PENGARUH AGLOMERASI, INVESTASI, ANGKATAN KERJA DAN HUMAN DEVELOPMENT INDEX TERHADAP PENDAPATAN KOTA SUNGAI PENUH


1 JIPI Vol. 2 No. 2, Juli ISSN : x PENGAUH AGLOMEASI, INVESTASI, ANGKATAN KEJA DAN HUMAN DEVELOPMENT INDEX TEHADAP PENDAPATAN KOTA SUNGAI PENUH Hppi S...
Author:  Ida Hermanto

0 downloads 4 Views 809KB Size

Recommend Documents


No documents


JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 12 - 24 e-ISSN : 2598-067x

PENGARUH AGLOMERASI, INVESTASI, ANGKATAN KERJA DAN HUMAN DEVELOPMENT INDEX TERHADAP PENDAPATAN KOTA SUNGAI PENUH Heppi Syofya ([email protected]) STIE Sakti Alam Kerinci ABSTRACT Economic growth is a major source of increasing living standards of the population, so it can be said that the ability of a country to raise the standard of living of its people is highly dependent and determined by its long run rate growth growth, an important indicator to know the economic condition in a region or province within a certain period indicated by regional income. Gross Regional Domestic Product will provide an overview of how the region's ability to manage and utilize existing production factors, not only natural resources, but also human resources also have an important role in increasing local revenues, simultaneously variables agglomeration, investment, labor force and human development index have a significant effect on economic growth of Sungai Penuh city Keywords: Regional economic growth ABSTRAK Pertumbuhan ekonomi merupakan sumber utama peningkatan standar hidup penduduk yang jumlahnya semakin meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan dari suatu negara untuk meningkatkan standar hidup penduduknya sangat tergantung dan ditentukan oleh laju pertumbuhan jangka panjangnya (long run rate economic growth), indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah atau provinsi dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh pendapatan daerah. Produk Domentik Regional Bruto (PDRB) akan memberikan gambaran bagaimana kemampuan daerah dalam mengelola serta memanfaatkan faktor produksi yang ada, bukan hanya sumber daya alam, namun juga sumber daya manusia juga sangat memiliki peran penting dalam peningkatan pendapatan daerah, secara simultan variabel aglomerasi, investasi, angkatan kerja dan human development index berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. Kata kunci : Pertumbuhan ekonomi wilayah

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 13 - 13 e-ISSN : 2598-067x

1. Pendahuluan Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Lincolin,2004). Dalam melaksanakan kegiatan pembangunan, pemerintah daerah memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia di daerah itu dan dituntut untuk bisa lebih mandiri. Terlebih dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka pemerintah daerah harus bisa mengoptimalkan pemberdayaan semua potensi yang dimiliki dan perlu diingat bahwa pemerintah daerah tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Penggalian sumber daya sendiri perlu dioptimalkan agar dapat digunakan sebagai input pembangunan perekonomian daerah yang mandiri. Desentralisasi kekuasaan dalam rangka peningkatan kemampuan daerah untuk mengoptimalkan sumber daya lokal diharapkan akan mendorong memajukan pembangunan daerah masing-masing sehingga diharapkan akan memiliki tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada tingkat daerah maupun nasional. Salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang dapat dijadikan tolak ukur secara makro adalah pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pembangunan nasional tidak lepas dari peran seluruh pemerintah Daerah yang telah berhasil memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia di daerah masing-masing, Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlangsung dari tahun ke tahun (Sukirno, 2000). Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi harus dibandingkan pendapatan dari berbagai tahun yang dihitung berdasarkan harga berlaku atau harga konstan. Sehingga perubahan dalam nilai pendapatan hanya disebabkan oleh suatu perubahan dalam tingkat kegiatan ekonomi. Suatu perekonomian dikatakan mengalami suatu perubahan akan perkembangannya apabila tingkat kegiatan ekonomi adalah lebih tinggi daripada yang dicapai pada masa sebelumnya. Menurut Lincolin (2004), pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Telah diketahui bersama bahwa pertumbuhan ekonomi adalah bagian dari proses pembangunan suatu negara. Pertumbuhan ekonomi yang merupakan syarat keharusan (necessary condition) maupun syarat kecukupan (sufficient condition) dalam mengurangi kemiskinan. Untuk dapat tumbuh secara cepat suatu negara perlu memilih satu atau lebih pusatpusat pertumbuhan regional yang memiliki potensi paling kuat. Apabila region ini kuat maka akan terjadi perembetan pertumbuhan bagi region-region yang lemah. Pertumbuhan ini berdampak positif (trickle down effect) yaitu adanya pertumbuhan di region yang kuat akan menyerap potensi tenaga kerja di region yang lemah atau mungkin region yang lemah menghasilkan produk yang sifatnya komplementer dengan produk region yang kuat (Trisnawati, 2003). Pertumbuhan ekonomi sendiri merupakan konsep yang menjelaskan mengenai faktor-faktor apa saja yang menentukan kenaikan output dalam jangka panjang serta penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain (Boediono, 1999). Output yang dimiliki suatu wilayah yang nantinya digunakan dalam pengukuran

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 13 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 14 - 13 e-ISSN : 2598-067x

pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari dalam maupun dari luar wilayah itu sendiri. Indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah atau provinsi dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domentik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB akan memberi suatu gambaran bagaimana kemampuan daerah dalam mengelola serta memanfaatkan sumber daya yang ada. Lemahnya kemampuan pihak swasta domestik dalam pembangunan ekonomi menyebabkan pemerintah harus berperan aktif sebagai penggerak dalam pembangunan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup penduduk yang jumlahnya semakin meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan dari suatu negara untuk meningkatkan standar hidup penduduknya sangat tergantung dan ditentukan oleh laju pertumbuhan jangka panjangnya (long run rate economic growth) pada dasarnya ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu: (1) jumlah penduduk, (2) jumlah stok barang modal. (3) luas tanah dan kekayaan alam, dan (4) tingkat teknologi yang digunakan (Sukirno, 2000). Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan ekonominya lebih tinggi daripada apa yang dicapai pada masa sebelumnya. Aglomerasi dinyatakan sebagai proporsi laju pertumbuhan PDRB perkotaan (urban area) terhadap pertumbuhan PDRB provinsi tersebut (Suryaningrum, 2000). Aglomerasi dapat di ukur dengan beberapa cara, yakni dengan menggunakkan proporsi jumlah penduduk perkotaan dalam suatu provinsi terhadap jumlah penduduk provinsi tersebut, atau dengan cara menggunakan konsep aglomerasi produksi yang diukur menggunakan proporsi PDRB sub.daerah/wilayah terhadap PDRB Daerah (Bonet dalam Sigalingging, 2008). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serta besarnya pengaruh aglomerasi, investasi, angkatan kerja dan human development index terhadap PDRB Kota Sungai Penuh baik secara simultan maupun secara parsial.

2. LANDASAN TEORI Menurut Djojohadikusumo, (1994) mengenai perkembangan perekonomian di suatu wilayah, bahwa perkembangan perekonomian akan menyebabkan terjadinya transformasi strukutur ekonomi. Transformasi struktur ekonomi ditandai dengan terjadinya peralihan dan pergeseran dari kegiatan sektor primer (pertanian, pertambangan) ke sektor produksi sekunder (industri manufaktur, konstruksi) dan sektor tersier (jasa). Terdapat perbedaan tingkat produksi dan pada laju pertumbuhan diantara sektor-sektor yang bersangkutan. Dalam hubungan ini terjadi pergeseran diantara peranan masing-masing sektor dalam komposisi produk nasional. Transformasi struktur ekonomi juga dapat dilihat dari sudut pergeseran dalam kesempatan kerja. Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian cenderung menurun sebagai persentase secara menyeluruh dan sebaliknya, jumlah tenaga kerja di sektor sekunder dan tersier meningkat baik secara absolut maupun sebagai persentase dari jumlah total angkatan kerja. Kuznets juga mengemukakan bahwa ada setidaknya enam karakteristik atau ciri proses pertumbuhan ekonomi yang ditemui di hampir semua negara yang sekarang telah menjadi negara maju (developed countries) atau wilayah maju apabila berbicara dalam konteks ekonomi regional yaitu : 1). Tingkat pertumbuhan JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 14 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 15 - 13 e-ISSN : 2598-067x

output perkapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, 2). Tingkat kenaikan total produktivitas faktor yang tinggi, 3). Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi, 4). Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi, 5). Adanya kecenderungan negara-negara yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha menambah bagian-bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru, dan 6). Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sekitar sepertiga bagian penduduk yang ada. Menurut Jhingan (2002), ada perbedaan dalam istilah perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Perkembangan ekonomi merupakan perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang senantiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya, sedangkan pertumbuhan ekonomi adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap yang terjadi melalui kenaikan tabungan dan penduduk. Tujuan pembangunan ekonomi diantaranya yakni: peningkatan ketersediaan serta berbagai macam kebutuhan hidup, peningkatan standart hidup, dan peningkata pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu (Todaro, 2000). Aglomerasi dinyatakan sebagai proporsi jumlah penduduk perkotaan (urban area) terhadap jumlah penduduk provinsi tersebut (Suryaningrum, 2000). Aglomerasi dapat di ukur dengan beberapa cara, yakni dengan menggunakkan proporsi jumlah penduduk perkotaan dalam suatu provinsi terhadap jumlah penduduk provinsi tersebut, atau dengan cara menggunakan konsep aglomerasi produksi yang diukur menggunakan proporsi PDRB sub.daerah/wilayah terhadap PDRB Daerah (Bonet dalam Sigalingging, 2008). Aglomerasi yang digunakan adalah aglomerasi produksi, dimana manfaat aglomerasi ini adalah kategori penghematan skala, dimana terdapat penghematan dalam produksi secara internal bila skala produksinya ditingkatkan. Biayatetap yang besar sebagai akibat investasi dalam bentuk pabrik dan peralatan. Sebagai konsekuensinya, unit biaya produksi menjadi lebih rendah sehingga dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Hal ini dapat dipertanggungjawabkan hanya pada lokasi-lokasi yang melayani penduduk dalam jumlah besar atau dengan perkataan lain, mempunyai suatu pasar yang luas. Jadi dapat disimpulkan, bahwa terjadinya penghematan skala internal memberikan manfaat pada konsentrasi penduduk dalam jumlah besar daripada jumlah penduduk yang sedikit, industri dan kegiatan-kegiatan lainnya (Adisasmita, 2005). Aglomerasi produksi dapat menyebabkan ketimpangan pendapatan apabila ada halangan terhadap migrasi pekerja antar regional, atau seperti yang pernah diteliti pada negara berkembang, bahwa ada surplus tenaga kerja dalam perekonomian. Investasi adalah pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapanperlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian (Sukirno, 2000). Untuk meningkatkan investasi persediaan modal dalam modal baru harus lebih dari cukup untuk menutupi depresiasi yang biasanya timbul ketika modal yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan produktif. Saat investasi modal lebih besar daripada depresiasi, persediaan modal meningkat dan demikian halnya dengan output. Modal merupakan salah satu faktor produksi yang mempunyai peranan cukup penting untuk meningkatkan pembangunan ekonomi suatu negara/daerah. Keterbatasan modal merupakan salah satu penghambat kegiatan pembangunan, dan ini adalah JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 15 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 16 - 13 e-ISSN : 2598-067x

salah satu ciri Negara sedang berkembang, yaitu meminjam atau meminta bantuan Negara asing. Pendekatan pembangunan ekonomi yang menekankan pentingnya pembentukan modal atau sering disebut dengan aliran fundamentalis modal (capital fundamentalism), menganggap bahwa pembentukan modal merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi. Rostow menyatakan bahwa pembangunan akan lebih mudah diciptakan hanya jika jumlah tabungan ditingkatkan. Penanaman Modal dalam Negeri adalah penggunaan modal dalam negeri di atas bagi usaha-usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya. Penanaman tersebut dapat dilakukan secara langsung, yaitu oleh pemiliknya sendiri atau tidak langsung melalui pembelian obligasi-obligasi, saham-saham dan surat berharga lainnya yang dilakukan oleh perusahaan, serta deposito dan tabungan yang berjangka sekurangkurangnya satu tahun. Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan investasi yang sumber pembiayaannya dari luar negeri. Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan sesuatu yang dapat mengisi celah yang ada antara tabungan yang dapat dihimpun dari dalam negeri, cadangan devisa penerimaan pemerintah daerah dan pengalihan skill di satu pihak dan jumlah yang dibutuhkan dan jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran pembangunan di pihak lain (Sukirno, 2000). Penanaman Modal Asing dapat terjadi dalam beberapa bentuk : 1) penanaman modal keuangan murni; 2) usaha patungan dan 3) anak perusahaan yang seluruhnya milik asing. Sedangkan manfaat yang diharapkan pada Penanaman Modal Asing adalah sebagai berikut : 1) sumber modal; 2) sumber pengetahuan; 3)sumber pembaharuan proses atau produk; 4) menciptakan kesempatan kerja; 5) pengaruh yang menguntungkan yang bersifat pelengkap. Angkatan Kerja didefinisikan sebagai penduduk berumur 15 tahun atau lebih yang bekerja, mencari pekerjaan, dan sedang melakukan kegiatan lain, seperti sekolah maupun mengurus rumah tangga dan penerimaan pendapatan (Simanjuntak, 1985). Pencari kerja, bersekolah dan yang mengurus rumah tangga walaupun sedang tidak bekerja dianggap secara fisik mampu dan sewaktu waktu dapat ikut bekerja. Pengertian tenaga kerja dan bukan angkatan kerja hanya dibedakan oleh batas umur saja. Di Indonesia dipilihnya batas umur 10 tahun tanpa batas umur maksimal. Pemilihan 10 tahun sebagai batas minimum adalah berdasarkan kenyataan bahwa pada umur tersebut sudah banyak penduduk terutama di desadesa yang sudah bekerja atau mencari pekerjaan. Penduduk merupakan unsur yang penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi. Penduduk memegang peranan penting karena menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan, tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. Di samping pertambahan jumlah penduduk, mengakibatkan bertambah dan makin kompleksnya kebutuhan (Sukirno, 2000). Lincolin (2004) menjelaskan bahwa pertambahan penduduk dan hal-hal yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja (labor force) secara tradisional telah dianggap sebagai faktor positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Artinya semakin banyak angkatan kerja berarti semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik. Namun demikian kebenarannya tergantung pada kemampuan sistem ekonomi tersebut untuk menyerap dan memperkerjakan tambahan pekerja itu secara produktif. Kemampuan itu tergantung pada tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya faktor-faktor lain yang dibutuhkan, seperti misalnya keahlian manajerial dan administratif. Suparmoko (1998) menyatakan JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 16 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 17 - 13 e-ISSN : 2598-067x

bahwa, faktor tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi terpenting dalam kaitannya dengan peningkatan PDRB suatu daerah. Dari segi jumlah, semakin banyak tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi biasanya akan semakin tinggi pula produksi dari kegiatan tersebut. Namun karena mengikuti kaidah pertambahan hasil yang semakin berkurang, sehingga setelah mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja tertentu. Jumlah produk total yang dapat dihasilkan oleh tenaga kerja tersebut akan berkurang. Perbaikan kualitas tenaga kerja dapat memperpanjang batas penurunan produksi total karen pertambahan jumlah tenaga kerja dapat ditunda hingga mencapai jumlah tenaga kerja yang lebih besar. Dalam studi ekonomi mikro, teori produksi sederhana menggambarkan tentang hubungan diantara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. dalam analisis tersebut, diasumsikan satu-satunya faktor produksi yang dapat berubah adalah tenaga kerja, faktor produksi lainnya tetap jumlahnya. Hubungan tersebut dijalaskan dengan nilai produk marginal tenaga kerja Human Deplopment Index diproxy dengan tingkat pendidikan, yaitu jumlah penduduk (siswa) baik laki-laki maupun perempuan yang masih duduk atau belajar di tingkat SLTA pada suatu daerah dari tahun ke tahun (Nuryadin,dkk 2007). Istilah modal manusia (human capital) pertama kali dikemukakan oleh Gary S. Becker. Suryadi (1994) yang mengkaji lebih dalam mengenai peran pendidikan formal dalam menunjang pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa, semakin tinggi pendidikan formal yang diperoleh, maka produktivitas tenaga kerja akan semakin tinggi pula. Hal tersebut sesuai dengan teori Human Capital, yaitu bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Teori ini menganggap pertumbuhan penduduk ditentukan oleh produktivitas perorangan. Jika setiap orang memiliki penghasilan yang lebih tinggi karena pendidikannya lebih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi penduduk dapat ditunjang. Sejak tahun 1999, United Nations Development Program (UNDP) mengenalkan konsep pengukuran mutu modal manusia yang diberinama Human Development Index atau disebut IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Adanya peningkatan (IPM) dapat memungkinkan meningkatnya output dan pendapatan dimasa yang akan datang sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

3. Metode Penelitian Data dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun 2009 sampai dengan tahun 2015 yaitu data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sungai Penuh ataupun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi. Untuk menghitung nilai aglomerasi digunakan rumus perhitungan : π΄π‘”π‘™π‘œπ‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘– =

π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– 𝑃𝐷𝑅𝐡 πΎπ‘œπ‘‘π‘Ž π‘†π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘– π‘ƒπ‘’π‘›π‘’β„Ž π‘₯ 100 π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– 𝑃𝐷𝑅𝐡 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘£π‘–π‘›π‘ π‘– π½π‘Žπ‘šπ‘π‘–

Sedangkan rumus perhitungan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh serta besarnya pengaruh aglomerasi, investasi, angkatan kerja dan human development index terhadap PDRB-ADHB Kota Sungai Penuh baik secara simultan maupun secara parsial adalah : JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 17 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 18 - 13 e-ISSN : 2598-067x

Y = log a + log b1X1 + log b2X2 + log b3X3 + log b4X4 + e Dimana: Y : Pertumbuhan Ekonomi a : nilai konstanta X1 : Variabel Aglomerasi X2 : Variabel Investasi X3 : Variabel Angkatan Kerja X4 : Variabel Human Development Index e : error / faktor pengganggu Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabel bebas (X) dapat berpengaruh terhadap bariabel terikat (Y) dengan persamaan sebagai berikut : KD = r2 x 100% Dimana : KD : Koefisien Determinasi r : Koefisien Korelasi Definisi Operasional Variabel Adapun yang menjadi variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini dapat di definisikan sebagai berikut : a. PDRB (variabel Y) adalah merupakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kota Sungai Penuh tahun 2009 sampai dengan tahun 2015, b. Aglomerasi (variabel X1) adalah variabel yang diukur sebagai rasio perbandingan PDRB perkotaan (urban area) terhadap PDRB Provinsi Jambi pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2015, c. Investasi (variabel X2) adalah variabel pengeluaran atau perbelanjaan, penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi Kota Sungai Penuh tahun 2009 sampai dengan tahun 2015, d. Tenaga Kerja (variabel X3), adalah jumlah angkatan kerja yang berumur 15 tahun atau lebih yang bekerja, mencari pekerjaan dan sedang melakukan kegiatan lain di Kota Sungai Penuh tahun 2009 sampai dengan tahun 2015, dan e. Human Development Index (variabel X4), adalah indeks pembangunan manusia (IPM) kota Sungai Penuh tahun 2009 sampai dengan tahun 2015. Hipotesis : Ho : r = : Diduga tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel 0 aglomerasi, investasi, tenaga kerja dan human development index terhadap pertumbuhan ekonomi di kota Sungai Penuh Ha: r β‰  : Diduga terdapat pengaruh yang signifikan variabel aglomerasi, 0 investasi, tenaga kerja dan human development index terhadap pertumbuhan ekonomi di kota Sungai Penuh

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 18 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 19 - 13 e-ISSN : 2598-067x

4. Hasil dan Pembahasan Untuk mengetahui pengaruh aglomerasi, investasi, tenaga kerja dan human development indeks di Kota Sungai Penuh terhadap pertumbuhan penduduk, maka dapat di jelaskan pada tabel hasil perhitungan sebagai berikut : Tabel 1 Pengaruh Aglomerasi, Investasi dan Human Development Index secara Simultan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Sum of Squares

df

Mean F Square .057 43.296 .001

Sig

Regression .228 4 .023a Residual .003 2 Total .231 6 a. Predictors : (constant) : Aglomerasi, Tenaga kerja, Investasi, Human Development Index b. Dependent variable : pertumbuhan Berdasarkan hasil perhitungan melalui korelasi linear berganda melalui bantuan program SPSS dengan pengujian keseluruhan variabel secara simultan di dapatkan hasil bahwa f hitung > f tabel atau 43,296 > 9,12 artinya variabel aglomerasi, investasi, tenaga kerja dan human development index berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. Table 2 berikut menunjukkan nilai persentase. Diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,989 yang merupakan kuadratan dari koefisien korelasi (0,994) artinya konstribusi variabel aglomerasi, investasi, tenaga kerja dan human development index terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sebesar 98,9 % sedangkan sisanya sebesar 1,1 % di pengaruhi oleh faktor lain. Tabel 2 Besar Pengaruh Aglomerasi, Investasi dan Human Development Index secara Simultan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Mode l

1

R

R Squar e

Adjuste dR Square

Std.Err or of The Estimat e

Change Statistics Durbin R F df df Sig.F Squar Chan 1 2 Chang Watso n e ge e Chan ge .994a .989 .966 .03628 .989 43.29 4 2 .023 3.3310 6 a. Predictors : (constant) : Aglomerasi, Tenaga kerja, Investasi, Human Development Index b. Dependent variable : pertumbuhan

Untuk mengetahui persamaan dan pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat dapat dilihat dari hasil analisis regresi liner berganda seperti pada table 3 berikut ini :

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 19 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 20 - 13 e-ISSN : 2598-067x

Tabel 3 Analisis Persamaan Regresi Berganda Variabel Aglomerasi, Investasi dan Human Development Index terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Unstandardized Coefficients B

Std.Erro r 3.938 .907 .123 2.462 4.045

(constant) Aglomerasi 14.005 Investasi .586 Tenaga Kerja -.193 Human Development -3.641 Index 17.136 a. Dependent variable : pertumbuhan

Standardiz ed Coefficients Beta

.128 -.383 -.353 1.573

t

-3.556 .646 -1.572 -1.479 4.236

Sig.

.071 .585 .257 .277 .051

Y = -14.005 + 0,586 X1 - 0,193 X2 -3,641 X3 +17,136 X4 Dengan nilai konstanta sebesar -14.005 artinya jika semua variabel independent bernilai 0 maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi di kota Sungai Penuh sebesar 14.005 pertahun, X1 sebesar 0,586 menyatakan bahwa setiap kenaikan nilai aglomerasi 1 persen, maka pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh akan menurun sebesar 0,586 pertahun, X2 sebesar -0,193 menyatakan bahwa setiap penurunan investasi sebesar Rp.1 Milyar maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sebesar -0,193 milyar pertahun, X3 sebesar -3,641 menyatakan bahwa setiap penurunan tenaga kerja 1 persen maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sebesar 3,641 pertahun dan X4 sebesar 17,136 menyatakan bahwa setiap peningkatan human development index 1 persen maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sebesar 17,136 pertahun. Tabel 4 Hasil Perhitungan Uji t variabel Aglomerasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Unstandardized Coefficients B

Std.Erro r (constant) 12.285 2.846 Aglomerasi -1.842 1.877 a. Dependent variable : pertumbuhan

Standardiz ed Coefficients Beta

-.402

t

4.316 -.982

Sig.

.008 .371

Dari tabel di atas diperoleh nilai t hitung sebesar -0.982 dengan tingkat signifikansi Ξ± = 0,94. Uji dilakukan dua sisi (two tailed) dan nilai t tabel sebesar 3,182 nilai t hitung < t tabel atau -0,982 < 3,182 atau dari uji signifikansi yaitu 0,37 > 0,05 artinya variabel aglomerasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. R Square sebesar 0,162, artinya aglomerasi secara parsial memberi pengaruh sebesar 16,2% terhadap pertumbuhan

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 20 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 21 - 13 e-ISSN : 2598-067x

ekonomi kota Sungai Penuh sedangkan sisanya sebesar 83,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini. Tabel 5 Koefisien Determinasi Pengaruh Aglomerasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Mode l

1

R

R Squar e

Adjuste dR Square

Std.Err or of The Estimat e

Change Statistics Durbin R F df df Sig.F Watso Squar Chan 1 2 Chang n e ge e Chan ge a .402 .162 -.006 .19662 .162 .963 1 5 .371 .865 a. Predictors : (constant) : Aglomerasi b. Dependent variable : pertumbuhan Tabel 6 Hasil Perhitungan Uji t variabel Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Unstandardized Coefficients B

Std.Erro r (constant) 5.138 1.032 Investasi .445 .105 a. Dependent variable : pertumbuhan

Standardiz ed Coefficients Beta

.884

t

4.979 4.224

Sig.

.004 .008

Dari tabel di atas diperoleh nilai t hitung sebesar 4.224 dengan tingkat signifikansi Ξ± = 0,008. Uji dilakukan dua sisi (two tailed) dan nilai t tabel sebesar 3,182 nilai t hitung > t tabel atau 4,224 > 3,182 atau dari uji signifikansi yaitu 0,00 < 0,05 artinya variabel investasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. R Square sebesar 0,781% artinya investasi secara parsial memberikan pengaruh sebesar 78,1% terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sedangkan sisanya sebesar 21,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak di teliti di dalam penelitian ini. Tabel 7 Koefisien Determinasi Pengaruh Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Mode l

1

R

R Squar e

Adjuste dR Square

Std.Err or of The Estimat e

Change Statistics Durbin R F df df Sig.F Watso Squar Chan 1 2 Chang n e ge e Chan ge a .884 .781 .737 .10047 .781 17.84 1 5 .008 1.493 0 a. Predictors : (constant) : Investasi b. Dependent variable : pertumbuhan

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 21 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 22 - 13 e-ISSN : 2598-067x

Tabel 8 Hasil Perhitungan Uji t variabel Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Unstandardized Coefficients B

Std.Erro r (constant) .524 8.115 Tenaga Kerja 4.566 4.131 a. Dependent variable : pertumbuhan

Standardiz ed Coefficients Beta

.443

t

.065 1.105

Sig.

.951 .319

Dari tabel di atas diperoleh nilai t hitung sebesar 1.105 dengan tingkat signifikansi Ξ± = 0,319. Uji dilakukan dua sisi (two tailed) dan nilai t tabel sebesar 3,182 nilai t hitung < t tabel atau 1,105 < 3,182 uji signifikansi 0,31 > 0,05 artinya variabel tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. R Square sebesar 0,196% artinya tenaga kerja secara parsial memberikan pengaruh sebesar 19,6% terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sedangkan sisanya sebesar 80,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak di teliti di dalam penelitian ini. Tabel 9 Koefisien Determinasi Pengaruh Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Mode l

1

R

R Squar e

Adjuste dR Square

Std.Err or of The Estimat e

Change Statistics Durbin R F df df Sig.F Squar Chan 1 2 Chang Watso n e ge e Chan ge .443a .196 .036 .19250 .196 1.222 1 5 .319 .339 a. Predictors : (constant) : Tenaga kerja b. Dependent variable : pertumbuhan Tabel 10 Hasil Perhitungan Uji t variabel Human Development Index terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Model

Unstandardized Coefficients B

Std.Erro r 1.957 1.060

(constant) Human development 10.147 index 10.632 a. Dependent variable : pertumbuhan

Standardiz ed Coefficients Beta

.976

t

-5.183 10.033

Sig.

.004 .000

Dari tabel di atas diperoleh nilai t hitung sebesar 10.033 dengan tingkat signifikansi Ξ± = 0,000 dan nilai t tabel sebesar 3,182 t hitung > t tabel dengan nilai 10,033 > 3,182, dari uji signifikansi yaitu 0,000 < 0,05 artinya, variabel human JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 22 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 23 - 13 e-ISSN : 2598-067x

development index berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh. R Square sebesar 0,953 % artinya human development index secara parsial memberikan pengaruh sebesar 95,3% terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh sedangkan sisanya sebesar 4,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak di teliti di dalam penelitian ini. Tabel 11 Koefisien Determinasi Pengaruh Human Development Index terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Sungai Penuh Mode l

1

R

R Squar e

Adjuste dR Square

Std.Err or of The Estimat e

Change Statistics Durbin R F df df Sig.F Squar Chan 1 2 Chang Watso n e ge e Chan ge .976a .953 .943 .04671 .953 100.6 1 5 .000 1.529 68 a. Predictors : (constant) : Human development index b. Dependent variable : pertumbuhan

5. Simpulan 1. Secara simultan variabel aglomerasi, investasi, tenaga kerja dan human development index berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh, dan 2. Secara parsial variabel aglomerasi dan tenaga kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh, sedangkan variable investasi dan human development index berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota Sungai Penuh.

Daftar Pustaka Ace Suryadi. 1994. β€œHubungan antara Pendidikan, Ekonomi, dan Pengangguran Tenaga Terdidik” PRISMA, Vol.8, No.5, Hal.71-87. Arsyad, Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BP STIE YKPN. Artur J. Sigalingging, 2008. β€œDampak Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kesenjangan Wilayah”, Skripsi Tidak Dipublikasikan, Fakultas Ekonomi Undip, Semarang. Boediono, 1999, Teori Pertumbuhan Ekonomi, Yogyakarta: BPFE. Esa Suryaningrum A. 2000. β€œPertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia” Media Ekonomi dan Bisnis, Vol 12 No. 1, h 8-16, Semarang : FEUNDIP. Jhingan, M.L. 2002. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan : Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Mudradjad, Kuncoro. 2002. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Simanjuntak, Payaman. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : LPFE UI. Sadono, Sukirno. 2002. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2003. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Tarigan, Robinson. 2004. Ekonomi Regional : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Bumi Aksara 2005. Ekonomi Regional. Bumi Aksara , Medan

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 23 -

JIPI Vol. 2 No. 2, Juli 2018. 24 - 13 e-ISSN : 2598-067x

Todaro P. Michael. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi kelima. Surabaya : Erlangga 2004. Pembangunan Ekonomi I Dunia Ketiga. Edisi kedelapan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Wiyadi dan Rina Trisnawati. 2003. Analisis Potensi Daerah Untuk Mengembangkan Wilayah di Eks- Karesidenan Surakarta Jurnal Fokus Ekonomi, Vol. 1 No. 3.

JIPI Vol. 2 No.2, Juli 2018. - 24 -

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

Β© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.