PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM


1 PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM Oleh Nurcholish Madjid Bangsa Indonesia sekarang dengan mantap memasuki era pembangunan. Kesadaran akan m...
Author:  Herman Kusumo

0 downloads 32 Views 75KB Size

Recommend Documents


PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM:
1 Al-Maza>hib, Volume 5, Nomer 2, Desember PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: Studi tentang Teori Hudud Muhammad Syahrur Fuad Mustafid Fakultas Syari...

MENEGASKAN KEMBALI PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM
1 MENEGASKAN KEMBALI PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM TITIK-TEMU, Vol. 4, No. 2, Januari - Juni 2012 i titik temu vol 4 no 2 set.indd i 20/07/ :08:212 ABDUL ...

KONTRIBUSI PEMIKIRAN QASIM AMIN DALAM PEMBARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM
1 Kontribusi Pemikiran Qasim Amin dalam Pembaruan Hukum Keluarga Islam KONTRIBUSI PEMIKIRAN QASIM AMIN DALAM PEMBARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM Syaiful Ba...

POTRET PENDIDIKAN ISLAM: Perspektif Pembaruan Pemikiran dan Gerakan Islam Indonesia Kontemporer
1 52 LENTERA PENDIDIKAN, EDISI EDISI X, X, NO. NO. 1, 1, JUNI JUNI (52 67) POTRET PENDIDIKAN ISLAM: Perspektif Pembaruan Pemikiran dan Gerakan Islam I...

LEMBAGA PERADILAN DALAM PERSPEKTIF PEMBARUAN HUKUM
1 Zainal Arifin Hoesein Fakultas Hukum Universitas Islam As-Syafi iyah. Jalan Raya Jatiwaringin No. 12 Pondok Gede LEMBAGA PERADILAN DALAM PERSPEKTIF ...

Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Perspektif Pendidikan Islam
1 Vol. 2, No. 2, 2013, p-issn: Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Perspektif Pendidikan Islam Muthoifin 1, Didin Saefuddin 2, Adian Husain...

PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONTEKS PENDIDIKAN NASIONAL
1 PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KONTEKS PENDIDIKAN NASIONAL Oleh: Muh. Idris ABSTRACT: The transformation of education needs a new way of thinking ...

ISTIHSAN DAN PEMBARUAN DALAM HUKUM ISLAM
1 ISTIHSAN DAN PEMBARUAN DALAM HUKUM ISLAM Ahmad Baharuddin Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-azhar Gowa Sulsel Abstract: This paper examines the...

HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM
1 HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM Naimatul Atqiya 1 Abstrak: Tulisan ini mengetengahkan tentang hak asasi manusia (HAM) sebagai hak paling dasar yang menja...

Wanita dalam Perspektif Islam
1 Proceeding of International Conference of Empowering Islamic Civilization Editors: Rahimah Embong, Mohamad Zaidin Mohamad, Hanif Md Junid, Fadzli Ad...



F PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM G

PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM Oleh Nurcholish Madjid

Bangsa Indonesia sekarang dengan mantap memasuki era pembangunan. Kesadaran akan mutlaknya pembangunan muncul secara meyakinkan sejak tumbuhnya Orde Baru. Sebelumnya orientasi pembangunan belum merupakan kesadaran seluruh rakyat, tetapi hanya merupakan kebijaksanaan kabinet-kabinet tertentu. (Menurut analis H. Feith, di Indonesia terdapat dua jenis pemerintahan, atau kabinet, yang pernah memerintah, yaitu administratif [berorientasi pembangunan] dan solidarity making [berorientasi politik], yang secara kebetulan tercerminkan pada dua kepribadian dalam “dwi tunggal”, Soekarno-Hatta yang agak kontras). Pada tahap sekarang, pembangunan di bidang ekonomi diprioritaskan. Kita sama-sama mengetahui bahwa prioritas ini dipilih karena desakan untuk mengatasi masalah kemelaratan umum rakyat kita. Jika pembangunan ekonomi ini mencapai sasarannya, dan eksesnya bisa ditekan seminimal mungkin (misal, kian melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin), maka kemakmuran akan berpengaruh lebih luas dan positif bagi pengembangan segi-segi kehidupan non-ekonomi. (Jika kemiskinan mendekatkan seseorang kepada kekafiran, maka seharusnya kebalikannya: kemakmuran mempertinggi mutu iman atau martabat manusia).

D1E

F NURCHOLISH MADJID G

Sikap-sikap Pembebasan Dengan pembangunan, masa depan bangsa kita secara sederhana dapat digambarkan sebagai masyarakat yang berubah dari pola-pola agraris ke pola-pola industrial. Bahkan secara universal, bentuk masa depan manusia ditentukan oleh penguasaan teknologi, pengembangan ekonomi, automation of production, dan campur tangan ilmu pengetahuan dalam perikehidupan sehari-hari. Hal itu pasti berpengaruh pada pandangan hidup manusia, termasuk pada doktrin-doktrin yang disodorkan oleh masyarakat keagamaan. Jadi, perubahan sosial tak mungkin bisa dihindarkan. Masalahnya ialah apakah perubahan sosial akan kita biarkan terjadi karena desakan sejarah dan tekanannya (accidental), atau kita menyongsongnya dengan persiapan-persiapan yang semestinya, kemudian ikut serta mengarahkan secara sadar (deleberated). Oleh karena yang pertama akan tak terkendalikan, dan mungkin menimbulkan kecelakaan-kecelakaan sosial (social disasters), maka yang kedua harus dipilih. Kita harus menyiapkan diri bagi perubahan itu, dan mengarahkannya. Agama Islam, bagi kita, merupakan keyakinan. Bagi bangsa Indonesia, secara empiris atau kenyataan, Islam merupakan agama bagian terbesar rakyat. Karena itu, sikap-sikap yang diterbitkan atau disangka diterbitkan oleh agama Islam, akan mempunyai pengaruh besar sekali bagi proses perubahan sosial. Bagi perubahan sosial, peranan Islam akan diwujudkan dalam dua sikap: menopang atau merintangi. Hal ini bergantung pada para pengikutnya. Guna menopang, menyertai, bahkan melakukan sendiri dan mengarahkan perubahan sosial tersebut, kita harus mampu melepaskan diri dari sikap-sikap yang tidak kondusif bagi pembangunan dan modernisasi, yang dihasilkan oleh cetakan lingkungan agraris kita. Secara positif, kita harus menciptakan sikap mental baru yang “ilmiah”. Bila dikonkretkan — dengan melihat latar belakang yang ada — maka pada saat ini, perlu sekali mengadakan liberalisasi (pembebasan dari nilai tradisional yang bersifat menghambat), D2E

F PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM G

sekularisasi (pembebasan masalah-masalah dan urusan-urusan duniawi dari belenggu-belenggu keagamaan yang tidak pada tempatnya), serta bentuk-bentuk sikap pembebasan (liberating attitude) lainnya (semua ini telah dibicarakan sejak beberapa waktu yang lalu, dan kiranya dapat dianggap pengetahuan yang sudah umum). Yang erat sekali hubungannya dengan masalah ini ialah keharusan kita — orang-orang Islam — untuk mengembalikan agama Islam sebagai agama perseorangan, di mana tak terdapat lembaga kependetaan dengan suatu wewenang keagamaan (lā rahbāniyat-a fī al-Islām). Perspektif kemakmuran ekonomi tersebut, dan pencabanganpencabangannya yang dekat, masih berada dalam lingkungan penggarapan ilmu pengetahuan. Tapi sesudah itu, ilmu akan tidak berdaya menjawab masalah-masalah asasi kemanusiaan. Menurut Ivan Svitak, masalah kesejahteraan manusia tidak mungkin disederhanakan begitu saja menjadi sekadar data empiris ilmu pengetahuan, sebab ia akan juga berurusan dengan masalah-masalah nilai-nilai dan pandangan tentang tujuan hidup manusia. Sebab, nilai-nilai menetapkan arah tujuan kegiatan sosial dan sekaligus merupakan sumber motivasi serta pendorong bagi aktivitas-aktivitas tersebut. Karena nilai merupakan masalah keyakinan, maka di sini dituntut adanya peranan mutlak agama. Di sini nilai-nilai keagamaan hendaknya diwujudkan menjadi kemanusiaan yang aktif, menjiwai kegiatan-kegiatan praktis manusia, guna mewujudkan apa yang sering kita sebut masyarakat adil dan makmur (dunia [sekular] dan ilmiah) yang mendapatkan rida TuhanYang Mahaesa (ukhrawi atau religius dan spiritual). Sebab, esensi kemanusiaan tidak terbatas pada pertumbuhan material semata-mata, melainkan meliputi pengembangan sepenuhnya diri manusia itu, dan pembebasannya, sehingga ia akan dapat menumbuhkan cipta rasanya, mengembangkan bakat-bakat dan kecerdasan untuk menghayati kekayaan dan keindahan dunia. D3E

F NURCHOLISH MADJID G

Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Pada abad sekarang ini, manusia semakin sadar akan kemampuannya untuk mengarahkan jalannya sejarah. Kalau mereka melakukannya dengan penuh kesadaran, mereka tidak akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri, tidak akan mengubah diri mereka menjadi masyarakat robot-robot yang mekanis (dehumanized society) dan otomat-otomat bikinan pabrik, tetapi akan berjuang bagi nilai-nilai kemanusiaan masa depan masyarakat. Kesadaran umat manusia sekarang, bahwa kemakmuran mutlak tidak boleh kehilangan segi-segi kemanusiaan, merupakan gejala terpenting yang sedang berkembang pada abad kini. Kemanusiaan tidak hanya berkepentingan pada pengembangan-pengembangan kekuatan produktif dan teknologi, tetapi juga pada makna hubungan-hubungan sosial manusia dan budi pekerti. Jika disebutkan bahwa pada tingkat ini (perspektif yang jauh) agama dapat memberikan jawabannya, maka yang dimaksudkan ialah agama yang dihayati secara spiritual dan mendalam dengan penuh kedewasaan oleh pengikut-pengikutnya. Penghayatan itu menjadi amat individual sifatnya. Maka perlu sekali dilakukan apa yang telah dipaparkan di muka: mengembalikan Islam sebagai agama individu, membebaskan para pengikutnya dari kecenderungan sektarianistis, dan melepaskan sifat-sifatnya yang seolah-olah merupakan organized religion. Konsistensinya ialah kita harus berusaha menangkap dan memenuhi fungsi-fungsi di balik formalitas-formalitas ritual, sehingga agama tidak menjadi sekadar upacara-upacara yang kehilangan artinya dan kosong, khususnya untuk suatu masyarakat yang semakin terpelajar dan kritis karena proses pembangunan dan industrialisasi. Meminjam ungkapan seorang kawan (Syu’bah Asa), maka dalam menghayati religiusitas, rasanya kita perlu menjadi mutashawwif-mutashawwif, tanpa memasuki dunia tasawuf, atau kebatinan, yang ekstrem. D4E

F PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM G

Slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” tentu tidak mengandung masalah penolakan atau penerimaan. Tetapi segi pelaksanaannya akan berbeda. Sebab di sini menyangkut tingkat pengetahuan dan pengertian: menyeluruh atau parsial, aksentuasi yang tepat atau tidak, latar belakang pendidikan, lingkungan dan kepentingan (interest). Juga perlu diteliti apakah seruan pembaruan yang kini banyak dibicarakan dapat disimpulkan sebagai hendak melaksanakan “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”. Kita tentu menerima ajaran itu, tapi hanya sampai pada tarap sebagai jargon. Dan begitu kita ajukan problemproblemnya beserta kemungkinan-kemungkinan pemecahnnya dalam pelaksanaan, maka segera timbul reaksi setuju dan tidak setuju. Ini pun amat banyak bergantung pada faktor-faktor latar belakang tadi, termasuk pendidikan. Maka setelah iman, ilmulah yang akan meningkatkan martabat kemanuisaan kita. [™]

D5E

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.