BAB I PENGANTAR A. ALASAN PRAKTIK B. TUJUAN PRAKTIK


1 BAB I PENGANTAR A. ALASAN PRAKTIK Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan salah satu kegiatan latihan yang be...
Author:  Irwan Kusumo

0 downloads 0 Views 453KB Size

Recommend Documents


No documents


BAB I PENGANTAR A. ALASAN PRAKTIK Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Bimbingan dan Konseling di sekolah merupakan salah satu kegiatan latihan yang bersifat intrakurikuler. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka peningkatan ketrampilan, pemahaman aspek kependidikan dan pemberian berbagai bentuk program layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang profesional. Program studi Bimbingan dan Konseling mempunyai tugas menyiapkan dan menghasilkan guru pembimbing yang memiliki nilai dan sikap serta pengetahuan dan keterampilan yang profesional. Alumni program studi Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru pembimbing yang membantu tercapainya tujuan pendidikan. Oleh karena itu dalam rangka menyiapkan tenaga kependidikan (guru pembimbing) yang profesional tersebut program studi Bimbingan dan Konseling menyelenggarakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Untuk melaksanakan hal tersebut mahasiswa diterjunkan ke sekolah dalam jangka waktu tertentu untuk mengamati, mengenal dan mempraktikan semua kompetensi yang wajib dilakukan oleh seorang guru pembimbing sebagai tenaga profesional dalam bidang Bimbingan dan Konseling.

B. TUJUAN PRAKTIK Praktik Pengalaman Lapangan atau PPL Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dimaksudkan agar mahasiswa dapat mempraktikkan teori yang diperoleh selama kuliah, sehingga memperoleh keterampilan khusus sesuai dengan keahlian dalam profesi Bimbingan dan Konseling. Praktik BK memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan semua kompetensi yang telah dimiliki di bawah arahan guru dan dosen pembimbing. Secara khusus PPL BK bertujuan agar mahasiswa memperoleh pengalaman faktual tentang pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di 1

sekolah serta kegiatan-kegiatan kependidikan lainnya. Mahasiswa diharapkan dapat menggunakan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk membentuk profesi konselor di sekolah (guru pembimbing) yang profesional.

C. TEMPAT DAN SUBYEK PRAKTIK 1. Tempat Praktik Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan di SMA Negeri 1 Seyegan. SMA ini terletak di Dusun Tegal Gentan, Kalurahan Margoagung, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI. Yogyakarta. SMA Negeri 1 Seyegan didirikan di tanah seluas kurang lebih 3 hektar. Dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini, terdapat beberapa susunan kegiatan yang telah ditempuh, yaitu: No Tanggal 1 24 Februari 2015 2 26 Februari 2015 3 12 Maret 2015 4 5 6 7

4 Agustus 2015 8 Agustus 2015 10- 12 September 2015 12 September

Kegiatan Penyerahan Pra-Observasi pertama Pembagian Media Lacak Masalah Observasi kondisi fisik dan non fisik sekolah Pembekalan PPL BK UNY Penerjunan PPL UNY 2015 Pelaksanaan kegiatan PPL 2015 Penarikan Kegiatan PPL 2015

Dari tabel tersebut, diperoleh hasil observasi kondisi fisik dan non fisik SMA N 1 Seyegan, berikut ini uraian hasil observasi:

a. Kondisi Fisik SMA N 1 Seyegan terletak disekitar lingkungan pemukiman warga dan hamparan sawah yang luas. SMA ini dekat dengan jalan raya. Terdapat 7 kelas pada setiap tingkatan yang rata-rata memiliki jumlah sekitar 30-32 siswa perkelas. Tenaga Pendidik di SMAN 1 Seyegan berjumlah 50 orang yang sebagian besar berkualifikasi S1 dan beberapa guru berkualifikasi S2. SMA N 1 Seyegan memiliki sarana yang lengkap, yaitu: Ruang kelas total 25 Ruangan, laboratorium , Ruang pimpinan, Ruang guru, Ruang tata usaha, Ruang BK, Ruang Osis, perpustakaan, lapangan upacara, lapangan bola basket, lapangan bola voli, lapangan sepak bola, parkiran, Gudang, mushola dan kamar mandi serta kantin.

2

Ruang kelas dilengkapi dengan LCD dan papan tulis. Memiliki 4 laboratorium yaitu, laboratorium fisika, kimia, biologi dan bahasa. Ruangan BK terletak dibagian belakang SMA Negeri 1 Seyegan dan dekat dengan mushola. Ukuran sekitar 6 x 10 meter terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama merupakan ruang tamu dan ruang guru pembimbing yang disekat almari. Terdapat 3 meja guru dan 2 meja untuk meletakkan data. Ruang kedua merupakan ruang konseling kelompok. Di dalam ruang konseling kelompok terdapat 7 meja dan kursi. Ruang ketiga adalah ruang konseling individu yang di dalamnya terdapat 1 meja dan 2 kursi. Selain itu, di depan ruang BK juga terdapat kotak masalah. Ekstrakurikuler diselenggarakan pada sore hari. Ekstrakurikuler wajib untuk kelas X adalah pramuka. Ekstrakurikuler pilihan meliputi bola voli, bola basket, sepak bola, futsal, senam aerobik, bulu tangkis, karawitan, panembromo, seni baca tulis Al-Quran, komputer aplikasi, pencak silat, English Club, dance dan lain sebagainya.

b. Kondisi Non Fisik Kelas X, XI, XII tahun ajaran 2015/2016 telah menggunakan kurikulum 2013. Peran BK dalam kurikulum 2013 adalah menyelenggarakan program BK secara menyeluruh dan ikut serta dalam program peminatan peserta didik. BK diberikan jam masuk kelas selama 1 jam pelajaran atau 45 menit untuk masingmasing kelas. Program kerja BK dibuat berdasarkan bidang bimbingan yaitu pribadi, sosial, belajar dan karier, yang disiapkan untuk kelas X, XI, dan XII. Setiap kegiatan BK yang ada dalam program kerja dituangkan dalam rencana pelaksanaan layanan (RPL) BK. RPL dibuat dalam 3 halaman yang memuat tema kegiatan, sasaran dan materi yang akan diberikan.

2. Subyek Praktik Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan di SMA N 1 Seyegan, dilaksanakan di kelas X, dengan jumlah kelas yang diampu sebanyak 8 kelas antara lain X MIIA 1, X MIIA 2, XI MIIA 1, XI IIS 3 (KKO), XII MIIA 2, XII IIS 1, XII IIS 2, dan XII IIS 3 (Kelas Khusus Olahraga {KKO}). Jumlah rata-rata

3

siswa tiap kelas 31-32 siswa. Dalam proses mengajar, praktikan menerapkan sistem Role dimana setiap minggunya praktikan bersama partner secara bergantian mengajar dikelas yang berbeda dan selalu bergiliran. Hal ini bertujuan agar Praktikan PPL BK UNY memiliki pengalaman dalam menghadapi siswa yang berbeda angkatan. Pelaksana dalam PPL sebagai penyusun laporan ini adalah mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta: Nama : Laela Suhartanti NIM

: 12104241052

D. MATERI PRAKTIK Materi praktik Bimbingan dan Konseling di sekolah mengacu pada kerangka kerja atau program Bimbingan dan Konseling di sekolah tempat praktik. Kegiatan Bimbingan dan Konseling di sekolah dimulai dengan penyusunan program. Penyusunan program Bimbingan dan Konseling di sekolah dimulai dari kegiatan asesmen baik asesmen lingkungan maupun asesmen kebutuhan atau masalah peserta didik sebagai landasan pemberian layanan Bimbingan dan Konseling. Terdapat empat komponen program Bimbingan dan Konseling yang menjadi fokus mahasiswa dalam melaksanakan PPL yaitu pelayanan dasar, pelayanan responsif, perencanaan individual dan dukungan sistem. Pelaksanaan program dilaksanakan melalui strategi implementasi program sebagai berikut:

1. PELAYANAN DASAR Pelayanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan.

a. Bimbingan Kelas Kegiatan bimbingan kelas merupakan penyampaian materi layanan di dalam kelas yang berbentuk diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).

4

Materi pertemuan untuk kelas X, XI, dan XII berupa bimbingan pribadi (Toleransi antar agama, Manajemen Stress dan Anger Manajemen), bimbingan sosial (Komunikasi, kerja sama), bimbingan belajar (Burnout, Gaya belajar, Konsentrasi Belajar, Prokastinasi), maupun bimbingan karir (carier mapping, dan Informasi tentang PTN/PTS).

b. Pelayanan Orientasi Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah. Penyampaian layanan orientasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis.

c. Pelayanan Informasi Layanan informasi adalah suatu materi kegiatan yang berupa informasi atau keterangan yang akan disampaikan kepada siswa yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : poster, papan bimbingan, dan leaflet).

d. Bimbingan Kelompok Pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti: manajemen waktu.

e. Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi) Aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling adalah mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik baik dengan tes

maupun non-tes

(Angket identitas siswa, MLM dan sosiometri).

f. Pelayanan Penempatan dan Penyaluran Layanan penempatan dan penyaluran dimaksudkan untuk memungkinkan

5

siswa berada pada posisi yang tepat yaitu berkenaan dengan peminatan dan kelompok belajar yang lebih tinggi sesuai dengan kondisi fisik dan psikisnya.

2. PELAYANAN RESPONSIF a. Konseling Individual dan Kelompok Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Layanan konseling individual adalah layanan langsung secara tatap muka dengan praktikan dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalahnya. Layanan konseling kelompok layanan langsung secara tatap muka dengan praktikan dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalahnya melalui dinamika kelompok.

b. Referal (Rujukan atau Alih Tangan) Apabila praktikan/calon konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseli, maka sebaiknya dirinya mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

c. Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang peserta didik (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah peserta didik,

dan

mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.

d. Kolaborasi dengan Orang Tua Konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua peserta didik. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap peserta didik tidak hanya berlangsung di sekolah/madrasah, tetapi juga oleh orang tua di rumah.

6

e. Kolaborasi dengan Pihak-Pihak Terkait di Luar Sekolah Berkaitan dengan upaya Sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsurunsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan.

f. Konsultasi Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan Sekolah/Madrasah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan Sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik.

g. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation) Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh peserta didik terhadap peserta didik yang lainnya. Peserta didik yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Peserta didik yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

h. Konferensi Kasus Kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.

i. Kunjungan Rumah Kunjungan rumah adalah suatu kegiatan pembimbing untuk mengunjungi rumah klien (siswa) dalam rangka untuk memperoleh berbagai keterangan keterangan yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan siswa, dan untuk pembahasan serta pengentasan permasalahan siswa tersebut.

7

3. PERENCANAAN INDIVIDUAL Praktikan membantu peserta didik menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangan, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Pelayanan perencanaan individual ini dapat dilakukan juga melalui pelayanan penempatan (penjurusan, dan penyaluran), untuk membentuk peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

8

BAB II PELAKSANAAN PPL A. PRAKTIK PERSEKOLAHAN Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) persekolahan adalah praktik pengalaman lapangan yang berisi tentang kegiatan BK di sekolah selama PPL, di luar kegiatan kelas. Adapun kegiatan yang telah dilakukan antara lain: 1. Pengadaan Papan Bimbingan BK. 2. Pengadaan Poster BK. 3. Pengadaan Video Bimbingan. 4. Pengadaan Instrumen BK MLM. 5. Pengadaan Sosiometri. 6. Pengadaan Angket Identitas Siswa.

B. PRAKTIK BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH Praktik Bimbingan dan Konseling di SMA N 1 Seyegan dilakukan secara terjadwal di kelas. Setiap kelas dijadwalkan 1 kali pertemuan untuk setiap minggu selama 1 jam pelajaran yaitu 45 menit. Siswa yang diampu adalah X MIIA 1, X MIIA 2, XI MIIA 1, XI IIS 3 (KKO), XII MIIA 2, XII IIS 1, XII IIS 2, dan XII IIS 3 (Kelas Khusus Olahraga {KKO}) untuk dua mahasiswa praktikan. Teknis pelaksanaan pemberian layanan BK dilakukan secara bergantian dan team teaching. Tidak jarang praktikan juga memberikan layanan untuk kelas XI dan XII sesuai dengan situasi atau kondisi yang ada. Berikut ini pelayanan Bimbingan dan Konseling yang telah dilakukan:

1. PELAYANAN DASAR 1. Bimbingan Kelas Bimbingan kelas secara terjadwal 1 x 45 menit untuk masing-masing kelas X, XI, dan XII setiap minggunya. Siswa yang diampu oleh mahasiswa praktikan meliputi kelas X MIIA 1, X MIIA 2, XI MIIA 1, XI IIS 3 (KKO), XII MIIA 2, XII IIS 1, XII IIS 2, dan XII IIS 3 (Kelas Khusus Olahraga {KKO}). Praktikan juga beberapa kali melakukan layanan bimbingan kelas untuk kelas X, XI dan

9

XII. Bimbingan kelas yang telah dilakukan terdapat pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Pelaksanaan Bimbingan Kelas No 1 2

Hari / Tanggal Selasa, 11 Agustus 2015 Rabu, 12 Agustus 2015

Materi Manajemen Stress Prokastinasi

Kelas XII MIIA 4 XII IIS 2

3

Rabu,

12 Agustus 2015

Kemana kalian akan melangkah

XII IIS 3

4

Kamis,

13 Agustus 2015

Prokastinasi, Sosiometri, dan MLM

XII IIS 1

5 6 7

Kamis, Jumat, Sabtu,

13 Agustus 2015 Prokastinasi 14 Agustus 2015 Konsentrasi Belajar 15 Agustus 2015 Kejenuhan Belajar

XI IIS 1 XII MIIA 2 XI MIIA 1

8 9

Selasa, Rabu,

18 Agustus 2015 19 Agustus 2015

X MIIA 1 XII IIS 3

10

Sabtu,

22 Agustus 2015 Gaya Belajar

X MIIA 2

11

Rabu,

26 Agustus 2015

XII IIS 2

12

Sabtu,

29 Agustus 2015 Toleransi Antar Umat Beragama

13 14

Selasa, Rabu,

1 September 2015 2 September 2015

Carrer Mapping Komunikasi yang Efektif

X MIIA 1 XI MIIA 4

15

Kamis,

3 September 2015

Kemana kalian akan melangkah

XII IIS 1

16 17

Kamis, Sabtu,

3 September 2015 4 September 2015

Kominikasi yang Efektif Kerjasama

XI MIIA 3 X MIA 2

18 19

Rabu, Rabu,

9 September 2015 9 September 2015

Anger Manajemen Manajemen Waktu

XII IIS 2 XI IIS 3

Konsentrasi Belajar Kemana kalian akan melangkah

Kemana kalian akan melangkah

XI MIIA 1

Dari tabel 1 di atas terlihat bahwa bimbingan kelas atau bimbingan klaksikal telah dilakukan sebanyak 19 kali. Sebanyak 9 kali di kelas XII, 6 kali di kelas XI dan 4 kali di kelas X. Berikut ini uraian kegiatan bimbingan kelas jika dipetakan dalam bidang layanan:

1) Bidang Pribadi a) Manajemen Stress Materi Manajemen Stress diberikan di kelas XII MIIA 4. Materi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya

10

manajemen stress dalam menghadapi sesuatu. Alasan Praktikan memilih kelas XII, karena kelas XII sangat rentan mengalami stress yang berlebihan entah itu tekanan dari menghadapi teman, pacar, dan dalam memikirkan ujian yang akan dihadapinya. Pada akhir kegiatan, siswa diminta untuk menyimpulkan materi yang telah disampaikan. Kemudian Praktikan menyampaikan kesimpulan dari materi kegiatan yang telah diberikan. b) Kecerdasan Emosi (Anger Manajemen) Materi Anger Manajemen diberikan di kelas XII IIS 1. Materi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana diri siswa dapat mengekspresikan marah dan menanamkan manajemen marah yang baik pada siswa kelas XII melalui media Anger Map. Sebelum penugasan, Praktikan terlebih dahulu memberikan sedikit materi yang berhubungan dengan Anger Manajemen. Kegiatan selanjutnya yaitu penugasan. Penugasan ini dimulai dengan menggambar ekspresi diri siswa ketika marah, dilanjutkan dengan step-step lainnya. Diakhir penugasan, Praktikan meminta beberapa siswa untuk memperlihatkan dan membaca hasil Anger Map mereka.

Kemudian siswa yang lainnya diminta untuk menyimpulkan hasil

kegiatan. Praktikan memberikan tambahan yaitu tips bagaimana cara manajemen stress yang baik.

c) Toleransi Antar Umat Beragama Toleransi Antar Umat beragama diberikan kepada siswa kelas XI MIIA 4. Materi ini dikemas melalui film “PK” , siswa diminta untuk menyimpulkan tayangan film tersebut dan memberikan kesimpulan atas apa yang telah mereka dapatkan dari film tersebut. Kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi.

2) Bidang Sosial a) Kerjasama Materi kerjasama diberikan pada kelas X MIIA 2. Materi yang disampaikan bertujuan untuk memberikan pengalaman pada siswa terkait bagaimana cara bekerjasama yang baik, harapannya akan terbangun kerja sama yang saling menguntungkan antar siswa. Materi disajikan dalam bentuk permainan Jerat Tali dan Kotak Koran. Siswa antusias dalam mengikuti kegiatan 11

bimbingan kelas. Pada akhir sesi perwakilan dua siswa diminta untuk memberikan tanggapannya terkait kegiatan dan kebermaknaannya bagi mereka. b) Komunikasi yang Efektif Materi Komunikasi antar individu diberikan di kelas XI MIIA 4. Materi disampaikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman bahwa dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang saling berkomunikasi antara individu satu dengan individu lainnya. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, siswa diberi permainan yaitu “The Romantic Love Letter”. Beberapa siswa diminta untuk membacakan “The Romantic Love Letter” secara berpasang-pasangan dan saling bersautan. Diakhir kegiatan, siswa diminta untuk menyimpulkan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini.

3) Bidang Belajar a) Prokastinasi Prokastinasi diberikan di kelas XII IIS 2, XII IIS 1, XI IIS 1. Siswa diminta untuk membuat ulasan kritis dari tayangan Video “Si Dongol” dan merumuskan pengertian, penyebab, dan akibat dari prokastinasi. Ulasan dibahas secara umum di kelas, siswa antusias mengikuti bimbingan.

b) Konsentrasi Belajar Konsentrasi belajar diberikan dikelas XII MIIA 2, X MIIA 1. Siswa diminta untuk melakukan permainan kalung kertas. Siswa yang berhasil membuat kalung kertas paling panjang diminta untuk maju kedepan dan membuktikan bahwa kalung tersebut dapat dimasuki oleh beberapa orang siswa lainnya. Kegiatan selanjutnya siswa diminta untuk mengambil makna dari permainan tersebut dan dihubungkan dengan tema materi yang telah disampaikan diawal pertemuan. Diakhir kegiatan, siswa diminta untuk menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

c) Kejenuhan Belajar Kejenuhan belajar diberikan pada kelas XI MIIA 1. Siswa diminta untuk berdiskusi tetang kejenuhan belajar yang dialami yang meliputi : hal-hal yang

12

mempengaruhi , dampak, dan solusi. Kemudian siswa diminta maju kedepan untuk menyampaikan hasil diskusinya. Praktikan menyimpulkan hasil diskusi siswa. d) Gaya Belajar Materi gaya belajar diberikan di kelas X MIIA 2, disajikan dengan metode ceramah dan diskusi tentang permainan dan kuis yang diberikan. Materi ini bertujuan untuk membantu siswa mengatasi masalah belajarnya dengan terlebih dahulu mengenai gaya belajar masing-masing sehingga nantinya mereka mampu merumuskan cara belajar yang efektif untuk dirinya masing-masing. Siswa antusias mengikuti dan menjalankan permainan yang diberikan. Setelah permainan dan penayangan materi selesai, siswa diminta untuk menyampaikan gaya belajarnya dan alasan mengapa mereka termasuk dalam gaya tersebut. Pada akhir kegiatan siswa diminta untuk merangkum dan menjelaskan secara singkat macam-macam gaya belajar.

4) Bidang Karier a) Kemana kita akan melangkah Materi kemana kita akan melangkah merupakan materi untuk kelas XII dalam mempersiapkan kelanjutan studi di perguruan tinggi atau dunia kerja. Materi ini diberikan pada kelas XII IIS 3, XII IIS 2 dan XII IIS 1. Materi disajikan dengan metode ceramah dan diskusi serta pengisian lembar kerja siswa. Siswa antusias dalam pembahasan tentang jurusan-jurusan di perguruan tinggi.

b) Carier Mapping Materi carier mapping disampaikan di kelas X MIIA 1. Materi ini bertujuan untuk membantu siswa menentukan kariernya selama di SMA. Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi. Siswa diminta untuk membuat carier mapping. Siswa antusias dalam mengikuti kegiatan. Beberapa siswa kebingunan dengan capaian-capaian karier yang ingin diraih. Praktikan menyampaikan contoh-contoh capaian karier dan menutup sesi dengan kesimpulan.

13

2. Pelayanan Orientasi Layanan orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah) baru. Layanan orientasi mempunyai fungsi sebagai usaha pengenalan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang baru bagi siswa. Pada pelaksanaan PPL, layanan orientasi yang diberikan yaitu pengenalan tentang BK dan apa fungsi dari BK itu. Layanan ini diberikan dengan metode diskusi dikelas ketika pertemuan awal masuk kelas dan diakhir sesi bimbingan klasikal.

3. Pelayanan Informasi Pelayanan

informasi

yang

dilakukan

meliputi

pembuatan

papan

bimbingan, dan poster. Berikut ini uraian layanan informasi yang telah dilakukan: 1) Papan bimbingan Sebagai layanan informasi bagi siswa kelas X, XI dan XII maka dibuatlah papan bimbingan dengan tema lingkungan yang berjudul “Pengelolaan sampah” dan “Save earth”. Papan bimbingan ini ditempel pada papan depan ruang BK. 2) Poster Dalam memberikan layanan informasi terkait dengan Gaya belajar dan cara menghindari prasangka, maka dibuatlah poster yang berisi himbauan tentang gaya belajar dan prasangka buruk.

4. Bimbingan Kelompok Bimbingan kelompok diselenggarakan satu kali pada hari Jumat, 21 Agustus 2015. Subyek kegiatan bimbingan kelompok ini adalah siswa kelas XII IIS. Tema yang dibahas adalah Manajemen Waktu. Bimbingan kelompok diikuti oleh 7 siswa. Kegiatan dilakukan di luar kelas yaitu diruang konseling kelompok. Kegiatan diawali dengan diskusi mengenai masalah-masalah manajemen waktu yang dialami siswa-siswa. Praktikan menyampaikan pada siswa-siswa cara mengatasi manajemen waktu yang baik. Cara-cara yang yang disampaikan antara lain membuat prosentase terhadap kegiatan sehari-hari siswa, serta membuat tabel

14

jadwal kegiatan. Tindak lanjut dari kegiatan ini siswa-siswa berniat membuat tabel kegiatan dengan mempertimbangkan prosentase kegiatan yang mereka lakukan.

5. Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi) Pengumpulan data yang dilakukan berupa penyebaran angket sosiometri, Angket identitas siswa dan Media Lacak Masalah (MLM). 1) Sosiometri Sosiometri disebar khususnya untuk kelas XII IIS 1, XII MIIA 2, XI IIS 1, dan X MIIA 2 yang berjumlah 4 kelas. Angket sosiometri diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk mengetahui kecenderungan siswa memilik kelompok belajar. 2) Angket Identitas Siswa Angket identitas siswa ini terkait dengan informasi-informasi data siswa untuk mengetahui latar belakang siswa. Sasaran pada angket ini adalah seluruh siswa kelas X s/d XII yang terdiri dari 7 kelas per angkatan. 3) Media Lacak Masalah (MLM) Media Lacak Masalah (MLM) digunakan untuk need asssesment siswa kelas X, XI, XII. MLM ini disebar dibeberapa kelas saja sebagai sampel dalam penyusunan program kegiatan PPL.

6. Pelayanan Penempatan dan Penyaluran Dalam kurikulum 2013 pelayanan penempatan dan penyaluran pada awal masuk kelas diistilahkan dengan peminatan peserta didik. Layanan penempatan dan penyaluran selain peminatan peserta didik dilakukan dengan pemberian informasi tentang PT diIndonesia dan pembuatan Carrer Mapping. Berikut ini jabaran layanan penempatan dan penyaluran yang telah dilakukan:

1) Layanan Penempatan Layanan ini dilakukan dengan menggunakan media penugasan “carrer Mapping”. Hal ini dilaksanakan untuk mengetahui peta karir yang akan digapai oleh siswa. Carrer Mapping sendiri merupakan gambaran tentang masa depan

15

seseorang yang dituliskan secara kongkret

dan nyata.

Siswa diminta

menggambarkan pemetaan karir dirinya, apa kelemahan, kelebihan dan usaha apa untuk mencapainya.

2) Layanan Penyaluran Layanan penyaluran diberikan setelah pelayanan peminatan diberikan. Setelah siswa mengetahui apa yang telah dicita-citakan dan dimanakah mereka akan merintis dan mewujudkannya, pelayanan penyaluran sangat dibutuhkan. Pelayanan penyaluran diberikan oleh praktikan dengan menyampaikan informasi mengenai PT/PTS dan dunia kerja. Materi yang diberikan dapat diakses secara pribadi oleh siswa dengan membuka website yang telah diberikan.

2. PELAYANAN RESPONSIF a. Konseling Individual dan Kelompok Layanan responsif konseling individual telah dilakukan sebanyak 5 kali dengan 3 konseli. Layanan konseling kelompok telah dilakukan sebanyak 1 kali selama periode PPL. Uraian pelaksanaan layanan konseling yang telah dilakukan dijabarkan sebagai berikut:

1) Konseling Individual a. Konseli DK Permasalahan yang dialami oleh DK adalah komunikasi yang kurang efektif antara dirinya dengan ayahnya. Hal ini dikarenakan perasaan sakit hati yang dimiliki oleh konseli atas perkataan dan perilaku ayahnya kepada konseli. Hal ini menimbulkan Unfinished Business (urusan yang belum terselesaikan) antara DK dengan Orang tua (Ayah). Pendekatan yang digunakan adalah Gestalt. Teknik yang digunakan adalah kursi kosong dimana siswa dapat meluapkan apa yang dia ingin katakan kepada ayahnya yang mewakili perasaan sakit hatinya dan respon apa yang ingin dia dapatkan. Konseling dilakukan pada Kamis, 20 Agustus 2015..

16

b. Konseli DWN Permasalahan yang dialami oleh DWN adalah permasalahan antara anak dengan orang tua (Ayah).

DWN mengaku bahwa dirinya tidak begitu dekat

dengan ayahnya dikarenakan ayahnya selalu bersikap dingin dengan dirinya. Hal ini berawal ketika DWN tidak dapat masuk kesekolah favorit yang ayahnya inginkan. Menurut pengakuan DWN, Ayahnya pernah mengungkapkan perkataan bahwa dia kecewa dengan DWN yang tidak masuk kesekolah favorit yang diinginkan olehnya. Dan selama SMA ini, DWN sering mengikuti festival Costplay jepang. Hal ini membuat hubungannya dengan ayahnya semakin tidak harmonis. Pada penanganan kasus ini, Tekik yang digunakan adalah kursi kosong dimana konseli diminta untuk mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan kepada ayahnya. Konseling dengan DWN telah dilakukan sebanyak 2 kali yaitu Jumat, 21 Agustus 2015 dan jumat, 29 agustus 2015.

c. FA Permasalahan yang dialami oleh FA adalah munculnya kembali pemikiran irrasional yang dulu pernah ada karena suatu hal yang membuat pemikirannya tersebut muncul. Dia berfikiran bahwa dirinya tidak seberuntung kakak-kakaknya yang lain dimana mereka dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Dari pemikiran ini, timbul keyakinan bahawa dia tidak akan mampu untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi yang dia inginkan. Pemikirannya tersebut muncul karna adanya SMS dari ayahnya yang menyatakan bahwa dia tidak terancam tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Hal ini juga menyebabkan pikiran bahwa selama ini dia sudah merepotkan orang tuanya dalam urusan pembiyaan pendidikan. Pemikiran ini menghambat FA untuk maju dan berkembang. Hal ini berpengaruh pada semangat belajar FA pada akhir-akhir ini. Dia merasa kurang adanya motivasi dalam dirinya. Pendekatan yang digunakan adalah RET. Konseling individual dilaksanakan pada hari kamis 20 Agustus 2015 dan 4 September 2015. 2) Konseling Kelompok Konseling Kelompok dilakukan pada Sabtu, 5 September 2015. Membahas tentang keyakinan mereka yang kurang baik terhadap siswa “x” yang 17

menimbulkan sikap emosional ketika bertemu dengan “x”. Konseli dalam proses konseling ini berjumlah 4 siswa dari kelas XI IIS 2, XI MIIA 4, XII IIS 1,XII IIS 2, yang berinisial BR, HA, DK, dan SS. Pendekatan yang digunakan adalah RET. Dimana keyakinan ini muncul karena ada Antesedence (penyebab) yang melatarbelakangi keyakinan tersebut, keyakinan itu menimbulkan konsekuensi yaitu sikap emosiona jika dihadapkan dengan si “X”. DK Mengungkapkan bahwa sampai sekarang dia masih belum dapat menyesuaikan diri dengan salah satu teman. Hal ini disebabkan karena temannya tersebut pernah membuat temanteman yang lain marah dan menanggung malu karena tingkah lakunya. HA mengungkapkan bahwa si “x” sulit untuk dipahami. SS menyampaikan bahwa ketika dirinya

berbicara dengan si

“x” rasanya pengen marah. Dia

mengungkapkan bahwa tidak hanya dirinya saja yang emosional ketika berhadapan dengan si “x” namun teman-temannya yang lain juga emosional ketika berhadapan dengan si “x”. Hal ini terbawa ke kehidupan sosialnya diaman masing-masing anak tersebut memiliki keyakinan bahwa si “x” itu menyebalkan dan mereka memilih untuk menjauhi si “x”. Pendekatan yang digunakan adalah RET dimana seseorang memiliki keyakinan yang irrasional karena terdapat hal yang melatarbelakangi keyakinannya tersebut. Dan setiap keyakinan yang dimiliki individu menimbulkan suatu konsekuensi.

b. Referal (Rujukan atau Alih Tangan) Kegiatan referal atau alih tangan yaitu kegiatan pendukung BK untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yag dialami peserta didik atau konseli dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini bersifat insidental dimana tidak dapat diprediksikan kapan akan dilakukan kegiatan alih tangan. Selama pelaksanaan PPL (10 agustus – 12 september) praktikan tidak melaksanakan kegiatan alih tangan dikarenakan tidak adanya kasus yang membutuhkan pemindahan penanganan kepihak-pihak yang lebih berwenang. c. Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas Kolaborasi dengan guru dilakukan sebanyak 1 kali. Kolaborasi yang pertama dilakukan dengan guru PPL Ekonomi kelas XI IIS 2 pada tanggal 25 18

Agustus 2015. Guru tersebut mengungkapkan bahwa salah satu siswa sudah lama tidak masuk sekolah dengan keterangan Alfa (tidak ada keterangan). Tindak lanjut yang dilakukan adalah menanyakan kepada teman dikelasnya mengenai anak tersebut dan mencari tau keberadaannya kepada pihak kesiswaan.

d. Kolaborasi dengan Orang Tua Kolaborasi dengan orang tua dilakukan dengan cara memanggil orang tua dari siswa yang berinisial FRR. Orang tua FRR dipanggil ke sekolah karena FRR sudah menunggak pembayaran SPP. Namun orang tua dari FRR tidak memenuhi panggilan yang telah diberikan oleh pihak sekolah.

e. Kolaborasi dengan Pihak-Pihak Terkait di Luar Sekolah Dalam penyampaian materi HIV-AIDS, sekolah yaitu guru BK bekerjasama dengan polisi wanita dalam menyelenggarakan penyuluhan ” yang dilakukan pada tanggal 24 Agustus 2015. Acara dilaksanakan pada saat upacara bendera, sekaligus memperingati hari jadi polwan.

f. Konsultasi Layanan konsultasi yang dilakukan praktikan adalah konsultasi siswa kelas XII MIIA 3 pada tanggal 22 Agustus 2015. Siswa tersebut berkonsultasi mengenai universitas yang memiliki akreditasi yang bagus pada bidang pendidikan fisika. Langkah yang dilakukan praktikan yaitu mencarikan informasi yang dibutuhkan konseli dengan mencari tau melalui alamat web pada setiap universitas yang ada.

g. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation) Bimbingan teman sebaya tidak dilakukan dalam PPL ini. Namun demikian pendampingan terhadap bimbingan teman sebaya pernah dilakukan pada tanggal 28 Agustus 2015, dengan materi yang disampaikan yaitu kenakalan Remaja.

19

h. Konferensi Kasus Selama kegiatan PPL ini, konferensi kasus tidak pernah dilakukan. Hal ini dikarenakan tidak adanya kasus yang membutuhkan keterangan dari pihak-pihak terkait dengan penanganannya. Kegiatan konferensi kasus bertujuan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. i. Kunjungan Rumah Kunjungan rumah atau home visit pada PPL ini tidak dapat dilakukan. Sebenarnya Praktika PPL dan Guru BK telah merencanakan untuk homevisit ke rumah MNA (XI IIS 2) yang sudah lama tidak mengikuti kegiatan belajar efektif disekolah pada hari senin, 31 Agustus 2015. Namun homevisit tidak terselenggara dikarenakan pihak keluarga tidak dapat dihubungi untuk menanyakan alamat yang lebih rinci. Perencanaan homevisit yang kedua, direncanakan pada tanggal 2 September 2015 kerumah FRR (XII IIS 1). Namun kegiatan homevisit ini tidak terselenggara dengan baik dikarenakan pihak keluarga yang dihubungi sedang ada kepentingan diluar rumah.

3. PERENCANAAN INDIVIDUAL Layanan perencanaan individual tidak dilakukan secara maksimal selama PPL dilaksanakan. Berdasarkan program kerja tahunan BK di SMA N 1 Seyegan layanan perencanaan dan penempatan hanya dilakukan pada kelas X, dan kelas XII. Kelas X diberikan materi dan penugasan tentang carrer mapping, dan kelas XII diberikan materi mengenai PT (PTS/PTN).

C. HAMBATAN

PELAKSANAAN

PPL

DAN

CARA

MENGATASINYA Selama pelaksanaan PPL di SMA N 1 Seyegan, terhitung sejak tanggal 10 Agustus 2015 sampai 12 September 2015, praktikan mengalami beberapa hambatan-hambatan diantaranya: 1. Kebijakan PPL yang dilaksanakan hanya berlangsung selama satu bulan

20

sehingga dalam pelaksanaan PPL tidak maksimal. Hal ini dikarenakan beberapa tugas PPL tidak dapat dilaksanakan pada sore atau malam hari sehingga pekerjaan administratif

hanya dapat dikerjakan pada saat jam

efektif begitu juga RPL dan matrik PPL. Disekolah mahasiswa PPL tidak hanya melakukan PPL sesuai matrik namun juga melaksanakan tugas piket. Oleh karena itu sering terjadi penundaan tugas-tugas administratif. Untuk mengatasi masalah tersebut mahasiswa PPL mengerjakan tugas adminstratif ketika jam piket dan tidak jarang meninggalkan tugas piket untuk mengerjakannya. Namun demikian tugas tidak terbengkali karena kerjasama yang baik antar mahasiswa PPL UNY. 2. Pada awal masa PPL, konseli untuk praktik konseling individual, konseling kelompok dan bimbingan kelompok sangat sulit ditemui. Siswa masih beranggapan bahwa konseling hanya untuk siswa-siswa yang bermasalah, sehingga jarang sekali ada siswa yang mau konseling individual di ruang BK. Untuk mengatasi masalah tersebut, mahasiswa praktikan berinisiatif untuk melakukan pendekata kepada siswa dengan sikap terbuka sehingga siswa merasa nyaman dan dengan sendirinya mau bercerita dengan praktikan. 3. Tidak semua layanan BK dapat dilaksanakan secara maksimal selama PPL dikarenakan wantu yang sangat singkat dan padat.. Layanan yang tidak dapat dilakukan secara maksimal antara lain layanan homevisit, referal, konferensi kasus, kolaborasi dengan orang tua dan konseling sebaya. Layanan homevisit tidak dapat terlaksana dengan baik dikarenakan alamat siswa yang kurang lengkap dan orang tua siswa yang sedang berada diluar rumah sehingga kondisi rumah kosong. Layanan referal dan konferensi kasus tidak terlaksana dengan baik dikarenakan praktikan tidak menemukan adanya kasus yang membutuhkan penanganan alih tangan atau konferensi kasus. Layanan kolaborasi dengan orang tua tidak dapat berjalan dengan baik dikarenakan pihak orang tua tidak memenuhi undangan untuk hadir di SMA N 1 Seyegan. Untuk layanan konseling sebaya sendiri tidak berjalan dengan baik dikarenakan waktu yang sangat singkat dan kegiatan yang padat sehingga dalam membentuk kader-kader konseling kurang membutuhkan waktu yang lama.

21

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian kegiatan PPL BK di SMA N 1 Seyegan di atas maka dapat disimpukan bahwa: 1. Seluruh strategi layanan dalam pelayanan dasar telah dilakukan semua selama PPL. 2. Pelayanan responsif telah dilakukan, pada awal masa PPL konseli untuk praktik konseling individual, konseling kelompok dan bimbingan kelompok sangat sulit ditemui. Siswa masih beranggapan bahwa konseling hanya untuk siswa-siswa yang bermasalah, sehingga jarang sekali ada siswa yang mau konseling individual di ruang BK. Untuk mengatasi masalah tersebut, mahasiswa praktikan berinisiatif untuk melakukan pendekata kepada siswa dengan sikap terbuka sehingga siswa merasa nyaman dan dengan sendirinya mau bercerita dengan praktikan. 3. Tidak semua program layanan BK dapat terlaksana dengan baik, seperti homevisit, referal, konferensi kasus, kolaborasi dengan orang tua dan konseling sebaya.

B. SARAN Terdapat beberapa saran yang ingin praktikan sampaikan, antara lain: 1. Untuk mahasiswa selanjutnya sebaiknya pelayanan responsif sudah mulai digalakkan sejak pertama kali masuk. Jika dirasa siswa kurang aktif maka sebaiknya dilakukan pendekatan antar kelas dengan mengunjungi bahkan membuat pengumuman dalam bentuk angket atau brosur agar siswa mengetahui layanan responsif yang diberikan. 2. Untuk penyelenggaran PPL sebaiknya diberi waktu yang panjang karena menurut pengalaman yang ada pelaksanaan PPL yang hanya 1 bulan, segala macam kegiatan dan pengalaman yang didapatkan oleh mahasiswa hanya sekedarnya saja.

22

DAFTAR PUSTAKA Muh Nurwangid, Sugihartono, dan Agus Triyanto. 2014. Panduan PPL Praktik Pengalaman Lapangan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY. Tim

Penyusun Pembekalan PPL, UNY, Edisi 2014. 2014. Panduan PPL.Yogyakarta: Pusat Pengembangan Praktik Pengalaman Lapangan dan Praktik Kerja Lapangan (PP PPL dan PKL) LPPMP.

23

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.