ISLAM DALAM ERA POST-MODERN;


1 ISLAM DALAM ERA POST-MODERN; Melacak Periodesasi Pemikiran dalam Studi Keislaman Ahmad Zainuddin, M.Fil.I Abstrak: Sejarah mencatat bahwa loncatan-l...
Author:  Ridwan Pranoto

0 downloads 71 Views 278KB Size

Recommend Documents


Islam dan Politik dalam Era
1 Islam dan Politik dalam Era Orde Baru Oleh : Afan Gaffar Drs. Afan Gaffar, MA, Ph.D, adalah dosen tetap pada Jurusan llmu Pemerintahan Fakultas llmu...

BAGAIMANA MENYIKAPI OVERPRODUKSI HISTORIOGRAFI DALAM ERA POSTMODERN: Pembelajaran dari Perspektif F.R. Ankersmit untuk Proyeksi Diri Keindonesiaan
1 1 BAGAIMANA MENYIKAPI OVERPRODUKSI HISTORIOGRAFI DALAM ERA POSTMODERN: Pembelajaran dari Perspektif F.R. Ankersmit untuk Proyeksi Diri Keindonesiaan...

Landasan Filosofi Postmodern dalam Inovasi Pembelajaran Seni *)
1 2 3 Landasan Filosofi Postmodern dalam Inovasi Pembelajaran Seni *) (budayapendidikan.blogspot.com) A.M.Susilo Pradoko, Dosen Seni Musik FBS UNY A.P...

JARINGAN KEILMUAN ASTRONOMI DALAM ISLAM PADA ERA KLASIK
1 JARINGAN KEILMUAN ASTRONOMI DALAM ISLAM PADA ERA KLASIK Muqowim Abstract This asticle tries to discuss the intellectual genealogy of astronomical tr...

TEOSOFI TEOLOGI ISLAM ERA MODERN
1 TEOSOFI TEOLOGI ISLAM ERA MODERN Dosen Pengampu : Ahmad Farroh Hassan Disusun Oleh : Fuad Anshory Dwi Wahyu Nurulhuda Sofia binti Morsalin ( ) JURUS...

KUNNEMAN GAAT POSTMODERN
1 54 vermaatschappelijking en waarin het 'vrije handelen' van individuen en de daaruit resulterende gemeenschapsvorming nog enigszins operationeel is....

Postmodern zonder Postmodernisme
1 Postmodern zonder Postmodernisme Hans Tromp Het Postmodernisme dood? leve het postmoderne denken! In deze bijdrage wil ik ingaan op de vraag van de ...

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF MAHMUD YUNUS DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM PADA ERA KONTEMPORER. Skripsi
1 KONSEP PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF MAHMUD YUNUS DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM PADA ERA KONTEMPORER Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Tugas-T...

Een postmodern Renaissance. Joseph Wachelder
1 schijnbaar onmogelijk te combineren zijn, legt hij echter wel de vinger op een zere plek. Er is een te grote kloof ontstaan tussen politiek activism...

MATEMATIKA DALAM ERA DIGITALISASI
1 MATEMATIKA DALAM ERA DIGITALISASI 14 OKTOBER 2017 UNS INN SURAKARTA PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSIT...



MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

ISLAM DALAM ERA POST-MODERN; Melacak Periodesasi Pemikiran dalam Studi Keislaman Ahmad Zainuddin, M.Fil.I

Abstrak: Sejarah mencatat bahwa loncatan-loncatan kreasi dan inovasi intelektual dalam Islam terjadi justru ketika terjadi kontak dan pergulatan dengan Barat. Hal ini terjadi begitu menyolok ketika Islam berjumpa dengan warisan intelektual Yunani. Karya-karya intelektual Islam terbaik dan amat monumental terbentuk pada abad-abad pertengahan di mana pergulatan berlangsung begitu intens antara filsafat Yunani dan pemikirpemikir muslim Arab. Kontak kedua yang juga amat menentukan dalam perkembangan Islam terjadi pada awal abad ke-20, gerakan pembaharuan dan modernisasi dalam Islam merebak setelah Islam berjumpa dengan Barat modern. Hampir semua tokoh modernis dalam Islam adalah mereka yang memiliki apresiasi kritis terhadap intelektualisme Barat. Pada fase ini kontak dengan Barat memberikan pencerahan dalam pemikiran politik dan apresiasi teknologi. Pada penghujung abad 20, setelah Perang Dunia I dan II kelihatannya pola hubungan Islam-Barat melahirkan nuansa-nuansa baru. Pada fase ketiga inilah postmodernisme masuk sebagai salah satu agenda, meskipun bagi mayoritas pemikir muslim, ia tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari paradigma westernisme-modernisme. Kata Kunci; Postmodernimse, Islam.

PENDAHULUAN Kerangka pikir atas pergeseran pengetahuan manusia mengacu pada sebuah freame besar yakni masa kuno/klasik, masa pertengahan, masa modern dan postmodern. Secara siginifikan masa klasik dan pertengahan di barat, wacana pikir dan rasionalisme manusia, belum mendapatkan porsi yang signifikan. Pada masa modern rasio manusia seolah-olah sebuah kendaraan yang sangat dahsyat mengantarkan manusia pada sebuah kehidupan yang seolah-olah nyaman dan penuh kemapanan. Dengan perkembangan teknologi yang terstruktur sedemikian rupa. Disinilah modernisme dicirikan dengan gerakan rasionalisme yang begitu gencar. Rasionalisme telah menggiring manusia pada sebuah masa pencerahan yang disebut dengan mainstream pemikiran modernisme dan fakta sosialnya disebut modernitas.

118

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

Setelah berjalan sekian dekade kemapanan dan kenyamanan paham modernisme mendapat kritik dan pergeseran paradigma. Pergeseran pemikiran modernisme itu mendapat kritik yang cukup signifikan yang merupakan mainstream gerakan postmodernisme dengan segala lingkup dan permasalahannya. Berbagai simbol telah diciptakan manusia untuk dilekatkan mewakili bahasa manusia dalam menyebut pergeseran paradigma pemikiran dan pengetahuan manusia dari waktu ke waktu1. Disinilah maka makalah ini akan memberikan paparan yang komprehensip berkaitan dengan Postmodernisme dan selanjutnya bagaimanakah islam sebagai agama dengan dimensi teologis dan antroposentrisnya dalam arus pemikiran post modernisme. Secara khusus, pembahasan dalam paper ini penulis batasi meliputi karakteristik dan ide-ide post-modern, apakah post-modern itu sebagai ulangan aktifitas sejarah atau mengidentifikasikan diri sebagai periode sejarah tertentu, serta bagaimana pengaruh pemikiran post-modern dalam perkembangan pemikiran Islam. POST-MODERN; SEJARAH, KARAKTERISTIK DAN GAGASAN Kata ―Post‖ yang dikaitkan dengan modern secara etimologi berarti melampaui atau bahkan mencampakkan dan meninggalkan modern2. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari moderninsme. Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1939. Setelah itu berkembang dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.3 Selanjutnya penggunaan istilah Post-Modern menjadi Postmodernime merupakan bangunan gagasan atau konsep dari kritik atau lompatan atas modernisme, sedangkan postmodernitas lebih menunjuk pada situasi dan tata sosial Masing – masing tokoh menyebutkan model pergeseran konsep mereka tentang pergeseran pemikiran sangat beragam. Meski terkadang tidak berurutan secara kronologis disinilah yang menjadikan sejumlah aliran-aliran pemikiran dalam filsafat semakin berkembang. Aliran tersebut melingkupi rasionalisme, empirisme, materiaslisme, posistivisme, idealisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme dan lain sebagainya. Masing – masing aliran memiliki model gaya dan karakter pemikiran yang berbeda sesuai dengan kecenderungan masing-masing. Masing –masing aliran muncul sebagai reaksi atas aliran yang lain yang dianggap terdapat anomali dan krisis sehingga diperlukan paradigma baru dalam menyelesaikannya. Secara lebih dalam berkaitan dengan pergeseran paradigma positifisme ke postpositifisme lebih lengkap lihat buku kecil Seri posmodernisme Karangan Ziauddin Sardar, 2002, Thomas Kuhn dan Perang Ilmu, terjemahan: Sigit Djatmiko Yogyakarta: Jendela, hlm. 13- 64 2 Bandingkan dengan istilah Post-Tradisional yang juga tidak lazim, lebih jauh lihat Rumaidi, 2008, Post tradisonalisme islam; Wacana Intlektualisme dalam komunitas NU. Jakarta; Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, hlm. 19-20 3 http://id.wikipedia.org/wiki/Postmodernisme 1

119

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara dan bangsa serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan saints4. Postmodern memiliki ide cita-cita, ingin meningkatkan kondisi sosial, budaya dan kesadaran akan semua realitas serta perkembangan dalam berbagai bidang. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan sentralisasi dan universalisasi ide di berbagai bidang ilmu dan teknologi, dengan pengaruhnya yang mencengkram kokoh dalam bentuknya globalisasi dunia. Prinsip postmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antara budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, antara simbol dan realitas, antara universal dan peripheral dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijunjung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional 5. Jadi postmodern secara umum adalah proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang.6 Postmodernisme merupakan intensifikasi (perluasan konsep) yang dinamis, yang merupakan upaya

terus menerus untuk mencari kebaruan,

eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar (meta naratif), dan penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, dan lain-lain. Postmodern dalam bidang filsafat diartikan juga segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya dan berusaha untuk menemukan bentuknya yang kontemporer.7 Menurut postmodernime

Amin baik

Abdullah, untuk

agaknya,

mengapresiasinya

sulit atau

memahami untuk

pemikiran meng-counter

Disini lain muncullah Gerakan anti strukturalis yang disebut dengan gerakan poststrukturalis dan beberapa penulis menyebutkan dengan superstrukturalis. Konsep ini berkembang sebagai gerakan ingin melakukan kritik serius atas pemikiran strukturalis kaum modernis yang telah melumpuhkan nalar kreatif manusia yang hidup dalam kancah kontemporer. Aliran poststrukturalisme mengandung arti sebuah gerakan filsafat yang merupakan reaksi terhadap strukturalisme dan membongkar setiap klaim akan oposisi berpasangan,hierarki berjenjang, dan validitas kebenaran universal dan kemudian mengajukan konsep baru dengan menjunjung tinggi permainan bebas tanda serta ketidakstabilan makna dan kategorisasi intelektual. Untuk mendapatkan gambaran lebih utuh baca Karua Richhard Harland, 2006, Superstrukturalisme; Pengantar komprehensip kepada semiotika, strukturalisme dan poststrukuralisme, Yogyarta; Jalasutra. 5 Bambang Sugiharto, Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat, hlm. 20. 6 Scoot Lash, Sosiologi Postmodernisme, hlm, 21 7 Ibid, hlm. 179. 4

120

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

argumentasinya jika tanpa dibarengi dengan pendalaman dalam diskursus filsafat. Tak pelak lagi, orang seperti Ernest Gellner, seorang antropolog Inggris menganggap bahwa postmodernisme tidak lain dan tidak bukan adalah Realitivisme dalam bentuk dan wajahnya yang baru. Akbar S. Ahmed, seorang antropolog dan filosof keturunan india/pakistan yang tinggal di London, menambah unsur media sebagai pemicu dan sekaligus bagian yang tak terpisahkan dari wacana postmodernisme.8 POST-MODERN; PERIODE KESEJARAHAN DAN MODE PEMIKIRAN Dari sumber-sumber yang dapat penulis lacak, terdapat perbedaan aksentuasi makna dan semangat ketika postmodernisme difahami sebagai mode pemikiran dan periode kesejarahan , meskipun keduanya memiliki keterkaitan yang amat erat: yang pertama mengajak kita pada analisa konseptual-filosofis masyarakat postmodern, sedang yang kedua mengajak kita untuk memusatkan pada kajian sosiologis terhadap kehidupan. Ketika postmodernisme dikaitkan dengan Islam, kita juga bisa meniliknya dari dua arah tersebut. POST-MODERN SEBAGAI MODE PEMIKIRAN Amin Abdullah menjelaskan arus pemikrian postmodernisme melalui jendela Struktur Fundamental 9. Melalui jendela ini akan tampak relevansi, respon dan tantangan yang dihadapi oleh diskursus pemikiran keagamaan secara khusus. Setidaknya terdapat 3 (tiga) fenomena dasar yang menjadi tulang punggung arus pemikiran postmodernisme yakni pertama; decontrstruksionism, kedua, relativism, dan ketiga, pluralisme.10

Pertama, Decontructionism11

Amin Abdullah, 2009. Falsafah kalam Di Era Postmodernisme. Yogyakarta; Pustaka Pelajar, hlm, 97. Istilah ―Struktur Fundamental‖ sebanarnya tidak begitu disukai oleh alur pemikiran postmodern lantaran istilah tersebut menunjukkan sisa-sisa utopia ―modernisme‖. Tapi istilah tersebut oleh Amin Abdullah sengaja dipakai untuk sekedar membatasi ruang lingkup pembahasan postmodernisme. 10 Amin, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, hlm, 99-105. 11 Istilah ―Decontructionism‖ dimunculkan oleh filosof prancis Jacques Derrida. Istilah ini berhubungan dengan persoalan teks, bahasa. Untuk memahamai teks secara baik, orang harus ‗berani‘ melakukan ―pembongkaran‖ (dekonstruksi) terhadap teks keagamaan. 8 9

121

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

Hampir semua bangunan atau konstruksi dasar keilmuan yang telah mapan dalam era modern, baik dalam bidang sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, bahkan juga dalam ilmu-ilmu kealaman yang selama ini dianggap baku – yang biasa disebut dengan grand theory – ternyata dipertanyakan ulang oleh alur pemikiran Postmodernisme. Hal itu terjadi karena grand theory tersebut dianggap terlalu skematis dan terlalu menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya serta dianggap menutup munculnya teori-teori lain yang barangkali jauh lebih dapat membantu memahami realitas dan pemecahan masalah. Jadi klaim adanya teori-teori yang baku, standar, yang tidak dapat diganggu gugat, itulah yang ditentang oleh para pemikir postmodernisme. Para protagonis pemikiran postmodernisme tidak meyakini validitas ―konstruksi‖ bangunan keilmuan yang ―baku‖, yang ―standar‖ yang telah disusun oleh genarasi modernis. Standar itu dilihatnya terlalu kaku dan terlalu skematis sehingga tidak cocok untuk melihat realitas yang jauh lebih rumit. Dalam teori sosiologi modern, para ilmuan cenderung untuk melihat gejala keagamaan sebagai wilayah pengalaman yang amat sangat bersifat individu. Pengalaman keagamaan itu tidak terkait dan harus dipisahkan dari kenyataan yang hidup dalam realitas social yang ada. Era postmodernisme ingin melihat suatu fenomena social, fenomena keberagamaan, realitas fisika apa adanya, tanpa harus terkurung oleh anggapan dasar atau teori baku dan standar yang diciptakan pada masa modernisme. Maka konstruksi bangunan atau bangunan keilmuan yang telah dibangun susah payah oleh generasi modernisme ingin diubah, diperbaiki, dan disempurnakan oleh para pemikir postmodernis. dalam istilah Amin Abdullah dikenal dengan ―deconstructionism‖ yakni upaya mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah mapan yang telah dibangun oleh pola pikir modernisme, untuk kemudian dicari dan disusun teori yang lebih relevan dalam memahami kenyataan masyarakat, realitas keberagamaan, dan realitas alam yang berkembang saat ini. Kedua, Relativism Thomas S. Kuhn adalah salah seorang pemikir yang mendobrak keyakinan para ilmuan

yang bersifat positivistik. Pemikiran positivisme memang lebih

122

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

menggarisbawahi validitas hukum-hukum alam dan sosial yang bersifat universal yang dibangun oleh rasio. Manifestasi pemikiran postmodernisme dalam hal realitas budaya (nilai-nilai, kepercayaan agama, tradisi, budaya dan lainnya) tergambar dalam teori-teori yang dikembangkan oleh disiplin antropologi. Dalam pandangan antropolog, tidak ada budaya yang sama dan sebangun antara satu dengan yang lain. Seperti budaya Amerika jelas berbeda dengan budaya Indonesia. Maka nilai-nilai budaya jelas sangat beraneka ragam sesuai dengan latarbelakang sejarah, geografis, demografis dan lain sebagainya. Dari sinilah nampak, bahwa nilai-nilai budaya bersifat relatif, dalam arti antara satu budaya dengan budaya yang lain tidak dapat disamakan seperti hitungan matematis. Dan hal ini sesuai dengan alur pemikiran postmdernisme yaitu bahwa wilayah budaya, bahasa, cara berpikir dan agama sangat ditentukan oleh tata nilai dan adat kebiasaan masing-masing. Dari sinilah nampak jelas, bahwa para pemikir Postmodernisme menganggap bahwa segala sesuatu itu sifatnya relative dan tidak boleh absolut, karna harus mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Namun konsepsi relativisme ini ditentang oleh Seyyed Hoessein Nasr, seorang pemikir kontempor. Baginya tidak ada relativisme yang absolut lantaran hal itu akan menghilangkan normativitas ajaran agama. Tetapi juga tidak ada pengertian absolut yang benar-benar absolut, selagi nilainilai yang absolut itu dikurung oleh historisitas kemanusiaan itu sendiri. Ketiga, Pluralism Akumulasi dari ciri pemikiran postmodernisme yaitu pluralisme. Era pluralisme sebenarnya sudah diketahui oleh banyak bangsa sejak dahulu kala, namun gambaran era pluralisme saat itu belum dipahami sepeti era sekarang, Hasil teknologi modern dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era pluralisme budaya dan agama telah semakin dihayati dan dipahami oleh banyak orang dimanapun mereka berada. Adanya pluralitas budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, sosial, suku, pendidikan, ilmu pengetahuan, militer, bangsa, negara, dan politik merupakan sebuah realitas. Dan berkaitan dengan paradigma tunggal seperti yang dikedepankan oleh pendekatan kebudayaan barat modernis, develop, mentalis, baik dalam segi keilmuan, maupun lainnya telah dipertanyakan keabsahannya oleh pemangku budaya-budaya di

123

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

luar budaya modern. Maka dalam konteks keindonesiaan khususnya, dari ketiga ciri pemikiran postmodernisme, nampaknya fenomena pluralisme lebih dapat diresapi oleh sebagian besar masyarakat. Pemikrian decontructionism, realitivism dan pluralism, yang menyatu dalam wawasan postmodernisme mempunyai implikasi ‗positif‘ dan negatif‘ terhadap perkembangan pemikiran islam. POST-MODERN SEBAGAI PERIODE KESEJARAHAN Akbar S. Ahmed mencoba mendefenisikan postmodernisme dengan terlebih dahulu

memahami

modernisme

yang

akan

memungkinkan

mengukur

postmodernisme. Modernisme diartikan sebagai fase terkini sejarah dunia ditandai dengan percaya pada sains, perencanaan, sekularisme dan kemajuan. Keinginan untuk simetri dan tertib, keinginan akan keseimbangan dan otoritas, telah juga menjadi karakternya. Periode ini ditandai oleh keyakinannya terhadap masa depan, sebuah keyakinan bahwa utopia bisa dicapai.Gerakan menuju industrialisasi dan kepercayaan yang fisik, membentuk ideologi yang menekankan materialisme sebagai pola hidup. 12 Formulasi kontemporer postmodernisme menurut Ahmed merupakan fase khusus menggantikan modernisme, berakar pada dan diterangkan sejarah terakhir barat yang berada pada inti dominasi peradaban global abad ini. Terhadap hal ini Ahmed mencoba mengidentifikasikan beberapa ciri utama postmodernisme dengan menekankan watak sosiologisnya. Ciri – ciri utamanya adalah sebagai berikut : 

Timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (metanarasi); dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.



Meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistim indera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan media masa telah menjelma bagaikan "agama"atau "tuhan" sekuler, dalam artian perilaku orang tidak

12

Akbar S.Ahmed, 1993. Postmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam terj.M.Sirozi, Bandung: Mizan, hlm, 22.

124

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa, semisal program televisi. 

Munculnya

radikalisme

etnis

dan

keagamaan.

Fenomena

ini

muncul diduga sebagai reaksi atau alternatif ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal

memenuhi

janjinya

untuk

membebaskan

manusia,

tetapi, sebaliknya, yang terjadi adalah penindasan. 

Munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisisme dengan masa lalu.



Semakin

menguatnya

wilayah

perkotaan

(urban) sebagai

pusat

kebudayaan, dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju atas negara berkembang. Ibarat roda, Negara maju sebagai "titik pusat" yang menentukan gerak pada "lingkaran pinggir". 

Semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas. Dengan kata lain, era postmodernisme telah ikut mendorong bagi proses demokratisasi.



Era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana, potret serpihan-serpihan realitas, sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya secara eksklusif.



Bahasa yang digunakan dalam wacana postmodernisme seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut "era postmodernisme" banyak mengandung paradoks. Paradoks yang digaris bawahi Ahmed antara lain ialah: masyarakat mengajukan kritik pedas terhadap materialisme, tapi pada saat yang sama pola hidup konsumerisme semakin menguat; masyarakat bisa menikmati kebebasan individual yang begitu prima yang belum pernah terjadi dalam sejarah, namun pada saat yang sama peranan negara bertambah kokoh; dan masyarakat cenderung ragu terhadap agama, tetapi pada saat yang sama terdapat indikasi kelahiran metafisika dan agama.

125

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

Berdasarkan ciri-ciri utama postmodernisme, maka dapat dilihat bahwa kecenderungan yang ditekankan dalam literatur postmodernisme adalah rasa anarkinya, ketidakmenentuan dan keputusasaannya. Namun perlu bagi kita untuk menginterpretasikan postmodernisme dari segi positifnya yang berupa keberagamaan, kebebasan meneliti dan kemungkinan untuk mengetahui dan memahami satu sama lain. Postmodernisme tidak perlu dipandang sebagai kesombongan intelektual, diskusi akademik yang jauh dari kehidupan nyata, tetapi sebagai fase historis manusia yang menawarkan kemungkinan yang belum ada sebelumnya kepada banyak orang, sebuah fase yang memberikan kemungkinan lebih mendekatkan beragam orang dan kultur ketimbang sebelumnya.13 IMPLIKASI POST-MODERN TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM Mau tidak mau, suka atau tidak suka, arus pemikiran postmodernisme akan merambah ke relung-relung pemikiran manusia, mempengaruhi hubungan antar agama, hubungan antar kebudayaan dan peradaban sekalligus. Persoalannya adalah apakah ciri dan model berpikir postmodernisme yang setidaknya, mempunyai tiga ciri teruraio di atas akan dapat mengubah, memperlemah atau memperkuat dan memperteguh budaya lokal dan kehidupan beragama kiat?. Dengan begitu kita perlu memeriksa kembali kepada menanyakan dari ciri pertama pemikiran postmodernisme yakni dekonstruksi apakah telah memasuki wilayah keagamaan kita?. Jiak yang dimaksud dengan pemikiran dekonstruksi adalah sejenis kritik, penolakan, sanggahan yang argumentatif terhadap pemikiran dan keyakinan beragama yang sudah ―baku‖ mapan‖ dan standar, maka secara sosiologis, dalam wilayah kehidupan beragama manusia itu sendiri, hal itu sering terjadi. Gerakan padri di Minangkabau, atau bahkan gerakan wahabi pada abad-abad sebelumnya adalah merupakan contoh konkret dalam kasus tersebut. Bahkan dalam khazanah klasik pun, diskursus seperti itu sering kali terjadi, baik antara Mu‘tazila dan Asy‘ariah, antara ahli Sunnah dan Syi‘ah. Antara paham tradisionalisme dan modernisme dan begitu seterusnya. Pendek kata, jika terjadi proses pembekuan dalam wilayah pemikiran keagamaan, dan yang kemudian oleh sebahagian penganut agama

13

Ibid, hlm, 42.

126

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

dilihat adanya keganjilan-keganjilan yang melekat—barangkali, lebih tepat disebut ‗pembekuan‘ oleh para pelaku sejarah—maka dengan sendirinya akan muncul ide-ide baru yang ingin mempersegar, mendinamisir ajaran ortodok yang telah ―mapan‖ tersebut.14 Menurut Komaruddin Hidayat, sulit mencari sosok pemikir yang secara spesifik dan intens terlibat dalam wacana postmodernisme sebagai sebuah agenda filosofis-intelektual. Barangkali hanya dua nama yang mudah disebutkan, yakni Mohammad Arkoun dan Hassan Hanafi. Yang pertama seorang intelektual muslim kelahiran Aljazair yang tinggal di Perancis, dan yang kedua berasal dari Mesir yang juga banyak mengenyam pendidikan di Perancis. Keduanya memiliki keterlibatan intelektual secara langsung dengan isu dan gerakan postmodernisme di Eropa. Dari keduanya itu kelihatannya Arkoun lebih terlibat jauh. Berbagai karyanya, yang sebagian besar masih dalam edisi Perancis, memang secara eksplisit memperkenalkan konsep "dekonstruksi" dari Derrida dalam memahami Al-Qur'an, meskipun dalam segi yang amat fundamental Arkoun berbeda dari Derrida dan pemikir postmodernis yang lain15. Lebih jauh Komarudin menjelaskan bahwa untuk membicarakan kaitan antara Islam dan postmodernisme, kita mau tak mau harus juga memeriksa kembali modus keberagamaan kita, pandangan kita tentang watak bahasa agama, dan bagaimana bahasa agama tersebut mesti kita sikapi. Terdapat beberapa alasan mengapa perlu melakukan dekonstruksi terhadap bahasa agama dan bagaimana bisa dilakukan, antara lain : Pertama, Kitab Suci sebagai firman Tuhan diturunkan dalam penggalan ruang dan waktu, sementara manusia yang menjadi sasaran atau "pemakai jasa" senantiasa berkembang terus dalam membangun peradabannya. Dengan warisan kulminasi peradaban yang turun temurun masyarakat modern bisa berkembang tanpa rujukan kitab suci sehingga posisi kitab suci bisa saja semakin asing meskipun secara substansial dan tanpa disadari berbagai ajarannya dilaksanakan oleh masyarakat. Kedua, bahasa apa pun juga, termasuk bahasa kitab suci, memiliki keterbatasan yang bersifat lokal karena bahasa adalah realitas budaya. Sementara itu pesan dan 14 15

Amin Abuddlah, Falsafah Kalam, hlm, 107. Komarudin Hidayat, 1994. Melampaui Nama-nama; Islam dan Postmodernisme, Kalam; Jurnal Kebudayaan Edisi 1, 1994.

127

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

kebenaran agama yang termuat dalam bahasa lokal tadi mempunyai klaim universal. Di sini sebuah bahasa agama akan diuji kecanggihannya untuk menyimpan pesan agama tanpa harus terjadi anomali atau terbelenggu oleh kendaraan bahasa yang digunakannya. Ketiga, ketika bahasa agama "disakralkan", maka akan muncul beberapa kemungkinan. Bisa jadi pesan agama terpelihara secara kokoh, tetapi bisa juga justru makna dan pesan agama yang fundamental malah terkurung oleh teks yang telah "disakralkan" tadi. Keempat, kitab suci--di samping kodifikasi hukum Tuhan--adalah sebuah "rekaman" dialog Tuhan dengan sejarah di mana kehadiran Tuhan diwakili oleh Rasul-Nya. Ketika dialog tadi dinotulasi, maka amat mungkin telah terjadi reduksi dan pemiskinan nuansa sehingga dialog Tuhan dengan manusia tadi menjadi kehilangan"ruh"-nya ketika setelah ratusan tahun kemudian hanya berupa "teks". Kelima, ketika masyarakat dihadapkan pada krisis epistemologi, kembali pada teks Kitab Suci yang "disakralkan" tadi akan lebih menenangkan ketimbang mengambil faham dekonstruksi yang mengarah pada relativisme-nihilisme. Keenam, semakin otonom dan berkembang pemikiran manusia, maka semakin otonom manusia untuk mengikuti atau menolak ajaran agama dan kitab sucinya. Lebih dari itu, ketika orang membaca teks kitab suci, bisa jadi yang sesungguhnya terjadi adalah sebuah proses dialog kritis antara dua subyek. Dengan demikian orang bukannya menafsirkan dan minta fatwa pada kitab suci tetapi menempatkan kitab suci sebagai teman dialog yang bebas dari dominasi. Dari berbagai pertimbangan di atas, dan tentu saja bisa diperpanjang, maka antara seorang muslim, kitab suci, sejarah kenabian, dan alam raya ini, terjadi semacam lingkaran hermeneutik yang berdiri secara sejajar. Semakin cerdas kita mengajak berdialog, maka akan semakin cerdas pula kitab suci, sejarah dan alam ini memberikan jawaban balik pada kita. Dalam perspektif dialog peradaban, Hassan Hanafi sebagai Intlektual Muslim yang intens terlibat dalam wacana portmodernisme itu telah memulai untuk melakukan pengawalan terhadap kesadaran peradaban umat Islam yang selama ini sedikit banyak masih dibawah pengaruh Barat. Meskiupun di negaranya sendiri ia kurang diterima bahkan dikecam oleh kelompok Islam – yang oleh Komaruddin

128

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

Hidayat16 disebut konservatif-skripturalis - perhatian nya terhadap peradaban Islam itu ia buktikan melalui bukunya Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat yang merupakan wajah lain dan tandingan Orientalisme. Dimana orientalisme melihat ego (Timur) melalui the other, maka Oksidentalisme bertujuan mengurai simpul sejarah yang mendua antara egodengan the other, dan dialektika antara kompleksitas inferioritas pada ego dengan kompleksitas superioritas. Dengan bahasa yang lebih sederhana Orientalisme lama adalah pandangan ego eropa terhadap the other non eropa; subyek pengkaji muncullah kompleksitas superioritas dalam ego eropa, sedangkan akibat posisinya sebagai obyek yang dikaji juga mengakibatkan munculnya kompleksitas inferioritas dalam diri the other non eropa. Oksidentalisme17 telah menyeimbangkan peran yang selama ini berlaku, dimana ego eropa yang kemarin berperan sebagai pengkaji, kini berubah arah menjadi obyek yang dikaji. Sedangkanthe other non eropa yang kemarin menjadi objek yang dikaji, kini berperan sebagai subyek pengkaji. Oleh karena itu adanya kajian tentang Oksidentalisme ini sebagai upaya untuk menumbangkan superioritas Barat dalam bidang bahasa, kebudayaan, ilmu pengetahuan, madzhab, teori, dan pendapat. Teugas lain dari Oksidentalisme di sini adalah mengembalikan keseimbangan kebudayaan umat manusia, memperbaiki keseimbangan yang selama ini hanya menguntungkan kesadaran eropa dan merugikan kesadaran non eropa Sedangkan

dengan

adanya

kajian

tentang

Oksidentalisme

telah

menyeimbangkan peran yang selama ini berlaku, dimana ego eropa yang kemarin berperan sebagai pengkaji, kini berubah arah menjadi obyek yang dikaji. Sedangkanthe other non eropa yang kemarin menjadi objek yang dikaji, kini berperan sebagai subyek pengkaji. Oleh karena itu adanya kajian tentang Oksidentalisme ini sebagai upaya untuk menumbangkan superioritas Barat dalam bidang bahasa, kebudayaan, ilmu pengetahuan, madzhab, teori, dan pendapat. Tugas lain dari Oksidentalisme di sini adalah mengembalikan keseimbangan kebudayaan umat manusia, memperbaiki keseimbangan yang selama ini hanya menguntungkan kesadaran eropa dan merugikan kesadaran non eropa Lihat pengantar Komaruddin Hidayat dalam buku Hassan Hanafi, 2000. Oksidentalisme; sikap Kita terhadap Barat. Jakarta; Paramadina hlm, xviii. 17 Hassan Hanafi menyatakan bahwa Oksidentalisme sesungguhnya bukan merupakan lawan dari Orientalisme, melainkan hanya sebuah hubungan dialektis yang salaing mengisi dan melakukan kritik antara yang satu dengan yang lain sehingga terhindar dari relasi hegemonik dan dominatif dari dunia barat atas timur. Lebih lengkap lihat Ibid. 16

129

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

MenurutJohn L.esposito, Hanafi membagi proyek pemikirannya menjadi tiga agenda besar, yaitu ―Sikap terhadap Warisan Lama‖, ―Sikap terhadap Warisan Barat‖, dan ―Sikap terhadap Realitas‖. Ketiga agenda besar itu ia tuangkan dalam bukubukunya. Hassan Hanafi cenderung radikal. Ia sering menyampaikan kepedulianya kepada massa tertindas. Dalam sebuah koran Indonesia, pernah dikabarkan bahwa Amerika lebih takut kepada pemikiran Hassan Hanafi daripada pemikir lainnya. 18 PENUTUP Konsepsi ajaran agama yang bersifat inklusif (rahmatan lil ‘alamin) dengan nuansanuansa pemikiran postmodernisme jauh akan menghantarkan kita pada berbagai kemungkinan perubahan yang lebih dahsyat di masa mendatang dari pada hanya sekedar mengedepankan simbol-simbol dan kelembagaan agama yang sering kali berimplikasi pada ketertutupan dan eksklusivitas. Dengan begitu, perkembangan pemikiran islam dapat diharapkan mampu memahami nuansa prost-modernisme yang menolak segala bentuk kemapanan, kemutlakan, standart baku dan kaku dalam berbagai diskursus, yang aturanya, tidak harus sampai ke tingkat itu. Akhirnya rumusan ―Act locally dan think globally‖ adalah cocok utuk kondisi pluralitas agama dan budaya. Dengan memahami alur pemikiran postmodersme, maka persoalan pelik hubungan antar kebudayaan dan perdaban akan dapat dipahami secara dialogisinklusif, bukannya dengan membenturkan antar keduanya. Pemikiran dekontruksi, realtivisme, dan pluralisme, yang menyatu dalam wawasan - mempunyai implikasi ‗positif‘ dan ‗negatif‘ terhadap pola hubungan antar budaya dan antar perdaban serta antar agama.

18

Didin Saefuddin, 2003. Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, Jakarta; Grasindo, hlm, 185.

130

MIYAH VOL.XI NO. 01 JANUARI TAHUN 2016

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Amin. 2009. Falsafah kalam Di Era Postmodernisme, Yogyakarta; Pustaka Pelajar. Ahmed, Akbar S. 1993. Postmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam terj. M. Sirozi, Bandung: Mizan. Hanafi, Hassan. 2000. Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat, Jakarta: Paramadina. Hidayat, Komaruddin dalam buku Hassan Hanafi, 2000. Oksidentalisme; sikap Kita terhadap Barat, Jakarta; Paramadina. Hidayat, Komarudin. 1994. Melampaui Nama-nama; Islam dan Postmodernisme, Kalam; Jurnal Kebudayaan Edisi 1. Lash, Scoot. 2004. Sosiologi Postmodernisme, Jakarta: Kanisius. Richhard Harland, Karua. 2006. Superstrukturalisme; Pengantar komprehensip kepada

semiotika,

strukturalisme

dan

poststrukuralisme,

Yogyarta;Jalasutra. Rumaidi. 2008. Post tradisonalisme islam; Wacana Intlektualisme dalam komunitas NU, Jakarta; Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI. Sardar, Ziauddin. 2002. Thomas Kuhn dan Perang Ilmu, terj. Sigit Djatmiko, Yogyakarta: Jendela. Saefuddin, Didin. 2003. Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, Jakarta; Grasindo. Sugiharto, Bambang. 2000. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius. http://id.wikipedia.org/wiki/Postmodernisme

131

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.