistan. Begitupun dengan pemerintah negara Afghanistan yang belum sepenuhnya adil dan tidak mampu melindungi hak-hak Jane Freedman, Concept in Social Science: Feminism (Philadelphia: Open University Press, 2001) 15. 92

40

perempuan Afghanistan, walaupun mereka telah mencoba meratifikasi perjanjian internasional seperti CEDAW. Pemerintah Afghanistan gagal dalam menaati komitmen CEDAW dalam implementasinya. Kaum feminis memusatkan perhatian pada perempuan, karena mereka percaya bahwa perempuan telah menderita dan mengalami perlakuan yang tidak setara.93 Dominasi laki-laki membuat perempuan di Afghanistan menderita dan mendapatkan perlakuan yang tidak setara. Penderitaan perempuan di Afghanistan terjadi dalam berbagai aspek. Dalam aspek kesehatan, ibu mengandung memiliki akses yang buruk terhadap fasilitas persalinan, tidak ada vaksinasi, gedung pelayanan kesehatan yang hancur serta gangguan mental perempuan Afghanistan. Dalam aspek pendidikan, perempuan Afghanistan memiliki akses yang buruk terhadap pendidikan karena keterbatasan mereka di ruang publik. Perlakuan tidak setara yang dialami perempuan Afghanistan juga terlihat dalam aspek pekerjaan dan penyelesaian kasus kekerasan. Perempuan Afghanistan tidak memiliki banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan duduk dikursi pemerintahan. Pada penyelesaian kasus kekerasan, perempuan Afghanistan semakin menderita karena hanya sedikit dari kasus tersebut yang bisa diselesaikan melalui jalan hukum. Feminisme liberal meyakini bahwa kesetaraan dan kebebasan perempuan akan bisa dicapai dengan menghapuskan hambatan yang mengabaikan hak-hak dan kesempatan perempuan yang sama dengan laki-laki.94 Membuka kesempatan untuk berpartisipasi dalam ruang publik merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan status perempuan. Bagi perempuan di Afghanistan, hambatan yang Jill Steans dan Lloyd Pettiford. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 321 94 Ani Soetjipto dan Pande Trimayuni (ed.) Gender dan Hubungan Internasional (Yogyakarta: Jalasutra, 2013) 12. 93

41

mengabaikan hak-hak dan kesempatan perempuan agar sama dengan laki-laki adalah keterikatan mereka dengan ruang prifat sebagai ibu rumah tangga serta ketidakamanan yang semakin membuat mereka kesulitan untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Maka dari itu, usaha untuk melibatkan perempuan dalam kehidupan publik akan membantu perempuan Afghanistan yang terdiskriminasi untuk meperbaiki kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh kaum feminis liberal untuk mencapai

kebebasan

bagi

perempuan

adalah

dengan

melalui

gerakan

perempuan.95 Pergerakan tersebut bekerja untuk mendukung perempuan.96 Kebebasan perempuan akan melibatkan suatu stategi multi-bidang untuk meraih dukungan dan kesempatan yang sama.97 Upaya inilah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh perempuan Afghanistan untuk terlepas dari diskriminasi yang mereka alami. Melalui gerakan perempuan, perempuan Afghanistan akan memiliki power untuk memperbaiki kehidupan mereka. Gerakan perempuan yang dimaksud terwujud dalam bentuk upaya pemberdayaan perempuan di Afghanistan dalam multi-bidang yaitu ekonomi, kesehatan, pendidikan, jaringan dan pembuatan keputusan (sosial). Dalam upaya pemberdayaan perempuan di Afghanistan, terdapat peran penting non-state actor seperti INGO dengan strategi pembagunan yang mereka miliki. Eksistensi INGO yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan mendapat pengakuan dalam feminisme liberal yang menyatakan bahwa adanya

Omer Caha. Women and Civil Society in Turkey: Women’s Movements in a Muslim Society (New York: Routledge, 2016), 75 96 David C.Korten, Getting to 21st Century: Voluntary Action and The Global Agenda (West Hartford: Kumarian Press, 1990) 115. 97 Jill Steans and Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional: Perspectif dan Tema (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2009) 352. 95

42

INGO merupakan bukti kesadaran feminis global dan solidaritas dari komunitas internasional.98 Gerakan perempuan untuk mencapai kesetaraan dan kebebasan mendapatkan wadah dalam strategi pembangunan INGO melalui tindakan lokal mandiri. Tindakan lokal mandiri inilah wujud dari pemberdayaan perempuan di Afghanistan yang diaktualisasikan dalam bentuk program pemberdayaan perempuan seperti pembangunan usaha swadaya, pelatihan dan pendidikan mengenai kesehatan, pengaruh dalam pembuatan keputusan serta pembangunan jaringan sosial pendukung masyarakat. Program inilah yang secara nyata dilakukan oleh WFWI untuk memberdayakan perempuan di Afghanistan. Seharusnya isu keamanan dilihat secara lebih luas, lebih menyeluruh, sehingga, bentuk-bentuk dari kekerasan dapat dikurangi, seperti kemiskinan, pemerkosaan, kekerasan domestik, subordinasi gender, ekonomi, hingga pada kehancuran ekologi (lingkungan hidup).99 Pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI di Afghanistan merupakan sebuah upaya untuk melihat keamanan secara lebih luas, dimana yang perempuan tidak mendapat sorotan dan perhatian sedangkan mereka adalah korban terbesar akibat dominasi laki-laki di Afghanistan. Keamanan dalam hal ini maksudnya adalah kemanan perempuan yang

terdiskriminasi

dimana

mereka

tidak

berpendidikan,

tidak

sehat,

pengangguran, miskin diperkosa, disiksa dan diperdagangkan. Dengan melihat keamanan secara lebih luas melalui program pemberdayaan perempuan, kemiskinan, pemerkosaan, kekerasan dan bentuk diskriminasi lainnya yang dialami perempuan di Afghanistan dapat dikurangi. Jill Steans and Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional: Perspectif dan Tema (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2009) 352. 99 Tickner, J. Ann and Laura Sjoberg. Feminism. Chap. 10 in Dunne, T., Kurki, M. and Smith, S. (eds.) International Relations Theory: Discipline and Diversity. 1st ed. (New York: Oxford University Press. 2007) 193 98

43

Negara dunia ketiga merupakan kumpulan negara-negara non blok setelah Perang Dingin yang salah satunya adalah Afghanistan. Negara dunia ketiga identik dengan persoalan pembangunan ekonomi rendah, tingkat harapan hidup rendah, tingkat kemiskinan dan penyebaran penyakit yang tinggi. Negara dunia ketiga merupakan target utama bantuan dari negara-negara yang lebih kaya seperti pemerintah, NGO dan individu.100 Ide utama dari feminisme liberal merupakan pembebasan perempuan dari hambatan yang mengabaikan hak dan kesempatan mereka dengan melibatkan partisipasi perempuan dalam ruang publik. Keterbatasan hak dan kesempatan perempuan di Afghanistan untuk berkontribusi di ruang publik merupakan masalah penting terciptanya banyak persoalan seperti susahnya akses kesehatan, susahnya akses pendidikan, pengangguran dan kemiskinan. Penderitaan perempuan Afghanistan tersebut sama dengan apa yang dikategorikan sebagai persoalan negara dunia ketiga. Upaya feminisme liberal dalam membebaskan perempuan dari penderitaan mereka akibat diskriminasi, merupakan bentuk solusi dari persoalan diskriminasi tersebut. Jadi, konsep feminisme liberal berkaitan erat dengan persoalan negara dunia ketiga yaitu Afghanistan.

4.2 Strategi Pemberdayaan Perempuan oleh WFWI di Afghanistan dalam Perspektif Strategi Pembangunan NGO Strategi Pembangunan NGO merupakan kerangka yang dihasilkan dari penilaian David C. Korten terhadap perilaku dan pengalaman kritis NGO dalam proses pembangunan. Pembangunan didefinisikan sebagai pertumbuhan plus Dictio, Apa yang dimaksud dengan Dunia Ketiga (Third World)? https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-dunia-ketiga-third-world/5117 (diakses pada 16 Juli 2018). 100

44

perubahan, yang merupakan kombinasi berbagai proses ekonomi, sosial dan politik, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.101 Strategi pembagunan yang digunakan adalah strategi pembagunan NGO oleh David C. Korten yang bernama Small Scale, Self-Reliant Local Development. Strategi ini berfokus pada daya dari NGO dalam pembangunan dan pengembangan kapasitas masyarakat untuk lebih memenuhi kebutuhan mereka sendiri melalui tindakan lokal mandiri.102 Apa yang dilakukan WFWI di Afghanistan untuk menyelamatkan perempuan disana dari diskriminasi merupakan bentuk proses pembangunan melalui pemberdayaan perempuan. Pembangunan ini nantinya akan ditandai dengan perubahan kualitas hidup perempuan di Afghanistan yang awalnya mereka terdiskriminasi, setelah melalui proses pemberdayaan mereka akan memiliki kehidupan yang lebih baik dengan berkontribusi dan berpartisipasi dalam berbagi aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial

dan

politik.

Pembangunan

tersebut

dilakukan

melalui

program

pemberdayaan perempuan yang WFWI miliki dengan membentuk tindakan atau kegiatan pemberdayaan lokal di desa-desa terpencil di Afghanistan yang yang tujuannya adalah untuk membuat perempuan mandiri. Orientasi kegiatannya adalah pada program pembangunan masyarakat.103 Program pembangunan masyarakat yang dilakukan di berbagai bidang seperti kesehatan preventif, pendidikan dan kegiatan pengembangan masyarakat lainnya. Seringkali proyek atau program pembangunan yang dilakukan oleh NGO sejajar dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah, tetapi layanan United Nations. 1972. Planning as A Tool of Development (dalam Corespondence Course in Social Planning). Lecture 2. 102 Iain Attack, Four Criteria of Development NGO Legitimacy, Word Development Journal, Vol. 27, No. 5 (1999), 856 103 Indra Bastian, Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik (Jakarta: Erlangga, 2007) 33. 101

45

pemerintah tidak memadai di lokasi tempat strategi pembangunan masyarakat ini dioperasikan.104 Pernyataan ini menjelaskan keadaan pemerintah Afghanistan yang gagal dan tidak mampu dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak perempuan di negara mereka, dimana masih banyaknya perempuan yang tidak bersekolah, sulit dan kurangnya layanan kesehatan, banyaknya perempuan yang tidak bekerja, kemiskinan serta banyaknya kekerasan yang terjadi terhadap perempuan seperti pemerkosaan, pembunuhan, penculikan, penyiksaan dan perdagangan perempuan. Upaya yang dilakukan dalam pembangunan dalam konsep ini dilukiskan sebagai upaya untuk memberi empower kepada masyarakat yang mana fokusnya disini adalah perempuan. Strategi ini mencakup pembangunan yang implisit, yang berasumsi bahwa yang menjadi pokok persoalan adalah kelambanan lokal yang disebabkan oleh tradisi, isolasi dan kekurangan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai.105 Melalui program pemberdayaan perempuan yang dilksanakan WFWI, perempuan di Afghanistan diberikan kekuatan untuk bisa memperbaiki kehidupan mereka untuk keluar dari penderitaan akibat diskriminasi. Diskriminasi perempuan di Afghanistan merupakan bentuk nyata dari kelambanan lokal yang dimaksud, dimana tradisi di Afghanistan membuat perempuan terkurung di ruang prifat. Tradisi tersebut seperti tidak diperbolehkannya perempuan untuk muncul di ruang publik yang membuat perempuan di Afghanistan terisolasi dari kehidupan sosial yang seharusnya mereka miliki. Keterbatasan perempuan David C. Korten, Third Generation NGO Strategies: A Key to people Centered Development (Great britain: Porgemon Journal, 1987) 4. 105 David C. Korten, Menuju Abad ke -21; Tidakan Sukarela dan Agenda Global (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002) 194. 104

46

Afghanistan untuk berkontribusi di kehidupan publik, membuat mereka tidak mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan pelayanan kesehatan yang baik. Kelambanan ini bisa dihentikan melalui campur tangan badan yang mengadakan perubahan dari luar, yang membantu menyadarkan masyarakat mengenai potensi yang dimilikinya melalui pendidikan, organisasi, peningkatan kesadaran, pinjam kecil dan perkenalan dengan teknologi-teknologi baru yang sederhana.106 Campur tangan WFWI sebagai INGO yang bersal dari luar Afghanistan yaitu dari Amerika

Serikat,

akan

mebantu

perempuan

di

Afghanistan

dalam

memberdayakan mereka. Secara universal, strategi pembangunan NGO memusatkan perhatian pada pendidikan, maka tradisi pengembangan sumberdaya manusia mengasumsikan bahwa masalahnya terutama terletak pada kurangnya keterampilan dan kekuatan fisik dari individu yang diperlukan. Melalui program pemberdayaannya, WFWI memberikan pendidikan dan pelatihan kepada perempuan di Afghanistan seperti pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana yang membantu menciptkan kekuatan fisik mereka, pelatihan usaha, bisnis dan tabungan yang membantu perempuan dalam mebentuk keterampilan atau skill dalam mengelola keuangan. Begitupun tentang pendidikan dan pelatihan mengenai kepemimpinan, pembuatan keputusan dan pembanguna jaringan sosial yang membantu perempuan dalam memperkuat peran sosial mereka dalam masyarakat. Dalam melaksanakan program pemberdayaan perempuannya dari tahun 2013 hingga tahun 2017 di Afghanistan, WFWI telah memberdayakan sebanyak 347.340 orang perempuan dan sebanyak 5.422 orang laki-laki. Pada tahun 2013, David C. Korten, Menuju Abad ke -21; Tidakan Sukarela dan Agenda Global (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002) 194. 106

47

WFWI memberdayakan 99.000 orang perempuan dan 147 orang laki-laki, tahun 2014 WFWI memberdayakan 102.000 orang perempuan dan 150 orang laki-laki, tahun 2015, WFWI memberdayakan 106.000 orang perempuan dan 425 orang laki-laki, tahun 2016, WFWI meberdayakan 31.000 orang perempuan dan 2.900 orang laki-laki serta tahun 2017, WFWI telah memberdayakan 9.340 orang perempuan dan 1.800 orang laki-laki. Berikut adalah program pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI di Afghanistan dengan detail kegiatan beserta dampak yang ditimbulkan.107

4.2.1 Earn and Saving Money Kegiatan dalam program ini berupa pelatihan numerasi kepada perempuan di Afghanistan dimana perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah dididik untuk membaca, berhitung, cara menggunakan kalkulator dan telepon seluler, penyediaan $10 gaji bulanan kepada perempuan guna mendorong mereka untuk menabung, menemukan pekerjaan dengan bisnis lokal, memasarkan dan menetapkan harga produk usaha dan menghitung pendapatan serta pengeluaran, menciptakan kelompok tabungan informal dengan merintis Asosiasi Simpan Pinjam Desa agar perempuan bisa menciptakan sumber tabungan dan kredit mereka sendiri, menghubungkan perempuan dengan layanan perbankan, bagi perempuan yang telah memiliki akun, mereka bisa belajar mengenai mobile banking, mengadakan seminar literasi dan keuangan, membentuk asosiasi yang

Women for Women International, Women for Women International Overview (Washington DC: Women for Women International, 2015) 1. 107

48

terhubung dengan pasar lokal serta menghubungkan lulusan program dengan majikan tempat mereka bisa bekerja nantinya.108 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan pendapatan dan tabungan perempuan di Afghanistan. Pendapatan perempuan di Afghanistan meningkat dari $0.41 menjadi $1.98 pada tahun 2013, meningkat dari $0.39 menjadi $1.49 pada tahun 2014, meningkat dari $0.32 menjadi $1.79 pada tahun 2015, meningkat dari $10.30 menjadi $32.19 pada tahun 2016 dan meningkat dari $9.57 menjadi $38.88 pada tahun 2017. Begitupun dengan peningkatan jumlah perempuan Afghanistan yang menabung dari pendapatan harian mereka meningkat dari 19% menjadi 91% pada tahun 2015 dan meningkat dari 34% menjadi 87% pada tahun 2016.109 Pencapaian pelaksanaan program ini juga berdampak pada penurunan tingkat pengangguran di Afghanistan. Trading Economics menyebutkan bahwa tingkat pengangguran di Afghanistan mengalami penuruanan dari titik 8.9 pada tahun 2015 menurun ke titik 8.8 pada tahun 2017.110

4.2.2 Health and Well-Being Program ini berusaha untuk menghubungkan perempuan di Afghanistan ke penyedia layanan kesehatan setempat yang memungkinkan mereka untuk bisa mengakses jasa layanan kesehatan. Program ini secara teratur meninjau kurikulum kesehatan dan daftar rujukan layanan kesehatan, memastikan dan memberikan perempuan informasi akurat mengenai cara mengatasi masalah kesehatan terbesar Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2013 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2013) 12. 109 Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis. 110 Trading Economics, Afghanistan Unemployment Rate 1991-2018 https://tradingeconomics.com/afghanistan/unemployment-rate (diakses pada 30 Mei 2018). 108

49

mereka, melakukan pelatihan terhadap bidan, membantu para perempuan mengatur janji untuk check-up dan konsultasi kesehatan dengan dokter, meningkatkan

komponen

HIV/AIDS

dari

kurikulum

program

dengan

mengidentifikasi layanan perawatan dan pencegahan serta hambatan yang mencegah perempuan untuk mengaksesnya, menghubungkan perempuan dengan konseling dan tes HIV/AIDS gratis, perempuan yang dites positif diberikan sesi tindak lanjut pribadi oleh profesional dan dirujuk ke pusat kesehatan di mana mereka bisa menerima obat dan terapi anti-retroviral.111 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan praktek keluarga berencana, peningkatan praktek perencanaan gizi, dan peningkatan informasi dan pengetahuan perempuan Afghanistan mengenai kesehatan. Peningkatan praktek keluarga berencana meningkat dari 31% menjadi 81% pada tahun 2013, meningkat dari 26% menjadi 85% pada tahun 2014, meningkat dari 24% menjadi 61% pada tahun 2015 dan meningkat dari 30% menjadi 87% pada tahun 2016. Dismaping itu, peningkatan praktek perencanaan gizi meningkat dari 34% menjadi 97% pada tahun 2015 dan meningkat dari 26% menjadi 99% pada tahun 2016. Sedangkan peningkatan informasi dan pengetahuan perempuan tentang kesehatan reproduksi meningkat dari 28% menjadi 92% 2015 dan meningkat dari 21% menjadi 65% pada tahun 2017.112 Perbaikan kesehatan di Afghanistan memberikan dampak positif yang terlihat pada tingkat kematian ibu yang menurun. Pada tahun 2013, tingkat kematian ibu di Afghanistan adalah 7.46% kemudian turun menjadi 6.82% pada

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2014 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2014) 9. 112 Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis. 111

50

tahun 2015.113 Pada tahun 2016, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 45.958 orang ibu melahirkan di Afghanistan telah dilakukan dengan layanan oleh tenaga kelahiran terlatih serta 403 wabah penyakit terdeteksi, diselidiki dan ditanggapi dalam waktu 72 jam setelah pemberitahuan.114 Sebuah artikel 2016 yang diterbitkan di The Hill menyatakan bahwa sekarang 65% warga Afghanistan telah memiliki akses ke layanan kesehatan dasar dibandingkan dengan hanya 8% pada tahun sebelumnya.115 Terdapat 540 perempuan Afghanistan yang terinveksi HIV/AIDS telah menjalani terapi Antiretroviral pada tahun 2017.116

4.2.3 Influencing and Decision Making Dalam program ini, perempuan di Afghanistan belajar tentang hak mereka dengan mendiskusikan pentingnya kesetaraan gender dan pendidikan perempuan, mengadakan diskusi untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan, bergabung dengan media sosial untuk kampanye guna meningkatkan kesadaran kekerasan terhadap perempuan, mengadakan pendidikan dan pelatihan perempuan agar bisa berdiri untuk perdamaian, membantu perempuan di Afghanistan mengembangkan potensi kepemimpinan, komunikasi, dan keterampilan negosiasi, membantu perempuan belajar bagaimana menegaskan hak kepemilikan,

World Data Atlas, Afghanistan Maternal Mortality Rasio Modeled Estimate https://knoema.com/atlas/Afghanistan/topics/Health/Health-Status/Maternal-mortality-ratio (diakses pada 25 Mei 2018). 114 World Heath Organization, Afghanistan Humanitarian Response Plan 2017 http://www.who.int/emergencies/response-plans/2017/afghanistan/en/ (diakses pada 25 Mei 2018). 115 Bloomin Uterus, Afghanistan and Health Care for Women https://bloominuterus.com/2016/05/03/afghanistan-and-health-care-for-women/ (diakses pada 25 Mei 2018). 116 The Global Fund, HIV/AIDS in Afghanistan Overview https://www.theglobalfund.org/en/portfolio/country/?k=1095c077-a626-4f85bd3f42c01deceec8&loc=AFG (diakses pada 25 Mei 2018). 113

51

mendukung upaya untuk mendorong pemerintah untuk meningkatkan keamanan bagi perempuan dan anak perempuan melalui media dan demonstrasi, serta membantu menggembleng perhatian global terhadap keamanan perempuan melalui kampanye.117 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan partisipasi

perempuan

Afghanistan

dalam

pembuatan

keputusan

dan

kepemimpinan. Peningkatan partisipasi perempuan dalam pembuatan keputusan finansial meningkat dari 64% menjadi 82% pada tahun 2014, meningkat dari 79% menjadi 91% pada tahun 2015, dan meningkat dari 63% menjadi 91% pada tahun 2016. Terdapat sebanyak 21% perempuan berkontribusi dalam pembentukan keputusan kehadiran anak disekolah pada tahun 2017. Diamping itu, peningkatan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan meningkat dari 9% menjadi 12% pada tahun 2016.118

4.2.4 Connecting to Network Program ini mencoba menghubungkan perempuan di Afghanistan dengan sponsor yang akan mendukung perempuan untuk mulai membangun kembali kehidupan mereka dengan menyediakan dukungan emosional dan keuangan, perempuan berbagi perjuangan, harapan, dan impian dengan membangun hubungan yang erat, menemukan kepercayaan diri dan kekuatan dalam berbagi masalah mereka, belajar bagaimana mereka bisa bekerja bersama menemukan solusi (problem solving), serta melangkah untuk menghubungkan perempuanperempuan di Afghanistan yang terkena dampak dan butuh pertolongan darurat. Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2015Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2015) 21. 118 Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis. 117

52

Dengan dukungan hibah dan sumbangan pribadi, program ini juga menyediakan barang-barang yang dibutuhkan seperti pakaian, peralatan pemanas, piring dan lain sebagainya. Perempuan bekerja bersama mengidentifikasi cara-cara yang dapat mereka perkuat dalam membangun hubungan dan saling pengertian antara komunitas mereka. Kepemimpinan perempuan adalah contoh bagaimana perempuan bersama-sama bergerak mendorong komunitas mereka maju ke depan setelah diskriminasi yang mereka alami.119 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan partisipasi perempuan Afghanistan dalam komunitas, peningkatan tabungan kelompok dan peningkatan jumlah perempuan Afghanistan yang pergi sekolah. Peningkatan partisipasi perempuan di Afghanistan dalam berbagi informasi dan pengetahuan tentang hak mereka dengan perempuan lain dalam satu komunitas meningkat dari 9% menjadi 86% pada tahun 2013, meningkat dari 7% menjadi 76% pada tahun 2014, meningkat dari 10% menjadi 89% pada tahun 2016, dan 100% perempuan berpartisipasi dalam kelompok untuk berbagi informasi dan pengetahuan pada tahun 2017. Disamping itu, peningkatan partisipasi perempuan dalam tabungan kelompok meningkat dari 20% menjadi 63% pada tahun 2016. Begitupun dengan peningkatan jumlah perempuan yang pergi ke sekolah meningkat dari 70% menjadi 85% pada tahun 2015.120 Disisi lain, UNESCO melaporkan bahwa pada tahun 2017 terdapat 84.29% dari populasi perempuan di Afghanistan telah pergi ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan.121 Hingga

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2016 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2016) 17. 120 Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis. 121 United Nation Educational Scientific and Cultural Organization, Afghanistan; Education and Literacy http://uis.unesco.org/country/AF (diakses pada 25 Mei 2018). 119

53

tahun 2015, tingkat melek huruf perempuan di Afghnaistan naik dari 17% menjadi 24.2%.122

4.2.5 Men Engaging Program ini dilaksanakan dengan melibatkan pihak laki-laki dalam pemberdayaan perempuan itu sendiri. Program keterlibatan laki-laki dalam pemberdayaan peempuan fokus pada keterlibatan pemimpin agama, tokoh adat dan sipil, penegak hukum, dan anggota militer dalam peran sosial yang mereka mainkan dalam mempengaruhi sikap di komunitas dan dalam melindungi serta menegakkan hak-hak perempuan. Program ini mendorong pihak laki-laki untuk berpartisipasi dalam diskusi yang membantu mereka memahami caranya membentuk keamanan bagi perempuan dan memberdayakan mereka secara sosial dan ekonomi, dan bagaimana laki-laki bisa menjadi pendukung untuk perubahan.123 Laki-laki yang terlibat saling berbagi pengetahuan tentang hak-hak perempuan dan kesetaraan serta mendorong istri, saudara perempuan, dan anak perempuan untuk mereka bergerak maju. Pelibatan laki-laki dalam program pemberdayaan perempuan menjadi satu hal penting karena dari program tersebut bisa terbentuk mutually supportive relations yang bahkan tidak hanya sekedar dukungan tetapi juga penerimaan, pemenuhan dan penghargaan terhadap prerempuan.124 Dalam program ini, WFWI memberikan tempat bagi laki-laki

Indeks Mundi, Afghanistan Literacy https://www.indexmundi.com/afghanistan/literacy.html (diakses pada 25 Mei 2018). 123 Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2017 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2017) 27. 124 CARE International SII, Women Empowerment & Engaging Men (Jenewa: CARE International SII, 2009) 3. 122

54

untuk bisa memahami gender dan maskulinitas sehingga mereka mengerti dan bisa mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender dan diskriminasi perempuan melalui perubahan pola pikir masyarakat yang seksis.125 Pelaksanaan program ini memberikan dampak pada peningkatan tindakan laki-laki di Afghanistan dalam mengurangi kekerasan terhadap perempuan, peningkatan dukungan mereka terhadap partisipasi perempuan Afghanistan dalam komunitas, peningkatan sikap positif terhadap perempuan serta peningkatan informasi dan pengetahuan tentang hak-hak perempuan di Afghanistan. Peningkatan laki-laki mengambil tindakan mengurangi kekerasan berbasis gender meningkat dari 2% menjadi 49% pada tahun 2013, meningkat dari 13 menjadi 51% pada tahun 2014, meningkat dari 42% menjadi 87% pada tahun 2015 dan meningkat dari 16% menjadi 42% 2017. Peningkatan pengetahuan dan informasi laki-laki tentang ha-hak perempuan naik dari 1% menjadi 53% pada tahun 2015, meningkat menjadi 97% pada tahun 2016 dan meningkat dari 9% menjadi 98% pada tahun 2017. Sebanyak 49% laki-laki mengambil tindakan mendukung hakhak perempuan dan partisipasi mereka dalam komunitas pada tahun 2016. Peningkatan laki-laki yang memiliki sikap positif terhadap perempuan dalam pembuatan keputusan meningkat dari 6% menjadi 99% pada tahun 2017.126 Banyak dari pemimpin agama Islam Afghanistan mengakui mengatakan bahwa banyak diskiriminasi dan kekerasan terhadap perempuan tidak konsisten dengan hukum syariah Islam. Maka dari itu peran pemimpin agama Islam dan tetua

Women for Women International, Engaging Men as Allies and Partner https://www.womenforwomen.org/campaigns/engaging-men-allies-and-partners (diakses pada 23 Februari 2018). 126 Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis. 125

55

masyarakat di Afghnaistan dalam mengakhiri diskriminasi dan kekerasan di Afghnaistam ini sangat penting.127 David C. Korten melihat adanya pola evolusi tertentu dalam masyarakat yang menyebabkan NGO bergerak lebih jauh dari kegiatan bantuan tradisional menuju keterlibatan masyarakat yang lebih besar. Pergerakan INGO akan mengurangi gejala merebaknya permasalahan dan bergerak kearah penyelesaian penyebab yang lebih mendasar dari setiap permasalahan pembangunan dalam masyarakat. Hal ini terlihat dalam pemberdayaan yang dilaksanakan WFWI melalui program men engaging dimana dalam program ini mereka tidak hanya melibatkan

perempuan

tetapi

juga

melibatkan

lali-laki

dalam

proses

pemberdayaan perempuan. Hal ini merupakan bukti keterlibatan masyarakat secara

lebih

luas

dalam

pembangunan.

Dilibatkannya

laki-laki

dalam

pemberdayan perempuan di Afghanistan akan mengurangi gejala merebaknya permasalahan diskriminasi perempuan disana serta akan memecahkan persoalan mendasar penyebabnya. Keterikatan perempuan Afghanistan dalam kehidupan prifat dibawah rezim Taliban merupakan gejala merebaknya permasalahkan diskriminasi perempuan dan keterbatasan mereka dalam meperoleh hak-hak mereka seperti askses kesehatan, pendidikan dan pekerjaan merupakan penyebab mendasar terhambatnya pembangunan di Afghanistan. Pernyataan kebijakan Overseas Development Administration (ODA) Inggris tahun 1989 menegaskan bahwa mencapai perlakuan yang lebih baik terhadap perempuan merupakan langkah utama dalam penghapusan kemiskinan, Voice of America, UN Says Afghanistan Failing on Protecting Women's Basic Rights https://www.voanews.com/a/un-says-afghanistan-failing-on-protecting-womens-basic-rights 111610354/132088.html (diakses pada 04 Mei 2018). 127

56

memperluas kesempatan sosial dan memberi rangsangan bagi pembangunan ekonomi yang lebih baik.128 Perubahan sikap laki-laki terhadap perempuan di Afghanistan sebagai hasil dari program men engaging, merupakan bentuk pencapaian perlakuan yang lebih baik dari laki-laki terhadap perempuan. Sikap positif laki-laki terhadap perempuan di Afghanistan seperti dukungan partisipasi perempuan dalam komunitas dan pembuatan keputusan merupakan bentuk stategi dalam memperluas kesempatan sosial bagi perempuan. Begitupun dengan dukungan laki-laki terhadap perempuan dalam hak kepemilikan, usaha, tabungan dan bisnis merupakan upaya dalam penghapusan kemiskinan di Afghanistan untuk pembangunan ekonomi yang lebih baik. Strategi pembangunan NGO yang berpusat pada masyarakat memiliki tujuan akhir untuk memperbaiki kualitas hidup dengan aspirasi serta harapan individu dan kolektif. Strategi ini memberantas kemiskinan absolut, realisasi keadilan distributif, dan peningkatan partisipasi masyarakat secara nyata.129 Pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI di Afghanistan dari tahun 2013 hingga tahun 2017 telah memberikan perubahan besar pada kehidupan perempuan disana. Dilaksanakannya program-program pemberdayaan dengan pendidikan dan pelatihan didalamnya yang diikuti oleh perempuan di Afghanitan merupakan bukti upaya WFWI membebaskan perempuan disana dari tekanan diskriminasi yang tidak memperbolehkan perempuan Afghanistan untuk berpartisipasi di ruang publik yang membuat mereka terikat di ruang prifat.

Tam O’Neil, Women and Power: Overcoming Barriers to Leadership and Influence (London: Overseas Development Administration, 2016) 10. 129 Harry Hikmat, Analisis Dampak Lingkungan Sosial: Strategi Menuju Pembangunan Berpusat pada Rakyat (Andalsos: Kementrian Sosial, 2014) 3. 128

57

Membaiknya kualitas hidup perempuan seperti akses perempuan Afghanistan terhadap layanan kesehatan, meningkatnya pengetahun mereka tentang kesehatan, meningkatnya jumlah perempuan Afghanistan yang pergi ke sekolah, meningkatnya pendapatan dan tabungan, meningkatnya informasi dan pengetahuan laki-laki tentang hak-hak perempuan di Afghanistan serta meningkatnya kesadaran laki-laki di Afghanistan untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan adalah wujud dari kebebasan perempuan untuk bisa berpartisipasi dalam ruang publik. Meningkatnya pendapatan dan tabungan perempuan dari usaha dan bisnis yang mereka pelajari dari program pemberdayaan perempuan oleh WFWI merupakan jalan menuju terhapusnya kemiskinan absolut, telah banyaknya perempuan yang pergi kesekolah untuk mendapatkan pendidikan merupakan wujud dari realisasi keadilan distributif dan kontribusi perempuan dalam kepemimpinan dan pembuatan keputusan dalam komunitas mereka merupakan wujud dari pertisipasi masyarakat (perempuan) secara nyata dalam pembangunan. Strategi pembangunan NGO sangat memperhatikan keberlanjutan.130 Maksudnya adalah upaya ini akan memberikan manfaat yang bisa dipertahankan oleh masyarakat di luar periode pembangunan yang telah dilaksanakan. Strategi pembangunan masyarakat akan mematahkan ketergantungan yang dihasilkan dari bantuan-bantuan amal atau kemanusiaan melalui kegiatan pemberdayaan.131 Pembangunan masyarakat melalui program pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI memberikan hasil yang berkelanjutan bagi perempuan di Afghanistan. Dengan diciptakannya usaha, bisnis, tabungan dan kepemimpinan Gerard Clarke, The Politics of NGOs In South – East Asia (London; Routledge, 1998) 13. Sunarno, Kepemimpinan dalam Organisasi (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2008) 14. 130 131

58

perempuan, ini akan membantu perempuan tidak hanya memperbaiki kualitas hidup mereka, tetapi juga untuk keberlanjutan hidup mereka kedepannya agar mereka benar-benar terlepas dari diskriminasi dan memiliki masa depan. Program pemberdayan yang telah memandirikan perempuan di Afghanistan akan mematahkan bantuan tradisional yang selama ini mereka terima seperti obatobatan, pakaian, makanan, selimut dan lain sebagainya karena setelah melewati proses pemberdayaan, perempuan Afghanistan telah mandiri dan memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan yang lebih baik. Keberhasilan WFWI dalam melakukan pemberdayaan perempuan di Afghanistan bisa dilihat dari sebuah cerita pengakuan dari salah seorang lulusan program pemberdayaan perempuan oleh WFWI bernama Zia Gul di Afghanistan. Beliau adalah seorang ibu berusia 40 tahun dengan empat anak. Zia Gul tidak berpendidikan dan merupakan seorang ibu rumah tangga. WFWI menawarkan Zia Gul untuk belajar tentang hak-hak perempuan, kesehatan, bisnis, dan hak anak untuk bersekolah. Pada tahun 2013, WFWI memperkenalkan Zia Gul kepada Safi Apparel Corporation di Afghanistan dan sekarang Zia Gul sibuk bekerja sebagai penjahit dengan penghasilan $65 sebulan. Zia Gul senang saat ini secara ekonomi mendukung keluarganya. Zia Gul telah menghadapi banyak kesulitan dalam hidupnya tetapi sekarang merasa lega karena pendapatan yang berkelanjutan yang ia milki. Zia Gul berterima kasih kepada WFWI dan berkata “Allah keeps Women for Women International successful so that more and more women of Afghanistan can be helped in the right way.”132 Kesuksesan WFWI dalam Lyndsay Booth, Vital-Job Skills Training for 500 Afghan Women by Women for Women Internasional https://www.globalgiving.org/projects/women-training-jobs-in-afganistan/reports/ (diakses pada 30 Mei 2018). 132

59

melaksanakan pemberdayaan perempuan juga mendapat pengakuan dari Hillary Clinton yang mengatakan bahwa “This organization (Women for Women International) is one that has really produced results. Hundreds of thousands of women have been helped through Women for Women International’s efforts.”133 Dari penjelasan bab ini, dapat disimpulkan bahwa dua konsep yang dipakai yaitu konsep feminisme liberal dan konsep strategi pembangunan NGO telah menjelaskan persoalan yang dihadapi perempuan di Afghanistan yaitu diskriminasi dan program pemberdayaan dengan masing-masing kegiatannya serta perubahan kehidupan yang mereka alami setelah diberdayakan. Feminisme liberal melihat bahwa diskriminasi perempuan di Afghanistan dapat dihapuskan dengan melibatkan mereka diruang publik melalui gerakan perempuan. Gerakan perempuan inilah yang di wadahi oleh strategi pembanguna NGO melalui program pemberdayaan perempuan yang mereka miliki dengan membentuk gerakan tindakan lokal mandiri bagi perempuan di Afghanistan.

Women for Women Internasional, Women for Women Internasional 2017 Annual Report, Stronger Women Stronger Nations (Washington DC: Women for Women Internasional, 2017) 16. 133

60

Tabel 4.1 Analisis Pemberdayaan Perempuan di Afghnaistan oleh Women for Women Internasional (WFWI) menggunakan Strategi Pembangunan NGO dari taun 2013 hingga 2017 No Strategi 1. Small Scale Self Reliant Local Development

Program Earn and Saving Money

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

2.

Small Scale Self Reliant Local

Health and Well Being

a.

Kegiatan Mitra Pelatihan keterampilan bisnis a. Afghan dasar dengan memulai usaha Women’s kecil. Network Seminar literasi dan numerasi b. Zardozibagi perempuan tidak Markets for berpendidikan. Afghan Artisan Penyediaan $10 gaji bulanan kepada perempuan untuk belajar menabung. Memasarkan dan menetapkan harga produk usaha. Menghitung pendapatan serta pengeluaran. Menciptakan kelompok tabungan informal. Menghubungkan perempuan dengan layanan perbankan. Membentuk asosiasi yang terhubung dengan pasar lokal. Menghubungkan lulusan program dengan majikan. Menghubungkan perempuan a. Afghan ke penyedia layanan kesehatan Women’s setempat. Network

Hasil a. Pendapatan perempuan meningkat dari $0.41 menjadi $1.98 pada tahun 2013, meningkat dari $0.39 menjadi $1.49 pada tahun 2014, meningkat dari $0.32 menjadi $1.79 pada tahun 2015, meningkat dari $10.30 menjadi $32.19, 2016 dan meningkat dari $9.57 menjadi $38.88 pada tahun 2017. b. Peningkatan jumlah perempuan Afghanistan yang menabung dari pendapatan harian mereka meningkat dari 19% menjadi 91% pada tahun 2015 dan meningkat dari 34% menjadi 87% pada tahun 2016.

a. Peningkatan praktek keluarga berencana meningkat dari 31% menjadi 81% pada tahun 2013, meningkat dari 26% 61

Development

3

Small Scale Self Reliant Local Development

Influencing and Decision Making

b. Memberikan perempuan b. Zardoziinformasi akurat mengenai Markets for cara mengatasi masalah Afghan Artisan kesehatan. c. Mengatur janji untuk check-up dan konsultasi kesehatan dengan dokter. d. Mengidentifikasi layanan perawatan dan pencegahan HIV/AIDS. e. Menghubungkan perempuan dengan konseling dan tes HIV/AIDS gratis. a. Pelatihan dan pendidikan a. Afghan tentang hak-hak fundamental Women’s perempuan. Network b. Diskusi pentingnya kesetaraan b. Zardozigender dan pendidikan Markets for perempuan. Afghan Artisan c. Diskusi cara mengatasi kekerasan terhadap perempuan. d. Kampanye meningkatkan kesadaran kekerasan terhadap perempuan. e. Pendidikan dan pelatihan perempuan agar bisa berdiri untuk perdamaian.

b.

c.

c.

d. e.

menjadi 85% pada tahun 2014, meningkat dari 24% menjadi 61% pada tahun 2015 dan meningkat dari 30% menjadi 87% pada tahun 2016. Peningkatan praktek perencanaan gizi meningkat dari 34% menjadi 97% pada tahun 2015 dan meningkat dari 26% menjadi 99% pada tahun 2016. Peningkatan informasi dan pengetahuan perempuan tentang kesehatan reproduksi meningkat dari 28% menjadi 92% 2015 dan meningkat dari 21% menjadi 65% pada tahun 2017. Peningkatan partisipasi perempuan dalam pembuatan keputusan finansial meningkat dari 64% menjadi 82% pada tahun 2014, meningkat dari 79% menjadi 91% pada tahun 2015, dan meningkat dari 63% menjadi 91% pada tahun 2016. Peningkatan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan meningkat dari 9% menjadi 12% pada tahun 2016. Sebanyak 21% perempuan berkontribusi dalam pembentukan keputusan kehadiran anak disekolah pada tahun 2017. 62

4

Small Scale Self Reliant Local Development

Connecting to Network

f. Mengembangkan kepemimpinan, komunikasi, dan keterampilan negosiasi. g. Membantu perempuan belajar bagaimana menegaskan hak kepemilikan. h. Mendukung upaya untuk mendorong pemerintah untuk meningkatkan keamanan bagi perempuan melalui media dan demonstrasi. i. Menggembleng perhatian global terhadap keamanan perempuan melalui kampanye. a. Menghubungkan wanita a. Afghan dengan sponsor yang Women’s mendukung. Network b. Diskusi berbagi perjuangan, b. Zardoziharapan, dan impian dengan Markets for membangun hubungan yang Afghan Artisan erat. c. Pelatihan bagaimana perempuan bisa bekerja bersama menemukan solusi (problem solving). d. Melangkah untuk menghubungkan perempuan yang terkena dampak dan

a. Peningkatan partisipasi perempuan berbagi informasi dan pengetahuan tentang hak mereka dengan perempuan lain dalam satu komunitas meningkat dari 9% menjadi 86% pada tahun 2013, meningkat dari 7% menjadi 76% pada tahun 2014, meningkat dari 10% menjadi 89% pada tahun 2016, dan 100% perempuan berpartisipasi dalam kelompok untuk berbagi informasi dan pengetahuan pada tahun 2017. b. Peningkatan partisipasi perempuan dalam tabungan kelompok meningkat dari 20% menjadi 63% tahun 2016. 63

5

Small Scale Self Reliant Local Development

Men Enganging

butuh pertolongan darurat. e. Dengan dukungan hibah dan sumbangan pribadi, program ini juga menyediakan barangbarang yang dibutuhkan seperti pakaian, peralatan pemanas, dan piring. f. Bekerja bersama dalam mengidentifikasi cara-cara yang dapat perempuan perkuat dalam hubungan dan saling pengertian antara komunitas mereka. a. Melibatkan pemimpin agama, a. Afghan tokoh adat dan sipil, penegak Women’s hukum, dan anggota militer Network dalam melindungi serta b. Zardozimenegakkan hak-hak Markets for fundamental wanita. Afghan Artisan b. Diskusi membentuk keamanan perempuan dan bagaimana laki-laki bisa menjadi pendukung untuk perubahan. c. Mendorong pihak laki-laki untuk mendukung istri, saudara perempuan, dan anak perempuan mereka untuk mereka bergerak maju.

a. Peningkatan laki-laki mengambil tindakan mengurangi kekerasan berbasis gender meningkat dari 2% menjadi 49% pada tahun 2013, meningkat dari 13 menjadi 51% pada tahun 2014, meningkat dari 42% menjadi 87% pada tahun 2015 dan naik naik dari 16% menjadi 42% 2017. b. Peningkatan pengetahuan dan informasi laki-laki tentang ha-hak perempuan naik dari 1% menjadi 53% pada tahun 2015, meningkat menjadi 97% pada tahun 2016 dan meningkat dari 9% menjadi 98% pada tahun 2017. c. Sebanyak 49% laki-laki mengambil 64

d. Mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender dan diskriminasi terhadap perempuan melalui perubahan pola pikir masyarakat yang seksis.

tindakan mendukung hak-hak perempuan dan partisipasi mereka dalam komunitas pada tahun 2016. d. Peningkatan laki-laki yang memiliki sikap positif terhadap perempuan dalam pembuatan keputusan naik dari 6% menjadi 99% pada tahun 2017.

Sumber: Dirangkum dari laporan tahunan WFWI dari tahun 2013 hingga tahun 2017 oleh penulis.

65

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulam Dari penjelasan setiap bab, disimpulkan bahwa gerakan perempuan melalui program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh WFWI merupakan sebuah upaya untuk membebaskan perempuan di Afghanistan untuk terlepas dari penderitaan diskriminasi dan telah berhasil yang ditandai dengan kemandirian perempuan di Afghanistan yang terlihat pada perubahan kualitas hidup mereka. Pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI di Afghanistan belum merupakan bentuk upaya untuk mencapai gender equality, tetapi adalah upaya untuk membantu perempuan di Afghanistan untuk bangkit dan berdiri dari penderitaan akibat diskriminasi yang mereka alami. Namun, upaya tersebut merupakah langkah awal yang baik dalam usaha untuk mencapai kesetaraan gender di Afghanistan. Perempuan-perempuan yang telah diberdayakan, mereka akan meiliki kesehatan yang baik, pendidikan yang baik dan pekerjaan yang baik yang mana nantinya merekalah yang akan memperjuangkan hak-hak mereka untuk bisa sama dengan laki-laki. Diskriminasi tersebut terjadi dalam berbagai bentuk, diawali dengan tidak diperbolehkannya perempuan Afghanistan untuk terlibat dalam kehidupan publik yang membuat mereka terkurung dalam kehidupan prifat. Terikatnya mereka dalam kehidupan prifat membuat mereka sulit sekali untuk mendapatkan akses pada layanan kebutuhan dasar seperti akses pada kesehatan, pendidikan dan pekerjaan serta mengalami kekerasan. Sulitnya akses terhadap kesehatan membuat 66

kesehatan perempuan Afghanistan terganggu. Terganggunya kesehatan mereka membuat mereka sulit untuk pergi sekolah untuk mendapatkan pendidikan, sulitnya mereka untuk mendapatkan pendidikan membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan yang dampaknya adalah peningkatan pengangguran perempuan yang berujung dengan meningkatnya kemiskinan di Afghanistan. Tidak hanya itu, perempuan Afghanistan juga menderita dengan kekerasan yang mereka alami seperti pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan, dan perdagangan perempuan. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah Afghanistan mencoba meratifikasi CEDAW pada tahun 2003 agar hak-hak perempuan di negara mereka terlindungi dengan baik. Namun setelah 10 tahun CEDAW diratifikasi, komite CEDAW pada tahun 2013 melaporkan bahwa pemerintah Afghanistan masih banyak mengalami kegagalan dalam menaati komitmen CEDAW pada implementasinya yang buktinya masih banyak perempuan Afghanistan yang meninggal ketika mengandung dan melahirkan, tidak bersekolah dan tidak bekerja, miskin serta menjadi korban kekerasan. Untuk itu, pemerintah Afghanistan meminta bantuan kepada komunitas internasional untuk membantu mereka dalam mengatasi persoalan tersebut. Maka dari itu hadirlah WFWI sebagai salah satu INGO yang fokus pada program pemberdayaan perempuan pada negara-negara yang terkena dampak konflik dan perang. WFWI memberdayakan perempuan Afghanistan melalui program mereka dengan mengadadakan pelatihan dan pendidikan dalam berbagai aspek bagi perempuan di Afghanistan. Berangkat dari kegagalan pemerintah Afghanistan dalam melindungi hakhak perempuan di negara mereka, maka penting halnya peran INGO dalam 67

memberdayakan perempuan Afghanistan. Karena akan sampai kapan perempuan Afghanistan yang tertidas, tidak sehat, tidak berpendidikan, tidak bekerja dan miskin tersebut akan menampung tangan kepada pemerintah. Melalui strateginya, WFWI berusaha membentuk gerakan perempuan melalui tindakan lokal mandiri yang terwujud dalam program-program pemberdayaan perempuan. Makna yang ada dibalik strategi WFWI dalam pemberdayan perempuan di Afghnaistan adalah bukan hanya untuk sekedar terlepas dari penderitaan diskriminasi tetapi perempuan di Afghanistan diharapkan bisa mandiri, memiliki kepercayaan diri yang tinggi sehingga mereka bisa menyuarakan kepentingan mereka, menolak serta melawan penindasan dan diskriminasi yang mereka alami. Setelah itu perempuan di Afghanistan memiliki power dimana mereka bisa melaksanakan peran sosial mereka sebagai perempuan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

5.2 Saran Persoalan dikriminasi perempuan di berbagi negara didunia seharusnya dimasukkan kedalam pembahasan utama dalam hubungan internasional, terutama oleh aktor pengambil kebijakan. Pembangunan masyarakat melalui program pemberdayaan perempuan yang dilakukan WFWI diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para aktifis perempuan ataupun organisasi-organisasi perempuan di negara-negara konflik lainnya untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dari lima program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan WFWI di Afghanistan, terdapat satu kekurangan dari pemecahan persoalan yang belum terselesaikan dengan baik yaitu angka kekerasan terhadap perempuan Afghanistan. Sampai saat ini, masih terdapat banyak kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di 68

Afghanistan dan hanya sedikit yang dapat diselesaikan melaui jalan hukum. Persoalan ini bukanlah kapasitas WFWI dalam program pemberdayaan mereka, tetapi merupakan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Afghanistan dalam menciptakan hukum yang mengikat dan berkeadilan bagi seluruh warga negara di Afghanistan. Pendidikan kemudian juga menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat terutama perempuan di Afghanistan yang mana nantinya pendidikan yang baik yang akan membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka.

69

DAFTAR PUSTAKA

Attack, Iain. Four Criteria of Development NGO Legitimacy, Word Development Journal, Vol. 27, No. 5, 1999. BirdLife International, Empowering the Grassroots–BirdLife, Participation, and Local Communities. Cambridge, UK: BirdLife International, 2011. BBC,

Penarikan Mundur Pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/02/130212_obama_afghanista n (diakses pada 29 maret 2018).

Bastian, Indra. Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik. Jakarta: Erlangga, 2007. Crawford, Neta. War related Death, Injury and Displacement in Afghanistan and Pakitan 2001-2014. Massachusetts: Waston Institute for International Studies, 2015. Crisis Group Report, Afghanistan: Women and Reconstruction, dalam International Crisis Group, Women in Conflict in Afghanistan. Asia Report No.252. Brussels: International Crisis Group, 2013. CEDAW Report, “Status of submission and consideration of reports submitted by States parties under article 18 of the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women.” Agustus, 2006. CARE International SII, Women Empowerment & Engaging Men. Jenewa: CARE International SII, 2009. Chowdury, Elora. “Negotiating State and NGO Politics in Bangladesh: Women Mobilize Against Acid Violance,” Journal of Violance Against Women Vol 13:8 Sage: 2007. Clarke, Gerard. The Politics of NGOs In South – East Asia. London; Routledge, 1998. Caha, Omer. Women and Civil Society in Turkey: Women’s Movements in a Muslim Society. New York: Routledge, 2016. Dining for Women, Program Fact Sheet: Women fo Women International, Greenville: Dining for Women, 2008. Elisabeth, Rehn. Women, War and Peace: The Independent Expert’s Assessment on the Impact of Armed Conflict on Women and Women’s Role in Peace70

Building. New York: United Nation Development Fund for Women, 2002. Frazier, Kara. Putting Down (Grass) Roots in the Desert: An Examination of Women for Women International’s Development Strategy in Irag. Washington D.C: School of International Service, Spring 2012. Firmaliza, Cici. Strategi Organisasi Perempuan Anti Trafficking Apne Aap dalam Menanggulangi Isu Perdagangan Manusia di India. Padang: Andalas Journal of International Studies Vol. 3 No. 2, 2014. Gedung Putih, Sambutan Presiden Kepada Bangsa Tentang Langkah Maju di Afghanistan dan Pakistan. New York: Kantor Sekretaris Pers, 2009. Griffiths, Martin Terry O'Callaghan, Steven C. Roach. International Relations: The Key Concepts. New York: Routledge, 2008. Hadibroto, Iwan. Perang Afghanistan: Di Balik Perseteruan AS vs Taliban. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001, dalam Adhi Ariewibowo Kronologi Penyerangan dan Spekulasi yang Berkembang atas Motivasi Amerika Serikat. Depok: Universitas Indonesia, 2009. Hayati, Eli. Pentingnya Metodologi Feminis di Indonesia. Jurnal No. 48, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2006. Hikmat, Harry. Analisis Dampak Lingkungan Sosial: Strategi Menuju Pembangunan Berpusat pada Rakyat. Andalsos: Kementrian Sosial, 2014. Human Rights Watch, “Failing Commitments to Protect Women's Rights” https://www.hrw.org/news/2013/07/11/afghanistan-failingcommitments-protect womens-rights (diakses pada 23 Februari 2018).

Hamid, Zarin. UNSCR 135 Implementation in Afghanistan. Kabul: The Afghan Women’s Network, 2011. International Crisis Group, Women in Conflict in Afghanistan. Asia Report No.252, Brussels: International Crisis Group, 2013. Innovation for Poverty Actions, Women for Women International: Monitoring and Evaluation in Conflict and Post-Conflict Settings. Connecticut: Innovation for Poverty Actions, 2015. Joyce, Mary. Watering the Grassroot: A Strategy for Social Movement Support. Mumbai: Think Piece, 2015. 71

Julia, Mosse. Half the World, Half a Change: An Introduction to Gender and Development. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2007. Khan, Ahmad. Women and Gender in Afghanistan. Virginia: The Civil-Military Fusion Centre, 2012. Korten, David. Getting to 21st Century: Voluntary Action and The Global Agenda. West Hartford: Kumarian Press, 1990. Korten, David. Third Generation NGO Strategies: A Key to people Centered Development. Great britain: Porgemon Journal, 1987. Korten, David. Menuju Abad ke -21; Tidakan Sukarela dan Agenda Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002. Laub, Zachary. The Taliban in Afghanistan, New York: Council on Foreign Relations, 2014. Mas’oed, Mohtar. Ilmu Hubungan Internasional, Disiplin dan Metodologi. Pusat Antar Universitas – Studi Sosial Universitas Gajah Mada, LP3E: Yogyakarta, 1990. Ml/As (dari berbagai sumber), 10 Negara dimana Kekerasan Seksual Menjadi Hal Lazim http://www.dw.com/id/10-negara-di-mana-kekerasan-seksual-jadi-hallazim/g-19038423 (diakses pada 23 Maret 2018). Nasdax Omx, Women for Women International to Ring The NASDAQ Stock Market Closing Bell. New York: Nasdax Omx, 2012. Physician fot Human Rights, The Taliban War’s om Women; A health and Human Rights Crisis in Afghanistan. Boston: Physician fot Human Rights, 2005. Price, Susan. “From Humanitarian To Journalist: Zainab Salbi's New Series Explores The Truth Of Women's Lives” https://www.forbes.com/sites/susanprice/2016/11/15/from-humanitarianto-journalist-zainab-salbis-new-series-explores-the-truth-of-womenslives/ (diakses pada 06 Maret 2018).

Pettman, Jan. “Feminist International Relations After 9/11.” Brown Journal of World Affairs: Vol x, Issue 2, United States: Brown University, 2004.

72

Sakya, Thakur “Role of NGOs in the Development of Non Formal Education in Nepal”http://home.hiroshima-u.ac.jp/cice/wp-content/uploads/2014/03/31-3.pdf (diakses pada 02 Maret 2018). Steans, Jill dan Lloyd Pettiford. Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009. Soetjipto, Ani dan Pande Trimayuni. Gender dan Hubungan Internasional. Yogyakarta: Jalasutra, 2013. Somantri, Gumilar. Memahami Metode Kualitatif. Vol. 9, No. 2, Depok: Universitas Indonesia, 2005. Soeparna, Intan. Global War on Terror oleh Amerika Serikat dalam Perspektif Hukum Internasional. April, 2005. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Article_Intan.pdf (diakses pada 15 Januari 2018). Sarigianis, Bonnie. "Women in the New Iraqi State," Dickinson College Honors Theses. Paper No. 175, Spring, 2014. Sunarno, Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, ISBN: 979-8619-61-7, 2008. The Asia Foundation, Women Empowerment in Afghnaistan. Kabul: The Asia Foundation, 2016. United Nations. 1972. Planning as A Tool of Development (dalam Corespondence Course in Social Planning) Lecture 2. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization, “Enchancement of Literacy in Afghanistan (ELA) Program” http://www.unesco.org/new/en/kabul/education/enhancement-of-literacyin-afghanistan-ela-program/ (diakses pada 28 Februari 2018). Women & Gender in Afghanistan oleh Ahmad Khan Edited by Steven A. Zyck. Assistant Desk Officer, Civil-Military Fusion Centre, February 2012. Word Bank, Afghanistan: Female Unployment https://www.theglobaleconomy.com/Afghanistan/Female_unemployment / (diakses pada 23 Maret 2018). Women for Women International, “We Believe Strong Women Build Strong Nations” http://www.womenforwomen.org/about-us (diakses pada 24 Januari 2017). Women for Women International, Women for Women International Reserch Project. Washington DC: Women for Women International, 2015. 73

Women for Women International, Engaging Men as Allies and Partner https://www.womenforwomen.org/campaigns/engaging-men-allies-andpartners (diakses pada 23 Februari 2018). Women for Women International, Country Profile: Afghanistan. Washington DC: Women for Women International, 2015.

74

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.