BAB III PENANGANAN KOMPLAIN DI PT PLN (PERSERO) RAYON GOMBONG Analisis Penanganan Komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong


1 BAB III PENANGANAN KOMPLAIN DI PT PLN (PERSERO) RAYON GOMBONG 3.1. Analisis Penanganan Komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong Pengumpulan data m...
Author:  Harjanti Sutedja

0 downloads 7 Views 170KB Size

Recommend Documents


No documents


BAB III PENANGANAN KOMPLAIN DI PT PLN (PERSERO) RAYON GOMBONG

3.1. Analisis Penanganan Komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong Pengumpulan data mengenai upaya penanganan komplain PT. PLN Rayon Gombong diperoleh melalui catatan administrasi PT PLN (Persero) Rayon Gombong. Data administrasi yang dimaksud adalah data pelanggan yang mengajukan komplain terhadap PT PLN (Persero) Rayon Gombong. Data administrasi lain adalah data pendukung yang berkaitan dengan pengajuan komplain tersebut. Hasil penelitian juga didapat dari hasil wawancara terhadap petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong yang mengacu pada hal-hal yang harus terpenuhi dalam penanganan komplain. 3.1.1. Masalah yang Dikomplain Pelanggan Pelanggan mengajukan komplain pasti didasari adanya suatu permasalahan yang merugikan atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan dan juga melalui hasil wawancara dengan narasumber yang merupakan petugas yang menerima komplain dari pelanggan didapat penjelasan bahwa “Sejauh ini komplain sering kali tentang kualitas alat kelistrikan seperti meteran yang rusak atau sikring rusak. Tapi kadang ada juga yang komplain karena pemadaman listrik.”

56

57

Dari pernyataan narasumber tersebut didapatkan data bahwa komplain yang diajukan oleh pelanggan bisa digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu sebagai berikut : 1. Pelanggan merasakan pelayanan PT PLN (Persero) Rayon Gombong tidak maksimal dikarenakan seringnya terjadi kerusakan pada alat kelistrikan milik mereka. 2. Mayoritas pelanggan mengeluhkan pemadaman listrik di wilayah rumah mereka tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Melihat dari dua sumber masalah yang menjadi alasan pelanggan dalam mengajukan komplain kepada PT PLN (Persero) Rayon Gombong tersebut bisa dengan jelas diketahui bahwa komplain tersebut merupakan komplain teknis. Karena masalah yang mereka keluhkan berhubungan dengan kendala teknis seperti dijelaskan oleh narasumber sebagai berikut. “Kalau di PLN Gombong sudah sangat jarang komplain yang berhubungan dengan masalah administrasi. Justru paling sering ya seperti yang sudah dijelaskan tadi, kerusakan alat kelistrikan dan pemadaman listrik. Jadi lebih kepada komplain masalah teknis.” Dari hasil wawancara tersebut dan didukung dengan data administrasi yang ada di PT PLN (Persero) Rayon Gombong didapatkan data jenis pengaduan komplain sebagaimana tertuang dalam tabel yang ada dibawah ini.

58

Tabel 3.1 Jenis Pengaduan Komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Jenis Pengaduan Padam 1 rumah Kwh meter keluar asap Kwh meter rusak Kwh + Mcb kena petir Kwh prabayar error Kwh prabayar gagal program Kwh prabayar layar mati Kwh prabayar rusak Kwh prabayar rusak kena petir Kwh prabayar listrik padam tidak nyala kembali 11 Kwh prabayar keypad mati 12 Kwh prabayar pulsa gagal masuk 13 Kwh terbakar 14 Listrik tidak stabil (mati nyala) 15 Mcb kosong 16 Mcb lejeg 17 Mcb lemah 18 Mcb rusak 19 Mcb tidak keluar tegangan 20 SR putus JUMLAH Sumber : PT PLN (Persero) Rayon Gombong, Maret 2013

Jumlah 36 1 1 2 1 1 1 9 1 1 1 1 2 1 1 1 1 5 2 1 70

Narasumber menjelaskan mengenai masalah – masalah yang dikomplain pelanggan bahwa “Dari data komplain yang masuk ke sini, selain mengeluhkan listrik rumah mereka yang padam tiba-tiba. Paling banyak justru keluhan tentang meteran prabayar, padahal alat Kwh meternya baru tapi justru malah yang paling banyak bermasalah jika dibandingkan dengan Kwh meter model lama.”

59

Selain dari hasil wawancara, pada pada Tabel 3.1 juga tertulis ada 20 jenis komplain yang diajukan oleh pelanggan kepada pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong yang dapat dijabarkan sebagai berikut. 1. Padam 1 rumah Sebanyak 36 orang pelanggan mengeluhkan listrik rumah mereka yang padam secara tiba – tiba. Kondisi ini dikarenakan rusaknya instalasi listrik di beberapa titik sehingga menyebabkan aliran listrik tidak dapat tersalurkan. Hal ini bisa saja terjadi apabila kurangnya perawatan atau pemasangan instalasi listrik yang tidak memenuhi standart. 2. Kwh prabayar rusak Masalah ini dikeluhkan oleh 16 orang pelanggan dengan berbagai kondisi kerusakan yang menyertai laporan keluhan mereka. Sebanyak 9 orang pelanggan hanya mengeluhkan bahwa alat kwh prabayar mereka rusak tanpa menjelaskan dengan detail kerusakannya seperti apa. Sisanya mengeluhkan kerusakan kwh prabayar seperti kwh prabayar error, gagal program, layar mati, rusak kena petir, kwh tidak mau menyala setelah listrik mati, keypad mati dan pulsa yang tidak masuk. a. Kwh prabayar error Kondisi ini terjadi karena alat kwh prabayar tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya sehingga listrik tidak bisa tersambung ke rumah pelanggan tersebut.

60

b. Kwh prabayar gagal program Sebelum dilakukan pemasangan kwh prabayar pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong terlebih dahulu melakukan pemrograman sehingga pelanggan bisa langsung mengisi pulsa dan menikmati aliran listrik di rumah mereka. Namun kondisi dimana kwh tersebut gagal program artinya pemrograman yang telah dilakukan pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong pada saat pemasangan tiba – tiba berhenti dan menyebabkan putusnya aliran listrik. c. Kwh prabayar layar mati Matinya layar pada kwh prabayar menyebabkan pelanggan tidak bisa mengecek seberapa banyak kwh yang masih tersisa, kondisi ini jelas merugikan karena pelanggan tidak bisa mempersiapkan kapan mereka harus mengisi pulsa. d. Kwh prabayar rusak kena petir Kerusakan kwh prabayar yang terkena petir menyebabkan kwh tersebut sama sekali tidak bisa menyala dan digunakan, bahkan juga bisa memicu kebakaran. e. Kwh prabayar tidak mau menyala setelah listrik mati Kondisi ini diakibatkan oleh kwh prabayar yang terputus aliran listriknya saat listrik mati dan ketika listrik kembali menyala kwh prabayar tidak mampu mengangkat beban kwh karena pemakaian yang terlalu banyak.

61

f. Kwh prabayar keypad mati Kondisi dimana tidak berfungsi atau matinya keypad pada alat kwh prabayar ini menyebabkan pelanggan tidak bisa menginput kode voucher listrik sehingga mereka tidak bisa menikmati aliran listrik yang semestinya. g. Kwh prabayar pulsa tidak masuk Kondisi dimana pulsa tidak masuk ini dikarenakan program yang ada di kwh meter tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga saat pelanggan mengisikan kode voucher tidak akan masuk. 3. MCB rusak Menurut Tabel 3.1 terdapat 10 orang pelanggan yang mengajukan komplain mengenai rusaknya MCB di rumah mereka. Namun dari 10 orang tersebut hanya lima orang saja yang menjelaskan kondisi kerusakan MCB di rumah mereka, 5 orang sisanya hanya menyebutkan bahwa MCB mereka rusak. Kondisi kerusakan MCB yang dikeluhkan pelanggan antara lain MCB lejeg, MCB kosong, MCB lemah dan MCB tidak keluar tegangan. a. MCB lejeg Kondisi MCB lejeg disini artinya alat MCB atau sikring tidak stabil alias seringnya naik – turun yang dapat menyebabkan konsleting listrik.

62

b. MCB kosong MCB kosong adalah suatu kondisi dimana MCB tidak memiliki nominal arus sehingga tidak bisa menghantarkan listrik. c. MCB tidak keluar tegangan Kondisi dimana MCB secara tiba – tiba tidak memiliki tegangan dan mengakibatkan tidak bisa menghantarkan arus listrik. 4. Kwh meter keluar asap Kwh meter yang tiba – tiba mengeluarkan asap sangat membahayakan karena bisa memicu kebakaran. Kondisi ini biasanya diakibatkan karena kwh meter bekerja terlalu berat. 5. Kwh meter rusak Kondisi rusaknya kwh meter ini sebenarnya bermacam – macam hanya saja pelanggan tidak menjelaskan secara detail seperti apa kerusakan yang dialami. 6. Kwh + MCB kena petir Rusaknya kwh + mcb yang terkena petir ini merupakan kerusakan fatal karena dua alat tersebut memegang peranan penting pada instalasi listrik. 7. Kwh terbakar Kasus kwh terbakar ini bisa disebabkan oleh kerja alat kwh yang terlalu lama dan berat. 8. SR putus Putusnya kabel SR ini mengakibatkan alat kwh tidak dapat teraliri listrik karena tidak tersambung dengan tiang listrik. Masalah ini juga

63

membahayakan karena apalagi tidak segera ditangani dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Dari penjelasan sebelumnya terdapat beberapa istilah alat kelistrikan yaitu Kwh meter, MCB dan SR. Ketiga alat kelistrikan tersebut merupakan alat yang paling vital karena memegang peranan penting dalam instalasi listrik. Penjelasan mengenai alat – alat tersebut yaitu sebagai berikut. 1. Kwh Meter Kwh meter terdiri dari dua macam yaitu kwh pascabayar dan kwh prabayar. Kwh pascabayar adalah alat yang lumrah kita jumpai di rumahrumah dan metode pembayarannya adalah dengan memakai tenaga listrik terlebih dahulu, sedangkan kwh prabayar adalah sebuah alat untuk menghitung penggunaan kwh dengan basis prabayar atau kita harus mengisi pulsa listrik terlebih dahulu sebelum menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Di bawah ini adalah perbedaan fisik yang terlihat dalam alat Kwh meter.

Gambar 3.1 Kwh Meter

64

2. MCB atau yang biasa kita sebut sikring, merupakan kependekan dari Miniature Circuit Breaker, yaitu sebuah alat untuk membatasi arus listrik serta pengamanan instalasi listrik. MCB berfungsi sebagai pengaman hubungan singkat/korselet serta mempunyai fungsi pengaman beban lebih, MCB otomatis akan memutuskan arus bila arus yang melewatinya melebihi batas nominal yang telah ditentukan pada MCB tersebut, nominal arus MCB adalah 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, dan lain sebagainya. Nominal MCB ditentukan dari besarnya arus yang bisa MCB hantarkan. Di bawah ini adalah contoh alat MCB yang biasa dipakai oleh masyarakat.

Gambar 3.2 MCB (Miniature Circuit Breaker)

65

3. Kabel SR Kabel SR atau kabel sambungan rumah adalah kabel yang berfungsi untuk menyambungkan aliran listrik dari tiang listrik ke alat kwh yang terpasang di rumah pelanggan.

Gambar 3.3 Kabel SR 3.1.2. Prosedur Pengajuan Komplain Dari hasil penelitian mengenai prosedur pengajuan komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong, didapatkan penjelasan dari narasumber mengenai alur yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) Rayon Gombong dalam menangani setiap komplain dari pelanggan. Pihak narasumber menjelaskan bahwa “Pihak PLN berupaya untuk tidak memperumit prosedur pengajuan komplain. Kami sudah menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang dan mempermudah pelanggan dalam mengajukan komplain mereka. Pelanggan bisa mengajukan komplain mereka melalui telepon maupun datang ke loket pengaduan gangguan. Kalau untuk alurnya memang terlihat ribet bagi pelanggan, namun sebenarnya itu sudah sesuai dengan SOP yang ada.” Sesuai dengan hasil wawancara yang menyatakan bahwa semua prosedur yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) Rayon Gombong sesuai dengan standart operating procedure (SOP) dengan pelayanan komplain secara terpadu dapat membantu dan memudahkan pelanggan untuk menyampaikan komplain mereka.

66

Berikut ini adalah bagan tata cara pengaduan komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong. Yang meliputi komplain teknis seperti trafo konsleting dan tegangan tidak sesuai seperti listrik padam, APP hilang / rusak, maupun gangguan instalasi PLN lainnya. Bagan 3.1 Tata Cara Pengaduan Komplain Pelanggan mendaftarkan komplainnya

a

Komplain diterima petugas PLN

b

Petugas melakukan survey c

Pelanggan membayar biaya sesuai ketentuan

e1

Petugas memberikan jawaban hasil survey

f Petugas melakukan perbaikan

e2

d

Mengecek data pelanggan

67

Penjelasan mengenai bagan prosedur pengajuan komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong secara detail yaitu sebagai berikut. 1. Pelangggan mendaftarkan komplainnya Dalam mendaftarkan komplainnya, pelanggan bisa melalui telepon kantor maupun datang langsung ke loket. Pelanggan juga harus menerangkan sejelas-jelasnya mengenai komplain yang dia alami dan data diri pelanggan seperti nama pelanggan, id pelanggan, dan juga nama pemilik rumah. 2. Komplain diterima oleh petugas PLN Petugas PLN yang menerima komplain wajib mencatat berkas pengaduan dan dokumen pendukungnya dalam Daftar Pengaduan Pelanggan kemudian dikirim ke fungsi terkait. 3. Petugas melakukan survey Berdasarkan pengaduan yang diterima, fungsi terkait melakukan kegiatan pemeriksaan dan penyelesaian. Saat petugas lapangan melakukan survey ini didapat lokasi pasti mengenai posisi rumah yang mengalami kerusakan. Kemudian

petugas

memberikan

laporan

hasil

pemeriksaan

dan

penyelesaian tersebut dikirim ke FPL untuk dicatat pada Daftar Pengaduan Pelanggan. 4. Petugas mengecek data Terlebih dahulu harus dicek kemungkinan masih ada kewajiban pelanggan yang belum dilunasi, antara lain : tunggakan rekening listrik dan atau tagihan susulan pemakaian tenaga listrik tidak sah dan atau angsuran BP.

68

Apabila ternyata terdapat tunggakan rekening listrik dan atau kewajiban lain yang masih harus diselesaikan, maka kepada pelanggan diharuskan melunasi terlebih dahulu. 5. Surat Jawaban Berdasarkan hasil survei apabila dalam pemeriksaan atau penelitian ternyata terdapat biaya yang harus dibayar, maka kepada pelanggan diberikan surat jawaban antara lain berisi tentang besarnya biaya tersebut dan juga penjelasan mengenai kerusakan instalasi listrik yang dialami oleh pelanggan. Dalam surat jawaban ini juga diberikan keterangan apakah kerusakan tersebut dalam pelaksanaan perbaikannya harus diganti atau hanya diperbaiki. 6. Pelaksanaan Pembayaran Untuk pengaduan lainnya dikenakan biaya sesuai ketentuan yang berlaku dan Fungsi Pelayanan Pelanggan membuat Kuitansi rangkap empat. Pelanggan membayar di loket kasir PLN dan menerima Kuitansi asli yang telah di kas register. 7. Pelaksanaan Perbaikan Apabila diperlukan penggantian SL, maka dibuatkan PK dan Berita Acara Pemasangan / Pembongkaran SL. Apabila perbaikan ini mengakibatkan Perubahan Data Induk Pelanggan di komputer atau berkaitan dengan APP harus dibuatkan PDL. PK tersebut dikirim ke Seksi Penyambungan, selanjutnya membuat kode 7 / TUG 9 dikirim ke Fungsi Gudang untuk pengambilan material yang diperlukan. Pengaduan pelanggan yang telah

69

diselesaikan dikirim kembali oleh fungsi yang terkait ke FPL dan dicatat pada Daftar Pengaduan Pelanggan pada kolom tindakan yang diambil. Daftar Pengaduan Pelanggan dibuat rangkap 2 ( dua ) untuk kepala cabang dan tembusan arsip FPL. Penjelasan mengenai jangka waktu yang harus ditempuh dari satu tahap ke tahap lain adalah sebagai berikut. a. Tahap ke-1 menuju tahap ke-2 membutuhkan waktu sekitar 5 menit. b. Tahap ke-2 menuju tahap ke-3 membutuhkan waktu sekitar 20 menit. c. Tahap ke-3 menuju tahap ke-4 membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai satu jam. d. Tahap ke-4 menuju tahap ke-5 membutuhkan waktu yang sedikit panjang sekitar 1 – 2 jam karena harus mencocokkan data lapangan dengan data administrasi. e. Alur e ini ada dua pilihan yaitu e1 untuk pelanggan yang masih memiliki tanggungan administrasi dan e2 untuk pelanggan yang tidak memiliki tanggungan administrasi yang harus diselesaikan maka setelah tahap pemberian surat jawaban maka petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong langsung melakukan perbaikan. Tahap ke-5 menuju tahap ke-6 membutuhkan waktu sekitar 1 jam begitu pula jika tahap ke-5 langsung menuju tahap ke-7 juga membutuhkan waktu sekitar 1 jam. f. Tahap ke-6 menuju tahap ke-7 ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam.

70

3.1.3. Dimensi Penanganan Komplain Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan yang mengajukan komplain pada PT PLN (Persero) Rayon Gombong, ada beberapa dimensi yang harus dipenuhi agar penanganan komplain dikatakan berhasil. 1. Commitment Dari hasil wawancara kepada petugas di bagian YanTek atau pelayanan teknik didapatkan jawaban yang cukup memuaskan mengenai dimensi commitment ini. Menurut petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong, mereka selalu berkomitmen untuk mengatasi komplain yang diajukan oleh pelanggan, baik komplain yang diajukan langsung ke loket, melalui telepon atau pun melalui website PT PLN (Persero). Komitmen petugas disini sangat penting dalam penanganan komplain yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) Rayon Gombong. 2. Fairness Fairness atau keadilan disini dimaksudkan bahwa setiap ada komplain masuk dari pelanggan maka petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong baik itu petugas yang bertugas di loket pengaduan maupun petugas lapangan akan selalu memberikan solusi atau perbaikan berdasarkan data yang terlebih dahulu masuk. Namun terkadang apabila komplain tersebut merupakan komplain dengan kerusakan yang mendesak maka akan didahulukan. Pada intinya, petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong

71

selalu berusaha untuk berlaku adil dengan tidak membedakan status sosial pelanggan yang mengajukan komplain tersebut. 3. Visibility Dari segi visibility, pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong kurang begitu terlihat karena dari hasil pengamatan tidak terlihat papan petunjuk prosedur yang harus dilakukan oleh pelanggan dalam pengaduan komplainnya. Alur tata cara juga tidak dijelaskan dengan gamblang oleh petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong, petugas hanya menanyakan mengenai ID pelanggan, nomor kartu identitas serta ancer-ancer menuju lokasi rumah yang mengalami kerusakan instalasi listrik. Sehingga pelanggan yang mengajukan komplain seringkali harus kembali datang ke kantor PT PLN (Persero) Rayon Gombong di waktu berikutnya hanya untuk mengambil data yang kurang lengkap tersebut. 4. Responsiveness Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong, mereka selalu berusaha memberikan respon yang baik kepada setiap pelanggan yang mengajukan komplain contohnya dengan adanya layanan pengaduan gangguan 24 jam. Layanan pengaduan komplain atau gangguan teknik yang buka 24 jam ini dimaksudkan agar PT PLN (Persero) Rayon Gombong bisa selalu memberikan respon yang cepat dan baik kepada setiap pelanggannya.

72

5. Simple Dari hasil pengamatan, pengajuan komplain terhitung cukup simpel dan mudah. Selain melalui loket, pelanggan juga bisa mengajukan komplain mereka via telepon maupun website PT PLN (Persero) Rayon Gombong, hal inilah yang dirasa memudahkan pelanggan dalam mengajukan komplainnya. Pelanggan dengan jarak tempuh yang cukup jauh hanya perlu menelepon dan memberikan data yang dibutuhkan sehingga menghemat waktu.

3.2. Hambatan dalam Proses Penanganan Komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas, dalam proses menangani komplain dari pelanggan di PT PLN (Persero) Rayon Gombong terdapat beberapa hambatan yang seringkali membuat penanganan komplain tersebut menjadi tidak maksimal. Seperti yang dijelaskan oleh petugas lapangan berikut ini. “Untuk hambatan, biasanya muncul waktu akan mencapai proses perbaikan. Terutama jika kerusakan tersebut merupakan kerusakan Kwh meter atau meteran model lama, kalau kerusakan parah alat tersebut harus diganti. Sedangkan saat ini hampir semua alat Kwh merupakan Kwh prabayar, tetapi beberapa pelanggan justru seringkali bersikeras tidak mau apabila Kwh tersebut diganti menjadi Kwh prabayar. Padahal apabila pelanggan mau bersikap kooperatif dengan pihak PLN dan menerima setiap keputusan baik itu penggantian alat maupun perbaikan maka keluhan mereka akan segera tertangani.” Kemudian narasumber menambahkan bahwa “Selain pelanggan yang tidak kooperatif, hambatan yang bisa paling berpengaruh terhadap proses penanganan komplain yaitu cuaca buruk dan kondisi medan.”

73

Apabila dilihat dari penjelasan narasumber di atas, hambatan yang ada dalam proses penanganan komplain di PT PLN (Persero) Rayon Gombong berasal dari dua arah. Pertama dari pihak pelanggan yang tidak kooperatif dengan petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong dan yang kedua dari pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong yang memperhitungkan faktor cuaca dan kondisi medan. Salah satu narasumber dari petugas lapangan menjelaskan bahwa “Saat akan melakukan perbaikan kerusakan yang dikeluhkan pelanggan, tim kami juga memperhitungan kondisi cuaca. Apabila cuaca buruk kami tidak bisa melakukan perbaikan instalasi listrik karena akan memberikan resiko yang besar. Untuk itu tim lapangan sebisa mungkin melakukan perbaikan saat cuaca bersahabat. Namun kita juga memperhitungan kondisi medan, apabila kondisi medan tidak mungkin ditempuh dengan roda empat biasanya hanya dua orang petugas lapangan yang menuju ke lokasi dimana kerusakan terjadi.” Melihat jawaban dari narasumber, hanya satu hambatan yang bisa diminimalisir yaitu tidak kooperatifnya pelanggan dengan petugas PT PLN (Persero) Rayon Gombong. Pihak narasumber juga menjelaskan bahwa hambatan tersebut sangat bisa diminimalisir, seperti pada jawaban berikut ini. “Saat kami melakukan survey dan pengecekan biasanya juga sekaligus mengingatkan pelanggan untuk menerima keputusan dari pihak PLN. Biasanya kami jelaskan apabila kerusakan parah berarti harus diganti dan apabila mereka tidak kooperatif maka akan memakan proses lebih lama. Kalau untuk hambatan karena cuaca buruk atau beratnya medan ini sangat sulit untuk diatasi. Mengingat kondisi cuaca juga seringkali tidak bisa diprediksi. Medan yang harus ditempuh pun sudah tidak bisa dirubah lagi karena memang adanya seperti itu. Paling-paling saat kita survey juga kita jelaskan mengapa terjadi keterlambatan. Namun biasanya tim kami juga sudah menempuh jalur tercepat untuk mencapai lokasi”

74

Sedangkan untuk hambatan yang sulit untuk diminimalisir yaitu hambatan dari faktor cuaca dan kondisi medan yang tidak bersahabat. Pihak PT PLN (Persero) Rayon Gombong seringkali juga menjelaskan kepada pelanggan ketika musim penghujan maka akan sedikit mengalami keterlambatan.

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.