BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan. dapat menunjang hasil belajar (Sadirman, 1994: 99)


1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktivitas Belajar Keberhasilan siswa dalam belajar bergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pe...
Author:  Irwan Kusumo

1 downloads 4 Views 137KB Size

Recommend Documents


No documents


BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Aktivitas Belajar Keberhasilan siswa dalam belajar bergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya yang belum jelas, mencatat, mendengar, berpikir, membaca dan segala kegiatan yang dilakukan, yang dapat menunjang hasil belajar (Sadirman, 1994: 99). Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 23), aktivitas adalah kegiatan. Jadi aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa yang menujang keberhasilan belajar. Kunandar (2010: 277) mengemukakan bahwa aktivitas belajar adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Aktivitas belajar dapat digolongkan menjadi delapan jenis: (1) Visual Activities, misalnya: membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.

7

(2) Oral Activities, seperti: mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat. (3) Listening Activities, seperti: mendengarkan penyajian bahan, percakapan, diskusi, musik, dan pidato. (4) Writing Activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan dan angket. (5) Drawing Activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, chart, peta, diagram. (6) Motor Activities, antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, beternak. (7) Mental Activities, misalnya: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan dan mengambil keputusan. (8) Emotional Activities, misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup (Hamalik, 2001: 172). Dari beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa aktivitas belajar adalah segala bentuk keterlibatan siswa baik fisik maupun mental yang ditunjukkan dalam proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan belajar.

2.2 Pengertian Hasil Belajar Abdurrahman (2003: 37) mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (2006: 3) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Menurut Kunandar (2010: 277) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kualitatif maupun kuantitatif.

8

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan pembelajaran berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan diiringi pengevaluasian guna mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam belajar.

2.3 Metode Kerja Kelompok 2.3.1 Pengertian Metode Kerja Kelompok Upaya

peningkatan

aktivitas

dan

hasil

belajar

perlu

menggunakan metode pembelajaran yang dapat merangsang timbulnya aktivitas dan hasil belajar. Metode pembelajaran adalah cara mengajar mengorganisasikan materi pelajaran kepada siswa agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien. Metode pembelajaran mencakup rentetan kegiatan mulai dari pengorganisasian materi pembelajaran, pemilihan cara penyampaian termasuk media pembelajaran dan kegiatan pengelolaan proses pembelajaran siswa. Agar memperoleh hasil yang optimal, maka proses

belajar mengajar harus dilakukan

dengan sadar dan sengaja serta terorganisir secara baik (Sadirman, 1994: 63). Metode belajar kelompok mempunyai peranan yang sangat penting

dalam

menumbuhkan

kedewasaan

dan

meningkatkan

kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran yang dikehendaki secara bersama-sama. Metode ini pun dapat melatih siswa untuk berpikir dan bekerja berkelompok, sehingga pengetahuan yang didapatkan akan lebih banyak dan lebih luas dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pengetahuan sendiri.

9

Metode kerja kelompok adalah

di mana siswa dalam suatu

kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan bergotong-royong (Surachman dalam http://www. syafir.com/2011/01/09). Menurut Kiki (dalam http://kiki-tuingtuing.blogspot.com/2011 /05) bahwa metode kerja kelompok adalah penyajian metode dengan cara pembagian tugas-tugas untuk mempelajari suatu keadaan kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan. Lebih lanjut Kiki (dalam http://kiki-tuingtuing.blogspot.com /2011/05) metode kerja kelompok ialah suatu cara menyajikan materi pembelajaran di mana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan dengan cara bersama-sama dan bergotong-royong. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa metode kerja kelompok adalah suatu metode yang diterapkan oleh guru dalam rangka menciptakan situasi belajar yang di dalamnya siswa dapat belajar bersama-sama, sehingga siswa dapat mencapai hasil yang maksimal. Metode yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik materi pelajaran yang akan diajarkan. Hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah karaktetistik siswa, pengalaman, dan harapan tentang pelajaran yang diterima oleh siswa. Prosedur pemilihan metode pembelajaran adalah sebagai berikut:

10

(1) menetapkan berdasarkan tujuan, apakah pembelajaran tersebut berkaitan dengan penyampaian informasi atau keterampilan atau gabungan keduanya, (2) mempertimbangkan kategori dari apa yang diajarkan, apakah pengetahuan atau keterampilan, (3) menetapkan metode apa yang paling sesuai untuk mencapai tujuan, apakah eksposisi atau penjajakan, (4) mempertimbangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi antara lain: guru, buku, media pembelajaran, dan (5) memilih metode yang paling sesuai dan dapat diterapkan. Sagala (2006: 45), menyatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran, di mana siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan untuk mempelajari materi pelajaran dan untuk diselesaikan bersama-sama. Metode dapat meningkatkan kreativitas siswa, sekaligus sebagai sarana untuk mencapai kompetensi dasar yang diharapkan. Dari beberapa pendapat di atas, melalui metode kerja kelompok siswa terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga dapat membantu siswa

dalam

memahami

konsep,

memperoleh

informasi

dan

pengetahuan, terampil, termotivasi belajar, menumbuhkan semangat berkompetensi, kreatif sehingga pengertian dan pemahaman akan lebih melekat.

11

2.3.2 Tujuan Penggunaan Metode Kerja Kelompok Menurut Sagala (2006: 52), penggunaan metode kerja kelompok mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Memecahkan masalah pembelajaran melalui kerja kelompok. 2. Mengembangkan kemampuan bekerja sama di dalam kelompok. Sagala (2006: 67) mengungkapkan guru kadang-kadang bahkan sering menggunakan metode kerja kelompok, karena ada beberapa alasan kuat, yaitu: 1. Dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis. 2. Memacu siswa untuk aktif belajar. 3. Tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar di luar kelas bahkan di luar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari buku di perpustakaan umum dan lain-lain.

2.3.3 Kelebihan dan Kelemahan Metode Kerja Kelompok Menurut Sagala (2006: 73), dalam proses pembelajaran metode pembelajaran kelompok memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut. 1. Metode kerja kelompok mempunyai kelebihan sebagai berikut: a. Membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab. b. Menimbulkan kompetisi yang sehat antarkelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. c. Guru dipermudah tugasnya, karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada ketua kelompok. d. Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan anggotanya dibiasakan patuh kepada peraturan yang ada.

12

2. Di pihak lain, metode kerja kelompok mempunyai kelemahan sebagai berikut: a. Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi, maupun intelegansi. b. Pimpinan kelompok sering sukar memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan dan pembagian kerja. c. Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pimpinan kelompok. d. Dalam menyelesaikan tugas sering menyimpang dan tidak ada perencanaan karena kurang kontrol dari kelompok atau guru. e. Sulit membuat tugas yang sama terutama bagi kerja kelompok yang komplementer. Namun, menurut Sagala (2006: 81) kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi dengan cara-cara sebagai berikut. a. Mengkaji lebih dahulu materi pembelajaran dengan cermat, lalu membuat garis besar rincian tugas untuk setiap kelompok agar bobot tugas sama besarnya. b. Adakan tes dan hasilnya digunakan untuk pembentukan kelompok yang mereka kehendaki. c. Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok dilakukan terus-menerus. d. Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak. e. Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan yang kurang sehat antarkelompok.

2.3.4 Langkah-langkah Penggunaan Metode Kerja Kelompok Pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a. Kegiatan Persiapan 1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. 2. Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi pembelajaran tersebut ke dalam tugas-tugas kelompok. 3. Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan kerja kelompok.

13

4. Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat memulai dan mengakhiri serta tata tertib lainnya.

b. Kegiatan Pelaksanaan 1. Kegiatan Membuka Pelajaran a. Melaksanakan

apersepsi,

pertanyaan

tentang

materi

pembelajaran sebelumnya. b. Memotivasi siswa untuk belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan dipelajari. c. Mengemukakan tujuan pembelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

2. Kegiatan Inti Pelajaran a. Mengemukakan

lingkup

materi

pelajaran

yang

akan

dipelajari. b. Membentuk kelompok. c. Mengemukakan tugas setiap kelompok ketua kelompok atau langsung ke semua siswa. d. Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok. e. Mengawasi dan memonitir serta bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok. f. Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.

14

3. Kegiatan Penutup a. Setiap

akhir

pertemuan

pembelajaran,

menyampaikan

kesimpulan dari materi pembelajaran. b. Memberikan tugas untuk mengevaluasi dan mengetahui penguasaan materi pada siswa. (diadaptasi dari Ibrahim dalam http://www.sarjanaku.com).

2.4 Pengertian IPA IPA merupakan singkatan kata-kata “Ilmu Pengetahuan Alam” merupakan terjemahan kata-kata Inggris natural science secara singkat disebut science. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science adalah ilmu yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini (Iskandar, 1996: 2). Menurut Sutrisno (2007: 1.19), IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat (correct) pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar (true), dan dijelaskan dengan penalaran yang sahih (valid) sehingga dihasilkan kesimpulan yang betul (truth). IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Menurut Suyoso (dalam http://izzatinkamala.wordpress.com/2008/06/19), sains merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.

15

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan

dari

hasil

kegiatan

manusia

yang

diperoleh

dengan

menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.

2.5 Pembelajaran IPA di SD Berdasarkan KTSP, tertera bahwa pembelajaran IPA kelas IV SD dijadwalkan enam jam per minggunya dan setiap jam pelajaran dialokasikan 70 menit per pertemuan untuk kelas tinggi. Sedangkan untuk kelas rendah dibelajarkan melalui pembelajaran Tematik. Pembelajaran dilakukan berpusat pada siswa, guru diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator yang akan memfasilitasi siswa dalam belajar, dan siswalah yang harus aktif belajar dari berbagai sumber belajar. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP Depdiknas (dalam http://www.sekolah dasar.net/2011/05) bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Selain itu IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini menunjukkan bahwa, hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran IPA yang empirik dan faktual.

16

Pendidikan IPA di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa menguasai pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, proses penemuan, serta memiliki sikap ilmiah, yang akan bermanfaat bagi siswa dalam mempelajari diri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mencari tahu dan berbuat sehingga mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Sedangkan tujuan IPA menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006) pembelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya. 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. 4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. 5. Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. 6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. 7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTS. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA di SD memberikan kesempatan berbuat, berpikir, dan bertindak seperti ilmuan (scientist) sesuai dengan tahap perkembangan anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 2.6 Hipotesis Tindakan Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut: “Apabila dalam pembelajaran IPA menggunakan metode kerja kelompok dengan memperhatikan langkahlangkah secara tepat, maka aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Segalamider Bandar Lampung dapat meningkat”.

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.