planet yang menyediakan sumberdaya kebutuhan makhluk hidup tersebut, sehingga bumi disebut sebagai biosfer. Biosfer adalah suatu lapisan atau zona


1 URAIAN MATERI Ketika kita berbicara tentang ekologi, maka kita tidak dapat melepaskan diri tanpa membicarakan lingkungan dan semua komponen yang ada...
Author:  Doddy Kusuma

0 downloads 0 Views 508KB Size

Recommend Documents


Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup
1 SIKLUS BIOGEOKIMIA2 Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup. Dalam suat...

BAB 8: GEOGRAFI DINAMIKA BIOSFER
1 1. Biosfer dibagi menjadi tiga lingkungan hidup dan masing-masing dipengaruhi faktor abiotik dan biotic. Berikut ini merupakan faktor-faktor abiotik...

I. PENDAHULUAN. Salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk hidup adalah kebutuhan
1 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk hidup adalah kebutuhan akan pangan, sehingga kecukupan pangan ...

BAB V EKOSISTEM, BIOSFER & BIOMA
1 BAB V EKOSISTEM, BIOSFER & BIOMA2 EKOSISTEM: lingkungan biologis yang terdiri dari semua organisme hidup di daerah tertentu, serta semua benda t...

BAB I PENDAHULUAN. tersebut sebagai alat pemuas kebutuhan hidupnya. keterbatasan kemampuan untuk menyediakan kebutuhan sendiri
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan manusia (human needs) adalah suatu rasa yang timbul secara alami dari dalam diri manusia untuk memenuh...

yang dihasilkan oleh suatu kegiatan makhluk hidup atau kelompok baik kelompok
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Buangan Domestik Air buangan dapat diartikan sebagai kejadian masuknya atau dimasukkannya benda padat, cair dan gas ...

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk yang unik. Ia berbeda dengan makhluk hidup yang lain
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah makhluk yang unik. Ia berbeda dengan makhluk hidup yang lain seperti binatang dan tumbu...

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk hidup memiliki berbagai kebutuhan, baik kebutuhan
1 BAB I PENDAHULUAN Manusia sebagai makhluk hidup memiliki berbagai kebutuhan, baik kebutuhan material seperti makanan, pakaian, rumah, kesehatan, dan...

Makhluk hidup yang ada di
1 KIPRAH Volume 36 12 2 Volume 36 KIPRAH3 NUANSA KIPRAH HUNIAN, INFRASTRUKTUR, KOTA DAN LINGKUNGAN Kualitas Air Bambang Goeritno Setia Budhy Algamar R...

BAB I PENDAHULUAN. hidup, yang juga sering disebut movie atau sinema. Film adalah sarana
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual. Lebih dari ratusan juta o...



URAIAN MATERI Ketika kita berbicara tentang ekologi, maka kita tidak dapat melepaskan diri tanpa membicarakan lingkungan dan semua komponen yang ada di dalamnya. Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan dapat berarti segala sesuatu yang terdapat di luar diri suatu makhluk hidup. Jadi, lingkungan yang dimaksud disini dapat berupa lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik. Lingkungan biotik meliputi hewan, tumbuhan maupun mikro-organisme, sedangkan lingkungan abiotik meliputi tanah, air, udara, iklim dan faktor fisika-kimia lainnya. Diantara komponenkomponen eksosistem tersebut terjadi interasi timbal balik. 1.1 Konsep Ekologi Kata ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos yang berarti rumah dan logos berarti ilmu. Jadi ekologi secara harfiah diartikan sebagai pengkajian makhluk hidup di “rumah”nya. Secara umum ekologi diartikan sebagai cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan diartikan sebagai segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup dan mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan makhluk hidup tersebut. Pada dasarnya ada tiga tingkatan organisasi dalam kajian ekologi, yaitu: populasi, komunitas dan ekosistem. Masing-masing tingkatan organisasi tersebut mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri sebagai suatu satuan dari hasil interaksi-interaksi baik sesama organisme yang sejenis (interaksi intraspesifik) dengan hewan jenis lain (interaksi interspesifik) maupun interaksi dengan lingkungannya. Interaksi organisme dengan lingkungannya terlibat dalam proses aliran energi dan daur materi yang terjadi dalam proses makan dan dimakan melalui rantai makanan. Interaksi intraspesifik terjadi dalam lingkup populasi, sedangkan interaksi interspesifik terjadi dalam lingkup komunitas. Untuk lingkup ekosistem kita mengenal adanya aliran energi dan siklus materi, dimana energi dan materi berlansung baik di dalam tubuh organisme maupun lingkungan abiotiknya. 1.2 Bumi sebagai Biosfer Untuk dapat melangsungan kehidupannya, setiap makhluk hidup membutuhkan sumberdaya yang dapat memenuhi kebutuhannya agar tetap hidup. Bumi adalah satu-satunya

planet yang menyediakan sumberdaya kebutuhan makhluk hidup tersebut, sehingga bumi disebut sebagai biosfer. Biosfer adalah suatu lapisan atau zona yang dapat mendukung proses kehidupan, yaitu mencakup atmosfer, hidrosfer dan litosfer. Dalam mendukung kelangsungan hidup dari organisme yang ada di dalamnya bumi didukung oleh tiga wujud lapisan yaitu lapisan atmosfer yang berupa gas, lapisan hidrosfer yang berupa zat cair dan lapisan lithosfer yang berwujud padat. Atmosfer merupakan lapisan udara, dimana semakin tinggi naik dari permukaan bumi, makin berkurang suhu dan tekanan udaranya. Atmosfer berada pada ketinggian antara 0 – 560 km dari permukaan tanah (meski tidak ada batas yang tegas). Atmosfer melindungi kehidupan bumi dengan menyerap radiasi ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem siang dan malam. Udara adalah campuran berbagai macam gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang memenuhi ruang di atas bumi. Lapisan udara yang menyelubungi bumi disebut atmosfer. Secara garis besar, atmosfer dibagi menjadi 5 lapisan utama, yaitu: a. Troposfer, yaitu lapisan udara paling bawah. Tinggi lapisan troposfer kurang lebih 12 km (dikatulistiwa tebalnya 16 km tapi di kutub 10 km akibat gaya tarik sentrifugal dan rotasi bumi). di dalam troposfer terdapat kandungan uap air yang sangat banyak. Lapisan ini kaya nitrogen dan oksigen. Pada lapisan ini pula tempat terjadinya proses penentuan cuaca. b. Stratosfer, adalah lapisan udara di atas troposfer. Pada lapisan stratosfer terdapat ozon yang berfungsi menyerap panas sinar matahari. Lapisan ozon mempunyai daya serap yang kuat sehingga panas yang diterima bumi berkurang. Lapisan ini sangat renggang, kering dan bersih. c. Mesosfer, yaitu lapisan udara yang terletak di atas lapisan stratosfer. pelindung dari jatuhan meteor dan benda langit lainnya d. Ionosfer; Lapisan ini terdapat gelombang elektromagnet yang berperan sebagai pemantul gelombang radio. Karena itulah, lapisan ini sangat bermanfaat dalam bidang komunikasi. Pada lapisan ini juga terjadi ionisasi atom-atom oleh sinar ultraviolet dari matahari e. Eksosfer, yaitu lapisan udara yang paling atas. Lapisan udara ini mengandung ion (muatan listrik). Makin ke atas makin banyak terjadi ionisasi. Ionisasi terjadi sejak matahari terbit. Makin tinggi kedudukan matahari, makin besar intensitasnya. Pada waktu sore ionisasi semakin berkurang.

Sedangkan hidrosfer merupakan lapisan bumi yang berupa air. Lapisan ini mencakup samudera, laut, sungai, danau, rawa dan air dibawah permukaan tanah. Dari semua permukaan bumi, 71% permukaan bumi terdiri dari air dan berupa 29% daratan. Keberadaan air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup sebagai pelarut dan tempat terjadinya reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Lapisan bumi yang merupakan tempat berpijak bagi banyak makhluk daratan adalah lapisan litosfer. Litosfer sering disebut juga kerak bumi. Lithosfer merupakan lapisan kulit bumi yg paling luar (rata-rata ketebalannya 1.200 km). Unsur utama penyusun lithosfer adalah oksigen (46,71%), silikon (27,6%). Merupakan lapisan yang berupa zat padat yang disebut batu. Lapisan ini terbagi menjadi dua lapisan, yaitu lapisan katamorphisma (lapisan bagian atas yang terdiri dari lapisan yang mengalami pelapukan) dan lapisan metamorphisma (lapisan bagian bawah yang terdiri atas batuan yang telah mengalami pengerasan). 1.3 Lingkungan dan Sumberdaya Kualitas hidup suatu organisme sangat ditentukan oleh kualitas lingkungannya. Bila lingkungan menyediakan kebutuhan organisme akan sumber daya dan memberikan kondisi lingkungan yang ideal bagi kelangsungan hidup suatu organisme, maka kelimpahan organisme tersebut akan menunjukkan angka yang tinggi. Sebaliknya bila lingkungan tidak/kurang menyediakan sumber daya yang dibutuhkan organisme dan memiliki kondisi lingkungan yang ekstrim bagi suatu organisme maka organisme tersebut akan terganggu kesintasannya bahkan bisa punah dari habitat tersebut. Lingkungan bagi suatu organisme adalah faktor biotik dan abiotik yang ada di sekitar orgnisme tersebut dan dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Setiap organisme hanya dapat sintas, tumbuh dan berkembang biak pada suatu lingkungan yang menyediakan kondisi yang cocok baginya dan sumber daya yang diperlukannya baik, serta terhindar dari lingkungan yang membahayakan kesintasannya, baik lingkungan biotik maupun abiotiknya. Lingkungan abiotik

tersebut meliputi faktor medium/substratum (seperti tanah/perairan sebagai tempat

hidup) dan faktor cuaca/iklim (suhu kelembaban, udara, angin, intensitas cahaya). Sedangkan faktor biotik meliputi hewan, tumbuh-tumbuhan dan mikro-organisme. Suatu orgnisme hanya dapat sintas, tumbuh dan berkembang biak bila lingkungan menyediakan kondisi cocok dan sumber daya yang diperlukan bagi orgnisme tersebut. Ditinjau dari aspek

fungsionalnya, lingkungan dapat dilihat sebagai kondisi dan sumber daya. Lingkungan sebagai kondisi digunakan untuk menunjukkan suatu besaran atau kadar atau intensitas faktor-faktor abiotik lingkungan. Dimana ketersediaan lingkungan sebagai kondisi tidak akan berkurang karena kehadiran atau spesies lain. Contoh: suhu dan cahaya. Secara garis besar, perubahan lingkungan dalam ruang dan waktu dibedakan atas : 1. Perubahan siklik; perubahan yang terjadi berulang-ulang secara berirama, contohnya: siangmalam, pasang-surut laut, musin kemarau-hujan. 2. Perubahan terarah; perubahan yang terjadinya berangsur-angsur secara terus-menerus (progressif atau berkesinambungan) menuju ke suatu arah tertentu. Contohnya; suksesi seperti pengikisan garis pantai atau pengendapan lumpur di muara sungai yang membentuk delta sungai. 3. Perubahan eratik; perubahan yang tidak berpola dan tidak menunjukkan konsistensi mengenai arah perubahannya. Contoh: pengendapan debu oleh letusan gunung berapi, banjir, kebakaran hutan.

Gambar 1.1. Siklus fotoperiode tahunan di daerah katulistiwa dan di daerah 40 o LU, dimana panjang hari maksimum akan terjadi pada tanggal 21 Juni, sedangkan panjang hari minimum pada tanggal 21 Desember. Siklus fotoperiode tahunan di daerah 40 o LS merupakan kebalikan siklus di daerah 40o LU. (sumber: McNaughton, 1992) Lingkungan sebagai sumber daya digunakan untuk menyatakan faktor biotik maupun abiotik yang diperlukan oleh suatu organisme yang kualitas dan kuantitas ketersediaannya akan berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh organisme tersebut. Kondisi dan sumber daya

lingkungan relatif tidak konstan (bervariasi menurut ruang dan waktu) kecuali di bagian dalam samudera. Setiap makhluk hidup terdedah pada berbagai faktor lingkungan yang bersifat dinamis atau berubah-ubah. Untuk itu setiap makhluk hidup harus mampu mengadaptasikan dirinya untuk menghadapi kondisi faktor lingkungan tersebut. Apabila bila organisme terdedah pada suatu faktor lingkungan yang mendekati batas kisaran toleransinya, maka organisme tersebut akan mengalami cekaman (stress) fisiologis atau berada dalam kondisi kritis yang menentukan kesintasannya. Misalnya apabila hewan didedahkan pada suhu yang ekstrim rendah akan menunjukkan hipotermia, sedangkan pada suhu yang ekstrim tinggi akan mengakibatkan gejala hipertermia. Apabila kondisi lingkungan, misalnya suhu yang mendekati batas-batas kisaran toleransi suatu organisme tersebut berlangsung lama dan tidak berubah menjadi lebih baik, maka organisme tersebut akan mati. Setiap kondisi faktor lingkungan yang besarnya atau intensitasnya mendekati batas kisaran toleransi suatu organisme, akan beroperasi sebagai faktor pembatas dan berperan sangat menentukan bagi kesintasan organisme tersebut.

Gambar 1.2. Diagram hubungan aktivitas suatu hewan dengan kondisi lingkungannya: A. kisaran optimum; B & C. batas bawah dan atas kondisi kisaran optimum yang dibutuhkan untuk berkembangbiak; D & E batas bawah dan atas kondisi untuk pertumbuhan; F & G batas bawah dan atas untuk sintas. Pada dasarnya setiap organisme memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap suatu faktor lingkungan tertentu. Hal ini ditegaskan oleh hukum toleransi Shelford yang menyatakan bahwa

setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme tersebut terhadap kondisi lingkungannya. Kisaran toleransi suatu faktor lingkungan berbeda untuk setiap jenis organisme. Suatu jenis organisme mungkin memiliki kisaran toleransi yang lebar (euri-), sedangkan jenis hewan lain mungkin sempit (steno-). Misalnya, kisaran toleransi yang yang luas untuk suhu disebut eurithermal, sedangkan kisaran toleransi yang sempit untuk suhu disebut stenothermal. Penggunaan istilah kisaran toleransi ini tergantung pada variabel kondisi lingkungannya seperti diperlihatkan pada tabel 1.3 berikut. Tabel 1.1. Kisaran toleransi hewan terhadap kondisi faktor lingkungan. Variabel

Kisaran Toleansi luas

Kisaran Toleransi sempit

Suhu

Eurithermal

Stenothermal

Salinitas

Eurihalin

Stenohalin

Makanan

Eurifage

Stenofage

Cahaya

Eurifoto

Stenofoto

Arus

Eurireo

Stenoreo

Air

Eurihidris

Stenohidris

Habitat

Eurisius

1.4 Respon Dan Adaptasi terhadap Lingkungan Kisaran toleransi suatu organisme ditentukan secara herediter, namun dapat mengalami perubahan oleh terjadinya proses aklimatisasi (di alam) atau aklimasi (di laboratorium). Aklimatisasi prosesnya terjadi dalam periode ontogeni suatu organisme, sifatnya reversible dan tidak diturun-temurunkan. Serupa sifatnya dengan aklimatisasi adalah aklimasi. Perbedaannya ialah aklimatisasi menyangkut banyak faktor lingkungan yang bersifat alami, sedangkan aklimasi biasanya digunakan untuk satu atau dua faktor saja dan terjadinya dalam lingkungan terkontrol di laboratorium. Sedangkan Adaptasi melibatkan perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh seleksi alam, sifatnya herediter (diturun-temurunkan) dan berlangsungnya proses meliputi sejumlah besar generasi-generasi yang berurutan. Adaptasi ini dapat meliputi adaptasi morfologis, adaptasi fisiologis dan adaptasi perilaku.

Kepekaan terhadap rangsangan (stimulus) merupakan salah satu ciri utama dari makhluk hidup. Karena dengan ciri itulah menjadikan organisme mampu memberikan tanggapan (respon) terhadap faktor-faktor lingkungan dari berbagai perubahan kondisinya. Hal ini sangat penting artinya bagi suatu organisme agar dapat tetap survive (sintas = bertahan hidup atau kelulus hidupan). Pada prinsipnya tujuan akhir setiap organisme melakukan respon terhadap stimulus adalah

agar

dapat

survive

(mempertahankan

hidupnya)

dan

dapat

bereproduksi

(mempertahankan jenisnya). Stimulus adalah suatu faktor yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan (lingkungan abiotik maupun biotik) yang dapat ditangkap oleh reseptor (organ indra pada hewan) dan berpotensi menyebabkan gangguan keseimbangan bagi organisme tersebut.

Misalnya pada

hewan, stimulus yang berhasil ditangkap oleh alat indra akan diterima oleh sel-sel syaraf yang terdapat pada alat indra dalam bentuk impuls (informasi). Impuls tersebut akan diteruskan ke pusat syaraf yaitu otak oleh syaraf-syaraf sensorik untuk diolah dan diberi tanggapan sebagai wujud dari reaksi atas adanya stimulus. Reaksi itu bertujuan untuk kepentingan organisme tersebut agar tidak terganggu keseimbangannya. Jawaban dari stimulus yang telah diolah oleh pusat syaraf akan diinformasikan dalam bentuk perintah ke alat-alat organ melalui sel-sel syaraf motorik dalam bentuk respons. Akumulasi dari respon tersebut adalah dalam bentuk tingkah laku atau prilaku organisme untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tekanan lingkungan. Respon pada organisme ada yang bersifat reversibel (dapat kembali ke kondisi semula) dan paling sederhana adalah respons pengaturan (regulatori). Respon ini berlangsung melalui mekanisme proses-proses fisiologi dan terjadinya sangat cepat. Misalnya pada hewan kita mengenal perubahan bentuk pupil mata bulat menjadi sangat memipih atau tetap bulat tetapi sangat mengecil, bila dikenai pencahayaan dengan intensitas yang kuat. Bila intensitas cahaya berkurang seperti semula, maka pupil itupun kembali lagi ke bentuk asal. Tipe respon ini bersifat mengatur agar cahaya kuat itu tidak memberikan efek yang merusak. Bentuk respon lain yang bersifat reversible adalah respons penyesuaian (aklimatori). Respons ini berlansung lebih lama dari respon regulatori karena proses-proses fisiologis yang melandasinya melibatkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan morfologi hewan. Misalnya di lingkungan pegunungan dengan udara yang bertekanan parsial oksigen rendah, akan terjadi proliferasi dan peningkatan jumlah eritrosit. Juga bila tubuh terdedah pada kondisi musim kemarau yang panas terik, kulit mengalami peningkatan pigmentasi dengan meningkatnya

produksi melanin. Pada dunia tumbuhan kita mengenal istilah plastisitas, yaitu Reaksi tumbuhan terhadap perubahan lingkungan yang disertai dengan modifikasi berbagai jenis organnya agar toleransinya terhadap faktor lingkungan menjadi lebih luas, tetapi bila kondisi kembali ke keadaan semula bentuk organ inipun berubah lagi sesuai dengan bentuk normalnya. Di alam, respons-respons aklimatori umumnya terjadi pada hewan dan tumbuhan berumur panjang, yang harus menghadapi perubahan-perubahan lingkungan yang sifatnya musiman. Reversibilitas respon bagi hewan-hewan tersebut sangat penting sekali bagi kesintasannya, karena tiap tahun perbedaan kondisi yang khas menandai tiap musim itu akan selalu berulang terjadi. Satu-satunya tipe respon yang Irreversibel (tidak dapat kembali ke kondisi semula) selama ontogeni suatu organisme adalah respons perkembangan. Respons ini berlangsung relatif lama karena melibatkan terjadinya proses-proses yang banyak macamnya dan menghasilkan perkembangan beraneka macam struktur tubuh. Perwujudan dari tipe respon yang menghasilkan struktur atau morfologi tertentu hasil proses perkembangan, sifatnya permanen dan tidak reversibel. Sekali suatu perubahan morfologi terjadi, maka perwujudan itu akan tetap selama ontogeni hewan itu, meskipun faktor lingkungan penyebabnya sudah tidak ada lagi.

RANGKUMAN Selamat, Anda telah menyelesaikan modul tentang Ekologi dan Bumi sebagai Biosfer. Dengan demikian sebagai seorang guru, Anda telah memiliki kompetensi profesional untuk materi Ekologi dan Bumi sebagai Biosfer. Hal-hal penting yang telah Anda pelajari dalam modul Ekosistem ini adalah sebagai berikut:  Ekologi diartikan sebagai cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya  Biosfer adalah suatu lapisan atau zona yang dapat mendukung proses kehidupan, yaitu mencakup atmosfer, hidrosfer dan litosfer. Bumi disebut sebagai biosfer karena bumi merupakan satu-satunya planet saat ini yang menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk hidup.  Lingkungan bagi suatu organisme adalah faktor biotik dan abiotik yang ada di sekitar orgnisme tersebut dan dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya.

 Lingkungan pada umumnya tidak bersifat statis. Lingkungan senantiasa mengalami perubahan baik perubahan itu bersifat siklik (berulang-ulang), terarah (memiliki arah tertentu) maupun eratik (tidak dapat diprediksi atau tidak berpola).  Kepekaan terhadap rangsangan (stimulus) merupakan salah satu ciri utama dari makhluk hidup yang bertujuan untuk tetap survive (mempertahankan hidupnya) dan dapat bereproduksi (mempertahankan jenisnya).

Life Enjoy

" Life is not a problem to be solved but a reality to be experienced! "

Get in touch

Social

© Copyright 2013 - 2019 TIXPDF.COM - All rights reserved.