PERENCANAAN ULANG MESIN PUNCH DI PT. OMETRACO ARYA SAMANTA SURABAYA


1 PERENCANAAN ULANG MESIN PUNCH DI PT. OMETRACO ARYA SAMANTA SURABAYA Ir. Arino Anzip, M. Eng. Sc 1*, Dadang Triawan 2 Institut Teknologi Sepuluh Nope...
Author:  Suhendra Setiabudi

0 downloads 0 Views 828KB Size

Recommend Documents


PERENCANAAN PEMBUKAAN RUTE BONTANG- SURABAYA DI PELABUHAN LOKTUAN OLEH PT
1 ejournal Administrasi Negara, Volume 5, Nomor 4, 2017 : ISSN , ejournal.an.fisip-unmul.ac.id Copyright 2017 PERENCANAAN PEMBUKAAN RUTE BONTANG- SURA...

BAB V PENUTUP. Pembelian Ulang Sarimi di Surabaya Timur. Sarimi di Surabaya Timur. Pembelian Ulang Sarimi di Surabaya Timur
1 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh dari...

PERENCANAAN PERAWATAN MESIN-MESIN PRODUKSI (RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE) DI PT TJITA RIMBA DJAJA ENDY
1 PERENCANAAN PERAWATAN MESIN-MESIN PRODUKSI M E N G G U N A K A N M E T O D E R C M (RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE) DI PT TJITA RIMBA DJAJA TUGAS ...

PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DAN SISTEM DAUR ULANG AIR HOTEL BUDGET DI KOTA SURABAYA
1 TUGAS AKHIR RE PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DAN SISTEM DAUR ULANG AIR HOTEL BUDGET DI KOTA SURABAYA ROSALINA EKA PRAPTIWI Dosen Pembi...

Perancangan Ulang Tata Letak Mesin pada Lantai Produksi di Biro Workshop PT. Semen Padang
1 Petunjuk Sitasi: Yulius, H., Irsan, & Lenggogeni, P. (07). Perancangan Ulang Tata Letak pada Lantai Produksi di Biro Workshop PT. Semen Padang. ...

ARYA DEWAKER ARYA DEWAKER
1 Het levensverhaal De Swami in tweestrijd Het klonk als een donderslag Geen aardse rijkdommen voor Dayanand Geen afbraak, liever herstel en opbouw De...

Pengurangan Downtime Mesin Offset di PT X
1 Pengurangan Downtime Mesin Offset di PT X Jennifer Claudia 1, Felecia 1 Abstract: X, Ltd is a company engaged in the field of packaging printing. Th...

Perencanaan Strategi Pengembangan Usaha Pada PT. Dok dan Perkapalan Surabaya
1 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2018), ( X Print) G 7 Perencanaan Strategi Pengembangan Usaha Pada PT. Dok dan Perkapalan Surabaya Niken Saraswati,...

PERANCANGAN ULANG MESIN PERONTOK PADI PORTABLE
1 PERANCANGAN ULANG MESIN PERONTOK PADI PORTABLE Bustami Ibrahim 1, Ady Fadli 2 (1) Dosen Jur. Teknik Perancangan Manufaktur, Politeknik Manufaktur Ne...

PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. SENTRATEK ADIPRESTASI SURABAYA SKRIPSI
1 PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. SENTRATEK ADIPRESTASI SURABAYA SKRIPSI Oleh : DWI WINDA OKTAVIA JURUSAN ...



PERENCANAAN ULANG MESIN PUNCH DI PT. OMETRACO ARYA SAMANTA SURABAYA Ir. Arino Anzip, M. Eng. Sc 1*, Dadang Triawan 2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia1* [email protected] Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia2 [email protected]

Abstrak Salah satu mesin yang ada di PT. Ometraco Arya Samanta, Surabaya adalah mesin punch dengan kapasitas mesin 63 ton yang mampu untuk melubangi sebuah plat dengan ketebalan mencapai 6 mm dan diameter lubang sampai 18 mm. PT. Ometraco Arya Samanta yang bergerak dalam bidang kontruksi baja biasanya menggunakan mesin punch untuk membuat sebuah ring pelat pada body water dispenser atau dapat diganti sesuai dengan kebutuhan. Mesin punch ini menggunakan sistem hidrolik. Sistem electrohydraulic dalam mesin punch berfungsi untuk mengubah energi electric / listrik menjadi energi mekanik. Dengan menggunakan sistem electrohydraulic ini lebih mempermudah pekerjaan untuk melubangi sebuah pelat. Pada tugas akhir ini akan dilakukan redesain sistem electrohydraulic pada mesin punch. Parameter yang akan dianalisis diantaranya silinder hidrolik, pompa, motor listri, gaya untuk proses punching dan simulasi sistem hidroliknya. Setelah dilakukan analisis didapat gaya yang bekerja pada silinder hidrolik adalah 784532 𝑁 N atau 80 ton, tekanan pada silinder hidrolik adalah 2927573,46 2, head loss total yang π‘š terjadi system hidrolik adalah 1032,62 m, daya motor listrik yang diperlukan adalah 1,5 HP. Sehingga kapasitas pompa yang dibutuhkan adalah 0,96 liter/detik. Dari sistem electrohydraulic , dilakukan simulasi dengan menggunakan fluidsim. Kata kunci : punch, electrohydraulic, punching 1. Pendahuluan Punching adalah mesin potong yang menggunakan tenaga hidraulic untuk menekan atau menghentakkan tool punch dengan berbagai bentuk tool sesuai bentuk / potongan yang diharapkan. Mesin Punch ialah salah satu mesin yang digunakan untuk mengurangi volume benda kerja (plat), yang tidak menghasilkan geram (chip) atau sisa benda kerja biasanya digunakan untuk membuat benda kerja (plat) secara massal dalm bentuk yang sama dan dikerjakan secara beruntun. Adapun mesin punch yang digunakan di PT. Ometraco arya Samanta, menggunakan sistem elektrohidrolik. Mesin punch ini memiliki gaya tonase sampai 63 ton. Untuk mengerjakan plat dengan ketebalan sampai 6 mm dan diameter 18 mm. Serta mampu untuk menambah kapasitas mesin. Pada sistem mesin punch yang sudah ada, masih memiliki permasalahan seperti, gaya tonase yang kurang, proses loading dan unloading yang kurang mengutamakan K3,

tempat pembuangan minyak hidrolik yang kurang diperhatikan, dan mesin punch hanya mampu untuk digunakan pada ketebalan plat maksimum 6 mm saja dengan diameter lubang 18 mm. Berbagai masalah di atas membuat sistem mesin punch kurang produktif untuk skala besar dalam proses permesinan sehingga perlu adanya redesain mesin punch tersebut. Oleh karena itu Tugas Akhir ini akan membahas mengenai redesain sistem elektrohidrolik yang sesuai pada mesin punch. Sehingga mesin punch memiliki kapasitas yang besar dan mampu untuk proses punching dengan ketebalan lebih dari 6 mm dan meningkatkan gaya tonase yang sudah ada. Dengan adanya sistem elektrohidrolik yang baik diharapkan mesin punch ini mampu memenuhi kapasitas mesin yang akan datang dan kapasitas mesin yang lebih besar.

Gambar 2.1. Mekanisme proses sheet metal forming secara garis besar (Kalpakjian 2001, hal 381)

2. Dasar Pustaka Sheet Metal Forming Yang dimaksud dengan sheet metal forming adalah proses pengerjaan plat dengan berbagai macam pengerjaan sehingga menjadi bentuk permanen namun bukan proses pemotongan. Dalam proses pembentukan, plat akan melalui beberapa tahapan yang dimulai saat punch menyentuh permukaan plat, adapun tahapan itu antara lain : a. Tekanan dalam daerah elastis. Dimana bahan akan mengalami perubahan bentuk sementara, jika tekanan ini dibatalkan maka plat akan kembali pada bentuk semula. Maka proses pembentukan belum selesai. b. Tekanan melewati daerah elastis dan masuk kedalam daerah plastis. Pada daerah ini akan diperoleh bentuk yang permanen, apabila pengerjaan menginginkan proses pembentukan maka pada tahap inilah dapat dicapai. c. Tekanan melewati daerah plastis. Apabila proses dilanjutkan sampai melewati daerah plastis maka akan terjadi proses retak, selanjutnya retakan akan bertemu sehingga proses ini akan menghasilkan proses pemotongan.

Karakteristik Proses Sheet Metal Forming a. Proses Sheet Metal Forming Proses ini secara umum yang biasa digunakan dalam dunia industry kontruksi baja.

b.

Blanking Die Blanking atau penembukan pada prinsipnya adalah proses penguntingan pelat dengan gaya geser antara punch dan dies. Pelat diletakkan diantara punch dan dies. Posisi dies di bawah dan tetap, sementara punch terletak pada bagian atas dan bergerak ke bawah pemotong bagian pelat sesuai dengan bentuk punch yang ada.

Gambar 2.2. Blanking Die (Kalpakjian 2009, hal 382) c. Hole Punching Die Pada dasarnya prinsipnya sama dengan blanking die namun Hole Punching Die menggunakan 2 punch dan 2 die (die block), yang dapat sekaligus membuat 2 lubang dalam sekali proses.

Gambar 2.3. Hole Punching Die (Kalpakjian 2009, hal 284)

d.

Blank and Punch Die Pada dasarnya prinsipnya sama dengan blanking die namun yang membedakan hanya desain dan spring yang digunakan saja. Untuk blank and punch die menggunakan 2 spring untuk menjaga keseimbangan dalam proses punch.

sangat cocok diaplikasikan untuk continuous production line. Progressive die dapat diaplikasikan dalam banyak sektor industri, misal perhiasan (emas), automotive dan lain-lain.

Gambar 2.6. Progressive Die (Kalpakjian 2009, hal 286) Gambar 2.4. Blank and Punch Die (Kalpakjian 2009, hal 286) e.

Multi Stage Stamping Jenis ini biasa digunakan dalam mesin punch yang berbasis CNC (computer numerical control), yang dapat memproses suatu benda kerja (plat) dalam sekali proses terdapat stamping dan membuat lubang.

Gambar 2.5. Multi Stage (Kalpakjian 2009, hal 287) f.

Stamping

Progressive Die Progressive die adalah salah satu jenis die set yang prinsip operasionalnya berjalan secara progressive, sehingga

Mesin Punch a. Mesin Punch (Tekan) Jenis perkakas tekan (press tool) biasanya disesuaikan dengan jenis proses yang dikerjakan. Misalnya jika perkakas tekan hanya berfungsi untuk membuat blank maka disebut Blanking Tool. Secara lebih jelas, jenis - jenis perkakas tekan akan dibahas seperti berikut ini : a) Blanking tool adalah perkakas tekan untuk membuat blank. Secara umum dikenal dua macam blanking tool ditinjau dari konstruksinya, yaitu konstruksi biasa dan konstruksi terbalik. Konstruksi biasa ialah konstruksi perkakas tekan yang pada umumnya punch dipasang pada top plate dan die dipasang pada bottom plate, dimana blank jatuh melewati lubang die. Yang kedua ialah konstruksi terbalik, kebalikan dari susunan perkakas tekan pada umumnya. Pada konstruksi terbalik punch dipasang pada

bottom plate dan die dipasang pada top plate, sehingga ketika kerja pemotongan selesai blank jatuh diatas plat yang dipotong. b) Piercing tool merupakan dasar perancangan jenis perkakas ini sama dengan blanking tool konstruksi biasa. Perbedaannya terletak pada yang dikerjakan, yaitu kalau blanking tool memotong plat berupa gulungan atau lembaran sedangkan piercing tool mengerjakan satu keping benda kerja bidang berupa blank. Fungsi piercing tool adalah untuk membuat lubang. Oleh karena itu bentuk dan ukuran lubang ditentukan oleh punch. Untuk menepatkan kedudukan benda kerja biasanya dipakai nest yang merupakan susunan beberapa pin atau plat. Sedangkan untuk memudahkan pengambilan keeping benda kerja bisa dibuat tangga pada tepi die dengan pengerjaan mesin. Untuk memudahkan penepatan kedua alat pelubang (punch dan die) paling tidak diperlukan pemasangan dua buah pin penepat, namun akan lebih baik jika menggunakan die – set. Tentu saja penggunaan die – set akan lebih mahal, namun hasilnya lebih memuaskan. c) Progressive tool merupakan dua atau lebih kerja pemotongan sederhana dikombinasikan dalam satu perkakas dan prosesnya merupakan proses yang bersambung secara langsung, perkakas tekan tersebut dinamakan progressive tool. Yang dimaksud progressive disini adalah kerja langkah demi langkah dari proses pertama hingga terakhir

terbentuk benda yang dikehendaki. Setelah setiap langkah pemotongan plat didorong atau diumpamakan dengan panjang langkah yang tepat dan sama setiap pengumpan. Pengumpan bahan berhenti tersebut dinamakan staton. Pada langkah terakhir dari progressive tool biasanya berupa proses blanking, parting, atau cropping. d) Compound tool terdapat dua atau lebih kerja pemotongan setiap langkah pemotongan pada satu station. Proses pemotongan kebanyakan gabungan antara blanking dengan piercing. Dua macam operasi tersebut adalah berseberangan, yaitu piercing punch dipasang pada top plate dan piercing die dipasang pada bottom plate, sedangkan blanking punch yang juga berfungsi sebagai piercing die pada bagian tengah penampangnya dipasang pada bottom plate, dan blanking die dipasang pada top plate. e) Gang tool merupakan dua atau lebih komponen yang sejenis atau sama dibuat dalam satu langkah, hal ini disebut gang tool. Perkakas jenis ini dipakai jika komponen dengan bentuk yang tidak rumit akan dibuat dalam jumlah yang sangat banyak dengan kecepatan kerja yang tinggi. Penampang punch dan die yang rumit potensial rusak sehingga sering menunda kelanjutan produksi. f) Group tool adalah dalam satu unit perkakas tekan terdapat dua atau lebih station yang terpisah dan berdiri sehingga tidak digunakan proses pengumpanan bahan. Biasanya tidak lebih dari dua jenis operasi yang digabung pada satu die – set. Oleh

karena peletakan plat dan pengambilan hasil potongan dengan tangan, maka alat ini kurang ekonomis.

Gambar 2.7. Mesin Punch di PT. Ometraco Arya Samanta Surabaya b. Proses penekanan (punching) Mesin punch pada umumnya digunakan untuk membuat lubang atau istilah lainnya adalah pengeplongan, ada beberapa jenis mesin punch yang digerakkan secara mekanik maupun secara hydrolik. Untuk mesin punch (hydrabend) sering digunakan dalam proses produksi ini, misal untuk pembuatan ring plat pada Body Water Dispenser atau dapat diganti sesuai dengan kebutuhan. Mesin ini dapat melubangi plat dengan ketebalan 2mm – 6mm. Mesin punch (hydrabend) dan hasilnya proses punch ini dapat dilihat pada gambar 2.6.

Pada gambar diatas terdapat mesin punch dengan proses blanking. Proses blanking adalah proses pengguntingan plat dengan gaya geser antara punch dan dies. Prinsip kerja mesin punch ini adalah Plat diletakkan diantara punch dan dies. Posisi dies di bawah dan tetap sementara punch terletak pada bagian atas dan bergerak ke bawah pemotong bagian plat sesuai dengan bentuk punch yang ada. Plat yang diletakan di atas dies ini dijepit dengan stopper. Stopper ini berfungsi menekan pelat agar pada saat penekanan dengan punch ini tidak terjadi pergeseran yang menyebabkan bahan pelat menjadi keriput. Dies dan punch merupakan komponen utama pada proses blanking ini. Bentuk dan dies disesuaikan dengan bentuk-bentuk komponen dari bahan pelat yang diinginkan. Antara dies dan punch mempunyai kelonggaran (clearence). Kelonggoran ini disesuaikan dengan tebal bahan dan jenis dari bahan pelat yang akan di blanking. Proses blanking dapat dilakukan sekaligus dengan menggunakan dies dan punch dalam sekali jalan contoh proses blanking ini dapat dilihat pada gambar 5.14 dibawah ini :

Gambar 2.9. Proses Mesin Punch di PT. Ometraco Arya Samanta Surabaya (Kalpakjian 2009, hal 288) Pada gambar diatas terlihat proses blanking pada pembuatan ring plat untuk baut dan mur. Pembuatan ring pelat ini dilakukan dengan proses penekanan secara terus menerus, dimana bahan pelat yang menjadi bahan baku ring ini di potong arah memanjang. Pelat digerakkan secara lurus sambil mengikuti langkah turunnya punch menekan dan melobangi pelat.

Gambar 2.8. Hasil dari Mesin Punch di PT. Ometraco Arya Samanta Surabaya

Tonnage Calculation Tonnage calculation adalah satuan ton untuk menentukan suatu kapasitas mesin. Dalam hal ini yang akan dibahas gaya tonase

mesin punch yang ada di PT. Ometraco Arya Samanta, Surabaya. Gaya tonase dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. 𝐹=

𝑝π‘₯𝑑π‘₯𝜎 1000

Dimana : F = Gaya Tonase Mesin Punch (ton) p = parameter lubang (mm) t = tebal material / plat (mm) 𝜎 = shear factor (kgf/mm2)

utama untuk menghitung gaya potong dari suatu proses pemotongan adalah untuk menentukan besarnya daya mesin press yang digunakan dalam proses produksi. Pada umumnya perusahaan sudah memiliki sejumlah mesin press dengan kapasitas tertentu serta loading yang bervariasi sehingga perancangan press dies dapat menyesuaikan dengan kondisi perusahaan. Selain itu, pengetahuan tentang gaya potong sangat penting untuk mencegah overload press atau kegagalan dalam menggunakan kapasitas mesin press.Gaya F untuk punch dan die dengan pemotongan paralel dapat di estimasikan dalam persamaan sebagai berikut. Gaya potong dalam pengerjaan logam lembaran dapat ditentukan dengan :

* shear factors (Οƒ): Aluminium 22 -25 kgf/mm2 Mild Steel 40 kgf/mm2 Stainless Steel 60 kgf/mm2

𝑭 = 𝟎, πŸ• 𝒙 𝒕 𝒙 𝑳 𝒙 𝑼𝑻𝑺 Dimana : F = Gaya potong mesin punch (N) t L

= tebal material plat (mm) = parameter bentuk lubang

(mm) UTS = ultimate tensile strength (N/mm2) β€’ L=𝝅𝒙𝒅

Gambar 2.10. Tonnage Calculation untuk parameter lubang berdasarkan Basic Punching Theory 2.1.1. Kapasitas Mesin Untuk menentukan suatu kapasitas mesin punch dapat dihitung dengan mencari gaya potong, gaya stripper dan gaya mesin atau kapasitas mesin. Dengan begitu barulah tahu kapasitas mesin yang sebenarnya. Berikut adalah penjelasannya: 1. Gaya Potong Gaya potong adalah gaya yang dibutuhkan pada saat penetrasi punch terhadap material. Jika die terdiri dari lebih dari satu punch untuk penetrasi terhadap material secara simultan maka gaya potongnya adalah penjumlahan dari gayagaya pada masing-masing punch. Tujuan

Parameter bentuk Lubang (L) menurut buku Manufacturing Engineering and Technology (by Kalpakjian & Schmid) 6th, sama dengan parameter lubang (p) berdasarkan Basic Punching Theory dari perusahaan manufaktur MATE Precision Tooling. Dengan begitu rumus Gaya Potong menjadi seperti dibawah ini : 𝑭 = 𝟎, πŸ• 𝒙 𝒕 𝒙 𝒑 𝒙 𝑼𝑻𝑺 Dimana : p = parameter lubang (mm)

2. Gaya Stripper Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa fungsi dari stripper adalah untuk menjepit atau menahan material agar material tidak bergerak ketika proses pemotongan atau pembentukan sedang berlangsung. Selain berfungsi sebagai penjepit atau penahan material, stripper elastis juga berfungsi mengarahkan ujung punch terhadap die ketika terjadi proses pemotongan sehingga buckling pada ujung punch dapat terhindarkan. Jenis stripper elastis ini adalah stripper pegas dan stripper

urethane.. Dalam perhitungan menggunakan rumus : 𝑭𝒔𝒕 = 𝟐. πŸ“% ~ 𝟐𝟎% 𝒙 𝑭

bisa

Dimana : F st = Stripping force ( N )

3. Gaya Mesin Gaya mesin merupakan jumlah gaya potong dijumlahkan dengan gaya stripper dan dikalikan safety factor sehingga diperoleh rumus berikut: π‘­π’Ž = (𝑭 + 𝑭𝒔𝒕 )𝒙 𝒔𝒇

3. Metodologi Metodologi penelitian merupakan suatu kerangka yang dibuat sebagai acuan untuk melakukan proses analisis terhadap sistem elektrohidrolik mesin punch. Dalam hal ini mencakup langkah kerja sistematis yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan perhitungan. Prosedur penelitian dan pelaksanaan penyusunan tugas akhir ini dapat dijelaskan pada diagram alir (flow chart) berikut: Diagram alir pembuatan laporan.

diteliti. Pada penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah mesin punch yang ada pada PT. Ometraco Arya Samanta Surabaya. Mesin Punch ini digunakan untuk mengerjakan plat yang biasa digunakan dalam pembuatan kontruksi baja untuk gudang dengan spesifikasi sebagai berikut: Tabel 3.1. Data dimensi mesin punch Variabel Nilai Satuan Panjang keseluruhan 1200 mm Lebar keseluruhan 1500 mm Tinggi Keseluruhan 2300 mm

3.2.

Metode Pengambilan Data Untuk menyelesaikan tugas akhir ini diperlukan beberapa data yang diambil dari mesin punch sebagai acuan dalam membuat desain baru pada sistem elektrohidroliknya. Data yang ada dilakukan analisis kemudian dilakukan perencanaan ulang untuk mencari desain baru yang lebih baik. 3.3.

Parameter Penelitian Untuk melakukan perhitungan ulang, perlu beberapa parameter awal yang berhubungan. Parameter tersebut didapat dari pengambilan data pada mesin punch. Parameter-parameter tersebut adalah sebagai berikut:

a. Massa mesin punch : 250 kg b. Diameter punch and die : 18 mm c. Ketebalan plat : 6 mm Shear factor mild steel : 40 kgf/mm2

3.1. Obyek Penelitian Untuk melakukan penelitian tugas akhir, diperlukan suatu obyek yang akan

4. PEMBAHASAN Analisis Mesin Punch Mesin Punch yang ada pada PT. Ometraco Arya Samanta merupakan mesin press dengan daya tonase 63 ton dengan menggunakan sistem elektrohidrolik. Jenis perkakas tekan (press tool) biasanya disesuaikan dengan jenis proses yang dikerjakan. Misalnya jika perkakas tekan hanya berfungsi untuk membuat blank maka disebut Blanking Tool Namun mekanisme ini mempunyai beberapa kekurangan yaitu, kurang mampu

untuk melubangi plat dengan ketebalan 12 mm. Berikut adalah foto mesin punch yang ada di PT. Ometraco Arya Samanta Surabaya :

Gambar 4.3. Bagian sistem hidrolik

Gambar 4.1.Mesin Punch 63 ton

Gambar 4.2. Bagian punch and die

Mesin punch yang sudah ada dilakukan analisis untuk mengetahui kekurangan teknis yang ada pada konstruksi yang lama. Hal yang dianalisis meliputi tonnage calculation,system hidraulik,plat dengan ketebalan 6 mm. Data spesifikasi yang digunakan untuk melakukan analisis pada mesin punch yang lama adalah sebagai berikut : Berat Mesin Punch = 250 kg Diameter Punch and die = 18mm Shear factor Mild Steel = 40 kgf/mm2 Data di atas didapat dari hasil pengukuran langsung pada mesin punch. Berikut adalah analisis yang dilakukan pada mesin punch yang lama: Dalam sistem punch ini dapat dihitung daya tonase dengan menggunakan rumus sebagai berikut : A. Tonnage Calculation Untuk mengetahui gaya tonase pada mesin punch mengacu pada rumus sebagai berikut: 𝑝π‘₯𝑑π‘₯𝜎 𝐹= 1000 𝐹=

(πœ‹π‘₯𝑑) π‘₯ 𝑑 π‘₯ 𝜎 1000

𝐹

(πœ‹π‘₯18 π‘šπ‘š) π‘₯ 6 π‘šπ‘š π‘₯ 40 π‘˜π‘”π‘“/π‘šπ‘š2 = 1000 𝐹 =13,5648 ton 𝐹 =13564,8 kgf 𝐹 =135648 N

Gaya tersebut merupakan gaya tonase yang sudah ada pada mesin punch di PT. Ometraco arya Samanta, Surabaya. Dan akan di redesain dengan gaya 80 ton atau sama dengan F = 784.532N. berikut langkah yang di perlukan untuk meredesain mesin punch 80 ton.

Menghitung gaya potong yang terjadi pada plat baja ST36, kemudian menghittung gaya stripper yang terjadi pada saat proses punching. Berikut adalah cara menghitungnya. - Gaya Potong Untuk plat baja jenis ST36 memiliki UTS (ultimate tensile strength) 36 π‘˜π‘”π‘“ π‘šπ‘š2

, kemudian parameter lubang L

= (𝝅𝒙𝒅), maka gaya potong nya sebesar : 𝑭 = 𝟎, πŸ• 𝒙 𝒕 𝒙 𝒑 𝒙 𝑼𝑻𝑺 π‘˜π‘”π‘“ = 0,7 x 6 mm x (πœ‹π‘₯18 π‘šπ‘š) x 36 π‘šπ‘š2 = 8545,83 kgf = 83805,96 N Selanjutnya menghitung gaya stripper yang terjadi pada saat proses punching. -

Gaya Stripper Merupakan gaya yang terjadi pada penjepit material. Besarnya gaya stripper yaitu gaya untuk menjepit material adalah :

𝑭𝒔𝒕 = 𝟐𝟎% 𝒙 𝑭 = 0,2 x 83805,96 N = 16761,19 N -

Kapasitas Mesin Gaya yang diperlukan mesin punch untuk melubangi sebuah plat dengan

ketebalan 6mm dan diameter punch 18mm adalah : Dengan safety factor (1,2-1,5) π‘­π’Ž = (𝑭 + 𝑭𝒔𝒕 )𝒙 𝒔𝒇 = (83805,96 N + 16761,19 N) x 1,3 = 130737,29 N Gaya mesin yang diperlukan untuk proses punching sebesar 130737,29 N = 13073,729 kgf atau 13,07 ton. B. Sistem Hidraulik Untuk mengetahui sistem hidrolik yang dipakai pada mesin punch yang sudah ada mengacu pada setiap komponen hidrolik yang digunakan pada mesin punch. Dengan gaya tonase mencapai 80 ton maka yang di perlukan untuk menghitung sistem hidrolik yang akan dibuat. β€’

Kondisi Awal Dengan melihat kondisi awal yang sudah ada bi PT. Ometraco Arya Samanta maka dapat di hitung gaya tonase yang sebenarnya pada saat mesin punch 63 ton bekerja. Dengan data sebagai berikut : οƒ˜ Diameter Silinder Hidrolik = 8in = 203,2 mm = 0,2032 m (Dengan Tekanan Max. 151,72 bar) οƒ˜ PRV setting = 110 bar (Dengan Pompa Vickers V-10-7 tekanan max. 140 bar)

Maka dapat di cari luas permukaan silinder hidraulik adalah 𝐴=

πœ‹ πœ‹ 2 𝑑 = (203,2π‘šπ‘š)2 4 4 πœ‹ = (0,2032π‘š)2 4 = 0,03241 π‘š2

Kemudian Gaya yang di hasilkan sebagai berikut : 𝑁 π‘₯ 0,032 π‘š2 π‘š2 = 352.000 𝑁

𝐹 = 𝑃 π‘₯ 𝐴 = 110 π‘₯ 105 = 35.200 kgf = 35,2 ton

β€’

Kapasitas Mesin 63 Ton Dengan melakukan pengecekan ulang, maka kapasitas awal yang sudah ada bi PT. Ometraco Arya Samanta dapat di hitung dari data yang diperoleh dilapangan sebagai berikut : οƒ˜ Diameter Punch and die = 22 mm οƒ˜ Tebal plat = 24 mm οƒ˜ Shear factor Mild Steel =40 kgf/mm2

Maka kapasitas mesin punch yang sudah ada dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: 𝑝π‘₯𝑑π‘₯𝜎 𝐹= 1000 𝐹= 𝐹

(πœ‹π‘₯𝑑) π‘₯ 𝑑 π‘₯ 𝜎 1000

data silinder yang baru (perencanaan ulang) dan dengan PRV setting 175 bar maka akan didapat gaya sebagai berikut : 𝐴=

πœ‹ 2 πœ‹ πœ‹ 𝑑 = (254π‘šπ‘š)2 = (0,254π‘š)2 4 4 4 = 0,05 π‘š2 𝑁 π‘₯ 0,05 π‘š2 π‘š2 = 875.000 𝑁

𝐹 = 𝑃 π‘₯ 𝐴 = 175 π‘₯ 105 = 87.500 kgf = 87,5 ton

Dengan gaya tonase tersebut sudah memenuhi untuk mesin punch dengan kapasitas 80 ton. Berikutnya adalah langkah pemilihan komponen sistem hidraulik untuk mesin punch 80 ton.

4.1. Pemilihan Komponen-Komponen 2 Sistem Hidrolik (3,14π‘₯22 π‘šπ‘š) π‘₯ 24 π‘šπ‘š π‘₯ 40 π‘˜π‘”π‘“/π‘šπ‘š = Dari hasil observasi yang 1000 dilakukan di PT. Ometraco Arya 𝐹 = 66,3168 ton Samanta yang bertempat di Rungkut, Surabaya. Data inilah Dengan gaya tonase sebesar yang digunakan untuk meredesain 66,3168 ton sudah memenuhi untuk mesin punch. Mengingat gaya yang kapasitas yang ada sekarang yaitu 63 dibutuhkan untuk melakukan proses ton, namun pada kenyataannya di punching yang relatif besar maka lapangan tebal plat sebesar 24 mm pemilihan silinder hidraulik untuk merupakan tebal plat maximum yang melakukan proses ini relatif sulit bisa di gunakan untuk proses punching. dan rumit. Selain itu pula pemilihan silinder tersebut juga hanya β€’ Perencaan Ulang Mesin Punch didasarkan atas kebutuhan panjang Untuk melakukan perencanaan langkah atau stroke yang dibutuhkan ulang (redesain) maka yang diperlukan untuk pemasangan silinder pada adalah mengganti silinder hidrauliknya kerangka peralatan. Jadi gaya tonase dengan yang lebih besar dan mengganti mesin punch sebesar F = 80.000 kgf pompa yang sudah ada sekarang. Berikut atau 784.532N inilah yang digunakan sebagai dasar untuk adalah penjelasan tentang redesain yang sistem control elektrohidrolik pada akan dilakukan. penelitian ini. Dari hasil pengamatan di pabrik didapat bahwa silinder Untuk memenuhi gaya tonase yang yang digunakan mempunyai panjang di inginkan yaitu 80 ton maka harus diganti langkah atau stroke s = 16,2 dan dengan silinder hidraulik dengan diameter waktu rata-rata proses punching 5 yang lebih besar yaitu 10 inch (254 mm) detik, sehingga diperoleh kecepatan dengan maximum pressure 3.000psi (206,89 proses punching : bar), karena PRV setting 110 bar tidak bisa memenuhi gaya tonase 80 ton, dan apabila 16,2π‘π‘š 0,162π‘š 𝑠 PRV setting yang sudah ada di naikkan = 𝑣= = misalnya 175bar maka silinder hidrauliknya 5𝑑𝑑 5𝑑𝑑 𝑑 π‘š akan rusak dikarenakan maximum operating = 3,24 π‘₯ 10βˆ’2 𝑑𝑑 system dari silinder hidraulik yang sudah ada π‘š hanyalah 151,72 bar. Kemudian berdasarkan = 1,94 π‘šπ‘’π‘›π‘–π‘‘

Kemudian dengan melihat pada katalog silinder merk PARKER maka didapatkan data diameter diameter bore silinder sebesar 8 inchi atau 203,2 mm, maka Luas permukaan silinder adalah sebagai berikut : 𝐴=

πœ‹ 2 πœ‹ 𝑑 = (203,2π‘šπ‘š)2 4 4 πœ‹ = (0,2032π‘š)2 4 = 0,03241 π‘š2

Kemudian bilamana dilihat dari kinerja pada silinder hidrolik dimana 𝐹𝑣 efisiensi silinder hidrolik πœ‚π‘ β„Ž =

𝑃2 𝑄2

dengan besar efisiensi silinder 0,8 – 0,95 (Majumdar, 2002).

Gambar 4.4.Definisi silinder hidrolik Dengan melihat gambar diatas maka besar kapasitas pelumas Q 2 dapat ditentukan dengan menggunakan rumus : π‘š π‘₯ 0,03241 π‘š2 𝑑𝑑 π‘š3 = 0,00105 𝑑𝑑

𝑄2 = 𝑣π‘₯𝐴 = 3,24 π‘₯ 10βˆ’2 π‘š3 𝑑𝑑 3 π‘š = 63π‘₯10βˆ’3 π‘šπ‘’π‘›π‘–π‘‘ π‘™π‘–π‘‘π‘’π‘Ÿ = 63 = 1,05π‘₯10βˆ’3 π‘šπ‘’π‘›π‘–π‘‘

Jadi, kebutuhan kapasitas pelumas sebesar 63 liter/menit inilah dibutuhkan untuk menggerakkan silinder sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. Kemudian dengan melihat pada katalog silinder merk PARKER maka didapatkan

data diameter diameter bore silinder sebesar 203,2 mm tadi dengan tekanan kerja maksimum 3000psi atau 151 bar, dengan style JJ double acting, rod flange serta panjang langkah atau stroke sebesar 6,38 inchi atau 162 mm. Silinder jenis ini dipilih didasarkan atas sirkuit hidrolik yang telah direncanakan dengan menggunakan silinder double acting. Pada kondisi tekanan kerja maksimum dari silinder tersebut maka akan diperoleh besar gaya silinder teoritis sebesar : 𝐹 = 𝑃𝐴 = πœ‹ 151π‘π‘Žπ‘Ÿ π‘₯ (0,2032π‘š)2 = 489391 4 N Gaya silinder sebesar itu pada hakekatnya akan sangat bisa memenuhi gaya mesin punch yang dibutuhkan, jadi silinder dengan diameter 254 mm merk Parker dapat digunakan pada sistem hidrolik untuk proses punching. Dari hasil pengujian gaya pada mesin punch pada saat proses punching sebesar 784.532N dan diameter silinder hidrolik yang sudah dipilih sebesar 254 mm maka besarnya tekanan silinder yang terjadi adalah sebagai berikut : Tekanan silinder hidraulik saat penekanan : 𝐹𝑣 πœ‚π‘ β„Ž = dengan besar efisiensi silinder 𝑃2 𝑄2

0,85 adalah :

𝐹𝑣 πœ‚π‘ β„Ž 𝑄2 π‘š 63000𝑁π‘₯4,06 π‘₯ 10βˆ’2 𝑑𝑑 = π‘š3 0,85π‘₯1,05π‘₯10βˆ’3 𝑑𝑑 𝑁 𝑃2 = 2287058,824 2 π‘š 𝑃2 = 22,8 π‘π‘Žπ‘Ÿ 𝑃2 =

Jadi tekanan yang dihasilkan pada saat proses punching adalah 22,8 bar. 4.2. Mencari Head Loss Pada Sistem Hidraulik Dengan melihat skema sistem hidrolik dan mengingat titik 1 ditentukan pada permukaan pelumas dalam reservoir dan titik 2 adalah titik yang diambil sesaat sebelum

masuk lubang A (lubang pada bagian atas silinder) pada silinder hidrolik saat proses punching maka proses perhitungan head loss dapat dihitung dengan menggunakan persamaan energy berikut ini. Dari persamaan Energi yang ada yaitu :

2. Perhitungan besarnya diameter selang ΒΎ inch :

Kemudian dari data-data yang diperoleh : Z1 = 303 mm = 2595 mm Z 2 punching Maka 𝐻𝑃 =

𝑃2 𝛾

+

𝑣2 2 2𝑔

+ (𝑍2 βˆ’ 𝑍1 ) + 𝐻𝐿

Data-data yang ada di mesin punch yang akan di redesain adalah : β€’ (Z 2 punching - Z 1 ) = 2,292 m β€’ Silinder punching port A dan B masing-masing mempunyai diameter ΒΎ inch = 19,05 mm 𝑁 β€’ P 2 = 2287058,824 2 β€’

β€’ β€’

π‘š

Density minyak hidrolik BP HLP 46 = 880 kg/m3 Viscositas Minyak hidrolik BP HLP 46 = 46 mm2/dt 𝛾 π‘œπ‘–π‘™ = 𝑆𝐺 π‘₯ 𝛾𝐻2 𝑂 =

0,9 π‘₯ 8630

𝑁 π‘š3

= 7767

𝑁 π‘š3

Dengan menggunakan data-data diameter pipa dan selang yang sudah disebutkan diatas maka selanjutnya dilakukan perhitungan berikut : 𝑷 1. Perhitungan besarnya 𝟐

π‘š3 𝑑𝑑 2,8π‘₯10βˆ’4 π‘š2

1,28π‘₯10βˆ’2

𝑣2 =

𝒬 𝐴

𝑣2 2 2𝑔

2090,3184 2 𝑑𝑑

=

sehingga didapatkan :

4.2.1.

=

20

π‘š 𝑑𝑑2

π‘š2

= 45,72

π‘š , 𝑑𝑑

= 104,5 m

Mencari Head Loss Mayor Dan Minor Head loss pada sistem hidraulik terdiri atas head loss mayor dan head loss minor dimana besarnya head loss mayor terjadi pada pipa lurus dapat dicari dengan rumus sebagai berikut : 𝐻𝐿 =

64 𝐿 𝑣 2 οΏ½ οΏ½οΏ½ οΏ½ 𝑁𝑅 𝐷 2𝑔

Sedangkan besar head loss minor yang merupakan kerugian gesek yang terjadi pada fitting pipa dan berbagai katup, dapat dicari dengan menggunakan rumus ini : π»πΏπ‘š = 𝐾 οΏ½

𝑣2 οΏ½ 2𝑔

a. Perhitungan head loss mayor β€’ Pipa yang diukur dari tangki pelumas masuk ke pompa suction (panjang 20 cm dengan diameter ΒΎ inch)

𝜸

𝑁 2287058,824 2 𝑃2 π‘š = 𝑁 𝛾 7767 3 π‘š = 294,46 π‘š

pada

Mengingat bahwa 𝒬 = 𝐴 π‘₯ 𝑣2 maka harga v 2 diperoleh besarnya :

𝑃1 𝑣1 2 + + 𝑍1 + 𝐻𝑝 βˆ’ π»π‘š βˆ’ 𝐻𝐿 𝛾 2𝑔 𝑃2 𝑣1 2 = + + 𝑍2 𝛾 2𝑔

Dimana asumsi yang diambil adalah : P1 = 1 atm = 0 gauge V1 =0 = 0 ( karena tidak ada motor Hm hidrolik pada titik 1 dan 2)

π’—πŸ 𝟐 πŸπ’ˆ

Besarnya (RN) = 𝑣 =

𝒬 𝐴

=

πœŒπ‘£π· πœ‡

Reynold =

π‘š3 𝑑𝑑 2,8 π‘₯ 10βˆ’4 π‘š2

1,28 π‘₯ 10βˆ’2

sehingga didapat

Number

𝑣𝐷 𝜐

= 45,72

π‘š , 𝑑𝑑

𝑣2 2𝑔

=

π‘š2 2090,3184 2 𝑑𝑑 π‘š 20 2 𝑑𝑑

RN =

𝑣π‘₯𝐷 𝜐

RN =

=

RN = = 104,5 m π‘š

46 π‘₯ 10βˆ’6

turbulen)

π‘š2 𝑑𝑑

= 18913 (aliran

Besarnya friction factor (f) dapat dilihat pada diagram Moody : Relative Roughness =

19,05 π‘šπ‘š

0,0078 Dapat dilihat pada diagram moody, ditetapkan bahwa besarnya 𝑓 = 0,039, sehingga didapatkan 𝐿 𝑣2 𝐻𝐿 = 𝑓 οΏ½ οΏ½ οΏ½ οΏ½ 𝐷 2𝑔

Relative Roughness =

0,0078 Dapat dilihat pada diagram moody, ditetapkan bahwa besarnya 𝑓 = 0,039, sehingga didapatkan 𝐿 𝑣2 𝐻𝐿 = 𝑓 οΏ½ οΏ½ οΏ½ οΏ½ 𝐷 2𝑔

1π‘š οΏ½ 104,5 π‘š 𝐻𝐿 = 0,039 οΏ½ 0,01905 π‘š 𝐻𝐿 = 213,93 π‘š β€’

𝐻𝐿 = 42,78 π‘š

Pipa yang diukur dari pompa masuk ke Relief valve (panjang 100 cm dengan diameter ΒΎ inch)

(RN) = 𝒬 𝐴

𝑣 =

=

Reynold

πœŒπ‘£π· πœ‡

=

Number

𝑣𝐷 𝜐

π‘š3 𝑑𝑑 2,8 π‘₯ 10βˆ’4 π‘š2

1,28 π‘₯ 10βˆ’2

= 45,72

sehingga didapat 𝑣2 2𝑔

=

π‘š2

2090,3184 2 𝑑𝑑

RN =

20

𝑣π‘₯𝐷 𝜐

π‘š 𝑑𝑑2

=

= 104,5 m π‘š

Fleksible hose yang diukur dari solenoid masuk ke pressure gauge (panjang 80 cm dengan diameter ΒΎ inch)

π‘š , 𝑑𝑑

Besarnya

𝒬 𝐴

𝑣 =

=

π‘šπ‘š2

Reynold

πœŒπ‘£π· πœ‡

(RN) =

=

Number

𝑣𝐷 𝜐

π‘š3 𝑑𝑑 2,8 π‘₯ 10βˆ’4 π‘š2

1,28 π‘₯ 10βˆ’2

= 45,72

sehingga didapat 𝑣2 2𝑔

=

π‘š2

2090,3184 2 𝑑𝑑

RN =

20

𝑣π‘₯𝐷 𝜐

RN =

π‘š 𝑑𝑑2

=

π‘š , 𝑑𝑑

= 104,5 m π‘š

45,72 𝑑𝑑 π‘₯ 0,01905 π‘š π‘š2

0,87 𝑑𝑑

46 π‘₯ 10βˆ’6

turbulen)

45,72 𝑑𝑑 π‘₯ 0,01905 π‘š 46 𝑑𝑑

πœ€ 𝐷

Dimana material pipa adalah galvanized iron, πœ€ = 0,15 π‘šπ‘š dan diameter pipa 19,05 mm, maka : 0,15 π‘šπ‘š Relative Roughness = =

0,2 π‘š οΏ½ 104,5 π‘š 𝐻𝐿 = 0,039 οΏ½ 0,01905 π‘š

Besarnya

= 18913 (aliran

19,05 π‘šπ‘š

πœ€ 𝐷

Dimana material pipa adalah galvanized iron, πœ€ = 0,15 π‘šπ‘š dan diameter pipa 19,05 mm, maka : 0,15 π‘šπ‘š Relative Roughness = =

β€’

π‘š2 𝑑𝑑

Besarnya friction factor (f) dapat dilihat pada diagram Moody :

π‘šπ‘š2 46 𝑑𝑑

π‘š2

46 π‘₯ 10βˆ’6

turbulen)

45,72 𝑑𝑑 π‘₯ 0,01905 π‘š

0,87 𝑑𝑑

π‘š2

0,87 𝑑𝑑

π‘šπ‘š2

46 𝑑𝑑

π‘š2 𝑑𝑑

= 18913 (aliran

Besarnya friction factor (f) dapat dilihat pada diagram Moody : Relative Roughness =

πœ€ 𝐷

Dimana material pipa adalah galvanized iron, πœ€ = 0,15 π‘šπ‘š dan diameter pipa 19,05 mm, maka : 0,15 π‘šπ‘š Relative Roughness = = 19,05 π‘šπ‘š

0,0078 Dapat dilihat pada diagram moody, ditetapkan bahwa besarnya 𝑓 = 0,039, sehingga didapatkan 𝐿 𝑣2 𝐻𝐿 = 𝑓 οΏ½ οΏ½ οΏ½ οΏ½ 𝐷 2𝑔

0,8 π‘š οΏ½ 104,5 π‘š 𝐻𝐿 = 0,039 οΏ½ 0,01905 π‘š

Dimana material pipa adalah galvanized iron, πœ€ = 0,15 π‘šπ‘š dan diameter pipa 19,05 mm, maka : 0,15 π‘šπ‘š Relative Roughness = = 19,05 π‘šπ‘š

0,0078 Dapat dilihat pada diagram moody, ditetapkan bahwa besarnya 𝑓 = 0,039, sehingga didapatkan 𝐿 𝑣2 𝐻𝐿 = 𝑓 οΏ½ οΏ½ οΏ½ οΏ½ 𝐷 2𝑔

0,3 π‘š οΏ½ 104,5 π‘š 𝐻𝐿 = 0,039 οΏ½ 0,01905 π‘š 𝐻𝐿 = 64,18 π‘š β€’

Fleksible hose yang diukur dari unloading valve masuk ke silinder hidrolik (panjang 50 cm dengan diameter ΒΎ inch)

𝐻𝐿 = 171,15 π‘š β€’

Pipa yang diukur dari counter balance masuk ke unloading valve (panjang 30 cm dengan diameter ΒΎ inch)

Besarnya (RN) = 𝒬 𝐴

𝑣 =

=

Reynold

πœŒπ‘£π· πœ‡

=

π‘š3 𝑑𝑑 2,8 π‘₯ 10βˆ’4 π‘š2

=

sehingga didapat 𝑣2 2𝑔

=

RN =

𝑣π‘₯𝐷 𝜐

RN =

=

46 π‘₯

turbulen)

π‘š2

𝑣 =

π‘š 45,72 , 𝑑𝑑

𝑣2 2𝑔

= 104,5 m

=

20

𝑣π‘₯𝐷 𝜐

RN = π‘₯ 0,01905 π‘š π‘šπ‘š2

46 𝑑𝑑

π‘š2 10βˆ’6 𝑑𝑑

= 18913 (aliran

π‘š3 𝑑𝑑 2,8 π‘₯ 10βˆ’4 π‘š2 π‘š2

π‘š 𝑑𝑑2

= 45,72

=

π‘š

45,72 𝑑𝑑 π‘₯ 0,01905 π‘š π‘š2

0,87 𝑑𝑑

46 π‘₯ 10βˆ’6

turbulen)

πœ€ 𝐷

π‘š , 𝑑𝑑

= 104,5 m

π‘šπ‘š2

46 𝑑𝑑

π‘š2 𝑑𝑑

= 18913 (aliran

Besarnya friction factor (f) dapat dilihat pada diagram Moody : Relative Roughness =

Besarnya friction factor (f) dapat dilihat pada diagram Moody : Relative Roughness =

=

=

Number

𝑣𝐷 𝜐

1,28 π‘₯ 10βˆ’2

2090,3184 2 𝑑𝑑

RN =

π‘š 45,72 𝑑𝑑

0,87 𝑑𝑑

(RN) = 𝒬 𝐴

Reynold

πœŒπ‘£π· πœ‡

sehingga didapat

1,28 π‘₯ 10βˆ’2

π‘š2 2090,3184 2 𝑑𝑑 π‘š 20 2 𝑑𝑑

Number

𝑣𝐷 𝜐

Besarnya

πœ€ 𝐷

Dimana material pipa adalah galvanized iron, πœ€ = 0,15 π‘šπ‘š dan diameter pipa 19,05 mm, maka :

Relative Roughness =

0,15 π‘šπ‘š 19,05 π‘šπ‘š

=

0,0078 Dapat dilihat pada diagram moody, ditetapkan bahwa besarnya 𝑓 = 0,039, sehingga didapatkan

β€’

𝐿 𝑣2 𝐻𝐿 = 𝑓 οΏ½ οΏ½ οΏ½ οΏ½ 𝐷 2𝑔

0,5 π‘š 𝐻𝐿 = 0,039 οΏ½ οΏ½ 104,5 π‘š 0,01905 π‘š 𝐻𝐿 = 106,97 π‘š

Didapat head loss mayor total = 42,78m + (2x213,93m) + (2x171,15m) + 64,18m + 106,97m = 984,09 m b. Perhitungan head loss minor Perhitungan head loss minor dimana head loss ini terjadi pada katup dan fitting dari hose yang digunakan, pada proses punching. Data system punching menunjukkan bahwa : β€’ Semua katup DCV yang digunakan diasumsikan sama dengan katup dengan merk oilpath. Dimana tiap katup DCV besarnya turunan βˆ†π‘ƒ = 1 bar dan h = 11,34 m. maka jumlah besarnya turunan tekanan adalah βˆ†π‘ƒ = 2 bar sehingga h = 22,68 m. β€’ Filter yang digunakan mempunyai βˆ†π‘ƒ = 0,5 bar (Industrial hydraulics manual,1999) sehingga h = 5,67 m. β€’ Elbow 90o sebanyak 6 buah dengan diameter ΒΎ inch maka didapatkan 6 x π‘˜ β€’

𝑣2 = 2𝑔

6 x 0,75 x 1,31 m,

maka diperoleh harga h = 5,89 m. Manometer atau pressure gauge digunakan satu buah dengan asumsi kerugian tekanan sebesar 1 bar

maka kerugian tekanan total adalah 11,34 m. Sambungan Tee 3 buah dengan diameter ΒΎ dan kerugian tekanan diasumsikan sama dengan elbow 90o maka didapatkan 3 x π‘˜

𝑣2 2𝑔

0,75 x 1,31 m didapatkan 2,95 m

=3x maka

Head loss minor total yang terjadi pada system hidrolik adalah 22,68 m + 5,67 m + 5,89 m + 11,34 m + 2,95 m = 48,53 m. Jadi Head loss total = head loss mayor + head loss minor = 984,09m + 48,53m = 1032,62 m atau sama dengan 91 bar gauge. Pada akhirnya diperoleh besar head pompa (H P ) : 𝐻𝑃 =

𝑃2 𝑣2 2 + + (𝑍2 βˆ’ 𝑍1 ) + 𝐻𝐿 𝛾 2𝑔

𝐻𝑃 = 294,46π‘š + 104,5π‘š + 2,292π‘š + 1032,62π‘š = 1516,34m 𝐻𝑃 = 1516,34 π‘š π‘₯ 7767

11777412,78

𝑁 π‘š2

𝑁 π‘š3

= 117 π‘π‘Žπ‘Ÿ

=

Dengan hasil head pompa maka bias dipakai untuk perhitungan selanjutnya. Yaitu memilih komponen pompa yang akan digunakan.

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

Β© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.