MAKALAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN


1 MAKALAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN OLEH: I MADE WIADNYANA PUTRA ( ) Ruang Kenanga POLITEKNIK KESEHATAN RUMAH SAKIT Tk II dr. SOEPRAOEN MALANG 2014 K...

1 downloads 70 Views 587KB Size

Recommend Documents


SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR MAKALAH
1 SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR MAKALAH Disusun oleh : Nama : Teddy Novanda Nim : Prodi : Manajemen Informatika POLITEKNIK SURABAYA SURABAYA 20132 KATA ...

Makalah Sistem Informasi Manajemen (SIM)
1 Makalah Sistem Informasi Manajemen (SIM) Mahfudz Ha-eR Semarang - PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan lingkungan bisnis yang semakin tidak menen...

MAKALAH AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI
1 MAKALAH AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (AUDIT INTERNAL, AUDIT EKSTERNAL DAN TIPE AUDIT) Disusun Oleh : 1. Erlin Novianty (1C114791) 2. Rizky Noer ...

Pengantar Sistem Informasi Kesehatan
1 Pengantar Sistem Informasi Kesehatan Erizal, S.Si,M.Kom PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA...

Pengembangan TIK Sistem Informasi Kesehatan
1 Pengembangan TIK Sistem Informasi Kesehatan Erizal, S.Si,M.Kom PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS & TEKNOLOGI UNIVERSITAS RESPATI YOG...

MAKALAH AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI. Disusun Oleh :
1 MAKALAH AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (PENGONTROLAN TINGKAT ENTITAS AUDIT) Disusun Oleh : 1. Erlin Novianty (1C114791) 2. Robi Haris ( ) 3. Tri K...

TUGAS MAKALAH MANAJEMEN PROYEK SISTEM INFORMASI
1 TUGAS MAKALAH MANAJEMEN PROYEK SISTEM INFORMASI Dosen : Mh Taufiq, Ir Oleh: Nama :Yeti Meitika NIM : Kelas Jurusan :10S1SI-08 :S1 Sistem Informasi S...

MAKALAH analisis sistem informasi dan contoh sederhana
1 MAKALAH analisis sistem informasi dan contoh sederhana Dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Disusun Oleh : FADLY NIZAR : PROGRAM STUDI...

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
1 MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT Juli 4, 2013 rusdinncuhi Tinggalkan komentar A. Latar Belakang Masalah MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJ...

MAKALAH SISTEM INFORMASI AKUNTANSI (MANUAL - KOMPUTER)
1 MAKALAH SISTEM INFORMASI AKUNTANSI (MANUAL - KOMPUTER) 1. Thoman Fadil Raharja 2. Rian Pambudi 3. Panji Biru 4. Anang Febrianto 5. Hadwi Septafandhi...



MAKALAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN

OLEH: I MADE WIADNYANA PUTRA (13.1.089) Ruang Kenanga

POLITEKNIK KESEHATAN RUMAH SAKIT Tk II dr. SOEPRAOEN MALANG 2014

KATA PENGANTAR 1

DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL ........................................................................................................

1

KATA PENGANTAR ....................................................................................................

2

DAFTAR ISI ...............................................................................................................

3

BAB I 2

PENDAHULUAN ........................................................................................................

4

Latar Belakang..........................................................................................................

4

Rumusan Masalah ....................................................................................................

6

Tujuan .....................................................................................................................

6

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................................

7

Pengertian ...............................................................................................................

7

Peranan Manajemen Sistem Informasi Kesehatan ....................................................

8

Konsep-Konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan ....................................

12

Aplikasi Manajemen Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit .............................

14

Aplikasi Manajemen Sistem Informasi Kesehatan di Pusekesmas ..............................

16

Sistem Kesehatan dan Sistem pelayanan Kesehatan pada Individu dan Masyarakat ................................................................................

18

SISTEM KESEHATAN DAN SISTEM PELAYANAN KESEHATAN UPAYA PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN (UKP) ..............................................

20

Rumah Sakit Sebagai Satu Sistem dalam Pencapaian EEQ .........................................

23

Manajemen Rumah Sakit di Indonesia dan Kebutuhan Data serta Informasinya .......

25

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional dan Tantangan Masa Depan .....................................................

25

BAB III PENUTUP .................................................................................................................

27

KESIMPULAN ...........................................................................................................

27

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................

28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

3

Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di seluruh seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan pelayanan kepada masyarakat. Parturan perundangundangan yang menyebutkan sistem informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan dan Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi kesehatan kabupaten/kota. Hanya saja dari isi kedua Kepmenkes mengandung kelemahan dimana keduanya hanya memandang sistem informasi kesehatan dari sudut padang menejemen kesehatan, tidak memanfaatkan state of the art teknologi informasi serta tidak berkaitan dengan sistem informasi nasional. Teknologi informasi dan komunikasi juga belum dijabarkan secara detail sehingga data yang disajikan tidak tepat dan tidak tepat waktu. Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah dimulai pada akhir dekade 80’an. Salah satu rumah sakit yang pada waktu itu telah memanfaatkan komputer untuk mendukung operasionalnya adalah Rumah Sakit Husada. Departemen Kesehatan dengan proyek bantuan dari luar negeri, juga berusaha mengembangkan Sistem Informasi Rumah Sakit pada beberapa rumah sakit pemerintah dengan dibantu oleh tenaga ahli dari UGM. Namun, tampaknya komputerisasi dalam bidang per-rumah sakit-an, kurang mendapatkan hasil yang cukup memuaskan semua pihak. Ketidakberhasilan dalam pengembangan sistem informasi tersebut, lebih disebabkan dalam segi perencanaan yang kurang baik, dimana identifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan (critical success factors) dalam implementasi sistem informasi tersebut kurang lengkap dan menyeluruh. Perkembangan dan perubahan yang cepat dalam segala hal juga terjadi di dunia pelayanan kesehatan. Hal ini semata-mata karena sektor pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sistem yang lebih luas dalam masyarakat dan pemerintahan dalam suatu negara, bahkan lebih jauh lagi sistem yang lebih global. Perubahan-perubahan di negara lain dalam berbagai sektor mempunyai dampak terhadap sistem pelayanan kesehatan. Dalam era seperti saat ini, begitu banyak sektor kehidupan yang tidak terlepas dari peran serta dan penggunaan teknologi komputer, terkhusus pada bidang-bidang dan lingkup pekerjaan. Semakin hari, kemajuan teknologi komputer, baik 4

dibidang piranti lunak maupun perangkat keras berkembang dengan sangat pesat, disisi lain juga berkembang kearah yang sangat mudah dari segi pengaplikasian dan murah dalam biaya. Solusi untuk bidang kerja apapun akan ada cara untuk dapat dilakukan melalui media komputer, dengan catatan bahwa pengguna juga harus terus belajar untuk mengiringi kemajuan teknologinya. Sehingga pada akhirnya, solusi apapun teknologi yang kita pakai, sangatlah ditentukan oleh sumber daya manusia yang menggunakannya. Departemen Kesehatan telah menetapkan visi Indonesia Sehat 2010 yang ditandai dengan penduduknya yang hidup sehat dalam lingkungan yang sehat, berperilaku sehat, dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu yang disediakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat sendiri, serta ditandainya adanya peran serta masyarakat dan berbagai sektor pemerintah dalam upaya upaya kesehatan. Dalam upaya mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan tersebut, infrastruktur pelayanan kesehatan telah dibangun sedemikian rupa mulai dari tingkat nasional, propinsi, kabupaten dan seterusnya sampai ke pelosok. Setiap unit infrastruktur pelayanan kesehatan tersebut menjalankan program dan pelayanan kesehatan menuju pencapaian visi dan misi Depkes tersebut. Setiap jenjang tersebut memiliki sistem kesehatan yang yang saling terkait mulai dari pelayanan kesehatan dasar di desa dan kecamatan sampai ke tingkat nasional. Jaringan sistem pelayanan kesehatan tersebut memerlukan sistem informasi yang saling mendukung dan terkait, sehingga setiap kegiatan dan program kesehatan yang dilaksanakan dan dirasakan oleh masyarakat dapat diketahui, dipahami, diantisipasi dan di kelola dengan sebaik-baiknya. Departemen Kesehatan telah membangun sistem informasi kesehatan yang disebut SIKNAS yang melingkupi sistem jaringan informasi kesehatan mulai dari kabupaten sampai ke pusat. Namun demikian dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, SIKNAS belum berjalan sebagaimana mestinya. Dengan demikian sangat dibutuhkan sekali dibangunnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi baik di dalam sektor kesehatan (antar program dan antar jenjang), dan di luar sektor kesehatan, yaitu dengan sistem jaringan informasi pemerintah daerah dan jaringan informasi di pusat.

5

1.2 Rumusan Masalah a)

Apa yang dimaksud manajemen SIK?

b)

Bagaimana peranan manajemen SIK?

c)

Bagaimana konsep pengembangan SIK?

d)

Bagaimana aplikasi manajemen SIK di rumah sakit?

e)

Bagaimana aplikasi manajemen SIK di puskesmas?

f)

Bagaimana system pelayanan kesehatan untuk individu dan masyarakat?

1.3 Tujuan a)

Mahasiswa mampu mengetahui pengertian manajemen SIK

b)

Mahasiswa mampu mengetahui peranan manajemen SIK

c)

Mahasiswa mampu mengetahui konsep-konsep pengembangan SIK

d)

Mahasiswa mampu mengetahui aplikasi manajemen SIK di rumah sakit

e)

Mahasiswa mampu mengetahui aplikasi manajemen SIK di puskesmas

f)

Mahasiswa mampu mengetahui system pelayanan kesehatan untuk indidu dan masyarakat.

6

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Manajemen Sistem Informasi Kesehatan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah integrasi antara perangkat, prosedur dan kebijakan yang digunakan untuk mengelola siklus informasi secara sistematis untuk mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam kerangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam literature lain menyebutkan bahwa SIK adalah suatu sistem pengelolaan data dan informasi kesehatan di semua tingkt pemerintahan secara sistematis dan terintegrasi untuk mendukung manajemen kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Informasi kesehatan selalu diperlukan dalam pembuatan program kesehatan mulai dari analisis situasi, penentuan prioritas, pembuatan alternatif solusi, pengembangan program, pelaksanaan dan pemantauan hingga proses evaluasi terhadap pelaksanaan program-program kesehatan. Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di seluruh seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan pelayanan kepada masyarakat. Peraturan perundang-undangan yang menyebutkan

sistem

informasi

kesehatan

adalah

Kepmenkes

Nomor

004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan dan Kepmenkes

Nomor

932/Menkes/SK/VIII/2002

tentang

petunjuk

pelaksanaan

pengembangan sistem laporan informasi kesehatan kabupaten/kota. Hanya saja dari isi kedua Kepmenkes mengandung kelemahan dimana keduanya hanya memandang sistem informasi kesehatan dari sudut padang menejemen kesehatan, tidak memanfaatkan state of the art teknologi informasi serta tidak berkaitan dengan sistem informasi nasional. Teknologi informasi dan komunikasi juga belum dijabarkan secara detail sehingga data yang disajikan tidak tepat dan tidak tepat waktu.

7

Berikut adalah beberapa definisi dari system informasi manajemen, yaitu : 1. Sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang biasanya diterapkan dalam suatu organisasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan informasi yang dihasilkan dibutuhkan olehsemua tingkatan manajemen (Kristianto,2003). 2. SIM adalah sebuah system manusia atau mesin yang terpadu (integrated) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi (Davis, 2002). 3. SIM adalah sekumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara satu bagian dengan lainnya menggunakan cara tertentu untuk melakukan fungsi pengolahan data, menerima masukan (input) berupa data-data, kemudian mengolahnya (processing) dan menghasilkan keluaran (output) berupa informasi sebagai dasar pengambilan keputusan yang berguna danmempunyai nilai nyata yang dapat dirasakan akibatnya baik pada saat itu juga maupun dimasa mendatang, mendukung kegiatan operasional, manajerial, dan strategis organisasi dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dantersedia bagi fungsi tersebut guna mencapai tujuan (Sutanta,2004)

2.2 Peranan Manajemen Sistem Informasi Kesehatan Menurut WHO, sistem informasi kesehatan merupakan salah satu dari 6 “building block” atau komponen utama dalam sistem kesehatan di suatu Negara. Keenam komponen (building block) sistem kesehatan tersebut adalah: 1. Service delivery (pelaksanaan pelayanan kesehatan). 2. Medical product, vaccine, and technologies (produk medis, vaksin, dan teknologi kesehatan). 3. Health worksforce (tenaga medis). 4. Health system financing (system pembiayaan kesehatan). 5. Health information system (sistem informasi kesehatan). 6. Leadership and governance (kepemimpinan dan pemerintah) Informasi kesehatan selalu diperlukan dalam pembuatan program kesehatan mulai dari analisis situasi, 8

penentuan

prioritas,

pembuatan

alternatif

solusi,

pengembangan

program,

pelaksanaan dan pemantauan hingga proses evaluasi. Subsistem dalam system informasi kesehatan secara umum meliputi : a. Survailans epidemiologis (untuk penyakit menular dan tidak menular, kondisi lingkungan dan factor resiko) b. Pelaporan rutin dari puskemas, rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, gudang farmasi, praktek swasta. c. Pelaporan program khusus, seperti TB, lepra, malaria, KIA, imunisasi, HIV/AIDS, yang biasanya bersifat vertical d. System administrative, meliputi system pembiayaan, keuangan, system kepegawaian, obat dan logistic, program pelatihan, penelitian dan lain-lain e. Pencatatan vital, baik kelahiran, kematian maupun imigrasi Jika dicermati, komponen tersebut tidak hanya tanggung jawab sector kesehatan semata, tetapi juga lintas sector lainnya seperti statistic vital kependudukan, data kelahiran, data kematian. System pelaporan informasi kesehatan rutin dari fasilitas kesehatan pun tidak berjalan dengan baik. Teknologi informasi memberi berbagai kemudahan dalam proses manajemen di segala bidang. Dengan teknologi Informasi, data dan informasi dapat diolah dan didistribusikan secara lebih mudah, cepat, akurat, dan fleksibel. Hal ini mendorong semakin dibutuhkannya pemanfaatan teknologi informasi dalam berbagai kegiatan. World Health Organization menilai bahwa investasi system informasi menuai beberapa keuntungan, antara lain : a. Membantu pegambil keputusan untuk mendeteksi dan mengendalikan masalah kesehatan, memantau perkembangan dan meningkatkannya. b. Penguatan evidence based dalam mengambil kebijakan yang efektif, evaluasi, dan inovasi melalui penelitian. c. Perbaikan dalam tata kelola, memobilisasi sumber baru dan akuntabilitas, cara yang digunakan Data yang diperlukan dalam system informasi kesehatan yang komprehensif berkisar dari data kelahiran, morbiditas, dan mortalitas untuk jenis dan lokasi tenaga kesehatan, dengan jenis dan kualitas pelayanan klinis yang 9

diberikan di tingkat nasional dan sub-nasional dan akhirnya dengan indokator penduduk, seperti sebaai demografi dan status social ekonomi. Sebagaimana gambar diatas, informasi kesehatan dapat dibagi menjadi lima domain yang berbeda, yaitu : 1. Penentu kesehatan, yang meliputi factor risiko, perilaku, keturunan, lingkungan, social ekonomi dan demografi. 2. Input system kesehatan, yang meliputi kebijakan, pembiayaan, sumber daya, dan organisasi. 3. Output system kesehatan meliputi, informasi kemampuan pelayanan dan kualitas. 4. Hasil system kesehatan meliputi, pemanfaatan pelayanan. 5. Status kesehatan meliputi, angka kematian, kesakitan atau ketidakmampuan, dan kesejahteraasn. Sedangkan di dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari sub sistem ke 6 yaitu pada sub sistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan. Sub sistem manajemen dan informasi kesehatan merupakan subsistem yang mengelola fungsi-fungsi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, informasi kesehatan dan hokum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan nasional agar berhasil guna, berdaya guna, dan mendukung penyelenggaraan ke-6 subsistem lain di dalam SKN sebagai satu kesatuan yang terpadu. Adapun sub sistem dalam Sistem Kesehatan Nasional Indonesia, yaitu: 1. Upaya kesehatan 2. Penelitian dan pengembangan kesehatan 3. Pembiayaan kesehatan 4. Sumber daya manusia (SDM) kesehatan 5. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan 6. Manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan 7. Pemberdayaan masyarakat.

10

Dalam pengembangan Sistem Informasi Kesehatan, harus dibangun komitmen setiap unit infrastruktur pelayanan kesehatan agar setiap Sistem Informasi kesehatan berjalan dengan baik dan yang lebih terpenting menggunakan teknologi komputer dalam mengimplementasikan Sistem Informasi Berbasis Komputer (Computer Based Information System). Melalui hasil pengembangan sistem informasi ini maka diharapkan dapa menghasilkan hal-hal sebagai berikut : 1. Perangkat lunak tersebut dikembangkan sesuai dengan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pemerintah daerah. 2. Dengan menggunakan open system tersebut diharapkan jaringan akan bersifat interoperable dengan jaringan lain. 3. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan mensosialisasikan dan mendorong pengembangan dan penggunaan Local Area Network di dalam kluster unit pelayanan kesehatan baik pemerintah dan swasta sebagai komponen sistem di masa depan. 4. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan mengembangkan kemampuan dalam teknologi informasi video, suara, dan data nirkabel universal di dalam Wide Area Network yang efektif, homogen dan efisien sebagai bagian dari jaringan sistem informasi pemerintah daerah. 5. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan merencanakan, mengembangkan dan memelihara pusat penyimpanan data dan informasi yang menyimpan direktori materi teknologi informasi yang komprehensif. 6. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan secara proaktif mencari, menganalisis, memahami, menyebarluaskan dan mempertukarkan secara elektronis data/informasi bagi seluruh stakeholders. 7. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan memanfaatkan website dan access point lain agar data kesehatan dan kedokteran dapat dimanfaatkan secara luas dan bertanggung jawab dan dalam rangka memperbaiki pelayanan kesehatan sehingga kepuasan pengguna dapat dicapai sebaik-baiknya.

11

8. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan merencanakan pengembangan manajemen SDM sistem informasi mulai dari rekrutmen, penempatan, pendidikan dan pelatihan, penilaian pekerjaan, penggajian dan pengembangan karir. 9. Sistem informasi kesehatan terintegrasi ini akan mengembangkan unit organisasi pengembangan dan pencarian dana bersumber masyarakat yang berkaitan dengan pemanfaatan dan penggunaan data/informasi kesehatan dan kedokteran. 10. Dapat digunakan untuk mengubah tujuan, kegiatan, produk, pelayanan organisasi, untuk mendukung agar organisasi dapat meraih keunggulan kompetitif. 11. Mengarah pada peluang-peluang strategis yang dapat ditemukan.

2.3 Konsep-Konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Sistem informasi kesehatan harus dibangun untuk mengatasi kekurangan maupun ketidakkompakan antar badan kesehatan. Dalam melakukan pengembangan sistem informasi secara umum, ada beberapa konsep dasaryang harus dipahami oleh para pengembang atau pembuat rancang bangun sistem informasi (designer). Konsep-konsep tersebut antara lain: a. Sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi Pada dasarnya sistem informasi tidak bergantung kepada penggunaan teknologi komputer.

Sistem

informasi

yang

memanfaatkan

teknologi

komputer

dalam

implementasinya disebut sebagai Sistem Informasi Berbasis Komputer (Computer Based Information System). Pada pembahasan selanjutnya, yang dimaksudkan dengan sistem informasi adalah sistem informasi yang berbasis komputer. Isu penting yang mendorong pemanfaatan teknologi komputer atau teknologi informasi dalam sistem informasi suatu organisasi adalah : 1) Pengambilan keputusan yang tidak dilandasi dengan informasi. 2) Informasi yang tersedia, tidak relevan. 3) Informasi yang ada, tidak dimanfaatkan oleh manajemen. 4) Informasi yang ada, tidak tepat waktu. 5) Terlalu banyak informasi. 12

6) Informasi yang tersedia, tidak akurat. 7) Adanya duplikasi data (data redundancy). 8) Adanya data yang cara pemanfaatannya tidak fleksibel.

b. Sistem informasi organisasi adalah suatu sistem yang dinamis. Dinamika sistem informasi dalam suatu organisasi sangat ditentukan oleh dinamika perkembangan organisasi tersebut. Oleh karena itu perlu disadari bahwa pengembangan sistem informasi tidak pernah berhenti.

c. Sistem informasi sebagai suatu sistem harus mengikuti siklus hidup sistem Seperti lahir, berkembang, mantap dan akhirnya mati atau berubah menjadi sistem yang baru. Oleh karena itu, sistem informasi memiliki umur layak guna. Panjang pendeknya umur layak guna sistem informasi tersebut ditentukan diantaranya oleh: 1) Perkembangan organisasi tersebut 2) Perkembangan teknologi informasi

d. Daya guna sistem informasi sangat ditentukan oleh tingkat integritas sistem informasi itu sendiri. Sistem informasi yang terpadu (integrated) mempunyai daya guna yang tinggi, jika dibandingkan dengan sistem informasi yang terfragmentasi. Usaha untuk melakukan integrasi sistem yang ada didalam suatu organisasi menjadi satu sistem yang utuh merupakan usaha yang berat dengan biaya yang cukup besar dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Sinkronisasi antar sistem yang ada dalam sistem informasi itu, merupakan prasyarat yang mutlak untuk dapat mendapatkan sistem informasi yang terpadu. Sistem informasi, pada dasarnya terdiri dari minimal 2 aspek yang harus berjalan secara selaras, yaitu aspek manual dan aspek yang terotomatisasi (aspek komputer). Pengembangan sistem informasi yang berhasil apabila dilakukan dengan mengembangkan kedua aspek tersebut. Sering kali pengembang sistem informasi hanya memfokuskan diri pada pengembangan aspek komputernya saja, tanpa memperhatikan aspek manualnya. Hal 13

ini di akibatkan adanya asumsi bahwa aspek manual lebih mudah diatasi dari pada aspek komputernya. Padahal salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan sistem informasi adalah dukungan perilaku dari para pengguna sistem informasi tersebut, dimana para pengguna sangat terkait dengan sistem dan prosedur dari sistem informasi pada aspek manualnya.

e. Keberhasilan pengembangan sistem informasi sangat bergantung pada strategi yang dipilih untuk pengembangan sistem tersebut. Strategi yang dipilih untuk melakukan pengembangan sistem sangat bergantung kepada besar kecilnya cakupan dan tingkat kompleksitas dari sistem informasi tersebut. Untuk sistem informasi yang cakupannya luas dan tingkat kompleksitas yang tinggi diperlukan tahapan pengembangan seperti: Penyusunan Rencana Induk Pengembangan, Pembuatan

Rancangan

Global,

Pembuatan

Rancangan

Rinci,

Implementasi dan

Operasionalisasi.

f. Pengembangan Sistem Informasi organisasi harus menggunakan pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh (holistik). Pada

banyak

kasus,

pengembangan

sistem

informasi

dilakukan

dengan

menggunakan pendekatan struktur organisasi dan pada umumnya mereka mengalami kegagalan, karena struktur organisasi sering kali kurang mencerminkan semua fungsi yang ada didalam organisasi. Sebagai pengembang sistem informasi hanya bertanggung jawab dalam mengintegrasikan fungsi-fungsi dan sistem yang ada didalam organisasi tersebut menjadi satu sistem informasi yang terpadu. Pemetaan fungsi-fungsi dan sistem ke dalam unit-unit struktural yang ada di dalam organisasi tersebut adalah wewenang dan tanggungjawab dari pimpinan organisasi tersebut.

g. Informasi telah menjadi aset organisasi. Dalam konsep manajemen modern, informasi telah menjadi salah satu aset dari suatu organisasi, selain uang, SDM, sarana dan prasarana. Penguasaan informasi internal 14

dan eksternal organisasi merupakan salah satu keunggulan kompetitif (competitive advantage), h. Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur hirarkis yang mudah dipahami. Dalam semua kepustakaan yang membahasa konsep sistem, hanya dikenal istilah sistem dan subsistem. Hal ini akan menimbulkan kesulitan dalam melakukan penjabaran sistem informasi yang cukup luas cakupannya.

2.4 Aplikasi Manajemen Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit Sistem informasi rumah sakit tidak dapat lepas kaitannya dengan system informasi kesehatan karena sistem ini merupakan aplikasi dari system informasi kesehatan itu sendiri. Untuk itu, perlu kita mengetahui sedikit tentang sistem informasi rumah sakit yang ada di Indonesia, mulai dari rancang bangun (desain) sistem informasi rumah sakit hingga pengembangannya. Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah bertumpu dalam 2 hal penting yaitu “kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS” dan “sasaran pengembangan SIRS” tersebut. Adapun kriteria dan kebijakan yang umumnya dipergunakan dalam penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai berikut: a. SIRS harus dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional dalam memberikan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu. b. SIRS harus mampu mengaitkan dan mengintegrasikan seluruh arus informasi dalam jajaran Rumah Sakit dalam suatu sistem yang terpadu. c. SIRS dapat menunjang proses pengambilan keputusan dalam proses perencanaan maupun pengambilan keputusan operasional pada berbagai tingkatan. d. SIRS yang dikembangkan harus dapat meningkatkan daya-guna dan hasil-guna terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi rumah sakit yang telah ada maupun yang sedang dikembangkan. b. SIRS yang dikembangkan harus mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan dimasa datang.

15

c. Usaha pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan terpadu dengan biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan hasil dan manfaat yang berarti (rate of return) dalam waktu yang relatif singkat. d. SIRS yang dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini mungkin. e. Pentahapan pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas. f. SIRS yang dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas, bahkan bagi petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi komputer (user friendly). g. SIRS yang dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal mungkin perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS di Indonesia, untuk melakukan adaptasi dengan sistem yang baru. h. Pengembangan diarahkan pada subsistem yang mempunyai dampak yang kuat terhadap pengembangan SIRS. Atas dasar dari penetapan kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS tersebut di atas, selanjutnya ditetapkan sasaran pengembangan sebagai penjabaran dari Sasaran Jangka Pendek Pengembangan SIRS, sebagai berikut: 1) Memiliki aspek pengawasan terpadu, baik yang bersifat pemeriksaan atau pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggungjawaban penggunaan dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan rumah sakit. 2) Terbentuknya sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dilaksanakan, akan tetapi cukup lengkap dan terpadu. 3) Terbentuknya suatu sistem informasi yang dapat memberikan dukungan akan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu melalui dukungan data yang bersifat dinamis. 4) Meningkatkan daya-guna dan hasil-guna seluruh unit organisasi dengan menekan pemborosan. 5) Terjaminnya konsistensi data. 6) Orientasi ke masa depan. 7) Pendayagunaan terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi yang telah ada maupun

sedang

dikembangkan,

agar

dapat

terus

dikembangkan

dengan 16

mempertimbangkan integrasinya sesuai Rancangan Global SIRS. SIRS merupakan suatu sistem informasi yang, cakupannya luas (terutama untuk rumah sakit tipe A dan B) dan mempunyai kompleksitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu penerapan sistem yang dirancang harus dilakukan dengan memilih pentahapan yang sesuai dengan kondisi masingmasing subsistem, atas dasar kriteria dan prioritas yang ditentukan. Kesinambungan antara tahapan yang satu dengan tahapan berikutnya harus tetap terjaga. Secara garis besar tahapan pengembangan SIRS adalah sebagai berikut: a. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SIRS, b. Penyusunan Rancangan Global SIRS, c. Penyusunan Rancangan Detail/Rinci SIRS, d. Pembuatan Prototipe, terutama untuk aplikasi yang sangat spesifik, e. Implementasi, dalam arti pembuatan aplikasi, pemilihan dan pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak pendukung. f. Operasionalisasi dan Pemantapan.

2.5 Aplikasi Manajemen Sistem Informasi Kesehatan di Pusekesmas Penyelenggara layanan kesehatan masyarakat melalui puskesmas merupakan kegiatan yang dibutuhkan suatu system informasi yang dapat menangani berbagai macam kegiatan operasional puskesmas mulai dari pengelolaan registrasi pasien, data rekam medis pasien, farmasi, keuangan, hingga berbagai laporan bulanan, tribulanan, dan tahunan. Berbagai laporan eksekutif yang dihasilkan oleh puskesmas dengan bantuan system informasi sangat dibutuhkan dalam penentuan kebijakan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Secara umum , SIMPUS terdiri dari beberapa subsistem sebagai berikut : a. Registrasi Pasien Registrasi merupakan subsistem yang menangani data registrasi kunjungan pasien, baik kunjungan pemeriksaan umum, gigi,, gizi, KIA, imunisasi, KB. Kegiatannya meliputi : 1) Pengolahan data pasien 2) Pengolahan data registrasi kunjunan pasien, terdapat beberapa macam klasifikasi registrasi yaitu, pemeriksaan umum, pemeriksaan gigi, kunjungan gizi, kunjungan imunisasi, kegiatan KIA, kegiatan KB, pemeriksaan laboratorium b. Pemeriksaan/Pemberian Tindakan Medis Hal ini merupakan subsistem yang menangani data yang terkait dengan keiatan pemeriksaan/pemberian tindakan terhadap pasien oleh 17

tenaga kesehatan. Berdasarkan jenis pemeriksaannya, subsistem ini diklasifikasin menjadi pemeriksaan umum, pemeriksaan gigi, kunjungan gizi, kunjungan imunisasi, kegiatan KIA, kegiatan KB, pemeriksaan laboratorium. Kegiatannya meliputi : 1) Pengolahan data kondisi pasien 2) Pengolahan data anamnesis 3) Pengolahan data diagnosis 4) Pengolahan data terapi 5) Pengolahan data pemeriksaan/tindakan medis/penggunaan lab. 6) Pengolahan data obat 7) Pengolahan data rujukan c. Farmasi Farmasi merupakan subsistem yang menangani data yang terkait dengan obat. Fungsionalitasnya meliputi : 1) Pengolahan data master obat 2) Pengolahan data stok obat baru 3) Pengolahan data persediaan obat 4) Pengolahan data pelayanan/pemberian resep pasien d. Pemantaun Data Register Pemantauan data register merupakan pemantauan data yang terjadi di puskesmas secara harian/bulanan maupun periode tertentu. Kegiatannya meliputi : 1) Register pemeriksaan umum 2) Register pemeriksaan gigi 3) Register pemeriksaan gizi 4) Register pemeriksaan imunisasi 5) Register pemeriksaan KIA 6) Register pemeriksaan KB e. Laporan Laporan merupakan subsistem untuk membuat laporan/ rekapitulasi. Laporan manajemen ini meliputi: 1) Laporan kunjungan pasien 2) Laporan 10 penyakit terbanyak 18

3) Laporan pengguanaan obat 4) Laporan tindakan medis terbanyak 5) Laporan metode pembayaran oleh pasien 6) Laporan billing f. Pemetaan Pemetaan wilayah meliputi kunjungan pasien, penyakit terbanyak, penggunaan obat, riwayat KLB, dan lain sebagainya. Akan tetapi mapping data kesehatan sangat jarang dilakukan.

2.6 Sistem Kesehatan dan Sistem pelayanan Kesehatan pada Individu dan Masyarakat Sistem kesehatan (health system) adalah tatanan yang bertujuan tercapainya derajat kesehatan yang bermutu tinggi dan merata, melalui upaya-upaya dalam tatanan tersebut yang dilaksanakan secara efisien dan berkualitas serta terjangakau. Sistem pelayanan kesehatan terdiri atas dua bagian yang merupakan subsistemnya, yaitu system pelayanan kesehatan (Healht Service Delivery System) dan system pendanaan kesehatan (Health Financing System). System pendanaan mendanai system pelayanan. System pelayanan kesehatan terdiri atas dua bagian yang merupakan Subsystemnya, yaitu system pelayanan kesehatan perorangan (medical service atau pelayanaan medis) dan system pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Dalam system pelayanan

kesehatan

perorangan terdapat berbagai upaya untuk

peningkatan kesehatan perorangan (selanjutnya disebut upaya kesehatan perorangan /UKP), yaitu mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan kecacatan deteksi dini penyakit/kecacatan dan penanganannya yang lebih tepat agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut atau kecacatan. Dalam upaya pelayanan kesehatan masayarakat juga dikenal upaya health promotion dan specific protection yang dilaksanakan pada masyarakt secara keseluruhan. Dari gambaran diatas terlihat bahwa upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan UKP) menjadi satu kesatuan upaya passa health promotion dan specific protection. Dilihat dari sudut pathogenesis penyakit, maka upaya-upaya health promotion dan specific protection ini adalah upaya pada masa “prepathogenesis”. Sedangkan upaya-upaya 19

early detection ang prompt treatment, disability limitation, rehabilitation adalah upaya-upaya pada masa “pathogenesis”. Dalam system pendanaanya, produk pelayanan kesehatan masyarakt umumnya merupakan public goods sehingga didanai oleh pemerintah. Produk pelayanan kesehatan perorangan bisa didanai oleh pemerintah (kalau dianggap public goods misalnya, pengobatan penderita ppenyakit TBC sebagai bagian dari upaya pemberantasan penyakit TBC), bisa didanai oleh perorangan sendiri (murni merupakan privat goods yang bisa langsung out of pocket ataupun melalui asuransi pribadi/privat insurance). Pembiayaan pelayanan juga bisa campur antara pemerintah dan masyarakat (public-privat mix).

SISTEM KESEHATAN DAN SISTEM PELAYANAN KESEHATAN UPAYA PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN (UKP) 20

Bagan 1.1. Letak hubungan “ Tampak Tindih” bidang kajian, serta pertimbangannya dari berbagai subsistem dalam system kesehatan.

Dalam subsistem pelayanan kesehatan perorangan dalam kerangka keseluruhan system kesehatan, terdapat berbagai upaya kesehatan perorangan (UKP) terdapat UKP yang diselenggarakan dengan objek utama adalah penanganan pada periode “pre pathogenesis” dan UKP dengan objek utama penanganan pada periode “pathogenesis”. UKP pertama lebih menekankan upaya promosi kesehatan perorangan /health promotion(misalnya mengajarkan 21

pola hidup sehat pada pasien dan keluarga pasien stroke/pasien penyakit jantung. Upaya kesehatan ini banyak diselenggarakan oleh perorangan secara mandiri (self care), oleh keluarga (family care) atau kelompok anggota masyarakat (misalnya, perkumpulan jantung sehat). UKP kedua lebih menekankan pada pelayanan periode “pathogenesis” (disability limitation, rehabilitation). Upaya ini dilaksanakan di institusi pelayanan kesehatan yang disebut rumah sakit.

Untuk penyakit yang banyak terjadi di masyarakat (common diseases) pelayanan dilaksanakan di rumah sakit rujukan awal (primary hospital system) dimana penanganan secara satu disiplin ilmu dapt dilaksanakan dengan baik. Untuk penyakit yang penanganannya membutuhkan penanganan yang multidisiplin sederhana, pelayanan dilaksanakan dirumah sakit rujukan lanjutan (secondary hospital system). Untuk penyakit yang penanganannya membutuhkan penanganan multidisiplin kompleks, pelayanan dilaksanakan dilaksanakan dirumah sakit rujukan lanjut (tertiary hospital system). Untuk Negara yang sangat maju ada pelayanan yang diutamakan dalam rangka pengembangan ilmu (dengan pelayanan yang tetap berbasis pada kebutuhan pasien, bukan berbasis pada pengembangan ilmu), pelayanan dilaksanakan dirumah sakit untuk pengembangan ilmu (quaternary hospital). Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Perorangan di Indonesia dan Lingkungannya seperti telah diutarakan diatas, pelayanan kesehatan perorangan (medical service, pelayanan medic) dapat dikategorikan dalam 4 kategori :

a. Pelayanan medic mandiri (self care and family medical care) Yang dilaksanakan oleh pribadi kelompok masyarakat; aktifitas ini bisa dilaksanakan oleh masing-masing individu, bisa secara berkelompok; aktifitas ini bisa dilaksanakan sebelum orang menderita sakit (misalnya, dalam klub jantung sehat), bisa juga setelah orang menderita penyakit atau kecacatan (misalnya, klub stroke). b. Pelayanan medic dasar/primer (essential medical care and basic speciality care,

22

Ada yang menyebutnya preventife medical care atau primary medical care) Pelayanan ini diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta/kelompok masyarakat. Idealnya pelayanan ini dilaksanakan oleh dokter keluarga yang merupakan gate keeper dari pelayanan rujukan. Pelayanan medic dasar ini dilaksanakan di puskesmas pemerintah, balkesmas swasta serta dokter praktek perorangan swasta. c. Pelayanan medic skunder/rujukan awal Pelayanan ini dilaksanakan dirumah sakit dengan kemampuan nonspesialistik/spesialiatik dasar (dulu dikenal dengan sebutan rumah sakit tipe D), sampai kerumah sakit dengan kemampuan pelayanan spesialistik empat dasar( dikenal dengan nama rumah sakit tipe C) ataupun dirumah sakit dengan kemampuan pelayanan lebih dari empat spesialisme plus beberapa spesialisme dasar (dikenal dengan nama rumah sakit tipe B-awal). Rumah sakit rujukan awal ini biasanya ada di ibu kota kabupaten dan kota madya. d. Pelayanan medic tersier/rujukan lanjut Pelayanan ini dilaksanakan dirumah sakit dengan kemampuan pelayanan semua spesialisme plus beberapa subspesialisme(dikenal dengan nama rumah sakit tipe-B lanjut atau dirumah sakit dengan kemampuan semua spesialisme dengan seluruh subspesialismenya(rumah sakit tipe A). diindonesia rumah sakit rujukan lanjut ini semuanya berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan.

Upaya keseluruhan pada butir-butir diatas yang saling berhubungan (saling berkaitan, saling berpengaruh, saling bergantung) satu sama lain, diselengarakan dalam satu daerah/ kabupaten/kota dalam satu system kesehatan daerah. Keseluruhan stakeholders dalam system kesehatan tersebut dapat dilihat pada bagan.

23

Bagan 1.2. Upaya kesehatan perorangan/Rumah sakit dan Berbagai

Stakeholder dan

lingkungan-Strateginya.

Rumah Sakit Sebagai Satu Sistem dalam Pencapaian EEQ System adalah suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian (yang dinamakan subsistem), bagian tersebut saling berkaitan (interelasi) saling berpengaruh (interaksi), serta saling bergantung (interdependensi) satu sama lain. “system” yang sempurna adalah tubuh kita. Subsistem syaraf otak mengindra sesuatu yang menakutkan mengakibatkan tubuh bereaksi terhadapnya. Reaksi berupa “lari”, yang dilaksanakan oleh system musculoskeletal, sambil orang tersebut lari terkencing-kencing diakibatkan oleh subsistem urogenital, dan sebagainya. Dari sudut operasional rumah sakit sebagai satu system, dikenal subsistem pelayanan (instalasi rawat jalan, rawat inap, bedah pusat, dan lain-lain), dan subsistem manajemen/ administrasi pelayanan. Dari sudut kewenangan (power), dikenal sub system pemilik, subsistem professional kesehatan dan subsistem manajemen. Kewenangan yang dimiliki pemilik adalah merupakan kewenangan yang diberikan olegh kekuasaan birokrasi. Kewenangan tersebut dinamakan kewenangan birokrasi dan ditandai oleh adanya SK (surat keputusan) dari birokrasi diatasnya. 24

Kewenangan birokrasi yang dimiliki pemilik dilaksanakan secara operasional oleh satu intitas birokrasi yang dibentuk oleh pemilik melalui satu surat keoutusan (SK). Kewenangan yang dimiliki profesi didapat melalui pendidikan yang terstruktur, berjenjang (sarjana kedokteran, dokter umum, dokter spesialis, dokter subspesialis, dan seterusnya) dan kewenangan tersebut ditandai dengan sertifikasi kopetensi oleh asosiasi profesi/kolegium kedokteran bidang ilmu terkait. Secara operasional komite medic (Depkes,1999) melaksanakan tugas professional governance dalam masalah yang berkaitan dengan profesi dan profesionalisme, misalnya : a. Pengelolaan tumpang tindih kewenangan profesi yang bekerja dirumah sakit. b. Pengelolaan penggunaan antibiotic oleh semua spesialisasi. c. Melakukan seleksi para professional yang akan bekerja dirumah sakit, untuk menilai kemampuan profesionalnya (credentialing). d. Melaksanakan monitoring dan evaluasi mengenai kinerja profesi para professional yang bekerja diumah sakit. e. Dan lain-lainnya baik yang murni berkaitan hanya dengan keprofesian, maupun yang berkaitan dengan hal-hal diluar profesi.

Sebagai contoh, dalam pengelolaan profesi dirumah sakit, maka sebagai satu system, ketergantungan dan saling berpengaruh antara satu subsistem dengan subsistem lain dalam system rumah sakit pasti terjadi. Contoh lain, diluar negeri yang gencar tuntunan hukum terdapat profesi dokter, maka tindakan profesi yang tidak benar akan berdampak pada keuangan ruumah sakit. Itulah sebabnya resiko kesakitan ataupun resiko kematian perlu dikaitkan juga dengan resiko keuangan rumah sakit. Keseluruhan tata cara pengelolaan yang berlaku dirumah sakit ini ditetapkan bersama-sama oleh unsure profesi dengan unsure birokrasi, yang dibanyak rumah sakit ketentuan dinamakan hospital by law.

25

Manajemen Rumah Sakit di Indonesia dan Kebutuhan Data serta Informasinya Manajemen rumah sakit berkembang dai waktu ke waktu. Pada sesudah perang dunia ke-2, manajemen rumah sakit dilaksanakan dengan sangat murni sebagai lembaga social (philanthrop). Pengambilan keputusan manajerial tidak pernah dilaksanakan dengan memakai asas ekonomi, seperti membandingkan produksi dan biaya(efisiensi). Sitem informasi yang berkembang dirumah sakit hanyalah berorientasi pada pelayanan mediknya saja. Perkembangan IPTEK kedokteran dan kesehatan berkembang pesat, biaya pelayanan kesehatan yang dibiayai pemerintah naik dengan tajam. Ini menyebabkan pemerintah tidak berkemampuan untuk mendanai pelayanan kesehatan secara penuh, sehingga diharapka masyarakat ikut mendanai pelayanan kesehatan. Hal ini dimungkinkan karena pada pelayanan medic khususnya dirumah sakit, komponen privat goods cukup besar sehingga bila dikelola menurut asas ekonomi (yang tetap bersifat social) akan mengakibatkan masyarakat dapat ikut mendanai pelayanan rumah sakit. Manajemen rumah sakit kemudian berkembang menjadi sifat sosio-ekonomis. Muncullah sistilah “rumah sakit swadana” yang system informasinya mulai membandingkan produksi dengan biaya produkasi. System informasi rumah sakit juga berkembang, tidak saja bertujuan “membelanjakan uang untuk pelayanan”’ tetapi dihitung biaya satuan dari tiap-tiap produkasi pelayanan. Dalam pengelolaan perusahaan, maka sisa hasil usaha atau yang dalam usaha nonsosial disebut sebagai “profit”, menjadi salah satu tujuan dan ini juga berkaitan dengan tujuan efisiensi rumah sakit. Secara keseluruhan, system informasi pelayanan profesi dirumah sakit dengan system informasi administrasi pelayanan profesi harus dikuasai secara terpadu oleh profesi yang bekerja dibidang manajemen informasi kesehatan

(di indonesia bernaung dibawah organisasi

PORMIKI).

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional dan Tantangan Masa Depan System informasi manajemen rumah sakit merupakan salah satu bagian dari system informasi upaya pelyanan kesehatan perorangan dan SI-UKP ini merupakan bagian dari system 26

informasi pelayanan kesehatan, yang kemudian merupakan bagian dari system informasi kesehatan (SIK), (Sudarmono,2001). Dengan berlakunya UU otonomi daerah, keter paduan system informasi kesehatan didaerah otonom dengan system informasi dipusat merupakan syarat mutlak bagi keterpaduan Visi, Misi, strategi dibidang kesehatan didaerah dengan visi, misi dan strategi tingkat nasional (Sudarmono, 2000). Dengan berlakunya UU praktek kedokteran 2004, maka tindakan para dokter harus bias dipertanggung jawabkan secara hukum disamping dipertanggung jawabkan secara profesi (hal terakhir ini sudah dilaksanakan para dokter sebelum UU tersebut). Pertanggungjawaban penyelengaraan profesi secara hukummemeerlukan bukti-buki hukum tertulis, dan bagian yang sangat inti dari penyelenggaraan profesi ini ada dalam Remkam Medik. Menghadapi tiga hal tersebut (globalisasi, otonomi daerah dan perkembangan teknologi informasi), disamping diperlukan kesatuan Visi dan Misi (Sudarmono,2000).

27

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN a. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah integrasi antara perangkat, prosedur dan kebijakan yang digunakan untuk mengelola siklus informasi secara sistematis untuk mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam kerangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat. b. Enam komponen (building block) sistem kesehatan yaitu : Service delivery (pelaksanaan pelayanan kesehatan) Medical product, vaccine, and technologies (produk medis, vaksin, dan teknologi kesehatan) Health worksforce (tenaga medis) Health system financing (system pembiayaan kesehatan)m Health information system (sistem informasi kesehatan) Leadership and governance (kepemimpinan dan pemerintah) c. Konsep-Konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan antara lain: 1) Sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi 2) Sistem informasi organisasi adalah suatu sistem yang dinamis. 3) Sistem informasi sebagai suatu sistem harus mengikuti siklus hidup sistem 4) Daya guna sistem informasi sangat ditentukan oleh tingkat integritas sistem informasi itu sendiri. 5) Keberhasilan pengembangan sistem informasi sangat bergantung pada strategi yang dipilih untuk pengembangan sistem tersebut. 6) Pengembangan Sistem Informasi organisasi harus menggunakan pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh (holistik). 7) Informasi telah menjadi aset organisasi. h. Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur hirarkis yang mudah dipahami.

3.2 SARAN

28

a. Perlunya dilakukan kajian mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan SIK b. Kebutuhan data dan informasi merupakan kebutuhan daerah, maka sebaiknya SIK yang dikembangkan disesuaikan denga kebutuhan dan karakteristik

29

DAFTAR PUSTAKA

Kapita, selekta. 2006. Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Yogyakarta: Unioversitas Gadja Mada Wulandari, R. 2009. Evaluasi Kinerja Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Berbasis Komputer. Semarang: Universitas

30

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.