MAKALAH DASAR KESEHATAN MASYARAKAT


1 MAKALAH DASAR KESEHATAN MASYARAKAT Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Kesehatan Masyarakat Dosen: Indri Hapsari Susilowati, SKM, MKKK, ...
Author:  Deddy Dharmawijaya

4 downloads 151 Views 489KB Size

Recommend Documents


MAKALAH DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN VEKTOR PENYAKIT
1 MAKALAH DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN VEKTOR PENYAKIT DI SUSUN OLEH : FIRMAN FIRDAUZ S FUJI RAMDHANI ISTINI NURHALILI ORIZHA NUR BAROKAH YOHANES B KEME...

KONSEP DASAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
1 KONSEP DASAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Dr. Achmad Chusnul Chuluq Ar. MPH Lab. Ilmu Kesehatan Masyarakat Kedokteran Pencegahan / IKMKP Fakultas Kedok...

Makalah Pengaruh Sosial Budaya Masyarakat Terhadap Kesehatan
1 Makalah Pengaruh Sosial Budaya Masyarakat Terhadap Kesehatan KATA PENGANTAR Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanau Wata ala ya...

MAKALAH DASAR-DASAR mesin
1 MAKALAH DASAR-DASAR mesin Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Teknik Dasar Otomotif Disusun Oleh: B cex2 KATA PENGANTAR Puji syukur kita ...

MAKALAH DASAR DASAR PENDIDIKAN
1 MAKALAH DASAR DASAR PENDIDIKAN HIERARKI TUJUAN PENDIDIKAN DAN TUJUAN KURIKULUM NAMA KELOMPOK : 1. NASRIA IKA NITASARI ( ) 2. ARI TRI MARIA ( ) 3. NU...

2004 tentang. Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat Menteri Kesehatan RI,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 128/Menkes/Sk/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat Menteri ...

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER JILID I ( DASAR DASAR TEORI)
1 BUKU PEDOMAN PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN (PPDH) ILMU KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER JILID I ( DASAR DASAR TEORI) OLEH : Drh. I Wayan Suardana, M...

MAKALAH RINGKAS CALON DEKAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA PERIODE
1 FATMA LESTARI MAKALAH RINGKAS CALON DEKAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA PERIODE Kebersamaan dalam Meraih Kejayaan FKMUI Yang B...

MAKALAH DASAR DASAR ILMU POLITIK
1 MAKALAH DASAR DASAR ILMU POLITIK KELOMPOK 3 : OLEH : FAJAR BAHARI SINULINGGA JEFFRI PRANATA BARUS WAWAN MULYANA YULIANA ULFA B REGULER 2012 PENDIDIK...

MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT MASALAH PENGAWASAN ARTHROPODA DAN RODENTIA
1 MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT MASALAH PENGAWASAN ARTHROPODA DAN RODENTIA (Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Masyarakat yang diampu o...



MAKALAH DASAR KESEHATAN MASYARAKAT Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Kesehatan Masyarakat Dosen: Indri Hapsari Susilowati, SKM, MKKK, PhD

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Kelompok F Anggota: Emilia Annisa Rosalin Gloria Valentine Indri Febriana Rosa Istiqlaliatul Islamiyah Ovi Triyulianti Trisla Isliani

(1506801372) (1506802091) (1506801580) (1506801624) (1506801946) (1506802311)

S1 EKSTENSI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA 2015 BAB I

PENDAHULUAN

Pelayanan kesehatan sangat penting untuk kita semua dalam kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat memiliki fokus yang bergeser dari bukan hanya untuk individu tetapi untuk populasi. Kesehatan masyarakat adalah tentang hal apa yang membuat kita sakit, apa yang membuat kita sehat, dan hal apa yang bisa dilakukan bersama tentang hal tersebut. Permasalahan penyakit misalnya influenza, AIDS, perubahan iklim, atau tentang biaya perawatan kesehatan, merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk melihat dampak yang dihasilkan dari permasalahan kesehatan yang ada. Dampak yang dihasilkan bukan hanya dilihat pada individu tetapi juga pada kelompok yang berisiko serta populasi secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut akan muncul pertanyaan dasar mengenai hal apa saja yang menentukan kesehatan dan juga penyakit. Sehingga dari hal tersebut, dapat dilakukan pilihan untuk intervensi dalam upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Oleh karena itu dalam hal ini membahas tentang prinsip - prinsip kesehatan penduduk untuk mencegah penyakit dan kecacatan dengan cara melihat bagaimana kesehatan masyarakat mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari dengan cara-cara yang sering kita anggap remeh. Selain itu juga mengeksplorasi berbagai intervensi potensial untuk melindungi kesehatan dan mencegah penyakit, kecacatan, dan kematian. Hal lain yang menjadi pembahasan yaitu tentang bagaimana kesehatan masyarakat memiliki penekanan khusus menggunakan bukti atau disebut dengan evidence based untuk menentukan masalah kesehatan, memahami etiologi atau penyebab penyakit, mengembangkan rekomendasi untuk mengatasi masalah kesehatan, dan melaksanakan serta mengevaluasi manfaat dari bahaya intervensi yang dilakukan. Informasi dan komunikasi juga merupakan hal penting yang menjadi bahasan untuk melihat bagaimana data kesehatan diperoleh dan disusun dan bagaimana hal itu dapat disampaikan atau dikomunikasikan dan digunakan untuk membuat keputusan dalam upaya peningkatan kesehatan. Selanjutnya juga dibahas tentang kontribusi ilmu sosial untuk mengkaji bagaimana sosial, ekonomi, dan faktor budaya mempengaruhi kesehatan. Ditambah juga mengenai perubahan perilaku pada individu dan kelompok dapat diubah untuk meningkatkan kesehatan. Selain itu, perlu juga melihat dari aspek kebijakan kesehatan dan hukum dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan. Penyakit yang ada di masyarakat dikelompokan menjadi dua yaitu penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit menular (PM). Contoh dari PTM

ialah kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta penyakit yang mempengaruhi kesehatan mental kita, seperti depresi ke Alzheimer. Sedangkan PM ialah penyakit yang dapat ditularkan dari orang ke orang atau dari spesies lain ke manusia contohnya HIV/AIDS. Berdasarkan kedua jenis kelompok penyakit tersebut, terdapat beberapa intervensi yang dapat dilakukan meliputi usaha untuk menghambat penyebaran penyakit, untuk mencegah penyebaran penyakit mulai dari mencuci tangan, imunisasi yang dirancang untuk melindungi individu, serta skrining, dan pengobatan pencegahan yang dirancang untuk menyembuhkan penyakit.

BAB II

PEMBAHASAN

Topik 1 PRINSIP KESEHATAN MASYARAKAT

A. Definisi sehat menurut WHO WHO membuat definisi universal yang menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan satu kesatuan definisi sehat, yaitu: a. Sehat jasmani Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti dehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit, dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal. b. Sehat mental Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno, “jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat” (men sana in corpore sano). Atribut seorang insan yang memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:  Selalu merasa puas dengan apa yang ada dalam dirinya, selalu gembira, santai, dan menyenangkan serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.  Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan orang lain.  Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana. c. Kesejahteraan sosial Batasan kesejahteraan sosial yang ada disetiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kultur, kebudayaan, dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki,

kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum. d. Sehat Spiritual Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton. B. Menurut Undang-Undang kesehatan Menurut batasan ilmiah, sehat atau kesehatan telah dirumuskan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 sebagai berikut: “Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial, dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial.” Hal ini berarti, kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi. Bagi yang belum memasuki usia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau manula, berlaku produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial ekonomi bagi siswa sekolah ataupun mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial ekonomi bagi lanjut usia atau para manula adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfaat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat. Dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, kesehatan didefinisikan secara lebih kompleks sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Tidak hanya terbebas dari gangguan secara fisik, mental, dan sosial, tetapi kesehatan dipandang sebagai alat atau sarana untuk hidup secara produktif. Dengan demikian, upaya kesehatan yang dilakukan, diarahkan pada upaya yang dapat mengarahkan masyarakat mencapai kesehatan yang cukup agar dapat hidup produktif. C. Definisi kesehatan masyarakat berdasarkan Winslow, WHO, dan Institut of Medicine a. Definisi kesehatan masyarakat menurut Winslow: Profesor Winslow (1920) memuat definisi public helath atau kesehatan masyarakat untuk memberikan arah dan tujuan perkembangannya dalam dunia kedokteran sesuai dengan dinamika

kehidupan masyarakat dan tuntutan zaman. Public health atau kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui “Usaha-usaha pengorganisasian masyarakat” untuk: perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganisasia pelayananpelayanan medis, dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatan. b. Definisi kesehatan masyarakat menurut WHO: Kesehatan masyarakat mengacu pada semua tindakan terorganisir (apakah publik atau swasta) untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang hidup antara penduduk secara keseluruhan. Kegiatannya bertujuan untuk menyediakan kondisi dimana orang bisa sehat dan fokus pada seluruh populasi, bukan pada individu pasien atau penyakit. Dengan demikian, kesehatan masyarakat berkaitan dengan sistem total dan tidak hanya pemberantasan penyakit tertentu. Tiga fungsi kesehatan masyarakat utama adalah:  Penilaian dan pemantauan kesehatan masyarakat dan populasi yang berisiko untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan prioritas.  Perumusan kebijakan publik yang dirancang untuk memecahkan masalah kesehatan lokal dan nasional diidentifikasi dan prioritas.  Untuk memastikan bahwa semua populasi memiliki akses ke perawatan yang tepat dan hemat biaya, termasuk promosi kesehatan dan layanan pencegahan penyakit. Profesional kesehatan masyarakat memantau dan mendiagnosa masalah kesehatan dari seluruh masyarakat dan mempromosikan praktek dan perilaku sehat untuk memastikan bahwa populasi tetap sehat. Salah satu cara untuk menggambarkan luasnya kesehatan masyarakat adalah dengan melihat beberapa kampanye kesehatan masyarakat penting:  Vaksinasi dan pengendalian penyakit menular  Keselamatan kendaraan bermotor  Tempat kerja yang lebih aman  Lebih aman dan sehat makanan  Air minum yang aman  Ibu sehat dan bayi dan akses ke keluarga berencana  Penurunan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke  Pengakuan tembakau digunakan sebagai bahaya kesehatan. Istilah kesehatan masyarakat global mengakui bahwa, sebagai akibat dari globalisasi, kekuatan yang mempengaruhi kesehatan

masyarakat dapat dan memang berasal dari batas-batas negara luar dan yang menanggapi isu-isu kesehatan masyarakat sekarang memerlukan perhatian risiko kesehatan lintas batas, termasuk akses ke produk berbahaya dan perubahan lingkungan.

c. Definisi kesehatan masyarakat menurut Institute of medicine: Kesehatan masyarakat digambarkan sebagai apa yang masyarakat lakukan untuk menjamin kondisi bagi orang untuk menjadi sehat. Untuk melakukan hal ini, dilanjutkan dengan menyarankan, perlu ada melawan melanjutkan sebuah ancaman yang muncul terhadap kesehatan masyarakat. Menurut laporan Institute of Medicine (IOM) tahun 1988 menawarkan definisi kental kesehatan masyarakat sebagai "Memenuhi kepentingan masyarakat dalam kondisi menjamin orang untuk bisa sehat, "(Komite untuk Studi Masa Depan Kesehatan Masyarakat, 1988, p.19) dan Turnock (2001) kemudian menjelaskan kesehatan masyarakat sebagai "Upaya kolektif untuk mengidentifikasi dan mengatasi realitas yang tidak dapat diterima yang menghasilkan pencegahan dan hasilhasil kesehatan dihindari, dan itu adalah gabungan dari upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang berkomitmen untuk tujuan ini "(p.19). Sedangkan definisi dan praktek kesehatan masyarakat berkembang dari waktu ke waktu, masalah kompleksitas yang harus ditangani tetap konstan. D. Fungsi utama kesehatan masyarakat Menurut (Riegelman R 2009) fungsi utama kesehatan masyarakat pertama yaitu, a. Memperpanjang hidup serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Maksudnya adalah tim kesehatan masyarakat membuat seseorang tetap hidup dalam waktu yang lama, selain itu juga perlu untuk tetap menjaga kesehatan baik tiap individu maupun kelompok hal tersebut karena akan percuma apabila seseorang dapat bertahan hidup lama namun semasa hidupnya mengalami penyakit terus-menerus sehingga orang tersebut tidak akan produktif dan bahkan akan menyulitkan kehidupan orang lain. b. Kedua, melakukan perlindungan kesehatan dengan cara promosi kesehatan ketika penyakit tersebut beresiko. Perlindungan kesehatan perlu dijaga untuk mencegah adanya penyakit yang memiliki potensi untuk menyebar atau memperparah keadaan kesehatan. c. Ketiga adalah menggunakan tekhnologi baru seperti internet untuk mendefinisikan ulang arti dari “masyarakat” serta menawarkan cara-cara baru untuk berkomunikasi. Penggunaan teknologi baru sangatlah penting

hal ini karena dalam penyampaikan promosi dalam bidang kesehatan perlu suatu media agar penyampaian informasi menjadi efektif dan menyeluruh. Sedangkan menurut Notoatmodjo S (2012). Kesehatan masyarakat memiliki fungsi : a. Utama yaitu untuk mencegah penyakit, memperpanjang usia hidup, dan meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat). Pencegahan terhadap penyakit merupakan salah satu upaya agar penyakit tidak menyerang dirinya maupun menular kepada orang lain, pencegahan juga merupakan hal yang lebih baik dilakukan dibanding dengan melakukan upaya setelah terjadinya penyakit. Hal tersebut dikarenakan, apabila seseorang telah mengalami sakit, pasti terdapat dampak yang negatif dari penyakit tersebut baik dampak kecil ataupun dampak besar. Contohnya ialah terganggunya aktifitas ataupun kematian. Sehingga tim kesehatan memainkan peran penting dalam hal pencegahan penyakit. b. Fungsi dari tim kesehatan masyarakat ialah memperpanjang usia hidup seseorang atau masyarakat hal tentunya dapat dilakukan berdasarkan upaya mencegahan penyakit seperti yang telah disebutkan. c. Fungsi yang terakhir yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat yang dilakukan dengan penerapan sistem hygiene hal tersebut dilakukan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas hidup manusia. E. Perbedaan kesehatan masyarakat dan kedokteran a. Kesehatan Masyarakat 1) Sasaran adalah masyarakat bukan perorangan dan merupakan orang sehat. 2) Menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu masalah datang tetapi mencari masalah. Petugas turun di lapangan/masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah dan melakukan tindakan. 3) Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan holistik. Terjadinya penyakit tidak semata karena terganggunya sistem biologis tapi aspek bio-psiko-sosial. 4) Intervensi berbasis kelompok dan masyarakat diarahkan pada promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif). 5) Tenaga terdiri atas Kesmas, sanitarian, perawat kesmas, Bidan di Desa, Kader Kesehatan, dan sebagainya. b. Kedokteran 1) Dilakukan terhadap sasaran individu dan merupakan orang sakit. 2) Cenderung bersifat reaktif (menunggu masalah datang), misal dokter menunggu pasiendatang di Puskesmas/tempat praktek. 3) Melihat dan menangani klien/pasien lebih kepada sistem biologis manusia/ pasien hanya dilihat secara parsial (padahal manusia terdiri dari bio-psiko-sosial yang terlihat antara aspek satu dengan lainnya.

4) Layanan kesehatan diberikan pada individu yang ditujukan untuk pencegahan, penyembuhan, paliatif, dan rehabilitasi. 5) Tenaga terdiri atas dokter dan perawat (Medis dan Paramedis) F. Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di dunia dan di Indonesia a. Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di dunia Sejarah perkembangan dunia sudah dimulai sejak awal peradaban manusia, tercatat dalam survey global pertama Rosen, A History of Public Health (1958), dimana telah ditemukan system drainase dan MCK empat ratus tahun lalu di daerah Pakistan oleh arkeolog Mohenjo Daro. (Public Health in History, 2011). Konsep pengobatan dengan melihat penyebaran penyakit dibanding pengobatan individu juga telah di temukan sejak zaman yunani kuno. Perkembangan selanjutnya di abad 19, pada tahun 1842 seorang pegawai sipil dan penulis survey kesehatan masyarakat di Inggris, Edwin Chadwik, meyakini bahwa kesehatan masyarakat harus sejalan dengan pengendalian lingkungan. Saluran air, saluran pembuangan, dan udara yang bersih adalah prioritasnya, meskipun ketika itu teori kuman sebagai penyebab penyakit belum mengalami kemajuan. Pada abad itu juga banyak bermunculan para ahli pengobatan yang diakui pemerintah dan sangat berbeda dengan tukang obat biasa yang sebelumnya banyak ada. Mengacu pada teori kuman Louis Pasteur, ilmu pengobatan menemukan banyak terapi baru, termasuk vaksin cacar, obat anastesi untuk operasi, infus dan antitoksin difteri. Pada abad 20 mencul vaksin BCG untuk tuberculosis, antibiotic, dan chlorpromazine (obat anti psikotiik). Pada abad ini juga telah difokuskan untuk membangun system pembuangan kotoran dan system pembersihan udara termasuk juga dilakukan imunisasi campak, penetapan dokter bidang kesehatan masyarakat, dan pembangunan rumah sakit isolasi. Penyebab mortalitas karena infeksi juga menurun di era ini, mengacu pada buku Public Health In History, 2011, terdapat penurunan tiga kali lipat (dari 350 per 100.000 populasi pada tahun 1917, menjadi 150 per 100.000 populasi di 1937 dan menurun kemali menjadi 10-20 per 100.000 populasi di 1957) . Pelayanan kesehatan dalam bidang preventif dan kuratif sudah terpadu dan diaplikasikan di banyak hal, seperti di sekolah-sekolah kesehatan masyarakat, perlakuan kepada bayi, dan untuk kesejahteraan ibu. Aktifitas kesehatan masyarakat sudah diterapkan dari level terkecil.

b. Sejarah perkembangan di Indonesia Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia mengalami perjalanan yang panjang hingga dapat berkembang menjadi seperti sekarang. Awal mula perjuangan kesehatan masyarakat dialami di masa orde baru. Menurut buku Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 1973-2012, tokoh yang ketika itu berjuang adalah Menteri Kesehatan Prof. DR. Gerritz A. Siwabessy (1973-1978). Setelah gejolak peralihan kekuasaan dari sebelumnya Presiden Soekarno menjadi Presiden Soeharto, Siwabessy diangkat menjadi seorang Menteri Kesehatan. Siwabessy banyak melakukan gerakan-gerakan untuk mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia, seperti membangun kembali kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional setelah Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali pada 1967 (Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 1973-2012, 2012). Salah satu organisasi tersebut adalah UNICEF dalam Program Perbaikian Gizi Keluarga (Applied Nutrition Program). Siwabessy juga berhasil membebaskan seluruh wilayah Indonesia dari ancaman penyakit cacar yang diakui WHO pada tahun 1974. Perjuangan diawali dengan kepesertaan Indonesia dalam Global Smallpox Eradication Programme (SEP) pada tahun 1967 yang berlanjut dua tahun kemudian dilancarkan pemberantasan penyakit cacar secara menyeluruh selama enam tahun (Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 1973-2012, 2012). Pada masa Siwabessy, Pusat Kesehatan Masyarakat mulai dikembangkan dan rumah sakit pun mengalami berbagai penambahan akomodasi seperti pembangunan laboratorium di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Intensive Care (Gawat Darurat) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Floating Hospital (Kapal Rumah Sakit) di Maluku, fasilitas dan peralatan kesehatan di Rumah Sakit Umum Semarang dan Purwokerto. Catatan sejarah kesehatan masyarakat tak lepas dari program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang dicanangkan Kabinet Pembangunan. Siwabessy mengadakan Rapat Kerja Kesehatan Nasional pada 22-29 April 1968 di Jakarta. Rapat menghasilkan Program Kesehatan Nasional yang kemudian dijadikan sebagai landasan Repelita pertama bidang kesehatan, sebagai bagian dari pembangunan jangka pendek dan jangka panjang Kabinet Pembangunan yang dimulai pada 1 April 1969 (Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 1973-2012, 2012) Melanjutkan perjuangan Siwabessy, Menteri Kesehatan berikutnya Dr. Soewardjono Soerjaningrat merumuskan Sistem Kesehatan Nasional

pada tahun 1980. SKN digagas sebagai falsafah dasar dan dapat memberi arah pembangunan kesehatan di Indonesia yang ideologinya tidak lepas dari Pancasila dan UUD 1945 yang bertujuan menciptakan kesejahteraan umum bagi rakyat Indonesia. Dr. Soewardjono adalah pelaksana program nasional KB yang merupakan agenda utama gerakan pembangunan orde baru. Program nasional tersebut tak lepas dari masalah kependudukan di Indonesia yang harus dikendalikan pola penyebaran, tingkat kepadatan, dan struktur umur penduduknya. Pada 17 Oktober 1968 dibentuklah Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN). Komitmen pemerintah untuk menjadikan program KB sebagai bagian dari pembangunan menuntut penyempurnaan LKBN. Atas dasar itulah, pada 1970 memlalui Keputusan Presiden No. 8/1970 lembaga ini diubah menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 19732012, 2012). Perkembangan selanjutnya mengenai Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang didasari oleh jumlah kasus polio yang masih tetap ada di Indonesia dan berpotensi menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa. PIN terselenggara pada tahun 1995, 1996 dan 1997 secara serentak diberikan kepada semua anak di bawah lima tahun setiap bulan September dan Oktober. Seiring bertambahnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bertambah pula kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Di awal tahun 2000an, umur harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,7 tahun 2009, menurunnya angka kematian ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, dan berkurangnya angka kematian bayi dari 35 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Sejarah Pembangunan Kesehatan Indonesia 1973-2012, 2012).

G. Faktor determinan dalam kesehatan masyarakat menurut H.L. Blum dan konsep Big Gems Faktor determinan adalah faktor-faktor yang menetukan atau mempengaruhi status kesehatan dari individu ataupun masyarakat. Dr. Henrik L Bloom yang biasa di sebut HL Bloom menjelaskan ada 4 faktor utama atau determinant factors yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. a. Lingkungan

Lingkungan memegang peranan terbesar dalam menentukan derajat kesehatan suatu masyarakat. Karena sebagian besar penyebab penyakit dan masalah berasal dari lingkungan. Unsur unsur yang termasuk kedalam lingkungan ini seperti tanah, air, udara, makhluk hidup, dan bakteri. Lingkungan yang bermasalah akan sangat berdampak pada kesehatan individu ataupun mayarakat yang berada di lingkungan tersebut, misalnya masyarakat yang tinggal di lingkungan yang airnya tercemar limbah pabrik yang mengandung zat kimia ataupun bakteri maka hal itu akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat sekitarnya karena akan menimbulkan penyakit dan masalah kesehatan lainnya. b. Perilaku/ gaya hidup Perilaku manusia juga merupakan faktor penting ke 2 yang menentukan apakah suatu masyarakat itu sehat atau tidak. Perilaku manusia juga dipengaruhi oleh adat istiadat, budaya, kebiasaan, kepercayaan, pendidikan, dan social ekonomi. Misalnya masyarakat atau indivudu yang sering makanan cepat saji akan meningkatkan kejadian obesitas, kebiasaan merokok dapat meningkatkan penyakit jantung koroner dan masyarakat yang tinggal dipinggiran sungai selalu membuang sampah di sungai sehinggaterjadi menumpukan sampah yang dapat membuat air sungai tecemar bakteri dan zat kimia berbahaya, dan banjir serta masalah masalah lain yang berkelanjutan. c. Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan mempengaruhi kesehatan masyarakat karena fasilitas pelayanan kesehatan sangat menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan perawatan masyarakat yang memelukan pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas dipengaruhi oleh lokasi, apakah dapat dijangkau atau tidak, tenaga kesehatan pemberi pelayanan, informasi dan motivasi masyarakat untuk mendatangi fasilitas dalam memperoleh pelayanan serta program pelayanan kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memerlukan. d. Genetik Faktor keturunan juga dapat mempengaruhi kesehatan individu. Namun ada beberapa penyakit yang diturunkan secara genetis namun tidak menjadi penyakit kepada anak tersebut karena pola hidup dan lingkungn yang sehat. Contohnya seseorang yang memiliki penyakit DM dapat menurunkan penyakit tersebut kepada anak-anaknya kelak, namun anaknya tidak menderita penyakit DM karena pola hidup yang sehat.

Genetik

Lingkungan

Status kesehatan

Pelayanan kesehatan

Perilaku Konsep BIG GEMS Konsep BIG GEMS merupakan alat atau cara yang digunakan untuk memudahkan dalam mengingat faktor determinan yang mempengaruhi kesehatan. BIG GEMS merupakan singkatan dari faktor-faktor tersebut yaitu: Behavior Infection Genetic Geography Environment Medical care Sosio-economic-cultural Ini merupakan faktor dari teori blum yang diperluas sehingga terdapat beberapa penambahan dari 4 faktor menjadi 7 faktor yaitu infection, Geography, dan Sosio-economic-cultural. a. Infection: infeksi sering menjadi penyebab langsung sebuah penyakit. Penanganan/pencegahan dini pemaparan suatu infeksi dapat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit atau cara pencegahan penyakit tersebut. b. Geography : lokasi geografi berpengaruh terhadap frekuensi dan adanya suatu penyakit. Misalnya penyakit yang disebabkan karena infeksi malaria hanya terjadi di wilayah tertentu. Geografi juga menunjukan kondisi geologi wilayah, contohnya tempat/daerah yang memiliki kadar radiasi dalam level yang tinggi berdampak pada perkembangan penyakit kanker paru-paru. c. Sosio-economic-cultural : di amerika serikat, faktor sosial ekonomi mencakup pendidikan, pemasukan dan status pekerjaan. Ukuran-ukuran ini semuanya telah terbukti sebagai faktor yang mempengaruhi berbagai penyakit yang bervariasi seperti kanker payudara, tuberculosis, dan kecelakaan kerja. Faktor agama dan budaya termasuk juga kedalam faktor yang mempengaruhi suatu penyakit karena keyakinan terkadang mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan untuk perawatan yang akan mempengaruhi perkembangan penyakit pula. Walaupun kebanyakan penyakit lebih sering terjadi pada kelas tang sosial ekonominya rendah,

beberapa seperti kanker payudara kebanyakan dan lebih sering terjadi pada masyarakat kelas sosial ekonominya tinggi. H. Contoh upaya kesehatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari a. Pencegahan dan Pemberantasan penyakit Menular Penyakit menular adalah penyakit infeksi yang dapat dipindahkan dari orang atau hewan sakit, dari resevior ataupun dari benda – benda yang mengandung bibitr penyakit lainnya ke manusia – manusia yang sehat. Penyakit infeksi dapat berupa virus, bakteri,dll. Pencegahanya dapat berupa imunisasi pada balita maupun orang dewasa. b. Kesejahteraan Ibu dan Anak Contoh usaha – usaha peningkatan kesehatan Ibu:  Perawatan ante – partum ( waktu hamil )  Perawatan intra – partum ( saat melahirkan)  Perawatan post – partum ( setelah melahirkan) Sedangkan usah untuk meningkatkan kesehatan anak adalah dengan rutin datang ke posyandu, memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan menyusu sampai usia 2 tahun. c. Hygiene dan Sanitasi Lingkungan Hygiene dan Sanitasi Lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologi, kimia, social, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan atau diperbanyak, sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dimusnahkan. Contoh usaha – usaha peningkatan kesehatan pada lingkungan :  Penyediaan air bersih  Perawatan atau penanaman pohon di sekitar pekarangan rumah agar dapat menghasilkan oksigen atau udara yang bersih  Melakukan pembersihan di lingkungan sekitar, baik itu selokan, tempat sampah, jamban, dll. d. Pendidikan Kesehatan Kepada Masyarakat Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan dalam bidang kesehatan. Konsep pendidikan kesehatan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan kea rah yang lebih dewasa. Contoh usaha – usaha peningkatan kesehatan dalam pendidikan kesehatan kepada masyarakat, yaitu:  Penyuluhan tentang pentingnya kesehatan kepada masyarakat  Mengajarkan perilaku hidup yang sehat kepada masyarakat e. Usaha Kesehatan Gigi Penyakit Gigi dan mulut, khususnya penyakit caries Dentis merupakan suatu penyakit yang tersebar luas pada sebagian besar penduduk di seluruh

dunia sehingga betul – betul menjadi masalah Kesehatan Masyarakat. Untuk itu perlu adanya usaha peningkatan kesehatan di bidang kesehatan bagian Gigi. Contoh usaha yang dilakukan :  Melakukan pembersihan gigi ( sikat gigi ) setelah habis makan dan sebelum tidur malam  Pendidikan kesehatan terutama gigi  Pencabutan gigi yang tidak berfungsi seperti semula  Penambalan gigi yang berlubang

Topik 2 KESEHATAN MASYARAKAT BERDASARKAN EVIDEN

A. Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Evidence Based Kesehatan masyarakat berdasarkan evidence based adalah suatu cara kerja yang digunakan oleh ahli kesehatan masyarakat untuk menyelesaikan masalah kesehatan dalam masyarakat. Cara kerja ini adalah untuk memastikan bahwa setiap intervensi (program kesehatan masyarakat) dapat didukung dengan bukti yang menunjukkan bahwa intervensi mungkin akan efektif dan sukses (evidence based public health – Browson ross c). B. Perbedaan Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Evidence Based dan Kedokteran Berdasarkan Evidence Based. Kesehatan memiliki beberapa perbedaan dengan kedokteran berdasarkan evidence based. Karakteristik

Kedokteran

Kesehatan masyarakat

Kualitas Bukti

Studi Eksperimental

Volume Bukti Waktu Intervensi hingga outcome muncul Pelatihan profesional

Lebih Kecil Lebih pendek

Pembuatan Keputusan

Lebih formal, dengan sertifikat atau lisensi Individual

Studi Observasi dan quasi eksperimantal Lebih Besar Lebih panjang Kurang formal, tidak ada standar sertifikasi

Tim

Pertama, dalam hal kualitas bukti yang dimiliki oleh kedokteran yaitu didapatkan dari hasil studi eksperimental atau percobaan misalnya hasil laboratorium. Sedangkan kesehatan masyarakat mendapatkan kualitas bukti dari hasil observasi quasi eksperimental contohnya melakukan aksi turun kejalan untuk mengetahui kondisi masyarakat dalam rangka observasi ataupun dapat menggunakan kuasioner. Kedua, dalam hal volume bukti kedokteran memiliki volume lebih kecil. Hal tersebut terkait studi eksperimental yang digunakan. Karena kedokteran hanya melakukan studi tentang penyakit suatu individu maka bukti atau data mengenai hasil studi yang dilakukan akan lebih kecil jika dibandingkan dengan volume bukti yang dimiliki petugas kesehatan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan, kesehatan masyarakat melakukan observasi dengan objek masyarakat yang tentunya akan memiliki karakteristik yang lebih beragam dibanding dengan objek individu. Ketiga, jika ditinjau dari waktu intervensi mka kedokteran akan memiliki waktu intervensi lebih pendek dibandingkan dengan kesehatan masyarakat. Intervensi pada kedokteran akan lebih pendek waktunya karena objek yang digunakan ialah individu sehingga intervensi yang dilakukan akan lebih cepat nenunjukan hasil dibandingkan dengan hasil intervensi yang dilakukan kepada masyarakat. Hal tersebut dikembalikan lagi karena karekteristik yang dimiliki masyarakat akan jauh lebih beragam dibanding dengan seorang individu sehingga output dari intervensi yang dilakukan oleh kesehatan masyarakat akan lebih lama. Keempat, dalam hal pelatihan kedokteran bersifat lebih formal yang dilengkapi dengan sertifikat atau lisensi yang diakui sedangkan untuk petugas kesehatan pelatihan professional yang dilakukan bersifat kurang formal serata tidak ada standar sertifikasi seperti kedokteran. Hal ini berhubungan dengan tujuan yang berbeda antara kedokteran dengan kesehatan masyarakat.Karena kedokteran memiliki tujuan kuratif dan rehabilitative yang dilakukan pada sasarn individu yang telah mengalami sakit, sehingga pelatihan yang lebih professional dibutuhkan dalam hal penanganan penyakit pada individu. Sedangkan kesehatan masyarakat memiliki tujuan preventif dan promotif

dengan sasaran masyarakat yang belum terkena penyakit sehingga dicegah agar tidak sakit. Kelima, dalam hal pengambilan keputusan petugas kedokteran akan mengambil keputusan secara individual terhadap menyakit seseorang ataupun tindakan yang dilakukan untuk mengobati penyakit tersebut. Sedangkan petugas kesehatan masyarakat akan mengambil keputusan bersama dengan timnya untuk mengatasi masalah yang ada dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan petugas kesehatan tidak hanya mengatasi pada aspek kesehatan di masyarakat tersebut, tetapi juga mengenai berbagai aspek lain misalnya tentang pendekatan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat yang mempengaruhi kesehannya. C. Pendekatan yang Digunakan untuk Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Evidence Based (PERI Approach) PERI approach ialah pendekatan yang digunakan untuk kesehatan masyarakat. Menurut Riegelman (2009) PERI terdiri atas (Problem, Etiology, Recommendations,dan Implementation). a. Problem; Apa masalah kesehatannya ? b. Etiology; Apa penyebab penyakitnya ? c. Recommendations; Apa tindakan yang dapat mengurangi dampak kesehatan ? d. Implementation; Bagaimana kita menyelesaikannya ? Problem, yaitu tentang bagaimana kita dapat mendeskripsikan suatu masalah kesehatan.Langkah pertama dalam mengatasi masalah kesehatan adalah yaitu menggambarkan dampaknya dimana kita perlu mulai dengan memahami terjadinya kecacatan dan kematian akibat penyakit, yang kita sebut beban penyakit.Dalam kesehatan masyarakat, cacat sering disebut morbiditas dan kematian disebut mortalitas.Kita juga perlu menentukan apakah telah terjadi perubahan terbaru dalam dampak penyakit. Dengan demikian, pertanyaan pertama dalam menggambarkan masalah kesehatan adalah, apa beban penyakit dalam hal morbiditas dan mortalitas dan apakah hal tersebut memiliki perubahan dari waktu ke waktu. Etiology, yaitu tentang hal apa yang menjadi penyebab dari suatu penyakit. Kesehatan masyarakat berdasarkan evidence based, menggunakan definisi penyebab yang sangat spesifik, yaitu contributory cause. Pendekatan Evidence-based mengandalkan studi penelitian epidemiologi untuk mendirikan Contributory cause. Ini mengharuskan kita melampaui asosiasi kelompok dan menetapkan tiga persyaratan yang definitif: a. Penyebabnya dikaitkan dengan efek pada tingkat individu. Artinya, penyebab potensial dan efek potensial lebih sering terjadi pada individu yang sama dari yang diharapkan secara kebetulan.

b.

Penyebabnya mendahului efek dalam waktu. Artinya, penyebab potensial hadir pada waktu sebelumnya dari efek potensial. c. Mengubah penyebabnya mengubah efek. Artinya, ketika penyebab potensial dikurangi atau dihilangkan, efek potensial juga dikurangi atau dihilangkan. Recommendations, yaitu tindakan apa yang dapat mengurangi dampak kesehatan. Dalam kesehatan masyarakat berdasarkan evidence based, walau bagaimanapun, tindakan harus didasarkan pada rekomendasi yang menggabungkan bukti. Jadi, rekomendasi adalah ringkasan dari bukti intervensi yang bekerja untuk mengurangi dampak kesehatan dan menunjukkan tindakan apakah yang harus diambil. Rekomendasi tindakan telah menjadi bagian dari kesehatan masyarakat dan kedokteran selama bertahun-tahun yang menunjukan tentang bukti penelitian yang mendukung manfaat dan bahaya intervensi potensial. Dalam rekomendasi evidence based, pendapat ahli merupakan hal yang paling penting ketika bukti penelitian tidak atau tidak dapat memberikan jawaban. Implementation, yaitu bagaimana menyelesaikan permasalahan kesehatan. Rekomendasi yang kuat berdasarkan bukti idealnya adalah dasar implementasi. Dewasa ini, sering ada sejumlah besar intervensi dengan data yang memadai untuk mempertimbangkan implementasi. Banyak intervensi memiliki potensi kerugian, serta potensi manfaat. Susunan besar dan berkembang dari intervensi yang mungkin berarti bahwa keputusan kesehatan memerlukan metode yang sistematis untuk memutuskan mana intervensi yang harus digunakan dan bagaimana menggabungkannya dalam cara yang paling efektif dan efisien. Salah satu metode untuk memeriksa opsi untuk pelaksanaan menggunakan struktur tersebut disebut pendekatan "when-whohow”. "When" bertanya tentang waktu dalam perjalanan penyakit di mana intervensi terjadi.Waktunya memungkinkan kita untuk mengkategorikan intervensi primer, sekunder, dan tersier.“Who” menanyakan tentang pada siapa kita harus mengarahkan intervensi dan apakah harus diarahkan pada individu satu per satu sebagai bagian dari perawatan klinis. Atau, harus itu diarahkan pada kelompok orang, seperti populasi rentan, atau harus itu diarahkan pada semua orang dalam sebuah komunitas atau populasi. D. Langkah-Langkah yang Digunakan untuk Mendeskripsikan Masalah Kesehatan Langkah pertama dalam mengatasi masalah kesehatan adalah untuk menggambarkan atau mendeskripsikan dampaknya.Yaitu, kita perlu mulai dengan memahami terjadinya kecacatan dan kematian akibat penyakit, yang kita sebut beban penyakit.Dalam kesehatan masyarakat, cacat sering disebut morbiditas dan kematian disebut mortalitas.Kita juga perlu menentukan apakah telah terjadi perubahan terbaru dalam dampak penyakit.Dengan

demikian, pertanyaan pertama dalam menggambarkan masalah kesehatan adalah “Apa beban penyakit dalam hal morbiditas dan mortalitas dan telah berubah dari waktu ke waktu?” Pertanyaan kedua yang perlu kita tanyakan adalah “Apakah ada perbedaan dalam distribusi penyakit dan dapat perbedaan ini menghasilkan ide-ide dan hipotesis tentang etiologi penyakit (penyebab)? ”Yaitu, kita perlu meneliti bagaimana penyakit ini menyebar atau didistribusikan dalam populasi.Kita sebut ini distribusi penyakit. Profesional kesehatan masyarakat disebut epidemiologi menyelidiki faktor yang dikenal sebagai "orang" dan "tempat" untuk melihat apakah mereka dapat menemukan pola atau asosiasi di frekuensi penyakit. Kita sebut asosiasi kelompok ini. Asosiasi kelompok mungkin menyarankan ide untuk hipotesis tentang penyebab, atau etiologi penyakit."Orang" termasuk karakteristik demografi yang menggambarkan orang-orang, seperti usia, jenis kelamin, ras, dan faktor sosial ekonomi. Itu juga termasuk perilaku atau eksposur, seperti merokok, olahraga, paparan radiasi, dan penggunaan obat-obatan. "Tempat" menyiratkan lokasi geografis, seperti kota atau negara, tetapi juga mencakup hubungan antara orang, seperti komunitas universitas atau situs internet bersama. Ketika faktor-faktor ini lebih sering terjadi di antara kelompok-kelompok dengan penyakit daripada di antara kelompok-kelompok tanpa penyakit kita sebut mereka indikator risiko untuk penanda risiko. Akhirnya, ahli epidemiologi mengambil pendekatan ilmiah untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Mereka sering skeptis jawaban awal untuk pertanyaan dan bertanya: Bisa ada penjelasan lain untuk perbedaan atau perubahan dalam distribusi penyakit? mereka sering bertanya: Perbedaan atau perubahan yang nyata atau mereka artifactual? artifactual menyiratkan bahwa hubungan yang jelas sebenarnya adalah hasil dari proses pengumpulan data. Ketika mencoba untuk menentukan apakah sebuah asosiasi adalah artifaktual atau nyata, ahli epidemiologi bertanya: Apakah perubahan yang diamati atau perbedaan mungkin karena membandingkan apel dengan jeruk -misalnya membandingkan kelompok subyek usia rata-rata yang berbeda. usia sangat penting untuk ahli epidemiologi karena sangat erat kaitannya dengan penyakit kejadian. Dengan demikian, pertanyaan ketiga yang perlu kita tanyakan dalam menggambarkan masalah adalah “Apakah perbedaan atau perubahan digunakan untuk sugest asosiasi kelompok artifaktual atau nyata”. Sebelum kita bisa menjawab tiga pertanyaan ini kita perlu memahami lebih lanjut tentang pengukuran yang epidemiologi gunakan untuk menggambarkan masalah kesehatan. Kita perlu melihat dengan seksama bagaimana kita mengukur perubahan perbedaan penyakit, kecacatan, dan kematian.dalam kesehatan masyarakat, kami menggunakan tarif untuk meringkas pengukuran kami. Mari kita mulai dengan melihat apa yang kita

maksud dengan tarif dan kemudian kita akan kembali ke tiga pertanyaan yang harus ditangani saat menjelaskan masalah kesehatan. E. Ukuran-Ukuran Epidemiologi yang Digunakan untuk Mengukur Masalah Kesehatan Masyarakat Istilah "tingkat" akan digunakan untuk menggambarkan jenis pengukuran yang memiliki pembilang dan penyebut mana pembilang adalah bagian dari penyebut -yaitu, pembilang hanya mencakup individu yang juga termasuk dalam penyebut. Ada dua tipe dasar tarif yang merupakan kunci untuk menggambarkan penyakit. Ini disebut tingkat insiden dan prevalensi. Tingkat insiden mengukur kemungkinan terkena penyakit selama periode waktu biasanya satu tahun. Yaitu, tingkat insiden adalah jumlah kasus baru penyakit yang berkembang selama satu tahun dibagi dengan jumlah orang dalam populasi berisiko, seperti pada persamaan berikut: ¿ darikasus baru penyakit dalam satu tahun Insiden tingkat = ¿ dari orang dalam populasi berisiko Kita sering mengungkapkan tingkat insiden sebagai jumlah kejadian per 100.000 penduduk di penyebut. Misalnya, tingkat kejadian kanker paru-paru mungkin 100 per 100.000 per tahun. Kesehatan masyarakat berbasis bukti, membandingkan tingkat insiden sering titik awal yang berguna ketika mencoba untuk menentukan penyebab masalah. Angka kematian adalah jenis khusus dari tingkat kejadian yang mengukur kejadian kematian karena penyakit selama tahun tertentu. Ketika kebanyakan orang yang mengembangkan penyakit mati dari penyakit ini, seperti situasi dengan kanker paru-paru, angka kematian dan angka kejadian yang sangat mirip. Dengan demikian, jika tingkat kejadian kanker paru-paru adalah 100 per 100.000 per tahun, angka kematian mungkin 95 per 100.000 per tahun. Ketika tingkat kematian dan tingkat kejadian serupa dan tingkat kematian yang lebih mudah atau lebih andal diperoleh, ahli epidemiologi dapat mengganti angka kematian untuk tingkat insiden. Hubungan antara tingkat kejadian dan tingkat kematian sangat penting karena memperkirakan kemungkinan kematian akibat penyakit setelah didiagnosis. Kita sebut ini kasus kematian. Dalam contoh kita, kemungkinan kematian akibat kanker paru-paru -tingkat moralitas dibagi dengan tingkat kejadian- adalah 95 persen, yang berindikasi bahwa hasil kanker paru-paru di prognosis yang sangat buruk setelah didiagnosis. Prevalensi adalah jumlah individu yang memiliki penyakit pada waktu tertentu dibagi dengan jumlah individu yang berpotensi memiliki penyakit. Dapat diwakili oleh persamaan berikut: ¿ Hidup dengan penyakit tertentu Prevalensi = ¿ pada populasi berisiko

Dengan demikian, prevalensi mengatakan proporsi persentase individu yang memiliki penyakit. Meskipun fakta bahwa kanker paru-paru telah menjadi kanker yang paling umum, prevalensi akan rendah - mungkin sepersepuluh dari satu persen atau kurang - karena mereka yang mengembangkan kanker paru umumnya tidak hidup untuk jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, Anda akan jarang melihat orang-orang dengan kanker paru-paru. prevalensi penyakit kronis durasi lama, seperti asma atau kronis obstruktif penyakit paru (PPOK), sering relatif tinggi, maka Anda akan sering melihat orang-orang dengan penyakit ini. Prevalensi sering berguna ketika mencoba untuk menilai dampak total atau beban masalah kesehatan dalam suatu populasi dan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan layanan. Misalnya, pengetahuan bahwa ada prevalensi tinggi kanker paru-paru adalah suatu wilayah tertentu dapat menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk pelayanan kesehatan di daerah itu. F. Cara untuk Menetapkan Penyebab Masalah Kesehatan Hal pertama yang dilakukan untuk menetapkan penyebab masalah kesehatan adalah mengidentifikasi pengaruh dari masalah kesehatan itu. Dalam buku Public Health 101 hal ini biasa disebut “burden of disease” atau pokok penyakit. Kita harus dapat menentukan perubahan apa saja yang terjadi akibat adanya masalah kesehatan itu. Jadi pertanyaan pertama untuk menetapkan penyebab masalah kesehatan adalah apa saja dampak yang ditimbulkan dari masalah itu, baik morbiditas atau mortalitasnya dan apakah ada perubahan. Pertanyaan kedua adalah apakah ada perbedaan dalam penyebaran penyakit itu dan bisakah perbedaan itu menjadi gagasan penyebab penyakit tersebut. Dalam hal ini epidemiologist membagi faktor penyebabnya dengan “person” dan “place” untuk melihat pola penyebaran dari masalah kesehatan ini. Kita harus mengetahui bagaimana penyebaran penyakit ini di masyarakat agar semakin jelas faktor penyebabnya dan hal ini disebut distribution of disease. “person” berhubungan dengan karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, ras, dan sosio ekonomi. Juga tidak lupa memasukkan faktor lain yang mungkin berhubungan seperti riwayat merokok, obat-obatan, olahraga dan sebagainya. ”place” menunjukkan letak geografisnya, seperti pedesaan atau perkotaan, juga bagaimana hubungan seseorang dengan komunitas di sekitarnya. Jika faktor dari tipe ini terjadi lebih sering di kelompok yang terjangkit penyakit dinamakan risk indicators atau risk markers.Pada akhirnya epidemiologi ialah melakukan pendekatan secara ilmiah untuk mendeteksi masalah kesehatan Para epidemiologis seringkali melakukan perbandingan kelompok berdasarkan perbedaan rata-rata

umur.Umur sangat penting karena memiliki hubungan yang kuat dengan terjadinya penyakit. Contoh kasusnya ialah pada awal abad ke 20, seorang anak di kota Colorado Springs, Colorado ditemukan mengalami masalah serius dalam hal pengrusakan warna gigi menjadi coklat. Kondisi ini terjadi pada mereka yang menggunakan air dari sumber yang sama. Ironisnya, mereka yang mengalami hal itu terlindungi dari gigi berlubang. Penemuan dari factor ”place” ini menyebabkan dilakukannya penelitian selama dua dekade yang menghasilkan penemuan bahwa kandungan fluoride di air dapat menurunkan risiko gigi berlubang namun jika digunankan secara berlebihan dapat menyebabkan gigi menjadi coklat (Riegelman 2009). G. Cara Membuat Rekomendasi untuk Menyelesaikan Masalah Kesehatan Rekomendasi adalah studi yang dibangun berdasarkan bukti dan intervensi mengenai masalah kesehatan. Sehingga rekomendasi mencakup tindakan apa yang harus diambil untuk mengurangi masalah kesehatan. Dalam menyusun sebuah rekomendasi maka diperlukan bukti dasar dari sebuah permasalahan kesehatan. Bukti dasar ini didapat dari penelitian dan studi intervensi mengenai sebuah kasus penyakit.Bukti dasar tersusun atas 2 kriteria yaitu kualitas dari bukti dan besarnya dampak dari permasalahan kesehatan tesebut. Kualitas dari bukti ditentukan oleh penyelidikan menggunakan metodemetode yang sesuai. Besarnya dampak dari sebuah kejadian penyakit juga mempengaruhi sebuah tindakan rekomendasi. Besarnya dampak dapat dilihat dari angka mortalitas dan morbiditas. Rekomendasi bukti dasar merupakan kombinasi dari nilai kualitas eviden (bukti) dan nilai dari besarnya dampak melalui studi intervensi. Contoh dari pembuatan rekomendasi dalam menyelesaikan masalah kesehatan salah satunya adalah tentang rekomendasi mengenai berhenti merokok. Seorang ahli kesehatan masyarakat harus mengkaji masalahmasalah tentang bahaya merokok dengan melakukan penelitian. Penelitian tersebut mencakup tentang apa saja kerugian merokok, bahan kimia yang terkandung dalam rokok serta penyakit penyakit yang dapat ditimbulkan karena merokok. Hasil dari penelitian tersebut dikaji dan disusunlah sebuah rekomendasi mengenai langkah yang harus dilakukan kepada perokok agar berhenti merokok. H. Kerangka untuk Menentukan Pilihan Implementasi Aksi Kerangka untuk melakukan implementasi tersusun atas “When-WhoHow” (kapan, siapa, bagaimana). When (Kapan), bertanya mengenai waktu perjalan penyakit terjadi. Waktu dikategorikan dalan primer, sekunder, dan tersier. Intervensi primer yaitu sebelum onset dari sebuah penyakit.Ini tertujuan untuk mencegah penyakit tersebut terjadi. Intervensi sekunder yaitu

intervensi setelah penyakit tersebut berkembang dan faktor resikonya, tetapi sebelum munculnya gejala. Ini bertujuan deteksi awal penyakit dan untuk mengurangi faktor resiko meskipun pasien belum menunjukkan gejala. Intervensi tersier terjadi setelah munculnya gejala tetapi belum cacat permanen. Tujuannya untuk mencegah resiko terburuk dari sebuah penyakit. Who (Siapa), pertanyaan kepada siapa kita harus arahkan intervensi. Hal tersebut ditujukan pada individu yang dalam satu waktu membutuhkan perawatan klinik atau harus diarahkan pada kelompok seperti populasi yang rentan dan apakah perlu diarahkan pada seseorang atau kelompok. Kemudian yang terakhir adalah How (Bagaimana). Bagaimana seharusnya kita mengimplementasikan intervensi? Terdapat 3 tipe dasar intervensi untuk merubah perilaku yaitu informasi (pendidikan), motivasi (insentif) dan kebijakan (persaratan). Contoh dari impelemtasi tersebut adalah tentang bahaya merokok. Kapan dilakukannya edukasi mengenai bahaya merokok? Apakah sebelum terjadinya penyakit karna merokok atau setelah timbul penyakit karna merokok. Apabila sebelum maka dapat dikategorikan sebagai tindakan preventif (pencegahan). Lalu kepada siapa kita melakukan edukasi terhadap bahaya merokok? Apakah kepada bapak-bapak atau kepada anak muda? Lalu setelah kita menentukan targetnya maka kita dapat mengambil tindakan berupa penyuluhan dan edukasi mengenai bahaya merokok atau dengan menerapkan peraturan mengenai rokok. I. Hal yang Harus Dilakukan Setelah Melakukan Implementasi Masalah kesehatan masyarakat jarang sekali bisa langsung hilang hanya dengan sekali/satu intervensi saja. Oleh karena itu penting untuk adanya evaluasi apakah intervensi atau kombinasi intervensi telah berhasil mengurangi masalah. Ini juga penting untuk mengukur seberapa banyak masalah yang telah berhasil ditangani dengan intervensi tersebut. Topik 3 KOMUNIKASI DAN INFORMASI KESEHATAN

A. Perbedaan Informasi Kesehatan dan Komunikasi Kesehatan. Informasi Kesehatan berkaitan dengan metode untuk mengumpulkan, menyusun dan mempresentasikan informasi kesehatan, sedangkan komunikasi kesehatan merupakan cara untuk memandang, menggabungkan, dan menggunakan informasi untuk membuat sebuah keputusan. (Public Health, 2009). Dengan demikian, kedua konsep ini tentang informasi dari sejak dikumpulkan sampai dapat digunakan.

No .

Pembeda

Informasi kesehatan

1.

Definisi

metode untuk mengumpulkan, menyusundan mempresentasikan informasi kesehatan

2.

Ruang Lingkup

 Mengumpulkan data  Menyusun data  Mempresentasikan data

3. 4. 5.

Tujuan Fokus Konsep

Data yang akurat Informasi Mengumpulkan Informasi

Komunikasi Kesehatan cara untuk menerjemahkan, menggabungkan, dan menggunakan informasi untuk membuat sebuah keputusan dalam hal kesehatan  Mempresentasikan Data  Menerjemahkan data  Menggabungkan data  Membuat keputusan Umpan balik yang positif Transaksi Mengolah dan menyebarkan informasi

Informasi Kesehatan, Komunikasi Kesehatan dan arus informasi (Public Health, 2009)

Health Informatics

Collect

Compile

Health Communications

Present

Perceive

Combine

Decision Making

B. Tipe Dasar Data Kesehatan Masyarakat No. 1.

Tipe

Contoh

Manfaat

Keuntungan/Kerugian

Satu kasus atau sedikit

Laporan yang menyatakan satu atau beberapa kasus, seperti SARS, anthrax, mad cow disease dan penyakit lainnya.

Penanda untuk penyakit barudan menjadi peringatan untuk wilayah penyebarannya.

Bermanfaat untuk hal yang tidak biasa dan kondisi baru. / Memerlukan perhatian dokter dan harus cepat dilakukan penyebaran

informasinya 2.

Data statistic dan laporan penyakit

Data Statistik penting : kematian, kelahiran, perkawinan, perceraian, laporan tentang penyakit menular dan tidak menular

Memerlukan pengacara : terkadang terdapat hukuman jika status kelahiran dan kematian tidak memenuhi dalam menentukan sebuah penyebab penyakit,

Data statistic sangat lengkap karena factor social dan keuangan / laporan penyakit lebih dipercaya ketika sebuah institusi yng melaporkan dibanding dengan laporan individu, sering terlambat dalam melaporkan data

3.

Surveyssampling

National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS)

Menggambarkan kesimpulan mengenai garis besar populasi dan subgroup yang diwakilkan oleh sample

Penyelenggaraan survey yang baik menghasilkan kesimpulan yang nenggambarkan tentang populasi yang lebih besar / Sering terlambat dalam melaporkan data

4.

Laporan Mandiri

Monitoring efek samping obat dan vaksin menurut laporan orang-orang yang telah menggunakannya

Mungkin membantu mengidentifikasi hal yang tidak dikenal atau event yang tidak biasa.

Bermanfaat ketika kejadian yang tidak biasa mengikuti penggunaan obat atau vaksin / cenderung tidak lengkap, sulit untuk mengevaluasi maksud karena prosess pelaporan yang selektif

5.

System pengamatan

Memonitor influenza untuk mengidentifikasi awal terjangkitnya dan perubahan tipe virus

Peringatan dini atau peringatan sebelum terjadi kejadian yang tidak dikenali

Dapat digunakan untuk ‘real time’ monitoring, / membutuuhkan pengetahuan yang mendalam tentang pola penyakit dan menggunakan pelayanan untuk perkembanganny

6.

Pengawasan sindrom

Menggunakan pola gejala seperti sakit kepala,

Memungkinkan untuk mendeteksi perubahan yang

Mungkin bermanfaat untuk peringatan awal meskipun tidak ada

batuk/demam atau gejala gastrointestinal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit baru.

tidak terprediksi, seperti bioterorisme atau wabah baru yang terjadi karena gejala yang sama

penyakit yang terdiagnosa / tidak ada penyakit yang terdiagnosa dan ada kemungkinan salah

C. Ukuran yang menggambarkan status kesehatan masyarakat dan populasi. Status kesehatan masyarkat dapat digambarkan dengan dua ukuran menurut Riegelman (2009) yaitu angka kematian bayi dan harapan hidup. Angka kematian bayi memperkirakan tingkat kematian bayi pada tahun pertama kehidupan. Tahun pertama kehidupan memiliki makna yaitu angka kematian bayi diukur dengan banyaknya anak yang meninggal pada usia 0 sampai 1 tahun dalam tahun tertentu yang dibandingkan dengan jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama. Angka kematian bayi dijadikan pengukuran karena menggambarkan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat. Angka kematian bayi dapat digunakan untuk mengembangkan perencanaan dalam mengurangi angka kematian bayi. Perencanaan untuk mengurangi kematian bayi pada usia bulan pertama akan berbeda dengan usia bayi setelah satu bulan. Hal tersebut karena, kematian bayi pada usia bulan pertama biasa disebabkan faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir yaitu diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Sehingga penanganan yang dilakukan ialah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan untuk kematian bayi pada usia lebih dari satu bulan hingga menjelang satu tahun banyak disebabkan oleh faktor lingkungan sehingga dapat dilakukan pengembangan dengan program imunisasi, serta programprogram pencegahan penyakit menular pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. Pengukuran status kesehatan pada anak belum digabungkan dengan masalah kecacatan, karena pengukuran ini mengasumsikan bahwa kecacatan bukanlah faktor utama dikalangan anak-anak. Harapan hidup telah digunakan untuk mengukur kesehatan secara keseluruhan dari populasi menggunakan angka kemungkinan (probabilliitas) pada setiap tahun kehidupan. Pengukuran harapan ini menjadi andalan dalam pengukuran kesehatan di abad ke 20. Harapan hidup adalah umur rata-rata seseorang untuk dapat hidup terus menerus dalam menghadapi risiko kematian yang terdapat di masyarakat pada waktu tertentu. Terdapat beberapa

indikator harapan hidup yang sering dipergunakan untuk mengukur status kesehatan atau keadaan sosial ekonomi suatu negara. Sebagai contoh, harapan hidup suatu negara maju mungkin 80 tahun. Kemudian mungkin pada tahun 1900, harapan hidup di negara yang sama hanya 50 tahun. Pada tahun 2020, diharapkan mungkin sampai 85 tahun. Dengan demikian, hal tersebut memungkinkan kita untuk membuat perbandingan antara negara dengan negara lain dari waktu ke waktu. D. Perbedaan HALE dan DALY Pada saat ini, terdapat langkah-langkah dalam mengukur populasi kesehatan atau disebut juga Summary Measures of Population Health (SMPH) yang dikembangkan oleh WHO. Ini adalah indikator yang disusun dengan menggunakan data pada mortalitas dan kesehatan. SMPH sebagai indikator derajat kesehatan pada populasi. Kriteria:  Mampu merefleksikan perubahan seperti insiden, prevalens, derajat kegawatan dan mortalitas  Memungkinkan hasilnya dikomunikasikan ke pihak terkait, seperti pembuat kebijakan, media dan publik – Dapat digunakan pada cakupan yang luas (beda daerah, negara dengan sistem yang berbeda) SMPH diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu; health expectancy indicators dan health gap indicators. Health-Adjusted Life Expectancy (HALE) adalah pengukuran yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia yang mencoba untuk menangkap perkiraan kesehatan yang lebih lengkap daripada tingkat harapan hidup standar. HALE memperkirakan jumlah tahun sehat individu diharapkan untuk hidup saat lahir dengan mengurangkan tahun sakit - tertimbang menurut keparahan - dari harapan hidup keseluruhan. HALE juga dihitung pada usia 65 untuk memberikan pengukuran kualitas hidup lansia. Dengan bergerak di luar data kematian, HALE dimaksudkan untuk mengukur tidak hanya berapa lama orang hidup, tetapi kualitas kesehatan mereka melalui hidup mereka. Health gap indicators yang telah banyak diketahui adalah Disability Adjusted Health Year (DALY). DALY merefleksikan jumlah usia pada saat sakit dan jumlah tahun yang dihabiskan dalam kesehatan yang buruk dan jumlah tahun yang hilang karena kematian prematur. Selain itu, angka HALE dihitung menggunakan data DALY, menggunakan prevalensi masing-masing penyakit dan kecacatan berat terkait untuk memperkirakan rata-rata kualitas hidup per kelompok usia. Sedangkan DALY dihitung dengan mengukur angka kematian prematur dan jumlah tahun hidup yang hilang. HALE

DALY

Estimasi rata-rata harapan hidup Mengukur perbedaan aktual dari seseorang pada kondisi kesehatan tertentu derajat kesehatan populasi Ukuran ringkasan tingkat kesehatan yang dicapai oleh populasi.

Mengukur beban penyakit dan efektivitas intervensi kesehatan

Menghitung jumlah harapan hidup seseorang selama kesehatan yang baik

Menghitung jumlah tahun yang dihabiskan dalam kesehatan yang buruk

Bergerak diluar data kematian

Menggunakan angka kematian

E. Upaya untuk menjamin Informasi Kesehatan. Memiliki informasi saja tidak cukup. Sebuah peran kunci dan alat penting kesehatan masyarakat adalah untuk secara efektif menyajikan informasi dengan cara yang memiliki fungsi sebagai dasar untuk memahami dan pengambilan keputusan. Masalah presentasi informasi semakin penting dan semakin kompleks. Mereka membutuhkan studi dari berbagai disiplin ilmu dari media massa, komputer grafis, dan statistik. Informasi kesehatan masyarakat sering disajikan sebagai grafis. Grafis membuat gambar dalam pikiran kita tentang apa yang terjadi dan gambar benar-benar bernilai seribu kata. Presentasi grafis dapat secara akurat menginformasikan, tetapi mereka juga dapat menyesatkan kita dalam berbagai cara. Penyajian akurat dari informasi visual telah menjadi sebuah seni, serta ilmu yang layak untuk mendapatkan perhatian dari semua orang yang menggunakan informasi. Masalah kualitas adalah kunci untuk penyajian informasi. Internet semakin menjadi sumber utama informasi kesehatan masyarakat bagi pengguna. Jadi, ketika kita mengatasi masalah kualitas, kita perlu memiliki seperangkat kriteria untuk menilai kualitas informasi yang disajikan di internet. Sebelum mengandalkan situs web untuk informasi kesehatan, anda harus menanyakan pertanyaan kunci diri. Pertanyaan ini dirangkum dalam tabel 1. Penyajian data dapat dilihat sebagai akhir informatika kesehatan, tetapi juga awal komunikasi kesehatan. Bahkan penyajian data yang paling akurat tidak memberitahu kita bagaimana data akan dirasakan oleh pengguna. Mari kita lihat komponen berkembang pesat komunikasi kesehatan yang berhubungan dengan bagaimana kita memandang informasi. Tabel 1. Kualitas Standar Untuk Informasi Kesehatan di Internet Kriteria Pertanyaan Secara keseluruhan kualitas situs Apakah tujuan situs yang jelas? Apakah situs mudah dinavigasi? Apakah sponsor situs diidentifikasi

Penulis

Informasi

Relevansi Ketepatan Waktu

Link

Keleluasan Pribadi

dengan jelas? Apakah iklan dan penjualan terpisah dari informasi kesehatan? Apakah penulis informasi diidentifikasi dengan jelas? Apakah penulis memiliki kredensial kesehatan? Apakah informasi kontak yang disediakan? Apakah situs mendapatkan informasi dari sumber terpercaya? Apakah informasi berguna dan mudah dimengerti? Apakah mudah untuk membedakan antara fakta dan opini? Apakah ada jawaban untuk pertanyaan spesifik Anda? Dapatkah Anda memberitahu ketika informasi itu ditulis? Apakah itu saat ini? Apakah link internal bekerja? Apakah ada link ke situs terkait untuk informasi lebih lanjut? Apakah privasi Anda dilindungi? Anda dapat mencari informasi tanpa memberikan informasi tentang diri Anda?

F. Dampak atau Efek Terhadap Persepsi Seseorang Ketika Menerima Informasi Kesehatan Menurut buku Public Health 101 terdapat 3 dampak atau efek yang sangat mempengaruhi persepsi seseorang dalam menyerap informasi kesehatan. Efek yang yang pertama adalah efek ketakutan yang adalahketakutan terhadap bahaya yang dapat dilihat dan memiliki konsekuensi yang dikhawatirkan. Efek ketakutan juga dapat ditimbulkan oleh potensi peristiwa bencana. Efek yang dua adalah efek yang belum diketahui. Tingkat kualitas dari sebuah kasus mengenai potensi bahaya atau manfaat dapat mempengaruhi bagaimana kita memandang data dan menerjemahkannya untuk situasi kita sendiri. Semakin sering kita dengar mengenai suatu masalah kesehatan maka hal tersebut akan mempengaruhi persepsi kita dalam menyikapi hal tersebut. Contohnya : mengetahui teman atau saudara yang meninggal karena kanker

paru-paru dapat mempengaruhi bagaimana kita memandang informasi tentang bahaya merokok. Efek yang ketiga adalah efek yang tidak terkontrol. Kita sering menganggap bahaya yang kita anggap dalam kontrol kami kurang mengancam dari orang-orang yang kita anggap di luar kendali kita. Tabrakan mobil misalnya, sering dipandang kurang berbahaya daripada kecelakaan pesawat, meskipun fakta bahwa statistik menunjukkan bahwa perjalanan udara komersial jauh lebih aman daripada perjalanan dengan mobil. Cara pandang mengenai bahaya dan manfaat perlu dipertimbangkan bersama jika kita akan menyampaikan informasi untuk membuat keputusan. Tidak semua orang merasakan bahaya dan manfaat dengan cara yang sama. Pemilihan metode yang tepat dan akurat perlu dilakukan. Salah satu pendekatan untuk mengatasi persepsi informasi yang berbeda adalah dengan menggunakan metode yang dikenal yaitu analisis keputusan. Analisis keputusan bergantung pada kemampuan pengolahan informasi yang luas dari komputer untuk menggabungkan informasi tentang manfaat dan bahaya untuk mencapai keputusan kuantitatif. G. Keterkaitan antara informasi kesehatan dengan pengambilan keputusan kesehatan. Ada 2 pertanyaan kunci yang bisa digunakan untuk memahami bagaimana kita menggunakan informasi kesehatan untuk membuat keputusan kesehatan. 1. Bagaimana ‘sikap berani mengambil resiko’ yang kita miliki dapat mempengaruhi cara kita dalam membuat keputusan? 2. Bagaimana memasukkan informasi kedalam keputusan kita? Ada banyak sikap yang bisa mempengaruhi cara kita dalam membuat keputusan. Salah satu yang terpenting adalah yang diketahui sebagai ‘sikap berani mengambil resiko’. Ada 3 pendekatan dasar untuk membuat keputusan klinis: pendekatan penginformasian keputusan, informed consent, dan mengambil keputusan bersama. 1. Inform of decision: pendekatan ‘menginformasikan keputusan’ menyiratkan bahwa dokter memiliki semua informasi penting dan dapat membuat keputusan terbaik untuk kepentingan pasien. Peran dokter kemudian hanya untuk menginformasikan kepada pasien tentang apa yang perlu dilakukan, meresepkan pengobatan, dan menuliskan anjuran/perintah. Pada suatu waktu pendekatan Inform of decision digunakan sebagai standar praktek kedokteran. Keputusan untuk melakukan banyak tes dan menerima berbagai obat masih sering dilakukan dengan pendekatan inform of decision.

2. Informed consent: bersandar pada prinsip bahwa pada akhirnya pasien perlu untuk memberikan izin atau persetujuan mereka sebelum intervensi besar, seperti operasi, radiasi, atau kemoterapi dapat dilakukan. Informed consent dapat ditulis, diucapkan, atau tersirat. Secara klinis, informed consent menyiratkan bahwa individu memiliki hak untuk mengetahui apa yang akan dilakukan, mengapa itu akan dilakukan, dan apa manfaat dan kerugian yang akan didapat. Pasien memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan, termasuk menanyakan tentang ketersediaan pilihan lain. Informed consent tidak berarti bahwa semua kemungkinan opsi dijelaskan kepada pasien, tetapi tidak berarti juga bahwa seorang dokter membuat rekomendasi untuk intervensi tertentu. 3. Shared decision making: dalam pendekatan ini pekerjaan dokter adalah untuk memberikan informasi kepada pasien yang dapat digunakan pasien untuk membuat keputusan. Hal ini termasuk langsung memberikan informasi kepada pasien, memberikan konsultasi, atau merujuk pasien ke sumber-sumber informasi yang sering terdapat di internet. Pengambilan keputusan bersama menempatkan beban yang jauh lebih besar pada pasien untuk mencari, memahami, dan menggunakan informasi yang diberikan. Dengan pendekatan ini, dokter tidak diharuskan untuk memberikan rekomendasi atau intervensi tertentu, meski pun pasien bebas untuk meminta pendapat dokter. Jadi dengan menggunakan 3 pendekatan tersebut pasien dapat mengetahui informasi apa saja yang yang terkait dengan kesehatan ataupun penyakitnya, sehingga pasien bisa mengambil resiko untuk mengambil keputusan kesehatan bagi dirinya ataupun keluarga. Selain itu, Informatika kesehatan dan komunikasi kesehatan adalah alat kunci untuk kesehatan populasi. Dengan melihat isu-isu penting yang berkaitan dengan masing-masing masalah. Dalam hal mengambil keputusan bagi kesehatan masyarakat dibutuhkan data kesehatan masyarakat dan informasi yang dikumpulkan, yang kemudian informasi atau data tersebut disusun, disajikan, dirasakan, dikombinasikan, dan kemudian dapat digunakan dalam pengambilan keputusan tentang prioritas masalah dan solusi atau pemecahan masalah yang akan diambil.

Topik 4 ILMU SOSIAL, ILMU PERILAKU DAN KESEHATAN MASYARAKAT

A. Pengertian Ilmu Sosial, Ilmu Perilaku, dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Ilmu Sosial. Ilmu sosial adalah ilmu yang mencakup semua aspek didalam kehidupan mulai dari sifat seseorang atau individu, interaksi antar individu, antara individu dan kelompok, dan interaksi antara kelompok dan kelompok. Pengertian ilmu sosial menurut para ahli, diantaranya sebagai berikut ini: 

Menurut, Achmad Sanusi ~ Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertaraf akademis & biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah.



Lalu menurut, Peter Herman ~ Ilmu Sosial adalah sesuatu yang dipahami sebagai suatu perbedaan namun tetap merupakan sebagai satu kesatuan.



Dan menurut, Gross ~ Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat & pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.

Ilmu Perilaku. Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, marah, tertawa, menulis, tidur, ke sekolah, kuliah, membaca, dan sebagainya. Perilaku manusia adalah semua kegiatan dan aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Beberapa ringkasan teori perilaku dapat dikemukakan misalnya teori: Burrhus Frederic (B. F.) Skinner (Maret 20, 1904 – Agustus 18, 1990) seorang Amerika dan lebih merupakan teroretisi induksi ketimbang deduksi, seorang ahli psikologi, ahli ilmu perilaku, filsuf Profesor Psikologi pada Harvard University dari 1958 dan pensiun hingga 1974. Teori yang dikemukakan antara lain bahwa perilaku dapat diprediksi dan dikontrol. Salah satu teorinya, perilaku merupakan Respons (R) seseorang terhadap rangsangan atau stimulus (S) pada lingkungan tertentu.

Dari sudut biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004). Ilmu perilaku adalah cabang dari ilmu-ilmu sosial yang sasaran/objeknya adalah perilaku manusia. Jika ilmu sosial mencakup bidang-bidang dari ilmu politik, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi dan psikologi, maka ilmu perilaku hanyalah terdiri dari 3 cabang ilmu, yaitu psikologi, antropologi dan sosiologi, mengingat bahwa perilaku manusia sangatlah dipengaruhi oleh aspek-aspek kejiwaan, kemasyarakatan dan kebudayaan. Psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari tentang aspek-aspek kejiwaan dan kepribadian individu dan kelompok. Bidang cakupannya ialah proses mental / emosional dan karateristik perilaku individu maupun kelompok. Antropologi mempelajari perkembangan evolusi manusia yang mencakup unsur fisik, sosial dan budayanya. Sesuai dengan bidang orientasinya, antropologi dapat dibedakan dalam antropologi fisik, antropologi sosial dan antropologi budaya. Sedangkan antropologi medis mengkhususkan diri pada studi tentang pengaruh unsur budaya tentang penghayatan masyarakat tentang penyakit atau kesehatan. Sosiologi mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara individu dengan kelompok (mulai dari keluarga sampai dengan kelompok masyarakat yang kompleks), struktur sosial, serta meneropong proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang masa hidup, dan meningkatkan derajat kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk: a) perbaikan sanitasi lingkungan, b) pemberantasan penyakit menular, c) pendidikan untuk kebersihan perorangan, d) pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, e) pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kehidupan yang layak dalam memelihara kesehatannya. Definisi kesehatan masyarakat menurut U. F Achmadi (2005, 2012) Kesehatan masyarakat adalah semua upaya yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan menggunakan serangkaian upaya yang sekurang-kuranganya terdiri dari unsur-unsur atau ciri-ciri : a.

Berbasis masyarakat

b.

Berorientasi pencegahan dan/atau peningkatan derajat kesehatan

c.

Dilaksanakan secara lintas disiplin atau bekerja sama dengan sektor non-kesehatan

d.

Adanya keterlibatan masyarakat atau partisipasi masyarakat

e.

Terorganisir dengan baik.

Dapat pula dirumuskan bahwa kesehatan masyarakat adalah, serangkaian upaya untuk menyehatkan sekelompok atau keseluruhan penduduk, berorientasi pencegahan dan/atau peningkatan, dilakukan secara lintas sektor atau lintas disiplin, dan melibatkan masyarakat serta terorganisir dengan baik. Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat. Banyak disiplin ilmu yang dijadikan sebagai dasar ilmu kesehatan masyarakat antara lain, Biologi, Kimia, Fisika, Kedokteran, Kesehatan Lingkungan, Sosiologi, Pendidikan, Psikologi, Antropologi, dan lain-lain. Berdasarkan kenyataan ini maka ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multidisiplin. Namun secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut sebagai pilar utama Ilmu Kesehatan Masyarakat ini antara lain : 1.

Administrasi Kesehatan Masyarakat.

2.

Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

3.

Biostatistik/Statistik Kesehatan.

4.

Kesehatan Lingkungan.

5.

Gizi Masyarakat.

6.

Kesehatan Kerja.

7.

Epidemiologi.

Mengapa ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multi disipliner, karena memang pada dasarnya Masalah Kesehatan Masyarakat bersifat multikausal, maka pemecahanya harus secara multidisiplin. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat sebagai seni atau prakteknya mempunyai bentangan yang luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental, dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental, sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003).

B. Hubungan Antara Kesehatan Masyarakat Dengan Ilmu Sosial dan Ilmu Perilaku Pengembangan ilmu sosial dan perilaku pada abad ke-19 dan ke-20 sangat berhubungan dengan perkembangan kesehatan masyarakat. Bidang studi ini berbagi kepercayaan mendasar yang memahami organisasi dan motivasi di balik kekuatan sosial, bersama dengan pemahaman yang lebih baik dari perilaku individu, dapat digunakan untuk meningkatkan kehidupan individu, serta orang-orang dari masyarakat secara keseluruhan. Perkembangan abad ke-19 ilmu sosial dan perilaku, serta kesehatan masyarakat, tumbuh dari Revolusi industri di Eropa, dan kemudian di Amerika. Itu didasarkan pada upaya untuk mengatasi kesenjangan sosial dan ekonomi yang dikembangkan selama periode ini dan memberikan struktur intelektual dan institusional untuk apa itu dan sekarang disebut keadilan sosial. Keadilan sosial berarti masyarakat yang memberikan perlakuan yang adil dan bagian yang adil dari manfaat masyarakat untuk individu dan kelompok individu. Awal reformis kesehatan masyarakat menganjurkan untuk keadilan sosial dan melihat kesehatan masyarakat sebagai aspek integral dari itu. Link intelektual antara ilmu-ilmu sosial dan perilaku dan kesehatan masyarakat begitu mendasar dan begitu dalam sehingga sering diambil untuk diberikan. Sebagai mahasiswa dengan kesempatan untuk belajar tentang kedua ilmu sosial dan kesehatan masyarakat, penting untuk memahami kontribusi kunci bahwa ilmu-ilmu sosial dapat membuat kesehatan masyarakat. Hal ini tidak berlebihan untuk melihat kesehatan masyarakat sebagai aplikasi dari ilmu-ilmu sosial, yaitu, sebagai ilmu sosial terapan. Tabel 4.1 merangkum banyak kontribusi bahwa ilmu-ilmu sosial membuat kesehatan masyarakat.

Tabel 4.1 Contoh Kontribusi Dari Ilmu-Ilmu Sosial Dan Perilaku Kesehatan Masyarakat Disiplin Ilmu Sosial

Contoh Kontribusi Disiplin Untuk Kesehatan Masyarakat

Psikologi

Teori perilaku asal mula dan pengambilan risiko kecenderungan dan metode untuk mengingatkan perilaku individu dan sosial

Sosiologi

Teori perkembangan sosial, perilaku organisasi, dan sistem pemikiran. Dampak sosial pada perilaku individu dan kelompok.

Antropologi

Pengaruh sosial dan budaya pada individu dan populasi pengambilan keputusan bagi kesehatan dengan perspektif global.

Ilmu Politik/Kebijakan Publik

Pendekatan untuk pemerintah dan kebijakan keputusan terkait kesehatan masyarakat. Struktur untuk analisis kebijakan dan dampak dari pemerintah pada pengambilan keputusan kesehatan masyarakat.

Ekonomi

Memahami dampak ekonomi mikro dan makro terhadap kesehatan masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan

Komunikasi

Teori dan praktek komunikasi massa dan pribadi serta peran media dan dalam mengkomunikasikan informasi kesehatan dan risiko kesehatan.

Demografi

Memahami perubahan demografis populasi global akibat penuaan, migrasi, dan perbedaan dalam tingkat kelahiran, ditambah dampaknya terhadap kesehatan dan masyarakat

Geografi

Pemahaman dampak geografi pada penyakit dan faktor-faktor penentu penyakit, serta metode untuk menampilkan dan pelacakan lokasi terjadinya penyakit

C. Status Sosial Ekonomi Mempengaruhi Status Kesehatan Status kesehatan, setidaknya yang diukur dengan harapan hidup, sangat terkait dengan status sosial ekonomi. Umur panjang lebih besar dikaitkan

dengan status sosial yang lebih tinggi dengan gradien meningkatkan umur panjang dari rendah ke tinggi pada skala sosial ekonomi. Hal ini juga penting untuk menyadari bahwa dampak sosial ekonomi tidak semata-mata terkait dengan pendapatan seseorang di atas tingkat pendapatan ambang batas tahunan sekitar $ 10,000 per orang, asosiasi umur panjang dengan pendapatan terbaik dijelaskan oleh perbedaan pendapatan, daripada tingkat absolut. Dengan demikian, negara-negara maju dengan kesenjangan yang lebih kecil dari pendapatan, seperti Jepang, Swedia, dan Kanada, memiliki umur panjang rata-rata lebih besar dan kesenjangan yang lebih kecil dalam umur panjang antara warga terkaya dan termiskin mereka daripada dibandingkan dengan negara seperti Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, kesenjangan yang lebih besar dalam pendapatan dan umur panjang ada antara terkaya dan termiskin warga. Namun, keragaman yang sangat besar dari populasi Amerika Serikat dalam hal budaya dan agama serta tingkat sosial ekonomi juga dapat membantu menjelaskan perbedaan dalam umur panjang. Kekayaan ekonomi yang lebih besar biasanya berarti akses ke kondisi hidup sehat. Sanitasi, kurang berkerumun, akses yang lebih besar ke perawatan kesehatan, dan metode yang lebih aman untuk memasak dan makan semua sangat terkait dengan status yang lebih tinggi ekonomi di dikembangkan, serta negara-negara berkembang. Individu dari status sosial ekonomi rendah lebih mungkin untuk terkena bahaya kesehatan di tempat kerja dan di lingkungan fisik melalui paparan racun di udara yang mereka hirup, di air yang mereka minum, dan dalam makanan yang mereka makan. Faktor-faktor ini, sementara penting, menjelaskan hanya sekitar setengah dari perbedaan diamati dalam harapan hidup antara individu-individu dari status sosial ekonomi yang berbeda. Misalnya, tingkat penyakit jantung koroner yang jauh lebih tinggi di antara orang-orang dari status sosial ekonomi rendah, bahkan setelah memperhitungkan merokok akun rokok, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol, dan jumlah gula darah. Penelitian yang cukup sekarang sedang diarahkan untuk lebih memahami ini dan lainnya efek status sosial ekonomi. Satu teori menunjukkan bahwa kontrol sosial dan partisipasi sosial dapat membantu menjelaskan perbedaanperbedaan substansial dalam kesehatan. Ini menyatakan bahwa kontrol atas pengambilan keputusan individu dan kelompok jauh lebih besar di antara individu dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi. Teori ini menyatakan bahwa kemampuan untuk mengendalikan hidup seseorang mungkin terkait dengan perubahan biologis yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penelitian tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi atau menolak teori ini dan / atau memberikan penjelasan yang memadai untuk perbedaan ini penting, namun dijelaskan, dalam kesehatan berdasarkan status sosial ekonomi.

Contoh: Tipe

Contoh

Kondisi tempat tinggal

Peningkatan sanitasi, pengurangan kesesakkan, metode pemanasan dan memasak

Kesempatan pendidikan secara keseluruhan Pendidikan adalah asosiasi terkuat dengan perilaku kesehatan dan hasil kesehatan. Mungkin karena apresiasi yang lebih baik dari faktor yang terkait penyakit dan kemampuan yang lebih besar untuk mengendalikan faktorfaktor ini. Kesempatan pendidikan untuk wanita

Pendidikan untuk wanita memiliki dampak pada kesehatan anak dan keluarga

Pajanan

Pekerjaan sosial ekonomi rendah secara tradisional dikaitkan dengan peningkatan paparan risiko kesehatan

Akses terhadap barang dan jasa

Kemampuan untuk mengakses barang, seperti perangkat pelindung dan makanan berkualitas tinggi dan jasa, termasuk jasa medis dan sosial untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan

Ukuran keluarga

Ukuran keluarga besar mempengaruhi kesehatan dan secara tradisional dikaitkan dengan status sosial ekonomi rendah dan dengan status kesehatan yang lebih rendah

Paparan perilaku berisiko tinggi

Keterasingan sosial yang berhubungan dengan kemiskinan dapat berhubungan dengan kekerasan, obat-obatan, perilaku berisiko tinggi lainnya

Lingkungan

Status sosial ekonomi rendah yang berhubungan dengan paparan yang lebih besar untuk polusi lingkungan, bencana alam, dan bahaya lingkungan binaan

D. Budaya dan Agama Mempengaruhi Status Kesehatan Budaya Budaya, adalah arti luas, membantu orang membuat penilaian tentang dunia dan keputusan tentang perilaku. Budaya mendefinisikan apa yang baik atau buruk, dan apa yang sehat dan tidak sehat. Hal ini mungkin berhubungan dengan pola gaya hidup, keyakinan tentang risiko, dan keyakinan tentang tipe tubuh. Misalnya, jenis tubuh besar di beberapa budaya melambangkan

kesehatan dan kesejahteraan, tidak kelebihan berat badan atau kondisi negatif lainnya. Budaya secara langsung mempengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari. Pilihan makanan dan metode persiapan makanan dan pelestarian semua dipengaruhi oleh budaya, serta status sosial ekonomi. Budaya juga terkait dengan respon individu untuk gejala dan penerimaan intervensi. Dalam banyak budaya, perawatan medis secara eksklusif untuk orang-orang dengan gejala dan bukan merupakan bagian dari pencegahan. Banyak budaya tradisional telah mengembangkan sistem canggih perawatan diri dan pengobatan sendiri didukung oleh keluarga dan penyembuh tradisional. Tradisi ini sangat mempengaruhi bagaimana seorang individu merespon gejala, bagaimana mereka berkomunikasi gejala, dan jenis intervensi medis dan kesehatan masyarakat bahwa mereka akan menerima. Banyak budaya memungkinkan dan bahkan mendorong penggunaan pendekatan tradisional bersama pendekatan kesehatan medis dan masyarakat Barat. Dalam beberapa budaya, dukun dianggap sesuai untuk masalah kesehatan yang menyebabkan tidak dianggap biologis, tetapi berkaitan dengan spiritual dan lainnya fenomena. Studi terbaru dari alternatif, atau pelengkap, obat telah memberikan bukti bahwa intervensi tradisional tertentu, seperti akupunktur dan osteopathic spesifik dan manipulasi chiropractic, memiliki manfaat yang terukur. Dengan demikian, perbedaan budaya tidak harus dilihat sebagai masalah yang harus ditangani, tetapi lebih sebagai praktik untuk dipahami.

Cara bahwa budaya dapat mempengaruhi kesehatan

Contoh

Budaya terkait dengan praktek-praktek perilakusosial dapat menempatkan individu dan kelompok pada peningkatan atau penurunan risiko

Makanan preferensi-vegetarian, diet Mediterania metode memasak Sejarah pengikatan kaki di Cina Mutilasi alat kelamin perempuan Peran olahraga

Budaya terkait dengan respon terhadap gejala, seperti tingkat urgensi untuk mengenali gejala, mencari perawatan, dan berkomunikasi gejala

Perbedaan budaya dalam perawatan pencarian dan pengobatan sendiri Sosial, keluarga, dan struktur kerja menyediakan berbagai tingkat dukungan sosial, rendahnya dukungan sosial dapat berhubungan dengan penurunan kualitas kesehatan yang berhubungan dengan kehidupan.

Budaya terkait dengan jenis intervensi yang dapat diterima

Variasi tingkat penerimaan tradisional termasuk ketergantungan pada bantuan Barat diri dan dukun

Budaya terkait dengan respon terhadap penyakit Perbedaan budaya dalam tindak lanjut, dan intervensi kepatuhan terhadap pengobatan, dan penerimaan hasil yang merugikan Agama Faktor sosial yang mempengaruhi kesehatan termasuk agama bersama dengan budaya. Agama dapat memiliki dampak besar pada kesehatan terutama untuk praktik tertentu yang didorong atau dikutuk oleh kelompok agama tertentu. Misalnya, kita sekarang tahu bahwa sunat laki-laki mengurangi kerentanan terhadap HIV / AIDS. Sikap keagamaan yang membenarkan atau mengutuk penggunaan kondom, alkohol, dan tembakau memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada kesehatan juga. Beberapa agama melarang praktek penyembuhan tertentu, seperti transfusi darah atau aborsi, atau benar-benar menolak intervensi medis sama sekali, seperti yang dilakukan oleh ilmuwan christian. Individu agama bisa melihat intervensi kesehatan medis dan masyarakat sebagai gratis untuk praktik agama atau mungkin mengganti doa untuk intervensi medis dalam menanggapi gejala penyakit. Cara agama mempengaruhi kesehatan

Contoh

Agama dapat mempengaruhi praktek-praktek Seksual: sunat, penggunaan kontrasepsi sosial yang menempatkan individu pada Makanan: menghindari makanan laut, daging peningkatan atau penurunan risiko babi, daging sapi Penggunaan alkohol: bagian dari agama dibandingkan dilarang Penggunaan tembakau: aktif berkecil oleh Mormon dan Advent hari Ketujuh sebagai bagian dari agama mereka Agama dapat mempengaruhi respon terhadap Ilmuwan Kristen menolak perawatan kesehatan gejala sebagai respon terhadap gejala Agama dapat mempengaruhi jenis intervensi Larangan transfusi darah yang dapat diterima Sikap terhadap penelitian sel induk Sikap terhadap aborsi Akhir perawatan hidup Agama dapat mempengaruhi respon terhadap Peran doa sebagai intervensi untuk mengubah penyakit dan intervensi hasil E. Perilaku Sehat Dapat Diubah

Menurut Riegelman (2009) perilaku sehat dapat diubah. Beberapa contoh perubahan perilaku yang menjadi lebih baik yaitu  Perubahan perilaku terhadap cara meletakan bayi pada saat tidur yaitu pada tahun 1980 awalnya bayi tidur tengkurap kemudian setelah itu menjadi telentang untuk mengurangi Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) hampir 50% di negara-negara Amerika Serikat.  Penggunaan seat belt di Amerika serikat telah meningkat yaitu pada tahun 1970 sebesar 25% menjadi 80% pada saat ini.  Di Amerika Serikat pengemudi dalam keadaan mabuk sudah berkurang secara drastis  Selama tahun 1990an terjadi peningkatan dalam menggunakan mamografi sebesar 50% untuk mengurangi angka kematian dari kanker payudara.  Perilaku merokok di Inggris pada kaum laki-laki berkurang dari 50% menjadi kurang dari 25% pada tahun 1960. Perubahan perilaku tidak hanya terjadi pada perubahan menjadi lebih baik tetapi perubahan perilaku juga dapat menjadi lebih buruk contohnya yaitu: 1. Di Amerika telah terjadi peningkatan asupan kalori dan mengurangi jadwal olahraga selama tiga dekade terakhir. Hal tersebut menimbulkan meningkatan obesitas sebesar dua kali lipatnya dari sekitar sepertiga seluruh orang dewasa di Amerika.  Antara tahun 1960 dan 1990-an, gadis remaja dan wanita dewasa muda meningkat merokok mereka, menundukkan anak-anak mereka yang belum lahir bahaya tambahan berat lahir rendah  Remaja dan wanita dewasa diantara tahun 1960 dan 1990an meningkatkan kebiasaan merokok, yang dapat menimbulkan bahaya bagi anak-anak kecil dalam hal penurunan berat badan F. Beberapa Perilaku Sehat Pada Individu Lebih Mudah Berubah Beberapa perubahan perilaku relatif mudah untuk diubah, sementara yang lain sulit untuk diubah. Untuk mengubah perilaku diperlukan kemampuan untuk mengenali suatu perbedaan. Hal ini relatif mudah ketika salah satu perilaku dapat diganti dengan hal yang mirip tetapi berpotensi menghasilkan hasil yang lebih baik. Misalnya, perubahan dari kandungan acetaminophen (Tylenol) untuk aspirin dalam hal mencegah Sindrom Reye. Hal tersebut merupakan perubahan yang relatif mudah. Selain itu kampanye “back death to sleep” juga perubahan yang relatif mudah dan telah mengurangi angka kematian bayi akibat SIDS. Berdasarkan kedua kasus tersebut, perubahan yang bersifat dapat diterima serta tetap membuat nyaman mengakibatkan perubahan perilaku menjadi lebih mudah untuk dicapai. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tindakan seperti pengurangan biaya yang diikuti dengan peningkatan ketersediaan atau

perbaikan dalam kemudahan menggunakan sesuatu akan membuat perubahan perilaku dapat dengan mudah terjadi. Perubahan perilaku yang paling sulit terjadi yaitu terhadap seseorang memiliki komponen fisiologis, seperti obesitas, atau terhadap unsur aditif yang membuat seseorang menjadi kecanduan seperti merokok. Seseorang yang obesitas harus mengontrol terus berat badannya dalam jangka waktu panjang dan hal tersebut umumnya memiliki tinggkat keberhasilan yang rendah yaitu kurang dari 30%. Selain itu, faktor fisik, sosial, dan ekonomi dapat menjadi hambatan tersendiri dalam perubahan perilaku. Contohnya pelayanan kesehatan tidak dapat diakses maka akan menghampat proses perubahan perilaku. Keberhasilan perubahan perilaku mengharuskan seseorang memahami tentang bagaimana perilaku dapat diubah dan hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu perubahan tersebut. G. Merubah Perilaku Pada Individu dan Proses yang Dilalui Seseorang Untuk Merubah Perilakunya Perubahan perilaku membutuhkan lebih dari motivasi individu dan tekad untuk berubah. Mereka yang ingin berubah membutuhkan dorongan dan dukungan dari kelompok-kelompok mulai dari teman-teman dan keluarga untuk bekerja dan kelompok teman sebaya. Perubahan perilaku mungkin juga memerlukan kebijakan sosial dan harapan yang memperkuat upaya individu. Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku Individu.  Perubahan Alamiah (Natural Change) : Perilaku manusia selalu berubah. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Contoh : perubahan perilaku yang disebabkan karena usia seseorang.  Perubahan terencana (Planned Change) : Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek. contoh : perubahan perilaku seseorang karena tujuan tertentu atau ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai baginya.  Kesediaan untuk berubah (Readiness to Change) : Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam organisasi, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, dan ada sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut. Contoh : perubahan teknologi pada suatu lembaga organisasi, misal dari mesin ketik manual ke mesin komputer, biasanya orang yang usianya tua sulit untuk menerima perubahan pemakaian teknologi tersebut. Cara Mengubah Perilaku Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku oleh WHO dikelompokkan menjadi tiga  Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan (enforcement/regulation)

Misal : dengan adanya peraturan-peraturan/ perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat. Perubahan ini dapat berlangsung cepat akan tetapi belum tentu berlangsung lama karena perubahan perilaku terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri.  Pemberian informasi (education) Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut.  Diskusi partisipasi Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua di atas yang dalam memberikan informasi-informasi tentang kesehatan tidak bersifat searah saja tetapi dua arah. Tahapan Dalam Perubahan Perilaku Individu Di tahun 1992, Prochaska, DiClemente, and Norcross membuat transtheoretical model of client change. Dalam model ini, mereka mengajukan bahwa terdapat lima tahapan dalam perubahan menuju perilaku yang lebih baik. Tahapan yang selalu dialami tersebut adalah: 1. Precontemplation: individu tidak menyadari perilakunya atau tidak menyadari bahwa dia perlu berubah, dan mungkin tidak berniat berubah. 2. Contemplation: Individu mulai menyadari perlunya perubahan dan mulai berpikir serius tentang itu namun dia belum memutuskan untuk melakukannya. 3. Preparation: individu memutuskan untuk melakukan beberapa tindakan dalam waktu dekat dan mungkin telah melakukan tindakan di waktu yang lalu tapi dia gagal. 4. Action: Individu telah mulai berhasil dan terlibat dalam tindakan yang mengarah dalam hasil yang diinginkan tapi belum mencapai hasil yang sesuai dengan yang dicitakan. 5. Maintenance: individu berhasil mencapai tujuannya dan sekarang harus mencoba dalam dua sisi yakni mencegah perilaku lama kambuh dan menkonsolidasikan perubahan-perubahan yang telah dibuat pada fase action. H. Tahapan Yang Dilalui Oleh Seseorang Untuk Merubah Perilakunya Tahap pertama, yang disebut precontemplation, menjelaskan bahwa seseorang belum dianggap mengubah perilaku mereka. Pada tahap ini, upaya untuk mendorong perubahan tidak mungkin berhasil. Namun, upaya untuk mendidik dan menawarkan bantuan dikemudian hari dapat menjadi dasar untuk tahap selanjutnya. Tahap kedua ini, yang dikenal sebagai perenungan, menyiratkan bahwa

individu secara aktif berpikir tentang manfaat dan hambatan untuk berubah. Pada tahap ini, informasi difokuskan pada keuntungan jangka pendek dan, serta manfaat jangka panjang, yang dapat sangat berguna. Selain itu, tahap kontemplasi cocok untuk mengembangkan dasar. Menetapkan titik berat masalah untuk mengukur tingkat kemajuan masa depan. Tahap ketiga disebut persiapan. Selama fase ini individu mengembangkan sebuah rencana tindakan. Pada titik ini, individu akan menetapkan tujuan, mengingat berbagai strategi, dan mengembangkan jadwal. Membantu dalam mengenali dan mempersiapkan hambatan yang tak terduga dapat sangat berguna untuk individu selama fase ini. Tahap keempat adalah tahap tindakan bila perubahan perilaku terjadi. Ini adalah waktu untuk mempertemukan semua kemungkinan dari luar untuk memperkuat dan menghargai perilaku baru dan membantu masalah atau kemunduran yang terjadi. Tahap kelima –dan diharapkan sebagai tahab akhir- adalah tahap pemeliharaan dimana perilaku baru menjadi bagian permanen dari gaya hidup seseorang. Tahap pemeliharaan memerlukan pendidikan tentang bagaimana mengantisipasi sifat jangka panjang dari perubahan perilaku, terutama bagaimana untuk menolak godaan untuk tidak melanjutkan perilaku lama. I. Perubahan Dalam Perilaku Kelompok Merubah perilaku kelompok dapat dilakukan dengan cara pendekatan pemasaran untuk mencoba untuk lebih memahami dan mengubah perilaku kesehatan kelompok. Pemasaran sosial, penggunaan dan perluasan pemasaran produk tradisional, telah menjadi komponen kunci dari pendekatan kesehatan masyarakat dengan perubahan perilaku. Kampanye pemasaran sosial yang berhasil pertama kali digunakan di negara berkembang untuk mempromosikan berbagai produk dan perilaku, termasuk perencanaan keluarga dan terapi rehidrasi anak. Pemasaran sosial memasukkan "4 Ps", yang secara luas digunakan sebagai struktur upaya pemasaran tradisional. Ini adalah :  Produk: mengidentifikasi perilaku atau inovasi yang sedang dipasarkan.  Harga: mengidentifikasi manfaat hambatan serta biaya keuangan.  Tempat: mengidentifikasi sasaran dan bagaimana untuk menjangkau mereka  Promosi: mengorganisir kampanye atau program untuk mencapai target audiens Pemasaran sosial telah memasukkan konsep dari difusi teori inovasi. Teori ini, seperti tahap perubahan perilaku, berpendapat bahwa adopsi perilaku baru memerlukan serangkaian fase.

J. Pemasaran Sosial Dalam beberapa tahun terakhir, kesehatan masyarakat sudah mulai menerapkan pendekatan pemasaran untuk mencoba untuk lebih memahami dan mengubah perilaku kesehatan kelompok orang-terutama mereka perokok seperti yang berisiko tinggi dampak kesehatan dari perilaku mereka. Pemasaran sosial, penggunaan dan perpanjangan pemasaran produk tradisional, telah menjadi komponen kunci dari pendekatan kesehatan masyarakat untuk merubah perilaku. Kampanye pemasaran sosial pertama kali berhasil digunakan di negara berkembang untuk mempromosikan berbagai produk dan perilaku, termasuk keluarga berencana dan terapi rehidrasi anak. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pemasaran sosial telah banyak dan berhasil digunakan di negara-negara maju, termasuk upaya seperti:  Truth Kampanye - Dikembangkan oleh Amerika Legacy Foundation, hal ini bertujuan untuk mengarahkan merokok dari dilihat sebagai pemberontakan remaja.  Kampanye -Nasional Pemuda Anti- Narkoba menggunakan upaya sosial pemasaran diarahkan pada orang-orang muda, termasuk orang tua. Antinarkoba. Pemasaran sosial menggabungkan "4 Ps," yang banyak digunakan untuk struktur upaya pemasaran tradisional. Ini adalah:  Produk: Mengidentifikasi perilaku atau inovasi yang sedang dipasarkan  Harga: Mengidentifikasi manfaat, hambatan, serta biaya keuangan  Tempat: Mengidentifikasi khalayak sasaran dan bagaimana untuk menjangkau mereka.  Promosi: Menyelenggarakan kampanye atau program untuk mencapai target audiens (s). Pemasaran sosial telah memasukkan konsep dari teori difusi inovasi. Teori ini, seperti tahapan perubahan perilaku, berpendapat bahwa adopsi perilaku baru memerlukan serangkaian tahapan atau langkah-langkah. Ini bergerak dari pengetahuan inovasi, untuk persuasi dari manfaatnya, keputusan untuk beradaptasi, untuk implementasi, dan konfirmasi. Difusi inovasi teori telah memberikan kontribusi konsep dari berbagai jenis pengadopsi termasuk: pengadopsi awal-orang yang mencari untuk bereksperimen dengan ide-ide inovatif; Mayoritas pengadopsi-sering awal pemimpin opini yang status sosial sering mempengaruhi orang lain untuk mengadopsi perilaku; dan pengadopsi akhir (atau lamban) -mereka yang membutuhkan dukungan dan dorongan untuk membuat adopsi semudah mungkin. Sebuah pendekatan yang berbeda sering dibutuhkan untuk terlibat masing-masing kelompok. Misalnya, upaya pemasaran mungkin awalnya menargetkan pengadopsi awal dengan

pendekatan mendorong inovasi dan kreativitas. Ini dapat diikuti oleh pendekatan pendapat pemimpin yang dapat membantu inovasi atau perubahan perilaku menjadi mainstream. Sebuah pendekatan yang berbeda menekankan penggunaan easeof- dan penerimaan luas mungkin paling bermanfaat untuk mendorong pengadopsi akhir. Pemasaran sosial, seperti pemasaran produk, sering bergantung pada apa pemasar sebut branding. Branding termasuk katakata dan simbol-simbol yang membantu audiens target mengidentifikasi dengan layanan; Namun, ia pergi lebih dalam dari sekedar kata-kata dan simbol. Hal ini dapat dilihat sebagai metode menerapkan keempat "P," atau promosi. Hal ini juga dibangun berdasarkan tiga "Ps": 

Branding memerlukan pemahaman yang jelas tentang produk atau perilaku yang akan diubah (produk). Merek -Successful menempatkan sebagainya strategi untuk mengurangi biaya keuangan dan psikologis (harga).



Branding mengidentifikasi penonton dan segmen penonton dan bertanya bagaimana setiap segmen dapat dicapai (tempat). Branding adalah wajah publik pemasaran sosial, tetapi juga perlu diintegrasikan ke dalam inti dari rencana pemasaran. Upaya pemasaran sosial di negara berkembang dan negara maju telah menunjukkan bahwa ada mungkin untuk mengubah perilaku.

K. Kombinasi Perilaku Individu, Kelompok, Dan Upaya Social Untuk Melaksanakan Perubahan Perilaku. Perubahan perilaku tentunya diharapkan semua orang jika mengarah ke arah yang lebih baik. Perilaku individu yang notabene anggota dari suatu kelompok masyarakat dan populasi, dapat berpengaruh pada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Maka dari itu untuk mengubah perilaku perlu mengkombinasikan perilaku individu, kelompok, dan upaya social. Dalam tiap tahap perubahan perilaku tersebut, kombinasi tadi ikut berperan dan menentukan keberhasilan tiap tahapannya. Mengacu pada buku Public Health 101, akan lebih mudah melihat proses kombinasi dalam merubah perilaku jika dikaitkan dengan contoh langsung. Dalam hal ini yang akan diangkat adalah contoh perilaku individu dalam upaya berhenti merokok. Berikut penjabaran dari tahap perubahan perilaku yang di tiap tahapnya mengkombinasikan peran dari individu, kelompok dan social. 1. Tahap Precontemplation dan Contemplation Pada tahap ini, intervensi individu berfokus pada pendidikan, menilai

kesiapan untuk berubah, dan menawarkan bantuan. Sedangkan target intervensi pada kelompok dan populasi lebih luas dan menciptakan lingkungan yang mendukung individu tersebut untuk tidak merokok, seperti adanya pajak pada rokok dan pembatasan merokok pada tempat umum dan tempat bekerja. 2. Tahap Persiapan Dalam tahap ini individu sudah menentukan target untuk dapat berhenti merokok. Keluarga dan teman juga sangat berperan dalam memberikan dorongan dan dukungan. juga dengan usaha nasional, seperti acara tahunan the American Cancer Society, Great American Smokeout yang mendorong para perokok untuk selamanya berhenti merokok dengan dimulai dari satu hari 3. Tahap Aksi Tahap dari aksi pada dasarnya ada pada individu, namun bagaimanapun harus di dukung dan di dorong oleh keluarga dan kawan, serta diperkuat oleh usaha social seperti asuransi kesehatan yang menyediakan pembiayaaan untuk mendukung grup dan pengobatan. 4. Tahap Pemeliharaan Tahap ini juga mengandalkan pada individual, grup dan populasi/intervensi social. Intervensi individu seringkali berfokus kepada edukasi mengenai masa yang panjang untuk perubahan perilaku dan usaha pemenuhan kebutuhan untuk melindungi dari godaan kembali merokok. Cara pemeliharaan perilaku yang diinginkan membutuhkan dukungan dan dorongan dari kelompoknya. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh tabel tahapan perubahan perilaku pada kasus usaha penghentian perilaku merokok. Stages of change- intervensi individual, grup dan populasi /social untuk merubah perilaku perokok (Public Health, 2009) Stage of Change Individu Grup beresiko Populasi/social Pre Contemplation

Contemplation

Menilai kesiapan untuk berubah dan menawarkan bantuan masa depan

Marketing social membidik grup yang lebih spesifik.

Informasi bahaya dari rokok dan keuntungan dari

Lebih menerima pada marketing social yang terarah

Pembatasan merokok di tempat bekerja

Adanya pajak rokok, pembatasan merokok di tempat umum, label peringatan dalam kemasan rokok Lebih merespon jika ada perubahan harga rokok, pembatasan

berhenti merokok

pada grup tersebut Pembatasan merokok di tempat bekerja

Persiapan

Set target individu dan pembuatan strategi.

Dukungan teman dan keluarga dalam persiapan individu

Usaha National, seperti American Cancer Society National Quit Day

Mengumumkan pada public, seperti keluarga, teman dan rekan kerja

Penanggungan biaya pengobatan dan jika berhenti mendapat asuransi

Dukungan secara kontinyu di tempat bekerja dari rekan kerja dan kelompok sosial

Dukungan secara kontinyu dari marketing social, pajak, dan pembatasan merokok di tempat umum

Obat-obatan mungkin membantu Aksi

Menghilangkan hubungan antara merokok dan kegiatan yang menyenangkan.

merokok di tempat umum, dan label peringatan

Gunakan obat jika diperlukan Pemeliharaan

Edukasi mengenai efek ketagihan jangka panjang dan berpotensi kambuh kembali

Topik 5 ETIKA HUKUM DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

A. Ruang Lingkup Hukum Kesehatan, Kebijakan, dan Etika Hukum kesehatan, kebijakan, dan etika mencerminkan berbagai alat yang digunakan untuk mendorong dan mencegah perilaku oleh individu dan kelompok. Ini berlaku untuk perawatan kesehatan, serta kesehatan masyarakat tradisional. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir bioetika telah ditetapkan, yang meliputi unsur-unsur dari kedua perawatan kesehatan

dan kesehatan masyarakat dan berfokus pada penerapan moral atau nilai-nilai ke daerah-daerah yang potensi konflik. Hukum kesehatan, kebijakan dan etika mempengaruhi berbagai masalah yang kita hadapi dalam kesehatan penduduk. Mereka mengatasi hal seperti akses ke kualitas dan biaya perawatan kesehatan. Mereka juga membahas struktur organisasi dan profesional yang dirancang untuk memberikan perawatan kesehatan. Hukum kesehatan, kebijakan, dan etika juga alat kunci untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat tradisional mulai dari keamanan penggunaan obat, keselamatan lalulintas, kontrol penyakit menular , tidak menular dan penyakit lingkungan. Bioetika terletak di persimpangan hukum kesehatan dan kebijakan dan upaya untuk menerapkan nilai-nilai dan moral individu dan kelompok untuk masalah kontroversi, seperti aborsi, penelitian sel induk, dan kehidupan akhir perawatan. Ruang lingkup hukum kesehatan, kebijakan, dan etika begitu luas. Yang meliputi definisikan prinsip-prinsip kunci dan filosofi yang mendasari pendekatan masyarakat. Kemudian, kita akan fokus pada tiga contoh yang menggambarkan bahwa isu utama dihadapkan pada kesehatan itu, kesehatan masyarakat, dan arena bioetika. Ini adalah: 1. Adakah hak untuk perawatan kesehatan? 2. Bagaimana kesehatan masyarakat menyeimbangkan hak individu dan kebutuhan masyarakat? 3. Bagaimana bisa prinsip bioetika diterapkan pada individu melindungi yang berpartisipasi dalam penelitian? B. Prinsip-Prinsip Hukum Yang Mendasari Kesehatan Masyarakat Dan Pelayanan Kesehatan Dalam rangka untuk lebih mengerti isu kebijakan kesehatan dan hukum, penting untuk memahami beberapa prinsip hukum utama yang mendasari kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan di Amerika Serikat. 1 Pertama, Konstitusi AS merupakan dokumen dasar yang mengatur masalah kesehatan masyarakat dan hukum kesehatan. Namun, Konstitusi AS tidak menyebutkan kesehatan. Sebagai akibatnya, kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan diantara isu-isu yang tersisa terutama untuk otoritas negara kecuali dilimpahkan oleh negara untuk yurisdiksi lokal, seperti kota atau kabupaten. Penggunaan otoritas ini, yang dikenal sebagai kebijakan kekuasaan/kekuatan polisi, memungkinkan negara untuk lulus undang-undang dan mengambil tindakan untuk melindungi kepentingan umum. Kewenangan untuk melindungi kepentingan umum dapat membenarkan berbagai tindakan negara termasuk: Peraturan perawatan kesehatan profesional dan fasilitas; Pembentukan standar kesehatan dan keselamatan di pasaran, serta pengaturan kerja lainnya; dan pengendalian bahaya mulai dari yang membutuhkan

penggunaan sistem pemenjaraan mobil untuk membatasi vaksinasi penjualan produk tembakau.1, 2 Penggunaan kekuasaan polisi negara dibatasi oleh perlindungan yang diberikan kepada individu. Perlindungan ini dikenal sebagai hak dan diciptakan baik melalui Konstitusi Amerika Serikat, melalui konstitusi negara, atau melalui hukum disahkan di tingkat federal atau negara. Konstitusi Amerika Serikat memungkinkan, tetapi tidak memerlukan, pemerintah bertindak untuk melindungi kesehatan masyarakat atau untuk menyediakan layanan kesehatan. Ini telah disebut sebagai konstitusi negatif. Jadi, sementara pemerintah sering memiliki wewenang untuk bertindak, mereka tidak diwajibkan untuk melakukannya. Misalnya, Mahkamah Agung belum ditemukan kewajiban pada bagian dari negara untuk bertindak mencegah kekerasan anak atau suami-istri bahkan ketika negara adalah sepenuhnya menyadari keadaan tertentu atau pengadilan telah digugat perintah penahanan.1 Kedua, perdagangan antarnegara dengan ketentuan perjanjian dari Konstitusi AS adalah sumber utama dari otoritas federal di kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Ini menyediakan pemerintah federal dengan otoritas pajak, belanja, dan mengatur perdagangan antarnegara.2 Otoritas ini telah digunakan untuk membenarkan berbagai keterlibatan federal di pelayanan kesehatan dan kesehatan masyarakat. Otoritas federal yang sering diberikan melalui insentif kepada negara. Misalnya, negara dapat ditawarkan pendanaan federal atau dana yang cocok jika mereka memberlakukan jenis undang-undang tertentu, seperti peraturan yang mengatur Medicaid atau definisi dari tingkat alkohol dalam darah untuk mengemudi di bawah pengaruhnya. Konstitusi AS supremasi klausul menyatakan bahwa undang-undang federal yang sah adalah hukum tertinggi negeri itu, sehingga mendahului atau mengesampingkan hukum negara konflik dengan mereka.a Ketentuan ini telah digunakan oleh pemerintah federal lembaga kesehatan masyarakat, seperti administrasi makanan dan obat dan Badan Perlindungan Lingkungan, untuk membenarkan standar nasional yang menolak dan aturan negara batas dan peraturan mulai dari kontrol kualitas obat-obatan untuk tingkat eksposur diperbolehkan untuk zat beracun.1, 2 Ketiga, Konstitusi AS memberikan hak-hak individu. Beberapa dari mereka, seperti kebebasan berbicara, agama, majelis, dan hak untuk mengangkat senjata, yang eksplisit dalam dokumen. Lainnya telah disimpulkan oleh Mahkamah Agung AS, seperti hak untuk prokreasi, privasi, keutuhan jasmani, dan perjalanan. Hak-hak ini sering disimpulkan untuk dasar perlindungan individu dalam kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan, termasuk hak untuk memanfaatkan kontrasepsi, aborsi, dan membatasi kewenangan negara bagian dan federal untuk menggunakan

karantina dan pembatasan perjalanan lainnya. 1, 2 Kecuali kalau Konstitusi AS secara eksplisit termasuk hak atau satu telah "ditemukan" oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, tidak ada hak terwujud. Namun, legislatif federal dan negara dapat menciptakan hak melalui perundang-undangan mulai dari akses pendidikan untuk mengakses perawatan medis. Adanya hak menyiratkan bahwa pengadilan negara bagian dan / atau federal diharapkan untuk menjunjung dan menegakkan hak.b Hukum kesehatan didasarkan pada aturan-aturan ini mengatur kewenangan pemerintah federal dan negara dan juga hak-hak individu. Hal ini berasal dari empat sumber yang dirangkum dalam Kotak 5-1.1 Dengan demikian, hukum kesehatan mengacu pada susunan yang luas dari masalah hukum yang mempengaruhi banyak dari apa yang terjadi di kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Namun, pengaruh kebijakan kesehatan sering melampaui dari sistem hukum formal. a. Penulis implikasi hukum konstitusi adalah supremasi Konstitusi AS bahkan lebih hukum internasional. Hak asasi manusia dan standar dimasukkan ke dalam dokumen internasional tidak langsung berlaku di Amerika Serikat. Hak-hak ini dan standar hanya berlaku di Amerika Serikat melalui berlakunya undang-undang federal atau negara bagian.1 b. Penegakan diperlukan oleh hukum untuk terjadi berdasarkan proses hukum. Proses karena termasuk proses hukum substantif, yang mengacu pada alasan untuk merampas seorang individu dari kanan, serta proses hukum prosedural, yang mengacu pada proses yang harus dilakukan untuk menghilangkan individu dari hak. Mantan menyiratkan bahwa pemerintah negara bagian dan federal harus membenarkan merampas individu dari kehidupan, kebebasan, dan properti. Ketika hak-hak dasar yang terlibat atau hukum didasarkan pada klasifikasi tersangka, seperti jenis kelamin atau ras, pengadilan berlaku kriteria yang ketat yang menempatkan beban yang sulit bukti pemerintah untuk membenarkan jenis tindakan. Proses hukum prosedural berarti bahwa ketika hak itu ada, pemerintah tidak mungkin menolak individu hak dengan cara sewenang-wenang atau tidak adil. Proses ini membutuhkan bahwa proses hukum dapat diterima harus diikuti sebelum seorang individu dapat dirampas hak. Mahkamah Agung telah dianggap sebagai hak dasar sebagai salah satu yang eksplisit dalam Konstitusi AS, yang telah "ditemukan" dalam Konstitusi AS oleh Mahkamah Agung, atau yang berakar pada sejarah dan tradisi bangsa.1, 2 Tabel 5-1 Komponen Hukum Kesehatan, Kebijakan, dan Etika Komponen Cakupan Contoh Masalah Perawatan Kesehatan

Akses, kualitas, dan biaya

Aturanyang mengatur

perawatan kesehatan Struktur organisasi dan profesional untuk pemberian perawatan

Medicare dan Medicaid, serta hukum yang mengatur asuransi swasta Pemerintahan rumah sakit dan lisensi profesional

Kesehatan Masyarakat

Kesehatan penduduk dan keselamatan, termasuk upaya pemerintah untuk memberikan layanan kepada seluruh populasi, serta kelompok rentan

Hukumdan prosedur makanan dan obat, hukum dan prosedur lingkungan, peraturan untuk pengendalian penyakit menular

Bioetika

Penerapannilai-nilai dan moral individu dan kelompok untuk daerah kontroversial

Akhir hidup perawatan, penelitian sel induk, aborsi, perlindungan subjek penelitian

C. Kebijakan Kesehatan dan Contohnya Dalam batasan yang ditetapkan oleh undang-undang, ada lintang besar bagi pemerintah, serta kelompok-kelompok swasta, untuk mengembangkan kebijakan yang mempengaruhi cara-cara yang kesehatan masyarakat dan perawatan kesehatan lakukan. Kebijakan kesehatan adalah bagian dari arena yang lebih besar dari kebijakan publik. Menurut Teitelbaum dan Wilensky, "ketika memutuskan apakah sesuatu adalah keputusan kebijakan publik, focus tidak hanya pada siapa yang membuat keputusan, tetapi juga pada jenis keputusan yang dibuat. "Mereka mendefinisikan individu atau kelompok yang membuat kebijakan public berdasarkan pada kemampuan individu atau kelompok untuk membuat keputusan otoritatif. Keputusan otoritatif adalah keputusan yang dibuat oleh individu atau kelompok yang memiliki kekuatan untuk melaksanakan keputusan tersebut. Berbagai kelompok pemerintah dan swasta membuat keputusan kebijakan publik di bidang-bidang seperti merokok. Dalam pemerintahan, keputusan otoritatif mungkin dibuat oleh pejabat eksekutif, seperti presiden atau gubernur, atau pejabat administrasi, seperti federal, Negara bagian, atau petugas kesehatan setempat. Ini bias berkisar dari kebijakan-kebijakan yang mencegah tumbuhnya tembakau kebijakan yang mendorong penjualan produk tembakau luar negeri dengan kebijakan yang membatasi merokok di tempat umum atau penjualan tembakau pajak. Kebijakan ini mungkin atau mungkin tidak dimasukkan ke dalam undang-undang atau ketetapan. Kadang-kadang, kebijakan kesehatan dapat dilakukan oleh kelompokkelompok swasta, termasuk masyarakat profesional, seperti Amerika Public

Health Association, atau asosiasi perdagangan komersial mewakili rumah sakit, industri obat, industri asuransi, dll. Kebijakan yang mempengaruhi banyak orang, seperti sebagai orang-orang yang membatasi merokok di rumah sakit, mendorong dokter untuk menggabungkan program pencegahan dan penghentian merokok, kompensasi upaya dokter melalui asuransi, dan mendorong pengembangan obat baru untuk membantu berhenti merokok, semua contoh kebijakan kesehatan yang mungkin diatur oleh kelompokkelompok di luar pemerintah. Dengan demikian, "publik" dalam kebijakan public tidak selalu berarti bahwa kebijakan dikembangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah. Menurut Teitelbaum dan Wilensky, selain menjadi autoritatif, keputusan kebijakan publik harus menjadi salah satu yang "berjalan dengan luar lingkup individu dan mempengaruhi masyarakat yang lebih besar. "Keputusan untuk mencari vaksinasi atau pemutaran, merokok rokok di rumah, atau untuk membeli jenis tertentu dari asuransi kesehatan adalah keputusan individu. Isuisu kebijakan public berkisar insentif atau persyaratan untuk mendorong atau mencegah tindakan ini oleh kelompok-kelompok individu atau masyarakat secara keseluruhan. Kebijakan kesehatan sering bersandar pada sikap atau filsafat yang kelompok mengambil ke arah peran bahwa berbagai jenis lembaga harus bermain di kesehatan masyarakat dan perawatan kesehatan. Secara khusus, peran yang tepat dari pemerintah sering merupakan subjek yang kontroversial. D. Karakteristik dari Market Justice dan Social Justice dan Implikasi dari Market Justice dan Social Justice Terdapat perbedaan mendasar dalam masyarakat yang berpengaruh dalam memajukan kesehatan, yaitu antara peran pemerintah dan pasar ekonomi. Kedua perbedaan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakteristik berarti ciri-ciri khusus, mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Sedangkan implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat. Menurut buku Public Health 101, 2009, berikut merupakan karakteristik dan implikasi dari market justice dan social justice.

Market Justice

Karakteristik Social Justice

Kesehatan dipandang sebagai barang ekonomi

Kesehatan dipandang sebagai sumber daya sosial

Mengasumsikan pasar bebas sebagai pemberian pelayanan kesehatan

Membutuhkan peran aktif pemerintah dalam pemberian pelayanan kesehatan

Mengasumsikan bahwa pasar lebih efisien dalam mengalokasikan sumber daya secara adil

Mengasumsikan bahwa pemerintah lebih efisien dalam mengalokasikan sumber daya kesehatan secara adil

Produksi dan distribusi pelayanan kesehatan ditentukan oleh permintaan pasar

Alokasi sumber daya medis ditentukan oleh perencanaan pusat

Distribusi perawatan medis berdasarkan kemampuan orang untuk membayar

Kemampuan orang untuk membayar tidak ada hubungannya dengan perwatan medis

Akses keperawatan medis dipandang sebagai penghargaan ekonomi untuk prestasi dan usaha pribadi

Akses ke pelayanan medis dipandang sebagai hak dasar

Implikasi Market Justice Social Justice Kesehatan tanggung jawab individu Kesehatan tanggung jawab bersama Manfaat berdasarkan daya beli individu

Setiap orang berhak atas paket pelayanan dasar

Kewajiban yang terbatas untuk kepentingan bersama

Kewajiban yang kuat untuk kepentingan bersama

Penekanan pada kesejahteraan individu

Kesejahteraan masyarakat menggantikan kesejahteraan individu

Solusi pribadi untuk masalah sosial

Solusipublikuntukmasalahsosial

Penjatahan berdasarkan kemampuan membayar

Perencanaan penjatahan oleh pelayanan kesehatan

E. Filosofi Peran Pemerintah dalam Mempengaruhi Kebijakan Kesehatan Ada 2 filsafat mengenai peran pemerintah dalam perawatan kesehatan dan kesehatan masyarakat yaitu keadilan sosial (social justice) dan keadilan pasar (market justice). Pendekatan social justice dan market justice berguna untuk memahami struktur sistem kesehatan. Karateristik Social Justice dan Market Justice Market justice

Social justice

Melihat health care sebagai sebuah barang ekonomi

Melihat health care sebagai sumber daya sosial

Menganggap kondisi pasar bebas

Membutuhkan keterlibatan/ peran

untuk/sebagai pengiriman layanan kesehatan

aktif pemerintah dalam pemberian layanan kesehatan

Berasumsi bahawa pasar lebih efisien dalam mengalokasikan sumber daya secara adil

Berasumsi bahwa pemerintah lebih efisien dalam mengalokasikan sumber daya kesehatan secara adil

Produksi dan distribusi dari health care ditentukan oleh permintaan pasar

Alokasi sumber daya medis ditentukan oleh rencana/anggaran pusat Kemampuan seseorang untuk membayar tidak selalu konsekuen untuk memerima perawatan medis akses yang sama kelayanan medis dipandang sebagai hak dasar

Distribusi perawatan medis didasarkan pada kemampuan orang untuk membayar Akses untuk ke medical care dipandang sebagai imbalan ekonomi untuk usaha pribadi dan sebagai prestasi

Implikasi Dari Market Justice Dan Social Justice Market Justice

Social Justice

Respon individu terhadap kesehatan

Tanggung jawab kolektif untuk kesehatan

Keuntungan/kemanfaatan berdasarkan pada kekuatan pembelian individu

Setiap orang berhak mendapatkan paket pelayan dasar

Kewajiban terbatas untuk barang kolektif

Kewajiban yang kuat terhadap barang kolektif

Penekanan pada kesejahteraan individu

Kesejahteraan masyarakat menggantikan kesejahteraan individu

Solusi pribadi untuk masalah-masalah sosial

Solusi masyarakat untuk masalah-masalah sosial

Pembagian berdasarkan kemampuan membayar

Pembagian rencana dari health care

F. Hak Untuk Pelayanan Kesehatan Pada tahun 1948 hukum hak asasi manusia internasional menetapkan dua aturan yang berhubungan dengan kesehatan yaitu pertama perlindungan terhadap kesehatan masyarakat yang secara sah membatasi hak asasi manusia

dan kedua yaitu hak kesehatan individu serta kewajiban pemerintah untuk memberikannya. Pada bagian pertama lebih mengarah kepada pubic health care yang pengaturannya masih dalam perkembangan sedangkan dalam menentukan kewajiban yang mempunyai kaitan dengan hak dasar manusia atas kesehatan, diprioritaskan pada aturan-aturan untuk kesehatan masyarakat (Katarina T 2001). Pengaturan tentang hak atas kesehatan dalam sejumlah instrumen hukum dapat dilihat dalam pasal 25(1) Universal Declaration of Human Rights, yaitu : “everyone has the right to a standard of living adequate for health of himself and of his family, including food, clothing, housing and medical care and necessary social service”. Hak atas kesehatan sangat mendasar bagi tiap individu dalam hal melaksanakan hak asasinya yang lain termasuk dalam pencapaian standar hidup yang memadai. Mata rantai dari Universal Declaration of Human Right adalah: a) The right to health care b) The right to information c) The right to self determination a) The right to health care Hak atas kesehatan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas, tidak hanya menyangkut masalah individu, tetapi meliputi semua faktor yang memberi kontribusi terhadap hidup yang terhadap individu, seperti masalah lingkungan, nutrisi, perumahan, dan lain-lain. Sementara hak atas pelayanan kesehatan dan hak atas pelayanan kedokteran, merupakan hak-hak pasien yang lebih spesifik dari hak atas kesehatan. Di negara-negara maju yang mempunyai sistem kesehatan yang sudah mapan the right to health care tidak menjadi masalah besar dalam pemenuhannya, terutama bagi beberapa negara Eropa yang sudah mewajibkan asuransi kesehatan bagi setiap penduduknya, lain halnya dengan negara yang sedang berkembang, karena ternyata di Amerika hal ini masih menjadi persoalan karena sampai sekarang lebih dari 40 juta penduduk Amerika tidak mempunyai asuransi kesehatan. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia sebenaranya telah memiliki peraturan tentang hak pelayanan kesehatan. Tetapi, pada kenyataannya hak tersebut belum sepenuhnya tercapai. Karena dalam pelaksanaannya banyak terjadi pelayanan kesehatan yang buruk akibat pergeseran orientasi yang terjadi disarana pelayanan kesehatan. Maksudnya ialah, pada mulanya sarana pelayanan berorientasi kepada upaya memberikan yang terbaik bagi kepentingan pasien, tapi sekarang bergeser kepada orientasi bisnis. Dengan demikian

menurut (Riegelman 2009), umumnya hak untuk pelayanan kesehatan di AS belum didirikan.Sebagai negara bagian dan federal perjuangan, pemerintah memiliki permasalahan dalam hal memberikan pelayanan kesehatan bagi semua orang dan hak untuk pelayanan kesehatan. b) The right to information dan The right to self determination Hak untuk mendapatkan informasi dan hak untuk menentukan nasib dirinya sendiri, kedua hak tersebut tidak dapat dipisahkan karena hak untuk mendapatkan informasi contohnya dari pelaksanaan informed consent pasien berkepentingan untuk menentukan sendiri apa yang akan dilakukan pada tubuhnya. Hak tersebut memeberikan kewenangan untuk melakukan sesuatu atau bahkan tidak melakukan sesuatu, sehingga pasien memiliki kebebasan untuk menggunakan haknya tersebut (Veronika DK 1989)

Topik 6 PENYAKIT TIDAK MENULAR

A. Definisi dan Dampak Penyakit Tidak Menular Penyakit tidak menular adalah penyakit yang terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent). Penyakit tidak menular biasa disebut juga dengan penyakit kronik, penyakit non-infeksi, new communicable disease, dan penyakit degeneratif. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2005 penyakit tidak menular menyebabkan 58 juta kematian di dunia, meliputi penyakit jantung dan pembuluh darah (30%), penyakit pernafasan kronik dan penyakit kronik lainnya (16%), kanker (13%), cedera (9%) dan diabetes melitus (2%). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya, keberadaan faktor risiko penyakit tidak menular pada seseorang tidak memberikan gejala sehingga mereka tidak merasa perlu mengatasi faktor risiko dan mengubah gaya hidupnya. Faktor risiko tersebut adalah suatu kondisi yang secara potensial berbahaya dan dapat memicu terjadinya penyakit tidak menular pada seseorang atau kelompok tertentu. Faktor risiko yang dimaksud antara lain kurang aktivitas fisik, diet yang tidak sehat dan tidak seimbang, merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan perilaku yang berkaitan dengan kecelakaan dan cedera, misalnya perilaku berlalu lintas yang tidak benar.

Menurut (Riegelman 2009) terdapat berbagai bentuk mengatasi penyakit tidak menular melalui beberapa pendekatan yaitu preventif, kuratif, dan rehabilitative. Berikut adalah beberapa strategi dasar yang digunakan sebagai bentuk dari pendekatan yang telah disebutkan :  Skrining untuk deteksi dini dan pengobatan penyakit  Beberapa intervensi faktor risiko  Identifikasi biaya pengobatan yang efektif  Konseling genetik dan intervensi  Penelitian Faktor resiko penyakit tidak menular dapat diminimalisir dengan dilakukannya upaa promosi dan pencegahan penyakit tidak menular pada kalangan teetentu yaitu masyarakat yang masih sehat , masyarakat yang beresiko, masyarakat yang berpenyakit dan masyarakat yang menderita kecacatan sehingga memerlukan rehabilitasi (Samsudrajat 2011). B. Transisi Epidemiologi Transisi epidemiologi adalag suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya. Penelitian Rosanti (2012) juga menjelaskan bahwa hadirnya gaya hidup tidak sehat pada masa anak-anak dan remaja dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka di masa yang akan datang, salah satunya adalah meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular. Selain gaya hidup transisi epidemiologi juga disebabkan perubahan demografi akibat adanya urbanisasi, industrialisasi, meningkatnya pendapatan, tingkat pendidikan, teknologi kesehatan dan kedokteran di masyarakat. Hal ini akan berdampak pada terjadinya transisi epidemiologi yaitu perubahan pola kematian yaitu akibat infeksi, angka fertilitas total,umur harapan hidup penduduk dan meningkatnya penyakit tidak menular atau penyakit kronik. Transisi epidemiologi ini berhubungan dengan transisi mortalitas dari angka kematian yang tinggi ke angka kematian yang rendah dan umumnya disertai dengan transisi epidemiologi, yaitu bergesernya jenis penyakit penyebab kematian. Penyakit menular merupakan penyebab kematian paling banyak pada saat angka kematian masih tinggi yang pengobatanya biasanya hanya memerlukan teknologi kedokteran yang relatif sederhana dalam ukuran zaman sekarang. Contoh penyakit tersebut adalah tubercoluse dan diare. Namun, ketika angka

kematian sudah rendah penyebab kematian tidak lagi disebabkan karena penyakit Infeksi, tetapi lebih disebabkan oleh penyakit degeneratif yaitu penyakit yang berhubungan dengan penurunan fungsi organ tubuh karena proses penuaan, seperti penyakit jantung, kanker dan tekanan darah tinggi. C. Burden of Disease (Beban Penyakit Tidak Menular) Beserta Contoh dan Data Terkait Penyakit tidak menular (PTM) sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global, regional,nasional dan lokal. Global status report on NCD World Health Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena PTM. Di negaranegara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13% kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari 70 tahun. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Di Indonesia transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Dalam kurun waktu 20 tahun (SKRT 1980–2001), proporsi kematian penyakit infeksi menurun secara signifikan, namun proporsi kematian karena penyakit degeneratif (jantung dan pembuluh darah, neoplasma, endokrin) meningkat 2–3 kali lipat. Penyakit stroke dan hipertensi di sebagian besar rumah sakit cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan selalu menempati urutan teratas. Dalam jangka panjang, prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan akan semakin bertambah. Direktorat Jendral P2PL mengelompokkan prioritas PTM pada tahun 2009 dan 2010 al; Hipertensi, Jantung dan Diabetes. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi. Menurut Khancit, pada 2011 WHO mencatat ada satu miliar orang yang terkena hipertensi. Di Indonesia, angka penderita hipertensi mencapai 32 persen pada 2008 dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7 persen, sedangkan 39,2 persen adalah wanita. Pada tahun 2005, secara global diestimasikan 17,5 juta penduduk meninggal karena Penyakit Jantung Pembuluh Darah (PJPD),dan 7,6 juta disebabkan serangan jantung. Penyakit (Diabetes Melitus) DM merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatankarena dapat menimbulkan kebutaan, gagal ginjal,

kaki diabetes (gangrene) sehingga harus diamputasi, penyakit jantung dan stroke. DM menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4 persenmeninggal sebelum usia 70 tahun. Pada Tahun 2030 diperkirakan DM menempati urutan ke-7 penyebab kematian dunia. Sedangkan untuk di Indonesia diperkirakan pada tahun 2030 akan memiliki penyandang DM (diabetis) sebanyak 21,3 juta jiwa. D. Strategi Pokok Untuk Mengendalikan Penyakit Tidak Menular Strategi dasar yang digunakan yang merupakan bagian dari pendekatan kesehatan penduduk yaitu: 1. Skrining untuk deteksi dini dan pengobatan penyakit 2. Beberapa intervensi faktor risiko 3. Identifikasi biaya perawatan yang efektif 4. Genetika konseling dan intervensi 5. Penelitian E. Strategi Screening Dalam Pengendalian Penyakit Tidak Menular Skrining untuk penyakit menyiratkan penggunaan tes pada individu yang tidak memiliki gejala penyakit tertentu. Orang-orang ini tidak menunjukkan gejala. Ini berarti bahwa ia tidak memiliki gejala yang berhubungan dengan penyakit. Dia mungkin memiliki gejala penyakit lainnya. Skrining untuk penyakit dapat mengakibatkan deteksi penyakit pada tahap awal, dan terdapat asumsi bahwa deteksi dini akan memungkinkan untuk pengobatan yang meningkatkan hasil. Skrining telah mampu mengurangi cacat dan / atau kematian. Tidak semua penyakit tidak menular, bagaimanapun, baik untuk dilakukan skrining dan dalam beberapa kasus program skrining masih harus dirancang dan dipelajari untuk beberapa penyakit tidak menular agar deteksi dini dapat berguna. Tes skrining yang benar-benar memenuhi kriteria yang ideal adalah sedikit dan banyak lagi yang berhasil digunakan meskipun tidak memenuhi semua kriteria tersebut. Skrining mungkin masih berguna selama kita menyadari keterbatasan didalamnya dan bersedia menerima masalah yang inheren. F. Contoh Tes Screening Pada Penyakit Tidak Menular dan Kriteria Idealnya Skrining telah berhasil untuk berbagai penyakit tidak menular termasuk kanker payudara dan kanker usus besar, serta kondisi masa, termasuk penglihatan dan pendengaran gangguan.Empat kriteria harus dipenuhi untuk program skrining yang ideal. Sementara itu, jika ada, kondisi kesehatan benar-benar memenuhi semua empat persyaratan, kriteria ini memberikan standar untuk menilai potensi program skrining. Kriteria ini adalah:

1. 2. 3. 4.

Penyakit menghasilkan kematian substansial dan / atau cacat. Deteksi dini adalah mungkin dan meningkatkan hasil. Ada strategi pengujian layak untuk skrining. Screening diterima dalam hal kerugian, biaya dan penerimaan pasien.

Kriteria pertama adalah mungkin yang paling mudah untuk mengevaluasi. Kondisi, seperti kanker payudara dan kanker usus besar, mengakibatkan tingkat kematian dan kecacatan yang cukup besar. Kanker payudara adalah kanker paling umum kedua dalam hal penyebab kematian dan penyebab kanker terkait yang paling umum pada wanita di usia 50 tahunan. Kanker usus besar adalah salah satu penyebab paling umum kematian kanker baik pada pria maupun wanita. Kondisi masa kanak-kanak, seperti gangguan pendengaran dan gangguan penglihatan, tidak selalu jelas, namun mereka menyebabkan kecacatan yang cukup. Menentukan apakah deteksi dini mungkin dan akan meningkatkan hasil tidak selalu mudah. Skrining dapat mengakibatkan deteksi dini, tetapi jika pengobatan yang efektif tidak tersedia mungkin hanya memperingatkan dokter dan pasien untuk penyakit pada titik sebelumnya dalam waktu tanpa menawarkan harapan hasil perbaikan. Skrining merokok untuk kanker paruparu menggunakan sinar-X akan tampak wajar karena kanker paru-paru adalah kanker pembunuh nomor satu dari laki-laki dan perempuan. Namun, skrining X-ray dari perokok telah menguntungkan hanya dalam hal deteksi dini. Pada kanker paru-paru waktu dapat dilihat melalui sinar-X dada, itu sudah terlambat untuk menyembuhkan. Deteksi awal ini tanpa meningkatkan hasil disebut lead-time Bias. Seperti yang ditunjukkan dalam kriteria ketiga, dalam rangka melaksanakan program skrining yang sukses, harus ada strategi pengujian layak. Hal ini biasanya memerlukan identifikasi populasi berisiko tinggi. Hal ini juga memerlukan strategi untuk menggunakan dua atau lebih tes untuk membedakan apa yang disebut positif palsu dan negatif palsu dari orangorang yang benar-benar memiliki dan tidak memiliki penyakit. Positif palsu adalah individu yang memiliki hasil positif pada tes skrining tetapi ternyata tidak memiliki penyakit. Demikian pula, negatif palsu adalah mereka yang memiliki hasil negatif pada tes skrining tapi ternyata memiliki penyakit. Misalnya, mamografi memiliki sejumlah besar negatif palsu. Seorang wanita berusia 50 tahun dengan mamografi positif memiliki hanya sekitar kesempatan 10 sampai 15 persen memiliki kanker payudara. Artinya, sebagian besar hasil positif awal akan berubah menjadi positif palsu. Oleh karena itu, skrining untuk penyakit seperti kanker payudara hampir selalu membutuhkan dua atau lebih tes. Tes ini perlu dikombinasikan dengan strategi pengujian. Strategi pengujian yang paling umum digunakan disebut pengujian berurutan atau dua tahap pengujian. Pendekatan ini menyiratkan

bahwa tes skrining awal diikuti oleh satu atau lebih tes definitif atau diagnostik. Akhirnya tes skrining yang ideal harus diterima dalam hal kerugian, biaya dan penerimaan pasien. Bahaya yang harus dinilai dengan melihat seluruh strategi pengujian tidak hanya tes awal. Pemeriksaan fisik, tes darah, dan tes urine sering digunakan sebagai tes awal. Tes ini hampir tidak berbahaya. Penerimaan pasien adalah kunci untuk keberhasilan skrining. Banyak masalah kecil strategi skrining hadir dengan penerimaan pasien. Namun, skrining kanker usus besar telah memiliki tantangan dengan penerimaan kesabaran karena banyak menganggapnya prosedur invasif dan tidak nyaman. Jauh lebih sedikit dari setengah orang-orang yang memenuhi syarat untuk screening berdasarkan rekomendasi saat ini sedang mengejar dan menerima skrining kanker usus. Hal ini bertentangan secara dramatis dengan mamografi di mana sebagian besar sekarang menerima skrining yang dianjurkan. G. Strategi Identifikasi dan Intervensi pada Faktor Resiko dalam Pengendalian Penyakit Tidak Menular Identifikasi faktor resiko berpengaruh terhadap hasil atau outcome yang dihasilkan. Pengelompokan beberapa faktor resiko menjadi kelas-kelas tertentu dapat memudahkan dalam menentukan penyakit yang akan timbul, dan golongan yang lebih mudah terserang/rentan terhadap penyakit tersebut sekaligus dapat digunakan dalam rencana intervensi penyakit. Dan hal ini juga memudahkan identifikasi dan pengendalian penyakit saat ada 2 atau lebih faktor resiko yang muncul sehingga dapat memperkirakan dampak lebih besar yang akan timbul. Dari identifikasi dan pengelompokan faktor resiko dapat diambil beberapa strategi intervensi yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit yaitu : 1. Substansi mortalitas dan morbiditas : seberapa suatu faktor resiko tersebut dapat menyebabkan kesakitan ataupun kematian 2. Early detection possible and alter outcome : memungkinkan deteksi dini/awal suatu penyakit sehingga dapat mengurangi/ mengubah hasil ataupun tingkat resiko dari suatu penyakit. 3. Screaning is feasible (can identify a high risk population and a testinng strategy) : menentukan Screaning/ pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan mudah yang dapat mengidentifikasi populasi berisiko tinggi dan strategi pengujian intervensi. 4. Screening acceptable in terms of harms, costs, and patien acceptance : dapat menentukan pemeriksaan yang dapat diterima oleh pasien dalam hal kerugian, dan keuntungan bagi pasien tersebut bila melakukan screening. H. Intervensi Cost Effective Dalam Mengendalikan Penyakit Tidak Menular

Intervensi cost effective merupakan konsep yang menggabungkan manfaat dan kerugian dengan pengeluaran biaya. Hal ini mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang akan diterima dari intervensi/tindakan yang akan diambil untuk memutuskan apakah suatu tindakan tersebut memiliki efektifitas (net-effectiveness). Net-effectiveness mengartikan bahwa keuntungan/manfaat pasti lebih baik daripada kerugian bahkan lebih baik daripada nilai/kegunaan suatu intervensi. Cost-effective merupakan kondep yang mempertimbangkan aspek biaya dan konsekuensi dari sebuah alternatif pemecahan masalah. Ini adalah sebuah alat bantu pembuat keputusan yang dirancang agar pembuat keputusan mengetahui dengan pasti alternatif pemecahan mana yang paling efisien dan dengan biaya yang minimum. Hasil dari Cost-effective analysis telah memiliki dampak pada sejumlah prosedur klinis seperti pengobatan dirumah/home health care. Upaya ini termasuk kedalam cost effective dalam prosedur health care rutin yang menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat/keuntungan dari penghematan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan kesehatan. Dengan menerapkan cost effective dalam intervensi rutin dan dengan usaha2 dapat memperkiraakan dengan lebih baik penyakit yang akan timbul dan pengobatan atau perawatan apa yang harus dilakukan.Cost-effective analysis dapat meningkatkan kemampuan untuk memprediksi penyakit dan perencanaan intervensi sehingga dapat membantu kita dalam mengetahui kapan , bagaimana , dan intervensi apa yang harus dilakukan. Sehingga hal ini dapat mengurangi biaya perawatan karena dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pasien. Jadi pasien yang memiliki masalah kesehatan/penyakit dapat terus melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhannya tanpa harus menghabiskan banyak uang. Dengan pengobatan atau pemeriksaan yang efektif dan murah maka akan banyak dari masyarakat yang akan secara rutin melakukan medical check up sehingga faktor resiko mereka dapat diketahui secara dini dan dapat ditangani secara dini pula. Hal ini sangat memudahkan dalam pendataan dan pengendalian penyakit menular karena faktor resiko dapat diketahui lebih awal, siapa kelompok yang rentan, dan efek yang ditimbulkan dari faktor resiko tersebut sehingga dapat segera dilakukan intervensi untuk mengurangi/mencegah terjadinya penyakit akibat factor resiko tersebut. I. Konseling dan Intervensi Genetik Dalam Mengendalikan Penyakit Tidak Menular Sebagai calon orangtua, yang mana akan melakukan proses reproduksi tentunya memiliki berbagai macam harapan kelak untuk keturunannya. Harapan memiliki anak yang normal lazim dimiliki setiap pasangan, namun

terkadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Berbagai penyakit tidak menular seperti down syndrome bisa saja menjangkiti anak keturunan kita. Maka dari itu kepada para orang tua yang berpotensi memiliki keturunan penyakit tersebut ada baiknya dilakukan deteksi dini. Penyakit down syndrome ini juga dapat dideteksi pada awal kehamilan. Dalam hal ini konseling dapat dilakukan kepada calon pasangan atau calon ibu dalam pemeriksaan prenatal. Test down syndrome ini seharusnya merupakan pemeriksaan standar prenatal, namun pada kenyataannya di banyak negara besar tes ini dilakukan setelah kelahiran. Padahal jika pemeriksaan pada awal kehamilan, dapat meminimalisir dampak dari penyakit down syndrome tersebut pada anak. Pada penemuan besar proyek genom manusia pada tahun-tahun awal di abad 21 telah memicu minat dalam memperluas penerapan intervensi genetik dalam bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat. Misalnya, gen untuk cystic fibrostik, kelainan yang paling umum di antara orang kulit putih di Amerika telah diidentifikasi dan memungkinkan untuk dilakukannya skrining pasangan dalam jumlah besar. Bahkan diantara kulit putih tanpa riwayat cystic fibrostik, kesempatan membawa gen adalah tiga persen. Jika ayah dan ibu keduanya merupakan gen pembawa, peluang untuk memiliki anak dengan cystic fibrostik adalah 25 persen dalam setiap kehamilan. Saat ini ada beberapa perkembangan genetika yang diketahui 1. Pencegahan genetik. pendekatan ini menggabungkan upaya untuk mencegah terjadinya gen tunggal atau kombinasi gen ganda yang mungkin untuk menghasilkan penyakit. ini meliputi: perluasan penggunaan konseling genetik, pengujian prenatal, dan aborsi awal atau terapi janin 2. Deteksi genetik sebelum penyakit. Pendekatan ini termasuk upaya yang bertujuan untuk mendeteksi cacat genetik dan pelaksanaan intervensi dini untuk mencegah apa yang disebut ekspresi fenotipik gen 3. Perlindungan lingkungan. Pengujian genetik memungkinkan untuk mendefinisikan kombinasi gen yang mengidentifikasi individu untuk mengembangkan penyakit ketika mereka mengalami paparan lingkungan tertentu, seperti interaksi yang terjadi dalam pengaturan kerja dimana para pekerja terpapar bahan kimia tertentu sering pada dosis rendah. identifikasi interaksi gen-lingkungan dapat menyebabkan identifikasi mereka yang berisiko tinggi jika mereka bekerja dalam pengaturan kerja tertentu. 4. Skrining berbasis genotipe untuk penyakit awal. Kombinasi gen dapat mengidentifikasi kelompok yang beresiko tinggi penyakit umum dan yang dapat ditargetkan untuk melakukan skrining. misalnya, studi menunjukkan bahwa untuk kanker umum tertentu, misalnya yang dari payudara, prostat, dan usus besar, faktor genetik yang terkait dengan 30-40 persen dari penyakit ini. Pencarian pola genetik predisposisi awal kehidupan mungkin

berguna untuk mengidentifikasi mereka yang membutuhkan sebelumnya atau skrining yang lebih intensif untuk deteksi dini. Akan lebih baik jika kita melakukan screening dan deteksi dini agar penyakit yang akan terjadi tidak berdampak terlalu buruk bagi kesehatan. J. Tindakan yang Harus Dilakukan Ketika Tidak Ada atau Belum Ada Intervensi yang Efektif untuk PEngendalian Suatu Penyakit Tidak Menular Dalam melihat pengendalian suatu penyakit tidak menular kita dapat menggunakan contoh penyakit Alzeimer. Penyakit ini mencerminkan tantangan apa yang harus dilakukan ketika penyebab penyakit tidak diketahui dan pengobatan tidak sangat efektif. Alzheimer adalah salah satu kondisi yang meningkat dengan cepat di antara mereka yang kita golongkan sebagai penyakit tidak menular. Penuaan penduduk berhubungan dengan penyakit alzeimer dan mempengaruhi kualitas hidup dengan mempengaruhi daya ingat, terutama memori jangka pendek. Untuk pengobatan kasus ini, obat yang efektif mungkin berfungsi untuk meredakan gejala. Selain itu dapat pula melatih fikiran dan menstimulusnya agar tetap bekerja dan terlatih. Usaha kesehatan populasi juga memungkinkan para penderita untuk berkarya secara mandiri dan mungkin diberikan pendampingan secara berkala. Pendekatan kesehatan penduduk untuk penderita alzeimer juga menekankan perlunya penelitian tambahan. Pendekatan kesehatan penduduk bagaimanapun juga perlu mengakui kebutuhan dasar pemahaman biological yang menyebabkan alzeimer. Dengan demikian, pendekatan kesehatan populasi untuk penderita alzeimer dan penyakit lain yang tidak diketahui penyebabnya, membuat kita bertanya pertanyaan mendasar tentang biological penyakit tersebut dan mempelajari penyebabnya. Untungnya, kemajuan yang mutakhir dan usaha financial yang baik memungkinkan untuk memahami penyebab alzeimer. Strategi kesehatan populasi untuk mengatasi penyakit tidak menular antara lain screening, factor resiko keturunan, biaya pengobatan yang efektif, konseling genetic, dan penelitian lebih lanjut.

K. Contoh Penggunaan Kombinasi Strategi Dalam Pengendalian Penyakit Tidak Menular Berbagai intervensi yang menggabungkan perawatan kesehatan, pendekatan kesehatan masyarakat tradisional, dan intervensi sosial sering diperlukan untuk mengatasi masalah yang kompleks yang disajikan oleh penyakit tidak menular. Kombinasi dan integrasi penggunaan beberapa intervensi merupakan pusat pendekatan kesehatan penduduk.

Contoh penggunaan kombinasi strategi dalam penyakit tidak menular: Penyalahgunaan Alkohol dan Pendekatan Kesehatan Penduduk. Alkohol telah menjadi fitur kontrol masyarakat Amerika dan obat-obatan dalam kesehatan masyarakat sejak awal negara. Alkohol masuk obat penghilang rasa sakit yang paling awal dan digunakan secara rutin untuk memungkinkan ahli bedah untuk melakukan amputasi selama Perang Sipil dan konflik sebelumnya. Upaya untuk mengontrol konsekuensi alkohol mengambil arah baru setelah Perang Dunia II. Amerika mulai fokus pada konsekuensi dari penyakit, termasuk penyakit hati, sindrom alkohol janin, kecelakaan mobil, dan kekerasan disengaja dan tidak disengaja. Intervensi kesehatan penduduk menjadi fokus upaya pengendalian alkohol. Misalnya, perpajakan alkohol berdasarkan peraturan perundang-undangan 1950 menaikkan harga alkohol cukup untuk secara substansial mengurangi konsumsi. Pembatasan iklan dan lebih tinggi pajak atas minuman keras dengan kadar alkohol yang lebih besar akhirnya berkontribusi penggunaan lebih besar bir dan anggur. Meskipun konsumsi alkohol terus bertambah, jumlah kasus penyakit hati dan masalah kesehatan yang berhubungan dengan alkohol lainnya telah menurun. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk mengingatkan ibu hamil kepada efek kesehatan minum alkohol melalui pelabelan produk dan upaya komunikasi kesehatan lainnya memiliki dampak. Dampak keselamatan jalan raya dari penggunaan alkohol menyebabkan upaya kesehatan penduduk bekerjasama dengan departemen transportasi dan polisi. Sangat meningkat upaya polisi untuk menangkap pengemudi mabuk dan pengupasan penyalahgunaan kebebasan dari penjahat kambuhan telah menjadi rutinitas dan telah dikaitkan dengan pengurangan mengesankan dalam kecelakaan otomotif yang berhubungan dengan alkohol. Upaya seperti gerakan pengemudi yang dirancang berasal dari Mothers Against Drunk Driver (MADD) telah menunjukkan peran yang sering kritis dimana warga negara dapat bermain dalam melaksanakan intervensi kesehatan penduduk. Fokus di kelompok berisiko tinggi, serta menggunakan strategi “improving-the-average”, telah memiliki dampak penting. Alcoholics Anonymous (AA) dan kelompok dukungan sebaya lainnya telah berfokus pada mendorong individu untuk mengakui masalah alkohol mereka. Kelompok-kelompok ini sering memberikan dorongan penting dan dukungan untuk pantang jangka panjang. Upaya medis untuk mengendalikan konsumsi alkohol telah ditujukan terutama pada mereka dengan bukti yang jelas dari penyalahgunaan alkohol. Obat yang tersedia yang memberikan bantuan sederhana dalam mengendalikan konsumsi alkohol individu. Skrining untuk penyalahgunaan alkohol telah menjadi bagian luas dari perawatan kesehatan. Intervensi ini telah ditujukan untuk orang-orang dengan tingkat tertinggi risiko. Kombinasi

individu, kelompok, dan intervensi populasi telah mengurangi dampak keseluruhan dari penggunaan alkohol tanpa memerlukan masa larangan minuman keras. Bahkan, tingkat sederhana konsumsi, hingga satu minuman per hari untuk wanita dan dua untuk pria, dapat membantu melindungi terhadap penyakit arteri koroner. Isu alkohol dan kesehatan masyarakat belum hilang. Fokus hari ini telah kembali ke mengidentifikasi kelompok berisiko tinggi dan intervensi untuk mencegah hasil yang buruk. Faktor kunci risiko saat ini adalah pesta minuman keras dengan risiko keracunan alkohol akut, serta kekerasan yang tidak disengaja dan disengaja. Mahasiswa adalah salah satu kelompok risiko tertinggi. Satu episode pesta minuman keras secara dramatis meningkatkan kemungkinan episode tambahan menunjukkan bahwa strategi intervensi diperlukan untuk mengurangi risiko. Dari contoh diatas diketahui bahwa kombinasi strategi penyakit tidak menular, yaitu:  Perawatan kesehatan : Dengan skrinning. Bagi orang-orang dengan tingkat risiko tertinggi dalam penyalahgunaan alkohol.  Pendekatan kesehatan masyarakat tradisional : Misalnya ada perpajakan alkohol berdasarkan peraturan perundang-undangan 1950 dimana menaikkan harga alkohol, pembatasan iklan dan lebih tinggi pajak atas minuman keras dengan kadar alkohol yang lebih besar. Serta upaya untuk mengingatkan ibu hamil kepada efek kesehatan minum alkohol melalui pelabelan produk dan upaya komunikasi kesehatan lainnya.  Intervensi sosial : Bekerjasama dengan departemen transportasi dan polisi untuk menangkap pengemudi mabuk, upaya gerakan pengemudi yang dirancang berasal dari Mothers Against Drunk Driver (MADD), serta Alcoholics Anonymous (AA) dan kelompok dukungan sebaya lainnya telah berfokus pada mendorong individu untuk mengakui masalah alkohol mereka. Kelompok-kelompok ini sering memberikan dorongan penting dan dukungan untuk pantang jangka panjang.

TOPIK 7 Penyakit Menular

A. Beban Penyakit Menular

Selama berabad-abad, penyakir menular adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di antara semua usia, terutama di kalangan muda dan tua. Penyakit menular tidak hanya penyebab epidemi besar, tapi juga penyebab kematian rutin. Penykit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme yang memiliki kemampuan untuk transmisi dari binatang ke binatang lain, binatang ke orang, orang satu dengan orang lain, orang ke binatang, baik secara langsung maupun tidak langsung/dengan perantara. Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah serta menyerang host atau inang (penderita). Penyakit menular termasuk berperan dalam kematian ibu terkait dengan melahirkan bayi dan kematian anak usia dini serta kematian akibat kurang gizi pada bayi dan anak-anak. contoh penyakit menular antara lain: HIV/AIDS, Pneumonia, Tuberculosis, diare, SARS, malaria, hepatitis B, flu burung, Lyme Disease, dll. Paruh terakhir abad ke-20 melihat jeda singkat dari kematian dan cacat yang disebabkan oleh penyakit menular dan infeksi lainnya. Hal ini disebabkan sebagian besar untuk upaya medis untuk mengobati infeksi dengan obat dan upaya kesehatan masyarakat untuk mencegah infeksi (sering dengan vaksin) dan untuk membasmi atau mengendalikan infeksi lainnya. Namun saat ini bakteri resisten terhadap antibiotik mulai muncul. Organisme Staphylococcus resisten terhadap antibiotik saat ini mulai mewabah rumah sakit di tahun 1950-an sampai antibiotik baru dikembangkan. Resistensi gonore dan pneumococcus untuk berbagai antibiotik menjadi luas. WHO dan program pemerintah AS yang disponsori, seperti mempromosikan pemberantasan malaria dan TBC, tidak dapat memiliki dampak berkelanjutan dan tujuan yang dipangkas kembali untuk mengontrol daripada untuk pemberantasan. Pada awal abad ke-21, telah terlihat kembali infeksi yang sebelumnya di bawah kendali, serta munculnya penyakit baru. TBC, sebuah epidemik besar di abad ke-18 dan ke-19, telah sebagian kembali sebagai akibat dari HIV / AIDS. Lebih dari beberatpa tahun sebelumnya tidak diketahui infeksi telah muncul dalam dekade terakhir, mayoritas yang diyakini berasal di spesies hewan. Di Amerika Serikat, kehadiran Penyakit Lyme dan West Nile Virus yang tidak diketahui sampai akhir abad ke-20, tapi sekarang telah menyebar ke wilayah yang luas. Penyakit lama, seperti malaria, memperluas jangkauan geografis. Influenza diantisipasi untuk kembali lagi dalam bentuk pandemi, seperti yang terjadi berulang kali di abad sebelumnya. Pandemi yang paling

mungkin terjadi ketika mutasi yang terus-menerus menghasilkan strain baru yang mampu menularkan dari orang ke orang. Sejarah menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat dan intervensi medis telah dan akan terus memiliki dampak besar pada beban penyakit menular. Pendekatan GBD (Global Burden Disease) atau disebut juga Studi Beban Penyakit dimaksudkan untuk menciptakan global public good yang dapat memberi masukan yang tepat dalam penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat pada tingkat nasional maupun regional. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, dalam dua dasawarsa terakhir, telah terjadi transisi kesehatan. Hal ini dikarenakan usia harapan hidup yang bertambah, meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan meningkatnya insidens Penyakit Tidak Menular (PTM). Indonesia telah berhasil menurunkan angka kematian bayi dan anak, sehingga komponen disabilitas pada beban penyakit telah menggantikan komponen kematian prematur (kematian sebelum waktunya atau dibawah umur harapan hidup). Penyebab utama dari kematian prematur oleh penyakit menular seperti tuberkulosis, diare, pneumonia dan kecelakaan lalu-lintas jalan. Pada dua dekade terakhir, kata Murray, Indonesia berhasil menurunkan 37 persen kematian akibat TB. Namun, TB tetap merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi kedua.

Contoh beban penyakit menular! Saat ini, di negara maju telah terjadi perbedaan pola penyakit dari penyakit menular ke penyakit non-infeksi, tetapi hal ini tidak berarti negara maju telah terbebas dari masalah penyakit menular, misalnya penyakit influenwa di Inggris, Morbili di Italia, dan AIDS. Di Indonesia sendiri, penyakit menular merupakan faktor utama penyebab kematian dan morbiditas.

Di dunia: Sejarah TB kembali ke zaman kuno, tapi dimulai pada abad ke-18 itu menjadi pusat di sebagian besar Eropa dan Amerika. Diperkirakan bahwa dalam dua abad 1700-1900, TBC bertanggung jawab atas kematian sekitar

satu miliar manusia. Tingkat tahunan dari TB ketika Koch membuat penemuan adalah sekitar tujuh juta orang. Hari itu akan menjadi setara dengan lebih dari 30 juta orang mengingat populasi saat ini. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Saat ini tercatat, sekitar 34 juta orang di dunia mengidap Virus HIV penyebab Aids dan kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan dan di negara berkembang. Sub-Sahara Afrika sejauh ini merupakan kawasan yang paling banyak terpapar HIV/Aids. Tapi epidemi virus yang telah membunuh lebih dari 25 juta orang didunia dalam 30 tahun terakhir sejak Virus HIV pertama kali ditemukan, sejauh ini menunjukan gejala penurunan. Program HIV/Aids PBB , UNAIDS mengatakan angka kematian penyakit ini pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1,7 juta kematian. Angka ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2005 yang mencapai puncak tertinggi dengan 2,3 juta kematian ataupun pada tahun 2010 lalu yang tercatat sebanyak 1,8 juta. Data WHO terbaru juga menunjukan peningkatan jumlah pengidap HIV yang mendapatkan pengobatan. Tahun 2012 tercatat 9,7 juta orang. Angka ini meningkat 300.000 orang lebih banyak dibandingkan satu dekade sebelumnya. Perusahaan obat generic asal India saat ini menjadi pensuplai utama obat anti retroviral bagi pengidap HIV ke Afrika dan banyak negara miskin lainnya.

Di Indonesia: Indonesia masih masuk dalam 10 negara dengan beban Tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia. Total kasus baru TB dilaporkan sebanyak 450 ribu per tahun dan prevalensi sekitar 690 ribu per tahun, seperti dilaporkan oleh Organisasi PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO) dalamGlobal Report 2011. "Sejak tahun 2010, WHO tidak lagi menyebutkan ranking negara, tetapi Indonesia memang masih termasuk 10 besar negara dengan beban permasalahan TB terbesar dari total 22 negara dengan beban TB terbesar," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

(P2PL) Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/5). Menurut data Ditjen PPM dan PL Depkes RI dalam triwulan pertama, Januari hingga Maret 2011, dilaporkan tambahan kasus AIDS mencapai 351. “Kasus `acquired immune deficiency syndrome or acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)` dan `human immunodeficiency virus (HIV)` terbanyak dilaporkan di DKI Jakarta sebanyak 3. 995 dan kasus HIV sebesar 15.769,” katanya. Ia menjelaskan, secara kumulatif kasus pengidap HIV/AIDS dari tanggal 1 Januari 1987 hingga Maret 2011 mencapai 24.482 kasus dengan angka kematian 4. 603 jiwa,” kata Dewi. Berdasarkan jumlah kumulatif kasus AIDS menurut jenis kelamin, yaitu laki-laki 17.840, akibat pengguna narkoba suntik (IDU) 8.553, perempuan 6.553, akibat IDU 665 dan tidak diketahui 89, akibat IDU 52. Selanjutnya, kata dia, jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor resiko, yaitu akibat heteroseksual 13.000, homo-biseksual 734, IDU 9.274, transfusi darah 49, transmisi pinatal 637 dan tidak diketahui 783.

Berikut adalah data penyakit menular yang terjadi di DKI Jakarta dari tahun 2007 - 2010: Tahun 2007 2007 2007 2007 2007 2008 2008 2008 2008 2009 2009 2010 2010 2010 2010

Jenis penyakit Malaria Gastro enteritis Kholera Kusta TBC Malaria Gastro enteritis Kusta TBC Malaria Gastro enteritis Malaria Gastro enteritis Demam Berdarah DHF TBC

Jumlah 77 213247 1028 489 35240 68 9593 0 22506 71 10349 103 184341 21151 5788

B. Bentuk Pendekatan Kesehatan Masyarakat Yang Dapat Digunakan Untuk Pengendalian Penyakit Menular, Khususnya Dalam Pencegahan Penyakit Menular

Ada beberapa pendekatan atau cara yang dapat dilakukan dalam pengendalian penyakit menular, yaitu : 

Barrier Protections, termasuk isolasi dan karantina



Imunisasi



Screening dan menemukan kasus



Perawatan/pengobatan



Usaha untuk memaksimalkan efektifitas pengobatan dan mencegah resistensi.

1. Barrier Protections Barrier protection memiliki tujuan untuk memisahkan individu dan populasi yang sehat dari penyakit dengan cara mencegah ataupun menguangi paparan terhadap penyakit. Contoh dari perlindungan barrier yang paling sederhana yaitu dengan mencuci tangan, dan contoh lainnya adalah a.

Penggunaan kelambu berinsektisida yang merupakan cara utama dalam pencegahan penyakit malaria.

b.

Penggunaan kondom yang dipercaya dapat berhasil mencegah penularan penyakit menular seksual.

c.

Penggunaan masker yang efektif mengurangi penyebaran penyakit di institusi perawatan kesehatan seperti rumah sakit.

d.

Sanitasi merupakan cara yang berdampak besar dalam mengurangi wabah TB pada abad ke-19 dan awal pertengahan abad ke-20.

e.

Isolasi dan karantina juga bisa digunakan dalam pencegahan penyakit menular untuk mencegah tersebarnya penyakit ke masyarakat yang sehat. Namun pelaksanaannya harus memiliki dasar hukum yang legal.

2. Imunisasi

Imunisasi merupakan prosedur pencegahan penyakit menular yang diberikan kepada anak sejak masih bayi hingga remaja dan beberapa dapat diberikan ketika usia dewasa. Melalui program ini, tubuh diperkenalkan dengan bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang sistem imun guna membentuk antibodi. Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi berguna untuk melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme tersebut di masa yang akan datang. 3. Screening dan finding case Screening untuk penyakit menular sering dikaitkan dengan praktek kesehatan masyarakat yang diketahui sebagai case finding. Case finding menyiratkan wawancara rahasia dari mereka yang didiagnosis dengan penyakit dan meminta kontak fisik atau kontak seksual dekat mereka barubaru ini. Teknik case finding telah menjadi kunci untuk mengontrol penyakit sifilis, dan untuk memperpanjang TB baik sebelum dan sesudah ketersediaan pengobatan yang efektif. Munculnya pengobatan yang efektif berarti hal itu bermanfaat baik untuk mereka yang didiagnosis dengan penyakit dan orang-orang yang sehat melalui penemuan kasus tersebut. 4. Perawatan/pengobatan Pengobatan gejala penyakit memungkinkan untuk mengurangi resiko penyebaran atau penularan penyakin dari dalam ataupun luar individu. Selain pengobatan langsung ,alat kesehatan masyarakat yang dikenal sebagai pengobatan atau perawatan kontak epidemiologi telah efektif dalam mengendalikan banyaknya penyakit menular. 5. Usaha untuk memaksimalkan efektifitas pengobatan dan mencegah resistensi. Upaya untuk mengontrol resisten lebih mudah bila dibandingkan dengan melawan resisten terhadap obat itu sendiri. Hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami resistensi meliputi : terlalu sering menggunakan antibiotik yang diresepkan.

C. Kondisi yang Diperlukan Eradikasi Penyakit

Untuk

Memungkinkan

Terlaksananya

Eradikasi suatu penyakit menjadi mimpi semua bangsa di masa depan. Keadaan dimana penyakit-penyakit menular sudah tak lagi ditemukan menjadi target utama para pelaku kesehatan. Eradikasi merupakan keadaan dimana hilangnya suatu penyakit menular dari muka bumi dan tak dapat datang lagi di masa depan. Satu-satunya penyakit yang berhasil di eradikasi adalah smallpox. Penyakit lain yang mendekati eradikasi adalah polio. Namun polio juga masih sulit untuk sampai pada tahap eradikasi. Hal ini karena polio memliki karakteristik penyakit yang berbeda dengan smallpox. Sesungguhnya smallpox memiliki karakteristik penyakit yang unik sehingga tak sulit untuk di eradikasi. Karakteristik tersebut antara lain: 1.

Tidak bisa ditularkan lewat hewan. Smallpox adalah penyakit yang khusus pada manusia. Dengan begitu tidak ada hewan yang dapat menularkan penyakit ini. Tidak ada spesies lain yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit ini. Dengan kata lain jika penyakit ini dihilangkan dari manusia, tidak ada tempat lain untuk bersembunyi dan kemudian akan hilang dari populasi manusia.

2.

Ketahanan yang singkat di lingkungan. virus smallpox membutuhkan kontak dengan manusia dan tidak dapat tahan lama lebih dari beberapa saat di lingkungan tanpa host manusia. Dengan demikian, droplet ketika bersin atau batuk harus segera menemukan korban karena tidak dapat menular dengan mudah tanpa kontak langsung.

3.

Tidak membawa virus dalam waktu lama. Ketika seseorang sembuh dari smallpox, dia tidak lagi membawa virus tersebut dan tidak dapat menularkannya pada orang lain. Berbeda dengan HIV/AIDS atau hepatitis B yang pengidapnya membawa virus dalam waktu lama dan dapat menularkannya pada orang lain.

4.

Memproduksi imunitas jangka panjang. Ketika sembuh dari smallpox, maka seseorang akan mendapat kekebalan sehingga penyakit smallpox tidak akan kambuh padanya.

5.

Imunisasi membuat imunitas jangka panjang. Seperti penyakitnya, imunisasinya pun berhasil membuat kekebalan jangka panjang. Virus smallpox tidak bermutasi menjadi lebih ganas dari sebelum di vaksin.

6.

Kekebalan kawanan melindungi mereka yang rentan. Imunitas jangka panjang dari penyakit maupun imunisasi memungkinkan untuk melindungi populasi yang besar.

7.

Mudah di identifikasi. Penyakit smallpox mudah untuk diidentifikasi dengan pengamatan ciri-ciri dari orang – orang yang terkena. Ini memungkinkan untuk diagnosis dini dan melindungi yang lain dari paparan penyakit tersebut.

8.

Imunisasi efektif setelah terpajan. Imunisasi smallpox efektif meskipun stelah terpapar smallpox.

Berikut ini adalah tabel penyakit yang tereradikasi, menurut buku Public Health, 2009

Tidak bisa ditularkan lewat hewan Ketahanan yang singkat di lingkungan Tidak membawa virus dalam waktu lama

Smallpox Ya

Polio Ya

Measles Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya, kemungkinan absen terjadi pada immune compromise individu Ya, tapi mungkin tidak di pertahankan di kekebalan tubuh individu Ya, tapi mungkin tidak di pertahankan di kekebalan tubuh individu Virus memiliki potensial untuk menginfeksi Ya

Ya, kemungkinan absen terjadi pada immune compromise individu Ya, tapi mungkin tidak di pertahankan di kekebalan tubuh individu Ya, tapi mungkin tidak di pertahankan di kekebalan tubuh individu

Ya/ tidak. Penyakit relative mudah

Tidak. Memungkinkan

Memproduksi imunitas jangka panjang

Ya

Imunisasi membuat imunitas jangka panjang.

Ya

Kekebalan kawanan melindungi mereka yang rentan Mudah diidentifikasi

Ya

Ya

Ya

untuk diidentifikasi, tapi banyak infeksi tanpa gejala Tidak. Tidak efektif

sama dengan penyakit lain yang serupa Tidak. Tidak effektif

Imunisasi efektif Ya setelah terpajan D. Berbagai Bentuk Intervensi yang Tersedia Dalam Usaha Pengendalian Epidemi HIV/AIDS Rute transmisi  Tranfusi darah.  Darah dan produk darah yang sebelumnya digunakan di US oleh pasien hemofilia  Kontak seksual-anal lebih berpotensi daripada vagina dan lebih berptensi dari oral

 Transmisi dari ib ke anak

 Menyusui

 Paparan jarum suntik  Resiko pekerja pelayanan kesehatan  Penggunaan obat

Perkiraan tingkat transmisi per exposure  Darah yang terkontaminasi lebih dari 90% memungkinkan transmisi; sisa darah dapat meningkatkan infeksi

Intervensi  Screening darah untuk deteksi HIV dini.  Menggunakan darah sendiri untuk operasi

 Range dari 0,1% sampai 10% berhubungan intim tanpa pengaman sngat beresiko  Penyunatan mengurangi sebagian resik  Berganti pasangan meningkatkan resiko transmisi  15% sampai 40% lebih tinggi di negara berkembang  Paling tinggi transmisi lewat cairan vagina  Paparan sangat rendah, tetapi lebih dari 25% kemungkinan bila menyusui selama lebih dari 1 tahun.  Kurang dari 0,5% HIV positif ditemukan pada transmisi jarum suntik

   

 Kurang dari 1%

 Program menganti jarum

Kondom karet Penyunatan Hanya dengan 1 pasangan Monogami

 Sesar  Treatmen obat selama kehamilan

 Konsmsi obat berkelanjutan merupakan treatmen mengurangi tetapi tidak menghilangkan transmisi.  Treatmen setelah terpapar dengan obat merupakan pencegahan yg efektif

injeksi

diakibatkan oleh berbagi jarum suntik

yg telah digunakan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Ilmu kesehatan masyarakat memiliki keterkaitan erat dengan berbagai bidang yang mendukung terciptanya masyarakat yang sejahtera dan sehat secara holistic. Masyarakat sehat secara holistic merupakan tujuan dari semua jenis program kesehatan masyarakat yang ada. Ilmu kesehatan masyarakat itu sendiri memiliki keunikan yang khas, yakni programnya lebih ditekankan pada promotive dan preventif, dimana sasaran program tidak melulu orang yang sudah sakit, namun juga manusia sehat yang perlu terus ditingkatkan taraf sehatnya. Kesehatan masyarakat bukanlah ilmu yang kaku dan tertutup, melainkan sebuah konsep manajemen yang terpadu dan melibatkan berbagai aspek dalam pelaksanaan programnya. Hal ini dikarenakan sehat dapat tercipta jika berbagai pihak terkait bersama-sama mengkondisikan demikian. Sebagai mahasiswa yang kelak akan mengabdi pada masyarakat, harus paham dan menguasai berbagai bidang terkait tersebut. Hal ini berhubungan dengan taraf kesehatan masyarakat di masa depan yang diharapkan semakin membaik. Berikut ini merupakan aspek dasar yang wajib kami pahami, antara lain 1. Prinsip Kesehatan Masyarakat 2. Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Eviden 3. Komunikasi dan Informasi Kesehatan 4. Ilmu sosial dan perilaku 5. Etika Hukum dan Kebijakan Kesehatan 6. Penyakit Tidak Menular 7. Penyakit Menular Dengan mempelajari semua aspek tersebut, kami menjadi paham perbedaan antara kesehatan masyarakat dengan kedokteran juga fungsi dan sejarah dari kesehatan masyarakat. Kami juga menguasai kesehatan masyarakat berdasarkan evidence based, perbedaan komunikasi dan informasi kesehatan serta tipe dasar data kesehatan masyarakat. Tak lupa juga ilmu social dan perilaku serta budaya yang harus kami mengerti. Undang-undang kesehatan, kebijakan dan etik juga wajib kami pahami untuk mengaplikasikan ilmu kesehatan masyarakat di masa datang. Dan kami pun tentunya harus mengetahui dan mengerti segala aspek mengenai penyakit tidak menular dan penyakit menular bersamaan dengan perbedaan keduanya.

3.2 Saran Sebagai manusia yang sedang menuntut ilmu, tentulah kami masih banyak memiliki kekurangan, terutama dalam pembuatan makalah ini. Namun kami harapkan manfaat yang sebesar-besarnya dapat diambil pula dari hasil pekerjaan kami ini. Seiring dengan bertambahnya ilmu kami, bertambah pula tanggung jawab dan kewajiban kami dalam mengamalkannya untuk masa depan kesehatan masyarakat yang lebih baik. Berbagai tantangan dan rintangan pasti selalu ada mengiringi perjalanan kami menuju kesana, namun dengan tekad yang kuat kami pasti mampu terus belajar dan berdoa demi terciptanya kesejahteraan masyarakat di mayapada.

DAFTAR PUSTAKA Achmadi, Fahmi Umar. 2013. Kesehatan Msyarakat: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Alhamda, Syukra dan Yustina Sriani.Ebook : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Budiarto, Eko, dan Anggraeni, Dewi. 2003. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Chandra B. 1995. Pengantar Statistik Kesehatan. EGC: Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Online. http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php? keyword=implikasi&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas =all&submit=kamus (09 Oktober 2015). Katarina T. 2001. Hak atas kesehatan dalam hak ekonomi, sosial, budaya. Elsam : Jakarta. Kemenkes. 2013. BALITBANGKES Paparkan Hasil The Global Burden Disease, [Online]. Melalui: http://www.depkes.go.id/article/print/2292/balitbangkespaparkan-hasil-the-global-burden-of-disease.html. Kesmas. 2015. Pengertian dan Definisi Ilmu Kesehatan Masyarakat, [Online]. Melalui: http://www.indonesian-publichealth.com/2014/12/ilmu-kesehatanmasyarakat.html, diakses pada tanggal 30-09-2015. Kompas. 2013. Indonesia Hadapi Beban Ganda, [Online]. Melalui: http://health.kompas.com/read/2013/05/01/03433582/indonesia.hadapi.beba n.ganda. Muhajier, Ahmad. 2012. Hubungan Antara Ilmu Perilaku Dan Kesehatan, [Online]. Melalui: https://ranykacamata.wordpress.com/2012/05/14/hubungan-antara-ilmuperilaku-dengan-kesehatan/, diakses pada tanggal 02-10-2015. N, Sora. 2014. Mengenal Pengertian Ilmu Sosial Dan Menurut Para Ahli, [Online]. Melalui: http://www.pengertianku.net/2014/11/mengenal-

pengertian-ilmu-sosial-dan-meenurut-para-ahli.html, diakses pada tanggal 30-09-2015. Notoatmodjo, Soekidjo. 2013. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta. Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) 2013 – Association of Voluntary Health Services of Indonesia (dimuat dalam http://www.depkes.go.id). Radio Australia. 2013. Pedoman WHO Terbaru, Pasien HIV/AIDS Harus Segera Berobat, [Online]. Melalui: http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-06-30/pedoman-whoterbaru-pasien-hivaids-harus-lebih-cepat-berobat/1153908. Riegelman R. 2009. Public Health 101 : healthy people - healthy populations. APHA press :US. Riegelman, R. 2009. Public Health 101: Healthy People-Healthy Populations . Jones & Bartlett :USA. Riegelman, Richard, MD, MPH, PhD. Public Health 101. Jones & Barlett Learning International, 2009. Riegelman, Richard. 2009. Public Health 101. London : Jones & Bartlett Learning International. Salem, Setiawati. 2012. Lima Penyakit Menular Yang Memiliki Insiden Tertinggi di Indonesia, [Online]. Melalui: http://setiawatisale.blogspot.co.id/2012/12/lima-penyakit-menular-yangmemiliki.html. Samsudrajat S. 2011. Promosi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Artikel ilmiah STIKes Kapuas Raya Sintang. Veronica K. 1999. Peranan informed AConsent dalam transaksi terapeutik. Citra Aditya Bakti: Bandung. http://hpm.fk.ugm.ac.id/ www.data.go.id www.who.int www.womenshealthdata.ca

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.