LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI PERCOBAAN 6


1 LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI PERCOBAAN 6 UJI EFEKTIVITAS ANTELMINTIK Dosen Pembimbing Praktikum: Fadli, S.Farm, Apt Hari/tanggal praktikum : ...
Author:  Vera Cahyadi

1 downloads 131 Views 181KB Size

Recommend Documents


No documents


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI PERCOBAAN 6 UJI EFEKTIVITAS ANTELMINTIK

Dosen Pembimbing Praktikum: Fadli, S.Farm, Apt Hari/tanggal praktikum

: Senin, 29 Desember 2014

Disusun oleh: KELOMPOK 5 / GOLONGAN A 1. Dedi Febriandi

(138911)

2. Dhea Rizky

(138915)

3. Endah Nopaparadila

(138917)

4. Mega Juniati

(138945)

5. Yessi Dwisanti

(139005)

LABORATORIUM FARMAKOLOGI AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK 2014/2015

I. PENDAHULUAN A. Tujuan Percobaan 1. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan eksperimen sederhana untuk menguji aktivitas antelmintik suatu bahan uji secara invitro 2. Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan perbedaan paralisis dan flasid yang terjadi pada cacing setelah diberikan antelmintik B. Dasar Teori Antelmintik merupakan obat untuk mengurangi atau membunuh cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi cacing dari larvanya yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh. (Tjay, 2007) Obat-obat yang tidak diresorpsi lebih diutamakan untuk cacing didalam rongga usus agar kadar setempat setinggi mungkin, lagi pula karena kebanyakan antelmintika juga bersifat toksik pada tuan rumah. Sebaliknya, terhadap cacing yang dapat menembus dinding usus dan menjalar ke jaringan dan organ lain, misalnya cacing gelang, hendaknya digunakan obat sistemik yang justru diresorpsi baik kedalam darah hingga bisa mecapai jaringan. (Tjay, 2007) Kebanyakan obatcacing efektif terhadap satu macam cacing, sehingga diperlukan diagnosis tepatsebelum menggunakan obat tertentu. Kebanyakan obat cacing diberikan secaraoral, pada saat makan atau sesudah makan. Beberapa obat cacing perlu diberikan bersamaan dengan pencahar. Obat cacing baru umumnya lebih aman dan efektif disbanding dengan yang lama, efektif untuk beberapa macam cacing, rasanya tidak mengganggu, pemberiannya tidak memerlukan pencahar dan beberapa dapat diberikan secara oral sebagai dosis tunggal. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007)

Obat pilihan utama untuk anti cacing adalah pirantel pamoat atau mebendazole, sedangkan untuk pilihan keduanya adalah levamizole, piperazine ataupun albendazole. (Katzung, 2002) Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. (Tjay dan Rhardja, 2002)

II. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN A. Alat       

Cawan petri berukuran besar Batang pengaduk kaca Gelas piala 1L Pinset Sarung tangan Thermometer Incubator

B. Bahan  Ascaris suum (Nypa fruticans Wurmb)  Pirantel palmoat  NaCl 0,9% b/v  Air suling  Air dengan suhu 50°C

III. PROSEDUR KERJA 1. Sebelum pembuatan, cacing harus diaktifkan terlebih dahulu pada suhu 37°C 2. Siapkan larutan uji (pirantel palmoat dan larutan uji dari bahan alam) serta control (NaCl 0,9%) dengan konsentrasi masing-masing 5%, 20% dan 0,9% 3. Tuangkan larutan uji masing-masing kedalam cawan petri dengan pola sebagai berikut:  Cawan petri 1  Cawan petri 2  Cawan petri 3 4. Tempatkan cawan petri yang

: Pirantel palmoat : Larutan uji dari bahan alam : NaCl 0,9% telah berisi larutan ujii kedalam incubator pada

suhu 37°C 5. Kedalam masing-masing cawan petri, letakkan 1(satu) pasang Ascaris suum yang masih aktif. Catat waktunya 6. Lakukan pengamatan:  Amati pergerakan caing dan posisi kepala cacing segera setelah penempatan cacing kedalam larutan uji secara terus menerus selama menit pertama kemudian pada 30’, 45’, 60’ dan seterusnya dengan interval 15 menit. Pengamatan dilakukan selama 2 jam  Bandingkan pergerakan cacing dalam larutan uji (pirantel palmoat dan larutan uji dari bahan alam) dengan cacing control (dalam NaCl 0,9%)  Untuk melihat apakah cacing yang tidak bergerak tersebut sudah mati atau hanyak paralisis, usik cacing tersebut dengan batang pengaduk  Jika cacing diam, segera pindahkan ke dalam air panas 50°C dan amati pergerakannya  Apabila dengan mengusik, cacing tetap diam, berarti cacing tersebut mati. Tetapi jika bergerak, berarti cacing tersebut mengalami paralisis  Jika cacing mengalami paralisis, nyatakanlah apakah paralisis yang terjasi merupakan paralisis spastic atau flaccid dengan melihat postur tubuh cacing tersebut  Catat pengamatan dalam bentuk table. Nyatakan data pengamatan pada setiap interval waktu dengan: N (normal), P (paralisis) dan M (mati)

IV. HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN A. Larutan Stock Pirantel Pamoat Berat tablet: 1,02g Ditimbang: 0,05/100mL Konsentrasi yang dibuat: 5% CMC: 2% Aquades: ad 100mL B. Infusa stock Stock dibuat 100% sebanyak 280mL dengan berat daun pepaya 280g. Lalu dilakukan pengenceran 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70% dan 80% C. Tabel Pengamatan Kelompok/Larutan

Waktu pengamatan (menit) 0-15

15-30

30-45

45-60

III (Pirantel Palmoat 5%)

F

F

F

M

V (NaCl 0,9%)

N

N

N

N

I (Infusa 10%)

N

N

N

N

II (Infusa 20%)

N

N

N

N

IV (Infusa 30%)

N

N

N

N

VI (Infusa 40%)

N

F

F

F

VII (Infusa 50%)

N

N

F

F

VIII (Infusa 60%)

N

M(I)

M(II)

F

IX (Infusa 70%)

N

F

F

S

X (Infusa 80%) Keterangan:

F

S

M

M

M: Mati N: Normal

F: Flasid S: Spastik

V. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat adalah aktivitas pirantel pamoat juga infusa daun pepaya sebagai obat antelmintik yang bekerja dalam mempengaruhi sistem saraf dari cacing yang akan diamati efeknya. Pada prosedur awal, cacing yang digunakannya haruslah berupa cacing pita babi (Ascaris suum) jantan dan betina atau Ascaridia galli, namun karena keterbatasan sumber daya, maka diganti oleh cacing nipah (Nypa fruticans Wurmb). Pada awal praktikum, cacing diaktifkan terlebih dulu pada suhu 37oC, karena cacing hidup didalam tubuh manusia dengan keadaan sistem bersuhu 37oC. Setelah cacing aktif, maka yang perlu dilakukan adalah menyiapkan sediaan uji, yaitu berupa pirantel pamoat, infusa Carica papaya dengan berbagai konsentrasi juga sediaan kontrol berupa NaCl fisiologis, selain itu disiapkan air panas bersuhu 50 oC sebagai sarana uji penentuan sifat paralisis yang akan terjadi karena aktivitas obat antelmintik yang diberikan. Cacing yang sudah aktif diletakan pada cawan petri yang berbeda untuk tiap larutan uji, cawan petri yang pertama untuk larutan uji pirantel palmoat 5% sebanyak ±10mL, cawan petri yang kedua untuk larutan NaCl fisiologis 0,9% sebanyak ±10 mL dan cawan petri ketiga untuk larutan infusa daun papaya dengan masing-masing konsentrasi yang telah ditetapkan. Tiap cawan petri berisikan 3 ekor cacing. Pengamatan dilakukan selama waktu 60 menit dengan jarak pengamatan, 15 menit sekali. Pada larutan uji Pirantel palmoat 5%, cacing mengalami paralisis flasid yaitu keadaan cacing yang melemah pada menit ke 0-45 dan mati pada menit ke 45-60. Pirantel palmoat memiliki sifat laksan yang cukup kuat dan mekanisme kerjanya melumpuhkan

cacing

dengan

cara

mendepolarisasi

senyawa

penghambat

neuromuskuler dan mengeluarkannya dari dalam tubuh yang mengakibatkan paralisis spastik pada cacing. Pada larutan uji menggunakan NaCl 0,9% fisiologis sebagai control negatif, cacing tidak mengalami reaksi apapun (normal). Hal ini dikarenakan NaCl merupaka larutan pengisotonis tubuh yang sesuai dengan keadaan didalam tubuh dimana cacing akan tetap hidup didalam kondisi normal seperti itu.

Pada larutan uji infusa daun pepaya dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30% cacing tidak menimbulkan reaksi apapun (normal). Hal ini dikarenakan cacing nipah (Nypa fruticans Wurmb) memiliki fisik yang lebih besar dan memiliki system pertahanan tubuh yang lebih kuat dari pada Ascaridia gilli yang bukan termasuk cacing yang bersifat parasit dan hidup didalam tubuh manusia. Pada larutan uji infusa daun papaya 40%, cacing tidak mengalami reaksi apapun (normal) pada menit ke 0-15. Tetapi pada menit ke 15-60 cacing mengalami paralisis flasid (lemah) yang disebabkan oleh konsentrasi infusa yang meningkat. Pada larutan uji infusa daun papaya 50%, cacing tidak mengalami reaksi (normal) pada menit ke 0-30, dan mengalami flasid (keadaan tubuh lemah) pada menit ke 30-60. Hal ini berbanding terbalik dengan larutan uji infusa 40%. Secara teori, kenaikan dosis dapat mempengaruhi adsorbsi zat aktif. Hal ini bisa dikarenakan ukuran tubuh cacing yang lebih besar atau daya tahan tubuh cacing yang berbeda. Pada larutan uji infusa daun papaya 60%, cacing tidak mengalami reaksi apapun (normal) pada menit ke 0-15. Namun, pada menit ke 15-45 2 ekor cacing mati dan satu ekor sisa cacing lainnya mengalami flasid. Menurut literature, cacing yang mati harusnya mengalami flasid atau spastic terlebih dahulu. Namun pada table pengamatan tidak dinyatakan bahwa cacing mengalami flasid maupun spastic. Pada larutan uji infusa daun papaya 70%, cacing tidak mengalami reaksi apapun pada menit ke 0-15, namun pada menit ke 15-45 cacing mengalami flasid dan pada menit ke 45-60 cacing mengalami spastic. Hal ini dikarenakan konsentrasi infusa semakin bertambah. Pada larutan uji infusa 80%, cacing mengalami flasid pada menit ke 015 dan spastic pada menit ke 15-30. Lalu pada menit ke 30 cacing sudah mati. Hal ini dikarenakan peningkatan konsentrasi infusa sehingga system saraf pusat cacing terganggu.

VI. KESIMPULAN

Dari praktikum, dapat disimpulkan bahwa: 1. Antelmintik merupakan obat untuk mengurangi atau membunuh cacing dalam tubuh manusia dan hewan 2. Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, semakin tinggi kemampuan zat aktif tersebut bekerja 3. Kemampuan infusa daun papaya tidak jauh lebih kuat dari pirantel palmoat

VII. DAFTAR PUSTAKA Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran. 2007. Farmakologi dan TerapiUniversitas Indonesia. Katzung, B. G. (2002). Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi II. Jakarta, Salemba Medika. Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat – Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo: Jakarta

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.