PEMIKIRAN ISLAM DALAM SASTRA ARAB MODERN


1 PERADABAN ISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM SASTRA ARAB MODERN Oleh Nurcholish Madjid Salah satu gejala di kalangan ...
Author:  Devi Cahyadi

2 downloads 90 Views 125KB Size

Recommend Documents


SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM
1 SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM2 SEJARAH PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM Tim Penyusun Tugas SKI-B Desain Cover : Gerry Nugroho Prasetyo Editor Tat...

PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM MODERN
1 PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM MODERN BUKU PEDOMAN PERKULIAHAN Program S-1 Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya Penulis: D...

Anomali Pemikiran Islam Modern: Kritik Arkoun Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan
1 Anomali Pemikiran Islam Modern 1 Anomali Pemikiran Islam Modern: Kritik Arkoun Terhadap Ortodoksi Pemikiran Keagamaan Samsul Huda Fakultas Adab dan ...

KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN
1 KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN Oleh: Tatik Mariyatut Tasnimah Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta ...

KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN
1 KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN Oleh: Tatik Mariyatut Tasnimah Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta ...

KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN
1 KEPELOPORAN MAHMŪD TAYMŪR DALAM CERPEN ARAB MODERN Oleh: Tatik Mariyatut Tasnimah Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta ...

PEMIKIRAN POLITIK DALAM ISLAM
1 Ilmu Ushuluddin, Januari 2010, hlm ISSN PEMIKIRAN POLITIK DALAM ISLAM Abd. Wahid Dosen Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari ...

Sejarah Sastra Arab BAB III SEJARAH SASTRA ARAB
1 Sejarah Sastra Arab BAB III SEJARAH SASTRA ARAB A. Sejarah Sastra (Tarikhul Adab) dan Fungsinya Tarikhul Adab atau Sejarah sastra adalah suatu ilmu ...

ISLAM DALAM ERA POST-MODERN;
1 ISLAM DALAM ERA POST-MODERN; Melacak Periodesasi Pemikiran dalam Studi Keislaman Ahmad Zainuddin, M.Fil.I Abstrak: Sejarah mencatat bahwa loncatan-l...

SEJARAH SASTRA ARAB MASAISLAMI
1 SEJARAH SASTRA ARAB MASAISLAMI Oleh : Juwairiyah Dahlan (Dosen tetap Fakultas Adah IAIN S11:nan Ampel Surabaya) -Oiterhitk'o oleh: PERCETAKAN SUMBAN...



F PERADABAN ISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G

PEMIKIRAN ISLAM DALAM SASTRA ARAB MODERN Oleh Nurcholish Madjid

Salah satu gejala di kalangan kaum intelektual Indonesia ialah kurangnya informasi dan kontak intelektual dengan dunia sastra dan pemikiran Arab modern. Sedikit sekali karya-karya sastra dan pemikiran Arab kontemporer yang sampai kepada kita dan kita kenal dengan baik, sehingga ketika Najib Mahfuzh memenangkan hadiah Nobel beberapa tahun lalu, misalnya, boleh dikata tidak seorang pun cendekiawan Indonesia yang menduga atau mengetahui sebelumnya. Hal ini, tentu saja sangat “memalukan” dunia intelektual Indonesia, khususnya kalangan Islam; lebih khusus lagi mereka yang berkecimpung dalam dunia sastra Arab (dan Islam). Padahal Najib Mahfuzh, sebelum nominasinya sebagai pemenang Nobel, sudah secara amat luas dikenal di Barat, melalui terjemahan karyakaryanya, baik di bidang sastra, maupun pemikiran agama. Tulisan ini mencoba memberi sedikit sumbangan dalam rangka menutup kesenjangan tersebut, dengan titik-berat pada upaya mengkaji muatan Islam dalam karya sastra Arab modern, tidak dalam karya-karya sastra Arab pada umumnya. Namun perlu dicatat bahwa tulisan ini bukanlah hasil studi yang mendalam. Dan bahan-bahan yang digunakan pun amat sangat terbatas, jika tidak boleh disebut tidak memadai. Namun percobaan di sini hendak dilakukan juga, dengan harapan minimal akan memberi dorongan kepada kajian-kajian lebih lanjut yang lebih luas dan mendalam. D1E

F NURCHOLISH MADJID G

Masalah “Pemikiran Islam” dalam Karya Sastra

“Pemikiran Islam” dalam karya sastra sebagai masalah perlu dibahas, karena “pemikiran Islam” yang sebenarnya, dalam arti yang berkedalaman jauh dan berkeluasan serba-meliputi, biasanya tidak digarap dalam karya-karya sastra, tetapi dalam karya-karya pembahasan keagamaan atau filsafat. Karena itu dalam membuat antologi tentang “sastra Islam”, James Kritzeck, misalnya, memasukkan juga karya-karya pemikir Islam seperti al-Ghazali, Ibn Hazm, Ibn Khaldun, Ibn Thufail, Ibn Jubair, dan lain-lain, yang dalam pandangan biasa karya-karya mereka yang dikutip dalam buku itu tidak disebut sebagai karya sastra, dan lebih merupakan renungan pribadi, garapan ilmiah, refleksi teologis atau spekulasi falsafi di bidang keagamaan. Tetapi dari sudut tertentu dimasukkan ke dalam karya sastra, karena memiliki nilai kebahasaan yang tinggi. Jika “Islam” dipahami secara lebih komprehensif dan total — seperti yang dikemukakan oleh tokoh Syaikh Ali al-Manwafi dalam kutipan dari novel Najib Mahfuzh di bawah — maka yang disebut “Islam” dan “pemikiran Islam” akan meliputi seluruh aspek kehidupan. Dari sudut pandangan itu maka mengenali mana yang “Islam” dan mana yang “bukan Islam” menjadi cukup rumit. Suatu tindakan atau pemikiran akan tampak di permukaan (secara lahiriah) sama saja dengan tindakan atau pemikiran yang lain. Sebagai contoh, pemikiran atau tindakan membela kaum miskin bisa disebut tindakan atau pemikiran Islam, tapi juga bisa disebut tindakan atau pemikiran Kristen, Marxis, atau Humanis sekular. Dalam hal ini, faktor pembeda, jika tidak dapat dikenali dari jargon-jargon yang digunakan menyangkut hal yang cukup pribadi para pelakunya, yaitu niat atau motivasi: sesuatu disebut “Islam” jika motivasinya berpangkal dari ajaran Islam, seperti kehendak mencapai rida Allah; dan yang lainnya tidak bersifat Islam, sekalipun wujudnya sama, karena didorong oleh pertimbangan-pertimbangan ideologis di luar Islam. Karena itu dalam menentukan apakah sesuatu itu bersifat “pemikiran Islam” atau tidak, dalam pembahasan tulisan singkat ini tidak dapat dihindari unsur D2E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

sedikit kesewenangan (arbitrer), yaitu berdasarkan adanya jargon atau simbolisme yang digunakan di dalamnya, atau kadar kepedulian keislaman yang menjadi muatan pokoknya. Sebutan “sastra Islam” juga mempunyai problemnya sendiri. Karena “Islam” bukanlah bahasa, melainkan suatu ajaran yang menerobos batas-batas kebahasaan, maka “sastra Islam” tentunya meliputi semua karya sastra yang mempunyai “jiwa keislaman”, yang tidak terbatasi hanya dalam bahasa tertentu, betapapun pentingnya bahasa itu dalam Islam, seperti bahasa Arab. Karena Islam sekarang ini praktis merupakan agama yang menyebar dan menguasai kehidupan bangsa-bangsa yang beraneka ragam dengan bahasa yang beraneka ragam pula (“dari Marakesh sampai Merauke”), maka sastra Islam adalah jenis budaya kebahasaan yang tumbuh dan berkembang di kalangan bangsa-bangsa Islam yang luas itu. Bahasa-bahasa Persi, Turki, Uzbek, Tadjik, Swahili, Hausa, Kurdi, Pashto, Baluchi, Urdu, Panjabi, Bengali, Gujarati, Sindi, Tamil, dan seterusnya, bahkan juga bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Melayu/Indonesia, mempunyai sahamnya masing-masing dalam dunia “sastra Islam.” Maka pembicaraan tentang “sastra Islam” secara adil dan lengkap harus pula mencakup kegiatan dan hasil kesusastraan dalam bahasa-bahasa tersebut.1 Ini tanpa mengingkari kenyataan betapa pentingnya bahasa Arab dan sastranya, sebagai bahasa Kitab Suci dan Sunnah Nabi, dan yang merupakan salah satu dari empat bahasa manusia yang paling berpengaruh kepada peradaban dunia (tiga lainnya ialah bahasa-bahasa Latin, Yunani, dan Sansekerta).

Sastra Arab Modern

Karena kelangkaan sumber tersebut di atas, pembicaraan tentang sastra Arab modern di sini terbatas hanya kepada beberapa karya 1

James Kritzeck, Anthology of Islamic Literature, From the Rise of Islam to Modern Times (New York: New American Library, 1975), h. 4. D3E

F NURCHOLISH MADJID G

antologi, dua di antaranya harus disebutkan, yaitu antologi Mustafa Badawi (Mukhtārāt min al-Syi‘r al-‘Arabī al-Hadīts)2 dan antologi James Kritzeck yang telah disinggung (Anthology of lslamic Literature, From the Rise of lslam to Modern Times), juga beberapa karya Najib Mahfuzh. Antologi Badawi secara khusus dipusatkan kepada sastra Arab modern, sedangkan antologi Kritzeck cakupannya lebih luas, sejak dari munculnya Islam sampai zaman modern. Karena Iebih memusatkan diri pada sastra Arab modern, Badawi dituntut untuk membatasi apa yang ia maksudkan itu. Sastra Arab modern ialah yang muncul di dunia Arab setelah terjadinya al-Nahdlah, kadang-kadang disebut al-Inbi‘āts (atau al-Ba‘ts), Renaissance, yaitu kebangkitan kembali dunia Arab (dan Islam). Kebangkitan kembali ini berlatar belakang penderitaan bangsa-bangsa Arab di bawah pemerintah Turki Utsmani, yang menurut Badawi ditandai oleh “tidak adanya vitalitas dan imajinasi, kuatnya perasaan puas dan cukup diri yang menumpuk, dan tidak adanya kemauan atau kemampuan untuk menjelajahi horizon baru.”3 Kebangkitan kembali Arab itu pertama-tama terasa di Libanon dan Syiria, berkat adanya kegiatan-kegiatan misionaris Kristen dari Eropa dan Amerika. Kehadiran kegiatan misionaris itu kelak antara lain menghasilkan berdirinya American University of Beirut (AUB) — lembaga pendidikan tinggi yang paling bergengsi di Timur Tengah dan yang banyak mencetak kaum intelektual Arab modern. Maka yang mula-mula aktif dalam kebangkitan kembali itu ialah orang-orang Arab Kristen, yaitu kelompok sosial kawasan Levant yang didekati dan diistimewakan oleh kaum penjajah Barat karena perasaan kesamaan budaya keagamaan mereka.4 Karena itu antologi Badawi meliputi pula banyak penyair Arab Kristen, 2

Mustafa Badawi, An Anthology of Modern Arabic Verse (Bristol: Oxfod University Press, 1975). 3 Ibid., h. v (Introduction). 4 Cukup ilustratif untuk hal ini ialah kenyataan bahwa dalam jangka waktu yang lama sekali, kamus bahasa Arab yang paling baik ialah al-Munjīd, oleh D4E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

seperti Mikha’il Na’imah, Jurj Shaidah, Jabra Ibrahim Jabra, dan Khalil Hawi. Tempat kebangkitan kembali Arab lainnya ialah Mesir, berkat pembaruan yang dilakukan oleh Muhammad Ali, seorang serdadu Turki Albania yang (ironisnya) justru membebaskan Mesir dari kekuasaan Turki Utsmani dan mendirikan pemerintahan Khedive. Meskipun konon buta huruf,5 namun Muhammad Ali berusaha memodernisasi Mesir, terutama angkatan bersenjatanya, guna mengimbangi Barat dan Turki. Bagi Muhammad Ali, modernisasi hanya berarti penerapan teknologi Barat, khususnya untuk keperluan kemiliteran. Tetapi dalam perjalanan waktu, orang-orang muda yang dikirim ke Eropa untuk belajar ilmu teknologi itu tidak kebal terhadap nilai-nilai kultural dan intelektual yang amat erat kaitannya dengan ilmu teknologi dan kehidupan ekonomi modern (seperti rasionalitas, efisiensi, tepat waktu, tepat janji, “predictablity”, dan lain-lain). Walaupun begitu, berbeda dengan masalah teknologi dan pemikiran (di bidang politik, misalnya), penerapan bentuk-bentuk sastra Barat hanya terjadi jauh belakangan. Ini antara lain disebabkan oleh kekayaan bahasa dan budaya Arab sendiri — yang kaum orientalis banyak mengemukakan keunggulan bahasa dan budaya itu — sehingga penerimaan bentuk lain akan harus menggeser apa yang sudah ada pada mereka dan yang sudah amat mapan secara turun-menurun. Namun setelah penerapan bentuk-bentuk sastra Barat itu terjadi, hasilnya ialah terdesaknya ke belakang bentuk-bentuk sastra Arab tradisional yang berupa qashīdah dan perkembangannya pada sastra Arab abad tengah seperti madīh (panegirik), hijā (satir), fakhr (bangga diri), ritsā’ (elegi), ghazal (romans), washf (deskripsi), hikmah (ungkapan bijak), malah juga maqāmāt (diskursus). Abu [Pater] Louis, yang amat terkenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di kalangan pesantren kita. 5 Cyrill Glassé, The Concise Enryclopedia of Islam (New York: Harper San Francisco,1991), s.v. Muhammad ‘Ali. D5E

F NURCHOLISH MADJID G

Para patron sastra yang umumnya terdiri dari para penguasa (khalifah, sultan, amir, dan lain-lain) juga lenyap dari pemandangan, digantikan oleh pembacaan umum atau publikasi karya-karya sastra melalui media-media massa dan pusat-pusat kesenian, yang dibaca dan diapresiasi oleh kaum menengah. Perluasan pendidikan rakyat menambah luasnya audiensi sastra Arab modern, jauh lebih luas daripada yang pernah ada sebelumnya. Dengan begitu watak aristokratik sastra Arab pun digantikan oleh wataknya yang lebih merakyat, seperti dapat ditemukan pada novel-novel sosiologis Najib Mahfuzh, drama Taufiq al-Hakim, ataupun puisi-puisi alBayati dan Shalah Abd al-Shabur.6 Kita akan coba melihat muatan-muatan pemikiran Islam dalam karya-karya sastra Arab modern dari tiga sastrawan yang semoga mewakili, yaitu Ahmad al-Shafi al-Najfi, Yusuf Basyir al-Tījani, dan Najib Mahfuzh. Dua yang pertama adalah penyair, dan yang terakhir adalah seorang novelis pemenang hadiah Nobel. Dua penyair itu mengubah syair yang bermuatan semangat kesufian dengan bentuk yang satu sama lain agak berbeda. Al-Najfi masih sedikit bertahan kepada bentuk puisi Arab tradisional, sedangkan al-Tijani sudah lebih bebas. Sementara itu Najib Mahfuzh, sebagaimana telah disebutkan, menulis novel-novel sosiologis yang menggambarkan keadaan zamannya.

(1) Ahmad al-Shafi al-Najfi

Dia adalah seorang penyair kelahiran Irak (1894), yang pada 1918 pergi ke Iran dan tinggal di sana bertahun-tahun. Di Iran ia belajar bahasa Persi, dan menerjemahkan karya Umar al-Khayyam yang terkenal, Rubā‘īyāt. Ia kembali ke Irak, namun kemudian menetap di Libanon. Ia menerbitkan banyak kumpulan puisi-puisi yang

6

Badawi, h. v-vi (Introduction). D6E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

bentuknya masih agak tradisional, meskipun isi dan judul-judulnya terdengar kontemporer. Agaknya pengalaman al-Najfi di Iran telah membuatnya banyak mempunyai orientasi kesufian yang mendalam. Dalam orientasi kesufian yang acapkali tidak terlalu mementingkan lambang-lambang lahiriah itu al-Najfi mencoba memahami dirinya dengan melepaskan bungkus-bungkus yang melilit jati dirinya, tapi ternyata ia tidak menemukan selain bungkus dan bungkus melulu. Dalam kegagalan menemukan jati dirinya, ia mengkhawatirkan kalaukalau dirinya tidak lebih dari berambang merah, yang hanya terdiri dari kulit, tanpa isi dan substansi. Di sini dikutipkan syairnya yang berjudul Atswāb al-Rūh (Baju-baju Ruh), dalam terjemah percobaannya secara agak longgar:7 BAJU-BAJU RUH Tiap hari kutanggalkan baju dari diriku, baju kumuh dari kepercayaan turun-temurun Dengan harapan kutelanjangi diriku sungguh, dari baju dan bungkus yang terus mengurung Namun tiap kali kulepas bajuku aku pun temukan, seribu baju melekat erat pada kulitku Engkau lihat baju-baju itu terus kutanggalkan, seolah aku terdiri dari sekadar baju-baju Aku takut jika semua baju terus kutanggalkan, maka tak ‘kan kudapati ruh di balik baju Seolah aku ini kulit-kulit biji berambang, yang tiada padanya selain dari bungkus melulu

7

Ibid., h. 33. D7E

F NURCHOLISH MADJID G

(2) Yusuf Basyir al-Tijani:

Sastrawan ini dilahirkan di Umm Durman, dekat Khartoum, Sudan (1912). Ia dibesarkan dalam keluarga kalangan penganut tarekat Tijaniyah. Seperti layaknya orang yang dilahirkan dengan latar belakang keluarga seperti, ia mendapatkan pendidikan tradisional Islam. Namun ia “memberontak”, dan aksesnya kepada karya-karya sastra Arab modern dari Mesir membuatnya sangat mendambakan pergi ke Kairo untuk belajar, yang ternyata tidak pernah terwujud. Kekesalan dan kekecewaannya yang amat sangat telah merenggut kesehatan tubuhnya, dan ia pun meninggal secara tragis dalam usia yang masih sangat muda (35 tahun). Al-Tijani sering dibandingkan dengan penyair dari Tunisia, alSyabbi, karena memiliki berbagai kesamaan, termasuk kematiannya yang tragis dalam usia muda. Selain sama-sama tumbuh dari kalangan keluarga keagamaan yang sangat tradisional, kedua-duanya juga tidak tahu bahasa Barat sedikit pun. Namun syair-syair alTijani sepenuhnya termasuk jenis sastra Arab modern, disebabkan pengaruh bacaan-bacaannya dari karya-karya sastra Arab modern Mesir tersebut Kumpulan puisinya, lsyrāqah (Iluminasi), merupakan catatan pengalaman mistiknya yang pekat, yang timbul sebagai usahanya menyingkir dari kerasnya kehidupan duniawi yang amat banyak mengecewakannya. Di bawah ini adalah petikan terjemahan dari salah satu syairnya yang berjudul al-Shūfī al-Mu’adzdzab (“Sufi Tersiksa”). Dari bait-bait itu tampak jelas betapa ia mendambakan ketenangan jiwa sebagai pelarian dari kekecewaan hidupnya. Al-Tijani mengibaratkan dirinya bagaikan semut, yang dalam kelembutan dan kelemahannya memantulkan cahaya kasih Tuhan. Semut itu menyerahkan nyawanya kepada Tuhan, dan ia disambut oleh kedua tangan Tuhan, untuk kemudian hidup abadi bersama Tuhan. Terjemahan syair tersebut, secara agak longgar, terbaca demikian:8 8

Ibid., h. 106-107. D8E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

SUFI TERSIKSA Wujud Kebenaran Sejati, alangkah luas dimensinya terhayati dalam hati Ketenangan murni sejati, alangkah kukuh cakrawalanya dalam sukma murni Semua yang ada dalam jagad berjalan dalam lindungan kasih Ilahi Semut ini pun, dalam kelembutannya senantiasa memantulkan kasih-Nya Tuhan hidup dalam manifestasinya, dan semut hidup dalam kemurahan-Nya Dan semut disambut kedua tangan Ilahi, di kala ia serahkan sukmanya, Dalam diri semut Allah hidup dan takkan mati, kalau saja Anda melihatnya.

(3) Najib Mahfuzh

Sastrawan besar pemenang Nobel ini, seperti dikemukakan oleh Mustafa Badawi, adalah pengamat sekaligus pemikir masalahmasalah sosial yang pekat, yang teribat amat jauh dalam kehidupan rakyat kecil di tengah hiruk-piruk metropolitan Kairo. Ilham bagi karya-karyanya banyak didapatkan dalam lingkungan strata bawah masyarakat Mesir yang ia temukan dalam kedai-kedai kopi di mana ia gemar sekali nongkrong berjam-jam sepanjang malam. Penghayatannya akan dunia politik dan ideologi, dengan kecamuk konflik-konfliknya, ia tuangkan dalam novel-novel sosologisnya, semisal novel al-Sukrīyah. Petikan dari novel itu berikut ini menggambarkan suasana dalam masyarakat Mesir yang sedang mengalami konflik-konflik ideologi, di sini antara kaum Islamis yang tergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimun (al-Ikhwān al-Muslimūn) dan sebuah faksi D9E

F NURCHOLISH MADJID G

dari kaum sosialis Marxis; masing-masing dengan harapan dan kecemasannya sendiri, dan dengan batasan tentang siapa kawan dan lawan mereka sendiri. Dalam banyak contoh, Najib Mahfuzh agaknya bertahan pada posisinya sebagai pengamat yang tidak dengan jelas memperlihatkan pemihakannya, yang agaknya membuatnya cukup kontroversial sehingga sebagian karya-karyanya terkena “cekal” dan tidak diizinkan beredar di Mesir. Tetapi karya-karya Najib Mahfuzh beredar di hampir seluruh dunia Arab (kecuali yang “konservatif ”) dan Barat, baik aslinya dalam bahasa Arab maupun terjemahannya dalam bahasa-bahasa setempat. Seperti halnya petikan terdahulu, di sini pun diturunkan terjemahannya secara longgar:9 Tekad Abdul-Mun’im dan arah hidupnya telah mantap. Ia menjadi aktivis yang tangguh dan “kawan” yang bersemangat. Tugas pengawasan cabang al-Jamaliyah diserahkan kepadanya, dan ia ditunjuk menjadi penasehat hukum. Ia juga ambil bagian dalam redaksi majalah yang ada. Kadang-kadang ia memberi ceramah keagamaan di masjid-masjid kampung. Pondokannya menjadi tempat pertemuan untuk kawan-kawannya. Mereka bertemu di situ setiap hari sampai jauh malam, di bawah asuhan Syeikh Ali al-Manwafi. Pemuda Abdul-Mun’im sangat bersemangat, dengan kesediaan yang besar untuk menyerahkan apa saja yang dimilikinya: kerja kerasnya, hartanya, dan pikirannya, demi dakwah yang ia percayai sepenuh hati menurut ungkapan sang mursyid — sebagai gerakan dakwah salafiah, tarekat Sunni, hakikat kesufian, organisasi politik, perkumpulan olahraga, ikatan keilmuan dan kultural, serikat perekonomian, dan pemikiran kemasyarakatan. Syeikh Ali al-Manwafi pernah berkata:

9

Najib Mahfuzh, al-Sukrīyah (Kairo: Dar Mishr li al-Thiba’ah, t.th.), h. 294-297. D 10 E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

Ajaran dan hukum Islam meliputi pengaturan masalah manusia di dunia dan akhirat. Mereka yang beranggapan bahwa ajaranajaran itu hanya meliputi segi keruhanian atau ibadat saja tanpa segi-segi lainnya adalah keliru. Islam adalah akidah, ibadat, negeri, kebangsaan, agama, pemerintahan, keruhanian, kitab suci, dan pedang.... Seorang pemuda dari yang berkumpul itu berkata: — Itulah agama kita. Tetapi kita semuanya beku, tidak melakukan apa-apa, padahal kekafiran menguasai kita dengan hukum-hukumnya dan tokoh-tokohnya. Syeikh Ali menyahut: — Kita perlu kampanye dan propaganda. Kita perlu membentuk barisan pejuang pendukung, dan sesudah itu baru tiba tahap pelaksanaan. — sampai kapan kita harus menunggu?! — kita menunggu sampai perang selesai. Situasi telah siap untuk gerakan kita. Rakyat telah luntur kepercayaan mereka kepada partaipartai. Dan kalau seorang penggerak merayu pada saatnya yang tepat maka kawan-kawan kita akan menyambutnya, semuanya lengkap dengan Qur’an dan senjata mereka. Dengan suara yang lantang dan dalam, Abdul-Mun’im berkata: — kita siapkan jiwa kita untuk perjuangan yang panjang. Seruan kita tidak terbatas hanya kepada Mesir saja, melainkan kepada seluruh umat Islam di muka bumi. Gerakan ini tidak akan berhasil sebelum Mesir menyatu dengan seluruh bangsa-bangsa Islam atas dasar ideologi Qur’ani ini. Kita tidak akan meletakkan senjata sebelum kita melihat Qur’an menjadi undang-undang seluruh umat Islam. Syeikh Ali al-Manwafi: — kusampaikan kabar gembira bahwa gerakan kita, dengan kemurahan Allah, telah tersebar ke seluruh pelosok. Sekarang ini di setiap D 11 E

F NURCHOLISH MADJID G

desa ada markas. Ini adalah gerakan Allah, dan Allah tidak akan menghinakan kaum yang membantu Nya. Pada waktu yang bersamaan, sedang berlangsung kegiatan yang lain di kawasan Tahtani, meskipun tujuannya berbeda. Di sana tidak banyak berkumpul seperti di tempat ini, sebab Ahmad dan Susan sering mengadakan pertemuan malam bersama dengan sejumlah rekannya dari berbagai aliran kepercayaan dan agama, kebanyakan dari kalangan pers. Suatu sore Ustaz Adli Karim mengunjungi mereka, dan ia tahu percakapan teoretis yang berlangsung di kalangan mereka. Kata Ustadz: — baik saja kalian mempelajari Marxisme. Tetapi hendaknya diingat bahwa sekalipun sosialisme itu suatu keharusan sejarah, namun kepastiannya tidaklah sejenis kepastian gejala astronomis. Sosialisme tidak akan terwujud kecuali dengan kemauan dan perjuangan manusia. Maka kewajiban kita yang utama bukanlah banyak berfilsafat, melainkan hendaknya kita mengisi kesadaran kelas pekerja dengan semangat peranan sejarah yang harus mereka mainkan, guna meneyelamatkan diri mereka sendiri dan juga seluruh dunia. Ahmad: — Kita terjemahkan buku-buku bermutu dalam filsafat ini untuk kalangan tertentu kaum terpelajar. Dan kita berikan ceramahceramah yang bersemangat untuk para pekerja pejuang. Kedua kegiatan itu penting, tidak boleh ditinggalkan. Ustaz pun berkata: — Tetapi masyarakat yang rusak tidak akan berubah kecuali dengan tangan yang aktif. Pada saat para pekerja itu penuh dengan keyakinan baru, dan seluruh rakyat bersatu dalam satu barisan cita-cita, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi, tidak peraturan kolot dan tidak pula meriam. D 12 E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

— Semua kita percaya kepada hal itu. Tetapi menguasai pikiran kaum terpelajar itu berarti menguasai golongan yang strategis kepada arah dan pandangan kita. Tiba-tiba Ahmad memotong: — Bapak Ustaz, ada catatan yang ingin saya kemukakan. Aku tahu dari pengalaman bahwa kita tidaklah sulit meyakinkan kaum terpelajar bahwa agama adalah khurafat, dan masalah gaib adalah penipuan dan kesesatan. Tapi bahayanya ialah jika kita kemukakan pendapat-pendapat serupa itu kepada rakyat. Tuduhan yang terbesar, yang digunakan oleh lawan-lawan kita, ialah tuduhan bahwa gerakan kita adalah penyelewengan agama dan kekafiran. — Tugas kita yang pertama ialah memberantas semangat puas diri, kemalasan dan sikap nrimo. Sedangkan masalah agama tidak akan dapat dihapuskan, kecuali di bawah pemerintahan yang bebas. Dan pemerintahan yang bebas itu tidak akan terwujud kecuali melalui revolusi. Secara umum, kemiskinan itu lebih kuat daripada keimanan. Dan selalu bijaksana jika kita berbicara kepada orang setingkat dengan kemampuan berpikir mereka. Ustaz memandang Susan dengan tersenyum, lalu berkata: — Anda seorang yang percaya kepada kerja. Apakah anda juga puas dengan percakapan di bawah bayangan suami? Susan mengerti bahwa Ustaz itu sedang mempermainkannnya, dan bahwa ia tidak bersungguh-sungguh tentang yang ia katakan. Walaupun begitu Susan berkata dengan seius: — Suamiku memberi ceramah-ceramah di pelosok-pelosok yang jauh. Aku tidak. Aku sendiri membagi-bagi selebaran. Kemudian Ahmad menyambung, dengan bergumam: — Cacat gerakan kita ialah banyak menarik kaum utilitarianis yang tidak tulus. Dari mereka yang mengaharapkan upah, atau bekerja untuk kepentingan kelompoknya sendiri. D 13 E

F NURCHOLISH MADJID G

Ustaz Adli Karim menyahut, sambil menggelengkan kepalanya yang besar, dengan nada mengejek yang jelas: — Itu semua saya tahu pasti. Tetapi saya juga tahu bahwa Bani Umayyah dahulu telah mewarisi Islam padahal mereka tidak beiman kepadanya. Namun merekalah yang menyebarkan agama itu ke seluruh penjuru dunia, sampai Spanyol! Kita pun berhak untuk mengguankan mereka. Dan kalian jangan lupa bahwa zaman ada di pihak kita, dengan syarat kita mencurahkan seluruh kemampuan kita berjuang dan berkorban. — Bagaimana dengan Ikhwan (maksudnya, Ikhwanul Muslimin — NM) ya Ustaz! Kita selalu merasa bahwa mereka adalah penghalang kita yang berbahaya dalam perjuangan kita! — Saya tidak ingkari itu. Tetapi mereka tidaklah seberbahaya seperti Anda bayangkan. Apakah Anda tidak melihat bahwa mereka berbicara kepada rasio dengan bahasa kita, sehingga mereka juga mengatakan adanya “sosialisme Islam”? Bahkan kaum reaksioner pun tidak mesti meminjam istilah-istilah kita. Dan kalau mereka lebih dahulu berhasil dalam revolusi, mereka akan melaksanakan sebagian dari ideologi kita, meskipun hanya pelaksanaan parsial! Tetapi mereka tidak akan mampu menghentikan gerak zaman yang terus maju ke arah tujuannya yang pasti. Kemudian nanti, penyebaran ilmu pengetahuan cukup sebagai jaminan untuk menyingkirkan mereka seperti cahaya terang menyingkirkan kelelawar-kelelawar.

Penutup

Telah dikemukakan bahwa tulisan ini dibuat dalam serba keterbatasn. Antara lain karena langkahnya sumber-sumber yang diperlukan di negeri kita, akibat kurang intensifnya komunikasi intelektual dan kultural antara Indonesia dan negara-negara Arab, khususnya D 14 E

F PERADABAN ISLAMISLAM I: TELAAH ATAS PERKEMBANGAN PEMIKIRAN G F PEMIKIRAN DALAM SASTRA ARAB MODERN G

berkenaan dengan perkembangan dunia intelektual Arab modern, baik bidang pemikiran maupun sastra. Kepincangan ini lebih-lebih akan terasa bila diingat bahwa dunia intelektual Islam di mana pun cenderung berwatak multilingual, sekurangnya bilingual (seperti Arab, Persi, dan Urdu di India utara; atau Arab, Indonesia, dan Jawa di kalangan etnis Jawa). Namun karena berbagai faktor, peran bahasa Arab dominan, sehingga desakan ke arah adanya kontak intelektual yang lebih intensif dengan dunia intelektual Arab modern agaknya memang suatu kepastian. Inilah yang barangkali sangat perlu kita pikirkan saat ini. Adalah suatu kerugian yang amat besar jika kita tetap dalam suasana terputus dari arus perkembangan kontemporer dunia intelektual modern Arab dan Islam, seperti kita telah merugi secara telak karena terputus dari dunia intelektual Persi, baik yang klasik, lebih-lebih yang modern. Maka demi pengayaan (enrichment) sumber daya intelektual kita dalam menghadapi perkembangan negeri kita yang amat pesat ini, hal-hal tersebut perlu dipikirkan sungguh-sungguh. [™]

D 15 E

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.